Merindukan Sosok Antonio Conte di Sepakbola Italia

spot_img

Sudah cukup lama Antonio Conte hiatus dari sepakbola Italia. Menurut kabar yang berhembus, sosok pelatih nyentrik ini bersiap mentas lagi menghiasi jagat persilatan sepakbola Negeri Pizza.

Sosok Antonio Conte adalah seorang pecandu bola, kata Giorgio Chiellini. Meski tidak melatih, Conte tetaplah manusia yang tak pernah berhenti memikirkan sepakbola. Banyak ide berkecamuk di kepalanya yang sudah tak sabar ingin ia luapkan lagi di lapangan hijau.

Populerkan Kembali Pola Tiga Bek

Kemenangan dan kejayaan adalah tujuan utama dalam hidup pria kelahiran Lecce, 54 tahun silam. Tidak heran anak satu-satunya dinamai Vittoria, yang dalam bahasa Inggris berarti pemenang. Hasrat untuk menang merupakan senjata utama Conte sepanjang kariernya, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Pensiun menjadi pemain, tak membuat hasrat untuk menangnya berhenti begitu saja. Conte lanjutkan hasrat itu dengan cara melatih. Conte memulai era kepelatihan bukan di tim besar. Ia termasuk manusia berproses alias tidak instan. Dari klub Arezzo, Bari, Atalanta, hingga Siena sudah pernah ia pegang.

Namun, kehebatan Conte dalam meracik strategi baru pertama kali terlihat ketika menukangi Juventus pada tahun 2011. Satu hal yang menjadi ciri khas pelatih 54 tahun ini adalah obsesinya terhadap apa yang ia yakini soal taktik. Tim yang diasuh Conte, pasti akan digojlok secara taktik.

Awalnya, Conte punya semacam obsesi dengan taktik 4-2-4. Dia menulis soal taktik itu dalam tesisnya di Coverciano. Pola 4-2-4 pernah dicobanya ketika pertama kali melatih Bianconeri. Namun seiring berjalannya waktu, ia keteteran dengan formasi yang tergolong sangat menyerang itu.

Dari situlah ia mulai berpikir keras untuk mengubah keyakinannya. Conte tak segan mengkhianati obsesinya sendiri demi keluar dari kegagalan. Alhasil, Juventus di tangannya diubah dengan pola tiga bek, yakni dengan 3-5-2. Formasi itulah yang kemudian jadi identik dengan Conte.

Namun jangan salah, format tiga bek Conte itu tak serta-merta ia ciptakan sendiri. Conte hanya mengadopsi dari taktik yang sudah lama berjaya di sepakbola Italia. Formasi tiga bek sudah lama terkenal dan dipakai di sepakbola Italia sejak era 80-an hingga 2000-an awal. Alberto Zaccheroni, Walter Mazzarri, hingga Gian Piero Gasperini, adalah beberapa pelatih pecandu pola tiga bek tersebut.

Pola tiga bek yang dipakai Conte nyatanya terbukti sukses meraup banyak gelar di Juventus. Taktik tersebut seketika kembali populer di sepakbola Italia, bahkan dunia. Trio bek Barzagli, Bonucci, dan Chiellini ketika itu jadi simbol solidnya pertahanan pola tiga bek tersebut.

Poros Wing Back

Pola tiga bek dengan pertahanan yang solid ternyata juga nyambung dengan filosofi sepakbola Italia, Catenaccio. Conte tak alergi dengan konsep bertahan grendel ala Italia yang dipopulerkan mantan pelatih Inter era 60-an, Helenio Herrera.

Tak hanya ditelan mentah-mentah, Conte mampu membungkus konsep Catenaccio itu dengan baju baru. Di era Conte, Catenaccio dipermak menjadi permainan yang lebih atraktif. Tak hanya identik dengan seni bertahan rapat saja, namun dengan sentuhan variasi yang lain.

Variasinya terletak pada keaktifan seorang wing back yang hingga sekarang jadi identitasnya. Awal mulanya, Conte merasa sayang apabila menyia-nyiakan atribut menyerang bek sayapnya. Dari situlah Conte menciptakan poros baru wing back yang lebih fokus untuk menyerang dan menciptakan peluang.

Sejak melatih Juventus ia berhasil bersama sosok wing back macam Kwadwo Asamoah dan Stephan Lichtsteiner. Begitupun ketika ia melatih Inter Milan. Ia punya wing back andalan Ivan Perisic dan Achraf Hakimi. Kesuksesan variasi yang diciptakan Conte itu tak dipungkiri juga jadi inspirasi bagi banyak pelatih di Italia.

Menuntut Demi Kemenangan

Conte dalam memenuhi kebutuhan tiga bek dan wing back-nya tak jarang selalu menuntut pemilik klub untuk diberikan dana lebih guna membeli pemain bagus di posisi tersebut.

Banyak orang beranggapan bahwa Conte adalah pelatih yang hanya suka menuntut saja. Tetapi ia melakukan hal tersebut semata-mata untuk mencapai hasrat yang selalu ada dalam jiwanya, yakni kemenangan.

Apabila keinginannya tak dipenuhi klub, biasanya ia akan ngambek. Alasan dulu Conte pamit dari Juventus di 2014, salah satunya juga akibat kegusarannya terhadap kebijakan bos Juve, Andrea Agnelli. Agnelli ketika itu berniat menjual banyak pemain Juventus. Beberapa pemain incaran baru Juve juga tanpa sepengetahuan Conte.

Di Inter Milan, peristiwa kepergiannya pun mirip. Usai menjuarai Serie A, Conte tahu bahwa pemilik tak bisa menuruti kemauannya lagi dalam membeli banyak pemain. Inter ingin berhemat karena sedang terkena krisis keuangan. Bagi Conte, ia lebih baik menganggur daripada ia hidup dalam kegagalan, dan tak bisa memenuhi hasratnya meraih kemenangan.

Gaya Kepemimpinan Baru

Hampir setahun lamanya Conte vakum di dunia kepelatihan. Terkadang ada kalanya publik sepakbola rindu pada sosoknya. Conte itu unik. Ia adalah salah satu sosok pelatih yang ekspresif.

Kepribadian pelatih seperti Conte yang meluap-luap di pinggir lapangan, jarang ditemukan di Italia. Kebanyakan pelatih top di Italia bergaya kalem. Sebut saja Marcelo Lippi, Carlo Ancelotti, Fabio Capello, bahkan hingga Roberto Mancini.

Sikap ekspresif Conte tersebut bukan dibuat-buat hanya untuk tampil beda. Ada proses dan pengalaman panjang yang telah dilaluinya, hingga menjadi pribadi yang gahar di lapangan seperti sekarang ini.

Sebagai mantan gelandang bertahan, Conte punya determinasi yang tinggi dalam jiwanya.
Itulah mengapa dia bisa dikenal sebagai gelandang pemburu saat menjadi pemain. Conte bakal selalu memburu pemain lawan yang lancang berkeliaran di area kekuasaannya.

Conte rela menjadi bajingan di skuad Juventus. Tekel, provokasi, dan energinya yang tak kenal lelah di lapangan adalah hal yang selalu melekat pada Conte ketika bermain. Tak heran ketika jadi pelatih, atribut itu masih sangat lekat dalam dirinya.

Conte tak pernah malu meluapkan emosinya di mana pun berada. Sudah tak terhitung berapa kali dia merayakan gol dengan lebay bersama pendukung maupun tim asuhannya. Begitu pula sikapnya ketika beberapa kali protes dan memaki-maki wasit. Pelatih lawan juga terkadang jadi korban luapan emosinya. Thomas Tuchel di Liga Inggris tahun 2022 lalu salah satunya.

Penghancur Dominasi

Keberaniannya yang brutal itu persis tercermin dari gelar yang ia sandang di sepakbola Italia. Ya, Conte di Serie A dikenal sebagai pelatih penghancur dominasi. Kita ingat ketika pertama kali melatih Juventus 2011, misi Conte hanya ingin mengakhiri dominasi Inter Milan. Kita tahu La Beneamata sejak skandal Calciopoli selalu mendominasi gelar scudetto Serie A.

Di bawah Conte, Juve terbukti dibawanya mematahkan dominasi itu dengan meraih scudetto di musim 2011/12. Bahkan, ia bisa berbalik mendominasi Serie A dengan gelar scudetto selama tiga musim beruntun.

Namun Conte ini unik. Setelah mematahkan dominasi, di 2019 ia malah bergabung dengan klub rival abadinya, Inter Milan. Yang tak habis pikir dalam misinya ketika melatih Inter, salah satunya adalah menghancurkan dominasi klub yang dicintainya sejak menjadi pemain, Juventus.

Ia mungkin muak dengan Serie A yang sembilan musim beruntun didominasi Juventus. Dan terbukti, ketika ia membangun Inter sesuai keinginannya, dominasi Juventus pun hancur di musim 2020/21. Inter diantarkannya meraih scudetto.

Conte bagaimanapun adalah fenomena unik di sepakbola Italia. Dari soal prinsip, taktik, gaya, hingga keberaniannya, telah menjadi ciri khas yang tak sembarang orang bisa tiru. Ya, yang jelas sepakbola Italia kini sudah sangat rindu padamu. Cepatlah balik Conte.

https://youtu.be/Od0Ha1Eym3M

Sumber Referensi : juvefc.com, forzaitalianfootball, foottheball, thejakartapost, transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru