Beranda blog Halaman 386

Malangnya PSG, Skuad Elit Juara Liga Champions Sulit!

0

Usai kalah dari Bayern Munchen di babak 16 besar, PSG terpaksa mundur dari perebutan gelar juara Liga Champions musim ini. Skuad asuhan Christophe Galtier takluk dari juara Liga Champions tahun 2020 dengan agregat 3-0. Miris bukan? Dalam dua leg, PSG bahkan gagal menjebol gawang Bayern yang bahkan ‘hanya’ dikawal kiper serep, Yann Sommer.

PSG tampil kurang menggigit meski diperkuat Kylian Mbappe hingga Lionel Messi. Kita ketahui, dari lini depan hingga penjaga gawang sudah ditingkatkan oleh PSG. Namun, mengapa klub dari Prancis ini selalu gagal membawa pulang si kuping besar?

Skuad Elit, Juara Sulit

PSG yang memiliki finansial kuat memang sangat mudah untuk membangun skuad yang berisikan pemain-pemain papan atas. Mereka bahkan tak kesulitan ketika Barcelona meminta harga yang tak masuk akal untuk Neymar tahun 2017 lalu. Namun, power yang mereka miliki justru menjadi bumerang.

Beberapa sumber mengatakan kalau Qatar yang menginvestasikan banyak uang ke PSG hanya bertujuan untuk bisnis, bukan kemajuan sepakbola. Jadi tak heran apabila pada akhirnya, Les Parisiens akan selalu berisi pemain-pemain kelas wahid, tapi manajemen tidak tahu cara mengelola tim.

PSG terdiri dari nama-nama pemain besar seperti Sergio Ramos, Gianluigi Donnarumma, Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Neymar. Namun, nama besar juga membawa ego yang besar pula. Dengan menggabungkan semua ke dalam satu tim, tentu menimbulkan konsekuensi yang cukup besar. 

PSG dianggap tidak memiliki sikap kolektif di balik rangkaian nama-nama besar itu. Tidak ada kohesi dan tidak ada semangat dalam kesatuan tim. Jadi, ketika bersaing di ajang sebesar UCL, mereka tak memiliki motivasi besar.

Apalagi kita semua tahu kalau PSG mengistimewakan Mbappe. Mereka bahkan memberikan kontrak eksklusif yang mungkin tak pernah didapatkan oleh pesepakbola profesional sebelumnya. Di PSG, Mbappe diberikan hak istimewa untuk mengambil keputusan di situasi tertentu dan hal itu sesekali membuat suasana ruang ganti PSG kian memanas.

Pemilihan Pelatih yang Ngawur

Sebetulnya ada kiat-kiat tertentu yang bisa ditempuh PSG untuk mengelola tim yang berisikan pemain-pemain bintang. Salah satunya dengan menunjuk pelatih yang tepat. Karena dengan adanya pelatih yang memiliki karakter yang kuat, ia bisa meredam ego para pemain dan menjadi jembatan antara pemain satu dengan yang lain. 

Dulu barangkali kita mengenal nama Sir Alex Ferguson yang memiliki karakter keras di Manchester United. “Persetan dengan status kebinatanganmu, di sini saya yang berkuasa.” Begitu kira-kira sudut pandangnya saat itu. Sir Alex bahkan tak segan untuk menyingkirkan pemain yang merasa lebih besar dari klub itu sendiri. 

Sedangkan di sepakbola modern ada pelatih-pelatih macam Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, hingga Zinedine Zidane yang memiliki karakter yang khas untuk mengelola tim yang berisi pemain-pemain bintang. Bahkan Zidane yang terbilang masih muda sudah terbukti kualitasnya saat mengelola tim dengan Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, hingga Sergio Ramos di dalamnya.

Menurut Copa90, PSG memang kesulitan menemukan pelatih yang pas. Tercatat hanya Thomas Tuchel yang terbilang lumayan. Laporan itu menyebut, Tuchel adalah satu-satunya pelatih terbaik yang pernah didatangkan ke Parc des Princes. Sayangnya, setelah gagal di Liga Champions, PSG justru memecatnya dan penunjukkan pelatih berikutnya tak punya rencana terukur. 

Musim ini saja, mereka menunjuk Christophe Galtier untuk menggantikan pilihan aneh lainnya, yakni Mauricio Pochettino. Kedua pelatih tersebut tercatat belum pernah menangani pemain-pemain berego tinggi. PSG sebenarnya hendak menggaet Zidane, tapi doi menolak dengan bersikeras hanya ingin melatih Timnas Prancis.

Jika target PSG cuma kompetisi domestik, Galtier memang sudah lebih dari cukup. Tapi dengan peta kekuatan sepakbola Prancis sekarang yang berbanding jauh dengan kekuatan PSG, tanpa pelatih pun PSG bisa jadi juara liga. Tapi ya kali klub sebesar PSG nggak pengen sesekali mengangkat trofi Liga Champions? 

Kesulitan Saat Melawan Tim Besar

Memiliki persaingan liga yang kurang kompetitif juga berdampak pada performa klub di Liga Champions. Terbiasa berlaga di liga petani membuat PSG sedikit terlena kala menghadapi tim-tim besar di kompetisi sebesar Liga Champions.

Dalam beberapa tahun terakhir, PSG kesulitan apabila menghadapi tim-tim yang bisa dibilang kualitasnya sedikit di atas mereka. Apalagi kalau ketemunya di fase gugur. Habis sudah. Musim lalu, mereka kalah dari sang raja Eropa, Real Madrid di babak 16 besar. Leg pertama menang 1-0 atas Madrid, tapi akhirnya kena comeback di leg kedua dengan agregat akhir 2-3.

Di musim 2020/21 kasusnya kurang lebih sama. Meski berhasil mengalahkan Bayern Munchen di perempat final, PSG kesulitan ketika menghadapi Manchester City di babak semifinal. Satu-satunya momen terbaik PSG adalah musim 2019/20.

Kala itu di fase gugur Liga Champions, PSG ‘hanya’ berjumpa Dortmund, RB Leipzig, dan Atalanta. Tapi dasar sial, di final mereka harus bertemu Bayern Munchen. Kemarin mereka bertemu lagi dan kalah lagi. 

Cara PSG Bertahan

Permasalahan PSG bukan soal mental saja, melainkan cara mereka bermain juga banyak kekurangan. Meski ada kredo bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang, PSG tak bisa mengabaikan sisi pertahanan. PSG memang mendatangkan Sergio Ramos yang berpengalaman di Liga Champions, tapi itu saja tidak cukup.

Menurut Daily Mail, PSG memiliki komposisi yang tak seimbang antara sektor pertahanan dan penyerangannya. Trisula penyerang PSG yakni Kylian Mbappe, Neymar dan Lionel Messi dengan mudah menjadi yang terbaik dalam menyerang. Namun, ketiganya bukan tipe pemain yang mau turun dan membantu lini bertahan. Mereka tidak berkontribusi secara defensif dengan baik.

Itu diungkapkan oleh legenda Timnas Denmark, Peter Schmeichel. Menurutnya, ketika kehilangan bola, penyerang seharusnya ikut turun ke lini tengah untuk membantu pertahanan. Itulah yang dilakukan klub-klub seperti Real Madrid, Manchester City dan Bayern Munchen. Striker mereka tak segan berlari untuk mendapatkan kembali penguasaan bola. Sedangkan trio PSG enggan melakukan itu.

Emang Nggak Ada DNA Eropa

Beberapa klub tahu, selain skuad mentereng dan permainan yang apik, ada faktor lain yang diperlukan untuk sukses di Eropa, yakni DNA Eropa itu sendiri. PSG dipercaya tak akan pernah memiliki itu, meski sudah mendatangkan Lionel Messi. Toh, Messi juga sudah lama tak menjuarai Liga Champions. Trofi terakhirnya saja didapat pada tahun 2015.

Percaya tidak percaya, gen yang telah menjadi bagian dari DNA Eropa para klub top Eropa macam Real Madrid dan Bayern Munchen telah membantu meningkatkan kualitas tim di Liga Champions. Los Galacticos bahkan kini jadi klub tersukses di Eropa dengan berhasil mengoleksi 14 trofi Liga Champions. 

El Real jadi satu-satunya klub yang berhasil meraih trofi Liga Champions lima kali berturut-turut dalam lima edisi awal. Begitupun dengan FC Hollywood. Mereka mengklaim kalau DNA Eropa sudah mengalir di identitas klub sejak meraih hattrick trofi Liga Champions era 1970-an. Sedangkan PSG merupakan klub tanpa sejarah. Nama besarnya saja baru muncul awal tahun 2010-an.

https://youtu.be/7DpMJaIJazk

Sumber: Bundesliga, Copa90, Sportskeeda, Daily Mail, Sporting News

Kemana Mereka Sekarang? Skuad Hebat MU Juara Liga Champions 2008

0

Seandainya saja John Terry tidak terpeleset saat mengeksekusi penalti, Manchester United boleh jadi gagal meraih trofi Liga Champions 2008. Apesnya itu harus dibayar mahal oleh Chelsea besutan Avram Grant. Dua kali The Blues dikangkangi oleh MU.

Satu di liga Inggris dan satunya lagi di final tersebut. Manchester United besutan Sir Alex Ferguson kala itu memang jadi salah satu skuad pilih tanding di Inggris, bahkan Eropa. Perjalanan mereka ke Luzhniki Stadium di Moskow cukup berat karena harus mengalahkan AS Roma di perempat final dan Barcelona di semifinal.

Gelar Liga Champions itu kelak menjadi sangat penting. Sebab itu adalah trofi Liga Champions terakhir MU, setidaknya sampai musim 2022/23. Nah, kamu penasaran nggak sih, ke mana skuad tersebut sekarang? Berikut nasib skuad hebat MU yang juara Liga Champions 2008.

Edwin van Der Sar

Ada yang lupa dengan kiper ini? Sepertinya Edwin van Der Sar bukanlah sosok pemain yang mudah dilupakan. Bahkan oleh bukan penggemar Manchester United sekalipun. Di final Liga Champions 2008, Van der Sar mementahkan tendangan Nicolas Anelka, penendang terakhir Chelsea.

Usai final tersebut, Van der Sar bertahan tiga musim lagi berseragam United. Bahkan ia menyumbangkan dua trofi Liga Inggris lagi. Kiper Belanda itu memilih gantung sepatu pada 2011. Setelah pensiun, ia melanjutkan program master di Johan Cruyff Institute dengan mengambil studi International Master of Sport Management.

Setelah lulus, pada tahun 2012, ia langsung diangkat menjadi direktur pemasaran Ajax. Ia juga sempat jadi analis olahraga di Nederlandse Omroep Stichting dan meliput Liga Champions musim 2011. Setelah dari direktur pemasaran, ia dipromosikan jadi direktur olahraga tahun 2015. Baru setahun ia langsung menjadi CEO Utama Ajax yang kontraknya akan berakhir 2025 mendatang.

Vidic dan Ferdinand

Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand adalah bagian tak terpisahkan dari kesuksesan Setan Merah di final Liga Champions 2008. Keduanya membuat penyerang sekaliber Didier Drogba tak berkutik di sebagian besar laga final.

Setelah final yang luar biasa itu, Rio Ferdinand masih bertahan di Manchester United. Bahkan ia menjadi kapten Timnas Inggris dan MU dalam beberapa tahun. Ferdinand mencetak gol kemenangan terakhirnya di era Fergie memimpin tahun 2013 menghadapi Swansea sebelum akhirnya setahun berikutnya ia hengkang ke QPR.

Semusim di sana, Ferdinand pensiun setelah gagal mempertahankan QPR di Premier League tahun 2015. Selepas gantung sepatu, Ferdinand kerap hilir mudik jadi pundit untuk BT Sport. Ia juga punya kanal Youtube-nya sendiri, Vibe with Five yang membahas seputar sepak bola.

Di sisi lain, pemain Serbia juga tetap bertahan di MU selama kurang lebih enam tahun. Ia menjadi kapten tepat setelah Gary Neville pensiun. Namun, ketika Fergie pensiun, Vidic juga memutuskan hengkang pada 2014 ke Inter dengan status bebas transfer.

Vidic memilih pensiun pada Januari 2016. Sekarang di usianya yang sudah 41 tahun kabarnya memilih tinggal di Milan. Vidic juga sesekali menjadi duta besar untuk Setan Merah sambil menyelesaikan lencana kepelatihannya.

Ia juga sempat mengikuti kursus Master Eksekutif UEFA yang diadakan di Nyon, Swiss. Vidic ingin seperti Fergie, tapi kini pria yang sudah punya lisensi UEFA Pro tahun 2018 itu masih menjadi seorang pundit.

Patrice Evra dan Wes Brown

Wes Brown adalah perancang kemenangan MU di final Liga Champions 2008. Berkat umpan briliannya, Cristiano Ronaldo bisa mencetak gol di Moskow. Sayangnya nasib Brown tak sementereng CR7. Sama seperti Van der Sar, setelah final itu Brown tetap bertahan di United, tapi pergi pada 2011.

Ia kemudian bermain untuk Sunderland. Namun, cedera memaksanya cuma bermain 76 laga dari lima tahun berseragam Sunderland. Ia sempat membela Blackburn setelah dari Sunderland. Kehadiran bek-bek muda memaksanya dilego ke klub India, Kerala Blasters.

Tahun 2018, Brown merasa kariernya tamat dan harus disudahi setelah bermain dalam 13 laga di Liga Super India dan mengemas 1 gol musim 2017/18. Setelah pensiun, Brown belakangan kerap terlihat sebagai pundit di MUTV. Btw, dia bukan pundit sembarangan, karena punya lisensi kepelatihan UEFA “A” dan pernah bekerja di Asosiasi Sepak bola Irlandia.

Sementara Evra hengkang dari United tahun 2014 di era David Moyes. Ia merapat ke Juventus dan memenangkan gelar di sana. Tahun 2017 ia pindah ke Marseille. Namun hanya semusim ia dipecat karena bertengkar dengan seorang fans. Pria yang juga berdarah Senegal itu kembali ke Inggris tahun 2018 gabung West Ham.

Evra memutuskan pensiun pada 2019. Pria ini juga sempat dikabarkan pernah alih profesi jadi petinju melawan Adam Saleh, walau kabarnya ditunda. Well, kini ia sibuk dengan bisnisnya.

Carrick dan Paul Scholes

Paul Scholes juga masih bermain di MU setelah Liga Champions itu. Tapi salah satu gelandang terbaik di Inggris itu memilih pensiun pada 2011. Tapi ternyata itu cuma istirahat, karena ia kembali berseragam MU pada tahun 2012. Akhirnya ketika Fergie pensiun pada tahun 2013, ia ikut pensiun.

Scholes pernah jadi asisten Ryan Giggs di MU pada April 2014 tapi hanya bertahan dua bulan. Ia kemudian menukangi klub masa kecilnya, Oldham Athletic pada 2019, sebelum tahun 2020 ia sempat jadi pelatih interim di Salford. Kini bersama Gary Neville ia mengelola tim League Two tersebut.

Kalau penendang kedua MU di final itu, Michael Carrick menjadi orang kedua setelah Ryan Giggs yang menghabiskan waktu terlama setelah Liga Champions 2008. Ia bermain selama 10 musim lagi di United. Dan memutuskan gantung sepatu pada 2018 disinyalir karena irama jantungnya tak teratur.

Walau tak jadi pemain, Carrick masih mengabdi untuk MU. Ia jadi tangan kanan Ole Gunnar Solskjaer sebagai bagian dari staf pelatih. Sempat jadi caretaker pelatih, Carrick ditendang ketika Ralf Rangnick masuk. Hari ini Carrick tengah menukangi Middlesbrough yang sedang berupaya kembali ke Premier League.

CR7 dan Owen Hargreaves

Fergie dalam bukunya menyebut pembelian Owen Hargreaves adalah bencana. Kata Fergie, ada hal-hal yang tidak ia sukai pada pemain itu. Namun, walau bagaimana ia membantu United meraih trofi UCL dengan tidak gagal menendang penalti. Tapi setelah malam itu, Hargreaves memang kerap diterpa cedera.

Pria kelahiran Kanada itu akhirnya dilego ke Manchester City pada Agustus 2011. Setelah ‘numpang’ juara Liga Inggris bersama klub rival, ia pensiun tahun 2012. Hari ini kesibukannya jadi pundit di BT Sport. Lalu Cristiano Ronaldo?

Tanpa perlu berpanjang lebar, kamu pasti tahulah doi di mana. Intinya, setahun setelah juara ia minggat ke Real Madrid. Setelah malang melintang meraih trofi bersama El Real dan Juventus, ia kembali dengan menghadirkan masalah yang membuatnya disingkirkan MU. Padahal untuk membujuknya kembali susahnya setengah mampus.

Carlos Tevez dan Wayne Rooney

Carlos Tevez adalah penendang pertama United di final itu. Usai memastikan kemenangan malam itu, Tevez mengangkat Si Kuping Besar dengan mengenakan jersey Argentina. Ia beruntung karena saat itu MU meminjamnya dari West Ham.

Ia kembali ke klubnya, tapi pada 2009 ia menciptakan kontroversi dengan bergabung ke Manchester City. Sempat meraih trofi Liga Inggris bersama City, ia hengkang setelah tiga musim karena perselisihan. Tahun 2013, ia meninggalkan Inggris dan meraih dua scudetto bersama Juventus.

Tahun 2015 ia benar-benar meninggalkan sepak bola Eropa dan pulang ke klub lamanya, Boca Junior. Sempat ke Shanghai Shenhua, tapi ia kembali lagi ke Boca tahun 2018. Tahun 2022, Tevez pensiun dan melatih Rosario Central pada Juni 2022. Tapi sekarang ia tanpa klub.

Kalau Wayne Rooney, ia bertahan di MU sampai 2017 sebelum kembali ke Everton. Tahun 2018 ia merapat ke DC United yang sahamnya masih dimiliki Erick Thohir, dan kembali ke Inggris tahun 2020 dengan berseragam Derby County.

Wazza ditunjuk sebagai pelatih Derby pada 2021. Setelah melalui masa sulit, ia dipecat. Dan pada 2022 ia kembali ke Amerika Serikat untuk melatih DC United.

https://youtu.be/1FJj-vhNAaM

Sumber: Sportco, TheSun, PremierLeagueHeroes, ManUtd, LiverpoolEcho, DailyMail, JohanCruyffInstitute

Terlempar dari 4 Besar, Ada Apa dengan Newcastle United?

0

Newcastle United tengah digoyang dengan isu tak sedap. Klub berjuluk The Magpies itu tengah tersandung kasus pelik yang membuat status kepemilikan mereka mendapat gugatan.

Pada awal Maret kemarin, ditemukan sebuah dokumen mencurigakan di pengadilan Amerika Serikat yang tengah menangani kasus yang melibatkan PGA Tour dan LIV Golf. Dalam dokumen tersebut, status Public Invesment Fund (PIF) yang memiliki 80% saham Newcastle United bukanlah pihak ketiga dari Arab Saudi, melainkan perpanjangan tangan dari pemerintah Arab Saudi secara resmi.

Tak hanya itu, kini pemilik Newcastle juga didesak untuk membuktikan kalau ketua umum mereka sekaligus Gubernur PIF, yakni Yasir Al-Rumayyan tidak memiliki keterlibatan langsung dalam pemerintahan Arab Saudi. Pasalnya, dalam dokumen tersebut, Al-Rumayyan digambarkan sebagai sosok menteri yang duduk di pemerintahan Arab Saudi.

Apabila kasus yang tengah berada di tahap investigasi tersebut terbukti, maka otoritas Premier League bisa saja mendepak dan mencopot konsorsium asal Arab Saudi tersebut dari kursi kepemilikan Newcastle United. Bagaimanapun juga, Premier League sangat mengecam dan melarang keterlibatan suatu negara di klub sepak bola mereka.

Newcastle United Terlempar dari 4 Besar Premier League

Isu tersebut memperparah situasi The Magpies di atas lapangan hijau. Beberapa hari sebelum berita yang membuat para pendukung ketar-ketir tersebut, Newcastle baru saja kehilangan kesempatan meraih trofi pertama mereka dalam 54 tahun terakhir. Itu terjadi setelah The Magpies tunduk 2-0 dari Manchester United di partai final Piala Liga Inggris 2023.

Penampilan antiklimaks ditunjukkan anak asuh Eddie Howe di laga tersebut. Dan penampilan antiklimaks di final Piala Liga Inggris itu seperti hanya mempertegas problem The Magpies. Pasalnya, di kompetisi Premier League, performa pasukan Eddie Howe juga sedang tak baik-baik saja, bahkan kini mereka telah terlempar dari 4 besar.

Sepekan setelah kekalahan di final Piala Liga Inggris, Newcastle kembali menelan pil pahit dalam lanjutan pekan ke-26 Premier League. Bertandang ke markas Manchester City di Etihad Stadium, pasukan Eddie Howe pulang dengan tangan hampa usai tunduk 2 gol tanpa balas.

Kekalahan tersebut jadi kekalahan kedua The Magpies secara beruntun di Liga Inggris setelah di pekan sebelumnya mereka juga takluk dengan skor yang sama kala menjamu Liverpool di St. James’s Park.

Yang menjadikan alarm di St. James’s Park berbunyi adalah fakta, kalau hasil-hasil minor tadi membuat pasukan Eddie Howe belum pernah menang lagi sejak 1 Februari lalu ketika menundukkan Southampton 2-1 di semifinal leg kedua Piala Liga Inggris.

Di ajang Premier League sendiri, Newcastle malah belum pernah menang lagi sejak menundukkan Fulham 1-0 di pertandingan pekan ke-20 Premier League, 15 Januari 2023. Artinya, Callum Wilson dan kolega telah gagal mencatat satu pun kemenangan di 5 pertandingan terakhir mereka di Liga Inggris.

Usai menang atas Fulham, Newcastle secara berturut-turut ditahan imbang Crystal Palace, West Ham United, dan Bournemouth, serta tunduk dari Liverpool dan Manchester City. Catatan buruk itu pun membuat Newcastle United terlempar dari empat besar. The Magpies yang tadinya nyaman di peringkat 3, kini harus rela tergusur ke peringkat 6.

Walaupun Newcastle masih menyimpan dua pertandingan tunda dibanding 4 tim yang menghuni 4 besar, tetapi posisi mereka tidaklah aman. Lebih daripada itu, meski masih berpeluang kembali ke 4 besar, ada beberapa masalah yang membuat kami sangsi kalau Newcastle United sanggup melakukannya.

Sinyal Kemunduran Newcastle United

Setelah secara ajaib lolos dari jeratan degradasi di musim lalu, Newcastle United memperpanjang kontrak pelatih Eddie Howe dan memperkuat skuadnya dengan nama-nama baru. Dana tak kurang dari 136 juta euro mereka belanjakan untuk membeli amunisi baru, seperti Alexander Isak, Sven Botman, Matt Targett, hingga Nick Pope.

Tak disangka pasukan Eddie Howe kemudian sukses melampaui ekspektasi di paruh pertama Liga Inggris musim 2022/2023. Mulai menemukan gaya main yang tepat di bawah asuhan pelatih Eddie Howe, Newcastle secara perlahan tapi pasti sukses mencatat hasil positif.

Setelah hanya meraih 1 kemenangan dan 5 hasil imbang dalam 7 pertandingan pertamanya di Liga Inggris musim ini, Miguel Almiron dan kolega sukses mencatat 8 laga tak terkalahkan di pekan-pekan berikutnya. Tambahan 7 kemenangan dan 1 hasil imbang dalam 8 pertandingan membuat The Magpies merangsek dari papan tengah ke peringkat 3 klasemen sebelum jeda Piala Dunia 2022.

Sayangnya, ketika Premier League dilanjutkan kembali pasca Piala Dunia Qatar 2022, performa Newcastle United agak mengendur. Dari sinilah sinyal kemunduran itu terdengar.

Peruntungan The Magpies berubah seiring dengan pergantian tahun. Newcastle hanya memenangkan empat pertandingan di tahun 2023, dengan hanya satu dari kemenangan tersebut yang terjadi di liga dan tiga lainnya di Piala Liga. Mereka juga tersingkir dari Piala FA pada putaran pertama, kalah 2-1 dari tim League One, Sheffield Wednesday.

Absennya beberapa pemain kunci dalam beberapa pertandingan bisa jadi penyebabnya. Seperti Alexander Isak yang sempat absen 3 bulan lamanya karena cedera hamstring. Atau Bruno Guimaraes yang sempat terkena skorsing selama 3 pertandingan. Berikutnya, nama-nama seperti Joe Willock, Callum Wilson, hingga Nick Pope juga sempat absen membela The Magpies.

Absennya beberapa pemain tentu membuat tim jadi tidak seimbang. Namun, masalah utama mereka bukanlah itu. Adalah mulai tertembusnya pertahanan kokoh Newcastle dan seretnya lini serang The Magpies yang jadi soal.

Pasukan Eddie Howe boleh berbangga diri. Di paruh pertama musim, pertahanan mereka tampil begitu solid. Hingga pekan ke-26, Newcastle United adalah tim dengan catatan clean sheets terbanyak, yakni 12. Enam di antaranya bahkan terjadi secara beruntun antara pertengahan November hingga akhir Januari.

Newcastle juga masih mencatatkan dirinya sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di liga. Hingga pekan ke-26, gawang Nick Pope baru bobol 17 kali, jauh lebih baik dari Arsenal dan Manchester City yang sudah kebobolan 25 gol.

Sayangnya, dalam beberapa pertandingan terakhir, pertahanan kokoh Newcastle mulai tertembus. Dari 24 kebobolan di semua kompetisi, 25% di antaranya terjadi dalam 3 pertandingan terakhir. Dari 3 kekalahan terakhir yang mereka derita di semua kompetisi, pasukan Eddie Howe juga tak sanggup bangkit apabila lebih dulu kebobolan.

Mulai tertembusnya pertahanan Newcastle United ini sebetulnya tidak akan jadi masalah jika lini depan mereka tidak seret. Inilah yang membuat The Magpies kehilangan banyak poin. Musim ini, Newcastle baru kalah 3 kali, sama seperti Arsenal. Namun, pasukan Eddie Howe sudah 11 kali meraih hasil imbang.

Penyelesaian akhir yang buruk adalah biang keroknya. Dari 24 pertandingan yang sudah dijalani di Premier League, Newcastle baru mencetak 35 gol alias 1,5 gol perlaga. Mereka berada di urutan ke-9 untuk statistik gol perlaga.

Newcastle juga hanya menduduki urutan ke-7 untuk jumlah tembakan tepat sasaran perlaga. Dengan statistik 4,9 tembakan tepat sasaran perlaga, rasio konversi tembakan dari pasukan Eddie Howe juga hanya 7,7%.

Catatan tersebut bahkan kalah dari Leicester City yang berada di peringkat 15. Leicester memiliki rasio konversi tembakan sebesar 9,7%. Bahkan, Leicester juga jadi satu dari sembilan tim yang memiliki lebih banyak gol dari Newcastle United.

Paceklik gol yang terjadi di Newcastle juga makin parah sejak pergantian tahun. Hanya mencetak 3 gol dari 7 pertandingan membuat The Magpies tercatat sebagai tim dengan jumlah gol paling sedikit di tahun 2023 ini.

Kran gol Newcastle memang tengah seret. Almiron yang berada di garis paling depan tengah inkonsisten. Meski telah mencetak 10 gol, tetapi sejak tahun 2023, Almiron baru mencetak 1 gol saja. Setelah Almiron, penyumbang gol terbanyak berikutnya adalah Callum Wilson dengan torehan 7 gol, diikuti Bruno Guimaraes dan Alexander Isak yang baru mencetak 3 gol.

Inkonsistensi dan seretnya gol Newcastle United inilah yang membuat mereka baru mengumpulkan 7 poin di tahun 2023. Penurunan performa inilah yang kemudian membuat mereka tersalip dan terlempar dari zona Liga Champions.

Lalu, apakah target lolos ke Liga Champions Eropa musim depan masih realistis?

Memang, masih banyak poin yang diperebutkan. Newcastle juga masih menyimpan dua laga tunda. Namun, melihat tren positif dari para pesaingnya, seperti Liverpool yang mengintip 4 besar pasca membantai MU 7-0 atau Brighton yang terus bersinar pasca jeda Piala Dunia 2022, ada baiknya Newcastle United fokus dan sabar memperbaiki diri sendiri.

Jika ingin kembali ke Eropa untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, pelatih Eddie Howe harus menemukan cara untuk menghentikan laju kemunduran timnya. Tidak ada yang salah dari taktiknya, tetapi pelatih 45 tahun itu harus mengembalikan lagi mentalitas anak asuhnya yang sedikit memudar dan menemukan solusi untuk lini depan The Magpies yang tampil seret.

Untuk saat ini, melihat skuad dan tren Newcastle United yang masih inkonsisten di tahun 2023 ini, agaknya target UCL musim depan agak sulit dicapai. Seperti apa yang dikatakan Alan Shearer pada Oktober silam, “akan menjadi sebuah keajaiban jika Newcastle dapat masuk ke empat besar.”

Rasanya, lolos ke Liga Europa atau Liga Konferensi Eropa jauh lebih realistis. Yang mana pun akhirnya, itu sudah menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Newcastle United.


https://youtu.be/nvGY0YQ29xY

Referensi: SkySports, Fotmob, The Guardian, chroniclelive.

Nostalgia: Saat Loris Karius Hanya Kalah dari Manuel Neuer

0

Memori final Liga Champions 2018 sepertinya masih terpatri dalam benak setiap pencinta sepak bola. Malam itu, di laga final yang mempertemukan Real Madrid dan Liverpool, Loris Karius membuat dua blunder fatal yang mengakibatkan The Reds tunduk 1-3.

Blunder fatal yang sempat membuat Karius terpuruk hingga mendapat ancaman pembunuhan itu sangat mempengaruhi kariernya. Sampai-sampai, kata blunder seperti sudah menjadi sinonim bagi kiper asal Jerman yang kini berusia 29 tahun itu.

Terbaru, meski blunder fatal tersebut sudah berlalu hampir 5 tahun lamanya, tetapi masih banyak pihak yang meragukan Loris Karius ketika dirinya dipastikan tampil di laga final Carabao Cup 2023 untuk Newcastle United. Padahal, jika kita mundur ke belakang, ada suatu masa di mana Loris Karius hanya kalah dari Manuel Neuer.

Hanya Kalah dari Manuel Neuer, Loris Karius Kiper Terbaik Kedua Bundesliga 2015/2016

Masa-masa indah itu terjadi ketika dirinya masih berseragam FSV Mainz 05. Ketika itu, adalah sebuah hal lumrah melihat Loris Karius tampil apik di bawah mistar gawang.

Di masa mudanya, Loris Karius adalah salah satu kiper muda berbakat yang dimiliki Jerman. Sejak 2005, ia sudah bergabung dengan salah satu akademi terbaik Jerman, Stuttgart. Selain itu, Karius juga jadi langganan timnas kelompok usia Jerman, dari U-16 hingga U-21. Bahkan, berkat penampilannya itu, Karius yang masih berusia 16 tahun direkrut Manchester City dari akademi Stuttgart pada musim panas 2009.

Setelah membela tim U-18 dan hanya bermain bagi tim cadangan The Citizens, Karius yang gagal menembus tim utama pulang kampung ke Jerman setelah direkrut klub Bundesliga, FSV Mainz 05 pada musim panas 2011. Di klub inilah Karius menjalani musim-musim terbaiknya.

Karius mendapat debut pertamanya pada 1 Desember 2012. Oleh Thomas Tuchel, yang kala itu melatih Mainz, Karius masuk sebagai kiper pengganti di laga melawan Hannover 96. Karius yang kala itu masih berusia 19 tahun 5 bulan mencatatkan dirinya sebagai penjaga gawang termuda Mainz di Bundesliga.

Setelah dua musim jadi kiper cadangan, pada musim 2013/2014, Karius dipercaya Tuchel menjadi kiper utama Mainz. 23 pertandingan Bundesliga ia jalani sebagai starter, mencatatkan 9 clean sheets, membuat 101 penyelamatan, dan membantu Mainz finsih di peringkat ketujuh.

Di musim berikutnya, Karius tetap jadi kiper nomor satu Mainz meski Thomas Tuchel digantikan Kasper Hjulmand. 33 pertandingan ia lakoni saat membantu Mainz finish di peringkat 11 klasemen Bundesliga. Di musim itu, ia mencatatkan 10 clean sheets dan 124 penyelamatan.

Saat Mainz kembali berganti pelatih ke Martin Schmidt di musim 2015/2016, Loris Karius tetap dipercaya sebagai penjaga gawang nomor satu. Di musim tersebut, Karius tampil sepanjang musim tanpa absen satu laga pun.

Musim tersebut jadi musim terbaik Mainz dalam sejarah keikutsertaan mereka di Bundesliga. Mainz finish di peringkat 6 dan Loris Karius keluar sebagai salah penampil terbaik di liga.

Sebanyak 9 clean sheets dan 117 penyelamatan dibuat Loris Karius di musim tersebut. Meski secara statistik turun, tetapi ada lebih banyak saves krusial yang dicatat Karius di musim tersebut. Alhasil, pemain kelahiran 22 Juni 1993 itu masuk dalam nominasi kiper terbaik Bundesliga versi majalah Kicker.

Dalam hasil jajak pendapat yang diberikan oleh 235 pemain Bundesliga di musim tersebut, Loris Karius mendapat 13,5% suara. Ia berada di urutan kedua dan hanya kalah dari kiper Bayern Munchen, Manuel Neuer, yang mendapat 23,7% suara.

“Jika saya menganalisis tiga musim di Mainz sekarang, itu adalah waktu yang luar biasa. Itu adalah keputusan terbaik untuk pergi ke Mainz dan mengambil langkah profesional pertama saya di sana,” kata Karius dikutip dari Bundesliga.

Setelah membuat 28 clean sheets dalam 90 penampilan bersama Mainz, Loris Karius kemudian dipinang Liverpool di musim panas 2016. Adalah Jurgen Klopp, mantan pelatih Mainz, yang membuat The Reds rela merogoh koceknya sebesar £4,7 juta untuk memboyongnya ke Anfield.

Pada awalnya, performa Karius baik-baik saja, hingga akhirnya blunder fatal di final UCL 2018 membuat seluruh performa apiknya bersama Mainz serasa dilupakan.

Karius, MVP Newcastle di Final Carabao Cup 2023

Setelah tak lagi dipakai oleh Liverpool, Loris Karius menghabiskan sisa kontraknya di Anfield sebagai pemain pinjaman di Besiktas dan Union Berlin. Sempat kembali ke Anfield di musim 2021/2022, Karius hanya makan gaji buta hingga dilepas gratis di musim panas 2022. Ia kemudian direkrut Newcastle dengan kontrak 6 bulan sebelum kemudian diperpanjang Eddie Howe hingga akhir musim 2022/2023.

Sejak didatangkan pada September tahun lalu, Karius belum mencatat satu menit pun penampilan bersama The Toon Army. Hingga akhirnya, sebuah kesempatan langka didapat Loris Karius pada final Carabao Cup kontra Manchester United. Hal itu terjadi setelah dua kiper Newcastle tak dapat tampil di laga final. Sepekan sebelum final, Nick Pope terkena kartu merah di pekan ke-24 Liga Inggris kontra Liverpool.

Sementara itu, kiper cadangan kedua Martin Dubravka yang kembali lebih cepat dari masa peminjamannya di Manchester United dilarang tampil di laga final. Regulasi Piala Liga Inggris melarang seorang pemain mewakili dua tim berbeda dalam satu musim. Sebelumnya, Dubravka tercatat sudah 2 kali tampil bagi MU di Piala Liga Inggris musim ini.

Dua kejadian tersebut membuat stok kiper Newcastle United tinggal menyisakan Loris Karius dan Mark Gillespie. Pelatih Eddie Howe kemudian menjatuhkan pilihannya kepada Karius. Kesempatan langka tersebut kemudian membuat kiper 29 tahun itu dapat merasakan debut bersama The Toon Army.

Kesempatan tampil di final Carabao Cup 2023 tak hanya membuat Loris Karius mencatat debutnya bersama Newcastle United. Kesempatan langka itu juga membuat dirinya kembali tampil di laga kompetitif setelah 728 hari absen. Terakhir kali Karius tampil di laga kompetitif terjadi pada 28 Februari 2021 saat dirinya masih berseragam Union Berlin.

Seolah membungkam kritik, kesempatan langka di final Carabao Cup kontra Manchester United dimanfaatkan dengan baik oleh Loris Karius. Meski di laga tersebut ia kebobolan dua gol dan gagal membawa Newcastle juara, tetapi kiper berkebangsaan Jerman itu tampil cukup memukau.

Delapan penyelamatan dicatatkan Loris Karius di laga ini. Tiga di antaranya ia buat di dalam kotak penalti. Situs Sofascore dan Whoscored juga kompak memberi Loris Karius rating tertinggi di antara pemain Newcastle United lainnya. Maka, tidak berlebihan rasanya menyebut Karius sebagai MVP The Toon Army di final Carabao Cup 2023.

Penampilan apik di laga tersebut seperti menjadi pembuktian diri bagi Loris Karius. Meski dua tahun absen dari laga kompetitif, mantan penggawa timnas U-21 Jerman itu sanggup bangkit dari keterpurukan.

“Sepak bola tidak selalu mudah. Sangat menyenangkan ketika Anda berada di puncak, namun tidak begitu menyenangkan ketika Anda berada di bawah. Saya mengalami keduanya dalam karier saya, tetapi saya belajar dari semuanya dan saya masih lapar dan saya pikir saya masih memiliki banyak waktu untuk bermain,” kata Loris Karius dikutip dari The Guardian.

“Pekan terakhir menunjukkan kepada saya lagi bahwa segala sesuatu mungkin terjadi dalam sepak bola. Saya tahu banyak hal bisa berubah dengan cepat. Saya tidak mengandai-andai, jadi saya harap kisah ini akan memiliki akhir yang baik suatu hari nanti.”


Referensi: Goal, The Guardian, Bundesliga, Bundesliga, Liverpool Echo.

Berita Bola Terbaru 8 Maret 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Benfica menjamu Club Brugge pada pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Stadion Da Luz. Tampil di hadapan pendukung sendiri, Benfica menggila dengan mencetak lima gol. Goncalo Ramos menjadi bintang dengan dua golnya, disusul masing-masing satu gol Rafa Silva, Joao Mario, dan David Neres. Club Brugge cuma bisa membalas satu gol melalui Bjorn Meijer. Laga tuntas untuk kemenangan Benfica 5-1, sekaligus memastikan mereka lolos ke perempatfinal dengan agregat 7-1.

Di laga lain, Chelsea juga menyegel tiket ke 8 besar seusai meraih kemenangan 2-0 atas Borussia Dortmund. Kemenangan 2-0 Chelsea hadir berkat dua gol yang dibukukan Raheem Sterling dan Kai Havertz. Berkat itu Chelsea dapat melangkah ke perempat final Champions League seusai menang secara agregat skor 2-1 atas Dortmund.

Dari ajang UEFA Conference League, leg pertama babak 16 besar, Lazio takluk dari AZ Alkmaar dengan skor 2-1. Bertanding di Olimpico, Lazio unggul duluan melalui Pedro Rodriguez. Klub asal Belanda itu lantas berhasil membalas melalui gol Vangelis Pavlidis dan Milos Kerkez.

PENJELASAN PENALTI CHELSEA BOLEH DIULANG

Laga Chelsea vs Dortmund diwarnai dengan diulangnya tendangan penalti Kai Havertz. Havertz sejatinya gagal dalam penalti pertama, beruntung ia berhasil di kesempatan kedua. Havertz diizinkan mengulang tendangan penalti oleh wasit karena pemain Dortmund, Salih Ozcan yang membuang bola pasca kegagalan Havertz di kesempatan pertama, terlihat masuk ke dalam kotak penalti sebelum Havertz menendang bola. Melansir Sportbible, pertimbangan mengulang penalti Havertz dinilai sudah sejalan dengan Law of the Game International Football Association Board (IFAB) terkait VAR.

FANS DORTMUND BIKIN RUSUH DI STAMFORD BRIDGE

Supporter Borussia Dortmund bikin kekacauan di luar stadion Stamford Bridge. Fans Dortmund mendesak masuk ke stadion meski tak punya tiket. Saat ini tidak diketahui berapa banyak Fans yang masuk ke stadion tanpa tiket. Pertandingan sempat ditunda selama 10 menit, meski hal itu lebih disebabkan bus Dortmund terjebak macet daripada perilaku suporternya.

UEFA KEMBALIKAN UANG TIKET FINAL UCL 2021/22 SUPORTER LIVERPOOL

UEFA akan mengembalikan uang para suporter Liverpool yang menghadiri final Liga Champions tahun lalu di Paris. Langkah ini diambil setelah sebuah laporan independen mengatakan bahwa UEFA bertanggung jawab atas kekacauan di luar stadion. UEFA mengatakan pengembalian uang akan tersedia untuk semua penggemar yang memiliki tiket untuk gerbang A, B, C, X, Y dan Z yang merupakan tempat “situasi yang paling sulit dilaporkan”.

SON SEBUT AC MILAN PENENTU SPURS ANGKAT TROFI MUSIM INI

Tottenham Hotspur akan menjamu AC Milan dalam pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2022/23. Penyerang Tottenham, Son Heung-Min menilai laga melawan AC Milan menjadi yang terpenting pada musim ini. Liga Champions menjadi satu-satunya kesempatan Tottenham Hotspur untuk mengangkat trofi pada musim 2022-2023.

SPURS VS MILAN, CONTE AKAN KEMBALI KE SISI LAPANGAN

Antonio Conte akan kembali ke sisi lapangan saat memimpin Tottenham Hotspur menjamu AC Milan. Sang juru taktik sebelumnya absen mendampingi anak asuhnya karena harus memulihkan diri pasca menjalani operasi kantung empedu pada awal Februari. Ia mengatakan, saat ini energinya telah kembali lagi meski mengakui bahwa secara fisik belum sepenuhnya pulih.

GARA-GARA VAR, MADRID TERTINGGAL BANYAK POIN DARI BARCA

Surat kabar Madrid mengatakan bahwa Los Blancos kehilangan empat poin karena keputusan VAR, terbanyak dari tim mana pun di La Liga. Sisi yang paling diuntungkan adalah Real Betis (+4), sementara Barcelona (+2) semuanya terbantu oleh keputusan VAR. Disebutkan jika keputusan VAR itu tidak diperhitungkan, maka jarak antara Barcelona dan Real Madrid hanya akan menjadi tiga poin.

MOISE KEAN DISKORS 2 PERTANDINGAN

Buntut kartu merah yang diterimanya di laga kontra AS Roma, Moise Kean tak hanya diskors satu pertandingan. Tapi, FIGC memutuskan Kean didenda 10 ribu euro atau Rp 162 juta dan sanksi larangan tampil dalam 2 pertandingan. Penyerang Juve itu mendapat kartu merah di menit ke-90 karena menendang Gianluca Mancini.

GALTIER AKUI CEDERA NEYMAR BUAT SISI PERMAINAN PSG LEBIH HIDUP

Christophe Galtier menerima bahwa serangan PSG lebih seimbang tanpa kehadiran Neymar. Namun, pelatih berusia 56 tahun membantah anggapan bahwa timnya lebih kuat tanpa penyerang yang sedang mengalami cedera itu. Pemain timnas Brasil itu sendiri telah terlibat langsung dalam 34 gol musim ini.

ADA CR7, MU NGGAK BAKAL KALAH 7-0 VS LIVERPOOL

Manchester United dicukur Liverpool tujuh gol. Mantan striker United, Louis Saha menyatakan, kekalahan memalukan itu mungkin tidak akan terjadi jika Ronaldo masih memperkuat mereka. “Sekarang pola pikir klub telah membaik, saya pikir mereka akan memiliki hasil yang lebih baik jika memiliki Cristiano di depan. Tentu saja, sulit untuk mengetahui dengan pasti, tetapi ketika saya melihat United kalah 7-0 dari Liverpool, saya hanya bisa berpikir bahwa Cristiano bisa membantu.”

USAI BANTAI MU, SALAH DIANGGAP LEBIH HEBAT KETIMBANG RONALDO

Mohamed Salah dianggap lebih hebat ketimbang Cristiano Ronaldo setelah membantu Liverpool membantai Manchester United 7-0 di Anfield, akhir pekan lalu. Penilaian itu disampaikan legenda Liverpool, Robbie Fowler. Dengan usia 30 tahun namun masih menjadi andalan Liverpool, Salah dianggap lebih mantul dibanding peraih 5 trofi Ballon d’Or tersebut.

OBROLAN PEMAIN MU DI GRUP WA BOCOR SEBELUM DIHAJAR LIVERPOOL

Sebelum dihajar Liverpool, para pemain Manchester United sempat berbincang di WhatsApp grup tentang persaingan menjadi juara Liga Inggris. Mereka berbincang tentang kemungkinan mengejar Arsenal dan Manchester City. Optimisme para pemain tumbuh karena MU sedang dalam performa terbaik usai menyingkirkan Barcelona di Liga Europa serta merebut gelar Piala Carabao mengalahkan Newcastle United.

DIPERMALUKAN LIVERPOOL, TEN HAG HUKUM PEMAIN MU

Erik ten Hag memberikan hukuman kepada anak asuhnya setelah dipermalukan oleh Liverpool. Menurut laporan Goal, selepas pertandingan, Ten Hag membuat kamar ganti menjadi sunyi dan memerintahkan para pemain Setan Merah untuk mendengarkan Liverpool berselebrasi di ruangan sebelah. Ten Hag juga memperingatkan skuadnya bahwa jika dibantai lagi, maka mereka akan didegradasi berlatih bersama skuad U-21.

SENTUH PAPAN ‘THIS IS ANFIELD’, WEGHORST DIRUJAK FANS MU

Wout Weghorst mendapat kecaman dari penggemar MU karena menyentuh tanda bersejarah di Anfield sebelum kekalahan memalukan 7-0. Sekarang, Weghorst telah merilis pernyataan yang mengklaim bahwa itu adalah taktik untuk membungkam rekan setim internasionalnya, Van Dijk, sambil juga menegaskan bahwa dia bukan penggemar Liverpool.

PIALA ASIA U20: GARUDA MUDA TERSINGKIR DI FASE GRUP

Timnas Indonesia U-20 tersingkir dari Piala Asia U-20. Hasil buruk itu didapat usai bermain imbang 0-0 dengan Uzbekistan di laga terakhir Grup A. Indonesia yang memiliki empat poin – dan sama dengan Irak – hanya finis di posisi ketiga. Garuda Muda kalah selisih gol dari Irak, yang di saat bersamaan bermain imbang 1-1 melawan Suriah. Sementara Juara Grup dipegang Uzbekistan. 

BELAS KASIH MBAPPE KEPADA LAWAN YANG BARU KEHILANGAN ANAKNYA

Bintang PSG, Kylian Mbappe menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Paris Saint-Germain saat ia mencetak gol ke-201 dalam kemenangan 4-2 atas Nantes pada Sabtu (4/3). Sikap mengharukan ditunjukkannya selepas pertandingan. Pemain internasional Prancis itu terlihat menghadiahkan jersey spesial pemecah rekor kepada penyerang lawan, Ignatius Ganago, yang baru dua pekan kehilangan putrinya karena meninggal dunia.

JOAO FELIX MAUNYA BERTAHAN DI CHELSEA, TAPI….

Joao Felix dipinjam dari Atletico Madrid Januari lalu tanpa opsi permanen musim panas nanti. Felix mau-mau saja bertahan di Chelsea musim depan. Tapi, ada syarat penting yang harus penuhi The Blues dulu. Klub London Barat itu harus bermain di Liga Champions musim depan. Di lain sisi, Felix sangat bahagia berada di Chelsea. “Saya merasa bebas di sini, perbedaan tim dan kompetisi menjadi hal yang memuaskan bagi saya,” ucap Joao Felix.

INTER MILAN INCAR BEK YANG DIBUANG BARCELONA

Setelah beberapa tahun yang sulit di mana ia jarang bermain di FC Barcelona, ​​ Samuel Umtiti menjalani periode yang lebih baik dengan status pinjaman di Lecce. Lecce sendiri bersedia mempertahankan pemain Prancis itu di klub setelah musim berjalan. Dan kini, menurut Football Italia, Inter Milan adalah klub terbaru yang menunjukkan minat untuk mendapatkan jasa Umtiti di jendela transfer musim panas akhir musim ini.

CASEMIRO KEMUNGKINAN ABSEN SAAT MU LAWAN REAL BETIS

Casemiro dilaporkan kemungkinan absen saat Manchester United menjamu Real Betis pada leg pertama babak 16 besar Liga Europa, di Stadion Old Trafford, Jumat (10/3) dini hari WIB. Casemiro cedera saat melawan Liverpool. Gelandang 31 tahun itu akan terus dipantau perkembangannya hingga jelang pertandingan kontra Betis, namun status cederanya sampai sekarang belum diketahui secara pasti alias misterius.

TOTTENHAM INGIN PERMANENKAN DEJAN KULUSEVSKY

Tottenham Hotspurs siap mendatangkan Dejan Kulusevski secara permanen. Pemain Swedia itu bergabung dengan Spurs lebih dari setahun yang lalu dengan status pinjaman dari Juventus. Tribalfootball melaporkan Spurs akan membeli pemain dari Juve seharga 34 juta euro di akhir musim. Kulusevsky sendiri telah membuat 24 penampilan untuk Tottenham pada 2022/23, mencetak dua gol dan memberikan enam assist.

VICTOR OSIMHEN INGIN BERMAIN DI LIGA INGGRIS SUATU HARI NANTI

Striker Napoli Victor Osimhen memiliki mimpi bermain di Liga Primer Inggris suatu saat nanti. Penyerang timnas NIgeria ini diburu banyak klub top setelah penampilan mengilapnya bersama i Partenopei di Italia. “Saya bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa saya mencapai impian saya bermain di Liga Primer suatu hari nanti, tetapi seperti yang saya katakan, ini adalah proses dan saya hanya ingin mempertahankan momentum ini dan terus melakukannya dengan baik.”

VAN DIJK: FIRMINO AKAN PERGI SEBAGAI LEGENDA

Roberto Firmino telah memberitahu Liverpool bahwa dia akan meninggalkan klub ketika kontraknya berakhir pada akhir musim. Setelah seminggu masa depan Firmino menjadi pusat perhatian, bek Virgil Van Dijk memuji pengaruhnya terhadap kesuksesan tim. “Untuk saat ini, kami masih memiliki target untuk dicapai, dan dia tahu itu, dan dia ingin memastikan bahwa kami juga memenuhinya. Dia sangat berpengaruh, dan dia harus dikenang sebagai salah satu legenda.” katanya.

BARCELONA BIDIK AYMERIC LAPORTE

Surat kabar Spanyol Fichajes mengklaim bahwa Manchester City siap untuk membiarkan Aymeric Laporte meninggalkan klub musim panas ini, dengan sang bek tidak senang karena kurangnya waktu bermain. Situasi itu coba dimanfaatkan Barcelona. Barcelona segera memasukkan pemain internasional Spanyol itu ke dalam daftar keinginan mereka, tetapi bisa kesulitan untuk membiayai kesepakatan tersebut.

PELATIH AL NASSR SEBUT CR7 SEPERTI MESIN PERANG

Pelatih kiper Al Nassr, Guido Nanni, mengungkapkan bahwa kedatangan Cristiano Ronaldo memberi dampak positif bagi tim. Pria yang pernah bekerja untuk AS Roma itu juga menilai Ronaldo seperti mesin perang. Ia selalu latihan dengan intensitas tinggi demi menjaga kebugarannya untuk bermain konsisten. Pemilik lima trofi Ballon d’Or ini sudah mencetak delapan gol dari tujuh pertandingan di lintas ajang bersama Al Nassr.

PEMAIN NATURALISASI PROTES TERHADAP REGULASI DISKRIMINATIF OLEH PSSI

Wacana regulasi pembatasan pemain naturalisasi bagi klub-klub Liga 1 oleh PSSI mulai musim depan menuai banyak kontroversi. Kekecewaan juga diungkapkan langsung oleh para pemain naturalisasi. Pemain Madura United, Otavio Dutra bahkan menilai kebijakan ini sangat diskriminatif dan berharap dunia tak mengecap Indonesia sebagai negara yang demikian andai regulasi itu diterapkan. Sedangkan, Beto menilai pembatasan itu melanggar haknya sebagai seorang WNI yang seharusnya memiliki status yang sama dengan WNI lainnya.

Penantang Raksasa! Inilah 7 Underdog di Liga Champions Sejak Tahun 2010

Masih segar di ingatan ketika Porto menjuarai Liga Champions di tahun 2004. Saat itu tim Jose Mourinho sama sekali tidak diunggulkan. Tapi itu jadi era terakhir underdogs menjuarai Liga Champions. Sejak era 2010 tidak ada lagi tim underdog yang juara. tapi banyak yang berjuang. Dan perjuangan itu patut untuk diapresiasi.

Schalke 2010/11

Mari kita mulai daftar ini dengan melempar ingatan ke musim 2010/11. Di musim itu, label underdog Champions League melekat pada diri Schalke. Padahal mereka mengawali musim itu dengan buruk. Die Knappen harus menelan kekalahan di empat laga awal Bundesliga.

Tidak puas dengan hasil itu, Felix Magath pun dipecat di pertengahan musim dan digantikan oleh Ralf Rangnick. Rangnick tentu mewarisi skuad yang compang-camping. Tapi setidaknya ia masih punya pemain berbakat seperti Neuer, Benedikt Howedes, Joel Matip, dan Julian Draxler. Juga pemain veteran seperti pangeran buangan Bernabeu, Raul dan Klaas-Jan Huntelaar.

Meskipun di liga mereka terseok-seok, di Liga Champions jalan mereka cenderung mudah. The Royal Blue mampu memuncaki klasemen grup yang berisikan Lyon, Benfica, dan Hapoel Tel Aviv. Raul dan kolega pun melenggang santai dengan mengalahkan Valencia di babak 16 besar.

Aksi luar biasa mereka tunjukan di laga perempat final. Di partai itu, Schalke mampu menekuk juara bertahan Inter dengan agregat 7-3. Tapi sayang sungguh sayang, mereka kalah di partai selanjutnya melawan Manchester United dengan agregat 6-1. Meskipun begitu, perjalanan mereka tetap membanggakan mengingat ini kali pertama mereka mampu mencapai semifinal Champions League.

Dortmund 2012/13

Di musim 2012/13, Borussia Dortmund ditempatkan di grup neraka berisikan Manchester City, Ajax, dan Real Madrid. Die Borussen mampu keluar sebagai pemuncak klasemen dengan catatan tanpa terkalahkan.

BVB diisi oleh bakat-bakat masa depan saat itu. Seperti Marco Reus, Ilkay Gundogan, Mario Gotze dan tentu saja Robert Lewandowski. Champions League musim 2012/13 seakan jadi panggung bagi pemain Polandia itu. Masih segar diingatan ketika ia mencetak empat gol ke gawang Madrid di semifinal.

Sayangnya mereka tidak bisa jadi juara setelah kalah lawan Bayern Munchen di final. Rival satu negaranya terlalu kuat untuk anak asuh Jurgen Klopp. Tapi ada satu pemandangan yang ngeri di final. Invasi Jerman terasa begitu nyata saat 80 ribu lebih orang datang ke Wembley untuk menyaksikan Der Klassiker di final Champions.

AS Monaco 2016/17

Tim asal Prancis memang tidak dikenal garang di Liga Champions. Tapi beda cerita dengan AS Monaco di musim 2016/17. Mereka mampu jadi wakil Prancis yang sampai ke babak semifinal.

Bisa dihitung sebagai underdog, ya karena mereka bukanlah tim bertabur bintang. Selain Falcao dan Joao Moutinho, Monaco tidak punya nama besar atau bintang masa depan. Tentu saja ada Kylian Mbappe, tapi selain dirinya tidak ada lagi. Pelatihnya, Leonardo Jardim pun bukan pelatih yang punya nama.

Laga alot sudah harus mereka lalui di babak 16 besar melawan Manchester City. Monaco bisa unggul gol tandang dengan agregat 6-6. Kemudian bisa menang telak lawan Borussia Dortmund yang dilatih Thomas Tuchel di perempat final. Sayang langkah mereka dihentikan di Semifinal oleh Juventus.

Ajax Amsterdam 2018/19

Selama abad ke-21, Ajax Amsterdam seperti klub kelas dua jika berpacu pada kompetisi Eropa. Jangan salah, Ajax memang bukan tim yang buruk. Tapi mereka tidak cukup baik untuk mendominasi benua biru.

Itu masih terasa sampai musim 2018/2019. Memang, Ajax di musim itu masuk ke zona Champions setelah mampu duduk di peringkat kedua Eredivisie musim sebelumnya. Tapi di musim 2017/18 Ajax bahkan tidak bisa lolos fase kualifikasi Champions League.

Itu yang membuat Erik Ten Hag, manajer Ajax saat itu ingin mengubah nasib klub di Eropa. Jika diperhatikan, tim Ajax musim 2018/19 memang tidak berisikan nama besar. Tapi mereka akan jadi bintang di masa depan. Seperti De Ligt, Frenkie de Jong, Donny van de Beek, David Neres dan Hakim Ziyech.

Pemain muda ditambah sistem brilian dari Ten Hag membawa mereka bisa menembus semifinal. Mengalahkan Real Madrid dalam laga paling dramatis di babak 16 besar. Sebelum akhirnya kandas dari Tottenham di semifinal.

Cerita Tottenham juga tidak kalah underdognya. Jangankan bisa diperhitungkan di Liga Champions, di liga domestik saja Spurs kurang diperhitungkan. Jadi saat mereka bisa mengalahkan Ajax untuk bisa sampai final, Pochettino berkata bahwa ini sudah seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Tapi Spurs tidak bisa menang di final. Mereka tidak bisa mengalahkan hasrat buka puasa gelar Eropa Liverpool. Tapi bagaimanapun, perjalanan Spurs bisa sampai ke final tidak bisa diprediksi oleh siapapun.

Leipzig dan Lyon 2019/20

Musim 2019/20 memang jadi musim yang sedikit gila untuk dunia sepak bola. Pandemi yang menyerang menyebabkan kompetisi ditunda juga munculnya beberapa tim kejutan di Liga Champions. Pertama, tim unggulan seperti Liverpool dan Real Madrid harus tersingkir di babak 16 besar.

Atalanta berhasil menembus babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan terus melaju sampai perempat final. Dimana mereka ditaklukan oleh PSG. Selain itu, Leipzig dan Lyon juga muncul sebagai underdog. Kedua tim itu lolos dari grup yang sama, Grup G dengan tim jerman yang berada di puncak.

Itu membuat Lyon harus berhadapan dengan raksasa Italia, Juventus. Setelah susah payah menidurkan si nyonya tua, mereka mampu menaklukan Manchester City. Tapi Lyon tidak kuasa untuk mengalahkan Bayern Munchen yang sedang berada dalam mode angkat piala musim itu.

Sementara Leipzig dengan mudah mengalahkan Tottenham di babak 16 besar. Tim yang baru berumur jagung itu mampu mengalahkan Atletico Madrid di babak perempat final. Sampai akhirnya koyak di tangan PSG di babak semifinal.

Villarreal 2021/22

Terbaru, gelar pembunuh raksasa Eropa masih dipegang oleh Villarreal. Di musim 2021/22 pasukan Yellow Submarine mampu mengalahkan Juventus di babak 16 besar. Tidak sampai situ, anak asuh Unai Emery juga menaklukan Bayern Munchen di perempat final. Ya, kalian tidak salah ingat. Bayern Munchen sang raksasa Jerman ditenggelamkan begitu saja dengan agregat 2-1.

Tapi perjuangan mereka harus berhenti tidak jauh dari situ. Pasukan kapal selam kuning dikalahkan oleh Liverpool di babak semifinal. Tapi itu jadi perjalanan yang membanggakan untuk Villarreal. Mengulangi memori 2005/06, dimana mereka juga bisa sampai ke semifinal dan dikalahkan Arsenal di babak itu.

Sumber referensi: Balls, UEFA, Bundesliga, Spotskeeda, 90min, As, Insider, B/R, Optus

AS Monaco Bakal Jadi Raja Eropa Jika Tak Menjual Pemain Ini

0

Klub yang menghasilkan pemain-pemain berbakat itu banyak. Satu yang paling terkenal AS Monaco. Klub yang berlaga di Liga Prancis itu sempat dikenal sebagai pabriknya pemain-pemain kelas wahid. Bahkan sudah banyak klub top Eropa yang memberikan testimoni atas kualitas yang ditawarkan pemain jebolan Monaco.

Namun, kenapa ya mereka lebih doyan jual pemain daripada membangun skuad mewah mereka sendiri? Kira-kira bakal semewah apa line up Monaco apabila tak menjual asetnya?

Fabian Barthez

Penjaga gawang jadi posisi paling penting dalam membangun tim. Dan AS Monaco pernah memiliki penjaga gawang sekaliber Fabian Barthez pada akhir 90-an. Kiper berkepala plontos itu bergabung dengan Monaco dari klub Prancis lainnya, Marseille pada tahun 1995.

Selama berseragam Monaco, catatan statistik Barthez cukup oke. Selain mencapai 192 penampilan, Barthez juga menghadirkan dua gelar Liga Prancis pada musim 1996/97 dan 1999/2000.

Ia bahkan mengangkat trofi Piala Dunia bersama Timnas Prancis sebagai pemain AS Monaco. Kemudian ia melanjutkan kesuksesannya di Inggris bersama Manchester United. Di sana ia meraih berbagai trofi termasuk dua gelar Liga Inggris.

Patrice Evra

Di sektor bek tengah bagian kiri, ada Patrice Evra. Bek kiri asal Prancis tersebut pernah berseragam AS Monaco selama empat tahun sejak 2002 hingga 2005. Meski sama-sama bergabung dengan Manchester United setelah dari Monaco, karirnya di Prancis tak bergelimang trofi seperti Barthez.

Empat tahun berseragam Monaco, Evra hanya menghadirkan satu trofi Piala Liga Prancis 2002/03 saja. Selain itu, pencapaian paling apiknya mungkin pada saat mengantarkan Monaco mencapai partai final Liga Champions tahun 2004. Sayangnya Monaco takluk di tangan Porto racikan Jose Mourinho. Dua musim setelahnya ia dilepas ke MU pada pertengahan musim 2005/06.

Benoit Badiashile

Sebagai tandem Patrice Evra di lini bertahan ada Benoit Badiashile. Pemain yang kini berseragam Chelsea tersebut merupakan pemain didikan akademi. Ia akhirnya berhasil menembus tim utama pada tahun 2018. Meski masih berusia muda, Badiashile langsung mendapatkan kepercayaan besar dari Monaco.

Badiashile jadi nama yang paling anyar meninggalkan Monaco. Pemain yang mengantongi 135 penampilan itu baru saja bergabung dengan Chelsea pada bursa transfer musim dingin kemarin. Namanya masuk dalam daftar proyek jangka panjang Todd Boehly di Chelsea. Dengan tubuhnya yang besar dan kuat, tentu ia akan menjadi andalan Monaco apabila tak dijual.

Ricardo Carvalho

Sedangkan untuk menjadi leader di lini belakang, ada Ricardo Carvalho. Pemain belakang yang sudah malang melintang di klub-klub top Eropa itu membela Monaco sejak musim panas 2013 dan seketika menjadi pemain andalan tim. Meski demikian, Monaco memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Carvalho yang kedaluwarsa pada Juni 2016.

Selama tiga musim membela Monaco, Carvalho memang tak menghadirkan trofi untuk klub. Tapi menurut Wakil Presiden Monaco saat itu, Vadim Vasilyev, Carvalho telah memberikan segalanya bagi klub. Ia bahkan membantu meningkatkan motivasi bermain para pemain muda. Jika Monaco tak melepasnya, barangkali ia akan menjadi pemimpin yang ideal bagi klub.

Fabinho

Di sektor gelandang bertahan, Fabinho akan menjadi pemain yang paling tepat untuk mengisinya. Fabinho memulai karirnya di klub Brasil, Fluminense. Ia sempat bermain di Rio Ave dan Real Madrid sebelum bergabung dengan AS Monaco pada 2013.

Pemain berkebangsaan Brazil tersebut menjelma gelandang bertahan yang andal selama bermain untuk Monaco. Pemain berusia 29 tahun itu juga ikut membantu klub menggulingkan dominasi Paris Saint-Germain dengan menjuarai Ligue 1 pada musim 2016/17. Sayangnya, Monaco tak kuasa untuk menahan sang pemain saat tawaran 45 juta euro datang dari Liverpool setahun kemudian.

Aurélien Tchouameni

Tandem Fabinho barangkali ada Aurelien Tchouameni. Beda dengan beberapa pemain Monaco lain, Pemain yang baru diboyong Real Madrid awal musim ini bukan produk asli akademi Monaco. Tchouameni merupakan jebolan akademi Bordeaux. Ia baru bergabung dengan Monaco pada tahun 2020.

Sebagai gelandang bertahan, kemampuan pemain berusia 23 tahun ini cukup lengkap. Ia bisa bermain agresif tapi tetap bersih saat merebut bola dari lawan. Bahkan pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamp pernah mengatakan kalau Tchouameni sedikit lebih baik dari Paul Pogba.

Youri Tielemans

Sedangkan untuk penghubung antarlini, Monaco pernah memiliki Youri Tielemans. Tielemans mengawali karirnya di klub Anderlecht. Gelandang asal Belgia itu kemudian pindah ke AS Monaco pada 2017. Ia membela Monaco selama dua musim dan mencatatkan 65 pertandingan.

Meski demikian, ia belum pernah menyumbangkan satu gelar pun untuk Monaco. Setelah dua musim di Prancis, ia sempat diminati banyak klub-klub papan atas. Namun, dirinya justru bergabung dengan Leicester City dengan status pinjaman pada awal tahun 2019. Setelah dirasa memenuhi standar, The Foxes pun akhirnya mempermanenkannya di awal musim 2019/20.

James Rodriguez

Sedangkan di sektor gelandang kiri mungkin AS Monaco bisa mengandalkan James Rodriguez. Pemain yang bersinar di Piala Dunia 2014 ini merupakan gelandang yang kreatif. Mungkin dia bukan pemain yang mengandalkan kecepatan, tapi James mengunggulkan mobilitas dan kecerdasannya dalam membongkar pertahanan lawan.

Sayangnya, setelah James tampil mengesankan di Piala Dunia 2014, ia ditebus Real Madrid. Raksasa La Liga itu menawarkan 75 juta euro (Rp1,2 triliun), angka yang sulit ditolak oleh manajemen Monaco. Bersama Madrid, James jadi salah satu pemain bertipikal nomor 10 terbaik di Eropa. 

Bernardo Silva

Di sektor kanan, Monaco pernah memiliki gelandang gesit nan kreatif lainnya yakni Bernardo Silva. Pemain berpaspor Portugal ini bergabung ke AS Monaco dari Benfica pada 2014. Ia awalnya datang sebagai pemain pinjaman, tapi berkat kontribusinya yang luar biasa, statusnya pun dipermanenkan pada musim berikutnya.

Silva juga bukan tipe pemain yang mengandalkan kecepatan namun ia lebih mengandalkan kontrol bolanya yang luar biasa. Ia memiliki peran penting dalam membantu Monaco merengkuh trofi Liga Prancis musim 2016/17. Bahkan berkat performanya yang ciamik, ia sempat dijuluki sebagai penerus Rui Costa di Timnas Portugal.

Kylian Mbappe 

Untuk di sektor penyerang, Monaco bisa menggunakan dua penyerang yang salah satunya adalah Kylian Mbappe. Kemampuan pemain yang satu ini sudah tak diragukan lagi. Ia menjadi pemain muda paling berharga kala berseragam AS Monaco. Namun, 180 juta euro (Rp2,9 triliun) jadi angka yang cukup bagi PSG untuk memboyongnya pada tahun 2018.

Mbappe sendiri merupakan lulusan akademi Monaco. Ia dipercaya masuk ke tim utama AS Monaco pada tahun 2015. Mbappe yang kala itu masih 16 tahun mampu menunjukkan performa yang menakjubkan. Mbappe kemudian menjadi ujung tombak Monaco pada musim 2016/17. Ia berhasil mengantarkan klub menjuarai Ligue 1 dan menembus semifinal Liga Champions.

Thierry Henry

Sebagai lawan main Mbappe tentunya ada Thierry Henry. Image Arsenal memang lebih melekat pada Henry, tapi jauh kesuksesannya di London ia merupakan punggawa AS Monaco. Menariknya, ia merupakan jebolan akademi Monaco. Henry menembus skuad utama di tahun 1995 saat masih berusia 17 tahun.

Membela tim selama kurang lebih empat musim, Henry mencatatkan 141 penampilan di semua kompetisi. Tentu akan sangat menarik melihat Henry berduet dengan Mbappe di lini depan. Bek-bek lawan pasti dibuat ngos-ngosan dengan kecepatan dua pemain berkebangsaan Prancis ini.

https://youtu.be/jpTAISgpW8E

Sumber: Sportskeeda, Mirror, Transfermarkt, Squawka, Bola

Dari Bocah Cengeng Hingga Jadi Superstar! Kisah Messi Dipoles Frank Rijkaard

Ada seseorang yang menangis emosional ketika Lionel Messi mengangkat mahkota juara dunia di Qatar lalu. Ia bukanlah keluarga maupun teman dekatnya, melainkan bekas mentor pertama dalam karir sepakbola profesionalnya, Frank Rijkaard.

Rijkaard dan Messi, bak dua insan yang tak dapat dipisahkan dan dilupakan begitu saja dalam dunia sepakbola. Tanpa keduanya kita tak bisa menikmati sepakbola indah Messi di atas lapangan. Lalu seberapa penting sih peran Rijkaard dalam karir Messi?

Messi Merantau

Tak disangka seorang superstar sepakbola bernama Messi dulunya merupakan seorang bocah yang cengeng. Ia berangkat merantau ke Spanyol bersama ayahnya saat usianya baru menginjak 13 tahun.

Hatinya selalu gundah gulana ketika sesampainya di Spanyol. Ia sempat homesick tak kerasan di tempat barunya itu. Sering kali ia menangis sebelum tidur. Sang Messi kecil rindu keluarga dan temannya di kampung.

Kenapa sih Messi mau pindah waktu itu? Ada yang menyebut bahwa Messi berkenan pindah karena Barcelona bersedia menggaransi biaya pengobatan hormon pertumbuhannya yang diketahui bermasalah sejak dua tahun sebelumnya.

Lalu siapa yang meyakinkan Messi? Banyak orang sepakat menyebut nama Carles Rexach. Mantan pemain Barca sekaligus direktur teknis Barca waktu itu. Ia lah yang pertama kali melihat bakat Messi dan membawanya ke Catalan tahun 2000 silam dari Newell Old Boys.

Masuk Akademi Barcelona Dan Hampir Dijual

Saat masuk La Masia, di situlah ia mulai dikenal dengan sebutan “Class of 1987”. Sebuah sebutan bagi generasi La Masia Barca di tahun 2003 bersama Fabregas dan Pique.

Namun ketika itu sempat terjadi krisis finansial di tubuh Blaugrana. Hal itu berujung pada dijualnya para talenta muda mereka ke klub lain yang mampu membayar dan menggajinya lebih.

Sebagai contohnya Fabregas yang akhirnya hijrah ke London bergabung dengan akademi Arsenal pada tahun 2003. Lalu disusul Pique yang hijrah juga ke Inggris bersama tim muda Manchester United pada 2004.

Tapi nasib berbeda dialami Messi. Ia dibela mati-matian oleh para pelatih tim muda Barca ketika itu. Termasuk pelatih tim senior Barcelona ketika itu, Frank Rijkaard.

Bakat Messi sejak bermain di akademi Barca tak dipungkiri terus dipantau meneer Belanda itu. Bahkan Rijkaard berjanji jika ia terus konsisten dan berkembang, ia akan memasukkannya ke tim senior di waktu yang tepat.

Debutnya Disukai Rijkaard

Hari penantian pun tiba. Seiring penampilan Messi yang meroket bersama tim akademi, Rijkaard menepati janjinya. Messi dibawa oleh Rijkaard ke daftar pemain yang dibawa untuk laga uji coba melawan Porto yang diasuh Mourinho.

Tepatnya pada 16 November 2003. Messi yang masih berusia 16 tahun 145 hari masuk menggantikan Fernando Navarro di menit 75. Diberi menit bermain oleh Rijkaard sebanyak 15 menit, pemain mungil bernomor punggung 14 itu mampu tampil mengesankan meskipun timnya kalah 2-0. Ditempatkan sebagai second striker, dribbling serta kecepatannya mampu mengobrak-abrik lawan.

Debut La Liga

Tak hanya sampai di laga uji coba. Perlahan Rijkaard tahu kapan saat yang tepat membawa bocah cengeng itu ke pertandingan resmi. Sampai suatu saat momen itu hadir pada 16 Oktober 2004.

Dalam “Derby Catalan” kala bertandang ke Espanyol, nama Messi kembali muncul di daftar skuad Barca yang dibawa ke stadion Olimpic Lluis Companys.

Sampai akhirnya ia pun debut menggantikan Deco di menit 82. Rijkaard kala itu menginstruksikan pemain bernomor punggung 30 itu untuk kembali menempati posisi second striker di belakang Henrik Larsson. Selama 8 menit tersisa, Messi berjibaku melawan bek Espanyol yang dikomandoi Mauricio Pochettino.

Sempat Diabaikan Rijkaard

Tapi apakah dengan debutnya itu, Rijkaard lantas mempercayainya untuk terus bermain? Faktanya tidak demikian. Messi hanya bermain di musim 2004/05 sebanyak 9 kali. Termasuk torehan satu gol debutnya saat melawan Albacete ketika Barcelona digendong Ronaldinho.

Artinya Rijkaard tak terlalu percaya dan tak tega untuk memforsir bocah yang baru berusia 17 tahun itu. Rijkaard tak mau gegabah mengeluarkan bakat terbaiknya di saat yang tidak tepat. Di sisi lain, ketika itu lini serang Barca juga masih menumpuk pemain macam Eto’o, Giuly, Ronaldinho, Larsson, maupun Maxi Lopez.

Sampai akhirnya Messi pun merasa dipinggirkan. Messi mengakui bahwa situasi itu benar terjadi, dan syukurnya ia sadar akan keadaan itu.

“Terkadang saya tak paham mengapa saya tak dipilih untuk bermain. Tapi ketika itu saya melihatnya dengan kepala dingin. Saya pikir pelatih memperlakukan saya dengan sangat baik, dan tanpa tergesa-gesa,” kenang Messi.

Tapi apakah hal itu masih berlaku hingga musim-musim berikutnya? Messi pernah diganggu cedera parah karena jaringan ototnya robek. Cedera itu dideritanya dari Maret 2006 hingga akhir musim 2005/06.

Petaka itulah yang memaksa karier Messi yang sejatinya bisa bersinar lebih cepat, tertunda. Rijkaard tentu juga tak mau memaksakan Messi untuk tampil sebanyak mungkin di kala ia punya riwayat cedera otot yang parah.

Tetapi sebelum cedera, ia sudah makin banyak diberi menit bermain. Dari segi torehan gol dan assist-nya pun meningkat di musim 2005/06 dengan 8 gol dan 1 assist.

Transformasi Messi Sebagai Winger Kanan

Lalu kenapa torehan Messi bisa meningkat? Ya, hal itu tak lepas dari peran Rijkaard yang melakukan transformasi besar-besaran bagi posisi Messi.

Kita tahu bahwa posisi Messi sebelumnya adalah sebagai second striker maupun gelandang serang di belakang striker. Dan Rijkaard musim itu mengubahnya menjadi penyerang sayap kanan. Ia dipakai selama 27 kali di posisi itu.

Messi sendiri sangat senang dan tak peduli dengan peran barunya itu asalkan dapat bermain lebih. Rijkaard sendiri mengerti betul kelebihan Messi untuk bisa cocok di posisi barunya itu. Dengan kaki kirinya yang kuat, ia bisa cut inside ke area kotak penalti dengan sempurna dari sisi kanan.

Dengan kepiawaiannya itu, akhirnya Messi pun mampu perlahan menggantikan posisi sayap kanan inti Barca waktu itu, Ludovic Giuly. Menurut Transfermarkt, ia makin gacor di dua musim terakhirnya bersama Rijkaard ketika bermain sebagai penyerang sayap kanan. Ia total sudah bermain 65 kali diposisi itu dan membuat 32 gol.

Rijkaard Adalah Pelatih Terpenting Dalam Karirnya

Sampai pada akhirnya musim Barca bersama Rijkaard harus disudahi pada 2008. Messi harus berpisah dengan mentor pertamanya itu. Messi sendiri mengatakan bahwa Rijkaard adalah sosok yang sangat berjasa dalam karirnya sebagai pesepakbola. Karena Rijkaard ia bisa jadi seperti sekarang ini.

Apa jadinya jika kesempatan bermain itu tak diberikan oleh Rijkaard, mungkin ia sudah dijual dan tidak meraih banyak kesuksesan bersama Barca. Jadi, Lionel Messi, berterimakasih lah pada Rijkaard.

https://youtu.be/c0G8lHVfOYw

Sumber Referensi : sportsbrief, fcbarcelona.com, goal.com, transfermarkt, bleacherreport, mirror