Beranda blog Halaman 61

Jejak Shin Tae-yong Membangun Timnas Indonesia dari Minus

Kenapa tangisan itu bisa terulang lagi? Air mata berlinang yang turun dari mata sayu Shin Tae-yong itu, akhirnya juga dirasakan oleh sebagian publik sepakbola Indonesia. Pria Korea Selatan itu sudah meninggalkan Indonesia. Episode lima tahun pengabdian Coach Shin telah diakhiri.

Jejak indah yang telah ditinggalkannya, telah membuat sebagian publik sepakbola Indonesia cinta membabi buta. Seperti apa perjalanan Shin Tae-yong membangun Timnas Indonesia yang konon, kata banyak orang, dari minus itu?

Simon McMenemy Dan Iwan Bule

Seorang yang dicintai bak seorang kekasih itu, awal mulanya datang ke Indonesia pada tahun 2019. Namun sebelum ia datang, Timnas Indonesia masih dilatih Simon McMenemy.
Perjalanan Timnas Indonesia di tangan pelatih asal Skotlandia itu, amatlah pilu.

Bayangkan, pelatih yang ditunjuk Ketum PSSI, Edy Rahmayadi itu, membawa Timnas Indonesia tak pernah menang di empat laga beruntun ajang Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Padahal saat itu materi skuad Timnas Garuda melimpah dengan pemain naturalisasi seperti Greg Nwokolo hingga Victor Igbonefo.

Sampai pada akhirnya, PSSI punya ketua umum yang baru pada Kongres tahun 2019, yakni Iwan Bule. Publik sempat dibuat kaget dengan gebrakan Iwan Bule. Baru empat hari menjabat, purnawirawan polisi itu tegas mengambil keputusan mendepak mantan pelatih Timnas Filipina itu. Publik pun makin tak sabar, menanti siapa nahkoda Timnas Indonesia selanjutnya.

Peran Ratu Tisha

Seiring berjalannya waktu, proses pencarian pelatih pun mulai dilakukan. Iwan Bule tak sendirian. Di sini ada juga peran penting sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria. Sekjen nan cantik jelita ini, ikut dalam perburuan pelatih baru. Bahkan ialah orang yang pertama kali menghubungi calon pelatih baru yang dipilih, yakni Shin Tae-yong.

Saat kali pertama ditawari melatih Timnas Indonesia oleh Ratu Tisha, Shin Tae-yong awalnya kaget dan pesimis. Tapi Ratu Tisha pun tak tinggal diam. Ia terus coba bergerak meyakinkannya. Ia sampai bela-belain mengadakan pertemuan diam-diam di Malaysia. Ya, Negeri Jiran pun jadi saksi Ratu Tisha melancarkan rayuan mautnya supaya Coach Shin bersedia melatih timnas.

Gayung pun bersambut. Bujuk rayu itu akhirnya mendapat tanggapan positif dari Coach Shin. Tisha pun sumringah, karena hasil lobinya ke negeri orang tak sia-sia. Pelatih yang mengalahkan Jerman di Piala Dunia 2018 itu bersedia menjadi pelatih Timnas Indonesia.

Pandemi Covid-19

Pakansari, Bogor 28 Desember 2019. Shin Tae-yong menginjakkan kaki pertama kali di tanah air. Dengan balutan jas hitam dan dasi merah, Oppa Korea itu diperkenalkan ke publik tanah air. Didampingi Iwan Bule dan Ratu Tisha, mereka berfoto dengan senyum yang penuh harapan. Ya, babak baru sepakbola Indonesia telah dimulai.

Malangnya, di saat harapan publik sepakbola tanah air pada Coach Shin mulai muncul, dunia dilanda bencana maha dahsyat. Covid-19 telah merusak segalanya. Covid jugalah yang membawa Shin Tae-yong terbang ke kampung halamannya pada April 2020.

Pekerjaan Coach Shin sempat terbengkalai waktu itu. Meski begitu, di Negeri Ginseng sana, ia tak berdiam diri. Ia coba tetap profesional dengan terus memberi pelatihan virtual pada pemain Timnas U-19 yang sedang ia tangani. Pengorbanan itulah yang membuat anak asuhnya makin semangat berlatih, dan mulai percaya padanya.

Di masa bencana Covid yang serba susah itu, ia sudah harus mendampingi tim U-19. Ia harus mendampingi tim U-19 berlaga pada laga uji coba tertutup di Kroasia, melawan tim seperti Bulgaria, Kroasia, Bosnia, hingga Makedonia Utara.

Selang bergantinya tahun 2021, Coach Shin lalu mendapat musibah. Ia dinyatakan positif Covid-19 pada bulan Maret 2021. Coach Shin bahkan saat itu sempat masuk rumah sakit. Namun setelah badannya mulai membaik, ia lalu segera memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Sedihnya lagi, ternyata Coach Shin pulang ke Korea Selatan menggunakan pesawat yang ia biaya sendiri.

Final Piala AFF 2020

Bulan demi bulan telah berlalu. Coach Shin akhirnya kembali lagi ke tanah air pada Agustus 2021. Ia lalu menyiapkan pemusatan latihan timnas senior di Turki, sebagai persiapan jelang ajang Piala AFF 2020, yang akan digelar di bulan Desember 2021.

Meski tak ada target khusus dari PSSI, ajang Piala AFF 2020 akan jadi ajang pembuktian Coach Shin untuk membuktikan kualitasnya. Dalam perjalanannya di Piala AFF 2020, Coach Shin juga sempat dihadapkan pada kenyataan bahwa, terjadi tarik ulur pemanggilan pemain yang bermain di luar negeri seperti Egy Maulana Vikri maupun Elkan Baggott.

Namun itu semua tak jadi soal bagi Coach Shin. Ia tetap pede dengan skuad yang sudah dipersiapkan ketika pemusatan latihan di Turki. Saat turnamen berjalan, Coach Shin berhasil menunjukan tajinya. Ramuan taktik dan pemain yang notabene merupakan muka baru, Timnas Garuda mampu mencapai final untuk meladeni sang langganan juara, Thailand.

Meski akhirnya gagal juara, namun apa yang disajikan oleh Shin Tae-yong secara permainan, telah membuat bangga publik sepakbola tanah air. Kebanggaan publik itu juga terlihat ketika skuad yang mampu mencapai final itu, adalah skuad dengan rataan termuda yang berlaga di Piala AFF 2020.

Musuh Pertama Shin Tae-yong

Namun kebanggaan publik itu, tak berlaku pada salah satu Exco PSSI saat itu, Haruna Sumitro. Haruna mengkritik pedas kinerja Coach Shin yang hanya bisa meraih runner-up di Piala AFF. Haruna menyatakan bahwa Coach Shin sejatinya tak berbeda jauh dengan pelatih Timnas Garuda terdahulu yang hanya bisa memberikan gelar runner-up Piala AFF.

Kritikan tersebut akhirnya direspons oleh publik sepakbola Indonesia, yang sudah kadung jatuh hati pada Coach Shin. Sampai-sampai ada kampanye di media sosial yang mendesak agar Haruna Sumitro mundur dari jabatan Exco PSSI. Tagar Haruna Out pun sempat mengemuka.

Ya, saat itulah fans Timnas Indonesia sudah pada level berani menentang siapa saja yang mengkritik Coach Shin. Kepopuleran Coach Shin di mata publik sepakbola Indonesia makin menjadi-jadi. Hal itu bahkan diakui sendiri oleh Coach Shin.

Dirinya sempat mengatakan bahwa, sejak Piala AFF 2020 jumlah pengikutnya di Instagram melonjak drastis. Ia juga menyadari bahwa betapa gilanya sikap fans Timnas Indonesia ketika membela dirinya dari berbagai kritikan.

Potong Satu Generasi

Namun kegandrungan fans Timnas Indonesia yang luar biasa pada Coach Shin itu, bukan tanpa alasan. Publik menganggap, meski Coach Shin adalah pelatih baru, ia sudah menunjukan beberapa perubahan besar yang mendasar bagi Timnas Indonesia. Salah satu yang terlihat adalah, langkah beraninya menyunat satu generasi pemain Timnas Indonesia, dan diganti dengan generasi yang baru.

Awalnya, hal itu banyak dikritik sebagai sebuah risiko yang dinilai terlalu besar jika berakhir gagal. Akan tetapi, Coach Shin tetap tegak lurus dengan apa yang ia yakini. Ia ingat betul bahwa, “regenerasi pemain” adalah salah satu cita-cita yang ia impikan ketika awal menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia.

Timnas di era Shin Tae-yong, tidak ada lagi nama Boaz Solossa, Beto Goncalves, Zulham Zamrun, maupun Febri Haryadi. Di era awal kepemimpinan Coach Shin, yang kita lihat adalah pemain seperti Witan Sulaiman, Egi Maulana Vikri, Pratama Arhan, Alfeandra Dewangga, maupun Asnawi Mangkualam. Ya, pemain itulah yang menjadi produk regenerasi dari Coach Shin.

Nilai-Nilai Penting STY

Lalu apakah Coach Shin hanya fokus dengan pemotongan generasi saja? Tidak. Ia juga memperhatikan hal-hal lain. Hal-hal seperti kepribadian, mental, fisik, hingga pola makan, juga tak luput dari pengamatannya.

Pria kelahiran Yeongdeok itu dikenal sebagai orang yang ulet dan disiplin sejak kecil. Ia tahu ada masalah kedisiplinan yang ada dalam diri beberapa pemain yang ada di Timnas Indonesia. Maka dari itu, ketika pertama menangani timnas, hal pertama yang ia lakukan adalah menerapkan jadwal latihan yang ketat.

Tak segan ia menegur dan menghukum pemain yang telat latihan. Aturan itu bukan sekedar formalitas belaka. Terbukti beberapa pemain yang tak patuh pada aturan kedisiplinan ini, benar-benar dihukum olehnya. Rifad Marasabessy contohnya.

Lalu juga soal mental dan fisik. Untuk mendukungnya, ia mendatangkan asisten yang khusus mengurusi hal tersebut. Shin Shang-Gyu adalah pelatih fisik yang merupakan salah satu dari anggota “geng korea” yang dibawa Coach Shin sejak awal membesut Timnas Indonesia.

Kegagalan dan Sempat Ingin Mundur

Coach Shin memang telah memberikan banyak hal mendasar bagi Timnas Indonesia di awal kepemimpinannya. Ia berharap, itu semua akan menjadi embrio bagi kesuksesan Timnas Indonesia kelak.

Namun waktu demi waktu telah berjalan. Setelah ajang pertama Piala AFF 2020, Coach Shin dihadapkan lagi pada ajang Sea Games dan Piala AFF lagi di tahun 2022. Tapi sayang, di dua ajang tersebut Coach Shin belum bisa memberikan trofi bagi Indonesia.

Di tengah kegagalan tersebut, entah mengapa publik tanah air masih saja percaya padanya. Sebab, publik sepakbola Indonesia menganggap proses yang dilalui oleh Coach Shin dalam membangun Timnas Garuda ini, sudah berada di jalan yang benar.

Di luar kegagalannya, pada tahun 2022 ada berita heboh yang keluar dari mulut Coach Shin. Ia sempat mengatakan kepada media, bahwa dirinya akan mundur dari kursi pelatih Timnas Indonesia. Hal itu disampaikannya pasca terjadinya tragedi Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa yang tak berdosa.

Coach Shin waktu itu bersedia mundur ketika Ketua Umum PSSI, Iwan Bule juga didesak mundur. Pelatih berpaspor Korea Selatan itu merasa bagian dari PSSI, dan ikut bertanggung jawab. Namun kembali, publik sepakbola yang cintanya sudah membabi buta, tak rela Coach Shin pergi begitu saja hanya karena Iwan Bule.

Uji Coba: Lahan Mendulang Poin FIFA

Publik sepakbola Indonesia bukan tanpa alasan terus membela mati-matian Shin Tae-yong. Meski dirinya gagal di beberapa ajang, namun di laga-laga persahabatan, Timnas Indonesia besutan Coach Shin ini tak bisa dianggap remeh.

Coach Shin ini ternyata tipe pelatih yang juga memperhatikan laga-laga uji coba. Sebab, kemenangan dari laga uji coba, bisa perlahan mendongkrak ranking FIFA Timnas Indonesia. Lihat saja di sepanjang tahun 2022, ranking FIFA Timnas Indonesia terbukti terdongkrak.

Per Oktober 2022, ranking Timnas Indonesia berada di 152. Padahal sejak awal menangani timnas, Coach Shin memulai dari ranking 173. Kemenangan di laga uji coba melawan Timor Leste maupun Timnas Curacao adalah salah satu yang mendongkraknya.

Lolos Langsung Piala Asia

Tak hanya soal ranking FIFA semata. Di tahun 2022, tim besutan Coach Shin memberikan kado indah bagi publik sepakbola Indonesia, yakni lolos ke Piala Asia. Kemenangan melawan Kuwait dan Nepal di Babak Kualifikasi Piala Asia 2023, membuat pasukan Garuda dipastikan terbang ke Qatar di tahun 2024.

Kelolosan ini adalah kali keempat bagi Timnas Indonesia ke Piala Asia setelah tahun 1996, 2000, dan 2004. Kecuali di tahun 2007, Timnas Indonesia ketika itu lolos ke putaran final sebagai tuan rumah.

Diejek Seperti Badut

Beberapa prestasi yang mulai ditorehkan Coach Shin di tahun 2022 itu, tak serta-merta membuat perjalanannya mulus-mulus saja. Di awal tahun 2023, ia menerima kritikan pedas bak cabai rawit dari mantan pelatih Dortmund, Thomas Doll.

Pelatih yang saat itu menangani Persija, geram dengan sikap Coach Shin ketika menolak melakukan pertemuan soal pembicaraan pemanggilan pemain ke timnas. Kegeraman Doll pada Coach Shin akhirnya tak bisa dibendung. Ia berani menyebut Coach Shin sebagai “badut”.

Sungguh teganya Thomas Doll. Pelatih asal Jerman itu mengatakan bahwa Coach Shin lebih banyak mementingkan menjadi bintang iklan, ketimbang mengurusi hal-hal detail soal timnas. Maklum, sepanjang tahun 2022 Coach Shin memang banyak syuting jadi bintang iklan mobil, kopi, hingga mie instan.

Piala Asia U-23

Shin Tae-yong boleh saja dianggap badut oleh Thomas Doll. Namun bagi Coach Shin, itu tak jadi soal. Ia malah membuktikannya dengan membuat sejarah dengan membawa Timnas U-23 ke Piala Asia.

Perjalanan timnas ke Piala Asia U-23 tak mudah. Sebab, skuad muda garuda belum sekalipun tampil di ajang ini. Berada bersama Turkmenistan dan China Taipei, di Babak Grup Kualifikasi, langkah serdadu muda Garuda pun dimulai. Dua kemenangan tanpa kebobolan satu pun, akhirnya melangkahkan Timnas U-23 terbang ke Qatar.

Stadion Manahan Solo jadi saksinya. Gol Ivar Jenner dan Pratama Arhan yang bersarang ke gawang Turkmenistan, membuat mimpi para pemuda Garuda ke Piala Asia akhirnya terwujud. Gemuruh dan luapan kegembiraan fans di bumi Sriwedari saat itu, sekaligus menandakan keberhasilan kedua Coach Shin mengantarkan dua tim berbeda ke Piala Asia.

Naturalisasi dan Kritik Bung Towel

Beberapa keberhasilan Coach Shin mengukir sejarah bagi Timnas Indonesia, tak luput dari andil PSSI. Di bawah komando ketua umum yang baru terpilih di tahun 2023, yakni Erick Thohir, Coach Shin benar-benar dimanjakan dengan suntikan melimpah pemain naturalisasi.

Ya, pemain seperti Ivar Jenner, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, hingga Rafael Struijk, adalah beberapa punggawa keturunan yang mampu memberi pengaruh nyata bagi performa Timnas Indonesia besutan Coach Shin.

Namun fenomena derasnya arus kedatangan pemain naturalisasi itu, membuat Coach Shin kembali dihujam kritik. Komentator sepakbola bernama Tommy Welly, sejak 2023 sudah aktif mengkritik Coach Shin.

Pria yang akrab dipanggil Bung Towel itu, menganggap Coach Shin hanyalah pelatih yang terus merengek meminta bala bantuan pemain naturalisasi pada PSSI. Towel juga menganggap pelatih asal Korea Selatan itu malas blusukan cari pemain di Liga Indonesia.

Menaikan Level Timnas

Persetan bagi Coach Shin. Towel baginya hanyalah angin lalu. Coach Shin justru menganggap penting keberadaan banyak pemain diaspora di timnya, agar bisa naik level. Dengan adanya banyak pemain diaspora, membuat pemain lokal bisa mentransfer ilmu, sekaligus bisa bersaing secara kompetitif dengan mereka.

Selain bisa transfer ilmu, keberadaan para pemain diaspora ini bisa menjadi panutan dalam karier sepakbola para pemain lokal. Hal itulah yang membuat pemain lokal seperti Asnawi Mangkualam hingga Pratama Arhan makin semangat untuk terus menempa talentanya di luar negeri.

Dengan adanya banyak pemain diaspora berdatangan di skuad besutan Coach Shin, terbukti perlahan mampu menaikan level timnas. Bukan lagi bicara soal harapan supaya bisa juara Piala AFF, namun tim yang diarsiteki Coach Shin ini sudah berada pada level bagaimana bersaing di Piala Asia dan bagaimana caranya lolos ke Piala Dunia.

Bicara soal perjalanan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, di akhir tahun 2023 Coach Shin memang mengawali perjalanannya dengan kurang baik. Mereka harus menanggung malu dihantam Irak di baghdad, serta hanya meraih hasil seri dengan Filipina di Manila.

Sejarah Di Piala Asia

Rentetan hasil buruk itu lalu membuat pesimis publik sepakbola Indonesia. Fans menuntut Coach Shin memperbaiki performa jelang perhelatan Piala Asia 2023 yang akan digelar di awal tahun 2024.

Jelang berangkat ke Qatar, Coach Shin sempat menanggapi desakan fans soal performa tersebut. Ia berharap agar fans bersabar pada proses yang sedang ia jalani. Sampailah pada pesta akbar sepakbola Asia di Qatar. Asnawi dan kolega, akhirnya kesampaian mencicipi lapangan yang dipakai bintang dunia yang mentas di Piala Dunia 2022.

Namun apa? Kekhawatiran fans itu benar-benar terjadi. Timnas Indonesia mengalami hasil buruk ketika kalah atas Irak dan Jepang. Untung saja, Timnas Indonesia mampu mengemas poin saat hadapi Vietnam. Ya, kemenangan lewat gol tunggal Asnawi itu ternyata begitu berharga.

Secara kalkulasi, Timnas Indonesia sudah tak ada harapan lolos ke babak berikutnya. Namun mukjizat Tuhan hadir. Di malam suntuk di sebuah hotel di Qatar, pemain Indonesia yang sudah bersiap-siap pulang kampung, batal. Mereka larut dalam euforia di kamar hotel merayakan kelolosan timnas ke 16 besar Piala Asia, lewat jalur peringkat 3 terbaik.

Sejarah kembali tercapai. Untuk pertama kalinya Timnas Indonesia lolos ke 16 besar Piala Asia. Meski akhirnya gagal juga karena dibantai Australia di 16 besar, namun publik sepakbola Indonesia tetap mengapresiasi.

Harapan Olimpiade Dan Konflik Baggott

Apresiasi pada kerja Coach Shin, jadi makin tinggi setelah mampu membawa Timnas Garuda U-23 terbang tinggi melebihi pencapaian sang senior di Qatar. Padahal, perjalanan yang ditempuh Coach Shin di Piala Asia U-23 penuh dengan rintangan terjal.

Dari mulai dicurangi wasit Nasrullo Kabirov saat melawan Qatar, lalu wasit Shen Yin Hao saat melawan Uzbekistan, maupun wasit Francois Letexier saat menghadapi Guinea. Meski begitu, toh Indonesia tetap berhasil dibawanya masuk semifinal, dan hampir lolos ke Olimpiade.

Bayangkan, keberhasilan mencapai semifinal itu diraih Coach Shin dengan cara menyingkirkan negaranya sendiri, Korea Selatan. Betapa terharunya Ketum PSSI saat itu ketika menyaksikan langsung kemenangan adu penalti melawan Korea Selatan.

Namun di tengah keberhasilan itu, Coach Shin dihadapkan pada sebuah masalah. Kita ingat, sebelum laga melawan Guinea ia sempat berselisih dengan Elkan Baggott yang enggan tampil membela timnas.

Euforia Piala Dunia

Namun konflik itu lalu bak tragedi Kanjuruhan yang mudah dilupakan begitu saja. Sebab, Coach Shin kemudian kembali menunjukan tajinya di Babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Masih ingat betapa dongkolnya Timnas Vietnam ketika dikalahkan dua kali oleh Jay Idzes dan kawan-kawan? Ya, itulah awal tonggak harapan publik di tahun 2023 kepada Timnas Indonesia, untuk bisa terus melaju hingga Piala Dunia.

Puncaknya di Gelora Bung Karno, 11 Juni 2024. Filipina dibuat tak berdaya. Serdadu Coach Shin akhirnya mengamankan tempat di Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Euforia publik pun pecah. Sebab, ini adalah kali pertama Indonesia melangkah ke fase ini.

Perpanjang Kontrak dan Evaluasi

Euforia publik itu pun lalu direspons oleh PSSI. Masa bakti Coach Shin yang sempat menjadi tanda tanya, akhirnya terjawab. Pada bulan Juni 2024, PSSI akhirnya resmi memperpanjang kontrak Coach Shin hingga 2027.

Coach Shin akhirnya membalas penghargaan PSSI itu dengan hasil positif. Di bulan September, tim-tim langganan Piala Dunia seperti Arab Saudi maupun Australia mampu ditahan imbang.

Namun hasil itu tak membuat Coach Shin berpuas diri. Ia dihadapkan kembali pada sebuah jalan terjal nan suram. Gagal menang melawan Bahrain hingga kalah melawan China dan Jepang menjadi noda baginya. Hasil itulah yang membuat harapan publik sepakbola Indonesia kepada Coach Shin sedikit memudar. Banyak sekali kritik dan evaluasi yang dialamatkan padanya, termasuk dari PSSI.

Erick Thohir ketika itu bahkan sempat berujar bahwa ia rela mengundurkan diri, jika Timnas kalah lagi di pertandingan kedua melawan Arab Saudi. Namun untungnya, hal itu urung terjadi. Semua itu tertutupi oleh penampilan cemerlang Marselino dan kawan-kawan saat membungkam Arab Saudi.

Kegagalan Piala AFF 2024

Pujian setinggi langit pun kembali bertubi-tubi menghujani Coach Shin. Ia dianggap pahlawan yang selalu bisa keluar dari masa-masa sulit. Lihat, Indonesia mampu dibawanya berada di peringkat 3 Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Ya, aura-aura Piala Dunia pun makin terasa.

Jelang pergantian tahun, kesaktian Coach Shin sempat diuji di Piala AFF 2024. Ajang yang selalu jadi momok bagi Indonesia. Tantangan maha berat kembali dihadapinya. Bayangkan, Coach Shin menghadapi ajang ini dengan amunisi para pemain muda. PSSI saat itu memutuskan menggunakan skuad mudanya di Piala AFF 2024 karena alasan regenerasi.

Ya apa boleh buat, dengan kondisi seperti itu, tim besutan Coach Shin akhirnya main ancur-ancuran. Coach Shin frustrasi di setiap laganya. Ia pun mengibarkan bendera putih. Timnas besutannya itu gugur di fase grup. Kritikan dan evaluasi pun kembali menghampirinya. Tapi Shin Tae-yong tetap legowo. Dirinya malah mengatakan kepada media bahwa kegagalan itu baik bagi pembelajaran para pemain muda.

Berpisah di Pagi Hari

Tahun 2025 pun tiba. Tahun di mana Coach Shin akan bekerja lebih keras lagi demi tiket lolos ke Piala Dunia 2026. Namun apa yang terjadi? Belum juga kerja keras, pada 6 Januari 2025, Shin Tae-yong tiba-tiba didatangi oleh manajer Timnas Indonesia, Sumardji.

Senin pagi di sebuah apartemen, Sumardji membawa sebuah surat sakti dari PSSI yang ditujukan kepadanya. Ya, surat sakti itu tiada lain adalah surat pemecatan kepada Coach Shin. Seketika perasaan Coach Shin campur aduk. Ia tak menyangka semua ini akan berakhir secara tiba-tiba. Tak bisa membayangkan betapa sedihnya perasaan Coach Shin saat itu.

Perjalanan terjal dan penuh rintangan, dari dikritik sampai dihina telah ia lalui demi membangun Timnas Indonesia dari minus 10. Pengorbanannya bagi Timnas Garuda tak bisa dinilai dengan apa pun. Meski menuai pro-kontra setelah pemecatannya, sebagai manusia yang masih punya “hati”, kita sudah selayaknya mengucapkan terima kasih pada ahjussi yang satu ini.

Kamsahamnida Coach Shin. Jangan menangis lagi ya, Coach. Saranghaeyo…

Skuad Manchester United Terakhir Kali Juara Eropa dan Begini Nasibnya Sekarang

0

Manchester United jadi satu-satunya tim yang melewati fase grup Europa League 2024/25 dengan tanpa kekalahan. Pencapaian ini membuat MU cukup diunggulkan di fase gugur. Namun, bukannya memperkuat tim, United justru lebih rajin melepas pemain di bursa transfer musim dingin kemarin.

Yang terbaru, ada Marcus Rashford yang dibiarkan gabung Aston Villa sebagai pemain pinjaman. Padahal, Rashford jadi generasi terakhir dari skuad Setan Merah yang pernah menjuarai Europa League musim 2016/17. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi lontong. United sudah tak memiliki alumni generasi emas era itu lagi. 

Btw, mimin jadi penasaran bagaimana nasib pemain-pemain yang dulu pernah berjuang bersama itu? Mari kita cari tahu bersama. 

GK: Sergio Romero

Kita mulai dari penjaga gawang terlebih dahulu. Sebetulnya, ada David De Gea, tapi Jose Mourinho kala itu lebih mempercayai Sergio Romero untuk menjaga gawang Manchester United di Europa League musim 2016/17. Tidak ada alasan tertentu, Mourinho hanya ingin skuadnya bisa lebih fokus pada target. Di turnamen ini, Romero hampir tak tergantikan di bawah mistar. 

Eks Sampdoria ini mengantongi 12 pertandingan di kompetisi tersebut. Dari 12 laga, Romero hanya kebobolan empat dan berhasil clean sheet delapan kali. Dirinya bahkan mampu menjaga gawangnya tetap suci di laga final melawan Ajax. Usai mengangkat piala, Romero masih berseragam United hingga 2021. Sebelum akhirnya membela raksasa Argentina, Boca Juniors sejak 2022 hingga sekarang.

RB: Antonio Valencia

Di posisi bek sayap kanan, Jose Mourinho memasang Antonio Valencia. Selain menjadi kapten tim, Valencia jadi pilihan terbaik Mourinho saat itu. Sebab, performa Matteo Darmian belum cukup stabil. Namanya bahkan tidak sering masuk skuad untuk pertandingan Liga Eropa. Di luar itu, hanya ada beberapa pemain muda macam Timothy Fosu-Mensah dan Guillermo Varela.

Valencia mengantongi sembilan penampilan di kompetisi tersebut. Usai membantu United juara Europa League, Valencia masih di Manchester hingga 2019, sebelum akhirnya membela klub Ekuador, LDU Quito. Setahun di Quito, Valencia bergabung klub Meksiko, Queretaro FC dan pensiun tahun 2021. Kini, ia jadi asisten pelatih di klub miliknya sendiri, Academia AV.

LB: Daley Blind

Untuk posisi bek kiri, MU sebetulnya punya Luke Shaw. Namun, Mourinho merasa tidak cocok dengan sang pemain. Alhasil, pelatih asal Portugal itu menggunakan warisan Louis Van Gaal, Daley Blind. Di Europa League musim 2016/17, Blind mengemas 11 laga. Meski tak mencetak gol maupun assist, Blind tetap jadi bagian penting dalam skema permainan.

Usai mengantarkan United juara, Blind bertahan hingga tahun 2018. Lalu, kembali ke Ajax untuk musim 2018/19. Kini, di usianya yang sudah 34 tahun, Blind masih aktif bermain bersama Girona. Ia bahkan jadi bagian dari tim Girona yang mendobrak dominasi Real Madrid dan Barcelona musim lalu.

CB: Chris Smalling

Untuk posisi bek tengah, Jose Mourinho kadang menggunakan skema tiga bek tengah. Tapi, paling sering menggunakan dua bek tengah. Jika menggunakan skema dua bek tengah, salah satunya pasti diisi Chris Smalling. Bek asal Inggris itu mengantongi 10 penampilan dan mencatatkan satu assist. Dan ya, satu-satunya assist itu diciptakan di laga final. 

Smalling masih bermain dua musim lagi untuk United setelah final. Ia kemudian pindah ke AS Roma musim 2019/20. Di Roma, Smalling mengantarkan timnya juara Conference League musim 2021/22. Menariknya, kala itu Roma juga dilatih Jose Mourinho. Roma jadi klub Eropa terakhir Smalling sebelum akhirnya gabung klub Arab Saudi, Al-Fayha tahun 2024.

CB: Marcos Rojo

Yang jadi tandem Smalling adalah Marcos Rojo. Berbeda dengan Smalling yang lebih tenang, Rojo mengambil peran yang lebih grasak grusuk di lini bertahan. Dirinya mengantongi 10 pertandingan di Europa League musim 2016/17. Sayangnya, dirinya absen di tiga laga terakhir, termasuk final lantaran cedera ligamen.

Meski begitu, Rojo adalah unsur penting dalam pertahanan MU. Jika bukan tanpanya, Sergio Romero mungkin tak akan mencapai 8 clean sheet. Usai juara, Rojo masih berseragam MU hingga 2020 sebelum akhirnya bermain di Boca Juniors hingga sekarang. Di Argentina, ia bereuni dengan Romero.

CM: Paul Pogba

Masuk ke area gelandang, Paul Pogba jadi pemain yang tak tergantikan di skuad Manchester United kala itu. Pemenang Golden Boy Award tahun 2013 itu jadi pemain dengan jumlah caps terbanyak, yakni 15 dan mencetak tiga gol serta satu assist. Salah satu golnya bahkan dicetak di partai final melawan Ajax.

Usai membantu United juara Europa League musim 2016/17, Pogba masih menjadi pemain United hingga 2022, sebelum akhirnya kembali berseragam Juventus. Sayangnya, di Juve karir Pogba justru hancur. Selain karena cedera berkepanjangan, Pogba tersandung kasus doping. Meski sudah menang banding atas kasusnya, Pogba baru bisa bermain pada Maret mendatang.

CM: Ander Herrera

Sebagai partner Pogba, Jose Mourinho punya dua pilihan, yakni Ander Herrera dan Michael Carrick. Namun, yang dimainkan di laga final adalah Herrera. Carrick lebih aktif bermain saat United berjuang di fase grup dan perempat final. Herrera mengantongi sembilan caps di Europa League musim tersebut.

Herrera baru meninggalkan United pada tahun 2019. Ia bergabung dengan PSG saat kontraknya di Old Trafford sudah habis. Sempat pulang ke Athletic Bilbao tahun 2022 dan menjuarai Copa Del Rey musim 2023/24, kini Herrera baru saja merampungkan transfernya ke Boca Juniors. Ya, Herrera menyusul Rojo dan Romero yang sudah lebih dulu bergabung. 

AM: Marouane Fellaini

Untuk melengkapi trio lini tengah, Jose Mourinho biasanya menempatkan Marouane Fellaini. Dirinya bahkan jadi pilihan utama The Special One di laga final yang dimainkan di Stockholm itu. Pemain yang didatangkan dari Everton itu tampil sebanyak sebelas kali dan mencetak satu gol serta dua assist.

Satu-satunya gol Fellaini tercipta di semifinal melawan Celta Vigo. Berkat gol tersebut, United menang agregat 2-1 dan berhak melaju ke final. Fellaini bermain untuk Setan Merah hingga tahun 2019 sebelum akhirnya mencari ilmu sampai ke negeri China. Ya, Fellaini cabut dari Eropa dan bergabung Shandong Taishan. Fellaini bermain lima tahun dan pensiun pada tahun 2024. Kini, ia disibukkan dengan kegiatan kemanusiaan 

RW: Juan Mata

Di trio lini depan, sayap kanan diisi oleh Juan Mata. Pemain yang didatangkan dari Chelsea ini bermain sebanyak sepuluh kali dan mencetak dua gol serta satu assist. Di babak perempat final dan semifinal, Mata sempat absen lantaran cedera otot. Namun, dirinya bisa pulih tepat waktu untuk tampil penuh di laga pamungkas.

Mata masih berseragam Manchester United setelahnya. Setidaknya, hingga musim 2021/22. Setelah dari MU, ia bergabung dengan Galatasaray, Vissel Kobe, dan sekarang berkarir di Liga Australia bersama Western Sydney Wanderers. Ya, Mata yang dulunya main di MU kini jadi rival Rafael Struick yang bermain untuk Brisbane Roar.

LW: Henrikh Mkhitaryan

Di sisi yang berlawanan, ada Henrikh Mkhitaryan. Pemain asal Armenia ini juga jadi andalan Jose Mourinho di lini depan Manchester United musim itu. Di Europa League, pemain yang akrab disapa Micky itu tampil sebanyak sebelas kali dan mencetak enam gol. Ia jadi top skor United di kompetisi tersebut.

Salah satu golnya bahkan dicetak di laga final yang membuat MU menang 2-0 atas Ajax Amsterdam. Setelah juara, Micky hanya bertahan semusim sebelum akhirnya hengkang ke Arsenal. Gagal di Arsenal, ia merantau ke AS Roma dan juara Conference League musim 2021/22 bersama Mourinho dan Smalling. Kini, di usianya yang menginjak 36 tahun, Micky masih aktif bermain di lnter Milan.

ST: Zlatan Ibrahimovic

Di posisi ujung tombak, Jose Mourinho sebetulnya mengandalkan Zlatan Ibrahimovic. Sayangnya, ia mengalami cedera di laga perempat final melawan Anderlecht. Meski begitu, Zlatan mengantongi 11 penampilan dengan mencetak lima gol dan empat assist. Ia jadi pemain paling berpengaruh di skuad MU kala itu.

Di sisa laga, tugas di lini depan dipasrahkan kepada Marcus Rashford. Usai hengkang dari MU pada tahun 2018, Zlatan berkelana ke LA Galaxy dan pensiun di AC Milan pada tahun 2023 dengan alasan cedera berkepanjangan. Meski begitu, Zlatan tetap mengabdi di Milan sebagai penasehat tim.

Sumber: Planet Football, The Athletic, Goal, Bola.net

Berita Bola Terbaru 7 Februari 2025 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil laga tunda Serie A, Inter Milan secara mengejutkan kalah telak di markas Fiorentina tiga gol tanpa balas. Gol dari pasukan Raffaele Palladino di laga ini, masing-masing dicetak oleh Luca Ranieri di menit 59, serta brace dari Moise Kean di menit 68 dan 69. Hasil ini membuat La Viola berada di peringkat 4 dengan 42 poin, sementara Nerazzurri masih berada di peringkat 2 dengan 51 poin.

Beralih ke hasil dari perempat final Copa Del Rey, dimana Barcelona sukses melangkah ke semifinal setelah mencukur tuan rumah Valencia lima gol tanpa balas. Parade gol Blaugrana di laga ini, dicetak oleh Ferran Torres dengan hattrick-nya di menit 3, 17, dan 30, serta masing-masing gol dari Fermin Lopez di menit 23, serta Lamine Yamal di menit 59.

Kemenangan besar juga diraih oleh Liverpool saat mencukur tamunya Tottenham Hotspur empat gol tanpa balas, dalam laga leg kedua semifinal Carabao Cup. Masing-masing gol dari Cody Gakpo, Mohamed Salah, Dominik Szoboszlai, dan Virgil Van Dijk, membuat The Reds menang agregat 4-1, dan berhak lolos ke final menantang Newcastle di Wembley, 16 Maret mendatang.

SPURS MEMALUKAN DAN DIKECAM

Kekalahan empat gol dari Liverpool di Anfield, membuat Spurs dikecam. Sebab, menurut Mirror, The Lilywhites kalah secara memalukan dengan catatan tidak satupun menciptakan tembakan ke arah gawang Liverpool. Ini adalah rekor pertama Spurs dibawah asuhan Ange Postecoglou. Legenda mereka Harry Redknapp, mengecam kekalahan memalukan ini. Ia merasa kasihan pada pemain muda Spurs yang tanpa perlawanan, dan mengkritik keras strategi Postecoglou.

RASHFORD SEGERA BERLATIH DI HARI LIBUR

Berikutnya ada kabar dari Marcus Rashford yang dilaporkan The Sun, sedang rajin berlatih di klub barunya Aston Villa. Rashford memilih untuk tidak mengambil cuti libur seperti rekan-rekannya, melainkan mengajukan diri untuk berlatih ekstra. Sejak diresmikan sebagai pemain baru The Villans, Rashford hanya berkutat dengan serangkaian latihan berat. Ia mengaku merasa nyaman di lingkungan barunya ini, dan ingin membuktikan bahwa ia bukan pemain yang malas.

MUSIM LISANDRO MARTINEZ BERAKHIR

Sementara itu dari Manchester, tersiar kabar bahwa bek Setan Merah Lisandro Martinez, telah dipastikan absen hingga akhir musim akibat cedera yang dideritanya saat laga melawan Crystal Palace. Goal melaporkan, pada hari Kamis 6 Februari, pihak Red Devils merilis pernyataan bahwa bek asal Argentina itu mengalami cedera ACL, dan akan menjalani proses perawatan dalam jangka panjang, bahkan pasca musim ini berakhir.

REAL MADRID DITUNTUT KLUB-KLUB LA LIGA

Beralih ke kabar dari Spanyol. Diario AS melaporkan bahwa Real Madrid kini sedang dituntut oleh klub-klub La Liga. Kamis 6 Februari, petinggi klub La Liga berkumpul tanpa petinggi Real Madrid, menanggapi isu tekanan pada wasit di La Liga. Petinggi klub La Liga sebagian besar muak dengan langkah El Real yang mengecam wasit lewat Real Madrid TV, bahkan sampai mengirim surat agar Presiden RFEF mundur. Dua petinggi klub La Liga, yakni Gil Marin dari Atletico, dan Del Nido dari Sevilla, akan memimpin klub di La Liga untuk mengajukan tuntutan hukum pada El Real.

FANS ROMA DILARANG HADIR KE VENEZIA

Dari Spanyol, kini pindah ke kabar dari Italia. Menurut laporan Football Italia, fans AS Roma telah dilarang hadir dalam lawatannya ke markas Venezia, Minggu 9 Februari. Larangan tersebut dikarenakan di laga sebelumnya, fans Venezia terlibat bentrokan keras dengan fans Udinese. Pasalnya, ultras Roma dan Udinese memiliki hubungan kedekatan yang luar biasa. Otoritas setempat dilaporkan khawatir akan terulangnya bentrokan, sebagai tindakan balas dendam dari para pendukung Giallorossi.

DORTMUND PECAT MISLINTAT

Lanjut ke kabar berikutnya yang datang dari Jerman. Bundesliga News melaporkan bahwa Dortmund telah resmi memecat direktur teknis mereka, Sven Mislintat per 6 februari. Keputusan pemecatan pria 52 tahun tersebut langsung disampaikan Direktur Olahraga, Lars Ricken. Menurut laporan, permasalahan internal antara Mislintat dengan Lars Ricken dan Sebastian Kehl, jadi alasan pemecatan. Ada laporan yang mengatakan bahwa Mislintat selama ini bertindak diluar kewenangannya, dan mencoba mengambil alih posisi Lars Ricken dan Sebastian Kehl.

PSG DAPAT LAWAN MUDAH DI COUPE DE FRANCE

Beralih ke kabar dari Prancis, dimana PSG mendapatkan lawan mudah dari hasil undian babak perempat final Coupe de France. Get Football News France melaporkan bahwa undian perempat final Coupe de France musim ini telah selesai digelar 6 Februari malam. Hasilnya, PSG hanya akan bertemu dengan klub Liga 3 Prancis yakni Stade Briochin. Klub Ligue 1 lainnya yakni Brest, juga mendapat lawan mudah yakni klub Liga 2 Prancis, USL Dunkerque. Berikut hasil lengkap undian babak 8 besar Coupe de France.

ARAH KEBIJAKAN LIGA ARAB SAUDI FOKUS PEMAIN MUDA

Selanjutnya ada kabar dari Liga Arab Saudi yang telah mengubah kebijakannya dari yang dulunya getol merekrut pemain berlabel bintang, namun kini beralih ke perekrutan para pemain muda. The Guardian melaporkan bahwa fokus tersebut adalah langkah baru yang coba dilakukan petinggi Saudi Pro League dalam beberapa musim mendatang. Para petinggi tersebut tidak ingin liganya hanya dikenal sebagai rumah pensiunan para bintang. Menurut mereka, hadirnya pemain muda seperti Jhon Duran, Matteo Dams, Unai Hernandez, hingga Kaio Cesar, menjadi bukti bahwa kebijakan baru tersebut telah dimulai.

MARCELO PENSIUN

Berikutnya ada kabar dari Brazil, di mana mantan pemain Real Madrid, Marcelo Vieira, telah resmi mengumumkan pensiun dari dunia sepakbola per 6 Februari. Marcelo pensiun di usia 36 tahun. Ia terakhir bermain di Fluminense pada November tahun lalu. Selama kariernya sebagai pesepakbola, ia telah mengukir 30 trofi bersama klub maupun Timnas Brasil. Beberapa ucapan pensiunnya Marcelo pun membanjiri, terutama dari mantan rekan-rekannya seperti CR7 maupun mantan klubnya Real Madrid.

DEAN JAMES SEGERA GABUNG TIMNAS INDONESIA?

Sementara itu dari Belanda, tersiar kabar bahwa pemain keturunan Indonesia yang berseragam Go Ahead Eagles, Dean James mengaku ingin segera gabung Timnas Indonesia. Bek sayap kiri ini 24 tahun itu, mengaku punya darah Indonesia dari sang nenek yang berasal dari Surabaya. Meski belum dihubungi PSSI, kepada Voetbalprimeur, dirinya mengaku sangat percaya diri dan layak untuk gabung skuad besutan Patrick Kluivert.

HERE WE GO, SANDY WALSH KE YOKOHAMA MARINOS

Berikutnya ada kabar dari Sandy Walsh yang menurut beberapa media Belgia, akan segera hengkang ke Liga Jepang. Wartawan asal Belgia, Jonas Van De Veire, menyebut Sandy Walsh kini sedang dalam perjalanan menuju Jepang, tepatnya ke Yokohama. Menurutnya, Walsh akan segera bergabung dengan salah satu klub raksasa Jepang, Yokohama F. Marinos. Kepindahan ini akan segera diumumkan pada akhir pekan ini, termasuk detail nilai kontrak dan gajinya.

ASISTEN LOKAL KELIMA YANG DI INTERVIEW KLUIVERT

Dari tanah air, ada kabar bahwa nama kelima calon asisten lokal Timnas Indonesia baru saja selesai di interview oleh Patrick Kluivert dan tim. Ia adalah Andhika Mulia Pratomo. Meski namanya tak sekeren Zulkifli Syukur maupun Kurniawan, Andhika Mulia ini punya lisensi kepelatihan AFC A. Mantan pelatih interim dan fisik Persipal Palu ini mengaku bangga bisa mendapatkan kepercayaan untuk interview. Tak lupa ia juga mengabadikan momen foto bersama dengan Patrick Kluivert dan tim usai interview.

BATAS NATURALISASI HANYA SAMPAI 10 TAHUN LAGI

Selanjutnya ada kabar yang disampaikan oleh staf ahli Menpora, Hamdan Hamidan, yang mengatakan bahwa program naturalisasi pemain diaspora Belanda, diprediksi akan berhenti 10 tahun lagi. Hal itu dikarenakan stok pemain diaspora Belanda akan habis, mengingat mereka hanya berasal dari kelompok Indo yang repatriasi ke Belanda pada rentang tahun 1940 hingga 1950. Hamdan menyebut tim riset diaspora di Kemenpora mulai mengalihkan fokus ke pemain diaspora dari negara lain, seperti Australia, yang masih berstatus generasi pertama.

PREMIER LEAGUE AKAN TERAPKAN TEKNOLOGI OFFSIDE SEMI OTOMATIS

ESPN melaporkan bahwa pihak Premier League kemungkinan akan menguji coba teknologi offside VAR semi otomatis atau (SAOT), sebelum musim ini berakhir. Meski belum disebutkan kapan tanggal pastinya, namun teknologi tersebut sudah disetujui oleh semua klub Liga Inggris. Teknologi ini dimaksudkan agar mempercepat pemeriksaan offside yakni hanya 31 detik saja. Selain cepat dan akurat, (SAOT) ini juga tidak lagi hanya menampilkan visual garis saja dalam pengecekan offside, melainkan visualisasi grafis yang lebih detail.

ARSENAL LIBURAN KE DUBAI PASCA DIDEPAK THE MAGPIES

Masih dari Liga Inggris. Arsenal memilih liburan ke Dubai setelah didepak Newcastle di Piala Liga Inggris kemarin. Kekalahan telak itu membuat Mikel Arteta butuh suasana segar dan akhirnya memilih memindahkan latihan ke Dubai, Uni Emirat Arab. The Gunners akan sepekan berada di Dubai untuk latihan di cuaca yang hangat. Hal itu sekaligus untuk memulihkan energi sebelum menghadapi Leicester City, 15 Februari mendatang.

MU MEMANTAU JEAN-PHILIPPE MATETA

Sementara itu, Manchester United kabarnya mengincar Jean-Philippe Mateta. Menurut jurnalis Graimey Bailey, pemain bernomor punggung 14 itu kontraknya berakhir pada 2027. Chelsea dan Newcastle United juga ikut memantau pemain seharga 9 juta euro tersebut. Kabarnya Mateta masih belum jelas masa depannya. Crystal Palace belum meyakinkan sang pemain untuk tanda tangan perpanjangan kontrak.

KLAUSUL PELEPASAN KANE DIAKTIFKAN?

Dari Jerman, tersiar kabar bahwa pemain Bayern Munchen, Harry Kane dilaporkan oleh 90min akan segera mengaktifkan klausul pelepasanannya. Musim panas nanti jika Kane ditebus oleh klub lain, maka harganya jualnya berkisar 80 juta euro. Jika tidak ada yang menebus, maka harga klausul pelepasan Kane, akan turun di tahun 2026, yakni hanya 65 juta euro saja. Kontrak Harry Kane sendiri baru akan habis pada tahun 2027 mendatang.

BARCELONA AKAN KE JAKARTA

Beralih ke kabar lainnya dari FC Barcelona yang mengumumkan akan segera datang ke Indonesia. Goal melaporkan bahwa FC Barcelona Academy yang terkenal melahirkan bakat-bakat seperti Lionel Messi maupun Lamine Yamal, akan mengadakan training camp di Indonesia. Pelatihan ini akan terbuka bagi laki-laki dan perempuan berusia 8 hingga 18 tahun, dan bakal berlangsung dari tanggal 23 hingga 27 Juni 2025, di Teh Botol Ayo Arena.

DEBUT TAK MEYAKINKAN NEYMAR DI SANTOS

Berikutnya berita soal Neymar. Ia yang kembali ke klub lamanya, Santos, akhirnya menjalani debut menghadapi Botafogo-SP di ajang Campeonato Paulista. Ribuan fans sudah menunggu aksi Neymar di dalam stadion. Namun debut Neymar itu berakhir tak meyakinkan. Santos harus ditahan imbang Botafogo-SP. Neymar nyaris mencetak gol di laga ini, tapi sayang sepakan kaki kirinya ditepis kiper Botafogo-SP.

COMO SIAPKAN TAHAPAN PROYEK PEMBANGUNAN STADION

Lanjut ke kabar berikutnya yang datang dari klub Serie A Como, yang telah meresmikan tahapan pembangunan Stadion Giuseppe Sinigaglia. Como bekerjasama dengan Pemerintah Kota Como, dan perusahaan firma arsitektur Populous, melaunching tahapan pembangunan stadion mulai dari proses desain dan persetujuan pada Mei 2026, lalu konstruksi tahap pertama pada Oktober 2027, lalu tahap konstruksi kedua pada Agustus 2028. Selama tahapan pembangunan tersebut, Como juga akan melibatkan masukan dari fans dan penduduk setempat.

NICOLO FAGIOLI UCAPKAN PERPISAHAN KEPADA JUVENTUS

Di Turin, Nicolo Fagioli yang akan pindah ke Fiorentina, mengucapkan perpisahan kepada Juventus lewat sosial medianya, Instagram. Ia mengucapkan salam perpisahan itu penuh emosional. Sebab dirinya sudah bersama Juventus selama 11 tahun lamanya. Dalam ucapannya dia menyebut beberapa nama-nama legendaris Juventus. Di antaranya Massimiliano Allegri, Gianluigi Buffon, dan yang paling fenomenal Cristiano Ronaldo.

PELATIH BREST KRITIK JADWAL LIGUE 1

Dari Liga Prancis alias Ligue 1, Pelatih Stade Brestois, Eric Roy mengkritik jadwal Ligue 1, lantaran timnya merasa tidak diperlakukan berbeda dengan PSG. Pasalnya, setelah laga menghadapi PSG di fase gugur Liga Champions tiga hari kemudian Brest harus melawan Auxerre, 15 Februari. Sementara PSG mendapat jeda empat hari dari pertandingan melawan Brest di Liga Champions ke laga menghadapi FC Toulouse di Ligue 1. “Jika kami tidak dihormati, kami tidak akan menghormati orang lain,” kata Eric Roy dikutip Get Football News France.

KLUIVERT SELESAI INTERVIEW EMPAT CALON ASISTEN PELATIH LOKAL

Selanjutnya ada kabar dari sepakbola tanah air, bahwa Patrick Kluivert telah selesai melakukan proses interview kepada empat calon asisten pelatih lokal Timnas Indonesia. Keempat calon yang diseleksi langsung untuk bertatap muka dengan Kluivert dibocorkan oleh salah satu calon, yakni Kurniawan Dwi Yulianto. Menurut pemain berjuluk “si kurus” itu, keempat calon tersebut adalah dirinya sendiri, Zulkifli Syukur, Bima Sakti, dan Eko Purdjianto. Dari tahapan interview ini, nantinya Kluivert akan memilih dua asisten.

Dulu Bocah Termahal di Dunia, Joao Felix Kini Cuma Kutu Loncat

0

Menjadi pemain yang memulai pertandingan dari bangku cadangan tak selamanya buruk. Terkadang, pemain tersebut justru memberikan dampak signifikan terhadap jalannya pertandingan. Itu sekali lagi dibuktikan oleh Joao Felix bersama AC Milan kemarin. 

Melawan AS Roma, Felix masuk menit 59 menggantikan Christian Pulisic. Baru 12 menit di lapangan, dirinya langsung mencetak gol debut. Ini jadi awal yang manis baginya. Namun, kali ini kita tak akan membahas kiprahnya di AC Milan, melainkan bagaimana Felix bisa terdampar di San Siro. 

Ya, dalam beberapa tahun terakhir, karir Felix bak kapal yang terombang-ambing di lautan. Padahal, dulu dirinya berstatus sebagai pemain termahal di dunia tahun 2019. Lantas, bagaimana ini semua bisa terjadi? 

Ditebus Mahal Atletico Madrid

Semua berawal dari bakat Joao Felix yang muncul di skuad utama Benfica. Sudah seperti budaya tak tertulis bagi Benfica untuk terus mengorbitkan pemain-pemain muda berbakat. Dan Joao Felix adalah salah satunya. 

Tahun 2018 jadi penanda debutnya bersama skuad utama Benfica. Kala itu, Felix masuk dalam skuad Benfica yang berlaga di babak Kualifikasi Liga Champions musim 2018/19. Felix bermain dua kali di laga melawan PAOK Salonika. Dalam dua laga tersebut, total Felix hanya diturunkan selama 15 menit saja.

Setelah itu, Felix mulai mendapat kepercayaan dari sang pelatih, Rui Vitoria. Felix yang masih berusia 18 tahun langsung jadi bagian penting di skuad utama. Felix bahkan mendapatkan banyak menit bermain di Liga Portugal. Kala itu, dirinya mengantongi 26 laga dan mencetak 15 gol serta 9 assist di Liga NOS musim 2018/19. 

Berkat performanya itu, Felix langsung disama-samakan dengan seniornya, Cristiano Ronaldo. Apalagi, gaya bermainnya begitu mirip dengan Ronaldo muda. Gesit, jago gocek, namun tetap tajam di mulut gawang. Klub-klub top Eropa pun rela antri untuk mendapatkan tanda tangannya di musim panas 2019.

Namun, Atletico Madrid lah yang pada akhirnya mendapatkan jasa Felix. Klub asal Spanyol itu jadi pihak penawar paling tinggi. Atletico memenuhi keinginan Benfica untuk menjual Felix di angka 120 juta euro. Los Rojiblancos bahkan memberikan proposal yang bernilai lebih dari itu, yakni 126 juta euro.

Gagal Memenuhi Ekspektasi

Nilai segitu menjadikan Joao Felix sebagai pemain termahal di dunia tahun 2019. Selain itu, Felix juga menempatkan dirinya sebagai pemain U-20 termahal kedua di dunia setelah Kylian Mbappe. Bahkan, hingga detik ini Felix masih berstatus sebagai pemain termahal keempat di dunia setelah Neymar, Philippe Coutinho, dan Kylian Mbappe.

Tapi, apa yang membuat Atletico Madrid segila itu untuk menginvestasikan banyak uang pada Felix? Alasan utamanya adalah untuk regenerasi. Sebab, Atletico juga melepas Antoine Griezmann ke Barcelona dengan mahar 120 juta euro. Jadi, Atletico mendapat pemain yang jauh lebih muda dan potensi yang diprediksi lebih besar dari Griezmann.

Singkatnya, Felix bakal diplot sebagai penerus Griezmann di Wanda Metropolitano. Toh, secara gaya bermain tidak jauh berbeda. Felix termasuk penyerang serba bisa yang mampu bermain di segala pos lini serang. Yang unik darinya, Felix seorang ambipedal. Ia bisa bermain menggunakan kedua kakinya dengan sama baik.

Sialnya, rencana tersebut meleset dari perhitungan. Felix justru kesulitan untuk menunjukan bakatnya. Menurut beberapa sumber, gaya bermain Diego Simeone yang cenderung pragmatis dan bertahan membuat potensi Felix terhambat. Felix yang senang terlibat dalam permainan tidak cocok dengan skema tersebut.

Meski Atletico sempat juara La Liga musim 2020/21, kontribusi Felix sangat minim. Jumlah golnya bahkan tak pernah mencapai sepuluh selama empat musim di La Liga. Karena begitu, Diego Simeone pun mengesampingkan Felix dan memulangkan Griezmann yang juga kurang berkembang di Camp Nou. 

Chelsea Part I

Kepulangan Griezmann tentu jadi masalah besar bagi perkembangan karir Felix. Menit bermainnya jadi berkurang drastis di musim 2022/23. Atletico Madrid yang tak mau membunuh karir Felix pun meminjamkannya ke Chelsea pada Januari 2023. 

Atletico meminta biaya peminjaman yang cukup tinggi, yakni 11 juta euro. Bagi sebagian tim, uang segitu seharusnya sudah cukup untuk mendatangkan satu atau dua pemain baru secara permanen. Yang bikin keliatan mahal lagi adalah durasinya, yakni enam bulan saja. Belum melihat hasil kerjanya aja kita sudah bisa menyimpulkan bahwa ini adalah bisnis yang aneh bagi Chelsea.

Lalu, bagaimana kinerja Felix di Inggris? Tidak tertolong. Bagaimana cara Felix memperkenalkan diri kepada publik London pun buruk. Dirinya gagal menandai debutnya di Chelsea dengan manis. Felix malah apes karena diusir wasit dan The Blues pun kalah dari Fulham.

Penampilannya sebenarnya cukup menjanjikan. Felix menunjukkan sentuhan-sentuhan apiknya. Tapi situasinya jadi buyar usai dirinya menghajar Kenny Tete dengan tekel kasar. Wasit David Coote pun tanpa ragu mengacungkan kartu merah sebagai ucapan selamat datang pada Felix.

Setelah itu, performanya biasa-biasa saja. Menit bermainnya pun kian menurun. Ia gagal membantu Chelsea untuk memperbaiki posisi di klasemen. Chelsea mengakhiri musim 2022/23 di urutan 12 dan Felix dianggap tidak memenuhi ekspektasi. Alhasil, sang pemain dikembalikan ke Atletico Madrid.

Gagal Dipermanenkan Barcelona

Karena Diego Simeone udah nggak mau pakai Joao Felix, Atletico Madrid pun mencarikan klub baru untuk Felix. Di musim panas 2023, Benfica terbuka jika Felix ingin pulang ke pelukannya. Namun, Felix masih ingin berkarir di Spanyol. Jadilah Barcelona sebagai tempat bernaungnya Felix. 

Dilansir ESPN, dalam kesepakatannya, Felix akan dipinjam hingga akhir musim 2023/24. Barca tidak memiliki opsi untuk mempermanenkan Felix. Tapi, pelatih Barcelona saat itu, Xavi Hernandez begitu membutuhkan Felix. Terlebih, setelah sang pemain tampil meyakinkan di paruh pertama musim tersebut.

Ya, performa Felix agak mendingan di Catalan. Di bawah asuhan Xavi, Felix membentuk trio yang solid dengan Robert Lewandowski dan Raphinha atau Ferran Torres. Dirasa cocok dengan skema yang ada, Barcelona pun berniat mengadakan negosiasi ulang di jeda transfer musim dingin.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Spanyol EFE, Presiden Barcelona, Joan Laporta menyebut ingin mengontrak Felix secara permanen. Laporta juga sudah mengantongi angka yang diminta Atletico Madrid jika Barca benar-benar ingin mempermanenkan Felix.

Los Rojiblancos mematok tambahan dana sekitar 80 juta euro. Sialnya, itu jadi nominal yang terlalu besar bagi Barca. Wong buat gaji pemain saja Barca masih keteteran. Ini kok diminta untuk mengeluarkan 80 juta euro. Tak cuma itu, Barca juga keberatan dengan gaji Felix yang akan naik 10 kali lipat setelah dipermanenkan. Maka dari itu, kesepakatan ini jelas tidak masuk di kantong.

Mau Sampai Kapan?

Masalahnya tidak berhenti di situ. Atletico Madrid justru makin mumet karena sulitnya menemukan pembeli. Mereka akan rugi besar jika terus-terusan mempertahankan Felix. Manajemen merasa tak mendapat servis yang sepadan dengan gajinya yang hampir 16 juta euro per tahun.

Menurunkan harga jual pun jadi solusi yang diambil oleh Atletico. Namun, hanya Chelsea, yang sudah punya testimoni yang berani mendekat. Negosiasi berjalan lancar, kedua belah pihak pun sepakat untuk transfer Felix. 52 juta jadi angka yang terbilang win win solution di musim panas 2024.

Para fans Chelsea terlihat tidak antusias dengan kembalinya Felix. Mereka merasa bahwa Felix sudah cukup gagal di periode pertama. Dan benar saja, Enzo Maresca malah kesulitan mencari posisi terbaik untuk Felix. Gelandang serang, sayap kanan, bahkan sayap kiri, semuanya sudah dicoba. Hasilnya? Nihil. Dirinya seperti mengalami krisis jati diri. 

Ia hanya mencetak 1 gol di Liga Inggris musim ini. Performa yang tak stabil itulah yang membuat The Blues meminjamkannya ke AC Milan. Ini jadi penurunan drastis bagi karir Felix. Di usianya yang baru 25 tahun, Felix justru jadi kutu loncat yang pindah klub setiap enam bulan sekali. Yang jadi pertanyaan, mau sampai kapan begini terus wahai Felix Siauw.. eh, Joao Felix maksudnya.

Sumber: Eurosport, BBC, Goal, Football Espana

Real Madrid vs Man City: Duel Tim Raksasa yang Sedang Tersiksa di Play Off Liga Champions 2024/25

0

Semua berharap melihat Manchester City dan Real Madrid di final Liga Champions. Kedua tim memang bertemu, hanya saja bukan di final, melainkan di babak play-off. Sekali lagi, babak play-off. Penampilan gemulai di fase liga penyebabnya.

Real Madrid ada di peringkat 11, sedangkan Manchester City di peringkat 22. City nyaris tereliminasi andai dihantam Club Brugge di partai pamungkas. Takdir pun mempertemukan keduanya lebih cepat. Laga yang akan dihelat 12 Februari mendatang, akan menjadi pertarungan dua tim raksasa yang sedang tersiksa di kompetisi yang menyiksa.

Siapa yang akan memenangkan pertandingan? Mari kita membahasnya.

Rasa Frustrasi Josep Guardiola

Sebelum Liga Champions musim ini dimulai, Josep Guardiola menumpahkan seluruh kekesalannya mengetahui perubahan format kompetisi. Pep kesal karena pertandingan fase grup, yang semula bisa digunakan untuk memberi menit bermain para pemain kelas kambing, ditiadakan. UEFA menghapus fase grup dan menjadikannya fase liga yang melelahkan.

Menghapus fase grup dan menerapkan fase liga di kompetisi Liga Champions itu artinya memperbanyak jadwal pertandingan. Guardiola jengkel setengah mampus. Baginya ini sangat merugikan. Kalender pertandingan The Citizens menjadi penuh sesak, karena City juga bermain di tiga kompetisi domestik.

Seperti generasi sandwich, Guardiola mesti cermat membagi prioritas. Mana yang bisa diusahakan, mana yang tidak. Guardiola putuskan untuk melepas salah satu kompetisi, yakni Piala Liga. Kamu pasti sudah melihat ketika Haaland dan Pep malah cengar-cengir saat timnya kalah dari Tottenham Hotspur di babak 16 besar, kan?

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh SPORTbible (@sportbible)

Jadwal Padat Hantui Manchester City

Namun melepas satu turnamen pun, jadwal The Citizens masih padat. Mengetahui jadwal padat dan undian play-off 16 besar Liga Champions mempertemukan timnya dengan Real Madrid, Pep Guardiola tak kuasa membendung rasa frustrasi. Di hadapan media, ia berkomentar dengan nada sinis.

Mengutip laporan The Guardian, Pep Guardiola menyebut laga melawan Los Galacticos selalu sulit. Ia menggambarkan laga itu seperti pertandingan derbi. Belum selesai. Pep Guardiola yang licin bibirnya juga mengkritik jadwal yang padat.

Ia menyesalkan kenapa laga sepenting melawan Real Madrid ditaruh di tengah-tengah laga melawan Newcastle. Laga itu menjadi laksana neraka bagi The Citizens. Sabtu kemarin, City baru saja menghadapi Leyton Orient di putaran keempat Piala FA. Hanya berselang lima hari, City kemudian menghadapi Real Madrid.

Usai menjalani laga berat melawan Los Blancos, City hanya diberi waktu dua hari istirahat. Pada Sabtu, 15 Februari, City mesti menjamu Newcastle United di Liga Inggris. Pertandingan ini begitu krusial. Jika kalah, boleh jadi Manchester City akan turun di posisi ketujuh. Bournemouth, penghuni peringkat tujuh, hanya akan menghadapi Southampton di hari yang sama.

“Mereka memang selalu begitu baik dengan kalender, selama bertahun-tahun selalu begitu,” kata Pep menyindir otoritas pertandingan. Pep pernah memohon kepada otoritas Liga Inggris agar memberi tambahan istirahat bagi tim Inggris yang berkompetisi di Eropa.

Tapi tak ada ceritanya kritik kalangan bawah seperti Pep Guardiola langsung didengar pejabat. Permohonan Guardiola itu pun tak ubahnya kotak saran di kantor polisi: cuma pajangan. Pep sendirilah yang mesti mengatur siasat.

Terancam

Memilih mana yang akan diturunkan dan mana yang disimpan, tidak pernah mudah. Resikonya, penampilan The Citizens akan goyah. Di Liga Inggris, penampilan City belum stabil. Sementara di Liga Champions, performa mereka malah lebih jauh lagi dari stabil. Lihat saja, Manchester City bahkan kalah dari badut UCL, PSG.

Manchester City juga belum lama ini dihabisi Arsenal. Mereka masih terserak di posisi kelima Liga Inggris hingga pekan ke-24. Di beberapa pertandingan terakhir pun, City sempoyongan menghadapi tim-tim berat. Kemenangan City kebanyakan didapat dari tim kelas teri seperti Ipswich Town, Club Brugge, dan Chelsea.

Pep juga rasanya perlu minum puyer “Bintang Toedjoe” karena pemain yang dibeli Januari ini, terancam tak semuanya bisa didaftarkan buat fase gugur Liga Champions. UEFA hanya mengizinkan City mendaftarkan maksimal tiga pemain baru di babak gugur. Sementara pemain yang direkrut ada empat.

Satu di antara Omar Marmoush, Abdukodir Khusanov, Vitor Reis, dan Nico Gonzalez tidak akan bermain di Liga Champions. Padahal keempat orang itu punya daya tawar masing-masing. Marmoush menawarkan ketajaman, Gonzalez rotasi di lini tengah, Khusanov dan Reis menambah keamanan di belakang.

Keadaan makin dilematis karena pemain lama seperti Jeremy Doku, Nathan Ake, Ederson, dan Ruben Dias mulai waras. Jika Pep memilih pemain lama, ngapain beli empat pemain baru, toh yang boleh didaftarkan cuma tiga? Tapi kalau Pep memilih pemain baru, bukan tidak mungkin justru mengundang mala.

Lemah Diserang Balik vs Kuat Serangan Baliknya

Di sisi lain, boleh jadi Pep malah senang karena kini variannya lebih banyak. Ia bisa melakukan bongkar-pasang, ubah-sana-ubah-sini sesuai taktiknya.

Omong-omong soal taktik, kita tahu, Guardiola akan menginstruksikan pemainnya untuk menguasai bola. City selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang mendominasi. Siapa pun lawannya, di mana pun kompetisinya. Tapi, seperti kata Mourinho, “Menguasai bola justru rentan kehilangan bola.”

City begitu. Mereka mudah kehilangan bola, dan ketika situasi itu terjadi, mereka gelagapan menerima serangan balik. Hal ini juga diakui oleh Josep Guardiola itu sendiri. Impoten menghadapi serangan balik sedangkan lawannya mengandalkan serangan balik, bisa menjadi petaka.

Menurut Who Scored, Real Madrid termasuk lima tim dengan jumlah gol dari serangan balik tertinggi di La Liga musim ini. Masih dari Who Scored, Real Madrid juga menjadi tim dengan jumlah gol dari serangan balik terbanyak kedua (4 gol) di Liga Champions musim ini.

Cedera Hantui El Real

Namun begitu, Real Madrid juga punya masalahnya sendiri. Apa? Yak, cedera. Carlo Ancelotti musim ini dibuat pusing karena pemain keluar-masuk ruang perawatan. Pemain seperti Dani Carvajal, Eder Militao, Antonio Rudiger, dan David Alaba kondisinya masih cedera. Pemain yang cedera kebanyakan berposisi bek, dan itu memaksa Ance melakukan eksperimen liar.

Bayangin, Valverde sampai ditaruh bek kanan! Tapi ini salah mereka sendiri sih. Sudah tahu kekurangan pemain, milih ngirit di bursa transfer. Tapi yang sial tetap Ancelotti. Selain harus mengotak-atik posisi seperti Tchouameni yang diseret ke bek tengah, dan mengandalkan pemain muda seperti Raul Asencio, Ancelotti masih kena omel Florentino Perez.

Perez bersungut-sungut melihat situasi Real Madrid yang terus-terusan bermasalah pada cedera. Ia menuding Ance kurang sabar dan menekan pemain terlalu keras, sehingga memperbesar peluang cedera. Perez juga mendamprat Antonio Pintus, sang pelatih kebugaran. Ia pun mendorong kedua manusia itu segera menemukan solusi atas masalah yang ada.

Rencana Carlo Ancelotti

Tekanan kini dialamatkan pada Carlo Ancelotti. Laga melawan City di play-off bukan sekadar perebutan jatah di 16 besar, tapi pertarungan harga diri. Keduanya adalah tim yang menjuarai Liga Champions dalam tiga musim terakhir. Kalau gagal ke 16 besar, malu dong?

Don Carlo sempat gelisah mengetahui lawannya adalah Manchester City. Walau pemain Los Blancos sendiri tidak gentar. Namun sekarang, Carletto menatap laga melawan City dengan sekoper rencana. Demi mempertahankan performa, juga pelan-pelan meningkatkannya, Ance akan mengelola kelelahan para pemain.

Ance bakal mengurangi porsi latihan di lapangan selama 40 hari ke depan. “Tidak ada waktu persiapan, hanya pemulihan dan analisis video,” katanya. Jika betul begitu, Don Carlo yang awalnya gamang, berarti kini seakan-akan menganggap Manchester City selevel Getafe.

Lantas, apakah hanya dengan menganalisis video, Real Madrid bisa mengalahkan City? Ya belum tentu, enak saja. The Citizens itu sudah empat kali menekuk Real Madrid di Liga Champions, lho. Jadi, City nih yang akan menang? Hooo ya ngawur. Real Madrid itu juara bertahan, mereka juga tiga kali mengalahkan City di Liga Champions.

Lalu siapa dong yang menang? Ya, bandar. Makanya nggak usah judi bola segala. Cukup tonton dan nikmati saja permainannya. Kalau tim kamu kalah, ya tinggal nangis. Gitu aja kok repot.

Sumber: ESPN, YahooSports, Telegrafi, OneFootball, TheGuardian, TheAthletic, BeinSports

Maju Mundur Arsenal Bikin Mereka Gagal Rekrut Pemain ini

0

Tak seperti Manchester City yang berhasil merekrut beberapa pemain hebat di bursa transfer begitu mudahnya, bahkan di hari deadline day. Arsenal justru sebaliknya. Hingga transfer musim dingin Januari 2025 resmi ditutup, Arsenal tak kunjung mendapatkan satu pun pemain incarannya. Mikel Arteta kecewa bukan main karena gagal menambah kedalaman skuadnya di lini depan.

Memang sih sudah ada Kai Havertz yang mengisi penyerang tengah Arsenal. Lalu ada juga Gabriel Jesus dan Bukayo Saka di samping kiri dan kanan. Tapi itu belum cukup bagi Mikel Arteta untuk mengarungi paruh musim kedua yang lebih menantang. Lantas mengapa dan bagaimana Arsenal gagal mendatangkan pemain incarannya?

Alexander Isak

Baik lini belakang maupun lini tengah barangkali tak jadi masalah bagi Mikel Arteta. Justru lini depanlah yang jadi perhatian utama pelatih berusia 42 tahun itu. Maka ia terpikirkan untuk merekrut Alexander Isak.

Sejauh ini Alexander Isak tampil impresif di lini depan Newcastle United. Ia sudah mengoleksi 17 gol dari 22 pertandingan di Liga Inggris musim ini. Mantan pemain Real Sociedad yang sedang dalam performa terbaiknya itu dipuji Mikel Arteta. Itulah kenapa Arsenal begitu meminatinya.

Namun, The Magpies tak mau melepas penyerang terbaiknya begitu saja. Newcastle menetapkan harga tinggi untuk Isak. Arsenal perlu mengeluarkan uang 150 juta euro atau sekitar 3 triliun rupiah jika ingin mendatangkan Alexander Isak. Sebab kontraknya dengan Newcastle baru akan habis pada 30 Juni 2028.

Uang segitu banyaknya membuat Arsenal berpikir ulang. Arsenal tak mampu mengeluarkan uang lebih dari 115 juta pounds. The Gunners perlu menjual pemain untuk bisa memboyong Alexander Isak.

Tapi hingga jam-jam terakhir transfer musim dingin bulan Januari, Arsenal tak menemui solusi tersebut. Walhasil Arsenal gagal merekrut Isak yang memang masih nyaman bersama Newcastle.

Matheus Cunha

Tak cuma Alexander Isak, pemain asal Brasil yang bermain untuk Wolves juga jadi incaran Arsenal. Dia adalah Matheus Cunha. Pemain yang selama ini jadi andalan di lini depan The Wanderers. Ia sudah mencetak 11 gol dan 4 assist dari 23 pertandingan Liga Inggris musim ini.

Jelas Cunha adalah kandidat penyerang tengah potensial. Dengan kehadiran Cunha, ia diharapkan bisa menciptakan keserasian antar lini. Namun Arsenal harus bersaing dengan MU, Nottingham Forest, dan Aston Villa untuk mendapatkan tanda tangan Cunha.

Karena banyaknya peminat, menurut jurnalis olahraga Ben Jacobs, harga Matheus Cunha bisa melambung tinggi. Cunha memiliki klausul pelepasan 60 juta pounds atau setara 1,2 triliun rupiah.

Sebenarnya Arsenal di sini cukup uang untuk memboyong Cunha dari Molineux Stadium. Namun itu urung terjadi, karena Arsenal perhatiannya belok ke Benjamin Sesko. Striker potensial dan murah meriah yang sekarang bermain untuk RB Leipzig

Pada akhirnya Cunha memilih bertahan di Wolves tiga hari jelang penutupan bursa transfer. Pihak klub memberi kontrak baru kepada Cunha yang mencakup klausul pelepasan degradasi dan pelepasan biaya minimum.

Bryan Mbeumo

Lalu hal yang sama terjadi juga saat The Gunners berupaya mendapatkan Bryan Mbeumo dari Brentford. The Gunners melirik Mbeumo untuk jadi pelapis Bukayo Saka yang sedang cedera. Pemain Kamerun itu tampil cukup bagus di musim ini. Ia mengoleksi 14 gol dari 24 pertandingan Liga Inggris musim ini.

Mendengar Arsenal meminatinya, tentu saja Brentford mencoba mencegah. Pelatih Brentford, Thomas Frank mengatakan bahwa klub tak ingin melepas striker andalannya. Pemain berusia 25 tahun itu kontraknya memang akan berakhir sampai 30 Juni 2026. Artinya ia masih punya sisa 18 bulan terakhir di Brentford.

Memang ada kemungkinan Bryan Mbeumo pergi ke klub yang lebih baik. Namun Frank menegaskan jika itu tidak akan terjadi di bulan Januari. The Bees meminta agar Mbeumo bertahan hingga musim ini usai. Sebab sulit untuk mendapatkan penyerang yang sepadan dengannya.

Leroy Sane

Selain mengharapkan Mbeumo dari Brentford, Arsenal juga mengusahakan Leroy Sane. Pemain sayap kanan Bayern Munchen itu dirasa sepadan untuk menjadi pelapis Bukayo Saka. Arsenal bergerak untuk mendapatkan tanda tangannya.

Arsenal tertarik mendatangkan Leroy Sane karena ia sosok pemain serba bisa. Namun mantan pemain Manchester City itu enggan hengkang dari Die Roten. Leroy Sane justru memilih tetap tinggal di Bayern Munchen.

Sane mengabaikan tawaran dari Arsenal. Pemain asal Jerman itu malah memilih menandatangani kontrak baru bersama Bayern Munchen. Kendati gajinya dipotong 4 juta euro. Hal ini otomatis membuat Arsenal gagal mendatangkan Leroy Sane ke Emirates Stadium.

Benjamin Sesko

Seperti yang disebutkan tadi, Arsenal tidak jadi memboyong Cunha karena beralih ke Benjamin Sesko. Arsenal merasa mampu menebus Benjamin Sesko yang dibanderol 45 juta pounds atau sekitar 918 miliar rupiah. Demi memuluskan transfernya, Arsenal pun bergerak cepat.

Pertemuan Sesko dan direktur olahraga Arsenal Edu pun dilakukan pada November 2024 lalu. Awalnya terasa menjanjikan karena Sesko berminat untuk pindah ke London. Namun Sesko berubah pikiran. Sesko menandatangani kontrak baru bersama RB Leipzig hingga 30 Juni 2029.

Di kontrak terbaru memuat klausul pelepasan. Benjamin Sesko akan diizinkan pergi jika memenuhi tawaran yang sesuai dengan permintaan klub. Sky Sport memperkirakan jumlahnya 66 juta pounds 1,3 triliun rupiah.

Arsenal berpikir ulang untuk mendatangkan Benjamin Sesko. The Gunners menilai harga 60 juta pounds atau sekitar 1,2 triliun rupiah tak sepadan untuk Sesko. Apalagi Sesko sudah berusia 29 tahun. Dari sini Arsenal membatalkan transfer tersebut.

Nico Williams

Gagal mendatangkan Benjamin Sesko, Arsenal mencoba menghubungi Nico Williams. Secara statistik, pemain Athletic Bilbao ini tidak terlalu impresif. Ia hanya mencetak 1 gol dan 3 assist selama 19 pertandingan. Namun Arsenal berminat untuk mendatangkannya dari La Liga.

Mikel Arteta mengagumi Nico Williams. Tapi rupanya Nico Williams sudah menandatangani kontrak baru. Dalam kontrak baru tersebut ada kenaikan klausul. Nilainya mencapai 48 juta euro atau sekitar 813 miliar rupiah. Dalam hal ini Arsenal tidak keberatan mengeluarkan uang sebanyak itu. Namun Arsenal mempertimbangkan kembali permintaan dari Nico Williams.

Williams meminta gaji terbaik di Arsenal. Sang pemain meminta bayaran lebih dari 300 ribu poundsterling atau sekitar Rp 5,9 miliar. Melansir dari Footbal London, faktor eksternal inilah yang menghambat Nico Williams pindah ke Arsenal. Sebab tuntutan Williams tinggi.

Arda Guler

Terakhir Arsenal juga memberi tawaran kepada pemain muda Real Madrid, Arda Guler. Pemain berusia 19 tahun itu diminati Arsenal karena ia sosok yang serba bisa. Ia bisa jadi pilihan untuk mengisi sayap kanan The Gunners di tengah absennya Bukayo Saka.

Terlebih Arda Guler sebelumnya mengeluhkan kalau dirinya kurang menit bermain di Real Madrid. Nah, The Gunners bisa jadi solusi buat Arda Guler. Mantan pemain Fenerbahce itu bisa mengembangkan karirnya di Arsenal.

Namun Los Blancos menegaskan bahwa Arda Guler tidak akan dilepas. Baik melalui skema pinjaman maupun dijual. Sebab pemain asal Turki itu merupakan bagian penting dari Real Madrid di masa depan. Kontrak Guler dengan Real Madrid hingga 30 Juni 2029.

Akhirnya The Gunners harus menerima kenyataan ini. Bahwa mereka gagal untuk mendatangkan pemain di transfer musim dingin Januari 2025.

Football London, Liga Olahraga, Worldsoccertalk, Bavarian, Team Talk, One Football.

Neymar, Coutinho, dan Karir yang Meredup Beriringan

0

Kalian pernah nggak sih? Berada di situasi yang memaksa kalian untuk berpisah dengan sahabat? Entah itu karena alasan karir, pernikahan, atau bahkan karena dipisahkan oleh maut. Pasti perasaannya sedih banget ya? 

Namun, jika hubungan persahabatan kalian kuat, maka jarak dan waktu tak akan jadi halangan. Pasti akan selalu ada momen di mana kita bisa terhubung kembali dengan sahabat kita. Kurang lebih, begitulah yang dirasakan oleh dua pesepakbola Brazil yang saling berteman, Neymar dan Philippe Coutinho. 

Meski kedua pemain ini tak pernah bermain untuk klub yang sama, secara tidak sadar, karir mereka selalu beriringan. Dari sama-sama bermain di Piala Dunia U-17, hingga akhirnya meraih kesuksesan di Eropa. Penasaran bagaimana kisahnya? 

Piala Dunia U-17

Neymar dan Philippe Coutinho pertama kali bertemu pada tahun 2006. Saat itu, mereka sama-sama tergabung dalam skuad Timnas Brazil U-14. Layaknya bocah yang menemukan teman main baru, Coutinho dan Neymar langsung akrab. Apalagi perbedaan usia mereka tidak jauh. Sama-sama kelahiran tahun 1992, Neymar hanya lebih tua enam bulan dari Coutinho.

Keduanya kemudian selalu bersama-sama membela Selecao di berbagai tingkatan umur hingga ke tim senior. Nomor punggungnya pun berurutan. Coutinho sepuluh dan Neymar sebelas. Turnamen besar pertama mereka adalah Piala Dunia U-17 2009. Kala itu, turnamen tersebut  diadakan di Nigeria. Brazil berada di Grup 2 bersama Jepang, Swiss, dan Meksiko. 

Di laga pertama, Brazil menghadapi Jepang. Laga berjalan alot. Namun laga berakhir dengan skor 3-2 untuk Brazil. Neymar turut mencetak satu gol di babak kedua. Menariknya, gol tersebut lahir usai Neymar menerima umpan terobosan dari Coutinho. Neymar yang tinggal berhadapan dengan penjaga gawang pun sedikit melakukan gerak tipu sebelum akhirnya menjebloskan bola ke gawang. 

Sayangnya, itu jadi satu-satunya kemenangan Selecao di turnamen tersebut. Dengan finis di urutan ketiga, Brazil gagal lolos ke babak selanjutnya. Perjuangan Brazil di Piala Dunia U-17 boleh berakhir, tapi hubungan baik Neymar dan Coutinho masih terus berlanjut.

Merantau ke Eropa

Gol Neymar di Piala Dunia membuatnya dipantau oleh klub-klub Eropa. Namun, Philippe Coutinho justru jadi yang lebih dulu merantau ke Eropa. Ya, saat bermain di Piala Dunia U-17, Coutinho sebetulnya sudah berstatus pemain Inter Milan. Ia menandatangani kontrak pada tahun 2008, tapi kembali dipinjamkan ke Vasco De Gama. Coutinho baru benar-benar berstatus pemain Inter Milan pada Juni 2010.

Sementara itu, Neymar lebih memilih untuk membangun reputasi di Liga Brazil. Bersama Santos, Neymar tumbuh sebagai pemain muda yang luar biasa. Sepakbola yang menghibur jadi ciri khas permainannya. Neymar bahkan meraih banyak penghargaan, baik secara individu maupun tim. Neymar bahkan jadi bagian skuad Santos yang menjuarai Copa Libertadores musim 2010/11. 

Di musim yang sama, Neymar meraih penghargaan pemain terbaik Brazil tahun dan pemain terbaik Santos. Neymar baru memutuskan untuk merantau ke Eropa pada tahun 2012. Kala itu, Barcelona dipilih sebagai kelanjutan karirnya di Eropa. Neymar ditebus 57 juta euro oleh La Blaugrana. Itu membuatnya jadi pemain muda termahal kala itu.

Berbeda Nasib

Ketimbang Coutinho, Neymar lebih dulu sukses di Eropa. Di Spanyol, Neymar membangun koneksi yang luar biasa bersama pemain Benua Amerika lainnya, yakni Luis Suarez dan Lionel Messi. Membentuk trio MSN, Neymar tampil produktif. Gol-gol indah dan assist menawan selalu lahir dari kakinya. 

Neymar bahkan membantu Barcelona untuk menjuarai beberapa trofi bergengsi. Seperti pada musim 2014/15 misalnya. Musim tersebut diakhiri dengan manis usai Neymar mengantarkan Barca meraih treble winner. Sulit bagi pemain Brazil lain untuk menyamai level permainan Neymar kala itu.

Berbanding terbalik dengan apa yang dialami Coutinho. Meski lebih dulu merantau, ia kesulitan untuk menembus skuad utama Inter Milan. Ia hanya tampil sebanyak 13 kali di Serie A musim 2010/11 sebelum akhirnya dipinjamkan ke Espanyol pada awal tahun 2012. 

Tak ada yang bisa diharapkan dari seorang pemain yang berseragam Espanyol. Coutinho hanya dianggap pemain medioker kala itu. Karir Coutinho mulai membaik justru setelah hijrah ke Inggris bersama Liverpool tahun 2013. Peningkatan performa yang signifikan terjadi di era ini.

Mengandalkan tendangan pisang dan akselerasinya yang mantap, Coutinho dengan cepat menjadi idola baru di Anfield. Perannya pun semakin vital saat Jurgen Klopp mengambil kursi kepelatihan pada tahun 2015. Sayangnya, selama lima musim di Inggris, Coutinho nggak pernah mengangkat trofi. Mungkin itu jadi harga yang harus dibayar demi menemukan sentuhan terbaiknya.

Coutinho Gantikan Neymar

Usai lima tahun yang tandus bersama Liverpool, Coutinho menerima pinangan Barcelona pada awal tahun 2018. La Blaugrana bahkan rela mengeluarkan dana sebesar 160 juta euro untuk mewujudkan transfer ini. Meski terlihat fantastis, itu bukan seberapa bagi Barca. Sebab, mereka baru saja mendapat durian runtuh hasil penjualan Neymar.

Ya, enam bulan sebelum Coutinho bergabung, tepatnya pada musim panas 2017, Neymar sudah lebih dulu meninggalkan Camp Nou dan hijrah ke PSG. Tawaran 222 juta euro amat sangat sulit untuk ditolak Barcelona kala itu. Transfer yang sempat bikin geger industri sepakbola itu langsung jadi pembelian pemain termahal di dunia, bahkan hingga sekarang.

Karena itu lah Barcelona mendatangkan Coutinho. Klub asal Catalan itu berharap The Little Magician bisa menjadi suksesor Neymar di Camp Nou. Namun nahas, ekspektasi Barca terlalu tinggi. Semenjak meninggalkan Anfield, Coutinho bak seorang pesakitan. Performanya menurun drastis.

Philippe Coutinho terbilang gagal menampilkan performa terbaiknya seperti apa yang ia tunjukan selama membela Liverpool. Menit bermainnya pun berkurang. Di Camp Nou, namanya pun perlahan mulai tenggelam di antara pemain bintang lainnya. Cedera otot berkepanjangan kabarnya jadi salah satu penyebabnya. 

Coutinho vs Neymar di UCL 2019/20

Setelah satu tahun setengah terkatung-katung, Philippe Coutinho pun dipinjamkan ke Bayern Munchen musim 2019/20. Dan di musim ini lah akhirnya Coutinho bisa berada dalam satu lapangan lagi dengan Neymar. Namun, bukan sebagai kawan, melainkan lawan.

PSG yang dibela Neymar dan Bayern Munchen yang dibela Philippe Coutinho bertemu di partai puncak Liga Champions 2019/20. Menjelang pertandingan, hubungan kedua pemain langsung jadi perbincangan. Meski berstatus sebagai kawan karib, Coutinho menegaskan siap menepikan persahabatannya demi mengantarkan Die Roten meraih gelar Liga Champions. 

Coutinho bahkan memutus komunikasi dengan Neymar untuk sementara waktu, demi bisa fokus pada laga final. Meski PSG punya urgensi yang lebih besar untuk menjuarai Liga Champions, pada akhirnya Munchen lah yang keluar sebagai juara usai laga berakhir dengan skor 1-0.

Gagal di Asia dan Kembali ke Brazil

Setelah laga final itu, Neymar dan Coutinho kembali berpisah. Hubungan mereka sempat diisukan renggang. Meski begitu, bak sebuah bayang-bayang dari mantan, karir Coutinho tetap mengekor di belakang Neymar. Pada tahun 2023, keduanya secara bersamaan pindah ke Asia. Jika Coutinho pindah ke Al-Duhail, maka Neymar jadi superstar di Al-Hilal.

Secara prestige, Neymar lebih unggul. Sebab, dirinya mendapat kontrak dan fasilitas kelas wahid di Arab Saudi. Sedangkan Coutinho, hanya berstatus pemain buangan karena gagal bangkit saat kembali ke Inggris bersama Aston Villa. Namun, karena sudah berjodoh, nasib mereka di Asia justru berakhir sama. Mereka gagal total di Asia.

Jika harus dibandingkan, mungkin Neymar jadi yang paling parah. Selama di Arab, eks pemain PSG itu hanya mencatatkan tujuh penampilan di semua kompetisi untuk Al-Hilal. Neymar lebih disibukkan dengan pemulihan cedera ACL dan kegiatan-kegiatan di luar sepakbola. 

Merasa Asia bukan tempat yang cocok untuk berkarir, Neymar dan Coutinho akhirnya kembali ke tanah kelahiran pada musim 2024/25. Coutinho lebih dulu pulang ke Vasco de Gama pada tahun 2024. Sementara Neymar baru menyusul di awal tahun 2025 dengan kembali ke pelukan Santos. Kini, duel keduanya akan kembali tersaji di Liga Brazil.

Sumber: Marca, ESPN, Goal, Bundesliga

Klub Medioker Dominasi Daftar Klub Terboros di Bursa Transfer Musim Dingin 2025

0

Bursa transfer musim dingin 2025 justru jadi jendela transfer yang sangat sibuk. Banyak kepindahan besar yang melibatkan pemain-pemain kelas wahid. Contohnya saja seperti Antony El Gasing Santos yang bergabung Real Betis, atau Omar Marmoush yang bergabung dengan Manchester City.

Bermodal 75 juta euro, Marmoush bahkan jadi pembelian Januari termahal di Liga Inggris musim ini. Dengan banyaknya pemain mahal yang didatangkan Manchester City, mereka jadi tim terboros di bursa transfer musim dingin kali ini. Menariknya, dari 10 klub terboros di dunia, klub-klub medioker justru lebih mendominasi. 

Setidaknya ada tujuh klub gurem yang masuk daftar 10 besar klub terboros. Penasaran klub apa saja yang masuk dalam daftar tersebut? 

Brighton

Kita akan bahas dari yang paling kecil pengeluarannya. Klub tersebut adalah Brighton. Cukup aneh melihat klub yang terkenal doyan pemain-pemain murah dari negeri antah berantah justru jadi klub terboros. Tapi, menurut data yang ada memang demikian. Klub berjuluk The Seagulls itu telah menghabiskan 40,6 juta pound di bursa transfer Januari kemarin.

Sebetulnya, Brighton hanya mendatangkan tiga pemain baru, yakni Stefanos Tzimas dari Nuremberg, Diego Gomez dari Inter Miami, dan Eiran Cashin dari Derby County. Sisanya, hanya pemain-pemain yang dipulangkan dari masa peminjaman. Namun, nominal dari tiga pemain itu cukup tinggi. 

Dilansir BBC, Tzimas jadi penandatanganan termahal. Biayanya mencapai 20,8 juta pound. Itu sudah memakan separuh lebih dari jumlah pengeluaran Brighton Januari kemarin. Namun, Tzimas tidak langsung masuk skuad Fabian Hurzeler. Pemain asal Yunani itu kembali dipinjamkan ke Nuremberg hingga akhir musim nanti. Sementara Gomez dan Cashin langsung masuk skuad utama The Seagulls.

Como FC

Masih bernuansa biru-biru, klub medioker terboros selanjutnya datang dari Italia. Mereka adalah Como FC. Klub yang dilatih oleh Cesc Fabregas ini masih berjuang untuk mempertahankan posisinya di kasta tertinggi. Maka dari itu, tambahan pemain pun dibutuhkan di bursa transfer musim dingin kemarin.

Dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan, Como bergerak cepat untuk mendatangkan sepuluh pemain baru. Pemain-pemain tersebut adalah Maxence Caqueret dari Lyon, Anastasios Douvikas dari Celta Vigo, Assane Diao dari Real Betis, Alex Valle dari Barcelona, Jean Butez dari Royal Antwerp, dan beberapa pemain lain. Tak lupa, Como juga berusaha membangkitkan karir Dele Alli yang sudah nganggur sejak dilepas Everton tahun 2024.

Dari banyaknya pemain yang didatangkan, Maxence Caqueret jadi yang paling mahal. Mengutip dari Foot Italia, gelandang berusia 24 tahun itu bergabung Como dengan menandatangani kontrak senilai 15,8 juta pound. Lariani mengikatnya dengan kontrak berdurasi empat tahun. Kedatangan mereka diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperbaiki performa tim.

Wolves

Di akhir tahun 2024, Wolves baru saja menunjuk pelatih baru, yakni Vitor Pereira. Pelatih asal Portugal itu menggantikan pelatih sebelumnya, Gary O’Neill. Tuntutan klub kepada Pereira pun cukup tinggi. Dirinya diharapkan bisa menyelamatkan Wolves dari jurang degradasi. Oleh karena itu, bursa transfer musim dingin jadi momen penting untuk menambah kekuatan.

Di bursa transfer kemarin, Wolves cuma mendatangkan tiga pemain. Pemain-pemain yang didatangkan antara lain Emmanuel Agbadou dan Marshall Munetsi dari Stade Reims, serta satunya lagi Nasser Djiga dari Red Star. Agbadou dan Djiga merupakan pemain belakang. Sedangkan Munetsi adalah gelandang. Pertahanan memang jadi sektor yang perlu ditingkatkan oleh Pereira. 

Meski cuma tiga, mahar masing-masing pemain cukup tinggi. Jika ditotal, Wolves telah menghabiskan uang sekitar 41,7 juta pound. Itu cukup tinggi bagi klub papan bawah seperti mereka. Dari tiga pemain itu, Agbadou jadi yang termahal. Menurut France24, Wolves mendapatkan pemain asal Pantai Gading itu dengan mahar 13,3 juta pound. Pemain berusia 27 tahun itu dikontrak empat tahun dengan opsi perpanjangan selama 12 bulan.

Al-Ahli

Di urutan berikutnya ada klub Arab Saudi, Al-Ahli. Klub-klub Arab Saudi memang sangat gencar berburu pemain baru di Eropa pada musim dingin ini. Dan Al-Ahli yang dilatih Matthias Jaissle jadi klub yang cukup rajin melakukannya. Kalian tak perlu terkejut melihat klub ini masuk dalam daftar ini. Sebab, meski bukan dari Eropa, Al-Ahli punya dukungan finansial yang sangat kuat.

Di musim dingin kali ini, Al-Ahli hanya mendatangkan tiga pemain. Mereka adalah Gelano dari Porto, Matteo Dams dari PSV Eindhoven, dan Eid Al-Muwallad dari Al-Okhdood. Khusus Al-Muwallad, biaya transfernya tidak diketahui. Pihak Al-Ahli tidak menyebutkannya secara gamblang. Namun, untuk dua pemain lain, Al-Ahli mengeluarkan dana yang cukup besar.

Menurut Saudi Gazette, Gelano ditebus dengan mahar 41,5 juta pound dari klub Portugal tersebut. Dirinya dikontrak selama tiga tahun setengah oleh Al-Ahli. Sebagai pemain sayap, Gelano dikenal karena kecepatan dan kemampuan teknis yang tinggi. Maklum, doi pemain dari Brazil. Sedangkan Dams diboyong dengan mahar sekitar 8,3 juta pound dari PSV. Jika Al-Muwallad tidak dihitung, maka Al-Ahli sudah menghabiskan sekitar 50 juta pound untuk dua pemain saja.

Stade Rennes

Stade Rennes jadi klub medioker terboros ketiga di daftar kali ini. Mereka sudah mengeluarkan dana sekitar 60,6 juta pound. Dana segitu dihabiskan untuk mendatangkan sepuluh pemain baru. Salah satunya adalah penyerang asal Jepang, Kyogo Furuhashi yang diboyong dari klub Skotlandia, Celtic. 

Namun, Kyogo bukan pemain termahal yang didatangkan oleh Rennes. Pemain termahal Rennes justru Seko Fofana. Mantan pemain RC Lens ini ditebus Rennes dengan mahar 21,5 juta pound. Menariknya, Fofana dibeli dari klub Arab Saudi, Al-Nassr. Performa Fofana di Arab Saudi pun tidak istimewa. Ia hanya tampil 27 kali untuk Al-Nassr sebelum akhirnya dipinjamkan ke Al-Ettifaq pada Januari 2024.

Pemain lain yang didatangkan Rennes dengan banderol cukup tinggi adalah Brice Samba. Mantan penjaga gawang RC Lens itu ditebus dengan harga 12,4 juta pound oleh Rennes. Transfer ini sempat membuat publik sepakbola Prancis geger karena Lens dan Rennes merupakan rival di Ligue 1.

Al-Nassr

Di urutan kedua ada Al-Nassr yang telah menghabiskan dana sekitar 65 juta pound. Seluruh pengeluarannya itu untuk mendatangkan bintang muda Aston Villa, Jhon Duran. Klub yang juga dibela oleh Cristiano Ronaldo itu mengikat Duran dengan kontrak berdurasi lima tahun. Duran mendapatkan gaji yang terbilang bombastis, yakni 110 juta euro per tahun dan bebas dari pajak.

Kepindahan Duran cukup mengejutkan jagad sepakbola. Sebab, Duran sebelumnya pernah dikaitkan dengan klub-klub papan atas seperti PSG dan Real Madrid. Di sisi lain, Al-Nassr sebenarnya mendatangkan satu pemain lagi, yakni Ahmad Al-Harbi dari Al-Ettifaq. Namun, pemain yang berposisi sebagai penjaga gawang itu bergabung dengan status pinjaman hingga akhir musim nanti. 

RB Leipzig

Yang paling boros ada RB Leipzig. Mereka menghabiskan 45,6 juta pound untuk mendatangkan delapan pemain baru. Meski terkesan lebih bijaksana dalam mengeluarkan uang ketimbang klub-klub Arab Saudi, langkah ini terasa agak tidak biasa bagi Leipzig, mengingat filosofi mereka yang biasanya menghindari pengeluaran besar. 

Pemain-pemain yang didatangkan Leipzig antara lain seperti Antonio Nussa dari Club Brugge, Lutsharel Geertruida dari Feyenoord, Maarten Vandevoordt dari Genk, Assan OuÊdraogo dari Schalke, dan empat pemain lainnya yang akan sangat panjang jika disebutkan satu per satu. 

Menariknya, pengeluaran terbesar Leipzig bulan lalu justru dari biaya mempermanenkan Xavi Simons. Pemain asal Belanda itu sebetulnya sudah bergabung dengan Leipzig sejak tahun 2023. Namun, statusnya masih pinjaman. Baru lah pada tahun 2025 Leipzig sepakat untuk mempermanenkannya. 

Xavi dipermanenkan dengan mahar 41,5 juta pound. Jika biaya itu dimasukan dalam total pengeluaran di bursa transfer Januari, maka Leipzig sudah mengeluarkan sekitar 87,3 juta pound. Itu jadi yang tertinggi dalam daftar ini. 

Sumber: Football365, BBC, Foot Italia, France 24