Kiprah Kakak Beradik di Piala Afrika

spot_img

Memiliki saudara kandung dalam keluarga adalah anugerah dari tuhan yang patut disyukuri. Meski terkadang ada kalanya berantem, tapi saudara sedarah tetaplah jadi partner dalam hidup kita selamanya.

Dalam sepakbola, ikatan saudara kandung di sebuah klub atau timnas sudah jamak kita temui. Termasuk juga di ajang Piala Afrika. Di ajang tersebut sudah banyak contoh yang membuktikan bahwa kakak beradik bisa saling bahu-membahu membawa negaranya jadi yang terbaik.

Kolo dan Yaya Toure (Pantai Gading)

Salah satu yang populer adalah Yaya dan Kolo Toure di Timnas Pantai Gading. Mereka lahir dari keluarga yang kekurangan. Di masa kecil, mereka bahkan sempat membantu orang tuanya dengan bekerja sebagai penyemir sepatu. Maklum, jumlah saudara kandung di keluarga Toure ini ada sembilan. Kolo sebagai anak pertama dan Yaya sebagai anak kedua sadar diri punya tanggung jawab terhadap adik-adiknya.

Kerja kerasnya sejak kecil tersebut, juga berimbas pada bakatnya sebagai pesepakbola. Karier mereka meroket bahkan hingga tembus ke Liga Inggris. Kolo Toure sukses di Arsenal dan Yaya Toure sukses di Manchester City.

Sampai akhirnya kisah sukses sejoli ini diteruskan di Timnas Pantai Gading. Di ajang Piala Afrika, duo ini termasuk yang paling banyak bermain bersama, yakni enam kali terhitung sejak Piala Afrika 2006 hingga 2015.

Namun yang paling epik untuk disorot kiprah mereka adalah ketika membawa Les Elephants kampiun di Piala Afrika 2015. Itu adalah momen puncak bagi karier mereka berdua. Kolo menjadi tembok kokoh di lini belakang, sedangkan Yaya sebagai jenderal lini tengah tim asuhan Herve Renard.

Kemenangan adu penalti Pantai Gading atas Ghana di final Piala Afrika 2015 jadi kisah yang tak terlupakan bagi Toure bersaudara. Mereka berdua turut andil dalam mengonversikan gol di babak tos-tosan tersebut. Cerita keberhasilan itu berubah menjadi sedih, ketika mereka mempersembahkan gelar tersebut untuk saudara kandungnya Ibrahim Toure, yang meninggal karena kanker di tahun 2014.

Jordan dan Andre Ayew (Ghana)

Lain halnya dengan dua bersaudara Andre dan Jordan Ayew di Timnas Ghana. Mereka adalah kakak beradik yang lahir dari darah seorang pesepakbola terkenal benua Afrika, yakni Abedi Pele. FYI aja, Abedi Pele itu adalah pemain terbaik Afrika tiga kali beruntun dari tahun 1990 hingga 1993.

Buah memang tak jauh dari pohonnya. Anak Abedi, Andre dan Jordan juga nyatanya sukses jadi pesepakbola ternama Ghana. Sebagai kakak, Andre juga punya pengaruh bagi karier Jordan ketika merekomendasikannya masuk akademi Marseille di 2008 silam.

Namun jika bicara prestasi, duo Ayew ini memang tak terlalu mentereng. Baik di klub maupun timnas. Tapi soal kesetiaan membela negaranya, bisa dibuktikan. Bayangkan saja, Piala Afrika 2023 ini adalah Piala Afrika keenam kalinya bagi mereka, sekaligus kedelapan bagi Andre Ayew.

Mereka masih akan menjadi andalan The Black Star asuhan Chris Hughton. Padahal secara usia mereka tak muda lagi. Andre sudah 34 tahun, sedangkan Jordan 32 tahun.

Kiprah mereka yang paling diingat adalah membawa Ghana ke final Piala Afrika 2015. Namun sayang, meski keduanya mampu mencetak gol di babak adu penalti, Ghana harus mengakui keunggulan Pantai Gading.

Sama-sama beroperasi di lini serang, baik di sayap maupun striker, koneksi kakak beradik ini bak Tsubasa dan Misaki di dalam lapangan. Chemistry mereka sudah tak usah diragukan lagi. Mereka berdua adalah pemain yang banyak menyumbangkan gol bagi Ghana selama ini. Total Andre sudah menyumbangkan 24 gol dan 7 assist bagi The Black Star, sedangkan Jordan 19 gol dan 10 assist.

Alain dan Bertrand Traore (Burkina Faso)

Yang berikutnya ada dua kakak beradik dari Burkina Faso, Alain dan Bertrand Traore. Namanya sih kurang populer dibanding Toure bersaudara maupun Ayew bersaudara. Namun prestasinya bagi Burkina Faso patut diacungi jempol. FIFA mencatat, duo Traore ini telah melesakan total 33 gol bagi negaranya selama membela timnas.

Alain sebagai kakak dari Bertrand, sudah membela timnas berjuluk Les Etalons sejak Piala Afrika 2013. Performanya di bawah asuhan pelatih Paul Put bahkan bisa membawa Les Etalons tembus babak final Piala Afrika 2013.

Sebagai seorang kakak yang sukses di level timnas, ia tak lupa akan adiknya yang juga berbakat di dunia si kulit bundar. Alain sering mengajak adiknya Bertrand ketika masih berusia 15 tahun menemaninya selama bermain sepakbola. Bertrand pun selalu antusias membuntuti kakaknya setiap kali bermain. Sampai akhirnya, Bertrand pun juga menjadi pemain bola profesional meneruskan jejak kakaknya.

Sampai akhirnya mereka kesampaian debut bermain bersama membela negaranya di Piala Afrika 2015. Ketika itu Alain berposisi sebagai second striker, sedangkan Bertrand sebagai sayap. Pencapaian terbaik mereka ketika bermain bersama yakni membawa Les Etalons menjadi juara tiga Piala Afrika 2017.

Namun kini sang kakak Alain yang sudah berusia 35 tahun, tak lagi bersama Burkina Faso. Beda dengan adiknya Bertrand yang berusia 28 tahun masih jadi kapten Burkina Faso asuhan Hubert Valud di Piala Afrika 2023.

Hossam dan Ibrahim Hassan

Di Timnas Mesir, ada sepasang anak kembar bernama Hossam dan Ibrahim Hassan. Hossam sebagai striker dan Ibrahim sebagai bek. Kisah dua kembar yang satu ini unik. Meski bermain bersama selama tiga perhelatan Piala Afrika dari 1988, 1992, dan 2000, mereka tak pernah menjadi juara. Tapi di saat Ibrahim tak dipanggil di Piala Afrika 1986,1998 dan 2006, Hossam mampu meraih mahkota bersama The Pharaohs.

Ikatan darah sebagai seorang pesepakbola mampu mereka langgengkan hingga masa tua. Setelah pensiun sebagai pemain, duo plontos yang mirip upin-ipin ini mencoba peruntungan bersama menjadi pelatih. Bukan melatih negaranya sendiri, melainkan melatih Timnas Yordania di tahun 2013. Hossam jadi pelatihnya, sedangkan Ibrahim jadi asistennya.

Kini, kebersamaan saudara kembar bekerja di dunia si kulit bundar telah berakhir di tahun 2023. Mereka terakhir diberhentikan sebagai pelatih dan direktur olahraga di klub Liga Mesir, El Masry. Kini saudara kembar ini masih menganggur, dan memilih untuk fokus menyaksikan penampilan Mohamed Salah dan kawan-kawan di Piala Afrika 2023.

Christopher dan Felix Katongo (Zambia)

Kekuatan ikatan kakak beradik yang saling bahu-membahu dalam satu tim, tercermin juga di Piala Afrika 2012. Dimana tim yang tak diunggulkan sama sekali yakni Zambia, diluar dugaan bisa jadi juara.

Salah satu lakon utama Zambia meraih kesuksesan adalah striker mereka Christopher Katongo. Striker yang pensiun tahun 2017 lalu tersebut adalah salah satu top skor di Piala Afrika 2012 dengan 3 golnya.

Christopher yang berposisi sebagai penyerang tak sendirian di ajang tersebut. Ia ditemani langsung oleh adik kandungnya bernama Felix Katongo. Namun posisi Felix adalah gelandang serang. Kombinasi kakak beradik ini diakui publik Zambia sebagai salah satu kunci kenapa Zambia asuhan Herve Renard tampil mengejutkan Piala Afrika 2012.

Kecepatan dan Kelincahan Felix yang lebih muda dua tahun dari Christopher sering membuat pertahanan lawan kocar-kacir. Sementara Christopher sendiri adalah tipe penyerang mematikan di kotak penalti.

Dalam sebuah buku tentang kisah dibalik Zambia juara Piala Afrika 2012, Christopher menulis bahwa adiknyalah yang jadi sebab kenapa ia selalu berusaha menampilkan yang terbaik. Ia mengaku punya beban berat ketika harus menjadi tauladan bagi adiknya di lapangan.

Christopher merasa lega dan merasa berhasil ketika mampu menyemangati adiknya di babak tos-tosan melawan Pantai Gading. Mereka berdua sama-sama sukses sebagai algojo penalti Zambia. Ya, sumbangsih duo Katongo ini kini jadi bagian cerita indah sekaligus inspirasi bagi rakyat Zambia.

https://youtu.be/B6Iv3sP52yY

Sumber Referensi : cafonline, fifa, pulsesport, fifa, sportsbrief, fifa

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru