Beranda blog Halaman 56

Benang Kusut Mundurnya Shandong Taishan dari Liga Champions Asia

0

Bersamaan dengan hilangnya lagu “Bayar, Bayar, Bayar” milik band Sukatani, ada yang hilang juga dari drawing babak 16 besar AFC Champions League Elite. Klub yang tiba-tiba ngilang itu adalah Shandong Taishan. Padahal klub yang pernah dibela oleh Marouane Fellaini itu finis di urutan delapan klasemen akhir Grup B Wilayah Timur ACL Elite.

Jika sekarang melihat klasemen babak penyisihan ACL Elite, maka kalian akan melihat catatan yang aneh dari Shandong Taishan. Seluruh pertandingan yang telah dimainkan mereka dianggap hangus. Mereka justru menempati urutan buncit dengan jumlah pertandingan dan raihan poin nol.

Usut punya usut, Shandong mengalami desakan untuk mengundurkan diri dari kompetisi antar klub terbesar di Asia ini. Benarkah demikian? Selengkapnya mari kita bahas. 

Perjalanan Shandong Taishan di ACL Elite

Berbeda dari Shanghai Shenhua yang lolos ke putaran final melalui jalur juara Chinese Super League musim 2024, Shandong melalui jalur khusus. Bersama Al-Gharafa dari Turki, Shabab Al-Ahli dari Uni Emirat Arab, dan Bangkok United dari Thailand, Shandong harus melewati babak play off lebih dulu. 

Shanghai masuk play off Wilayah Timur dan harus menghadapi klubnya Pratama Arhan saat ini, Bangkok United. Dalam laga yang berjalan satu leg itu, Shandong dan Bangkok sama kuat. Selama 120 menit laga berlangsung, skor tetap 1-1. Maka dari itu, dilanjutkan ke babak adu penalti. Di babak tos-tosan, Shandong berhasil unggul 4-3 dari Bangkok.

Di babak penyisihan, ada dua grup, Grup A (Timur) dan Grup B (Barat) yang masing-masing beranggotakan 12 klub. Nah, Shandong masuk Grup A. Wakil China itu hanya akan menghadapi delapan tim yang berbeda. Itu mengacu pada format baru yang telah ditetapkan. Fyi aja, Liga Champions Asia telah mengadopsi format dari Liga Champions Eropa musim ini. Sistemnya seperti liga, tapi tak semua tim harus saling berhadapan.

Dalam hal ini, Shandong hanya menghadapi Central Coast, Vissel Kobe, Yokohama F. Marinos, Pohang Steelers, Johor Darul Ta’zim, Kawasaki Frontale, Gwangju FC, dan yang terakhir Ulsan HD. Menghadapi klub-klub tersebut, Shandong tidak terlalu buruk. Setidaknya hingga pekan ketujuh. 

Dari tujuh laga yang dimainkan, Shandong mengantongi 10 poin dan bertengger di urutan kedelapan. Sebetulnya, ini posisi aman, mengingat akan ada delapan klub dari setiap grup yang lolos ke babak 16 besar. Namun, semuanya jadi aneh ketika Shandong akan melakoni laga terakhir menghadapi klub Korea Selatan, Ulsan HD.

Undur Diri

Laga Shandong Taishan vs Ulsan HD sebetulnya akan dimainkan pada tanggal 19 Februari di Ulsan Munsu Stadium, Korea Selatan. Namun, beberapa jam sebelum kick off, pihak AFC justru merilis pernyataan resmi yang berbunyi bahwa Shandong mengundurkan diri. Shandong mengabarkan kepada AFC bahwa tim tak bisa melapor dan hadir di stadion untuk melakoni pertandingan.

Alasannya pun bukan karena kendala transportasi atau cuaca buruk. Sebab, skuad Shandong Taishan sudah ada di Korea Selatan sejak sehari sebelumnya. Bahkan, Shandong sudah melakoni jumpa pers dan latihan pra pertandingan. Titik terang baru terlihat beberapa saat setelah keputusan AFC, Shandong mengeluarkan pernyataan resmi terkait keputusan yang mendadak itu. 

Klub asal China tersebut memutuskan mundur dengan alasan ketidaknyamanan fisik yang serius pada anggota tim. “Karena ketidaknyamanan fisik yang serius yang dialami anggota tim, tim medis klub menilai bahwa para pemain Shandong tidak cukup fit untuk berkumpul dan berpartisipasi dalam pekan ke-8 Liga Champions AFC melawan Ulsan HD,” tulis pihak klub di akun Weibo mereka.

Di pernyataan itu, Shandong juga mengungkapkan rasa penyesalan karena tidak bisa melanjutkan kompetisi. Tak lupa, Shandong juga mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada pihak AFC, penggemar, masyarakat, dan tim tuan rumah, Ulsan HD yang sudah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pertandingan.

Namun, jika diperhatikan lagi, pernyataan dari Shandong itu justru menimbulkan banyak pertanyaan. Sebenarnya apa yang dialami oleh pemain-pemain Shandong? Kondisi medisnya pun tidak dijelaskan secara rinci. Semuanya serba nggantung dan penuh misteri.

Sisi Lain

Sehari kemudian, beberapa media China dan internasional menyorot kasus ini. ESPN jadi salah satu yang mengulas kejadian ini. Menurut laporan mereka, pengunduran diri ini berkaitan dengan aksi fans Shandong di laga sebelumnya yang kebetulan juga melawan wakil Korea Selatan, Gwangju FC.

Laga yang dimainkan di markas Shandong Taishan, Ji’nan Olympic Sports Center, diwarnai dengan aksi tidak pantas yang berbau sindiran politik terhadap masyarakat Korea Selatan. Para fans Shandong membawa dan mengangkat tinggi-tinggi foto Presiden Korea Utara, Kim Jong-un dan mantan Presiden Korea Selatan, Chun Doo-hwan. 

Perlu diketahui, dua sosok itu adalah nama aktor politik yang sangat sensitif bagi masyarakat Korea Selatan. Soal gaya kepemimpinan Kim jong-un dan bagaimana hubungan Korea Selatan dan Korea Utara, kalian sudah paham lah ya. Nah, khusus Chun Doo-hwan, dirinya merupakan mantan presiden Korea Selatan era 1980 hingga 1988. 

Perlu diketahui, bagi sebagian besar masyarakat Korea Selatan, Doo-hwan dipandang memiliki karakteristik dan gaya kepemimpinan yang tidak jauh dengan Kim. Doo-hwan bahkan mampu mengkudeta pemerintah sebelumnya hanya demi ambisi pribadi. Kisah ini pun diabadikan dalam film yang berjudul 12.12: The Day.

Masih dari sumber yang sama, poster dari dua pemimpin itu telah menyinggung hati masyarakat Korea Selatan. Mereka yang berang pun rumornya sampai mengepung hotel tempat tim Shandong menginap. Di situ, mereka melakukan demonstrasi yang bersifat politis. Mereka menolak keberadaan tim Shandong di Korea Selatan.

Jadi Masalah Besar

Awalnya, keberadaan tim Shandong Taishan di Korea Selatan aman-aman saja. Mereka bisa melakoni beberapa sesi latihan di kamp latihan yang sudah disediakan. Namun, dalam semalam keadaan langsung berubah. Jadi lebih mencekam. Adanya tekanan, intimidasi, dan protes dari masyarakat Korea Selatan membuat tim Shandong Taishan terganggu. 

Lantas, mereka menggunakan alasan bahwa ada “penyakit yang menyebar luas di kamp latihan sebagai tameng sekaligus penjelasan kepada pihak AFC. Pihak AFC pun tidak mau ambil pusing. Mereka langsung mengambil keputusan untuk mendiskualifikasi Shandong dari kompetisi.

Masalah ini pun masih terus bergulir bak bola salju. Insiden ini dikabarkan sudah naik ke tingkat diplomatik kedua negara. Bahkan, menurut @HotpotFootball, ada rumor kalau mundurnya Shandong disebabkan ada tekanan dan intervensi dari “orang-orang atas” 

Media yang sama juga memberitakan tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi pasca kasus ini. Tak terkecuali sanksi yang akan diterima oleh Shandong. Berdasarkan aturan Liga Champions Asia, Shandong Taishan berpotensi mendapat denda besar sekitar 50 ribu US Dolar, atau setara Rp814,7 miliar. 

Tak cuma itu, Shandong juga bisa dijatuhi hukuman larangan tampil di kompetisi yang diselenggarakan oleh AFC dalam satu atau beberapa musim kedepan. Yang lebih parah, Shandong juga akan dituntut untuk segera mengembalikan semua subsidi kompetisi dan mengganti rugi semua kerugian hak komersial yang terkait.

Mempengaruhi ACL Elite?

Lantas, apakah mundurnya Shandong Taishan berpengaruh pada kompetisi? Sudah jelas. Didiskualifikasinya Shandong membuat susunan klasemen akhir Grup A Wilayah Timur berubah. Shandong yang seharusnya finis di urutan kedelapan, ditendang ke dasar klasemen. Itu karena semua pertandingannya hangus.

Semua hasil yang melibatkan Shandong Taishan dianggap batal demi hukum sebagaimana protokol standar AFC. Artinya, klasemen akhir di Wilayah Timur akan memiliki jumlah pertandingan yang tidak sama. Tiga klub yang tidak bertemu Shandong Taishan di babak penyisihan grup tetap memainkan delapan pertandingan. Sedangkan sisanya, hanya memainkan tujuh pertandingan.

Perubahan yang paling ketara dialami oleh wakil China lainnya, Shanghai Port. Awalnya diperkirakan tidak lolos, tapi jadi lolos karena posisinya naik dari sepuluh ke delapan. Berhubung sama-sama dari China, kelolosan Shanghai bak pertukaran nasib dengan Shandong Taishan.

Sumber: ESPN, AP News, SCMP, AFC

Walau Digembosi, Feyenoord Buktikan Bisa Lolos ke 16 Besar Liga Champions Pertama Kalinya

0

Di Feyenoord para pemain muda yang kalah akan dihukum menyajikan makanan kepada yang menang. Ini bukan saat bertanding sungguhan, melainkan di pertandingan latihan.

Budaya itu membentuk mentalitas pemenang para pemain. Mentalitas ini pada gilirannya turut mengantarkan  Feyenoord ke babak 16 besar Liga Champions musim 2024/25. Dan ini adalah kali pertama Feyenoord melakukan itu.

Bagaimana mereka melakukannya?

Menyingkirkan AC Milan

Kemarin, tepatnya beberapa hari lalu, Feyenoord datang ke San Siro. Laga menghadapi AC Milan tak ubahnya pertandingan hidup mati. Bukan hanya buat Feyenoord, tapi juga untuk Rossoneri. Terkesan berlebihan, tapi memang demikianlah adanya.

Saat bermain di Rotterdam, AC Milan dibekuk. Jadi mau tak mau, mereka harus menang di depan pendukung sendiri. Tapi justru bukan kemenangan yang didapat, melainkan hasil imbang. Diving konyol Theo Hernandez membawa petaka.

Babak pertama Feyenoord diobok-obok Milan. Di babak kedua juga diobok-obok. Tapi setelah Theo diusir, klub asal Rotterdam itu membalas gol kepagian mantan pemainnya. Lewat sebuah skema menawan, pemain pengganti, Julian Carranza mencomot umpan silang yang dilepas pemain pinjaman dari Wolves, Hugo Bueno. Gol pun tercipta.

Perjalanan Menakjubkan

Feyenoord menang lewat agregat 2-1. AC Milan pun tersingkir. Sementara klub dari Sungai Meuse untuk kali pertama lolos ke 16 besar. Feyenoord sendiri baru lolos ke Liga Champions lagi pada musim lalu, usai terakhir kali melakukannya pada musim 2017/18.

Ketimbang Liga Champions, Feyenoord lebih sering berkutat di Liga Eropa. Malahan mereka sempat terpelanting ke Liga Konferensi Eropa atau turnamen kasta ketiga. Yang cukup mengesankan, di turnamen itu, Feyenoord nyaris menjuarainya.

Musim ini adalah kedua kalinya secara beruntun Feyenoord bermain di Liga Champions, sebagai hadiah karena mampu finis di posisi kedua di Eredivisie musim lalu. Setelah gagal musim lalu, musim ini Feyenoord masuk 16 besar menenteng status The Giant Killer

AC Milan cuma salah satu penyintasnya. Sebelum Milan, Bayern Munchen dan Manchester City sudah merasakan alotnya perlawanan Feyenoord. City ditahan 3-3, sedangkan Bayern lebih ngenes: kalah telak 3-0!

Digembosi

Sejak musim belum bergulir, kekuatan Feyenoord sebenarnya telah digerogoti. Arne Slot, sang pelatih, dibajak Liverpool. Slot bagaimanapun sosok pelatih yang tak hanya membawa Feyenoord juara Eredivisie, tapi juga menuntun mereka ke arah lebih baik. 

Datang 2020 lalu menggantikan pelatih kaliber Dick Advocaat, Slot diminta membangun tim dengan gaya permainan yang jelas dan dapat dikenali. Slot diberi keleluasaan memilih asisten. Marino Pusic, John de Wolf, hingga Robin van Persie pun diangkut menjadi asistennya. Slot meloloskan tim ke Liga Konferensi Eropa di musim pertamanya.

Di kompetisi tersebut, Feyenoord bahkan dibawanya ke final. Sementara Brian Priske, pengganti Slot, tak lebih baik dari pelatih Liverpool itu. Justru Feyenoord kian menderita. Selama melatih, Priske konsisten menyumbang hasil buruk.

Feyenoord yang terpontal-pontal di awal musim juga harus kehilangan pemain andalannya. Santiago Gimenez, sang mesin gol, dibajak oleh AC Milan. Feyenoord tergoda dengan uang 32 juta euro (Rp547,4 miliar) yang disodorkan Milan.

Dilatih Pelatih Minim Pengalaman

Kembali ke penampilan Feyenoord di tangan Priske. Walau menghabisi Bayern Munchen, tapi performa Feyenoord di tangan Priske masih jauh panggang dari api. Menghadapi lawan selevel, belang Feyenoord kelihatan.

Berjarak tujuh hari dari kemenangan atas Die Roten, Feyenoord terkapar oleh Lille. Kekalahan ini membuka keran kekalahan bagi Feyenoord. Di dua laga setelahnya, mereka menuai hasil buruk. Kalah dari Ajax Amsterdam, lalu kalah lagi dari PSV di perempat final Piala KNVB. Meski memenangkan derbi Rotterdam di laga berikutnya, Brian Priske tak dapat mengelak dari pemecatan.

Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, mencari pelatih baru yang available di pertengahan musim tidak pernah mudah. Karena kesulitan mencari pelatih nganggur, sementara tak mungkin memboyong Coach Justin, Feyenoord menunjuk pelatih interim, Pascal Bosschaart.

Kalau kita buka profilnya di Wikipedia, portofolionya tak sepanjang Graham Potter. Tapi tak apalah, cuma interim ini. Dan memang benar kata orang, sepak bola itu seperti perempuan, sulit ditebak.

Di tengah badai kritik, Bosschaart yang cuma pelatih ganjel, sanggup membawa Feyenoord ke 16 besar Liga Champions kurang dari sebulan setelah ditunjuk. Mengalahkan AC Milan pula. Belakangan Bosschaart akan dikembalikan ke asalnya, yakni tim muda. Feyenoord kabarnya menunjuk Robin van Persie.

Feyenoord Bermain Secara Tim, Bukan Individu

Van Persie dan Bosschaart sama-sama masih kering pengalaman melatih. Tapi bukan berarti eks pemain Manchester United itu akan gagal sebagaimana yang ia lakukan di Heerenveen. Feyenoord adalah tim yang berbeda.

Seperti disebutkan di awal tadi, mentalitas pemenang sudah dibentuk di Feyenoord. Van Persie, jika ia betulan melatih Feyenoord, cuma perlu mempertahankan mentalitas itu. Feyenoord sendiri tambang emas sepak bola. Di sana para calon pemain diterima dan dikembangkan.

Selain yang sudah disebutkan, Feyenoord juga menciptakan sistem baru dalam metode latihannya. Sistem itu dibawa Dirk Kuyt saat kembali ke Feyenoord untuk melatih Tim U-19. Mengutip These Football Times, nama sistemnya adalah pertemanan. Apa maksudnya?

Sistem ini menghapus sekat antar generasi. Kuyt memang pelatih Feyenoord U-19, tapi dalam latihan, ia juga mengundang pemain-pemain yang usianya di atas 19 tahun. Tak terkecuali para pemain yang usia 30 tahunan. Untuk apa? Ya untuk bermain bersama.

Pemain yang secara usia lebih tua akan membimbing langsung adik-adiknya di lapangan. Mereka akan menjadi teman satu tim. Misalnya, dalam satu tim akan ada satu pemain sayap kiri berusia 7 tahun dipasangkan dengan pemain sayap kiri lain yang berusia 12 tahun. Sistem ini mengalir di tim muda Feyenoord. 

Lewat sistem ini, pemain muda Feyenoord yang bahkan baru 18 tahun seperti Givairo Read dapat menembus tim senior. Sehingga Feyenoord pun menjelma itm yang dipenuhi pemain muda. Musim ini saja, di skuad Feyenoord rata-rata pemainnya berusia 24 tahun.

Kemampuan Melacak Pemain Hebat

Sudahlah punya akademi dengan sistem bagus, Feyenoord juga ahli merekrut pemain. Pemain muda potensial di seluruh dunia mampu dilacak. Dan Feyenoord tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk merekrut para pemain itu.

Feyenoord telah lama bekerja sama dengan SciSports, sebuah platform canggih yang mampu melacak lebih dari 90 ribu pemain di seluruh dunia. Feyenoord mengidentifikasi lewat platform ini, sehingga kerjanya lebih efisien dan presisi. Sejumlah pemain berhasil ditemukan lewat platform ini.

Pencetak gol ke gawang AC Milan kemarin, Julian Carranza contohnya. Carranza dibeli gratis dari Philadelphia Union. Santiago Gimenez yang dibajak Milan itu pun termasuk hasil SciSports. Gimenez ditemukan saat masih berseragam klub Meksiko, CD Cruz Azul.

Dulu Feyenoord membelinya seharga 6 juta euro saja pada 2022. Tapi tiga tahun berselang, Feyenoord bisa untung 26 juta setelah sang pemain dibeli AC Milan. Igor Paixao yang dibeli cuma 4,5 juta euro dari Coritiba dan Ayase Ueda yang dibeli 8 juta euro dari Cercle Brugge juga hasil kerja sama dengan SciSports.

Pengembangan pemain muda yang disokong sistem yang bagus, serta kecanggihan dalam melacak pemain, plus budaya kerja tim dan anti kekalahan menjadikan Feyenoord tangguh.

Lolos ke 16 besar Liga Champions adalah perlambang sesuatu yang dibangun serius. Tak peduli siapa lawan di 16 besar. Sebab sampai di 16 besar Liga Champions saja lebih dari cukup membuat klub kaya raya seperti Manchester City ngiri.

Sumber: Fotmob, beinSPORTs, detikSport, Linkedin, TheseFootballTimes, Linkedin

Xabi vs Iraola: Saling Sikat Demi Gantikan Ancelotti di Real Madrid

0

Mencari sosok pelatih bagi klub sebesar Real Madrid nggak semudah membalikan telapak tangan. Ibarat orang tua yang sedang memilih calon menantu, harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Apa jadinya kalau King UCL ini dilatih oleh pelatih yang asal comot?

Presiden El Real, Florentino Perez, kini telah menyiapkan calon dengan segala pertimbangan. Pertimbangan tersebut telah menghasilkan dua nama yang dilabeli dengan “Rencana A” yakni Xabi Alonso, dan “Rencana B” Andoni Iraola. Dua pelatih asal Basque inilah yang nantinya akan berebut singgasana kursi pelatih Los Blancos. Lantas, siapa yang pantas?

Berangkat Dari Basque

Mendengar dua calon suksesor Ancelotti di masa mendatang, harusnya fans Real Madrid kini penuh harap. Sebab, masing-masing dari mereka punya potensi yang menjanjikan.

Xabi Alonso dan Andoni Iraola sejatinya adalah dua sahabat. Mereka sama-sama lahir dari rahim suku “Basque”. Sejak muda mereka telah berteman. Mereka juga sama-sama alumni klub Antiguoko, klub dimana banyak talenta hebat Basque dilahirkan.

Dari Antiguoko itulah, mereka menyerap ilmu yang sering dikenal sebagai “Filosofi Basque”. Bagaimana cara pemain mendedikasikan diri kepada sebuah klub dengan tuntutan, disiplin dan kerja keras, sebagaimana apa yang diajarkan dalam Filosofi Basque.

Menurut Roberto Montiel, wakil presiden Antiguoko, Filosofi Basque pada umumnya adalah, setiap pemain tidak mempunyai pemikiran yang sama untuk “berperang”. Gaya Basque adalah gaya sepak bola yang jauh lebih dinamis.

Emosional Dan Mental Xabi Alonso

Maka dari itu, dua pelatih alumni Antiguoko itu punya banyak perbedaan. Namun, perbedaan itu yang justru bisa membuat pihak El Real punya banyak pertimbangan untuk menentukan pilihan.

Kedekatan emosional dengan Real Madrid disinyalir jadi modal kuat Xabi Alonso dalam bursa pencarian pelatih baru. Itu pula yang pada akhirnya membuat Xabi dilabeli dengan “Rencana A” Oleh Los Merengues. Pemahaman Xabi tentang budaya, gaya hidup, serta lingkungan di Real Madrid, dianggap sudah khatam oleh Madrid.

Begitupun dari segi mental pemenang. Sebagai pemain dan pelatih, gelar juara sudah identik melekat dengannya. Tak hanya pemenang di level domestik, setiap pelatih di Real Madrid juga dituntut punya mental pemenang Eropa. Dan Xabi punya itu semua. DNA Eropa sangat penting bagi El Real, maklum, King UCL nih bos.

Sepak Terjang di Leverkusen

Namun apakah itu saja cukup? Tentu tidak. Apalah artinya itu semua jika tanpa gelar. Untungnya, Xabi sudah punya itu. Gelar juara Bundesliga yang istimewa dalam sejarah Bayer Leverkusen musim lalu, jadi modal berharga Xabi.

Pencapaian Xabi itu jangan hanya dilihat dari gelarnya saja. Emangnya Xabi meraih gelar itu jatuh dari langit? Kan enggak. Xabi jatuh bangun membangun Leverkusen bahkan bukan dari nol, melainkan dari minus. Dari mulai mengumpulkan pemain-pemain yang sesuai dengan gaya mainnya, hingga pada akhirnya tercipta strategi yang manjur.

Xabi ini punya keunikan, Ia berbeda keyakinan strategi dengan para mentornya seperti Jose Mourinho, maupun Carlo Ancelotti. Siapa sangka, Xabi yang identik dengan pola empat bek ketika melatih Real Madrid Junior, tiba-tiba beralih ke pola tiga bek saat melatih Bayer Leverkusen. Namun, justru pola tiga bek itulah yang mengantarkannya ke gerbang kesuksesan.

Tiga Bek

Pola tiga bek itulah yang kemungkinan bisa ditawarkan Xabi, apabila benar-benar dipinang El Real. Dengan materi yang ada di Madrid, bagaimana Xabi menerapkannya? Kalau menurut analis wearetheoverlab, secara permainan pola 3-4-3 atau 3-4-2-1 Xabi, akan menitikberatkan pada keagresifan wing backnya.

El Real punya materi pemain seperti Lucas Vazquez maupun Federico Valverde yang cocok dijadikan wing back kanan, serta David Alaba maupun Ferland Mendy sebagai wing back kiri. Kalaupun masih dianggap kurang, rencana transfer Trent Alexander Arnold diwujudkan. Selain itu, Xabi juga bisa memboyong Alejandro Grimaldo yang jadi andalannya di Leverkusen ke Bernabeu.

Lalu di sektor tiga bek, bisa diisi pemain seperti Eder Militao, Antonio Rudiger, dan Raul Asencio. Sedangkan di posisi double pivot, Tchouameni atau Camavinga, yang diduetkan dengan Jude Bellingham bisa jadi andalan. Mereka bisa dijadikan seperti duet Granit Xhaka dan Exequiel Palacios ketika di Leverkusen. Lalu kalau ditanya di sektor depan, tak usah diragukan lagi pasti milik trio Kylian Mbappe, Vinicius dan Rodrygo.

Namun, apakah dengan gambaran seperti itu, Xabi akan mulus-mulus saja menerapkannya? Berkaca pada kasus Ruben Amorim di MU, penerapan pola tiga bek pada klub yang sudah lama bermain dengan empat bek, itu bisa, tapi berat. Apalagi kalau pemainnya nggak bisa ngikutin alur dan instruksi pelatih. Hmmm.. bisa-bisa hancur kaya klub yang onoh.

Taktik Iraola

Pola tiga bek yang jadi “jualan” Xabi ini masih jadi perjudian. Namun ada alternatif lain di “Rencana B” Real Madrid, yakni Andoni Iraola. Anak ideologis Marcelo Bielsa ini adalah penganut empat bek dengan gaya bermain yang menyerang dan agresif.

Iraola tampaknya tak akan seribet Xabi untuk merombak secara pola permainan. Ia hanya menyempurnakan apa yang sudah dibangun oleh Carlo Ancelotti dengan pola 4-3-3 atau 4-2-3-1 yang dianutnya.

Menurut analisis dari premierleague.com, ciri khas strategi tim asuhan Iraola adalah tim dengan tingkat turnover atau merebut bola kembali yang tinggi. Jika diterapkan di El Real, pemain di belakang striker seperti Jude Bellingham, harus mau capek karena diforsir tenaganya untuk cepat mengembalikan penguasaan bola. Di Bournemouth, Ryan Christie lah yang mengemban peran ini.

Lalu, pendekatan fisik juga menjadi konsentrasi Iraola. Menurut premierleague.com, The Cherrys berada di urutan teratas soal jarak tempuh di lapangan. Setidaknya, tim asuhan Iraola rata-rata mencatatkan 122,2 kilometer per laga. Artinya, para pemain di tim Iraola bukan tipe yang malas-malasan. Jika diterapkan di El Real, setiap pemain mau tidak mau harus siap mengambil latihan tambahan.

Pengalaman Sebagai Pembunuh Raksasa

Dari beberapa keunggulan taktik Iraola tersebut, apakah sudah cukup untuk menyakinkan publik Bernabeu? Belum, sebab, publik Bernabeu pasti akan bertanya, mana bukti keberhasilan Iraola dengan skema-skema itu?

Faktanya, pria kelahiran Ursubil itu memang masih miskin gelar. Gelarnya cuma Piala Super Liga Cyprus ketika membesut AEK Larnaca. Namun selain gelar, ada satu yang bisa jadi daya tawar Iraola, yakni sebagai pelatih Giant Killer. Timnya kerap jadi batu sandungan klub-klub besar di Liga Inggris.

Selain itu, Iraola juga sudah berpengalaman di La Liga ketika menangani Rayo Vallecano. Dirinya juga yang berjasa membawa Rayo promosi ke kasta tertinggi 2020/21. Nah, di musim debutnya di La Liga, Rayo Vallecano racikannya secara mengejutkan mampu mengalahkan Barcelona di kandang maupun tandang. Tak hanya Barca, Real Madrid juga pernah ia kalahkan di musim 2022/23.

Kalau bukti itu masih belum cukup, lihat juga pencapaiannya di Bournemouth. Di liga seketat Inggris, ia masih bisa membuktikan sebagai spesialis pembunuh tim besar. Arsenal, Manchester City, Manchester United, Spurs, sudah merasakan kengerian skuad racikannya. Pakai klub gurem aja mengacak-acak, apalagi pakai materi pemain di Madrid?

Kesulitan

Keraguan publik dalam diri Iraola jika melatih El Real, mungkin soal mental pemenang. Di tim besar seperti Real Madrid, pasti tekanannya berbeda. Akan ada banyak tuntutan baik dari internal maupun eksternal. Di Madrid, Iraola pun pasti dituntut untuk memenangkan gelar setiap musim. Jika tidak, pemecatan bisa saja jadi keputusan yang diambil manajemen.

Belum lagi, bab menghadapi ego-ego pemain bintang seperti Mbappe atau Vinicius. Pelatih yang kurang mahir mengatasinya, pasti akan menemui masalah. Yang jelas, baik Xabi maupun Iraola, harus peka akan hal tersebut. Jangan sampai salah satu dari mereka justru meniru jejak kegagalan pelatih asal Basque sebelumnya di Real Madrid, Julen Lopetegui.

Namun pada akhirnya, dengan berbagai keunggulan dan kelemahan yang sudah dilampirkan, jika publik harus memilih, siapa yang lebih pantas sebagai suksesor Carlo Ancelotti? Alonso? Atau Iraola?

Sumber Referensi : sksports, therealchamps, premierleague, transfermarkt, premierleague, bbc, transfermarkt

Berita Bola Terbaru 20 Februari 2025 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil laga Liga Inggris, Liverpool gagal meraih poin penuh setelah hanya bermain imbang 2-2 atas tuan rumah Aston Villa. Dua gol dari Mo Salah dan Trent Alexander Arnold, berhasil menyelamatkan The Reds dari kekalahan. Meski imbang, pasukan Arne Slot masih kokoh di puncak klasemen dengan 61 poin.

Beralih ke hasil dari laga playoff UCL leg kedua. Juventus harus angkat koper dari UCL setelah kalah 3-1 atas tuan rumah PSV Eindhoven. Gol dari Ivan Perisic, Ismael Saibari dan Ryan Flamingo, membuat Si Nyonya Tua akhirnya kalah agregat 4-3.

Sementara itu, dari Signal Iduna Park Borussia Dortmund sukses melenggang ke 16 besar setelah menahan imbang tamunya Sporting CP 0-0. Hasil tersebut sudah cukup bagi pasukan Niko Kovac untuk lolos, karena unggul agregat 3-0.

Lalu dari Paris, PSG sukses gulung wakil Prancis lainnya Brest dengan tujuh gol tanpa balas. Parade gol pasukan Luis Enrique, dicetak oleh Bradley Barcola, Kvara Kvaratskhelia, Vitinha, Desire Doue, Nuno Mendes, Goncalo Ramos dan Senny Mayulu. Dengan hasil ini, Les Parisiens lolos ke 16 besar dengan agregat 10-0.

MBAPPE LEWATI REKOR MESSI DAN CR7

Dari Bernabeu, Real Madrid sukses menumbangkan Manchester City 3-1. Mereka melaju ke 16 besar dengan agregat 6-3. Kelolosan El Real tersebut disumbangkan oleh hattrick Kylian Mbappe. Menurut Talksports, hattrick tersebut menempatkan Mbappe melewati rekor milik Messi dan CR7. Mbappe sah menjadi pemain termuda yang bisa bukukan total gol (358) plus assist (142) berjumlah 500 di semua kompetisi, baik klub maupun timnas. Mbappe berhasil menorehkannya di usia 26 tahun 61 hari. Lebih muda sebulan ketika Messi menorehkannya. CR7 sendiri baru bisa menorehkannya di usia 28 tahun.

REAL MADRID TIDAK MEMBALAS TIFO CITY

Masih kabar soal Real Madrid vs City. 90min melaporkan bahwa tifo dengan pesan khusus yakni “Anda tidak akan meninggalkan Bernabéu hidup-hidup”, awalnya sudah disiapkan oleh fans El Real. Namun oleh pihak Real Madrid, tiba-tiba dibatalkan dengan alasan terlalu berpesan negatif dan untuk menghindari kontroversi. Hasilnya, di tribun jelang laga berlangsung hanya ada tifo berbentuk trofi Liga Champions, dan tanpa pesan.

TERKUAK BIAYA PESANGON MU PECAT ASHWORTH DAN TEN HAG

Lanjut beralih ke kabar dari Inggris. Dilansir dari Goal, terkuak sudah biaya yang dikeluarkan oleh MU untuk mendepak Ten Hag serta Dan Ashworth. Red Devils membuang-buang uang sebesar 10,4 juta pounds untuk membayar kompensasi pemecatan Ten Hag beserta stafnya. Mereka juga membayar kompensasi pemecatan Ashworth senilai 4,1 juta pounds. Dua pengeluaran tersebut masuk dalam hitungan total kerugian yang dialami setan merah (27,7 juta pounds), selama tiga bulan terakhir di tahun 2024.

INEOS SEGERA AKHIRI KERJASAMA DENGAN SPURS

Berikutnya ada kabar dari perusahaan pemilik MU INEOS yang dilaporkan BBC segera mengakhiri kesepakatan kerjasama sponsorship dengan Tottenham Hotspurs. Sebelum membeli MU, INEOS merupakan salah satu mitra bisnis resmi The Lilywhites sejak tahun 2020. Kemitraan yang sedianya masih berlangsung ini, ingin segera diakhiri karena kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan secara menyeluruh oleh INEOS.

HUKUMAN BAGI BELLINGHAM

Beralih ke kabar dari Spanyol. Jude Bellingham dilaporkan telah resmi dihukum larangan bermain dua laga oleh RFEF, berkat kartu merahnya saat melawan Osasuna. Bellingham akan absen di laga melawan Girona dan Real Betis. Tak hanya di La Liga, Goal melaporkan bahwa Bellingham juga dilarang tampil di laga leg pertama 16 besar UCL, berkat akumulasi kartu kuning yang ia terima saat melawan Manchester City.

REAL MADRID TAK MASUK DALAM KOMITE REFORMASI WASIT

Berikutnya ada laporan dari Relevo yang mengatakan bahwa sejumlah klub La Liga dan Segunda telah berkumpul pada hari Rabu 19 Februari, untuk membentuk dua komite baru, yakni komite reformasi sistem wasit, dan komite kompetisi. Real Madrid yang berusaha untuk menguasai atau pemimpin di dua komite tersebut, kalah suara. Real Betis dan Sevilla berhasil jadi pimpinan di komite reformasi wasit. Sementara Atletico Madrid dan Villarreal jadi pimpinan di komite kompetisi.

PRESIDEN NAPOLI DITUDUH LAKUKAN PEMBUKUAN PALSU

Dari Spanyol kini terbang ke Italia. Menurut laporan Football Italia, presiden Napoli, De Laurentiis sedang dituduh oleh kantor kejaksaan Roma terkait pembukuan palsu atas kesepakatan transfer Victor Osimhen dari Lille, dan Kostas Manolas dari Roma. De Laurentiis dianggap kejaksaan menggelembungkan nilai transfer kedua pemain tersebut supaya mendapat keuntungan. Jika terbukti, presiden Partenopei itu bisa diadili dan dikenai hukuman berat.

JUVENTUS BERSAING DAPATKAN THOMAS PARTEY SECARA GRATIS

Sementara itu dari Turin, ada laporan Caughtoffside yang menyebut bahwa Juventus ikut bersaing dengan Barcelona guna bersiap menampung agen bebas Thomas Partey di akhir musim nanti. Pemain 32 tahun asal Ghana tersebut kemungkinan kontraknya tak akan diperpanjang oleh The Gunners. Ia berhak memilih klub barunya. Sejauh ini, baru ada Barcelona dan Juventus yang menunjukan minat. Barca jadi yang terdepan karena sudah mengajukan tawaran kepada sang pemain.

VAN PERSIE KEMBALI KE FEYENOORD?

Beralih ke kabar dari Belanda. Menurut laporan Goal, pelatih Heerenveen Robin Van Persie disebut akan segera menjadi pelatih baru Feyenoord sepeninggal Brian Priske. Legenda Manchester United itu kabarnya sudah diajak bernegosiasi dengan manajemen Feyenoord. Van Persie diharapkan bersedia menerima tawaran sebagai pelatih. Ia merupakan legenda klub tersebut dan sebelumnya ia pernah melatih tim U-18 Feyenoord.

UNDIAN 16 UCL, DERBY MADRID?

Berikutnya ada kabar jelang undian 16 besar yang akan dilangsungkan Jumat 21 Februari. Proyeksi soal calon lawan masing-masing sudah diketahui lewat bagan yang ada. ESPN menyebut bahwa laga antara satu negara, yakni Real Madrid vs Atletico Madrid, dan Leverkusen vs Bayern Munchen berpotensi akan terjadi di 16 besar. Laga seru lain yang berpotensi terjadi adakah PSG yang sedang on fire, akan bertemu dengan pemuncak Liga Inggris, Liverpool.

DEBUT MANIS SANDY WALSH DI JEPANG

Lanjut ke kabar dari jepang terkait debut yang dilakukan pemain Timnas Indonesia, Sandy Walsh di Yokohama F. Marinos. Walsh debut saat timnya menang 2-0 atas Shanghai Port di fase grup AFC Champions League Elite. Menilik statistik dari FotMob, Walsh tampil cukup menjanjikan. Ia bermain penuh berduet dengan Jeison Quinones di bek tengah. Walsh melakukan beberapa catatan, di antaranya satu kali blok, empat kali sapuan, dua kali sapuan di udara, serta enam kali tindakan bertahan untuk menghentikan serangan lawan.

KODE, ELKAN DAN SADDIL BAKAL DIPANGGIL KLUIVERT?

Beralih ke kabar soal teka-teki siapa diantara 27 pemain yang akan dipanggil oleh Patrick Kluivert jelang laga melawan Australia dan Bahrain. Dilansir dari tvonenews, Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, secara tidak sengaja memberikan kode bahwa akan ada nama baru dan lama yang dipanggil oleh Kluivert. Pak Mardji keceplosan ketika menyebut secara spesifik jika dua pemain yang ditepikan STY, Elkan Baggott dan Saddill Ramdani juga akan dipanggil Kluivert.

DUA NAMA ASISTEN LOKAL SUDAH DIPILIH KLUIVERT

Tak hanya soal bocoran pemain yang akan dipanggil Kluivert, Pak Sumardji juga mengatakan bahwa Kluivert sebenarnya sudah memilih dua asisten lokal untuk mendampinginya. Menurut laporan dari suara, dua nama tersebut menurutnya akan diumumkan dalam waktu dekat, ketika Kluivert tiba di Indonesia awal Maret. Nama dua asisten lokal tersebut juga tidak jauh dari nama-nama yang sudah di interview.

MU TUR PRAMUSIM KE AMERIKA LAGI

Dilansir dari The Sun, Manchester United berencana akan tur pramusim di Amerika Serikat musim panas nanti. Laga pramusim tersebut rencananya akan digelar pada bulan Juli dan akan bertajuk Turnamen Summer Series. Di mini turnamen itu, Red Devils rencananya akan bertemu tim seperti West Ham, Bournemouth dan Everton. Laga tersebut nantinya akan digelar di tiga tempat yakni Atlanta, New Jersey, dan Chicago.

TANGGAL KEMBALINYA SAKA DAN MARTINELLI

Berikutnya ada kabar dari dua pemain Arsenal yang masih mendekap cedera, yakni Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli. Menurut laporan 90min, kedua pemain tersebut diprediksi oleh tim medis Arsenal baru bisa merumput lagi pada tanggal 1 April nanti ketika bertemu Fulham. Artinya, dua pemain tersebut masih bisa membela The Gunners di sembilan laga sisa mereka di Liga Inggris.

LA LIGA LAPORKAN BATAS GAJI TERBARU

Beralih ke kabar dari Spanyol. Football Espana melaporkan, bahwa La Liga telah mengeluarkan batasan gaji terbaru setelah rekap bursa transfer bulan Januari. Barcelona mengalami kenaikan batasan gaji 37 juta euro, yakni dari 426 juta euro ke 463 euro. Namun angka itu masih berada dibawah batasan gaji Real Madrid yang mencapai 754 juta euro. Peningkatan signifikan lainnya yang terjadi, adalah batasan gaji Deportivo Alaves, yakni dari 38 juta euro ke 46 juta euro.

TEBAS MENCEMOOH REAL MADRID

Masih kabar dari Spanyol. Presiden La Liga Javier Tebas, dilaporkan oleh tribalfootball telah mencemooh Real Madrid soal niatnya mencari suaka ke liga lain. Tebas menganggap itu hanyalah tipuan belaka dari Florentino Perez. Dirinya menganggap hal itu adalah hal yang tidak dapat terwujud sampai kapanpun. Sebab menurutnya, klub yang ada di daerah Spanyol, secara undang-undang olahraga olahraga, wajib berlaga di Liga Spanyol.

CONTE UNGKAP TAK MAU EMPAT PEMAIN INI

Dari Spanyol kini bergeser ke Italia. Ada laporan dari Football Italia yang mengatakan bahwa pelatih Napoli, Antonio Conte sebenarnya tak menginginkan transfer empat pemain barunya, yakni Simone Scuffet, Luis Hasa, Philip Billing, dan Noah Okafor. Conte dilaporkan juga tak senang dengan proses pertukaran kiper Scuffet dengan Caprile. Conte bahkan sampai diyakinkan beberapa kali oleh manajemen terkait transfer tersebut.

ANAK BUFFON MAIN DI CEKO

Masih dari Italia, tersiar kabar bahwa anak kiper legendaris Gianluigi Buffon, yakni Louis Buffon, dilaporkan Talksport telah dipanggil oleh Timnas Ceko U18 untuk jalani training camp. Pemain 17 tahun yang berposisi sebagai gelandang itu, berpotensi membela Timnas Ceko di masa depan, daripada Italia yang tiada lain negara ayahnya. Sebab, ia masih bisa memilih warga negara Ceko karena ada darah Ceko dari sang ibu.

KRISIS, CALVIN VERDONK JADI BEK TENGAH?

Lanjut ke kabar berikutnya yang datang dari pemain Timnas Indonesia, Calvin Verdonk. Verdonk diperkirakan akan menjadi korban dari krisis bek di NEC Nijmegen. Sebab, dua bek tengah andalan Nijmegen yakni Ivan Marquez dan Philippe Sandlers, mengalami cedera dan kemungkinan akan absen beberapa pekan. Stok bek tengah yang tipis, membuat Verdonk dan Bram Nuytinck kemungkinan akan mengisi posisi duet bek tengah Nijmegen di laga selanjutnya melawan Twente.

PIETER HUISTRA LATIH PSS

Lalu ada kabar dari tanah air, bahwa klub Liga 1, PSS Sleman telah resmi menunjuk pelatih baru, yakni Pieter Huistra menggantikan Mazola Junior. Huistra ditunjuk langsung oleh Direktur Utama PSS Sleman, Gusti Randa. Mantan pelatih Borneo FC tersebut, diharapkan manajemen PSS bisa membuat pasukan Super Elang Jawa bangkit dari keterpurukan, dan terhindar dari jeratan degradasi Liga 1.

INILAH TANGGAL TIMNAS SENIOR MULAI KUMPUL

Berikutnya ada kabar dari Timnas Indonesia jelang laga melawan Australia. Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji mengungkapkan bahwa skuad Timnas yang akan dipanggil Kluivert, mulai berkumpul di Jakarta pada tanggal 15 Maret. Namun itu khusus untuk pemain yang bermain di Liga 1. Setelah kumpul, mereka akan terbang ke Australia bersama tim pelatih pada 16 Maret. Bagi pemain diaspora, mereka akan langsung bertolak ke Australia setelah membela klubnya masing-masing.

KLUIVERT PANGGIL 27 PEMAIN, AKAN ADA NAMA KEJUTAN

Terkait jelang laga melawan Australia dan Bahrain, Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, mengatakan bahwa Patrick Kluivert berencana akan memanggil sebanyak 27 pemain. Pak Mardji juga memastikan bahwa dari 27 nama tersebut, ada beberapa nama kejutan atau muka baru yang akan dipanggil oleh Kluivert berkat hasil analisisnya setelah melihat beberapa laga di Liga 1. Meski sudah memastikan, namun Pak Mardji masih enggan membocorkan siapa nama baru tersebut.

Teruslah Menangis Wahai Manchester City, Real Madrid Bukan Levelmu!

0

“Lu kebobolan 3 gol, tapi lu cetak 4 gol, lu still win the game.” Mantra sakti dari Coach Justin itu barangkali jadi analogi yang pas untuk menggambarkan laga antara Real Madrid vs Manchester City semalam. City memang bisa menjebol gawang Madrid sebanyak tiga kali, tapi Madrid melakukannya dua kali lipat.

City terpaksa angkat kaki dari Liga Champions musim 2024/25 usai kalah agregat 3-6 dari King Madrid. Secara permainan, City sebetulnya mampu menguasai bola di Santiago Bernabeu. Itu dibuktikan dengan catatan Fotmob yang menyebut City menguasai 52% penguasaan bola. Tapi, Madrid lebih rapi, rapat, dan efisien.

Meski hanya menguasai 48% penguasaan bola, Madrid unggul dalam jumlah peluang. Tercatat ada delapan sepakan yang menyasar gawang. Tiga diantaranya pun jadi gol. Madrid sekali lagi membuktikan, yang dibutuhkan untuk menang adalah skor akhir, bukan penguasaan bola.

Bukan itu saja catatan menarik yang terjadi di laga semalam, ada beberapa statistik dan rekor yang patut untuk dibahas. 

Tak Ada Tifo Balasan

Sebelum kick off, drama dan intrik pertandingan sudah mulai terlihat. Apalagi, saat muncul rumor bahwa fans Real Madrid akan membalas tifo atau koreo fans Manchester City. Sebelumnya, di leg pertama play off 16 besar Liga Champions, fans City berusaha menyindir Florentino Perez dan beberapa pemain Real Madrid, terutama Vinicius dengan spanduk raksasa di Etihad Stadium.

Spanduk itu bergambarkan Rodri yang sedang mencium Ballon d’Or pertamanya. Yang bikin jengkel adalah tulisannya. Mereka menggunakan salah satu judul lagu Oasis, yakni “Stop Crying Your Heart Out” Pesan ini ditujukan pada Madrid yang memang sangat rewel ketika Vini tidak terpilih menjadi pemenang Ballon d’Or 2024.

Fans Madrid pun berniat melakukan sindiran yang sama di Santiago Bernabeu. Menurut 90min, fans Madrid bahkan sudah menyiapkan spanduk khusus yang bertuliskan “Vous ne quitterez pas le Bernabéu en vie” atau yang berarti “Anda tidak akan meninggalkan Bernabeu dengan keadaan hidup” 

Namun, tifo balasan ini tidak terealisasi. Sebab, manajemen Real Madrid tidak menyetujui pesan tersebut. Alhasil, fans Madrid pun membatalkan pesan itu di menit-menit akhir sebelum kick off. Selain kata-kata yang tak pantas, manajemen El Real juga ingin menghindari kontroversi dan masalah yang lebih besar. 

Sindiran Balik Vini

Meski pada akhirnya fans Madrid tidak jadi menyiapkan tifo balasan, Vinicius Jr yang dalam beberapa hari terakhir jadi sorotan fans Manchester City pun puas dengan hasil pertandingan. Dengan jahilnya, Vini seakan membalas tifo itu melalui cuitannya di media sosial. 

Dalam postingan terbarunya itu, Vini menuliskan “Okay Okay, Okay!!!!” dengan imbuhan emoticon menangis. Meski belum bisa dipastikan bahwa itu ditujukan untuk fans City, tapi dari momennya sih, Vini ingin menyampaikan “okey, saya akan tetap menangis” tapi menangis bersama fans City. Karena pada akhirnya, Madrid yang tetap lolos ke babak berikutnya.

Mbappe Tampil Pede

Selain Vinicius, ada pemain lain yang juga layak mendapat sorotan berlebih. Siapa lagi kalau bukan Kylian Mbappe. Di pertandingan semalam, pemain yang sering disama-samakan dengan Donatello ini bermain sangat-sangat baik. Di tengah tekanan, di tengah keraguan, eks AS Monaco itu justru mencetak hattrick yang berkelas.

Dengan tiga golnya itu, Mbappe berhak membawa pulang penghargaan MOTM dan bola pertandingan. Tak cuma itu, dengan tambahan tiga gol, Mbappe sudah mengemas tujuh gol di Liga Champions musim ini. Jumlah itu menyamai idolanya, Cristiano Ronaldo pada musim 2009/10 sebagai debutan El Real dengan jumlah gol terbanyak di Liga Champions.

Khusus Mbappe, jumlah itu tentunya masih akan terus bertambah, mengingat perjalanan Madrid di UCL musim ini masih panjang. Selain menyamai rekor Ronaldo, Mbappe juga melewati rekor Lionel Messi. Semalam, Mbappe telah mencatatkan 500 kontribusi gol dan assist di sepanjang karirnya. 

Pencapaian itu terbukti jadi sejarah. Dengan demikian, ia menjadi pemain termuda yang mencapai tonggak sejarah tersebut pada usia 26 tahun dan 61 hari. Messi adalah pemegang rekor sebelumnya. Legenda Barcelona itu mencapai angka 500 kontribusi gol di usia satu bulan lebih tua dari Mbappe.

Susunan Pemain City

Kurang afdol jika hanya membahas tentang Real Madrid. Berbagai keanehan di kubu Manchester City pun akan kita bahas di sini. Pertama yang jadi perhatian adalah susunan pemain yang dipilih oleh Pep Guardiola. Dengan melawan klub sekaliber Real Madrid, Pep justru mencadangkan Erling Haaland dan Kevin De Bruyne.

Pep justru memasang duet Omar Marmoush dan Savinho saat bertandang ke Santiago Bernabeu. Sedangkan posisi gelandang, Guardiola mengandalkan pola diamond dan menjadikan Ilkay Gundogan sebagai poros permainan. Ini jadi keputusan yang cukup aneh, mengingat Haaland adalah pencetak dua gol di leg pertama.

Dilansir Daily Mail, Haaland dan De Bruyne memang masuk dalam daftar susunan pemain. Namun, keduanya sama sekali tidak mencatatkan menit bermain di pertandingan semalam. Pep beralasan bahwa kedua pemain tidak dalam kondisi fit. Haaland sudah berlatih, tapi masih ada gangguan di lututnya. sangat beresiko jika memaksakan dia tampil. Sedangkan De Bruyne masih bermasalah dengan hamstringnya.

Rekor Buruk Pep

Bagi Pep Guardiola, kekalahan ini membawanya ke catatan karir yang buruk. Kekalahan 3-1 di kandang Real Madrid membuat Pep harus merasakan gagal lolos ke babak 16 besar Liga Champions untuk pertama kali. Sebelumnya, pelatih asal Spanyol itu selalu bisa membawa tim asuhannya, baik itu Manchester City, Bayern Munchen, atau Barcelona melaju ke babak 16 besar.

Selain itu, ini juga eliminasi paling awal bagi Manchester City sejak musim 2012/13. Saat itu, City gagal lolos dari babak penyisihan grup. Tak sampai disitu saja, kekalahan tadi malam membuat City resmi mengantongi 13 kekalahan di seluruh kompetisi musim ini. Jumlah ini jadi yang terbanyak dalam satu musim di sepanjang karier kepelatihan Pep Guardiola.

Pep vs Ancelotti

Di pinggir lapangan, pertemuan antara Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti semalam juga menelurkan rekor baru. Keduanya jadi duel pelatih yang paling sering tersaji di ajang Liga Champions. Pertemuan semalam jadi duel ke-10 di antara dua pelatih tersebut. Secara hasil, Don Carlo lebih digdaya ketimbang Pep.

Pelatih berkebangsaan Italia itu catatkan enam kali menang. Sisanya, Pep Guardiola hanya menang dua kali dan imbang dua kali. Sebelum laga, Carlo bahkan sempat melempar candaan tentang rekor ini. Sambil tertawa, dirinya tetap menghormati status Pep sebagai pelatih papan atas. Dia juga senang dengan pertemuan ke-10 ini. Tapi, dirinya lelah terus-terusan menghadapi Pep.

Jika kemenangan ini jadi kemenangan keenam Ancelotti atas Pep, maka ini jadi sembilan laga tak terkalahkan Madrid di fase gugur Liga Champions. Rinciannya, Madrid mengantongi lima kemenangan dan empat hasil imbang. Catatan ini menyamai rekor terbaik mereka sendiri di periode April 2016 hingga Mei 2017.

Siapa Lawan Madrid di 16 Besar?

Jumlah laga tak terkalahkan itu masih bisa bertambah mengingat Real Madrid masih berjuang di babak 16 besar Liga Champions musim ini. Namun, harus dilihat dulu, siapa lawan mereka di laga selanjutnya. Jika mengacu pada bagan 16 besar yang sudah tersedia, maka pilihannya ada dua.

Dua tim itu adalah Atletico Madrid dan Bayer Leverkusen. Atletico Madrid jelas bukan lawan sepele. Mereka jadi tim yang merepotkan di La Liga. Terjadinya Derby Madrid di babak 16 besar UCL musim ini bisa sangat menarik. Tapi, bukan berarti melawan Leverkusen akan jadi jalur yang lebih mudah bagi El Real. Xabi Alonso pasti akan membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih. Yaaa, itung-itung caper. Biar musim depan direkrut sama Madrid.

Sumber: 90min, AS, Talksport, Daily Mail, Bola.net

Berita Bola Terbaru 19 Februari 2025 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil laga playoff UCL leg kedua, Bayern Munchen sukses melaju ke 16 besar dengan agregat 3-2, setelah bermain imbang 1-1 melawan tamunya, Celtic. Tertinggal lebih dulu di menit 63 lewat gol Nicolas Kuhn, namun akhirnya Alphonso Davies mampu menyamakan kedudukan di menit 90+4.

Sementara itu wakil Portugal, Benfica, mengikuti jejak Munchen lolos ke 16 besar dengan agregat 4-3, setelah bermain imbang 3-3 melawan tamunya AS Monaco. Masing-masing gol dari Benfica di laga ini, dilesakkan oleh Kerem Akturkoglou, Vangelis Pavlidis, dan Orkun Kokcu.

Hasil berbeda diraih wakil Italia Atalanta. La Dea harus tersingkir dari UCL setelah menelan kekalahan memalukan di markas sendiri oleh Club Brugge 1-3. Brace dari Chemsdine Talbi dan satu gol dari Ferran Jutgla, mengantarkan wakil Belgia itu melaju ke 16 besar dengan agregat 2-5.

Nasib serupa dialami wakil Italia lainnya, AC Milan, yang juga tersingkir dari UCL setelah hanya bermain imbang melawan tamunya, Feyenoord 1-1. Gol dari Santiago Gimenez di menit 1, harus puas disamakan oleh Julian Carranza di menit 73. Hasil ini membuat Rossoneri akhirnya kalah agregat 1-2.

THEO HERNANDEZ DIHINA

Tersingkirnya Milan dari UCL membuat Theo Hernandez jadi kambing hitam. Bek kiri asal Prancis itu menerima kartu merah di menit 51, dan membuat Feyenoord menyamakan kedudukan. Milan News melaporkan, berkat kejadian itu, Theo dihujat oleh fans sendiri. Tak hanya fans, legenda Milan, Zvonimir Boban di Studio Sky Sport juga menghujat kelakuan Theo. Boban menganggap kelakuan Theo itu tidak senonoh, tidak sportif, dan cenderung apatis terhadap kartu yang ia terima.

GASPERINI SEMPROT LOOKMAN

Tak hanya Theo yang dijadikan kambing hitam, pemain Atalanta asal Nigeria, Ademola Lookman pun sama. Football Italia melaporkan bahwa pelatih Atalanta, Gasperini sangat jengkel dan muak kepada Ademola Lookman setelah gagal mengeksekusi penalti di laga melawan Club Brugge. Menurut Gasperini, Lookman adalah salah satu pengambil penalti terburuk yang pernah dilihatnya. Gasperini mengaku bahwa sebenarnya ia tidak menyuruh Lookman menendang penalti tersebut, melainkan Retegui maupun De Ketelaere.

ANCELOTTI TUDUH PEP BERBOHONG

Beralih ke kabar berikutnya jelang laga playoff leg kedua, antara Real Madrid vs Manchester City. beIN Sport melaporkan, di sesi konferensi pers, Carlo Ancelotti menuduh Pep Guardiola telah berbohong soal peluang menang City hanya 1% saat melawan Madrid. Ancelotti malah menganggap perkataan Pep itu hanya strategi untuk melemahkan lawan. Ancelotti pun tak ingin kalah, ia juga mengklaim bahwa timnya juga tak yakin 99% bisa menang melawan City.

REAL MADRID INCAR IRAOLA SEBAGAI PENGGANTI ANCELOTTI

Masih kabar soal Real Madrid. Menurut laporan media Spanyol Sport, nama pelatih Bournemouth Andoni Iraola telah resmi masuk dalam daftar calon pengganti Carlo Ancelotti di Real Madrid. Iraola dipastikan akan jadi Rencana B, jika gagal meyakinkan Xabi Alonso yang merupakan Rencana A. Strategi suksesi pelatih tersebut, akan segera dijalankan oleh manajemen Los Blancos, termasuk bernegosiasi dengan sang pelatih.

WASIT MUNUERA MONTERO DICORET DARI LA LIGA

Dari kabar lainnya, wasit yang mengkartu merah Jude Bellingham yakni Jose Munuera Montero, dilaporkan oleh Relevo telah dicoret sementara oleh RFEF dan UEFA. Pihak RFEF, bahkan akan mengadakan penyelidikan terkait bisnis konsultan olahraga bernama Talentus Sports yang dimiliki oleh Montero, untuk menentukan apakah ada potensi konflik kepentingan dengan tugas profesionalnya sebagai wasit.

THOMAS FRANK HAMPIR GANTIKAN TEN HAG DI MU

Dari Spanyol, beralih ke kabar dari Inggris. Dilansir dari Goal, ada laporan yang mengungkap bahwa proses penunjukan pelatih MU pasca Ten Hag, ternyata terbelah menjadi dua kubu. Dari pihak mantan Direktur Teknis MU, Dan Ashworth, menghendaki Thomas Frank. Namun, pemilik Sir Jim Ratcliffe malah menyuruh CEO MU yang baru Omar Berrada untuk menunjuk pelatih. Berrada lalu menolak usulan Ashworth, dan akhirnya memilih Ruben Amorim.

HOJLUND DITAWAR KLUB CHAMPIONSHIP

Sementara itu, ada kabar bahwa striker MU, Rasmus Hojlund telah resmi ditawar oleh klub Championship, Leeds United. Berdasarkan laporan dari media internal Leeds United, striker asal Denmark itu telah ditawar 40 juta pounds. Klub yang berpotensi promosi ke Liga Inggris musim depan tersebut, juga telah bersedia membayar gaji Hojlund yang besarnya sekitar 78 ribu pounds per pekan.

PEMAIN NEWCASTLE PINDAH KEWARGANEGARAAN?

Berikutnya ada kabar dari pemain Newcastle, Jacob Murphy yang dilaporkan oleh The Sun kemungkinan akan berpindah kewarganegaraan. Sayap kanan The Magpies itu kini telah dibujuk untuk pindah negara dari Inggris ke Nigeria. Ia punya darah Nigeria dari sang ayah. Pelatih Timnas Nigeria, Eric Chell, bahkan telah melakukan kontak dengan Murphy untuk meyakinkannya. Fyi, Murphy masih bisa pindah ke Timnas Nigeria, karena belum pernah tampil di timnas senior Inggris.

GIROUD JADI KORBAN PERAMPOKAN DI AMERIKA

Lanjut ke kabar berikutnya yang datang dari Olivier Giroud. Get Football News France melaporkan bahwa pemain Los Angeles FC itu telah menjadi korban perampokan. Rumah Giroud di Los Angeles dibobol oleh perampok. Harta bendanya senilai hampir 500 ribu euro, raib. Menurut pihak kepolisian, kawanan perampok memecahkan jendela untuk bisa masuk ke dalam rumah Giroud. Polisi kini telah melakukan penyelidikan, tetapi belum melakukan penangkapan.

MEDIA ARAB SOROTI MISTERI CR7 KE INDONESIA

Beralih ke kabar soal kedatangan Cristiano Ronaldo ke Indonesia. Media-media Arab Saudi ikut heboh menyoroti soal kedatangan CR7 ke Kupang yang tak kunjung terjadi. Media Arab Saudi, Slaati, bahkan mengatakan bahwa perjalanan CR7 ke Indonesia adalah sebuah misteri. Media Arab Saudi lainnya, AR Press Bee, juga menilai ada keanehan perihal kepergian CR7 ke Indonesia yang tidak diumumkan oleh klubnya, Al Nassr.

STARTER, MARSELINO BAWA OXFORD MENANG

Lupakan soal kedatangan CR7, kini beralih ke kabar membanggakan dari Marselino Ferdinan yang memberikan sumbangsih bagi kemenangan Oxford United U21 atas Northampton U21 dengan skor 1-0. Ini menjadi pertandingan ketiga Lino bersama timnya. Bermain sebagai starter selama 90 menit, Lino menunjukan kelasnya. Dirinya sempat memiliki satu peluang emas untuk mencetak gol pada menit ke-59, saat aksi kerjasamanya yang apik dengan Louis Sibley.

PENGARUH JORDI AMAT DI JDT

Tak hanya Marselino saja yang unjuk gigi di klubnya, Jordi Amat pun juga sedang tampil apik bersama klubnya Johor Darul Takzim. Amat berperan bagi klubnya ketika mengunci tiket babak 16 besar Liga Champions Elite Asia, setelah mengalahkan Pohang Steelers 5-2 . Laga versus Steelers ini, adalah laga ketiga yang dilakoni Amat di Liga Champions Elite Asia. Amat sebelumnya bermain saat melawan Central Coast Mariners, dan Shanghai Shenhua. Menariknya ketika Amat bermain di tiga laga tersebut, JDT selalu menang.

RUSUH LAGA PERSELA VS PERSIJAP

Beralih ke kabar lainnya. Laga antara Persela Lamongan vs Persijap Jepara di babak delapan besar Liga 2, berlangsung ricuh. Sejumlah fasilitas stadion dirusak oleh oknum suporter yang masuk ke lapangan. Kericuhan diduga terjadi karena suporter Persela tidak puas dengan kepemimpinan wasit yang memberikan kartu merah untuk timnya, hingga timnya harus kebobolan. Imbas kerusuhan tersebut, membuat laga dihentikan pada menit ke-78, dan resmi ditunda.

Tak Disangka, Klub-klub Ini Ternyata Berafiliasi Dengan Pasukan Militer

0

Kanal berita BBC melaporkan bahwa Presiden Indonesia, Prabowo Subianto terus berusaha untuk memperluas peran militer di ranah sipil. Mulai dari melibatkan TNI dalam program nasional, hingga menunjuk anggota aktif TNI untuk jabatan sipil. Dari sini, mimin jadi kepikiran, apakah pasukan militer bisa merambah dunia sepakbola juga?

Setelah berselancar di internet, Starting Eleven menemukan fakta bahwa ada banyak campur tangan pasukan militer di dunia sepakbola. Bukan di Indonesia saja, melainkan di banyak negara-negara besar di Eropa. Bahkan, ada beberapa klub sepakbola yang memiliki hubungan erat dengan pasukan militer di negaranya. Penasaran, klub apa sajakah itu? Mari kita bahas.

CSKA Moscow – Rusia

Klub pertama yang terkenal dengan background militernya adalah CSKA Moscow. Salah satu klub tertua di Rusia itu didirikan oleh tentara Soviet pada tahun 1911. Nah, yang mungkin kalian belum tahu, apabila diartikan dalam bahasa Inggris, CSKA adalah “Central Army Sport Club” atau sederhananya, CSKA Moscow ini klub sepakbola angkatan darat Rusia.

Namun, sejak Uni Soviet mengalami perpecahan, kepemilikan CSKA dibagi menjadi dua, yakni kementerian pertahanan Rusia dan tentara nasional. Baru pada tahun 2012, menteri pertahanan Rusia terbuka untuk melepas 25% sahamnya kepada salah satu perusahaan bernama Blue Castle Enterprise. Namun, kabarnya, Blue Castle sudah angkat kaki pada tahun 2020.

Kini, CSKA dikelola oleh VEB, badan usaha pembangunan dan perusahaan investasi milik negara Rusia. Sementara secara prestasi, CSKA masih jadi salah satu tim tersukses di Negeri Beruang merah. Menurut situs Transfermarkt, CSKA mengoleksi enam gelar juara Liga Rusia, delapan Piala Rusia, 7 Piala Super dan satu gelar Piala UEFA pada musim 2004/05.

CSKA Sofia – Bulgaria

Masih ada sentuhan CSKA nya, ada CSKA Sofia. Beda dengan CSKA Moscow, CSKA Sofia tidak berbasis di Rusia, melainkan Bulgaria. Tim yang identik dengan warna merah ini sejatinya sudah didirikan pada 1923. Namun baru diakui secara resmi 15 tahun berselang. Keterlibatan Uni Soviet yang pada awal abad ke-20 menduduki Bulgaria ikut ambil bagian dalam berdirinya klub ini. 

Hingga sekarang, CSKA Sofia juga masih dikenal dengan julukan ‘The Army Men’, sama dengan CSKA Moscow. Bukan cuma julukannya, Sofia juga memiliki kiprah yang kurang lebih sama dengan Moscow. tim yang pernah dilatih Alan Pardew ini adalah klub yang bisa dibilang sukses di persepakbolaan Bulgaria. 

Mengutip situs Transfermarkt, mereka mengantongi 31 gelar juara Liga Bulgaria, 21 kali juara Piala Bulgaria, dan empat kali juara Piala Super Bulgaria. Sayangnya, Sofia tidak memiliki gelar Eropa layaknya saudara jauhnya di Rusia. Selain itu, klub ini juga menjadi tempat pemain-pemain besar Bulgaria memulai karier, antara lain Hristo Stoichkov dan Dimitar Berbatov.

FK Partizani Tirana – Albania

Bergeser ke Albania, ada FK Partizani Tirana. Klub yang lagi-lagi bernuansa merah ini didirikan 79 tahun lalu, tepatnya 1946. Dan secara historis, kental hubungannya dengan tentara Albania. Partizani juga punya pengalaman yang lumayan panjang di kancah sepakbola domestik Albania.

Klub ini pertama kali tampil dalam kompetisi resmi Albania pada tahun 1947. Menariknya, mereka langsung jadi juara di Kejuaraan Nasional Albania. Setelah itu, Tirana menjelma jadi klub yang cukup mendominasi kompetisi domestik. Meski telah mengantongi 17 gelar Liga Albania, Tirana bukan klub tersukses di Liga Albania. 

Masih ada FK Tirana, rival Partizani Tirana yang mengantongi 26 gelar Liga Albania. Lantas, bagaimana kiprah Partizani Tirana di kancah Eropa? Catatan mereka cukup buruk di Eropa. Tirana hanya mencapai ronde-ronde awal kualifikasi Liga Champions, Europa League dan Conference League lantaran kalah superior dengan tim Eropa lain.

Warriors FC – Singapura

Tak cuma di Eropa, di Asia pun tren klub sepakbola yang berasosiasi dengan tentara cukup populer. Di Singapura misalnya, ada Warriors FC. Klub yang bermarkas di Choa Chu Kang, Singapura itu didirikan pada tahun 1975. Awalnya, klub ini didirikan untuk menjadi wadah bagi para angkatan militer Singapura yang memiliki hobi bermain sepakbola. 

Di awal berdirinya Warriors FC, mereka dinamai dengan Singapore Armed Forces Football Club atau SAFFC. Meski kala itu Warriors menggunakan nama yang sangat melambangkan angkatan bersenjata Singapura, pada akhirnya mereka tidak hanya menggunakan pemain dari angkatan militer saja.

Warriors FC tetap memasukan pemain-pemain nasional Singapura dan pemain asing demi menjaga tingkat kompetitif di Liga Singapura. Sepak terjangnya di Liga Singapura pun impresif. Warriors FC sudah sembilan kali menjuarai Liga Singapura. Sayangnya, pada tahun 2019, Warriors memutuskan untuk undur diri dari Liga Singapura.

Gimcheon Sangmu FC – Korea Selatan

Di Korea Selatan pun ada klub yang serupa, mereka adalah Gimcheon Sangmu. Klub yang masih eksis hingga saat ini merupakan gabungan atau merger dari tiga klub sepakbola militer di Korea Selatan. Yang pertama adalah Army FC, lalu Marine Corps FC, dan Air Force FC. Pada 2021, nama Gimcheon Sangmu dipatenkan menjadi nama resmi setelah sempat berganti-ganti nama.

Sebelum menetap di Gimcheon Stadium, Sangmu pernah bermarkas di Gwangju, kemudian pindah ke Sangju Gyeongsangbuk-do. Awalnya, Sangmu tidak ambil bagian di kompetisi profesional Korea Selatan atau K League dan hanya bermain di turnamen semiprofesional. Namun, seiring berjalannya waktu dan diskusi panjang dengan operator liga dan pemerintah Korsel, Sangmu bisa tampil di kompetisi profesional.

Meski sudah tampil di kompetisi profesional, Sangmu memiliki aturan ketat yang tidak boleh dilanggar. Pertama, mereka tidak boleh menjual saham ke investor. Kedua, mereka tidak diizinkan berkompetisi di Liga Champions Asia meski nantinya menjuarai K League 1. Ketiga, mereka tidak diizinkan menggunakan pemain asing. Terakhir, Sangmu hanya boleh menggunakan pemain yang berstatus wajib militer atau produk akademi. Lucu juga yaaa.

MS ABDB FT – Brunei Darussalam

Peraturan yang hampir sama dengan Sangmu juga diaplikasikan oleh klub Brunei Darussalam, Royal Brunei Armed Forces Sports Council. Jika mayoritas klub di daftar ini mengizinkan pemain-pemain asing untuk ikut bermain, maka Royal Brunei tidak. Tim yang didirikan oleh militer Brunei itu memiliki komposisi tim yang mayoritas isinya prajurit aktif.

Mulai dari pemain, pelatih, pemilik, sampai ke posisi kitman sekalipun. Sekalinya ada non prajurit, ya pemain lokal. Menariknya, di tempat asalnya  Royal Brunei lebih dikenal sebagai MS ABDB FT. Sebab, nama aslinya sangat panjang. Mau dengar? Nama asli dari klub bernuansa kuning ini adalah Pasukan Bolasepak Majlis Sukan Angkatan Bersenjata Diraja Brunei. Gimana, Panjang bukan?

Secara prestasi, ABDB cukup oke. Mereka sudah mengantongi empat gelar kasta tertinggi Brunei dan delapan kali juara Piala Brunei.

Persikabo – Indonesia 

Kalau di Indonesia sih kalian sudah mengerti lah ya. Kita punya klub yang namanya Persikabo 1973. Klub ini merupakan klub yang berasosiasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Klub yang bermarkas di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, ini adalah hasil merger PS TNI dan Persikabo Kabupaten Bogor pada tahun 2020.

Awal mula terbentuknya PS TNI adalah karena ada ide untuk menggabungkan PSMS Medan dan TNI demi meramaikan Piala Jenderal Sudirman tahun 2015. Itu tak lepas dari peran Pangkostrad Edy Rahmayadi sebagai ketua umum PS TNI sekaligus pembina PSMS Medan. Tercatat ada 15 tentara, termasuk Abduh Lestaluhu dan Manahati Lestusen, yang bermain untuk PS TNI tahun 2015. 

PS TNI kemudian memisahkan diri dari PSMS setahun setelahnya. Mereka membeli lisensi klub asal Papua, Persiram Raja Ampat agar bisa ikut kompetisi profesional. ISC 2016 jadi kompetisi profesional pertama bagi PS TNI. Nah, itu adalah tujuh klub yang berafiliasi dengan tentara. Kira-kira, ada lagi nggak? Kalau ada, komen di bawah ya!

Sumber: Korea JoongAng Daily, These Football Times, Suara, VIVA Goal

Dulu Ratu Eropa, Mengapa AC Milan Kini Sengsara di Liga Champions?

0

“Para pemain saya juga melakukan kesalahan, tetapi yang harus bertanggung jawab dari kekalahan AC Milan ini adalah saya, dan bukan Theo,” ucap Sergio Conceicao usai pertandingan melawan Feyenoord. Sergio sangat kecewa dengan hasil yang diperoleh tim asuhannya di Liga Champions kemarin.

Namun, apa daya. Peluit panjang sudah dibunyikan dan Sergio harus rela timnya pulang dengan tangan kosong. Ini jadi kegagalan kesekian Milan di kompetisi Eropa. Di tahun-tahun sebelumnya pun begitu. Padahal, kita tahu bahwa Rossoneri adalah ratunya Liga Champions. 

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada sang Ratu? Mengapa mereka kini sulit untuk mengulangi prestasi itu lagi? Selengkapnya, mari kita bahas. 

Kegagalan Kesekian

AC Milan memang punya tujuh trofi Liga Champions di lemari penyimpanannya. Namun, jika dicermati lagi, itu bukan statistik yang bisa dibanggakan. Karena terakhir kali Milan juara UCL sudah lama sekali. Itu terjadi pada tahun 2007, atau setara dengan 18 tahun yang lalu. Jika diibaratkan dengan usia manusia, itu jadi usia yang memenuhi syarat untuk menjadi wali kota di Denmark.

Kala itu, dalam final yang berlangsung di Olympic Stadium, Athena, Milan berhasil mengalahkan Liverpool dengan skor 2-1. Kemenangan ini bukan hanya sekadar trofi bagi Milan, tetapi juga menjadi momen bersejarah bagi klub asal Italia itu yang berhasil mengukuhkan posisi sebagai klub tersukses kedua dalam sejarah Liga Champions.

Namun, sejak musim 2006/07 berakhir, Milan jadi klub yang tak sama lagi. Milan menjelma jadi klub yang skibidi jika bermain di kompetisi Eropa. Dengan skuad yang hampir sama, mereka bahkan hanya mencapai babak 16 besar dan dikalahkan Arsenal asuhan Arsene Wenger di Liga Champions musim 2007/08.

Milan praktis jadi tim yang jarang mentas di Liga Champions. Mereka justru lebih sering bermain di kasta kedua Eropa, yakni Europa League. Bahkan, pernah sama sekali nggak main di Eropa karena gagal tampil apik di Serie A. Turun kasta pun tak membuat mereka jadi penguasa. Di Europa League juga gitu-gitu aja. Nggak pernah juara. Mereka mulai kembali konsisten mentas di UCL lagi pada musim 2021/22. 

Gonta-ganti Pelatih

Saat kembali ke UCL, prestasi terbaiknya cuma nyampe semifinal. Itu terjadi di musim 2022/23. Sisanya? berantakan. Lolos ke babak 16 besar aja kesulitan. Contohnya saja di Liga Champions musim 2023/24. Berada di Grup F bersama PSG, Newcastle United, dan Borussia Dortmund, Milan terkapar.

Mereka hanya menempati peringkat ketiga usai kalah selisih gol dengan wakil Prancis. Lantas, apa yang menyebabkan Milan jadi seperti ini? Faktornya banyak, terlalu sering mengganti pelatih jadi salah satunya. Sejak kepergian Carlo Ancelotti pada tahun 2009, setidaknya ada 13 nama berbeda yang menjadi pelatih Milan dalam 16 tahun terakhir. 

Dari mulai Massimiliano Allegri, hingga kini ada Sergio Conceicao. Terlalu sering mengganti pemain berimbas pada pola permainan yang tak stabil. Belum juga terbentuk filosofi bermain, pelatihnya udah diganti duluan. Yang jadi masalah utama sih, bukan durasi pelatihnya ya, tapi selera manajemen Milan saat memilih pelatih. 

Pasca Ancelotti, tercatat banyak pelatih-pelatih medioker yang menjabat. Sebut saja seperti Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, hingga Filippo Inzaghi. Sebagai pemain, mereka oke lah. Legenda. Tapi, kalau sebagai pelatih ya mohon maaf. Secara pengalaman, mereka sangat minim. 

Seedorf bahkan baru kali pertama melatih klub saat ditunjuk oleh Milan untuk menggantikan Massimiliano Allegri tahun 2014. Pengalaman yang minim juga bikin mereka tak mampu mengeksplorasi taktik dan kedalaman skuad yang dimiliki.

Finansial yang Tak Stabil

Selain terlalu sering mengganti pelatih, finansial yang tidak stabil juga jadi pekerjaan rumah bagi AC Milan. Klub yang bermarkas di San Siro itu seperti terlalu berpangku tangan pada pemilik sebelumnya, Silvio Berlusconi. Di tangannya, Milan bergelimang harta. Tak mengalami kesulitan untuk mendatangkan pemain sekaliber Alessandro Nesta dan Rui Costa.

Karena terbiasa ditimang-timang Berlusconi, Milan hilang arah saat sang bos lepas tangan pada tahun 2017. Dari situ, Milan gagal mengelola keuangan mereka dengan baik. Sialnya lagi, Berlusconi justru menjual saham Milan ke tangan yang salah, yakni pengusaha nggak jelas, Yonghong Li.

Pengakuisisian Milan ini pun mengundang banyak kontroversi. Beberapa media Italia bahkan menyebut Li tidak punya uang dan hanya modal nekat dalam mengakuisisi Rossoneri. Lucunya lagi, masyarakat China juga banyak yang tidak mengenal Li sebagai pengusaha atau orang kaya.

Di era transisi inilah pembukuan Milan acakadut. Baru setahun menjabat jadi pemilik klub, Li sudah dinyatakan bangkrut. Sejumlah asetnya kedapatan tengah dijual di Taobao, Ebay versi China. Hal ini pun berdampak pada keuangan Milan. Dilansir Goal, AC Milan mengalami kerugian sebesar 126 juta euro pada tahun 2018. 

Pendapatan Milan memang mengalami peningkatan, tetapi pengeluarannya melampaui 354 juta euro. Ada kenaikan biaya hingga 22,7 persen dalam kurun waktu satu tahun. Milan pun menambah hutang dan akhirnya dilikuidasi oleh Elliot Management (EM). Tanpa uluran tangan EM, AC Milan bisa dipastikan bangkrut saat itu juga. 

Terlambat Menggunakan Dirtek

Di tangan EM, Milan mulai stabil, tapi masih sering salah mengambil keputusan. Mereka mengabaikan hal-hal yang sebetulnya fundamental bagi perkembangan tim. Seperti misalnya, saat Milan memutuskan untuk tidak menggunakan direktur teknik. 

Tidak adanya direktur teknik membuat proyek Milan tak memiliki arah yang jelas. Seharusnya, dengan adanya direktur teknik, Milan bisa menjaga benang merah proyek pengembangan klub. Mau siapapun pelatihnya, bisa mengikuti gagasan yang sudah direncanakan oleh dirtek.

Tercatat, sejak tahun 2009 hingga 2018, Milan tanpa direktur teknik. Milan baru sadar akan pentingnya dirtek adalah pada tahun 2019. Saat itu, Milan menunjuk Paolo Maldini untuk mengisi posisi tersebut. Sebelum itu, nasib Milan terombang-ambing. Main di UCL aja jarang.

Pembangunan Skuad yang Seadanya

Tapi, yang paling ketara dari situasi ini adalah penerapan rencana transfer. Salah satu yang terparah terjadi di era Vincenzo Montella. Milan menghabiskan lebih dari 186 juta euro untuk merombak skuad di musim panas 2017. 

Menurut data Transfermarkt, AC Milan saat itu mendatangkan sekitar 10 pemain. Mereka adalah Mateo Musacchio, Franck Kessie, Ricardo Rodriguez, Andre Silva, Fabio Borini, Hakan Calhanoglu, Antonio Donnarumma, Andrea Conti, Lucas Biglia, bahkan Leonardo Bonucci yang dibajak dari Juventus.

Milan hanya berfokus pada tambal sulam saja. Tidak memperhatikan kualitas sang pemain akan cocok atau tidak dengan kebutuhan tim saat itu. Sekarang lihat, tak ada satu pun pemain itu yang bertahan di Milan hingga sekarang. Tindakan impulsif ini justru menyeret Milan ke masalah yang lebih besar. 

Konflik Internal

AC Milan dibanned dari kompetisi Europa League musim 2019/20 karena terjerat kasus financial fair play. Tak berhenti di situ, kasus itu membuat sponsor Milan pada kabur. Sponsor apparel mereka, Adidas, memutus kontrak. Adidas memberikan keterangan resmi bahwa mereka sudah jengah dengan kondisi Milan. 

Adidas juga sudah muak dengan jajaran manajemen Milan yang semakin ngelantur. Hal yang berusaha disampaikan oleh Adidas ini memang benar adanya. Sebab, manajemen Milan dikenal kerap berkonflik. Contohnya saat Zvonimir Boban dan Paolo Maldini dikabarkan tidak bisa bekerja bebas karena otoritasnya benar-benar dibatasi.

Ivan Gazidis yang kala itu masih menjabat sebagai chairman di Milan, diketahui tak suka dengan dengan perkembangan Milan di bawah Stefano Pioli, pelatih pilihan Maldini dan Boban. 

Konflik ini berujung dengan pemecatan Boban tahun 2020 usai dirinya mengkritik Gazidis di hadapan media. Milan memang cukup sering mengglorifikasi sebuah gesekan yang terjadi. Sampai pada akhirnya, serangkaian masalah ini justru jadi penghambat laju Milan di Eropa.

Sumber: ESPN, Sempre Milan, BBC, Fotmob