Kontroversi Pencabutan Aturan Growth Decree di Serie A

spot_img

Banyak jalan bagi anak muda untuk menuju kesuksesan. Salah satunya adalah dengan sebuah proses yang bertahap, bukan instan. Sebuah proses tentu butuh yang namanya kesempatan. Kalau tidak ada kesempatan, bagaimana anak muda itu mau berkembang?

Pemandangan itulah yang kini sedang terjadi di Serie A. Para pemain muda lokal Italia di beberapa musim terakhir jarang mendapat kesempatan bersaing di skuad utama. Pasalnya, klub lebih percaya gunakan pemain asing demi meraih prestasi dan pamor. Sekalipun pemain asing itu sudah uzur atau buangan dari tim lain.

Aturan Growth Degree

Melubernya para pemain asing di Serie A terjadi sejak adanya aturan Growth Decree tahun 2019 lalu. Aturan yang dikeluarkan pemerintah Italia itu berupa keringanan pajak yang memungkinkan klub Serie A bisa menghemat 50 persen pajak untuk mendatangkan pemain asing.

Sebagai contoh, gaji pemain asing itu 1 juta euro. Maka klub tersebut membayar pajak si pemain bukan sebesar 2 juta euro atau 100%, melainkan hanya 1,5 juta euro saja. Romelu Lukaku, Victor Osimhen, Rafael Leao adalah beberapa contoh pemain yang didatangkan klub Serie A dengan menggunakan aturan keringanan pajak tersebut.

Sebelum adanya aturan itu, klub-klub Italia seringkali kalah saing dengan klub liga lain dalam mendatangkan pemain bintang. Maklum, keadaan finansial klub Serie A tak sebagus klub-klub liga lain.

Selain itu, seluruh klub Serie A musim lalu kalau ditotal sudah menghemat biaya transfer sekitar 130 juta euro melalui aturan ini. Namun, situasinya telah berubah. Pemerintah Italia kini telah resmi mencabut aturan yang telah meringankan klub-klub Serie A itu, per tanggal 31 Desember 2023.

Saatnya Lokal Pride?

Diberhentikannya aturan tersebut ternyata akibat dari desakan Asosiasi Pemain Italia (AIC). Sudah sejak 2020 lalu, mereka telah mengevaluasi aturan tersebut. Mereka menganggap aturan tersebut mematikan potensi para pemain muda lokal Italia. Para pemain muda lokal Italia tak dapat banyak kesempatan berkembang di tengah gempuran para pemain asing yang makin menggila.

Menurut data Opta musim lalu, Serie A telah mempekerjakan pemain asing sebanyak 61%. Menit bermain dari para pemain asing tersebut juga terbilang tinggi, yakni sebanyak 65,5%. Artinya, para pemain asing itu bukan sekadar ban serep, melainkan telah jadi pilar penting bagi klubnya masing-masing.

Nah, dengan semakin sempitnya ruang klub Serie A merekrut bintang asing karena mahal di ongkos, otomatis hal ini membuka peluang bagi para talenta lokal untuk diberi kesempatan untuk tampil reguler dan bersaing di skuad utama.

Tak ada salahnya mengandalkan “local pride”. Karena jika kita flashback ke belakang, klub-klub Serie A sejak dulu sudah berhasil melakukannya. Serie A di era 90-an hingga 2000-an awal telah banyak melahirkan pemain-pemain lokal berbakat dari pembinaan akademinya.

Sebut saja pemain seperti Paolo Maldini, Filippo Inzaghi, Francesco Totti, maupun Alessandro Del Piero. Mereka tumbuh dan berkembang menjadi bintang karena adanya kesempatan bermain yang diberikan oleh klubnya.

Regenerasi Timnas Italia

Mandeknya perkembangan pemain muda lokal Italia, dinilai Asosiasi Pemain Italia (AIC) juga telah berdampak pada regenerasi di Timnas Italia. Kita lihat fenomena timnas Italia akhir-akhir ini. Banyak tumbuh para pemain Oriundi seperti Jorginho, Rafael Toloi, Retegui, maupun Emerson Palmieri. Pemain keturunan lain seperti Moise Kean, Wilfred Gnointo juga sempat mewarnai Timnas Italia.

Miris rasanya melihat tim sebesar Italia kesulitan menemukan pemain muda berbakat lagi. Maka dari itu, dicabutnya Growth Decree ini diharapkan juga akan berdampak positif bagi regenerasi Gli Azzurri.

Ya, sudah saatnya klub besar seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, maupun AS Roma mulai sadar diri memikirkan pentingnya menyuburkan para pemain muda lokal di tim inti mereka. Toh, kebijakan itulah yang akan melahirkan bintang baru Timnas Italia di masa depan. Tak seharusnya Gli Azzurri bergantung pada pemain keturunan.

Kemunduran?

Namun masalahnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, klub-klub besar Serie A sering tak percaya diri menggunakan talenta muda lokal. Mereka lebih memilih mengandalkan mayoritas talenta asing di skuadnya demi bisa bersaing.

AC Milan misalnya. Musim panas lalu mereka mendatangkan sekitar delapan pemain dari luar Italia. Inter Milan pun mirip. Inter musim ini bahkan memanfaatkan aturan Growth Decree itu dalam mendatangkan pemain seperti Benjamin Pavard, Yann Sommer, Marcus Thuram, hingga Carlos Augusto.

Tapi jangan juga disalahkan mereka yang memanfaatkan aturan Growth Decree ini. Pasalnya dengan membeli dan mengandalkan banyak pemain asing, terbukti dampaknya cukup besar bagi prestasi klub.

Tak dipungkiri beberapa musim terakhir ini, prestasi klub-klub Serie A di level kompetisi Eropa menunjukan indikasi yang positif. Hal itu dibuktikan dari banyaknya klub-klub Serie A mencapai babak tertinggi di beberapa kompetisi Eropa.

Ada juga analisis yang menunjukan tentang pengaruh positif aturan Growth Decree terhadap nilai koefisien klub Serie A di UEFA. Sebagai perbandingan, tiga tahun sebelum diberlakukannya Growth Decree, klub-klub Serie A rata-rata hanya mencetak 12.759 poin.
Namun setelah diberlakukannya aturan Growth Decree hingga musim lalu, terdapat peningkatan yang signifikan hingga mencapai 22.357 poin.

Ibaratnya, kalau aturan tersebut berdampak positif bagi prestasi klub, kok malah dihapus? Maka dari itu publik sepakbola Italia banyak yang menganggap pencabutan aturan tersebut adalah sebuah hal yang bodoh atau dinilai sebagai sebuah kemunduran.

Imbasnya

Namun, di tengah adanya penentangan penghapusan aturan ini, tetap saja ada hikmah yang dapat dipetik suatu saat nanti bagi sepakbola Italia. Dengan adanya pencabutan aturan itu, akan memberikan imbas pada perencanaan klub Serie A kedepan.

Bagaimanapun kini klub-klub di Serie A sudah mulai dipaksa untuk ancang-ancang cari cara lain selain belanja talenta asing. Termasuk salah satunya mengorbitkan para pemain muda akademinya.

Maka dari itu pemain seperti Francesco Camarda mulai muncul di AC Milan. Pemain seperti Caviglia, Miretti, juga muncul di Juventus. AS Roma juga tak mau kalah, mereka mulai memunculkan pemain seperti Eduardo Bove.

Ya, pencabutan aturan ini memang bak pisau bermata dua. Di sisi lain bagus untuk perkembangan masa depan talenta muda lokal, di sisi lainya dikhawatirkan dapat menurunkan prestasi dan daya tarik klub-klub Serie A.

Publik sepakbola Italia tentu mendambakan adanya bintang baru Italia yang lahir dan bisa berdampak pada regenerasi timnasnya kelak. Namun mereka juga takut jika talenta bintang asingnya berkurang dapat menurunnya pamor dan penonton mereka.

Bagaimanapun para fans sepakbola di Italia masih tertarik dengan adanya bintang-bintang populer dunia yang berlaga. So, kita lihat saja ke depan. Apakah pencabutan aturan ini akan sesuai hasil yang diharapkan? Atau justru mungkin Serie A akan terus menurun pamornya karena kesulitan mendatangkan pemain bintang?

Sumber Referensi : forbes, calcioefinanza, getfootballnewsitaly, sport.sky, onefootball, footballitalia

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru