Manchester City Emang Pantas Treble, Fans MU Nggak Usah Nangis!

spot_img

Sangat mudah mensimplifikasi kemenangan Manchester City di final Liga Champions Eropa. Pun bagaimana mereka meraih treble bersejarah di musim ini. Usai memenangkan gelar Liga Champions Eropa, riuh rendah cibiran terhadap Manchester City masih saja bermunculan.

Ada yang sampai membanding-bandingkan dengan perolehan treble Manchester United. Padahal treble-nya sama. Tak sedikit pula yang mensimplifikasi kalau Manchester City bisa treble karena duit. Sementara MU meraih treble lewat perjuangan keras.

Namun, rasanya mereka yang bilang demikian adalah barisan sakit hati yang tidak mau Manchester City meraih juara Liga Champions apalagi treble. Mengapa? Ya karena dengan meraih Liga Champions, tidak ada lagi yang bisa diejek dari Manchester City.

Dan The Citizens layak disebut salah satu tim terkuat di Eropa. Walau bagaimana, Manchester City memang pantas juara dan fans MU harusnya sih, nggak usah nangis. Well, apa yang membuat City emang pantas meraih treble musim ini? Mari kita bahas.

Konsistensi

Salah satu alasannya, City adalah tim yang konsisten. Di Liga Inggris dalam tujuh musim terakhir, tim yang satu ini sulit tergoyahkan. Sejak musim 2016/17, Manchester City tidak pernah terlempar dari posisi tiga besar di Liga Inggris. Bahkan dari tujuh musim itu, Manchester City lima kali menyabet gelar liga Inggris.

City juga bukan hanya konsisten di liga domestik. Di Piala FA, sejak 2016/17, Manchester City juga hanya sekali terhenti di babak kelima. Sisanya, Manchester City selalu lolos ke semifinal. Bahkan dua di antaranya meraih gelar juara, termasuk saat mengalahkan Manchester United kemarin.

Manchester City juga memperlihatkan bahwa mereka adalah tim di Liga Inggris yang paling konsisten di Liga Champions. Sejak musim 2013/14, Manchester City tidak pernah sekali pun terhenti di fase grup. Mulai musim 2017/18, Sky Blues juga selalu sampai ke babak perempat final.

Padahal sebelum musim 2013/14, Manchester City hanya bisa bermain di fase grup. Ini membuktikan bahwa Manchester City di Liga Champions, mengalami proses yang tidak sebentar. Setelah mencicipi perempat final, semifinal, dan final, sudah selayaknya City membawa pulang Si Kuping Besar.

Faktor Guardiola

Kesuksesan treble Manchester City juga berkat sang manajer, Josep Guardiola. Ini memang klise. Tapi keberadaan Guardiola itulah yang membuat Manchester City pantas meraih treble. Pelatih berbangsa Spanyol itu sebelumnya sudah pernah meraih treble bersama Barcelona.

Jadi, pengalaman Pep tidak bisa diragukan. Lagi pula evolusi taktiknya memang luar biasa. Guardiola benar-benar telah meninggalkan gaya permainan yang atraktif dengan penguasaan bola. Ia berselingkuh dengan taktik sepak bola pragmatis. Sesuatu yang sangat tidak Guardiola sekali.

Namun, seperti itulah manajer yang sanggup beradaptasi. Keadaan memaksanya untuk mengubah pendekatan gaya bermain. Dan Guardiola melakukan itu. Lihat bagaimana Guardiola bisa membongkar pertahanan Inter di final? Permainan yang kalau ditonton membosankan itu ternyata membuahkan hasil bagi Manchester City.

Solidnya pertahanan Inter memaksa Guardiola bermanuver. Ia memanfaatkan kekuatan dribel Bernardo Silva untuk memancing para pemain Inter. Bernardo, seperti yang pernah dianalisis di video Starting Eleven Story sebelumnya, benar-benar mengeksploitasi koridor half space.

Namun, bola kiriman Bernardo justru menjadi bola liar. Rodrigo menjemput bola tersebut. Dan duar! Pertahanan La Beneamata yang sudah disorganisasi tak sanggup mengantisipasi sepakan Rodri. Butuh kecerdasan tingkat tinggi untuk melihat celah tersebut, dan itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh Guardiola.

Tidak Hanya Mengeluarkan Banyak Uang, tapi Diatur dengan Baik

Guyuran uang dari Sheikh Mansour menjadi buah bibir ketika Manchester City berhasil meraih treble bersejarah musim ini. Namun, kalau sekadar modal duit yang tidak berseri dari Abu Dhabi, tentu Manchester City tidak mungkin sehebat sekarang. Pada kenyataannya, Manchester City dikelola dengan sangat baik.

Sheikh Mansour berperan penting dalam perkembangan The Citizens. Saat menanamkan modalnya ke klub Inggris itu, Manchester City bukanlah klub sukses. Ia bertaruh. Sebab menyuntikkan dana yang besar untuk Manchester City sangat beresiko. Namun, penunjukkan pelatih yang tepat diiringi dengan pembelian pemain yang cocok walaupun mahal, City bisa berkembang dengan cepat.

Setelah gagal ditukangi Mark Hughes, gaya kepemimpinan Roberto Mancini menjadi awal kesuksesan Manchester City di tangan Sheikh Mansour. Musim 2011/12, Manchester City sudah meraih trofi Liga Inggris untuk pertama kalinya sejak musim 1967/68.

Sheikh Mansour tidak hanya jor-joran mengembangkan tim utama. Ia juga merevitalisasi fasilitas yang menunjang prestasi. Salah satunya mendirikan City Football Academy, tempat pengembangan pemain muda yang mulai dibuka pada 2014 kelas wahid. Dari CFA lahir pemain seperti Phil Foden.

Nah, setelah era Mancini, City menunjuk Manuel Pellegrini. Pria Chile yang sempat naik daun ketika itu karena statusnya mantan pelatih Real Madrid. Penunjukannya tepat. Pellegrini sukses antarkan City kembali juara di Liga Inggris musim 2013/14.

Sheikh Mansour tidak sendirian. Dengan bantuan Txiki Begiristain, sang direktur olahraga, City bisa mendatangkan pelatih kaliber Josep Guardiola. Guardiola sudah memenangkan 21 trofi sebelumnya. Sheikh Mansour dan Begiristain pun komitmen mendukung Guardiola.

Sebab diam-diam sejak 2019, tim ini memiliki “Goals of Achieve Target”. Sejak saat itu, Manchester City berhasrat untuk memenangkan setiap trofi dalam sepak bola. Kolaborasi Sheikh Mansour dan Guardiola akhirnya bisa mengantarkan City sampai ke mahligai kejayaan.

Soal Uang

Kalau dibilang juara karena uang, City sebetulnya tidak boros-boros amat dalam pengeluaran. Dilansir Football365, seperti dikutip Yahoo Sports, City bukanlah tim Liga Inggris dengan pengeluaran bersih terbanyak selama lima musim terakhir. Jumlah pembelanjaan bersih City hanya di angka 224,97 juta poundsterling atau sekitar Rp4,2 triliun.

Angka itu bahkan lebih sedikit dari Aston Villa yang dalam lima tahun terakhir menghabiskan 271,24 juta (Rp5 triliun) pembelanjaan bersih. Chelsea (654,21 juta pounds/Rp12,2 triliun) dan Manchester United (540,23 juta pounds/Rp 10 triliun) menempati posisi satu dan dua sebagai tim Liga Inggris dengan pengeluaran bersih terbanyak sejak lima tahun terakhir.

Ini membuktikan bahwa City cukup cerdas dalam pengelolaan keuangan. Lagi pun tidak masalah kalau City treble karena uang dan bisa membeli pemain-pemain mahal seperti Jack Grealish, Rodrigo, Riyad Mahrez, Erling Haaland, sampai Kevin de Bruyne. Manchester United ketika meraih treble tahun 1999 juga begitu.

Jangan dikira Sir Alex Ferguson sepenuhnya membangun tim dari bawah. MU saat itu juga jor-joran membeli pemain. Jaap Stam, misalnya, adalah bek termahal di dunia saat itu dengan nilai transfer 10,75 juta poundsterling (Rp200 miliar kurs sekarang). Dwight Yorke juga menjadi pemain termahal klub dengan harga 12,6 juta poundsterling (Rp235,2 miliar kurs sekarang).

Sudahlah. Suka maupun tidak, Manchester City memang layak meraih treble musim ini. Bahkan bukan hanya treble, pasukan Josep Guardiola sangat berkesempatan mendapat dua lagi tambahan trofi.

Sumber: Quora, Reuters, SportingIntelligence, CNN, Goal, BR, YahooSports, TheAthletic, Transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru