Lagi Nggak Jelas, Chelsea Malah Jadi Peredam Keganasan Spurs

spot_img

Jika ada nominasi klub paling sulit diprediksi di Liga Inggris, mungkin Chelsea akan mendapat vote terbanyak musim ini. Bagaimana tidak? Ketika performanya masih nggak jelas, kadang bagus kadang jelek, The Blues justru berhasil menaklukan sang pemuncak klasemen sementara, Tottenham Hotspur.

Secara mengejutkan, Raheem Sterling cs sukses menumbangkan Spurs dengan skor meyakinkan, 4-1. Menariknya, Chelsea tertinggal lebih dulu melalui gol Dejan Kulusevski di menit-menit awal. Namun, armada Mauricio Pochettino mampu bangkit dan memberikan kekalahan pertama bagi Spurs musim ini.

Ngomong-ngomong soal Spurs, mereka kan lagi bagus-bagusnya nih. Terus kok bisa sih dipermak sama klub yang lagi krisis jati diri kaya Chelsea? Berikut adalah analisis bagaimana The Blues menemukan keberuntungan dan cara jitu dalam meredam keganasan The Lilywhites.

Hilangnya Kesempatan Invincible 

Ini jadi kekalahan perdana pasukan Ange Postecoglou di Liga Inggris musim ini. Hasil ini sekaligus memupuskan Tottenham untuk mencetak rekor baru sebagai tim yang mampu tak terkalahkan dalam sebelas laga awal di Liga Inggris. Dengan kekalahan ini pula, Spurs tak bisa meniru gelar invincible yang sudah lebih dulu diraih Arsenal pada musim 2003/04.

Gelar itu dipastikan tak akan terulang musim ini setelah Arsenal juga mengalami kekalahan di pekan lalu. Jadi, semua tim termasuk Spurs sudah pernah mengantongi kekalahan musim ini. Tahta pemilik gelar itu belum tergoyahkan. Meriam London masih jadi satu-satunya klub Inggris yang pernah meraih gelar Premier League tanpa menelan kekalahan sekalipun.

Kartu Merah Romero & Udogie

Laga baru berjalan 30 menit, malapetaka sudah menghampiri Spurs. Saat terjadi kemelut di kotak penalti Spurs, Cristian Romero yang berupaya mengamankan bola justru menyasar kaki Enzo Fernandez. Kejadian itu awalnya luput dari pandangan wasit. Namun, beberapa menit berselang semuanya berubah.

Moises Caicedo sempat mencetak gol penyeimbang dari kemelut itu. Namun, wasit VAR mengatakan kalau sudah terjadi pelanggaran lebih dulu. Setelah ditinjau kembali, pelanggaran yang dilakukan Romero tergolong berat. Selain diganjar penalti, Spurs makin sial karena Romero harus mandi lebih cepat usai mendapat kartu merah langsung dari wasit.

Ini jadi kehilangan besar bagi pertahanan Spurs, mengingat Romero merupakan pemimpin sekaligus penyaring serangan sebelum bola langsung berhadapan dengan Guglielmo Vicario. Bermain dengan sepuluh pemain, The Blues berhasil menyamakan kedudukan melalui sepakan penalti Cole Palmer.

Bermain dengan sepuluh pemain saja sudah membuat lini pertahanan Spurs kacau balau, eh Destiny Udogie malah memperburuk keadaan dengan pelanggaran konyol kepada Raheem Sterling di babak kedua. Udogie yang sudah mendapat kartu kuning di babak pertama pun akhirnya tak bisa terhindar dari kartu kuning kedua. Spurs harus rela bermain dengan sembilan pemain.

Kehilangan dua pilar penting di lini belakang membuat koordinasi antar bek makin kacau. Kepanikan pun tak terhindarkan. Memasukan Eric Dier dan menarik keluar Romero pun dirasa gagal. Pemain yang berposisi asli sebagai gelandang itu nyatanya tak memiliki kualitas sebaik Romero. 

Cederanya Pilar Penting

Permasalahan skuad asuhan Ange Postecoglou kian rumit ketika tim kehilangan dua pilar pentingnya lagi, yakni James Maddison dan Micky Van de Ven di akhir babak pertama. Situasi ini membuat Spurs seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah main dengan sembilan pemain, Spurs harus bermain tanpa empat pilar penting. Di lini depan pun Ange hanya menyisakan Son Heung-min sendirian.

Kehilangan Van de Ven dan Maddison membuat Spurs makin sulit mengembangkan permainan. Tanpa Maddison, Spurs cukup kesulitan untuk memenangkan duel di lini tengah. Apalagi, Ange memasukan Emerson Royal untuk menggantikan Maddison. Itu sama saja membiarkan Chelsea untuk menguasai pertandingan. 

Kita semua tahu, Maddison adalah pemain tengah paling penting di skuad Ange Postecoglou. Dalam skema pelatih asal Australia itu, Maddison diberikan kebebasan namun dengan porsi yang pas. Kebebasan itu dimanfaatkan dengan baik untuk memaksimalkan kemampuannya membongkar pertahanan lawan. Dengan umpan-umpannya, Maddison juga membantu Spurs dalam distribusi bola. 

Jadi, ketika dirinya ditarik keluar lantaran cedera, Spurs kebingungan harus mengalirkan bola dari mana. Tanpa James Maddison, Son juga seperti terisolasi. Tak ada suply bola yang biasanya datang dari kaki pemain asal Inggris tersebut. 

Untuk mengatasi itu, Ange Postecoglou menerapkan strategi jebakan offside dengan menarik garis pertahanan Spurs agar lebih tinggi sampai ke garis tengah lapangan. Skema ini diharapkan bisa memutus serangan cepat Chelsea atau sebatas mengurung pemain lawan di areanya sendiri sambil sesekali melayangkan serangan. Sayang, strategi ini justru dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain Chelsea.

Kecerdikan Chelsea

Unggul di segala aspek, Mauricio Pochettino lebih tenang dalam mengambil keputusan. Pelatih asal Argentina itu memerintahkan pemainnya untuk lebih bersabar dan memanfaatkan kelengahan pemain lawan. Mengandalkan pemain cepat macam Raheem Sterling, Mykhailo Mudryk, dan Nicholas Jackson di depan, Chelsea kerap memberikan umpan kejutan yang membelah pertahanan Spurs yang sudah renggang.

Kita bisa melihat dari ketiga gol Chelsea setelahnya. Mereka memanfaatkan garis bertahan Spurs yang teramat tinggi dengan melepaskan umpan daerah kepada pemain yang muncul dari second line. Pemain macam Sterling dan Conor Gallagher berlari dari titik buta pemain lawan dan menerima bola di belakang garis pertahanan spurs.

Umpan seperti ini bisa memecah jebakan offside yang sudah diracik sedemikian rupa sehingga menciptakan situasi satu lawan satu dengan penjaga gawang Spurs. Selain itu, setelah unggul jumlah pemain, Chelsea mengambil inisiatif untuk menguasai bola. Itu dibuktikan dengan catatan penguasaan bola The Blues yang berada di angka 61% saat peluit panjang dibunyikan.

Nicolas Jackson

Selain kecerdasan Mauricio Pochettino yang memanfaatkan kesalahan antisipasi Spurs, kita harus berikan apresiasi lebih pada sosok Nicolas Jackson. Mantan pemain Villarreal itu memborong tiga gol sekaligus di laga tersebut. Mungkin gol-golnya terkesan mudah dilakukan, tapi pergerakannya cukup merepotkan pertahanan Spurs sejak menit pertama.

Dengan mengemas tiga gol, Jackson kini menjadi pemain keenam yang mencetak hattrick di Premier League 2023/2024. Dia mengikuti jejak Erling Haaland, Ollie Watkins, Evan Ferguson, Son Heung-min, dan Eddie Nketiah. Selain itu, Jackson jadi pemain ketiga Chelsea yang mampu mencetak hattrick ke gawang Spurs setelah Tore Andre Flo tahun 1997 dan Jimmy Floyd Hasselbaink tahun 2002.

Intrik dan Drama

Tak berhenti disitu, selain aksi dari Nicholas Jackson dan kecerdikan Chelsea dalam memanfaatkan situasi, intrik dan drama yang terjadi juga mempengaruhi jalannya pertandingan. Seperti yang kita ketahui, dalam laga tersebut terjadi banyak keputusan-keputusan yang menimbulkan perdebatan.

Selain lima gol yang dianulir, wasit tercatat sembilan kali melihat VAR untuk meninjau gol, pelanggaran, atau insiden yang terjadi di lapangan. Tak cuma itu, Michael Oliver pun mengeluarkan kartu sebanyak 12 kali dari sakunya dan dua diantaranya merupakan kartu merah kepada pemain Spurs. 

Banyaknya intrik di dalam pertandingan juga membuat konsentrasi pemain Spurs makin berantakan. Di tengah usaha ingin mengejar ketertinggalan, mereka harus menghadapi keputusan-keputusan wasit yang tak berpihak pada mereka. Kekalahan ini memaksa Spurs untuk mengembalikan puncak klasemen kepada sang empunya, yakni Manchester City.

Sumber: The Athletic, Eurosport, Sofascore, Goal

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru