Beranda blog Halaman 387

Ben Arfa dan Kesombongan yang Menghancurkan Karirnya

0

Ada lebih dari selusin pemain di seluruh dunia yang menyandang julukan The Next Messi. Namun, tak ada satu pun pemain yang mampu melebihi kemampuan dan kebintangan kapten Timnas Argentina itu. Termasuk mantan punggawa Timnas Prancis, Hatem Ben Arfa.

Gelandang serang yang ngetren di pertengahan tahun 2000-an ini digadang-gadang bakal menyamai level Messi suatu saat nanti. Namun, Ben Arfa tak pernah mencapai level tersebut. Ia justru mengalami penurunan karir yang tajam setelah hengkang dari Newcastle United pada tahun 2010. Lantas, apa yang membuat karir Ben Arfa tak pernah mencapai titik maksimal?

Generasi Emas Prancis

Hatem Ben Arfa bukan orang sembarangan. Di usianya yang kala itu masih 17 tahun, Ben Arfa sudah melakoni debut profesional di klub sekelas Lyon pada tahun 2004. Namun, sebelum debutnya itu, ia sudah menjadi sorotan kala membantu Timnas Prancis U-17 memenangkan Euro U-17 beberapa bulan sebelumnya.

Ben Arfa tergabung dalam generasi emas Timnas Prancis yang kala itu berisikan pemain macam Samir Nasri, Jeremy Menez, hingga Karim Benzema. Keempatnya digembar-gemborkan bakal menjadi wajah masa depan skuad Les Blues. Sayangnya, generasi ini dianggap terkutuk. Sebab dari keempatnya tak ada yang bertahan di level tertinggi dan masuk skuad juara dunia Prancis tahun 2018.

Setelah melakoni debutnya bersama Lyon, Ben Arfa menjadi salah satu pemain muda paling dibicarakan. Pada awalnya, ia berjuang untuk mengamankan satu posisi utama di skuad Lyon yang mendominasi Ligue 1 saat itu. Lyon mendominasi dengan memenangkan tujuh trofi berturut-turut sejak 2002 hingga 2008.

Musim pembuktian Ben Arfa terjadi pada musim 2007/08 saat Florent Malouda bergabung ke Chelsea. Ia memanfaatkan kepergian Malouda untuk mendapatkan lebih banyak menit bermain guna menunjukan kemampuan sesungguhnya. Selama musim terakhirnya di Lyon, ia terlibat dalam 11 gol di Ligue 1. Berkat penampilannya itu, ia memenangkan penghargaan pemain muda terbaik di musim tersebut.

Keluar Sifat Aslinya

Rangkaian pencapaian yang luar biasa di usia muda membuat Ben Arfa bergabung ke klub asal Prancis lainnya, Marseille pada awal musim 2008/09. Bersama Les Phocéens, permainannya kian matang. Ia bahkan membantu tim untuk menjuarai Liga Prancis musim 2009/10. Namun, di sinilah sifat aslinya mulai terlihat. 

Sifat angkuh dan star syndrom Ben Arfa muncul. Ia merasa kalau dirinya lah yang terbaik di lapangan. Sikapnya itu membuat suasana ruang ganti jadi tidak kondusif. Ben Arfa juga kerap tak mendengar instruksi pelatih karena merasa punya kendali penuh atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia tak memiliki hubungan baik dengan pelatih Marseille saat itu, Didier Deschamps.

Setelah bersitegang dengan Deschamps, Ben Arfa mulai tersisih dari skuad Marseille. Akhirnya klub membuka pintu untuk tim lain yang berminat menggunakan jasa sang pemain. Pada Agustus 2010, Newcastle United sepakat meminjam Ben Arfa untuk semusim penuh. Namun, kontrak tersebut direvisi pada Januari 2011 menjadi transfer permanen dengan durasi hingga empat tahun ke depan.

Membaik Tapi Tetap Bermasalah

Bergabung ke Newcastle penampilannya kian meroket. Bisa dibilang ini adalah puncak karirnya dalam sepakbola. Ben Arfa tak cuma bisa bermain sebagai pemain sayap, tapi juga mengatur alur di belakang penyerang. Selama berseragam The Magpies, Ben Arfa bermain 86 kali dan mencetak 14 gol serta 15 assist

Selain itu, Ben Arfa juga menjadi pemain paling jago dribbling di Inggris. Ia menyelesaikan 4,15 dribble per 90 menit dan itu jadi yang terbaik di Liga Inggris. Untuk catatan tersebut ia bahkan mengalahkan Eden Hazard, Raheem Sterling, dan Luis Suarez. Kita semua disuguhkan penampilannya yang menawan di setiap pertandingan.

Ben Arfa memberikan banyak momen luar biasa yang hidup dalam cerita rakyat Newcastle dan akan terus dikenang untuk waktu yang lama. Apalagi gol-gol spektakulernya melawan Bolton, Blackburn, Everton, dan sebagainya. Namun, penampilan gemilangnya tercoreng setelah sang pemain kembali bermasalah dengan pelatihnya.

Kali ini Ben Arfa berselisih dengan Alan Pardew. Namun, pihak klub berusaha menutupi kasus ini dengan hukuman denda yang aneh. Klub menghukumnya dengan larangan bermain dan sejumlah denda dengan alasan Ben Arfa kelebihan berat badan. Padahal itu akal-akalan klub aja karena Pardew sudah enggan memakai jasa sang pemain lagi. 

Pengakuan dari Sang Agen

Di tengah gelagat Newcastle yang sudah nggak mau memainkannya lagi, Ben Arfa justru ngotot ingin bertahan. Karena ia merasa nyaman dan bisa mencapai potensi maksimalnya ketika bermain di Inggris. Klub yang bermurah hati pun akhirnya hanya meminjamkan sang pemain ke Hull City. Namun, itu tampaknya ide yang buruk bagi kedua belah pihak.

Bukannya sadar diri dan memperbaiki sikap, Ben Arfa justru kembali bersitegang dengan pelatih Hull City, Steve Bruce. Kabarnya, baru beberapa bulan saja pelatih Hull sudah muak dengan sifat congkak dan selalu ingin diperlakukan istimewa dari Ben Arfa. Dan itu diakui oleh mantan agennya, Frederic Guerra.

Kepada Goal Guerra pernah merinci mengapa ia merasa Hatem Ben Arfa selalu bermasalah dengan pelatihnya. Menurutnya, Ben Arfa merupakan pemain yang malas dan memiliki kepribadian buruk. 

Guerra bahkan menyebut sang pemain sebagai pribadi yang tak memiliki filter di mulutnya. Ia akan mengeluarkan kata-kata tanpa memikirkan efeknya. Itulah yang membuat Ben Arfa tak disukai di ruang ganti. Sang agen juga membandingkannya dengan Benzema, pemain seangkatannya yang mau bekerja lebih keras dan mencapai kesuksesan lebih cepat daripada dirinya.

Guerra menambahkan kalau ini merupakan masalah psikologis Ben Arfa sejak kecil. Dia adalah sosok yang besar kepala dan selalu ingin dilayani bak seorang raja. Sewaktu masih muda, Ben Arfa selalu bisa mendapatkan apa yang ia mau tanpa harus susah payah bekerja terlebih dahulu. Agennya percaya kalau Ben Arfa memiliki bakat yang luar biasa. Tapi jika tak diimbangi dengan sikap dan kedisiplinan yang baik itu hanya omong kosong.

Si Paling Nganggur

Setelah rangkaian permasalahan dengan pelatih di Liga Inggris, situasi Ben Arfa kian rumit. Pasalnya Newcastle dan Hull City tak mau menampungnya lagi. Alhasil The Magpies memutus kontraknya pada Januari 2015. Setelah kontraknya tak diperpanjang, Ben Arfa sempat nganggur selama enam bulan sebelum akhirnya mendapatkan kontrak dari Nice.

Ketika bermain di Nice, beberapa pengamat bola memandang Ben Arfa sebagai pemain yang sedang membangun kembali reputasinya di kampung halaman. Bahkan berkat 17 gol dan enam assist-nya di Nice ia diangkut oleh raksasa Prancis, Paris Saint-Germain Juli 2016. Namun, lagi-lagi ia tak bisa mengontrol mulutnya. 

Candaan tak sopan kepada Nasser Al-Khelaifi membuat presiden klub itu marah besar. Sebagai hukuman, Nasser menyuruh Unai Emery, pelatih PSG saat itu untuk tidak memainkannya lagi. Akhirnya Ben Arfa pun nggak main sama sekali di musim 2017/18. 

Setelah konflik itu, Ben Arfa kembali nganggur lalu dapat kontrak jangka pendek dari klub lokal. Tapi kelakuannya membuat sang pemain tak bertahan lama dan akhirnya nganggur lagi. Begitu terus sampai sekarang.

https://youtu.be/MzTiUqeIXi0

Sumber: The Analyst, Goal, Daily Mail, Panditfootball

Kegagalan Proyek British Core Arsenal Era Arsene Wenger

0

Mantan bek Arsenal, Gael Clichy kesal betul pada Arsene Wenger. Ia tidak pernah menyangka bahwa The Gunners akan mengkhianatinya. Proyek British Core yang dicanangkan Wenger mendorongnya untuk pergi ke Manchester City.

Padahal Clichy memegang peran penting di skuad The Gunners, terutama dalam merajut kisah “Invincible” pada musim 2003/04. Tapi apalah hendak dikata, rencana British Core atau mengandalkan pemain asli Britania Raya yang digagas Arsene Wenger tak bisa diganggu gugat.

Clichy sendiri orang Prancis, jadi ia tak masuk proyek tersebut. Saat itu memang situasi klub sedang ingin mempromosikan pemain Inggris. Namun, proyek British Core tak selamanya mulus. Bahkan pada gilirannya, generasi yang disebut dalam proyek British Core lenyap.

Arsenal yang Dibangun Dengan Cara Prancis

Walaupun mengantarkan Arsenal ke tangga kejayaan, tapi Sang Profesor dikritik habis-habisan. Arsenal besutan Arsene Wenger dianggap kurang mengakomodir para pemain dari Britania Raya. Banyak dari pemain lokal tidak ambil bagian di skuad Wenger.

Dapat dipahami ketika Wenger kembali membentuk Arsenal, ia tak pernah berpikir untuk menjadikan pemain dari Britania Raya sebagai senjata utama. Arsene Wenger justru merakit Tim Gudang Senjata dengan cara yang sangat Prancis sekali.

Sejak menangani Arsenal tahun 1996, Arsene Wenger mengangkut para talenta dari Negeri Napoleon. Emmanuel Petit, Nicolas Anelka, Gilles Grimandi, sampai Patrick Vieira semuanya diangkut. Bahkan ke-Prancis-an Arsenal sampai pula ketika Prancis juara dunia.

Tahun 1998, saat tim yang masih diperkuat Didier Deschamps sebagai pemain meraih trofi Piala Dunia, tak sedikit surat kabar yang mengatakan bahwa “Arsenal Juara Piala Dunia”. Itu lantaran Arsenal, sekali lagi, dibentuk oleh Wenger dengan susunan yang amat sangat Prancis.

Tidak Memakai Pemain Inggris Sama Sekali

Meskipun dikenal banyak menggunakan pemain Prancis, tapi Arsene Wenger juga mempercayai pemain dari luar Prancis. Namun, tetap saja, pada sekitar tahun 2005, Wenger masih belum melirik talenta dari Britania Raya. Bahkan Arsenal besutan Wenger pernah bermain tanpa pemain Inggris satu pun.

Pada Hari Valentine tahun 2005, Arsenal menghadapi Crystal Palace. Laga yang akhirnya dimenangi Arsenal 5-1 itu blas tidak ada satu pun peran dari pemain Britania Raya. Wenger kala itu memakai seluruh pemain dari luar negeri, termasuk para pemain cadangannya.

Selain pemain-pemain Prancis seperti Robert Pires, Thierry Henry, Pascal Cygan, sampai Gael Clichy, Wenger juga memasukkan pemain dari negara lain. Sebutlah Dennis Bergkamp, Jens Lehmann, Edu Gaspar, Lauren Mayer, Kolo Toure, sampai Jose Antonio Reyes dan Manuel Almunia.

Barangkali Arsene Wenger tidak memakai pemain Inggris karena tim nasionalnya sepi prestasi. Setelah menjadi juara dunia tahun 1966, nyaris tidak ada sejarah soal pemain Inggris yang pergi ke luar negeri dan meraup kesuksesan, umpamanya menjadi pahlawan di tim di negara lain.

Minimnya pemain Inggris juga membuat Arsenal dikritik. Tahun 2005, Arsenal yang tidak memakai pemain Inggris apalagi menjadikannya sebagai tulang punggung, justru disebut oleh media ternama Inggris sebagai “Arsenal’s United Nations”.

Arsene Wenger Mulai Menyadari

Butuh waktu lumayan lama untuk Wenger menyadari perlunya menghadirkan pemain Inggris dalam skuadnya. Pada satu titik, mantan manajer Nagoya Grampus itu mengakui warisan dan permainan Inggris dalam sejarahnya. Ia juga tak bisa menampik fakta kalau Arsenal adalah klub Inggris. Dengan begitu, Arsenal wajib memberi sumbangsih pada Inggris.

Maka pada awal tahun 2010, gagasan British Core mulai muncul. Anak-anak yang lahir dan besar di Inggris mulai disekolahkan di akademi sepak bola Arsenal. Tak butuh waktu bertahun-tahun lamanya, The Gunners akhirnya bisa menjaring talenta-talenta dari Britania Raya.

Ibarat nelayan yang menebar jala. Bakat hebat Britania Raya yang akhirnya mulai menampakkan batang hidungnya. Ada lima pemuda yang disebut-sebut buah dari proyek British Core Wenger. Kelima pemuda itu adalah Kieran Gibbs, Jack Wilshere, Carl Jenkinson, Alex Oxlade-Chamberlain, dan Aaron Ramsey.

Tahun 2012, ketika bursa transfer musim dingin,lima pemain dari Britania Raya itu diperpanjang kontraknya oleh Arsenal. Kelima pemain tersebut diyakini akan menjadi talenta dari Britania Raya yang paling menjanjikan.

Langkah tersebut juga merupakan upaya Arsene Wenger untuk menepis prasangka bahwa ia mengabaikan pemain dari Britania Raya. Lewat British Core tersebut, Wenger ingin memperlihatkan bahwa ia juga mempercayai pemain Britania Raya menjadi tulang punggung.

“Saya percaya, jika memiliki pemain Inggris di tim inti, selalu lebih mudah untuk menjaganya bersama. Kami senang lima pemuda ini menandatangani kontrak jangka panjang,” kata Arsene Wenger dikutip Sky Sports.

Proyek yang Gagal

Langkah yang diambil Wenger itu diinginkan banyak orang. Sebagian besar berharap proyek British Core bisa menjadi tambahan kekuatan untuk tim. Sekilas harapan itu bakal segera terwujud. Jack Wilshere dan Aaron Ramsey disebut-sebut yang paling mapan dan progresif di tim utama.

Namun, pemain lain seperti Kieran Gibbs masih tertinggal dari dua pemain tersebut. Jenkinson dan Chamberlain yang masih muda juga butuh waktu lebih lama untuk mengejar ketertinggalan. Ironisnya, yang terjadi kelima pemain tersebut justru lambat laun hilang dari Starting XI Arsenal.

Nasib Wilshere dan Ramsey

Jack Wilshere yang dianggap punya pemahaman taktis yang luar biasa malah dipinjamkan ke Bournemouth. Ia memang masih pemain permanen Arsenal, tapi dengan dipinjamkan ke klub lain menandakan bahwa Wilshere tak lagi dibutuhkan.

Ketika dipinjamkan ke Bournemouth itu, penampilan Wilshere sebelumnya memang mengalami penurunan. Wilshere mengakui bahwa cedera yang mengakibatkan performanya menurun. Padahal andai sedang fit, Wilshere bisa diandalkan karena kreativitasnya di lini tengah.

Ketika mencoba merajut ulang kariernya yang tampak medioker selama di Bournemouth, ia benar-benar banyak dibekap cedera. Bahkan tatkala Wilshere hanya bermain di tim Arsenal U23. Wilshere akhirnya dilepas tahun 2018. Ia kembali lagi ke Arsenal dan menjadi pelatih tim U18.

Sementara karier Ramsey terlihat sangat cerah di Emirates. Musim 2013/14 menunjukkan betapa fantastisnya pemain yang satu ini. Sayang, lagi-lagi cedera jadi momok. Masalah kebugaran membuatnya keluar dari daftar pemain reguler Arsenal. Saat Ramsey dianggap bakal bertahan lama, ia justru dilepas pada 2019 ke Juventus.

Jenkinson, Gibbs, dan Chamberlain

Begitu pula Gibbs. Setelah diperpanjang kontraknya pada 2012, Gibbs memiliki karier yang bagus di skuad utama, terutama di posisi bek kiri. Namun, kehadiran Nacho Monreal menyodok posisinya. Semenjak kehadirannya, Gibbs malah sering menghuni bangku cadangan.

Ia tetap setia di klub, tapi Arsenal justru melepasnya ke West Bromwich Albion tahun 2017. Benar, saat masih dilatih Wenger. Jenkinson juga bernasib sial. Usai diperpanjang tahun 2012, ia justru menghabiskan waktunya sebagai pemain pinjaman, dari West Ham ke Birmingham.

Ketika pulang ke Arsenal, ia menjadi pelapis Hector Bellerin. Namun, saat Bellerin cedera, ia justru sudah sangat menurun. Dengan cepat bek tengah baru seperti Gabriel menyita posisinya di Arsenal. Tahun 2019 ia dilepas ke Nottingham Forest dan kini justru nyangkut di tim Australia, Newcastle Jets.

Lalu Chamberlain adalah proyek British Core yang pada tahun Agusturs 2011 dibeli dari Southampton, dan kontraknya ikut diperpanjang. Chamberlain langsung jadi idola publik Emirates.

Akan tetapi, ia justru mengalami stagnasi karier selama berseragam The Gunners. Ia gagal menciptakan langkah besar. Tidak konsisten sama seperti pendahulunya, Theo Walcott. Chamberlain yang akhirnya dilepas ke Liverpool jadi penanda kehancuran proyek British Core.

https://youtu.be/N_OlQ_BhbwM

Sumber: OnlineGooner, PanditFootball, OnlineArsenal, JustArsenal, Football-Tribe, TheShortfuse, BR, Independent

Berita Bola Terbaru 7 Maret 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL LIGA INGGRIS: BRENTFORD TEKUK FULHAM

Bertanding di Gtech Community Stadium, tuan rumah Brentford berhasil mendulang kemenangan dengan skor 3-2 atas Fulham. Ketiga gol Brentford dicetak oleh Ethan Pinnock di menit ke-6, Ivan Toney menit 53, dan Mathias Jensen menit 85. Sementara Fulham hanya mampu membalas via Manor Solomon pada menit ke-39 dan Carlos Vinicius masa injury time. Dengan hasil ini, Brentford makin memperkukuh posisi di urutan kesembilan dengan koleksi 38 poin. Sementara Fulham terpaku di peringkat ketujuh dengan raihan 39 poin.

CEDERA ENGKEL, NEYMAR ABSEN 3-4 BULAN

Neymar menuntaskan musim 2022/23 lebih cepat. Sebab penyerang Paris Saint-Germain itu harus menjalani operasi untuk memperbaiki kerusakan pada otot ligamen engkel kanannya.  Operasi akan dilakukan di Doha, Qatar, dan setelahnya Neymar harus beristirahat selama minimal tiga bulan, atau sampai bulan Juni, dimana kompetisi sepakbola sudah pada berakhir.

KELAKUAN BRUNO FERNANDES DORONG HAKIM GARIS LOLOS DARI SANKSI FA

Bruno Fernandes lolos dari sanksi federasi sepak bola (FA) usai terlibat insiden dengan asisten wasit Adam Nunn. Hal itu terjadi ketika Liverpool bantai MU 7-0 di Anfield. Kapten MU itu kedapatan dorong wasit pada paruh kedua. Sementara, FA dapat mengambil tindakan disipliner retrospektif jika seorang pemain melakukan pelanggaran yang ‘tidak terlihat’ oleh ofisial pertandingan. Tapi, ofisial pertandingan tidak mengambil tindakan formal apapun soal kejadian tersebut. Mereka memutuskan untuk tidak memasukkannya ke dalam laporan.

BRUNO FERNANDES DIMINTA COPOT BAN KAPTEN MU

Usai pembantaian 0-7 di markas Liverpool, Bruno Fernandes dikabarkan mendapat penolakan keras untuk memegang posisi ban kapten permanen di Manchester United. Bruno Fernandes disebut tidak menunjukkan sikap dan pola pikir yang matang sebagai kapten. Selain fans, dua mantan kapten United, Gary Neville dan Roy Keane, juga menjadi pihak yang meminta MU mencopot ban kapten Brunos. Keduanya menilai kelakuan dan bahasa tubuh Bruno sangat memalukan dalam laga versus Liverpool.

DIBANTAI LIVERPOOL, LUKE SHAW: SANGAT MEMALUKAN DAN MENYAKITKAN

Pemain Manchester United, Luke Shaw, mengaku ia dan rekan-rekannya sangat malu dengan hasil pertandingan di Anfield Stadium. Mereka kebobolan enam gol di babak kedua, setelah satu gol di babak pertama. Shaw mewakili para pemain MU hanya bisa menyampaikan permohonan maaf kepada fans atas penampilan buruk mereka, terutama di babak kedua.

POLISI TANGKAP PENYERBU LAPANGAN DI LAGA LIVERPOOL VS MU

Penyerbu lapangan di stadion Anfield kini telah ditangkap polisi. Seorang bocil laki-laki berusia 16 tahun dari Winsford kini telah ditangkap karena dicurigai melanggar batas lapangan sepak bola. Dia dijadwalkan untuk secara sukarela menghadiri kantor polisi di Merseyside terkait insiden ini. Dalam keteranganNya, Liverpool mengatakan bocah itu akan dilarang menghadiri sepakbola di Anfield seumur hidup.

XAVI HERNANDEZ RESMI PECAHKAN REKOR PEP GUARDIOLA DI LALIGA!

Pelatih Barcelona Xavi Hernandez baru saja mematahkan rekor Pep Guardiola dalam hal persentase kemenangan yang diraih Barcelona di La Liga. Football Espana menyebut jika dalam 50 laga, Xavi mampu bukukan 47 kemenangan dan mengepak 118 poin. Sementara di laga yang bersamaan, Pep hanya mampu membukukan 117 poin bagi Azulgrana. Catatannya hanya kalah dari Luis Enrique yang mampu mendulang 127 poin dari 50 pertandingan.

PEDRI PULIH LEBIH CEPAT DARI YANG DIPERKIRAKAN

Bintang muda Barcelona Pedri dilaporkan dapat kembali bugar lebih cepat dari perkiraan awal. Awalnya, Pedri baru bisa fit dari cedera paha setelah jeda internasional pada bulan ini. Tetapi kabar dari Football Espana menyatakan, Pedri berpeluang memperkuat Blaugrana dalam perjalanan ke markas Athletic Bilbao dalam laga lanjutan La Liga Spanyol akhir pekan ini.

PULISIC COMEBACK, MAIN LAWAN DORTMUND

Setelah lebih dari dua bulan menepi akibat cedera lutut, Christian Pulisic akan kembali mengenakan seragam Chelsea di leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Borussia Dortmund. Bos the Blues, Graham Potter, mengonfirmasi dalam konferensi pers pra pertandingan bahwa bintang timnas AS itu masuk skuat untuk pertandingan melawan mantan klubnya. 

MESSI OPTIMIS PSG MAMPU BALIKKAN KEADAAN LAWAN BAYERN

PSG harus membalikkan ketertinggalan 0-1 pada leg pertama atas Bayern Munchen di Liga Champions. Bintang Les Parisiens yakni Lionel Messi memberikan pandangannya atas duel tersebut dan ia meyakini detail-detail kecil bakal menjadi faktor pembeda bagi timnya. Messi mengaku optimis peluang timnya untuk lolos ke babak selanjutnya. Eks Barcelona mengutarakan para rekan-rekannya sudah siap dan pede untuk menyingkirkan Bayern.

BELLINGHAM LEMPAR KODE, RAYAKAN KEMENANGAN 7-0 LIVERPOOL ATAS MU

Gelandang muda Borussia Dortmund, Jude Bellingham, secara tersirat menunjukkan dirinya ikut senang dengan hasil itu. Dia menyukai postingan terbaru Trent Alexander-Arnold terkait kemenangan 7-0 Liverpool atas MU. Hal itu juga membuat Bellingham dianggap sedang melempar kode di tengah rumornya ke Liverpool. Pemain berusia 19 tahun itu memang menjadi target utama Liverpool di bursa transfer mendatang.

FIFA SOROTI KEUANGAN INTER MILAN

Kondisi keuangan Inter Milan kini jadi sorotan FIFA. Anggota Dewan FIFA Evelina Christillin menyatakan ada keraguan atas soliditas keuangan klub. Evelina Christillin menyatakan ada beberapa keraguan atas soliditas keuangan Inter Milan dan mengharapkan mereka tetap di giuseppe meazza daripada membangun stadion baru. Seperti diketahui, Nerazzurri telah merencanakan untuk membangun arena baru di kota dengan tetangga AC Milan selama beberapa tahun

MIRIS! ISCO PUTUSKAN MENARIK DIRI DARI BURSA TRANSFER DAN PILIH MENGANGGUR

Mantan bintang Real Madrid, Isco memutuskan untuk menarik diri dari bursa transfer pemain. Keputusan ini diambil setelah dia kesulitan mendapatkan klub baru setelah dilepas Sevilla. Sementara Isco memilih menganggur saat ini, pemilik 246 caps untuk Madrid itu akan menanti jendela transfer musim panas mendatang untuk melihat klub mana yang masih tertarik menggunakan jasanya.

SYARAT INDONESIA LOLOS KE PEREMPATFINAL PIALA ASIA U20 2023

Seluruh negara di Grup A Piala Asia U-20 2023, termasuk Indonesia, masih memiliki kans lolos ke perempatfinal. Indonesia lolos ke delapan besar jika menang minimal selisih 2 gol atas uzbekistan apapun hasil Irak vs Suriah. Kemudian Menang satu gol atas Uzbekistan dan Irak gagal mengalahkan Suriah. Selain berbagai kemungkinan tersebut, ada skenario lain yang bakal membawa Indonesia ke perempat final Piala Asia U-20 2023. Hasil imbang kontra Uzbekistan bisa cukup, asalkan Irak dikalahkan Suriah.

BERNATAS MATCH FIXING, ERICK THOHIR DIMODALI FIFA ALAT DETEKSI CANGGIH

Ketua PSSI, Erick Thohir mengatakan bahwa FIFA akan memberikan alat pendeteksi dugaan pengaturan skor yang terhubung dengan handphone-nya dalam waktu dekat. Cara kerja alat pendeteksi match fixing itu, kata Erick Thohir, akan memberikan penanda dalam tiga warna meliputi kuning, merah, dan hijau. “Namun, bukan berarti merah telah terjadi pengaturan skor. Itu akan diinvestigasi. Terima kasih ke FIFA. Memangnya kita bisa bikin sistem seperti itu? Enggak ngerti,” ujarnya.

Harusnya MU Bangkit Kalau Melihat Catatan Pembantaian Ini

Sudahi kesedihanmu wahai para fans MU. Nangis boleh, tapi sebentar saja. Janganlah terlalu lama termurung dalam goa. Kekalahan memalukan dari Liverpool itu hanyalah satu pertandingan. Itu hanya bernilai tiga poin, tidak lebih. Artinya, masih banyak pertandingan yang harus dijalani dengan penuh tekad. Tentu saja, demi impian meraih tsunami trofi.

Kini, alangkah baiknya menyusun siasat untuk bangkit dari pelecehan tragis 7-0 itu. Toh, bagi Red Devils, secara catatan sejarah terbukti ampuh kalau masalah kebangkitan mental. Hal itu terbukti dari beberapa pembantaian yang dialami sang setan selama ini. Dimana mereka selalu bangkit dari keterpurukan itu.

Pasca Dibantai Liverpool 1-4 (2009)

Di tahun 2009, MU sudah pernah dibantai Liverpool di Old Trafford dengan skor 1-4. Ketika itu MU masih berada pada masa kejayaan mereka di tangan Sir Alex Ferguson. The Reds pergi ke Old Trafford menantang sang juara bertahan Liga Inggris waktu itu. Namun diluar dugaan, Liverpool tiba-tiba tampil mengejutkan.

Tetapi setelah kekalahan memalukan itu, MU justru bangkit. Fergie selalu bilang ke anak asuhnya bahwa “kita harus selalu bereaksi dengan cepat untuk bangkit, dan itu adalah hal yang harus selalu ada dalam diri kita” Kata Fergie setelah kekalahan itu.

Hasilnya terbukti, MU bangkit di laga lanjutan Liga inggris berikutnya, bahkan hingga akhir musim. Dengan catatan 8 kali menang, 1 kali seri, dan 1 kali kalah. Berkat itu, mereka akhirnya mampu kembali menjadi juara Liga Inggris.

Pasca Dibantai City 1-6 (2011)

Pembantaian berikutnya terjadi di 2011. Masih di tempat yang sama Old Trafford. Siapa yang ingat Balotelli dengan kaos bertuliskan “Why Always Me?” Ya, itulah momen menyedihkan si iblis merah ketika dilecehkan oleh tetangga berisiknya Manchester City dengan skor 1-6.

Pembantaian tersebut masih di jaman Fergie. Kekalahan tragis MU itu pun diakui Fergie sendiri sebagai kekalahan memalukan dalam sejarah karir kepelatihannya.

Meski kalah telak, tapi Fergie tetap yakin anak asuhnya akan bangkit dan kembali berusaha mendekati City yang sedang berada di puncak klasemen. “Kami akan kembali. Kami akan kembali ke jalur juara” kata Fergie setelah laga itu.

Dan terbukti hasilnya, setelah pembantaian itu mereka tak terkalahkan dalam 9 laga di Liga Inggris. Tapi hasil itu tak cukup membawa United mempertahankan mahkota Liga Inggris. Karena di pekan terakhir gelar mereka direbut paksa oleh tetangga kurang ajar yang sudah membantainya itu.

Pasca Dibantai Liverpool dan City 0-3 (2014)

Begitupun yang terjadi di jaman pelatih “Lord Moyes”. Pembantaian itu terjadi dua kali oleh City dan Liverpool. Bahkan terjadi di bulan yang sama yakni Maret 2014. Ketika itu dua kali Old Trafford jadi “lapangan latihan” bagi City dan Liverpool. Liverpool dan City kompak membantai MU dengan skor yang sama 0-3.

Tapi, dua kekalahan yang mencoreng harga diri Theater of Dream itu, mampu dibalas di laga berikutnya. Sebagai contoh, sesudah dibantai Liverpool, pasukan Moyes bangkit dan menang atas West Ham 2-0.

Begitupun setelah dibantai City. Mereka bangkit dan tak tanggung-tanggung membantai dua lawan berikutnya yakni Aston Villa 4-1 dan Newcastle 4-0.

Namun sayang, Comeback dari pembantaian itu tak berlangsung lama. Musim itu mereka sering bangkit dan sering pula tersungkur kembali. Sampai akhirnya MU hanya sanggup finis di peringkat 7 klasemen, dan puncaknya, Moyes pun dipecat.

Pasca Dibantai Spurs 1-6 (2020)

Pembantaian di Old Trafford juga terjadi di jaman Ole Gunnar Solskjaer. Dimana mereka dipermalukan Tottenham Hotspurs 1-6. Skor mencolok itu terjadi di zaman The Lilywhites masih dilatih mantan juru taktik MU Jose Mourinho.

Laga tersebut diwarnai blunder dan kartu merah bagi Red Devils. Sampai akhirnya Spurs memanfaatkannya untuk membungkam seantero Old Trafford. Sang juru taktik Ole Gunnar Solskjaer pun mencoba membangkitkan mental anak asuhnya dengan cara berkaca pada pembantaian yang pernah dialami MU dulu di jaman Fergie.

“Saya mengakui ini hal terburuk dalam karir saya, namun ini bukan hari yang terburuk. Kita belajar dari hal terdahulu, bahwa kita mampu cepat bangkit”. Kata Ole pasca laga.

Benar saja, semangat Ole itu akhirnya mujarab. MU sejak pembantaian Oktober 2020 itu, hanya kalah 4 kali sampai akhir musim. Bahkan di laga setelah itu, MU balik membantai Newcastle 4-1. Berkat kebangkitan itu, akhirnya Ole mampu membawa setan merah finish sebagai runner up Liga Inggris.

Pasca Dibantai Liverpool 0-5 dan City 1-4 (2021/22)

Tak hanya itu pembantaian di jaman Ole. Liverpool juga pernah datang mengobrak-abrik seisi Old Trafford dengan kemenangan 0-5 pada bulan Oktober 2021. Laga yang diwarnai para suporter MU yang pulang duluan sebelum laga usai itu, menjadi aib. Karena sebelumnya, MU belum pernah kalah sebanyak itu oleh Liverpool.

Akan tetapi, MU tetap bangkit setelah itu. Ole kembali sukses membangkitkan mental anak asuhnya. Dilansir Manchester Evening News, Ole rupanya sangat kesal dengan skuadnya dan sempat menahan anak asuhnya di ruang ganti Old Trafford selama dua jam untuk membuat mereka paham betapa besarnya efek dari kekalahan memalukan itu.

Efek itu ternyata positif, setelah terbukti di laga berikutnya MU mampu menang atas Spurs bahkan dengan skor telak 0-3 di markas Spurs. Namun kebangkitan MU di musim itu tak berlangsung lama.

Karena mereka kembali terbantai oleh City 4-1 di bulan Maret 2022. Dan dengan pola yang sama juga, MU bisa bangkit. Dimana laga setelah itu bertemu Spurs, MU mampu menang dengan skor 3-2.

Pasca Dibantai Brentford 4-0 (2022)

Nah di musim ini bersama Ten Hag, mereka juga shock di awal musim ketika dihadiahi empat gol oleh tim medioker macam Brentford. Hal yang sangat memalukan bagi pelatih baru yang digadang-gadang menjadi juru selamat MU.

Atas dasar itulah Ten Hag mengevaluasi penuh timnya dengan tak segan memberikan hukuman. Ten Hag marah pada timnya yang loyo dan hanya berlari sepanjang laga sejauh 95,6 km.

Untuk itu, Ten Hag berupaya menghukum seluruh pemain MU berlari sejauh 13,8 km di sesi latihan hari libur pertamanya setelah kekalahan itu. Hukuman itu benar-benar efektif. Hasilnya terbukti, setelah laga itu, MU bangkit dan sapu bersih kemenangan di empat laga Liga Inggris secara beruntun.

Pasca Dibantai City 6-3 (2022)

Namun kebangkitan itu kembali dicoreng dengan pembantaian berikutnya yang dilakukan oleh City 6-3 di Etihad. Ten Hag kembali menanggung malu. Ten Hag sadar dalam laga itu anak asuhnya kurang pede dalam bermain.

Kata Ten Hag, mereka seperti minder duluan sebelum mereka berjuang penuh selama 90 menit. Baginya, ini adalah pelajaran. Ia pun berterima kasih pada City dan Pep bahwa skuadnya diingatkan bahwa masih jauh levelnya dibanding City. Maka dari itu, gemblengan serta kedisiplinan ala Ten Hag yang keras, patut diperlukan segera.

Setelah pembantaian itu berlalu, MU terbukti mampu bangkit kembali. Bahkan di lima laga berikutnya mereka tak pernah kalah. Sampai akhirnya terjadilah pembantaian 7-0 di Anfield pada Maret 2023. Kalau melihat catatan kebangkitan MU setelah dibantai dari musim ke musim, pertanyaanya apakah MU akan bangkit lagi?

https://youtu.be/vthrOftfagE

Sumber Referensi : bleacherreport, bbc, manutd, dailymail, sportskeeda, dailymail

Kisah Imigran Vincenzo Grifo yang Gacor Di Bundesliga

Jerman telah hidup berpuluh-puluh tahun lebih menjadi salah satu negara terbesar kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara tujuan para imigran. Dalam urusan sepakbola, tak jarang para imigran menghiasi Bundesliga maupun timnas Jerman. Sebut saja pemain-pemain beken seperti Lukas Podolski, Mesut Ozil, hingga yang terkini ada Jamal Musiala.

Namun kisah itu berbeda dengan apa yang dialami penyerang sayap yang lagi gacor di Bundesliga bernama Vincenzo Grifo. Nama yang berbau Italia itu kini jadi buah bibir sebagai pemain keturunan yang unik. Lho kok bisa?

Siapa Vincenzo Grifo?

Mari bercerita dulu tentang siapa sih pemain ini sebenarnya. Pemain berusia 29 tahun ini lahir dan besar di Jerman. Ia lahir di daerah Pforzheim. Kedua orang tuanya adalah imigran berdarah Italia yang sudah lama menetap di Jerman.

Tapi uniknya, ia dan keluarga tidak memutuskan untuk beralih kewarganegaraan. Kecintaan akan tanah leluhurnya itu, membuat keluarga Grifo tak mau menggadaikan status warga negara Italianya.

Nah sedangkan dalam urusan sepakbola, ia dididik dan dibesarkan oleh metode sepakbola Jerman. Ia pun melanglang buana di berbagai klub akademi di Jerman demi mewujudkan ambisinya sebagai pemain sepakbola profesional. Karlsruher menjadi tim akademi terakhirnya.

Karir sepakbola profesional Grifo baru dimulai ketika ia menandatangani kontrak dengan Hoffenheim pada 2012 silam. Namun berkat penampilannya yang belum gacor, ia sempat dipinjamkan kesana kemari. Baik ke Dynamo Dresden, Frankfurt, hingga akhirnya sampai ke Freiburg pada 2015.

Jangan salah, Freiburg dulu masih berada di Bundesliga II. Masuknya Grifo memberi efek positif bagi performa tim. Sumbangan 14 gol dan 14 assist mampu membawa Freiburg promosi ke Bundesliga.

Tapi justru setelah itu karirnya makin tak jelas. Freiburg malah memilih menjualnya pada 2017. Intensitas kepindahan pemain Italia yang satu ini juga cukup sering. Ia pindah ke Gladbach, kemudian pulang ke Hoffenheim lagi, sebelum akhirnya pada 2019 lalu ia balik lagi ke Freiburg hingga sekarang.

Aktor Kebangkitan Freiburg

Lalu apa sih keistimewaan pemain yang sering gonta-ganti klub ini? Mari kita lihat dari segi pencapaiannya. Tak dipungkiri secara catatan prestasi dan performa, ia baru terlihat gacor ketika membela Freiburg. Klub medioker yang namanya kurang populer di Bundesliga.

Maklum secara sejarah klub ini kurang mentereng. Prestasi terbaiknya mentok hanya jadi juara Bundesliga II sebanyak empat kali. Akan tetapi sekarang, lambat laun Freiburg mulai banyak menyita perhatian.

Tunggu dulu, apakah itu berkat dari penampilan Grifo? Faktanya kebangkitan Freiburg baru dimulai pada musim lalu. Artinya apakah sejak 2019, peran Grifo tak terlalu membantu timnya?

Sebenarnya secara data, torehan gol dan assistnya sering membantu tim. Contohnya saja pada musim 2020/21. Ketika ia mengantarkan Freiburg finish di posisi 10 besar. Ia menjadi top skor tim dengan 9 gol dan 10 assist.

Nah, perannya itu mulai makin kelihatan gacor di musim lalu. Ketika ia kembali menjadi top skor klub dengan 13 gol dan 8 assist. Berkat itulah Freiburg mampu finish di posisi 6 klasemen Bundesliga dan berhak lolos ke Europa League.

Tak hanya masuk Europa League, di kompetisi lokal DFB Pokal pun, tim yang berjuluk Breisgau Brasilianer itu juga berhasil menjadi finalis.

Kelebihan Dan Kelemahan Grifo

Namun apa sih kelebihan Grifo sehingga bisa gacor seperti itu? Sebagai pemain yang berposisi sebagai penyerang sayap atau winger, ia tergolong bertubuh kekar dan termasuk kategori pemain berpostur tinggi.

Meskipun tinggi, tapi ia sangat lincah dan skillfull. Kedua kakinya juga berfungsi sama kuat. Apalagi naluri golnya yang tajam membuatnya menjadi pemain sayap yang bisa diandalkan sebagai finisher.

Ia kini bahkan tercatat sementara menjadi pencipta peluang terbanyak di Bundesliga. Menurut Opta, penciptaan peluang berbahaya Grifo musim ini mencapai 39. Di atas pemain seperti Kevin Stoger (35), maupun Kimmich (34), dan Musiala (34).

Tak hanya penciptaan peluang, ia juga pandai menciptakan gol. Namanya kini sangat dielu-elukan menjadi calon top skor Bundesliga musim ini. Bagaimana tidak, per pekan 23 Bundesliga, ia sudah menciptakan 12 gol. Hanya di bawah Niklas Fullkrug sang pemimpin top skor sementara dengan 14 gol.

Yang unik, menurut catatan dari Spieltag, 14 dari 35 gol Freiburg di Bundesliga musim ini tercipta dari situasi bola mati yang berawal dari Grifo. Artinya, selain jago dalam hal penciptaan peluang, gol, maupun assist, ia juga mahir memanfaatkan bola mati.

Akan tetapi, sebagai manusia biasa, Grifo selain memiliki segala kelebihan – juga mempunyai kelemahan. Kelemahan pertama yakni dari segi usia. Ya, siapa sangka bahwa ia baru moncer dalam usia yang sudah tidak muda lagi. Usianya yang hampir kepala tiga, membuatnya hanya punya karir beberapa tahun lagi untuk mencapai masa keemasannya sebagai pesepakbola.

Maka dari itulah, Grifo harus benar-benar mengatur top performanya dengan sebaik mungkin. Kelemahan berikutnya mungkin dari segi tim. Ia “tak akan kemana-mana” bersama Freiburg. Bagaimanapun ia harus sadar diri dan melihat prospek kedepannya dengan pindah ke klub besar jika ia membutuhkan trofi.

Masuk Timnas

Hal itulah yang kini sedang dipikirkan sang pemain. Ia ingin suatu saat nanti merasakan atmosfer liga tanah leluhurnya, Serie A. Namun ia terlebih dahulu menjajakinya bersama rekan-rekannya di Timnas Italia.

Lho kok Timnas Italia? Ya, berkat kegacorannya selama di Freiburg, ia dipanggil pelatih Italia Roberto Mancini sejak 2018 silam. Meski tak bermain di Serie A bakatnya tercium sampai negeri Pizza.

Bukan tanpa alasan jika Mancini memanggilnya ke dalam skuad. Selain lihai menyisir sisi kiri, Grifo dikenal sebagai pemain yang memiliki eksekusi bola mati mematikan.

Sampai sekarang bersama Gli Azzuri ia telah mengemas 4 gol dari 8 caps. Dengan penampilannya yang makin moncer, bukan tidak mungkin ia akan terus dipakai Mancini sampai EURO 2024 nanti jika Italia lolos.

Jadi Rebutan Klub Italia

Ia kini juga banyak dibujuk klub-klub besar Italia macam Juventus, Milan, maupun Inter. Namun jika dilihat dari ikatan emosionalnya, Inter jadi yang terdepan. Karena menurut wawancaranya dengan La Gazzetta Dello Sport, ia adalah fans Inter sedari kecil. Ia pun sering mengikuti perjalanan Inter di Serie A selama ini.

Kemanapun ia pergi nantinya, yang jelas ia kini akan menuntaskan tugasnya dulu bersama Freiburg. Selain akan berhadapan dengan Juventus di Europa League, ia juga sudah kadung kembali mengangkat Freiburg di posisi lima sementara Bundesliga. Jadi, kemana perjalanan Grifo selanjutnya? Bertahan, atau sudah saatnya mudik ke kampung halaman musim depan?

https://youtu.be/AcBg-Gwdjeg

Sumber Referensi : cultofcalcio, sempreinter, transfermarkt, getfootballnewsgermany

Liverpool Bikin MU Kena Mental! Ten Hag Sampai Harus Datangkan Psikolog?

Ten Hag punya reputasi untuk menghukum timnya jika mereka melakukan kesalahan. Apalagi kekalahan memalukan. Ini pernah Ten Hag terapkan di masa awal kepelatihannya bersama Manchester United. Di awal musim atau bulan Agustus lalu, Manchester United ditekuk secara memalukan oleh Brentford dengan skor 4-0.

Setelah kekalahan memalukan itu, Ten Hag tak segan langsung memberikan hukuman kepada anak asuhnya. Para punggawa setan merah diharuskan berlari sejauh 14 kilometer saat latihan. Karena ketika di pertandingan itu, para pemain Brentford berlari lebih jauh 14 kilometer daripada pemain United. Lalu, apa hukuman yang Ten Hag berikan setelah Liverpool berhasil menghancurkan setan merah 7-0?

Beruntung Masih Bisa Pulang

Para bintang Man United di paksa harus mengalami penderitaan lebih lanjut setelah pertandingan itu. Sang kapten, Bruno Fernandes dan pencetak gol utama United, Marcus Rashford bersama dengan para pemain yang pernah menjuarai Liga Champions seperti Casemiro dan Varane harus mendengar kegembiraan dan perayaan di ruang ganti Liverpool.

Ten Hag berkata kepada para pemainnya, bahwa mereka beruntung bisa pulang dengan aman ke Manchester. Para pemain United beruntung tidak pulang bersama dengan para pendukung yang kecewa atas hasil pertandingan. Padahal banyak dari fans itu juga datang dari tempat yang jauh dan harus membayar tiket untuk menyaksikan laga yang begitu menyedihkan.

Dikutip dari Mirror, Ten Hag langsung menyeret para pemain ke kompleks latihan di keesokan paginya. Agenda utamanya adalah untuk evaluasi dan memulai pemeriksaan atas bencana yang baru mereka alami. Bos United itu tiba pada pukul 7 pagi untuk berunding dengan para stafnya terlebih dahulu. Setelah itu, ia menemui para pemain yang tiba pada jam 9 pagi.

Tapi daripada menghukum para pemainnya secara fisik, Ten Hag lebih memperhatikan masalah mental mereka. Pelatih asal Belanda itu tahu kalau pembantaian 7-0 itu bisa melemahkan psikologi para pemainnya. Maka dari itu, punggawa setan merah dikabarkan akan menjalani sesi psikologis bersama psikolog olahraga, Rainer Koers. Koers adalah rekan senegara Ten Hag. Ia juga sempat bertugas jadi psikolog tim di musim dingin lalu.

Ten Hag menyimpulkan kalau timnya harus memiliki mental bertanding yang kuat. Ia juga tidak ingin mereka kembali ke masa kelam di musim lalu. Menurut Bos United, masalah pola pikir punya andil yang lebih besar dalam pembantaian itu daripada masalah fisik.

Meskipun begitu, Ten Hag tetap mewanti-wanti anak asuhnya untuk tidak mengulangi kesalahan ini lagi. Dikutip dari goal, Ten Hag tidak akan segan untuk membuat para pemain United berlatih bersama tim U-21 jika mereka mengalami kekalahan yang memalukan seperti ini lagi.

Bruno Tak Pantas Jadi Kapten

Tidak hanya itu saja. Kekecewaan juga datang dari Gary Neville, legenda MU yang saat ini jadi pundit. Dikutip dari BBC, ia merasa kecewa dengan kelakuan Bruno Fernandes yang jadi kapten di laga itu. Neville berkata “Itu bukan penampilan seorang kapten Manchester United. Dan saya yakin Erik Ten Hag akan mengurusnya.”

Mantan kapten United lainnya, Roy Keane juga menambahkan komentar soal ketidaksukaannya kepada Bruno. Roy Keane tidak suka dengan tingkah dari Bruno di laga itu. Baginya itu memalukan dengan berkata “Bahasa tubuh Fernandes hari ini sangatlah memalukan”

Memang hasil 7-0 itu mengecewakan bagi setan merah. Tapi reaksi Bruno di laga sangat kekanak-kanakan. Ia sempat mendorong asisten wasit karena frustasi. Untung Bruno tidak dapat kartu atas kelakuannya itu.

Seperti ketika laga baru berjalan lima menit, bola keluar garis pinggir lapangan. Bruno bisa saja langsung mengambil posisi bertahan. Alih-alih, ia malah melakukan protes seakan itu adalah pelanggaran yang harus dihadiahi penalti.

Kemudian di menit 54, ia terjatuh di kotak penalti ketika berhadapan dengan Allison. Tidak ada bukti Bruno melakukan kontak dengan Allison. VAR juga mengatakan demikian. Tapi itu tidak menghentikan Fernandes untuk berteriak ke arah hakim garis selama sekitar beberapa detik. Padahal ia bisa langsung berlari ke belakang dan membantu pertahanan.

Aksi Bruno masih berlanjut. Di menit ke-70, ia jatuh dengan memegangi wajahnya ketika berusaha merebut bola dari Konate. Tapi jika dilihat dari tayangan ulang, tangan Konate sama sekali tidak menyentuh wajah Bruno.

Perangai lebih parah ia tunjukan di menit ke-81. Ia bereaksi sedikit terlalu ekstrem ketikaa bola keluar lapangan. Bruno terlihat mendorong asisten wasit ketika ingin mengambil bola. Itu memang dorongan kecil. Tapi ia harusnya sadar, sentuhan ke ofisial pertandingan bisa berbuah kartu kuning. Mungkin hakim garis itu kasihan kepada Bruno, yang timnya sudah tertinggal 5-0.

Di akhir pertandingan, Ten Hag berkata bahwa ia kecewa dengan tim. Sang manajer menekankan bahwa pemainnya tidak bermain secara profesional di laga itu. Melihat kembali kelakuan Bruno, sepertinya kita tahu siapa yang dimaksud. Ten Hag pasti akan berpikir dua kali untuk kembali memasangkan ban kapten ke legan Bruno lagi.

Pemain yang Akan Dijual

Tidak hanya Bruno pemain yang bisa terancam. Pemain lain juga menghadapi ancaman yang lebih serius. Dilansir dari sportskeeda, ada beberapa pemain yang akan MU jual setelah hasil memalukan itu.

Yang pertama adalah Fred. Ia telah menikmati peran sebagai seorang starter di bulan Februari lalu disaat Eriksen absen. Meskipun ia sudah membuktikan kelasnya di laga lawan Barcelona dan Newcastle, tapi masih banyak ruang kesalahan. Untuk itu ia dikabarkan akan dijual musim panas nanti.

Pemain lainnya adalah McTominay. Rekan duet Fred juga tidak selamat dari ancaman dijual. Penampilannya sering dipertanyakan dan tidak kunjung menunjukan konsistensi. Ia dikabarkan akan dijual ke Newcastle.

Selain dua nama itu, ada pemain-pemain lain yang punya peluang besar akan dijual karena semakin tidak terpakai. Contohnya Harry Maguire, ditengah banyaknya pilihan bek yang berkualitas, Maguire tidak akan dapat tempat di skuad Ten Hag.

Selain itu, Anthony Martial dan Donny van de Beek yang tidak kunjung menampilkan performa konsisten juga dilaporkan akan dijual. Terlalu sering mengalami cedera adalah alasan utama mereka tidak bisa bersaing di skuad MU.

Seiring dibuangnya para pemain lama, maka Ten Hag akan mencari pemain-pemain baru. Tapi masih belum ada kabar jelas siapa yang akan didatangkan. Kita hanya bisa menunggu sampai akhir musim bagaimana nasib setan merah selanjutnya.

Sumber referensi: Mirror, Goal, BBC, Sportskeeda

Cedera Parah yang Mengancam Karier Ansu Fati

0

Hingga pekan ke-24 La Liga Spanyol, bintang muda Barcelona Ansu Fati sudah mencatatkan 23 penampilan. Namun sebagian besar laga yang ia lakoni dimulai dari bangku cadangan. Bahkan, dengan menit bermain yang kian menurun, Ansu sempat diisukan bakal dijual di akhir musim nanti. 

Fakta memang berbicara bahwa dalam beberapa musim terakhir, pemain asal Spanyol tersebut justru kesulitan mengamankan posisi utama di skuad Barca. Padahal sejak kemunculannya pada tahun 2019 Ansu sudah disebut sebagai pewaris tahta Lionel Messi. Lantas, apa penyebab dari penurunan performa Ansu Fati?

Kemunculan Ansu Fati

Meski bakatnya ditemukan oleh Sevilla, Ansu Fati lebih terkenal sebagai lulusan akademi La Masia, dimana ia bergabung ke salah satu akademi sepakbola terbaik dunia itu pada usia 10 tahun.

Tidak butuh waktu lama bagi Ansu untuk membaur dengan budaya baru. Di usia muda, Ansu punya banyak kelebihan. Kombinasi teknik, kecepatan dan imajinasi dalam bermain menjadikannya pemain muda yang luar biasa.

Pemain yang satu angkatan dengan Takefusa Kubo itu kian terkenal setelah bersinar di UEFA Youth League musim 2018/19. Ansu jadi pemuda yang paling disorot karena masih berusia 15 tahun. Padahal UEFA Youth League biasanya diikuti oleh anak-anak berusia 17 sampai 18 tahun. 

Pemahaman strategi yang baik dan mencatatkan beragam penampilan apik di usia muda membuat Ansu melesat bak meteor. Talenta emasnya membuatnya naik level ke Barcelona B pada tahun 2019. Namun, baru sebulan disana ia sudah mendapat panggilan dari tim utama La Blaugrana, yang kala itu diasuh Ernesto Valverde. 

Ansu mendapatkan berkah dari cederanya Lionel Messi, Luis Suarez, dan Ousmane Dembele. Ernesto Valverde yang mulai kelabakan karena krisis pemain depan pun tak ragu menyertakan Ansu dalam skuadnya. Kesempatan berharga tersebut berlanjut dengan debut Ansu di laga kontra Real Betis, Agustus 2019. 

Pewaris Nomor 10 Messi

Seminggu setelah pertandingan melawan Betis, Ansu Fati mencetak gol pertamanya untuk La Blaugrana di laga kontra Osasuna. Semenjak pertandingan yang bersejarah itu, Ansu jadi bahan pembicaraan di media-media Spanyol. Golnya ke gawang Osasuna telah merubah nasibnya. Ia bukan lagi pemain tim cadangan, melainkan permata baru Barcelona.

Bahkan, di pertandingan berikutnya kala menjamu Valencia, Ansu Fati berhasil jadi bintang lapangan dengan berkontribusi satu gol dan satu assist. Sepanjang musim 2019/20, Ansu berperan penting di setiap pertandingan Barcelona. Di akhir musim, Ansu sukses mencetak 8 gol dari 33 penampilan di semua ajang. Itu statistik yang luar biasa untuk bocah berusia 16 tahun.

Penyebab besarnya pengaruh Ansu Fati terhadap Barcelona karena dua alasan tertentu. Pertama, jelas karena kebebasan yang diberikan oleh sang pelatih. Meski ditempatkan sebagai pemain sayap, Ansu seakan tidak dituntut untuk selalu menyuplai bola ke penyerang tengah. Jadi, mengandalkan kecepatan dan mobilitasnya di lini depan membuat konsentrasi pemain belakang lawan terpecah.

Ansu sudah menjadi bagian sejarah Barcelona dengan memecahkan sejumlah rekor saat itu. Pertama, Ansu tercatat sebagai pencetak gol termuda di El Clasico dalam sejarah Barcelona saat usianya masih 17 tahun 359 hari. Selain itu, ia juga membukukan rekor sebagai pemain termuda di lima liga top Eropa yang mampu mencetak 10 gol sejak debutnya di tim senior Barca.

Jadi tak heran apabila setahun setelah melakoni debut di Barcelona, Ansu sudah mengemban beban berat dipundak. Media-media dan para fans terus menggoreng stigma bahwa Ansu lah yang akan meneruskan jejak La Pulga. Pasalnya, banyak kesamaan diantara keduanya. Sama-sama lulusan akademi dan berposisi sebagai pemain sayap. Bahkan, setelah kepergian Messi ke PSG, Ansu langsung mewarisi nomor 10 milik Messi.

Mimpi Buruk Ansu Fati

Disaat semuanya berjalan dengan baik, malapetaka justru datang pada akhir tahun 2020. Ansu mengalami cedera yang cukup parah di laga kontra Real Betis. Pada menit ke-31, Ansu yang tengah berusaha merangsak ke dalam kotak penalti lawan pun mendapat hadangan dari Aissa Mandi, bek Real Betis.

Saat Ansu coba menerobos garis pertahanan, kaki kirinya tersandung Mandi yang coba menghalau bola. Sandungan tersebut membuatnya langsung tersungkur dan mengerang kesakitan. Semua bergerak membantu, termasuk tim medis. Namun, sayang pertolongan pertama tak membantu. Akhirnya Ansu pun ditarik keluar di tengah pertandingan.

Pihak Barcelona pun mengeluarkan pernyataan resmi kalau Ansu mengalami cedera kerusakan meniskus di lutut kirinya. Meniskus sendiri merupakan tulang rawan di bagian lutut. Fungsinya untuk menjaga tulang paha dengan tulang kering agar tidak saling bergesekan. Barca awalnya memprediksi kalau sang pemain akan absen selama empat bulan. Namun perkiraan itu meleset jauh.

Dilansir Goal, Ansu akhirnya menjalani operasi pada lututnya. Namun, meski prosedurnya berhasil diselesaikan, periode pemulihan jadi molor. Itu disebabkan karena adanya gangguan di operasi pertama yang membuat Barca harus melakukan tindakan lebih lanjut. Total, Ansu absen selama 344 hari dan melewatkan 47 pertandingan bersama Barcelona.

Kali Ini Hamstring

Setelah menjalani pemulihan yang begitu panjang, Ansu Fati akhirnya kembali merumput pada September 2021. Sayangnya, baru beberapa pekan saja ia sudah kembali mengalami cedera. Kali ini, masalah tersebut menyerang otot hamstringnya. Untungnya, cedera ini tak separah meniskus.

Kembali dari cedera pada awal Januari 2022, Ansu langsung mencetak gol ke gawang Real Madrid di ajang Supercopa. Sayang, golnya tak bisa menyelamatkan Barcelona dari kekalahan. Gol tersebut berhasil meningkatkan kepercayaan sang pemain usai diterpa cedera. Namun, cedera hamstringnya justru kambuh di akhir Januari.

Pihak klub sempat meminta sang pemain untuk melakukan operasi, karena mereka takut kalau Ansu bakal bernasib sama dengan Samuel Umtiti yang tak kunjung menemukan performa terbaik karena salah penanganan. Namun, Ansu dan keluarga menolak. Mereka trauma dengan efek operasi meniskus yang justru membuat masa pemulihan kian lama.

Setelah berdiskusi dengan tim Fisioterapis pribadi, yakni Joaquin Juan, Ansu memilih jalur konvensional. Ia bekerjasama dengan tim fisioterapi untuk memulihkan cederanya secara perlahan tanpa tindakan operasi. Terlebih pada saat itu, Ansu tak ingin melewatkan kesempatan untuk tampil di Piala Dunia 2022 bersama Timnas Spanyol.

Menurut tim medis Barcelona, ketakutan Ansu terhadap cedera meniskus di lutut kirinya membuat dirinya secara tidak sadar lebih sering menggunakan kaki kanannya secara berlebihan. Efek sampingnya, otot hamstring kaki kanan Ansu menjadi kelelahan dan mudah mengalami cedera.

Mengadopsi Cara Main Cristiano Ronaldo

Rangkaian cedera tersebut membuat performa Ansu Fati kian menurun. Ia bahkan kesulitan untuk mendapatkan menit bermain yang cukup di skuad utama Barcelona. Meski musim ini ia belum menderita cedera tapi posisinya sudah tergeser dengan nama-nama baru macam Ferran Torres dan Raphinha.

Karena rangkaian cedera itu pula, kekuatan fisik Ansu sudah tak sama lagi. Xavi yang tak mau menyia-nyiakan talenta sang pemain akhirnya memberi peran baru pada Ansu. Peran Ansu sudah mulai bergeser dari pemain yang doyan dribble dan menciptakan peluang menjadi seorang finisher. Perubahan peran ini diadopsi dari Cristiano Ronaldo yang mengubah gaya bermainnya setelah mengalami cedera ACL.

Menit bermain mungkin hanya masalah waktu bagi Ansu. Yang jadi masalah adalah kemampuan sang pemain dalam menemukan kembali kepercayaan dirinya. Mampukah Ansu Fati membuktikan kalau dirinya memang pantas mengenakan jersey bernomor punggung 10, atau akan layu sebelum mekar seperti Bojan Krkic?

https://youtu.be/4IbMFdMmVCg

Sumber: Goal, The Athletic, FC Barcelona, The Flanker, Eurosport

Liverpool Bantai Man United! Catatan Penting Pembantaian 7-0 di Anfield

Liverpool mengingatkan Manchester United bahwa mereka masih bisa jadi mimpi buruk mereka di Premier League. Pembantaian Ini jadi tamparan bagi setan merah yang meraih hasil positif di pertandingan-pertandingan sebelumnya. United terlalu jumawa dengan rangkaian kemenangan yang mereka dapatkan dan trofi Carabao yang mereka menangkan. Sampai lupa kalau Liverpool masih jadi ancaman.

Bertandang ke stadion kebanggaan Anfield setan merah dicambuk tanpa ampun dengan tujuh gol tanpa balas. Dua gol masing-masing dari Coady Gakpo, Darwin Nunez, dan Mohamed Salah, ditambah gol penutup dari Bobby Firmino akan jadi mimpi buruk Erik Ten Hag tiap malam. Catatan penting apa saja yang bisa didapatkan dari pembantaian tersebut?

Rekor Liverpool

Pertama adalah rekor membanggakan bagi Liverpool. Ini menjadi kemenangan terbesar mereka melawan United di semua kompetisi. Sebelumnya, Liverpool tidak pernah bisa mengalahkan Manchester United dengan selisih tujuh gol. Rekor kemenangan terbesar merseyside lawan United sebelumnya adalah 7-1 di tahun 1895. Ini tentu jadi sejarah manis untuk Jurgen Klopp.

Liverpool juga diam-diam menyimpan catatan mengerikan. Anak asuh Jurgen Klopp tidak pernah kalah dari Manchester United jika bermain di Anfield. Kekalahan terakhir mereka adalah di tahun 2016. Sejak saat itu, the kop tidak pernah kalah ketika menjamu United di rumahnya. Dengan rincian hasil empat kali menang dan tiga kali kalah.

Sedangkan untuk lawan mereka, rekor buruk harus tertulis dalam buku catatan Ten Hag. Ini jadi kekalahan terburuk mereka di semua kompetisi. Setan merah tidak pernah dipermalukan dengan cara kebobolan tujuh kali oleh tim manapun di kompetisi apapun sejak tahun 1930.

Liverpool juga terbukti masih jadi lawan yang paling berat bagi red devils. Dibandingkan tim manapun, merseyside merah jadi lawan yang paling sering mengalahkan mereka di Premier League. Total mereka sudah dikalahkan 19 kali oleh rival abadinya itu. Juga United telah kebobolan 21 gol dalam lima laga terakhir melawan Liverpool.

Ten Hag Murka

Manajer United, Erik Ten Hag tentu murka dengan hasil yang mereka dapatkan ini. Manajer asal Belanda itu berpendapat kalau anak asuhnya tidak bermain secara profesional. Meskipun ia juga masih menganggap kalau timnya bermain lebih baik di babak pertama.

“Ini tidak profesional. Saya belum pernah melihat bentuk seperti ini dalam tim saya. Saya rasa ini bukan kami. Ini merupakan performa yang sangat buruk. Saya berbicara soal babak kedua tentunya. Karena di babak pertama kami bermain cukup bagus.” Ucapnya dikutip dari the Athletic.

Mu menang bermain cukup baik di babak pertama. Atau setidaknya sampai Coady Gakpo mencetak gol di menit ke-43. Kemudian tidak lebih dari dua menit di babak kedua, Gakpo kembali cetak gol dan setelah itu United bermain sangat berantakan.

Sependapat dengan Ten Hag, Jurgen Klopp berpikir kalau anak asuhnya tidak bermain sesuai rencana di babak pertama. Tapi Klopp senang dengan hasil ini. Tentu saja, sebab anak asuhnya bermain dengan sangat fantastis.

“Kami memainkan permainan yang baik melawan tim yang sedang dalam performa baik. Di babak pertama, sempat tidak sesuai harapan kami. Mereka sedikit melangkah lebih depan daripada kita. Tapi kemudian kami yang mencetak gol pertama. Di babak kedua semua berjalan dengan baik. Tidak bisa berkata-kata. Ini adalah pertandingan yang spektakuler.”

Salah Catat Rekor

Liverpool memang memainkan permainan yang sangat memukau, dan Salah adalah bintangnya. Ia jadi landasan utama Liverpool bisa membantai United. Ia mendominasi keseluruhan permainan dan membuat Uinted runtuh.

Sebelum pertandingan dimulai, pemain Mesir itu punya kesempatan untuk menyamai rekor gol Robbie Fowler. Semua orang mengira kalau ia hanya akan menyamakan rekor itu. Tapi dua golnya membuat Salah melampaui rekor legenda the kop itu.

Robbie Fowler sudah seperti orang yang disembah di Anfield. Ia memiliki catatan 128 gol di tingkat domestik untuk the reds. Kini, Mo Salah telah mengoleksi 129 gol yang menjadikannya sudah melampaui julukan “King” di Anfield. Dia juga sudah punya 12 gol, yang mana terbanyak dari siapapun dalam sejarah duel ini.

Salah mengaku senang dengan apa yang ia capai di pertandingan ini. Meskipun begitu, ia tetap mewanti-wanti Liverpool untuk tetap rendah hati. Sebab, dirinya merasa Liverpool sedang berada di tempat yang tidak baik musim ini.

“Ini sangat istimewa. Sejak musim pertama, saya selalu mengejar rekor itu. Kami hanya perlu tetap rendah hati dan terus memenangkan pertandingan karena saat ini kami tidak berada di posisi yang kami inginkan.”

Gakpo Unjuk Gigi

Selain Salah, Gakpo juga bersinar terang di laga ini. Sang pembelian anyar Liverpool seakan memberikan pembuktian kalau harga yang ditebus Klopp tidak kemahalan. Itu juga jadi pukulan tambahan mengingat Gakpo adalah incaran MU di bursa transfer kemarin.

Gakpo menampilkan penampilan yang telah ditunggu-tunggu publik Anfield selama ini. Gol pertamanya adalah pergerakan khas Gakpo yang sering ia tunjukan di PSV. Dan gol keduanya di awal babak kedua juga membantu Liverpool kembali mendapatkan momentum.

Apresiasi juga layak didapatkan oleh Andy Robertson. Ia memberikan assist di laga itu yang merupakan assist ke-55nya. Membuat catatan assistnya jadi lebih unggul dari Eden Hazard, Ozi, dan Juan Mata. Ini juga jadi assist ke-9nya musim ini. Hanya Kevin De Bruyne yang punya assist lebih banyak darinya.

MU Masih Terlena Kemenangan Carabao

Untuk United sendiri, bisa jadi mereka masih merasa terlena dengan rentetan kemenangan yang didapatkan di pertandingan sebelumnya. Apalagi setelah menjuarai Carabao Cup beberapa hari lalu.

Erik Ten Hag tidak terlalu memberikan perubahan di starting line-up final Carabao Cup. Tapi timnya tidak bisa bermain seperti di final Wembley lawan Newcastle itu. Alejandro Garnacho dan McTominay dimasukan setelah setengah jam berjalan. Tapi tidak ada dampak selain kartu kuning yang didapatkan McTominay.

Sederhananya, mereka tidak seperti pemain-pemain yang menang di final Carabao Cup tujuh hari lalu. Hasil ini membuat harapan untuk memuncaki klasemen yang sebelumnya sudah tipis, malah jadi mati.

Mungkin United harus belajar dari Liverpool. Mereka dibantai 5-2 oleh Madrid di Anfield. Tapi itu malah jadi motivasi. Tujuh gol yang tercipta di laga lawan Madrid itu dibalaskan kembali di laga ini. Bedanya, kali ini tujuh gol itu semuanya dicetak oleh Liverpool.

Sumber referensi: Mirror, Sky, Athletic 1, Athletic 2, Athletic 3