Mac Allister FANTASTIS, Tapi SALAH BESAR Menaruhnya Sebagai Gelandang Bertahan

spot_img

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp menyambut kedatangan gelandang bertahan baru, Wataru Endo di Liverpool. “Kami benar-benar membutuhkanmu,” kata-kata yang ditekankan Klopp kepada Wataru Endo. Perkataan itu bisa membuat semua yakin, bahwa Liverpool telah mendapatkan gelandang bertahan pengganti Fabinho.

Kegagalan merekrut Romeo Lavia maupun Moises Caicedo sudah dilupakan. Tapi perkataan Klopp itu justru sepertinya dikhianati oleh dirinya sendiri. Alih-alih mengandalkan Wataru Endo sebagai gelandang bertahan, Klopp justru menaruh Alexis Mac Allister sebagai gelandang nomor “6”. Padahal itu sama sekali bukan posisi terbaik Allister.

Alexis Mac Allister Awal di Liverpool

Liverpool sangat beruntung mendapatkan Alexis Mac Allister. Bukan hanya karena kemampuannya, tapi The Reds mendapatkan Allister dengan harga terjangkau. Menurut laporan Sky Sports, Liverpool cuma perlu mengeluarkan 35 juta poundsterling (Rp675 miliar) biaya awal untuk memboyong Allister dari Brighton and Hove Albion.

Allister adalah gelandang serba bisa di lini tengah. Ia bisa memberikan opsi bagi Jurgen Klopp. Seketika Allister menjadi primadona usai diperkenalkan di Anfield. Dan hanya butuh pekan pertama bagi Allister untuk menjalani debutnya bersama The Kop.

Di pekan pertama kontra Chelsea, Allister langsung memberikan efek jahe di lini tengah Liverpool. Klopp menaruhnya sebagai gelandang bertahan. Permainannya sangat bagus sebagai gelandang bertahan The Reds. Meski sebetulnya Allister lebih efektif sebagai gelandang tengah bukan gelandang bertahan.

Kerja keras Allister sebagai gelandang bertahan terlihat dari statistiknya yang menawan. Allister melakukan 64 sentuhan dan tujuh kali menang duel di laga menghadapi Chelsea. Pemain berkebangsaan Argentina itu juga mengemas persentase umpan yang sangat tinggi di laga itu, yakni 88%.

Mac Allister berhasil ditaruh sebagai gelandang bertahan di laga itu. Padahal ia ditaruh di posisi itu karena Liverpool belum punya gelandang bertahan. Wataru Endo belum resmi dibeli. Jadi, Mac Allister menempati posisi gelandang nomor “6” sementara.

Sementara Jadi Seperti Permanen

Liverpool menghabiskan uang tak sedikit untuk membeli gelandang. Selain Mac Allister, masih ada Dominik Szoboszlai yang dibeli dari RB Leipzig. Lalu, Wataru Endo yang memang dibeli untuk mengisi pos yang ditinggalkan Fabinho. Namun, kedatangan Endo ke Anfield terbilang lambat.

Liverpool awalnya mengutamakan untuk membeli pemain seperti Lavia dan Caicedo. Namun karena prosesnya tarik ulur, Mac Allister untuk sementara mengisi posisi gelandang bertahan. Secara kemampuan, Allister memang gelandang versatile. Ia tidak pernah mempersoalkan di mana ia ditempatkan.

Rencana menempatkan Allister sebagai gelandang bertahan sementara, justru oleh Jurgen Klopp dibuat seolah-olah permanen. Kedatangan Wataru Endo sama sekali tidak membuat posisi Allister di gelandang bertahan tergoyahkan. Klopp bahkan lebih sering memakai Allister daripada Endo.

Di liga Inggris musim ini, Endo hanya mencatatkan lima penampilan saja. Jika dihitung, Endo baru bermain 104 menit saja hingga pekan ke-8 Liga Primer Inggris. Dari lima laga itu, Endo bahkan cuma turun sekali sebagai starter. Coba bandingkan dengan Mac Allister.

Gelandang Argentina itu memainkan delapan laga di Premier League dalam rentang waktu yang sama. Allister bahkan tidak pernah turun sebagai pemain pengganti. Jika ditotal, Allister sudah bermain 615 menit hingga pekan ke-8 Premier League. Dan Allister selalu bermain di posisi gelandang nomor “6”, sampai laga kontra Brighton.

Mulai Tunjukkan Kelemahan

Allister memang gelandang yang bisa memerankan posisi mana pun di lini tengah. Dan ia bisa saja bagus di mana pun posisinya. Tapi jika hal itu terus dipaksakan pada Mac Allister, tinggal menunggu waktu saja untuk melihat bahwa Allister memang tak cocok sebagai gelandang bertahan. Di laga melawan mantan timnya, misalnya.

Terlepas dari keyakinan Klopp bahwa Allister cepat dan cerdas dalam taktis, khususnya dalam bertahan, tapi Allister terlihat kesulitan untuk terus berperan sebagai gelandang bertahan. Ia kurang waspada saat menerima umpan dari Virgil Van Dijk, di mana Simon Adigra berhasil menyerobot bola darinya dan mencetak gol ke gawang Alisson.

Di laga itu pula, terkadang Allister gampang dilewati. Allister memperoleh penguasaan bola sebanyak 10 kali. Tapi di laga itu, ia kehilangan delapan kali penguasaan bola. Betul bahwa tidak setiap laga, Allister memperlihatkan kelemahannya.

Allister bisa bagus bertugas sebagai gelandang nomor “6”, tapi itu acap kali hanya berhasil ketika Liverpool menghadapi tim mudah, yang punya tekanan tidak ketat dan tak memiliki kekuatan dalam melakukan serangan balik. Kejadiannya akan berbeda saat Liverpool menghadapi tim yang agak sulit seperti Brighton and Hove Albion. Lawan Tottenham Hotspur saja, Allister terlihat kelabakan.

Terlepas dari kontroversi VAR, di laga itu Allister jadi salah satu pemain Liverpool dengan rating terburuk menurut Fotmob, yakni 5,9. Allister yang bermain tidak full di laga itu, tercatat enam kali kalah duel dari 10 kali percobaan duel, persentase menang perebutan bolanya hanya 40%, keberhasilan tekelnya cuma 25%, dan Allister melakukan tiga kali pelanggaran.

Desakan Fans Liverpool

Para penggemar Liverpool, menurut This Is Anfield, berpendapat bahwa Klopp mestinya mulai mempertimbangkan untuk tidak memakai Allister di posisi gelandang nomor “6” lagi, melainkan harus dipulangkan ke posisi aslinya, yakni gelandang nomor “8” yang perannya lebih menyerang, tidak melakukan pekerjaan kotor.

Selain karena Allister mulai memperlihatkan ketidakcocokannya mengisi peran itu, Liverpool toh juga sudah punya Wataru Endo. Buat apa membeli gelandang bertahan, tapi justru tidak dimainkan? Penggemar frustrasi akan hal itu. Mereka mempertanyakan mengapa jika Endo tidak dipercaya, Liverpool tidak mencari pemain nomor “6” lainnya?

Situasinya menjadi membingungkan karena penggemar mengira saat Endo ditarik keluar di laga kontra Union Saint-Gilloise, ia yang akan turun sebagai gelandang bertahan di laga melawan Brighton. Tapi ternyata tidak. Justru Mac Allister yang turun di laga kontra Brighton sebagai gelandang bertahan, dengan Szoboszlai dan Harvey Elliott membantunya di lini tengah.

Allister seolah dibiarkan tampil buruk saat menghadapi mantan timnya sendiri. Meskipun Roberto De Zerbi dan seluruh penggemar The Seagulls masih tetap menghargainya di akhir laga.

Komentar Klopp

Di sisi lain, menurut situs resmi Liverpool FC, Klopp menilai pemain Argentina itu bisa menempati gelandang nomor “6”. Klopp sengaja melakukannya karena tidak memiliki alternatif lain sebagai gelandang nomor “6”. Untuk gelandang bertipe menyerang, Klopp lebih menyukai Szoboszlai dan Cody Gakpo.

“Alexis pas bermain di sana (gelandang bertahan). Dia menunjukkan betapa bagusnya dia sebagai pesepakbola dan betapa bagusnya dia memahami permainan karena dia bermain di sini sekarang,” kata Jurgen Klopp.

Tentu sebagai manajer, Klopp adalah orang yang lebih tahu kebutuhan timnya dan kemampuan setiap pemainnya. Tetapi dengan menaruh Allister sebagai gelandang bertahan, padahal bukan spesialisasinya, itu sangat beresiko.

Pembelian Wataru Endo juga pada akhirnya akan menjadi sia-sia. Sebab pemain Jepang yang memang seorang gelandang nomor “6” itu hanya akan jadi pelapis dari pemain yang sebetulnya bukan gelandang nomor “6”. Yah, mau bagaimana lagi, seperti itulah sepak bola hari ini.

Sumber: TheAthletic, ThisIsAnfield, ThisIsAnfield, Goal, Liverpool, MSN, FotMob, FotMob

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru