Beranda blog Halaman 383

Siap Rombak Tim! Chelsea Rela Lepas Pemain Inti Demi Puaskan Ambisi Boehly?

Chelsea masih ingin melanjutkan belanja besar-besaran mereka di bursa transfer mendatang. Setelah di transfer musim dingin kemarin mereka sudah mengeluarkan uang lebih banyak daripada tim-tim lainnya di Eropa. Sang pemilik, Todd Boehly ternyata masih punya ambisi untuk merombak tim. Dan baginya, tim yang saat ini belum sesuai dengan keinginannya.

Di bulan Januari lalu, Chelsea telah menggelontorkan banyak uang. Pemain-pemain yang mereka beli diantaranya Enzo Fernandez dari Benfica, Mykhaylo Mudryk dari Shakhtar Donetsk, Benoit Badiashile dari AS Monaco, dan banyak lainnya. Menjadikan total 323 juta poundsterling. Itu jumlah yang lebih banyak daripada pengeluaran dari tim-tim di La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1.

Siapa Incaran Chelsea?

Lalu siapa pemain yang akan Chelsea beli di bursa transfer mendatang? Salah satu nama yang santer dikaitkan dengan Chelsea adalah Raphina dari Barcelona. The Blues sudah tertarik dengan pemain sayap itu sejak musim lalu. Tapi mereka keduluan oleh blaugrana dan Raphina pun pindah ke Camp Nou dengan harga 50 juta pounds.

Raphina menjadi pemain penting di Barca sejak saat itu. Ia mencetak sembilan gol dari 37 pertandingan di semua kompetisi. meskipun begitu Barca punya masalah mendesak yang lain. Klub sedang dililit masalah keuangan yang serius. Maka dari itu, diyakini dengan menjual Raphina musim panas nanti akan membantu meringankan beban keuangan Barca.

Tapi Chelsea tidak sendirian. Newcastle juga mengincar pemain berusia 26 tahun itu. Eddie Howe ingin menambah daya gedor Newcastle untuk musim depan. Dan mengingat Newcastle adalah klub kaya baru di Inggris, mereka akan jadi saingan berat untuk Chelsea.

Selain Raphina London biru juga tertarik untuk mendatangkan bintang muda Bundesliga, Manu Kone. Gelandang asal Prancis itu cukup tampil mengesankan bersama Borussia Monchengladbach musim ini.

Dilansir dari sportskeeda, Chelsea sudah berminat mendatangkan Manu Kone sejak bulan Januari lalu. Ia adalah incaran Chelsea sebelum akhirnya memilih untuk mendatangkan Enzo Fernandez. The Blues dipercaya masih mengawasi perkembangan Manu Kone sampai sekarang.

Butuh Dana Besar

Dua incaran pemain itu membuat Chelsea harus menyiapkan dana yang tidak sedikit. Belum lagi ada beberapa pemain incaran yang belum terungkap oleh media. Diprediksi akan ada banyak nama bermunculan menjelang bursa transfer musim panas nanti.

Tapi ambisi untuk mendatangkan banyak pemain itu juga mendatangkan masalah lain. Saat ini Potter sudah punya 30 pemain senior di ruang ganti mereka. The Blues juga berada di ambang sanksi financial fair play. Mengingat dua bursa transfer sebelumnya Chelsea sudah menghabiskan sekitar 500 juta pounds untuk membeli pemain.

Jadi, ada beberapa masalah yang harus Potter pikirkan sebelum bursa transfer musim panas dibuka. Pertama, Chelsea sudah punya terlalu banyak pemain. Namun masih ingin menambah skuad agar sesuai keinginan Potter dan Boehley. Kemudian, Chelsea juga butuh dana untuk belanja besar-besaran nanti.

Dilihat dari situasi itu, maka sudah jelas apa solusi yang harus diambil Potter. Yaitu menjual para pemain yang ia rasa sudah tidak butuhkan. Juga membuang para pemain yang kontraknya akan habis di akhir musim ini. Siapa saja mereka?

Jual Para Pemain Lama

Kandidat pertama yang akan dibuang Chelsea musim ini adalah para pemain yang sisa kontraknya tinggal sedikit. Klub akan berusaha untuk menjual mereka sebelum kontraknya habis dan bisa hengkang dengan status bebas transfer. Mereka adalah Mason Mount, Mateo Kovacic, Cesar Azpilicueta, Christian Pulisic, Ruben Loftus-Cheek, dan Pierre Emerick Aubameyang.

Dikutip dari the athletic, Chelsea juga akan menjual mereka yang punya sisa dua tahun di Stamford Bridge. Salah satunya adalah Ben Chilwell. Perpanjangan kontrak pasti akan tetap jadi opsi. Tapi bagi klub, itu bukanlah prioritas. Misi utamanya adalah menjual pemain untuk dapat lebih banyak pemasukan.

Chilwell masih berusia 26 tahun, dan dia adalah pemain berkebangsaan Inggris. Maka Chelsea bisa meminta bayaran tinggi untuknya. Chilwell juga rentan akan cedera. Ia menderita cedera lutut dan hamstring yangs erius sejak pindah ke Stamford Bridge. Itu menambah alasan Potter mengapa ia harus menjualnya.

The Blues telah membeli Marc Cucurella dari Brighton. Ia dinilai sebagai sosok yang senior dan berpengalaman untuk menggantikan posisi Chilwell. Potter juga punya pilihan pemain muda. Ada Lewis Hall yang telah membuat tujuh penampilan untuk tim senior musim ini. Selain itu, Chelsea juga punya Ian Maatsen yang tampil mengesankan saat dipinjamkan ke Burnley.

Chilwell Penting Untuk Chelsea

Menyadari hal itu, maka menjual Chilwell adalah hal yang paling masuk akal dan aman untuk Chelsea. The Blues akan punya tambahan dana. Juga tidak perlu membeli pemain baru karena sudah ada banyak penggantinya. Baik pemain berpengalaman maupun pemain muda.

Tapi pertanyaannya adalah, bijakkah Chelsea menjual Chilwell? Dia adalah aset utama Chelsea sejak kedatangannya. Terutama ketika bertugas sebagai bek kiri. Musim lalu performa Chelsea memburuk ketika dia dan Reece James yang beroperasi di kanan absen karena cedera. Chilwell dan Reece James sudah punya hubungan dekat di atas lapangan. Sudah seperti Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson di Liverpool.

Dan saat ini, Chilwell terlihat sudah kembali ke performa terbaiknya. Tendangan Volinya yang luar biasa dalam kemenangan 3-1 atas Leicester sabtu kemarin adalah bukti nyata. Itu jadi gol ke-9 dan disertai 11 assist untuk klub.

Chilwell juga sudah mendapatkan rasa hormat dan kasih sayang dari publik Stamford Bridge. Para fans menyanyikan namanya dengan kalimat “Ben Chilwell telah memenangkan Piala Eropa”. Itu mengenang jasanya di kemenangan Liga Champions tahun 2021.

Dan terlebih lagi, Chilwell senang berada di Chelsea. Setelah laga lawan Leicester, yang merupakan mantan klubnya, ia berkata “Saya senang cara penggerma mendukung kami. Ini adalah musim yang sulit tetapi mereka tetap bersama kami. Itu menyenangkan bagi saya dan memberi saya dorongan.”

Kata-kata itu tidak mencerminkan seseorang yang ingin hengkang dari klub. Chilwell mengisyaratkan bahwa dirinya sangat mencintai Chelsea. Ia ingin membuktikan diri dan mengabdi di Stamford Bridge selama mungkin. Akan terasa pas jika Chelsea juga memikirkan hal yang sama.

Sumber referensi: ESPN, Daily, Athletic, Sportskeeda

Mengapa Klub Prancis Sulit Juara Liga Champions Eropa?

0

Kalau boleh jujur kekalahan Paris Saint-Germain atas Bayern Munchen di babak 16 besar Liga Champions Eropa bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Namun, kekalahan itu, bagi PSG tetaplah nahas.

PSG adalah satu-satunya wakil Prancis yang lolos ke babak gugur. Akan tetapi, Les Parisiens tak bisa berbicara banyak. Baru juga di 16 besar, PSG harus menghadapi calon kuat juara seperti Bayern Munchen. Tamat itu PSG!

Dengan gugurnya Paris Saint-Germain, dipastikan musim ini yang menjadi juara Liga Champions bukanlah tim dari Prancis. Kekalahan ini sekaligus menambah daftar panjang klub Prancis yang gagal di Liga Champions. Sebab, sepanjang sejarahnya tim-tim dari Prancis sulit juara Liga Champions. Pertanyaannya, mengapa?

Marseille Satu-Satunya Juara dari Prancis

Harap dipahami terlebih dahulu. Klub-klub Prancis memang sulit menjadi juara Liga Champions. Tapi tidak lantas diartikan bahwa tidak ada klub Prancis yang pernah juara Liga Champions. Ada, kok, tapi bukan Paris Saint-Germain.

Justru klub seperti Olympique de Marseille satu-satunya tim Prancis yang pernah mengangkat Si Kuping Besar. Klub berjuluk Les Phoceens sukses menggondol trofi Liga Champions Eropa tahun 1993.

Pada Mei 1993, Marseille bisa meraih trofi Liga Champions dengan mengalahkan AC Milan di partai final. Selain menjadi kesebelasan pertama dari Prancis yang bisa meraih Si Kuping Besar, pada saat itu Marseille berstatus sebagai juara pertama Liga Champions saat kompetisi itu sudah bernama Liga Champions Eropa.

Gelar juara itu diselimuti kasus suap yang melibatkan Presiden Marseille saat itu, Bernard Tapie. Seminggu sebelum menghadapi Milan, Marseille sudah memastikan gelar Ligue 1 musim 1992/93 lewat kemenangan 1-0 atas Valenciennes.

Tapie terbukti melakukan suap kepada para pemain Valenciennes. Suap itu demi kepastian juara Ligue 1 dan kepastian tidak ada pemain Marseille yang cedera. Marseille pun dihukum ke divisi dua. The Phoceens harus turun kasta setelah juara Liga Champions.

Namun, Marseille saat itu memang layak ke final. Sama seperti AC Milan, di babak pertama saja mengalahkan tim dari Irlandia Utara, Glentoran 8-0. Sedangkan Milan menghabisi tim Slovenia, Olimpija Ljubljana 7-0. Konsep UCL musim itu yang lolos akan masuk ke putaran kedua, jika lolos lagi masuk ke babak grup.

Di fase grup, Milan dan Marseille berada di puncak dan berhak ke final. Pertandingan final di Munchen sangat menarik. Marseille yang masih diperkuat Didier Deschamps, Marcel Desailly, sampai Fabian Barthez mengalahkan Milan dengan skor dramatis 1-0 berkat gol Basile Boli yang sebenarnya sebelum nyetak gol ingin diganti.

Padahal saat itu, Rossoneri tim kuat Eropa. Dengan Fabio Capello sebagai pelatih, dan nama-nama beken seperti Sebastiano Rossi, Paolo Maldini, Mauro Tassotti, Franco Baresi, Frank Rijkaard, Marco van Basten, sampai Alessandro Costacurta.

Tidak Pernah Ada All France Final

Setelah Marseille, tim-tim Prancis letoy semua. Bahkan klub yang pernah mendominasi Ligue 1 selama beberapa tahun, Lyon tak bisa ke final. Selain Marseille, sebetulnya ada tim Prancis lain yang pernah melangkah ke final. Adalah AS Monaco.

Yap, benar. Tim yang sebenarnya nggak Prancis-Prancis amat itu lolos ke final Liga Champions musim 2003/04. Sayangnya klub berjuluk Les Rouge et Blanc kandas di tangan klubnya Jose Mourinho, Porto. Tak tanggung-tanggung kalahnya 3-0.

Padahal AS Monaco kala itu terbilang tim kuat di Prancis. Mereka bermateri pemain ikonik, Fernando Morientes. Lagi pula AS Monaco ketika itu dilatih Didier Deschamps. Pelatih yang membawa Prancis juara Piala Dunia 1998 dan Marseille juara Liga Champions saat menjadi pemain.

Setelah AS Monaco, ada PSG, setelah itu tidak pernah ada lagi yang sampai ke final. Ironisnya lagi, dari kelima liga top Eropa, hanya Liga Prancis yang tidak pernah menciptakan All France Final di Liga Champions.

Silakan dicatat sendiri. Liga Inggris sering mengirim dua wakilnya di final, misalnya pada 2019 saat dua klub berlogo unggas, Liverpool dan Tottenham Hotspur bertemu. Serie A juga pernah mengirim AC Milan dan Juventus ke final 2003.

Bundesliga yang katanya Liga Bayern itu saja pernah mengirim dua tim terbaiknya, Bayern Munchen dan Dortmund di final 2013. Spanyol? Tentu saja pernah. Derbi Madrid tersaji di final Liga Champions 2014 dan 2016.

Sepak bola Prancis Terlambat Berkembang

Meskipun Prancis menunjukkan bahwa sepak bola populer di sana, tapi itu sebenarnya tidak begitu populer. Ligue 1 sendiri bahkan mulai ada tahun 1932, jauh lebih tertinggal dari liga di Spanyol, Italia, dan Inggris. Namun, dari kelima liga top Eropa, Bundesliga lah yang paling muda.

Liga di Jerman itu berdiri pada 1963. Namun, kebudayaan sepak bola di Jerman terbangun lebih awal daripada Prancis. Walaupun sepak bola amatir mereka baru dimulai tahun 1874. Sementara Prancis mulai sepak bola amatir tahun 1872.

Namun, sepak bola termasuk terlambat berkembang di Prancis. Mereka saja mengenal sepak bola dari para pelaut dari Inggris yang bermain di klub Le Havre. Olahraga lain seperti rugby jauh lebih cepat berkembang di Prancis daripada sepak bola.

Liga Prancis Tidak Populer

Jika melihat sejauh mana wakil Prancis di Liga Champions kita akan melihat bagaimana liganya, dalam hal ini Ligue 1. Diakui atau tidak, Ligue 1 tidaklah sepopuler empat liga top Eropa lainnya. Ligue 1 menjadi populer karena di sana ada Paris Saint-Germain.

Selebihnya, Ligue 1 kalah telak dengan liga-liga lainnya. Mantan Chief Operating Officer Olympique Marseille, Laurent Colette mengatakan, Liga Prancis tertinggal di belakang liga top lainnya, seperti Liga Inggris. Liga Prancis tidak punya hak siar yang kuat, meski sudah bekerja sama dengan perusahaan hak siar seperti CBC.

Kurang Investor dan Pendapatan Kecil

Lantaran tidak sepopuler liga-liga lainnya pendapatan Ligue 1 juga kecil. Dari lima liga top Eropa, Ligue 1 memiliki pendapatan terkecil sejak 2011/12 hingga 2020/21, dengan perkiraan sampai 2022/23. Pada musim ini mengutip Statista, diperkirakan pendapatan Liga Prancis hanya berkisar 1,8 miliar euro (Rp29,6 triliun).

Sementara Liga Italia 2,4 miliar euro (Rp39,4 triliun), Liga Spanyol 3,7 miliar euro (Rp60,8 triliun), Liga Jerman 3,6 miliar euro (Rp59,2 triliun), dan Liga Inggris paling banyak dengan 7,1 miliar euro (Rp116,7 triliun). Klub-klub di Prancis juga kekurangan investor. Praktis hanya PSG yang kedatangan investor besar.

Tim-tim Prancis juga mesti bergulat untuk mencapai keseimbangan finansial. Sebuah studi yang disampaikan Laurent Colette menyebut, dalam empat musim terakhir, 19 dari 20 klub Liga Prancis kehilangan uang tiap tahunnya terlepas dari transfer pemain. Jika kita memasukkan transfer pemain, 17 dari 20 klub Liga Prancis untung.

Tidak Banyak Klub dengan Talenta Hebat

Selain faktor finansial, keberadaan talenta hebat di sebuah liga menjadi faktor lain agar bisa bertarung merebut trofi Liga Champions. Sementara klub-klub di Liga Prancis tak banyak yang memiliki talenta hebat. Betul bahwa beberapa tim Prancis menghasilkan talenta luar biasa, seperti Rennes, Lille, dan Montpellier.

Namun, mereka sering kali menjual para pemain hebatnya. Penjualan itu terkadang tidak diimbangi dengan pembelian pemain dan munculnya pemain tokcer. Hanya PSG, klub yang tidak pernah kehabisan talenta hebat.

Sebab itu pulalah, kini PSG menjadi penguasa Liga Prancis. Ia menjadi satu-satunya tim terkuat dan bisa diandalkan untuk meraih trofi Liga Champions. Sayangnya, karena minim bakat dan tim kuat, persaingan di Liga Prancis terasa hambar.

Iklim persaingan yang hambar itu sulit untuk menempa tim seperti PSG jadi petarung di Liga Champions. Hasilnya, tim Prancis pun sulit menjadi juara Liga Champions. Hal itu berkebalikan dengan tim nasionalnya. Di mana Timnas Prancis sudah dua kali meraih trofi Piala Dunia dan dua kali meraih EURO.

https://youtu.be/RgiThZtn7bQ

Sumber: AA, BR, Quora, Statista, 90Min, JakartaGlobe, FootballBusinessInside

Berita Bola Terbaru 13 Maret 2023 – Starting Eleven News

0

HASIL PERTANDINGAN

Dalam lanjutan Liga Inggris, Arsenal makin tak terbendung. Mereka berhasil menang 3-0 atas Fulham. Gol Arsenal hadir dari Gabriel Magalhães menit 21, Gabriel Martinelli menit 26, dan Martin Odegaard menit 45+2. Leandro Trossard jadi bintang dengan tiga assist-nya di pertandingan ini. Dengan kemenangan tersebut, Arsenal tetap menjaga selisih lima poin dengan Manchester City di peringkat dua.

Di laga lain Manchester United harus rela berbagi angka dengan Southampton. Pertandingan berakhir dengan skor 0-0. Dengan hasil ini, United masih tertahan di peringkat tiga klasemen sementara Liga Inggris. Sedangkan Soton tak beranjak dari dasar klasemen.

West Ham juga ditahan imbang 1-1 oleh tamunya, Aston Villa. West Ham tertinggal lebih dulu oleh gol Ollie Watkins menit 17. Namun, Said Benrahma berhasil menyamakan kedudukan melalui titik putih menit 26. Hasil ini membuat West Ham keluar dari zona degradasi.

Beralih ke La Liga, Mallorca berhasil menahan imbang Real Sociedad dengan skor 1-1. Sociedad unggul lebih dulu melalui Carlos Fernandez menit 3. Namun, Lee Kang-in berhasil menyamakan kedudukan menit 50. Hasil imbang sudah cukup bagi Mallorca untuk naik ke peringkat sepuluh klasemen sementara.

Sevilla menang 2-1 kala menjamu Almeria. Meski sempat tertinggal dulu oleh gol Sergio Akieme, Sevilla berhasil comeback melalui gol Lucas Ocampos dan Erik Lamela. Kemenangan ini membuat Sevilla naik ke peringkat 13 klasemen La Liga.

Di pertandingan lain, Barcelona kembali menang tipis 1-0 atas lawannya, Athletic Bilbao. Satu-satunya gol Barca hadir dari punggawa anyar mereka, Raphinha di penghujung babak pertama. Dengan kemenangan ini Barca mengumpulkan selisih sembilan poin dari Real Madrid di peringkat kedua.

Sedangkan di Serie A, AS Roma harus menelan pil pahit setelah kalah 3-4 dari tamunya, Sassuolo. Jual beli serangan dan hujan gol terjadi di pertandingan ini. Namun, setelah kartu merah Marash Kumbulla menit 45+3, praktis pertandingan jadi milik Sassuolo. 

Di sisi lain, Juventus berhasil menang 4-2 atas tamunya Sampdoria. Adrien Rabiot jadi bintang lapangan setelah mencetak dua gol di menit 26 dan 64 untuk La Vecchia Signora. Hasil ini membuat Juve kembali mengamankan posisi tujuh klasemen sementara Serie A.

CASEMIRO KARTU MERAH, TEN HAG NGAMUK SAMA WASIT

Setelah hasil yang kurang memuaskan di laga kontra Southampton, Erik Ten Hag bersuara tentang kinerja wasit yang dirasa sangat plin-plan. Dilansir 90min, Ten Hag kurang puas dengan kinerja wasit di laga tersebut, yakni Anthony Taylor. Ten Hag menyayangkan keputusan Taylor soal kartu merah Casemiro di babak pertama. Ia juga kesal lantaran sang wasit tak memberikan Manchester United penalti ketika salah satu bek Southampton menyentuh bola di kotak penalti.

GARNACHO CEDERA ENGKEL

Selain kehilangan Casemiro untuk beberapa laga ke depan, Manchester United dipastikan akan kehilangan bintang muda mereka, yakni Alejandro Garnacho. Dilansir Daily Mail, usai pertandingan kontra Southampton semalam, Garnacho terlihat menggunakan tongkat bantu saat meninggalkan Old Trafford. Kabarnya, ia mengalami cedera engkel. Belum tahu sampai kapan ia akan absen, tapi Ten Hag berkata kalau cederanya tak begitu parah.

FANS BILBAO TEBAR “UANG” UNTUK SINDIR KASUS SUAP WASIT BARCA

Setelah fans Madrid melempar uang palsu bergambar Joan Laporta, kini giliran fans Athletic Bilbao yang mengejek Barcelona terkait kasus korupsi dan penyuapan wasit. Dilansir BRfootball, penggemar Bilbao melemparkan uang palsu bergambar logo Barcelona dan kata “Mafia” yang cukup banyak ke pinggir lapangan. Itu ditunjukan sebagai protes atas kasus yang sedang menimpa klub Catalan tersebut.

REAL MADRID SIAP LAWAN BARCELONA DI PERSIDANGAN

Real Madrid dikabarkan siap turun tangan di kasus korupsi dan penyuapan wasit yang dialami Barcelona. Dilansir BBC, setelah melakukan rapat internal, Madrid memutuskan akan bereaksi terhadap kasus tersebut. Menurut pernyataan resmi, Real Madrid akan hadir dalam persidangan melawan Barcelona dan akan memiliki akses ke segala aspek kasus yang menimpa Barce tersebut.

POGBA JADI PEMAIN JUVENTUS PALING BERMASALAH

Kembalinya Paul Pogba ke Juventus terganggu oleh cedera yang membuat sang pemain harus absen dalam jangka waktu yang lama. Terbaru ia masih belum masuk dalam skuad Juve yang menghadapi Sampdoria semalam dan itu membuat mantan pemain Juve, Marco Tardelli angkat bicara. Dilansir Football Italia, Tardelli tak terkesan dengan sikap Paul Pogba di Turin. Ia bahkan ragu apakah Pogba beneran cedera atau tidak. Jadi tak heran apabila Tardelli menyebut sang pemain sebagai masalah terbesar di klub. 

VINICIUS TAK SUKA DENGAN KINERJA WASIT LA LIGA

Pemain Real Madrid, Vinicius mempermasalahkan kinerja wasit La Liga. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh mereka. Dilansir 90min, pemain asal Brazil itu telah menjadi idola baru di Santiago Bernabeu. Namun, ia merasa tak diperlakukan dengan adil oleh wasit. Sebagai pemain sayap, ia kerap melakukan manuver untuk mengecoh lawan. Tak jarang juga ia mendapat tekel keras dalam prosesnya. Namun, wasit sering mengabaikan itu, mereka tak menganggap tindakan tersebut sebagai sebuah pelanggaran.

CARRICK BAKAL JADI PELATIH WEST HAM SELANJUTNYA?

Di tengah performa West Ham yang kian memburuk, manajemen klub mulai menyiapkan pengganti David Moyes musim depan. Dilansir Mirror, mantan pemain West Ham, Michael Carrick jadi opsi yang menarik bagi klub. Kabarnya, direksi klub sudah melakukan pertemuan internal dan menyebut kalau Carrick layak mendapatkan kesempatan. Manajemen klub kesemsem dengan kinerja Carrick di Middlesbrough 

PALHINHA JADI REBUTAN KLUB LIGA INGGRIS

Gelandang Fulham, Joao Palhinha dikabarkan jadi incaran klub-klub papan atas Liga Inggris. Dilansir The Sun, setidaknya ada lima klub yang mengincar sang pemain musim panas nanti. Kabarnya Manchester United dan Arsenal jadi yang terdepan untuk mendapatkan tanda tangan Palhinha. Kabarnya, selain kedua klub tersebut, Newcastle dan Liverpool juga memantau situasi sang pemain.

PSG SIAPKAN 200 JUTA EURO UNTUK HAALAND

Kabar mengejutkan datang dari Liga Prancis. PSG dikabarkan siap menyaingi Real Madrid untuk mendapatkan Erling Haaland dari Manchester City akhir musim nanti. Dilansir Football Espana, PSG akan mengganggu diskusi Madrid dengan agen Haaland, Rafaela Pimienta. PSG bahkan sudah menyiapkan dana sebesar 200 juta euro atau sekitar Rp3,2 triliun untuk membujuk City melepas sang pemain musim panas nanti.

TUCHEL MAU GANTIKAN CONTE DI SPURS? 

Setelah hasil yang kurang memuaskan di Liga Champions, Tottenham dikabarkan tak akan memperpanjang masa kerja Antonio Conte. Dilansir Fichajes, manajemen klub ingin mengganti Conte dengan Thomas Tuchel. Kabarnya Daniel Levy yang meminta langsung kepada Tuchel untuk melatih Spurs. Namun, Tuchel punya satu syarat, ia akan menerima tawaran tersebut apabila Spurs berhasil mengamankan satu tiket ke Liga Champions musim depan.

BIELSA HANYA INGIN LATIH TIM INGGRIS

Marcelo Bielsa masih menganggur setelah dipecat oleh Leeds United Februari 2022 kemarin. Kabarnya, tawaran dari klub-klub Eropa dan Amerika Latin sudah banyak berdatangan, tapi ia menolak. Dilansir The Sun, Bielsa menolak tawaran-tawaran tersebut karena masih ingin melatih tim Inggris. Ia sempat mendapat tawaran dari Everton, tapi keduanya tak mencapai kata sepakat. Kabarnya, Bielsa tak keberatan melatih klub apapun, asal masih berlaga di kasta tertinggi.

TRABZONSPOR TUNJUK GERRARD SEBAGAI PELATIH ANYAR?

Legenda Liverpool, Steven Gerrard dikabarkan telah mendarat di Istanbul untuk membahas soal kesempatan melatih salah satu klub Liga Turki. Dilansir Mirror, di Istanbul, Gerrard bertemu dengan perwakilan Trabzonspor. Kabarnya, klub telah menjadikan Gerrard sebagai opsi nomor satu untuk menggantikan pelatih sebelumnya, Abdullah Avci.

KLUBNYA JAMIE VARDY BANGKRUT?

Klub Jamie Vardy, Rochester New York FC dikabarkan mundur dari kompetisi MLS Next Pro 2023 setelah dinyatakan kekurangan dana. Dilansir Mirror, Vardy jadi pemilik saham minoritas Rochester sejak 2021. Klubnya sangat mengandalkan dana investor untuk menghidupi tim. Jadi ketika gagal mencapai sepakat dengan investor baru, klub Vardy gagal mentas di kompetisi kasta ketiga Liga Amerika Serikat musim 2023 karena kekurangan dana.

FEDE VALVERDE: INGIN SAYA HENGKANG? BUNUH SAYA DULU

Fede Valverde telah menjadi kunci permainan Real Madrid dalam tiga tahun terakhir. Bahkan musim lalu dia mempersembahkan trofi Liga Champions dan La Liga. Dengan apa yang sudah diperjuangkan selama ini sulit melihat pemain 24 tahun hengkang. Dan memang dia tidak punya niat meninggalkan Santiago Bernabeu. Bahkan lelaki Uruguay itu dengan lantang menyebut bagi siapapun yang ingin dia pergi harus menghabisinya terlebih dulu.

BELOTTI JALANI OPERASI TANGAN

Seperti yang diumumkan oleh AS Roma, Andrea Belotti telah menjalani operasi osteosintesis pada Sabtu menyusul patah tulang metacarpal ketiga dan keempat tangan kanannya. Dilakukan oleh Professor Matteo Guzzini di klinik Madonna della Fiducia di Roma, semuanya berjalan dengan baik dan sang pemain kini telah memulai pemulihannya. Saat ini tidak jelas berapa lama Belotti akan dipaksa absen tetapi kemungkinan minggu ini dia akan melewatkan pertandingan AS Roma.

INTER MILAN BERMINAT REKRUT NABY KEITA

Menurut laporan football Italia, Inter Milan tak hanya mengincar Roberto Firmino dari Liverpool akhir musim ini.  Inter Milan juga mengincar pemain bebas transfer lainnya di Liverpool. Kali ini target Nerazzurri adalah Naby Keita. Hanya saja Inter Milan bukan satu-satunya tim Liga Italia yang mengincar sang pemain. Sebab, AC Milan juga menginginkan Keita untuk diboyong pada musim depan.

SEJIWA DENGAN MOURINHO, FANS AS ROMA SIAP JALANKAN PANOLADA

Sanksi skorsing dua laga yang menimpa Jose Mourinho mendapat tanggapan dari kelompok suporter AS Roma. Kelompok suporter I Lupi siap memberikan dukungan kepada pelatih berjuluk The Special One itu. Bahkan dukungan itu tak sekadar basa basi saja. Suporter AS Roma bakal melakukan apa yang disebut sebagai Panolada. Panolada sendiri adalah sebuah aksi protes yang ditandai dengan kibaran sapu tangan putih. Suporter Roma melakukannya pada laga kontra Sassuolo.

REAL MADRID REKRUT MBAPPE PADA 2024?

Kylian Mbappe menjadi prioritas Real Madrid di musim-musim mendatang. Los Blancos berada di atas angin dan akan menunggu hingga kontrak pemain Paris Saint-Germain itu berakhir pada 2024. Menurut kabar Football Espana, meski menolak pindah ke Madrid pada awal musim 2022/23, Mbappe tetap konsisten dikaitkan dengan kepindahan ke Real Madrid, karena klub mencari pengganti Karim Benzema.

ANCELOTTI MINTA PEMAINNYA WASPADAI LIVERPOOL

Jelang leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Carlo Ancelotti meminta timnya untuk tetap mewaspadai The Reds. Madrid diunggulkan. Selain faktor tuan rumah, mereka juga sudah menang 5-2 di leg pertama di Anfield. Akan tetapi, Ancelotti meminta Real Madrid tidak gegabah. Dia mengingatkan kembali anak-anak asuhnya kepada laga-laga Madrid sebelumnya, yang meskipun pernah sudah di atas angin, tapi bisa disamakan skornya bahkan di comeback.

MAN CITY SIAPKAN TAWARAN BESAR UNTUK KONTRAK ALVAREZ

Manchester City telah menawarkan kontrak baru yang nilainya lebih besar kepada Julian Alvarez. Sebelumnya ada kabar bahwa striker asal Argentina itu ingin pergi, menurut jurnalis di Amerika Selatan, Cesar Luis Merlo. Mantan bintang River Plate itu saat ini dikontrak tim asuhan Guardiola hingga 2027, tetapi kontrak baru tersebut akan membuatnya mengikatkan masa depannya di klub hingga 2028.

TOTTENHAM TERTARIK BOYONG JORDAN PICKFORD

Dilansir The Sun, Tottenham ingin mengontrak kiper Inggris Jordan Pickford musim panas, meski pemain berusia 29 tahun itu baru saja menandatangani kontrak jangka panjang baru di Everton. Rencana Spurs untuk merekrut kiper anyar adalah sebagai pengganti Hugo Lloris, yang dirumorkan bakal hengkang dari Spurs musim panas nanti.

Tak hanya Pickford, Emiliano Martinez dari Aston Villa juga menjadi opsi lain untuk Spurs.

PEDE BAKAL JADI ANDALAN XAVI, KESSIE TAK MAU PERGI DARI BARCELONA

Nasib Franck Kessie di Barcelona ternyata tidak seindah saat dirinya masih merumput bersama AC Milan. Sejak pindah dari AC Milan pada awal musim 2022/23, Kessie tidak mendapatkan tempat di skuad utama. Kondisi itu membuat Kessie dirumorkan akan hengkang dari Barca. Menyikapi hal tersebut, Kessie pun akhirnya buka suara. Dikutip Football Italia, Kessie mengaku percaya diri bahwa dirinya akan menjadi andalan Xavi. Oleh karena itu, dia memilih untuk bertahan di Barcelona hingga jangka panjang.

DAFTAR POT DRAWING PIALA DUNIA U20 2023

Daftar pot drawing Piala Dunia U-20 2023 sudah dirilis. Diketahui, 24 tim yang lolos ke Piala Dunia U-20 2023 akan terbagi ke 4 pot. Masing-masing pot berisi 6 tim. Timnas Indonesia U-20, selaku tuan rumah dipastikan masuk ke pot 1 bersama Uruguay, Amerika Serikat, Prancis, Senegal, dan Italia. Kemudian, di pot 2, ada Inggris, Selandia Baru, Brasil, Kolombia, Ekuador, dan 1 tim dari Asia. Di pot ketiga ada Nigeria, Uzbekistan, Irak, Honduras, Fiji dan satu wakil Asia. Terakhir, di pot 4, ada Guatemala, Dominika, Gambia, Israel, Slovakia, dan Tunisia. Drawing Piala Dunia U-20 2023 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret 2023.

Skuad Terbaik Palermo, Kemana Mereka Sekarang?

Bukan hanya grup K-Pop Blackpink saja yang hingar-bingarnya menghebohkan dunia. Di Liga Italia juga pernah ada klub yang berjersey Blackpink juga sempat menghebohkan dunia pada era 2000an. Mereka adalah Palermo.

Klub Serie A asal kota para mafia Sisilia ini, pernah memiliki segerombolan pemain top pada masanya. Termasuk para pemainnya yang sempat memberi sumbangsih nyata bagi kemenangan Italia di Piala Dunia 2006. Mau tahu siapa saja punggawa mereka dan ke mana mereka sekarang?

Salvatore Sirigu

Dari kiper ada Salvatore Sirigu. Sosok kiper muda dari Palermo. Masuk akademi Palermo sejak 2002 silam, Sirigu akhirnya menyelinap sebagai kiper inti Palermo sejak musim 2009/10.

Dikontrak secara profesional hingga 2014, Sirigu tampil mengesankan. Sampai akhirnya klub kaya baru PSG kepincut untuk menebusnya pada 2011.

Menjadi pilihan utama PSG selama beberapa musim, ia juga sempat menggondol banyak gelar domestik. Namun pada 2016, tiba-tiba masalah datang. Pelatih Laurent Blanc membeli kiper baru dari Jerman, Kevin Trapp.

Menit bermainnya digilir dengan Trapp. Sampai akhirnya Sirigu muak dan memilih pergi dari Paris. Sempat dipinjamkan ke Sevilla dan Osasuna, akhirnya ia pulang kampung ke Italia.

Berpindah-pindah klub dari Torino, Genoa, Napoli, hingga sekarang ia berada di Fiorentina.
Bersama La Viola, di usia yang sudah menginjak 36 tahun ia masih menjadi pilihan utama pelatih Vincenzo Italiano.

Zaccardo dan Barzagli

Di posisi bek tengah, ada dua punggawa timnas Italia yakni Cristian Zaccardo dan Andrea Barzagli. Keduanya punya karir yang cemerlang di Palermo.

Tak dipungkiri banyak klub yang kesengsem usai Piala Dunia 2006. Benar saja, pada musim 2008/09, Palermo rela melepas Zaccardo dan Barzagli ke klub yang sama VFL Wolfsburg. Mereka untung karena di Bundesliga langsung merasakan gelar juara bersama Wolfsburg.

Namun kedua palang pintu Italia itu setelahnya berpencar. Zaccardo memilih pulang kampung terlebih dahulu pada 2010 ke Parma. Sedangkan Barzagli baru pulang kampung 2011 ke Juventus.

Karir Zaccardo tak sementereng Barzagli. Ia sempat setengah hati membela AC Milan dan akhirnya berlabuh ke tim papan bawah macam Carpi maupun Vicenza. Ia bahkan nyasar sampai klub Liga Malta, Hamrun Spartans dan klub Liga San Marino, The Fiori. Sebelum akhirnya, ia memilih pensiun pada 2019.

Sementara Barzagli di Juventus menjadi andalan selama beberapa musim. Penampilannya justru menanjak ketika di Juve. Delapan musim ia di Juve dengan seabrek gelar. Akan tetapi ia memilih pensiun pada tahun yang sama dengan Zaccardo yakni 2019. Setelah itu ia juga sempat ditunjuk sebagai asisten pelatih ketika Juve dilatih Maurizio Sarri.

Fabio Grosso dan Mattia Cassani

Di bek sayap ada Fabio Grosso dan Mattia Cassani. Dua bek sayap agresif pada jamannya.
Grosso di sebelah kiri, Cassani di sebelah kanan. Di Palermo, talenta Grosso sebagai bek kiri semakin menjanjikan.

Penampilannya yang meyakinkan sampai membuatnya masuk timnas Italia ke Piala Dunia 2006. Golnya di semifinal kala melawan Jerman, dan eksekusi penaltinya di final, adalah hal yang selalu dikenang publik Italia hingga sekarang.

Setelah Piala Dunia, karirnya di Palermo terhenti. Ia ditebus Inter Milan namun hanya awet semusim. Ia melancong ke Perancis bersama Lyon pada 2007. Sebelum akhirnya pada 2009, ia pulang kampung dan bergabung dengan Juventus.

Kontrak Grosso berakhir pada musim panas 2012, dan setelah itu ia memilih pensiun. Ia kemudian mencoba peruntungan menjadi pelatih. Dimulai dari akademi muda Juve, hingga sekarang ia masih menjadi pelatih klub Serie B, Frosinone.

Sedangkan Mattia Cassani yang notabene adalah akademi Juventus, menjadi bagian dari Palermo sejak 2006. Karirnya justru menanjak setelah dirinya pindah dari Juventus. Ia mencapai caps ratusan kali sebagai bek kanan Palermo hingga tahun 2011. Sebelum akhirnya pindah ke Fiorentina, Genoa dan Parma. Ia kini sudah pensiun sejak 2014.

Eugenio Corini dan Simone Barone

Di tengah, Palermo sempat mempunyai dua pemain andalan yang kokoh menjaga kedalaman yakni Eugenio Corini dan Simone Barone. Corini bersama Palermo menjadi legenda selama empat tahun dengan ban kapten di lengannya.

Namun di 2007 ia tak memperbaharui kontraknya dan bergabung bersama Torino. Di Torino ia sempat menderita cedera tendon achilles. Akhirnya, ia memilih pensiun dan mencoba peruntungan menjadi pelatih.

Selama menjadi pelatih, ia sudah melanglang buana di beberapa klub. Termasuk dua periodenya di Palermo. Musim 2022/23 ini, ia sedang melatih Palermo di Serie B.

Sedangkan rekannya, Simone Barone lebih beruntung karena karirnya di Palermo sempat membawanya menjadi bagian skuad timnas Italia kala meraih juara Piala Dunia 2006.

Usai Piala Dunia, ia kemudian melepaskan baju Blackpink Palermo dan memilih melanglang buana di klub Serie A lainnya macam Torino, Cagliari, sampai akhirnya pensiun di Livorno pada 2013.

Setelah pensiun, Barone mencoba menjadi pelatih seperti Corini. Ia lebih fokus di tim muda sampai akhirnya ditunjuk sebagai direktur teknik klub Salernitana. Namun ia kini sudah didepak per Februari 2023.

Pastore, Dybala dan Ilicic

Di posisi playmaker, Palermo banyak menghasilkan bakat besar yang dijual dengan harga mahal. Contohnya Javier Pastore, Dybala, maupun Ilicic.

Awalnya Pastore bergabung sejak 2009 dari klub Argentina, Huracan. Pastore memberi dimensi baru serangan Palermo yang sebelumnya jarang diisi playmaker flamboyan. Penampilannya yang ikonik bersama Palermo tercium sampai Paris. PSG rela menebusnya mahal pada 2011.

Karirnya makin aneh di PSG. Ia tak terlalu bersinar di sana dan akhirnya tak betah. Ia kembali lagi ke Italia bersama Roma pada 2018. Sejak saat itulah karirnya menurun. Ia sempat tanpa klub setelah dilepas Roma. Sampai akhirnya ada klub Spanyol, Elche yang mau mengontraknya pada 2021. Kini ia masih bermain di Qatar bersama Qatar SC.

Sebelum Pastore hengkang ke Paris, Palermo juga sudah mendatangkan Josip Ilicic pada 2010. Playmaker flamboyan berkaki kidal yang semakin menambah variasi serangan Palermo.

Bertahan hingga 2013, Ilicic memilih pelabuhan barunya ke Fiorentina kemudian Atalanta. Sempat menghilang karena mengalami depresi hingga kelebihan berat badan, ia kini kembali lagi ke klub asalnya, NK Maribor.

Sebelum Ilicic pergi, Palermo juga sempat mendaratkan pemuda Argentina bernama Paulo Dybala. Dari Palermo talentanya dipupuk sampai akhirnya ia ditebus Juventus dan hidup di sana sebagai bintang hingga tujuh tahun lamanya. Sebelum akhirnya, ia kini menjadi bagian dari skuad Mourinho di AS Roma.

Luca Toni dan Cavani

Di lini depan, ada Luca Toni. Legenda Palermo yang sempat mengantarkan Palermo di masa kejayaan mencapai Piala UEFA. Namun pahlawan yang mengantarkan Palermo promosi ke Serie A pada 2004 itu, sempat dicap sebagai pengkhianat oleh fans Palermo karena transfernya ke Fiorentina.

Sebagai salah satu andalan timnas Italia meraih Piala Dunia 2006, talenta Toni pun akhirnya sampai ke Jerman bersama raksasa Bayern Munchen. Di Munchen selain banyak gol yang dihasilkan, ia juga sempat mengalami cedera tendon achilles.

Mulai saat itu performanya menurun drastis, sampai akhirnya ia memilih pulang kampung pada 2010. Toni juga sempat meraup cuan ke Dubai membela Al-Nasr SC. Ia akhirnya pensiun di Verona pada 2016 silam, setelah membela klub itu selama tiga tahun.

Sejak Toni pergi dari Palermo, datanglah Edinson Cavani dari klub Uruguay ,Danubio pada 2007. Striker yang sering berselebrasi mirip Rambo ini kemudian menjelma sumber gol bagi Palermo. Selama berseragam Blackpink, Cavani telah mengemas 117 penampilan dan mengemas 37 gol.

Napoli, adalah klub beruntung yang membeli Cavani dari Palermo pada 2010. Sebelum akhirnya Napoli juga cuan besar ketika melegonya ke PSG. Cavani juga sempat menjadi striker alternatif MU di bawah Ole. Sebelum akhirnya ia didepak dan nyasar ke La Liga bersama Valencia hingga sekarang.

https://youtu.be/3qEDBtza04s

Sumber Referensi : squawka, breakingthelines, givemesport, footballitalia, tifosipalermo

Perjalanan Ajax Bersama Ten Hag Obrak-Abrik Champions League 2018/19

Kita semua pasti setuju, setelah dekade 2010-an siapa yang bisa bertahan di Liga Champions hampir bisa selalu ditebak. Mereka adalah tim-tim besar yang diperkuat pemain-pemain mahal. Jadi tim-tim kecil seolah hanya jadi tim pelengkap saja. Jangankan juara, tembus 16 besar saja sudah untung.

Pada musim 2018/19, Ajax termasuk dalam tim kecil itu. Di Belanda Ajax memang jadi raksasa, tapi di Eropa lain cerita. Mereka bukanlah tim yang berisikan pemain mahal. Ajax juga tidak dilatih oleh manajer veteran Eropa. Mereka bahkan tidak bisa lolos fase kualifikasi di musim sebelumnya. Dengan fakta itu, bisa disimpulkan Ajax bukanlah tim unggulan Champions. Sampai Ten Hag mengambil alih kursi pelatih.

Ten Hag datang ke Ajax di pertengahan musim 2017/18, tepatnya pada bulan Desember 2017. Ia mewarisi skuad dari manajer sebelumnya, Marcel Kaizer. Ten Hag saat itu memang jadi nama manajer yang paling menjanjikan di Belanda. Tapi jalannya masih panjang untuk membuktikan ia pelatih yang hebat.

Meskipun dibawah Ten Hag Ajax hanya mengalami dua kekalahan di sisa musim, itu tidak menghentikan PSV dari gelar juara Eredivisie musim 2017/18. Tapi setidaknya mereka finis di peringkat kedua. Setelah mengalahkan dua lawannya di babak kualifikasi dan mengalahkan Dynamo Kiev di ronde play off, Ajax berhak mengikuti putaran final Champions League.

Perjuangan di Fase Grup

Undian grup Liga Champions menempatkan Ajax ke Grup E bersama dengan Bayern Munchen, Benfica, dan AEK Athens. Ekspektasinya tentu saja, Bayern Munchen akan melumat habis semua tim sedangkan Ajax dan Benfica akan saling sikut untuk duduk di peringkat kedua.

Ajax bisa menang mudah di pertandingan pembuka. Menjamu AEK Athens, de joden menang telak dengan skor 3-0. Dua gol dari Tagliafico dan satu gol dari Van de Beek jadi pengantar kemenangan mereka. Tapi ujian sebenarnya datang di laga setelahnya.

Pertandingan setelahnya adalah melawan Bayern Munchen. Tentu saja die roten jauh diunggulkan. Mereka punya tim berisikan pemain yang menjuarai Piala Dunia. Mereka adalah raksasa Jerman yang jadi favorit juara musim itu.

Tapi permainan menekan dari Ajax mampu menahan imbang pasukan die bayern. Hummels jadi pencetak gol pembuka di menit ke-4. Sedangkan Ajax bisa membalas di menit ke-22 lewat gol dari Mazraoui. Anak asuh Ten Hag bisa menahan Munchen tidak mencetak gol tambahan sampai pertandingan berakhir.

Hasil ini membuat tim Ajax asuhan Ten Hag mulai diperhitungkan. Jarang ada tim yang bertandang ke Allianz dan pulang dengan membawa poin. Di laga selanjutnya, mereka pun mengalahkan Benfica dengan skor tipis 1-0. Setelah itu, Ajax tidak terkalahkan di sisa pertandingan fase grup.

Imbang ketika bertandang ke markas Benfica, Kembali mengalahkan AEK Athens, dan mampu menahan imbang Bayern Munchen 3-3 di kandang. Hasil itu membuat Ajax lolos ke babak 16. Ini adalah pertama kalinya Ajax bisa lolos fase grup sejak tahun 2006.

Comeback Istimewa Bernabeu

Meskipun begitu, mereka harus puas duduk di peringkat kedua setelah kalah selisih gol dengan Bayern. Konsekuensinya adalah Ajax harus menghadapi pemuncak Grup G, Real Madrid. Banyak perdebatan muncul menjelang laga ini.

Orang-orang berpendapat kalau Madrid sendang mengalami musim yang buruk. Ditambah mereka baru mengalami perubahan pelatih. Jadi Ajax punya kesempatan bagus untuk menang.

Tapi Real Madrid tetaplah Real Madrid. Los Blancos menjuarai kompetisi ini tiga musim sebelumnya secara beruntun. Itu tetap jadi momok menakutkan untuk pasukan Erik Ten Hag. Terbukti di leg pertama, Benzema dan kolega mampu menghabisi Ajax dengan skor 2-1.

Benzema mencetak gol pertama di menit ke-60. Membuat publik Johan Cruijff Arena terdiam. Meskipun Ziyech sempat menyamakan kedudukan di menit ke-75, Marco Asensio memastikan kemenangan los merengues di menit ke-87.

Mereka kalah di kandang, dan itu menyakitkan. Tapi bagi Madrid, ini adalah pertandingan babak 16 besar biasa. Sedangkan bagi Ajax, ini adalah pertandingan bersejarah mereka. Itu jadi motivasi tambahan anak asuh Ten Hag.

Di Bernabeu, Ajax menyajikan salah satu comeback terhebat dalam sejarah Champions League. Baru tujuh menit laga berjalan, Ziyech langsung mencetak gol pembuka. Skor pun digandakan pada menit ke-18 lewat gol dari David Neres.

Di menit ke-62 giliran Tadic yang mencetak gol. Madrid sempat membalas lewat usaha dari Asensio. Tapi Ajax menutup laga lewat gol cantik di menit ke-72. Itu membuat Agregat menjadi 5-3 sekaligus melangkahkan kaki Ajax ke babak selanjutnya.

Taklukan Si Nyonya Tua

Juventus menanti di babak perempat final. Si nyonya tua dari Turin melawan para pemuda dari Amsterdam jadi tajuk laga tersebut. Setelah mengalahkan Real Madrid, Ajax punya misi untuk memupuskan harapan Cristiano Ronaldo, orang yang dulu jadi ikon Bernabeu sebelum membelot ke bianconeri.

Ten Hag memang punya keunggulan mengingat leg pertama dimainkan di Amsterdam. Artinya tim Juventus tidak akan tenang tidurnya. Sebab para pendukung Ajax menyalakan kembang api tepat di depan hotel para pemain Juve menginap.

Itu memang faktor kecil. Ajax tetap mengandalkan taktik untuk mengalahkan Juve. Melawan tim dengan pertahanan terbaik di dunia, Ten Hag menolak untuk merubah permainan mereka. Hasilnya, Ajax mendominasi Juve secara keseluruhan. Tapi pertahanan la vecchia signora terlalu kokoh. Juve beruntung mereka bisa mengakhiri laga dengan skor 1-1 berkat gol Ronaldo dan David Neres.

Ronaldo kembali bawa Juventus unggul lebih dulu di leg kedua. Tapi darah comeback sudah mengaliri anak asuh Ten Hag. Tak butuh waktu lama bagi Van de Beek untuk menyamakan kedudukan. Kemudian di babak kedua, De Ligt jadi penyelamat mereka. Dengan skor 2-1, de Amsterdammers pun melenggang ke semifinal.

Kini hanya tersisa Tottenham yang menghalangi Ajax ke partai final. Duel dua tim underdog pun tersaji di semifinal Liga Champions. Tottenham sudah menunjukan tajinya dengan mengalahkan Dortmund dan Manchester City di parta sebelumnya.

Kekalahan Tak Terduga

Tapi para penikmat bola sudah mulai percaya pada Ajax. Menjinakkan Bayern Munchen, mempermalukan Real Madrid dan menaklukan Juventus. Itu mereka lakukan hanya dalam satu musim dengan pemain seadanya. Tim-tim lain hanya bisa bermimpi punya perjalanan seperti itu.

Rasa optimis semakin menguat setelah Ajax bisa meraih kemenangan 1-0 di kandang Spurs. Mereka beruntung karena Harry Kane tidak bermain karena cedera dan Son Heung-min tidak bisa bermain karena sedang di skors. Kemenangan ini jadi modal penting di leg kedua.

Sayangnya Ten Hag mendapatkan kabar buruk sebelum leg kedua dimulai. David Neres saat itu divonis cedera dan tidak dapat mengikuti laga lawan Tottenham. Setidaknya mereka masih dibekali rasa percaya diri yang lebih setelah menjuarai Piala Liga beberapa hari sebelumnya.

Johan Cruijff Arena bergemuruh ketika Matthijs de Ligt mencetak gol pembuka hanya lima menit setelah kick off. 30 menit kemudian, Hakim Ziyech membuat agregat menjadi 3-0 hanya di babak pertama. Tottenham jelas butuh pahlawan untuk bisa lolos ke final.

Pahlawan itu ternyata adalah Lucas Moura. Ia mencetak tiga gol untuk menyamakan agregat Tottenham. Gol pertama datang di menit ke-55, kemudian ia gandakan empat menit kemudian. Ajax masih bisa lolos kalau saja Moura tidak mencetak gol di masa injury time. Tottenham pun menang dengan unggul gol tandang.

Ironis memang, perjalanan menakjubkan Ajax harus selesai di tangan tim underdog lainnya. Ditambah, Tottenham mengalahkan Ajax dengan cara comeback. Meskipun pada akhirnya mereka kalah di final lawan Liverpool. Tapi itu jadi prestasi tertinggi Tottenham di tingkat Eropa.

Untuk Ajax sendiri, perjalanan mereka juga tidak kalah menakjubkannya. Kita bisa merefleksikan kesuksesan Ajax ini dengan perjuangan Ten Hag sebagai manajer. Ia sempat mendapatkan kritikan di musim panas 2018 ketika dirinya membeli Daley Blind dan Dusan Tadic. Kedua pemain itu dianggap terlalu mahal.

Ten Hag Hidupkan Total Football

Tapi Tan Hag bisa membuktikan anggapan itu salah. Di laga leg kedua melawan Real Madrid, Tadic dapat pujian habis-habisan. Ia bahkan dapat rating 10/10 dari L’Equipe, media yang terkenal keras menilai pemain.

Selain itu, di tangan Ten Hag, aroma total football yang dulu harum dibawah Johan Cruijff kembali semerbak di Ajax. Ten Hag memainkan sepak bola yang bertumpu pada penguasaan bola, kecepatan, dan dominasi sistematis di lapangan.

Kunci dari permainan Ajax pada saat itu adalah bagaimana mereka selalu menciptakan formasi berlian di mana saja bola berada. Dengan empat pemain yang selalu berdekatan, mereka selalu punya opsi untuk mengoper bola.

Ten Hag menekankan kebebasan para gelandang seperti David Neres, Donny van de Beek, dan Hakim Ziyech untuk berkeliaran di lapangan mencari ruang. Sementara di belakang mereka ada Frenkie de Jong yang siap memberikan umpan. De Jong juga bisa bermain di mana saja. Tipe pemain penjelajah ini bisa bermain di belakang bersama bek, ataupun bersama striker di depan jika diperlukan.

Sayang sistem dari Ten Hag yang nampaknya sempurna itu, dibantu dengan bakat-bakat muda tidak mampu membawa mereka mengulangi kenangan 1995. Tapi di akhir musim 2018/19, Ajax menjuarai Eredivisie dan KNVB Cup, jadi hasil yang didapatkan dari generasi emas itu bisa dibilang tidak buruk sama sekali.

Meskipun tidak juara, perjalanan Ajax di liga Champions sungguh luar biasa. Ten Hag bisa membanggakan bagaimana timnya mengobrak-abrik liga Champions. Bayern Munchen, Real Madrid, dan Juventus jadi saksi bahwa mereka telah merusak tatanan Champions League yang ramah dengan para raksasa.

Sumber referensi: TheseFootballTimes, 90min, UEFA, Sky, Daily

Trossard Cetak Hattrick Assist! Arsenal Hitung Mundur Waktu Juara

Pep Guardiola makin gigit jari. Setelah timnya meraih kemenangan dengan susah payah melawan Crystal Palace, ia pasti berharap Arsenal di laga ini mendapatkan hasil yang sama, atau lebih buruk. Tapi harapannya tetap jadi harapan. Meriam London menunjukan daya ledak luar biasa ketika melawan Fulham. Dengan kemenangan ini, Arsenal tetap menjaga jarak lima poin dengan City. Kini mereka tinggal hitung mundur jadi juara Premier League.

Arsenal Masih Kokoh di Pucuk

Arsenal terbantu dengan kemampuan Arteta melakukan beberapa rotasi di skuadnya. Ditambah dengan kembalinya Ramsdale ke dalam starting line up. Selain itu meriam London juga menyambut kembalinya Gabriel Jesus ke dalam skuad. Bomber Brasil itu sudah absen sejak bulan November dan di laga ini ia hadir di bangku cadangan.

Gol pembuka Arsenal di pertandingan itu diciptakan oleh Gabriel Magalhaes di menit ke-21. Ia menyundul bola masuk ke gawang di tengah kotak penalti yang penuh sesak. Hanya lima menit berselang, Arsenal berhasil menggandakan keunggulan. Kali ini lewat serangan balik cepat dan diakhiri dengan sundulan Gabriel Martinelli.

Anak asuh Mikel Arteta masih belum puas dengan hanya keunggulan dua gol. Ketika wasit akan meniup peluit babak pertama, sang kapten Odegaard menyusup ke barisan pertahanan Fulham dan menghempaskan bola ke gawang Leno. Babak pertama pun berakhir dengan skor 3-0.

Dengan keunggulan itu, Arteta tidak mau ambil resiko. Mereka bermain tenang di babak kedua. Bertahan dengan kokoh adalah kunci mereka. Akhirnya sampai peluit panjang dibunyikan, Arsenal berhasil mempertahankan clean sheet.

Dengan ini Arsenal melanjutkan rekor laga tandang mereka. Meriam London telah memenangkan lima pertandingan tandang dengan agregat 11-0. Juga meraih kemenangan di lima pertandingan Liga Inggris mereka.

“Hitung Mundur” Juara Premier League

Setelah laga berakhir, para pemain Arsenal merayakan kemenangan penting ini di ruang ganti Craven Cottage. Salah satu pemain anak asuh Arteta, Oleksandr Zinchenko berbagi gambar di akun instagram priadinya. Gambar itu menampilkan skuad dan staf yang berpose di ruang ganti tim tamu dengan sebuah jam.

Jam itu bukan jam biasa. Itu adalah replika dari Clock End yang legendaris. Untuk fans Arsenal yang sudah tua pasti tahu bagaimana kenapa jam itu bisa legendaris. Itu karena Clock End adalah jam yang dipajang di stadion Highbury, yang kini stadion itu sudah diruntuhkan.

Highbury sudah lama jadi rumah Arsenal, yaitu sejak tahun 1913 sampai dengan tahun 2006. Highbury juga jadi saksi bisu terakhir kali Arsenal menjuarai Premier League di musim 2003/04. Setelah Arsenal pindah ke Emirates Stadium, mereka belum pernah merasakan kejayaan yang sama lagi.

Para fans menafsirkan unggahan foto Zinchenko itu adalah isyarat hitung mundur Arsenal akan mengangkat piala liga Inggris lagi. Dengan jarum menit menunjuk ke angka 11. Mengartikan tinggal 11 pertandingan lagi yang harus mereka hadapi.

11 laga memang terasa sedikit berat. Tapi jika Arsenal bisa konsisten mempertahankan penampilan mereka seperti di laga ini, maka impian untuk mengangkat trofi liga Inggris akan jadi kenyataan. Khususnya Leandro Trossard yang menampilkan permainan luar biasa di laga ini.

Trossard Amunisi Meriam London

Mungkin ini memang pernah diucapkan sebelumnya. Tapi langkah Arteta untuk membeli Trossard di bulan Januari kemarin adalah langkah yang brilian. Pemain Belgia itu telah beradaptasi dengan sangat baik dengan gaya bermain Arteta setelah kedatangannya dari Brighton dengan harga 27 juta pounds.

Padahal ia bukan pilihan utama Arsenal di bursa transfer Januari kemarin. Pilihan utama mereka adalah Mykhailo Mudryk. Chelsea pasti kegirangan mengira mereka telah membajak pemain incaran yang paling dibutuhkan Arteta.

Tapi di pertandingan ini, Trossard jelas membuktikan setiap sen uang yang dikeluarkan untuk membelinya adalah pengeluaran yang sepadan. Penyerang itu tidak ragu untuk mundur kebelakang, membantu pertahanan dengan melakukan tekel. Kemudian tiba-tiba membawa bola kedepan untuk menyerang.

Ia sebenarnya memulai pertandingan ini sebagai false nine. Tapi kenyataannya ia berada di semua lini. Trossard bahkan terlibat langsung di semua gol dalam laga itu. Pemain dengan sapaan akrab “Leo” itu memberikan tiga assist untuk tiga teman setimnya.

Catatan itu menjadikannya pemain pertama dalam sejarah Premier League yang mencetak hattrick assist di babak pertama laga tandang. Ia juga jadi pemain pertama, sejak Santi Cazorla di musim 2012/13 yang mencetak hattrick gol dan hattrick assist dalam satu musim Premier League. Sebelumnya ia telah mencetak hattrick lawan Liverpool di bulan Oktober,, ketika masih membela Brighton.

Martin Odegaard pun memberikan pujian pada Leo setelah laga. “Dia memberikan hal-hal luar biasa untuk tim. Saya sangat suka bermain dengannya, ia sangat baik dalam menemukan umpan. Yang jelas kami senang dia ada dalam tim” Ungkapnya dikutip dari Sky Sport.

Pertandingan ini harusnya jadi laga sambutan selamat datang atas pulihnya Gabriel Jesus. Tapi Trossard mencuri perhatian semua orang. Ia membuktikan kalau ia bukan sekedar pemain pelapis untuk Jesus yang cedera. Ia bisa merebut tempat line up utama.

Fakta-fakta Laga

Di laga itu, bukan hanya Trossard yang catatkan rekor. Gabriel Martinelli telah mencetak 23 gol untuk Arsenal di Premier League. Itu menyamai rekor Nicolas Anelka sebagai pemain berusia dibawah 22 tahun dengan jumlah gol terbanyak.

Catatan lainnya adalah Arsenal sudah mencetak 24 gol dari situasi corner kick di Premier League sejak musim lalu. Jumlah itu menyamai catatan Liverpool dengan jumlah gol tendangan pojok terbanyak.

Fulham juga jadi musuh paling mudah dikalahkan oleh Arsenal. Meriam London mencatatkan kemenangan 72%. Itu lebih banyak ketika mereka menghadapi lawan manapun.

Tapi lawan selanjutnya bukanlah Fulham. Dan untuk itu Arteta harus hati-hati. Setelah pertandingan ini mereka harus bersiap untuk melawan Sporting Lisbon. Di leg pertama meriam london hanya bisa meraih hasil imbang. Mereka harus mendapatkan hasil maksimal jika ingin melaju ke babak perempat final Europa League 2022/23.

Sementara itu, untuk pertandingan Liga Arsenal masih menjumpai lawan yang relatif mudah. Yaitu Crystal Palace, yang memberikan perlawanan sengit ketika melawan Manchester City. Tapi mungkin Arsenal bisa memberi tahu ke City bagaimana caranya menang mudah. Meskipun begitu Arteta tidak boleh hilang fokus. Seperti kata Trossard, mulai sekarang ini kan terasa seperti 11 pertandingan final untuk Arsenal.

Sumber referensi: Sky, Sporting, Goal 1, Goal 2

Sampai Sekelas Conte pun Sulit Antarkan Trofi, Tottenham Kenapa Sih?

0

Kesabaran sepertinya tidak lagi menjadi nama tengah punggawa Tottenham Hotspur, Harry Kane. Striker Timnas Inggris yang terkenal memiliki kesabaran yang mungkin Nabi Ayub saja mindir itu sudah muak dengan klubnya sendiri yang tak kunjung dapat trofi.

Musim ini The Lilywhites hampir memastikan tidak mengangkat satu pun trofi. Spurs belum lama ini tersingkir dari Liga Champions, satu-satunya kompetisi tersisa yang bisa diraih. Kekalahan tipis dengan agregat 1-0 dari AC Milan mengubur mimpi Lili Putih untuk menyabet trofi Liga Champions.

Musim Ini Tottenham Gagal di Kompetisi Domestik

Perjuangan Tottenham Hotspur musim ini sangatlah sulit. Meski sebetulnya nggak sulit-sulit amat. Paling tidak, musim ini Tottenham masih bisa untuk meraih satu trofi. Tapi genetika Spursy melekat kuat pada tim London yang satu ini.

Sebelum diusir AC Milan dari Liga Champions, Tottenham Hotspur sudah pontang-panting di kompetisi domestik. The Lilywhites dihentikan Nottingham Forest di Piala Liga atau Carabao Cup di putaran ketiga. Tidak tanggung-tanggung, Spurs kalah 2-0.

Usai kalah gagal total di Carabao Cup, harapan Spurs ada di Piala FA. Namun, bukannya melenggang mulus hingga minimal ke semifinal, The Lilywhites malah dihentikan oleh tim yang bahkan tidak sedang berlaga di Premier League. Spurs takluk 1-0 atas Sheffield United di putaran kelima.

Satu-satunya yang tersisa adalah Liga Inggris. Tottenham masih punya peluang untuk mengangkat trofi itu musim ini. Namun, hal itu semi mustahil. Spurs masih bertengger di peringkat keempat.

Kalau ingin mengangkat trofi Liga Inggris musim ini, Spurs mesti mengejar ketertinggalan 18 poin dari Arsenal di pucuk. Apakah Tottenham Hotspur mampu melakukannya? Tentu saja. Jika itu dilakukan di alam lain. Atau terjadi di multiverse yang lain.

Padahal Sudah Dilatih Antonio Conte

Ironisnya, Tottenham Hotspur sudah dilatih Antonio Conte sejak awal musim. Conte salah satu pelatih terpandang. Ia kondang dengan sebutan pelatih atau manajer serial winner. Pada dasarnya Conte termasuk manajer yang bisa menjamin trofi ketika diberi kepercayaan satu musim penuh.

Conte sudah melakukan hal itu ketika melatih Chelsea, Juventus, Inter, dan bahkan AS Bari. The Lilywhites tepat sekali menunjuknya sebagai pelatih. Namun, yang terjadi ia masih gagal untuk menjadikan Spurs tak lagi Spursy.

Terlepas dari itu, kepemimpinan Conte di Tottenham juga problematik. Singkatnya, itu berbeda ketika ia melatih Chelsea, Juventus, dan Inter. Di Tottenham Hotspur, Conte dituntut untuk membangun fondasi skuad dan mereparasinya. Hal yang jarang ia lakukan.

Permasalahan berikutnya sistem Conte tidak relevan dengan sepak bola hari ini. Meski tidak selalu tidak relevan. Tapi Tottenham musim ini gagal menciptakan peluang dari area luas. Spurs hanya mengandalkan kecemerlangan individu para pemainnya, seperti Harry Kane, atau hanya berpangku pada bola mati.

Conte juga terkesan enggan memainkan sejumlah pemainnya. Ia jarang melakukan rotasi. Maka ia harus menerima akibatnya saat pemain reguler yang dibutuhkan tidak tersedia. Selain itu memang ada faktor eksternal seperti Conte yang harus dirawat untuk pemulihan operasinya.

Mentalitas Masih Jadi Masalah

Oke, balik lagi ke Tottenham Hotspur yang sampai dilatih Conte pun masih sulit memperoleh trofi. Nah, problem yang paling nyata di Spurs adalah mentalitas. Tim yang satu ini seakan-akan tak lagi memiliki mentalitas untuk juara sejak terakhir meraih trofi, yaitu Piala Liga 2008.

Akan tetapi, Cristian Stellini, asisten yang menggantikan Conte mengatakan bahwa sesungguhnya kurang tepat menyebut Tottenham tidak punya mentalitas juara.

Kata Stellini, Tottenham masuk kok ke daftar tim yang bermental juara. Namun, di titik yang sama, Tottenham juga meragukan. Apalagi jika menghadapi situasi dan tekanan yang tinggi.

“Setiap musim kadang lebih baik, kadang lebih rendah. Tapi setiap musim serupa masalahnya. Kami harus mengubah ini. Kami ingin mengubah ini,” kata Stellini dikutip 90Min.

Sampai saat ini, bagi Stellini yang dibutuhkan Tottenham Hotspur adalah rasa lapar untuk memenangkan trofi. Sebab selama ini, sejauh ini, sampai detik ini, rasa lapar akan trofi masih belum hinggap ke Tottenham Hotspur.

Spurs Tidak Memprioritaskan Trofi

Argumentasi Stellini tersebut sebenarnya segendang sepenarian dengan keadaan klub. Tidak selamanya benar Tottenham tak punya mentalitas juara. Toh, pada era Mauricio Pochettino, Spurs produktif memenangkan pertandingan. Dengan kata lain, mentalitas pemenang itu ada, tapi tidak bersemi.

Pochettino membawa mentalitas pemenang. Jose Mourinho yang pernah melatih juga sama. Dan hari ini, kurang bermental pemenang apalagi si Antonio Conte itu? Nah, yang jadi masalah di Tottenham adalah bukan hanya mentalitas.

Setelah juara Piala Liga 2008, Tottenham tak lagi memprioritaskan trofi, tapi tempat di Liga Champions. Itulah mengapa Tottenham pernah sangat berupaya lolos ke sana pada tahun 2010 ketika mengalahkan Manchester City.

Mantan manajer yang bawa Tottenham ke final Liga Champions 2019, Mauricio Pochettino mengatakan, trofi kecil seperti Piala Liga dan FA sangat tidak penting. Klub, menurutnya, tidak perlu menjadikan dua trofi domestik itu tujuan karena tidak sepenting Premier League dan tempat di Liga Champions.

Pernyataan Pochettino itulah yang justru disayangkan oleh para fans. Penggemar frustrasi karena Poch semestinya bisa memberikan trofi Piala FA atau minimal Piala Liga bagi Tottenham Hotspur. Dilansir The Athletic, pemilik juga ternyata tak menganggap Piala Liga dan Piala FA penting.

Wajar saja kalau pada akhirnya Jose Mourinho dipecat walau berhasil mengantarkan Tottenham Hotspur ke final Piala Liga 2021. Di mana Mourinho punya catatan apik ketika sudah berada di final, apa pun kompetisinya.

Mourinho sendiri merasa aneh tak diberikan kesempatan memimpin laga di Wembley tersebut. Sang pemilik, Daniel Levy saat itu memilih Ryan Mason karena menurutnya Mason akan memberi Spurs peluang lebih baik untuk finis di posisi empat.

Pengaruh Daniel Levy

Spurs yang sulit meraih trofi tak lepas dari pengaruh Daniel Levy. Pria berkepala licin itu menjadikan Tottenham Hotspur mesin uang saja. Mungkin karena inilah tiket ke Liga Champions lebih diutamakan daripada piala domestik. Levy juga terkenal sangat pelit.

Tagihan gaji para pemain Tottenham Hotspur secara signifikan lebih rendah daripada para pesaingnya. Padahal untuk bersaing di puncak tanpa gaji yang memadai sangatlah sulit. Levy kerap melepas pemain pilarnya, tapi hal itu tidak diimbangi dengan cara Spurs mencari, mengembangkan, dan merekrut pemain.

Levy semestinya menyadari banyak klub sekarang mulai cerdik. Tapi ia masih saja menggunakan cara-cara lama. Tak ayal jika desakan mundur sering terdengar. Namun, dari segi bisnis, Levy terbilang bagus. Levy menjalankan Tottenham Hotspur sebagai perusahaan yang menguntungkan tanpa kejahatan keuangan apa pun.

Tapi kalau tak berorientasi ke trofi, akan ada korban bermunculan. Salah satunya Harry Kane. Karena kesetiaannya tak kunjung terbayarkan dengan trofi, Harry Kane bisa saja hengkang dari Tottenham Hotspur, cepat atau lambat.

https://youtu.be/POXOHHqq4UY

Sumber: TalkSport, Yahoo, Quora, 90Min, TheAthletic, CartilageFreeCaptain, ArabNews

Roger Schmidt, Insinyur Mesin di Balik Ganasnya Benfica

0

Sport Lisboa e Benfica adalah klub tersukses di Portugal. Klub berjuluk “As Águias” itu sudah mengoleksi 83 trofi, termasuk di antaranya 37 trofi Liga Portugal, 26 trofi Taça de Portugal, dan 2 trofi UEFA Champions League.

Sayangnya, sudah hampir 4 tahun Benfica puasa gelar. Musim 2018/2019 jadi kali terakhir mereka mengangkat trofi. Setelah menjuarai Liga di musim tersebut, Benfica belum lagi juara.

Roger Schmidt Datang, Benfica Kembali Bertaji

Setelah berganti manager sebanyak 3 kali, kesempatan untuk kembali merasakan juara akhirnya datang di musim ini. Adalah Roger Schmidt, manager asal Jerman kedua dalam sejarah klub yang sebentar lagi akan mewujudkannya. Hebatnya, kans besar itu ia lakukan setelah merombak tim besar-besaran.

Sebanyak 37 pemain dilego dengan berbagai skema di dua bursa transfer. Darwin Núñez, Roman Yaremchuk, Haris Seferovic, Jan Vertonghen, dan Enzo Fernandez adalah beberapa di antaranya. Schmidt yang sudah biasa menangani transfer pemain kemudian mendatangkan 12 pemain anyar, semisal Alexander Bah, David Neres, Fredrik Aursnes, dan Julian Draxler.

Selain itu, Schmidt juga mempromosikan 4 produk akademi Benfica, salah satunya Antonio Silva. Mantan pelatih Bayer Leverkusen itu juga mengintegrasikan kembali Florentino Luís yang selama dua musim terakhir menjalani masa peminjaman.

Perombakan tersebut terbukti sukses besar. Dengan skuad yang lebih segar, Benfica sudah mengkudeta puncak klasemen sejak pekan ke-4 Liga Portugal. Hingga pekan ke-24, “As Águias” tengah memimpin dengan raihan 65 poin.

Laju mengesankan Benfica juga terjadi di ajang Liga Champions. Setelah melibas Midtjylland dan Dynamo Kyiv di babak kualifikasi, “As Águias” di luar dugaan berhasil melangkahi PSG, Juventus, dan Maccabi Haifa untuk lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup H.

Di babak 16 besar, Benfica yang dipertemukan dengan Club Brugge tampil tanpa ampun. Setelah membawa pulang kemenangan 2-0 di leg pertama, mereka melibas Club Brugge dengan skor telak 5-1 di Estadio da Luz.

Berkat hasil tersebut, Benfica lolos ke perempat final Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya secara beruntun. 23 gol yang sejauh ini mereka cetak juga untuk sementara membuat “As Águias” jadi tim tersubur di UCL.

Benfica memang tak sempurna. Meski melaju ke perempat final UCL tanpa tersentuh kekalahan dan punya kans besar untuk kembali menjuarai Liga Portugal, mereka telah terhenti di ajang Taça de Portugal dan Taça da Liga.

Meski begitu, di musim ini, pasukan Roger Schmidt sempat mencatat 29 laga tak terkalahkan. Sejauh ini, Benfica juga baru kalah 2 kali dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Dan semua capaian tersebut berkat polesan taktik Roger Schmidt.

Transformasi Roger Schmidt: Rela Resign Demi Sepak Bola

Namun, siapa yang menyangka kalau dulunya Roger Schmidt adalah seorang insinyur mesin di perusahaan otomotif ternama di Jerman? Pelatih yang genap berusia 56 tahun pada 13 Maret itu bahkan bukanlah mantan pemain profesional.

Akan tetapi, hidup Roger Schmidt yang lahir di kota kecil bernama Kierspe di distrik Märkischer Kreis, di negara bagian Nordrhein-Westfalen itu memang tak jauh dari sepak bola. Namun, jalan yang ia tempuh untuk menjadi pelatih seperti sekarang ini sangatlah panjang.

Sejak 1986 atau saat berusia 19 tahun, Schmidt mulai terjun ke level semi-profesional. Berposisi sebagai gelandang, ia menyebrang dari satu klub regional ke klub regional lain yang berlaga di level 5 dan 6 piramida sepak bola Liga Jerman.

Namun, Schmidt tak sepenuhnya fokus pada sepak bola. Upah yang ia terima dari sepak bola, ia gunakan untuk membiayai kuliahnya di jurusan Teknik Mesin, dengan spesialisasi teknologi plastik, di Paderborn University.

Setelah lulus, Schmidt yang masih nyambi bermain bola di waktu senggangnya, mulai bekerja sebagai insinyur mesin di perusahaan otomotif Benteler, yang memproduksi suku cadang mobil dan memiliki pabrik di kota Paderborn. Profesi tersebut ia tekuni selama 8 tahun. Selama itu pula, kariernya sebagai pemain masih berlanjut.

Setelah hampir 19 tahun berkecimpung di level semi-profesional, nasib Roger Schmidt mulai berubah di tahun 2004. Muncul kesempatan untuk menjadi pemain-pelatih di Delbrücker SC di divisi enam Liga Jerman. Kala itu, Schmidt mesti membagi dirinya sebagai seorang pemain, pelatih, insinyur, dan seorang ayah dan suami bagi keluarganya.

Setelah satu musim mengemban tugas berat itu, Schmidt memutuskan gantung sepatu di usia 37 tahun dan hanya fokus sebagai pelatih. Di musim penuh pertamanya sebagai pelatih, ia berhasil membawa Delbrücker promosi ke divisi 5. Schmidt kemudian bertahan di klub tersebut hingga musim panas 2007.

Di tahun tersebut, ia juga memutuskan untuk resign dari Benteler. Penyebabnya adalah tawaran dari klub divisi 5 Liga Jerman, SC Preußen Münster, klub legendaris yang merupakan salah satu pendiri Bundesliga. Sikap keras kepala Schmidt untuk mencoba tantangan tersebut jadi dalihnya.

Akan tetapi, Schmidt tak menerima begitu saja tawaran tersebut. Di dalam kontraknya, terdapat perjanjian yang menyatakan bahwa klub akan mencarikannya pekerjaan sebagai insinyur di sebuah perusahaan di kota Münster jika dirinya dipecat. Namun, saat dirinya dipecat pada 19 Maret 2010, Schmidt yang sudah menganggap sepak bola sebagai jalan takdirnya, memutuskan tidak ingin lagi menjadi insinyur.

Roger Schmidt yang menganggur kemudian menggunakan waktu senggangnya untuk mengikuti kursus kepelatihan tingkat empat di Hennes-Weisweiler-Akademie, sekolah pelatih terbaik di Jerman. Ia lulus di tahun 2011 dengan nilai terbaik kedua di angkatannya.

Begitu lulus, Roger Schmidt langsung dikontrak SC Paderborn yang bermain di Bundesliga 2. Tawaran itulah yang kemudian mengubah seluruh hidupnya.

Saat Ralf Rangnick ditunjuk sebagai direktur olahraga RB Salzburg pada 2012 silam, Roger Schmidt yang baru saja mengantar Paderborn finish di urutan kelima Bundesliga 2 adalah pelatih pertama yang ia pekerjakan di Austria. Bisa dibilang kalau dialah yang meletakkan fondasi yang menjadikan RB Salzburg seperti sekarang.

Di musim pertamanya, Schmidt gagal mempertahankan gelar juara liga. Namun, pendukung Salzburg dibuat jatuh cinta dengan gaya mainnya yang sangat ofensif. Di musim berikutnya, Salzburg berhasil mengawinkan gelar Bundesliga Austria dengan Piala Austria.

Di musim panas 2014, Roger Schmidt kembali ke Jerman setelah menerima pinangan Bayer Leverkusen. Ia bertahan di klub tersebut hingga dipecat pada Maret 2017. Sempat merantau 2 tahun di Liga Cina dan mempersembahkan Piala FA Cina untuk Beijing Guoan di tahun 2018, Schmidt kemudian ditunjuk sebagai suksesor Ernest Faber di PSV Eindhoven pada April 2020.

Bersama PSV, Roger Schmidt sukses memenangkan KNVB Cup dan Johan Cruyfft Shield. Prestasi itulah yang kemudian membuat Benfica menunjuk Roger Schmidt setelah kontraknya di Eindhoven berakhir di musim panas 2022.

Roger Schmidt: Temperamental, tetapi Jago Mengorbitkan Pemain

Roger Schmidt sebenarnya dikenal sebagai pelatih temperamental. Ia pernah diskors 3 pertandingan akibat menolak keluar lapangan setelah menerima kartu merah dari wasit. Schmidt juga beberapa kali terlibat pertengkaran dengan pelatih lain, salah satunya dengan Julian Nagelsmann.

Schmidt juga kerap bereaksi keras terhadap pertanyaan jurnalis. Sikapnya ketika ngotot mempertahankan Enzo Fernandez adalah salah satu contohnya.

Sebagai pelatih, Schmidt juga dikenal keras. Dalam sesi latihan, sebuah sirine atau peluit akan berbunyi jika anak asuhnya tidak segera merebut kembali penguasaan bola dalam lima detik. Sudah beberapa kali dirinya mengaku mendapat kritik atas metode latihannya yang menguras fisik. Namun, pendiriannya yang kuat atas konsep sepak bola yang ia usung itulah yang menjadikan Schmidt sesukses sekarang.

“Saya menyukai sepak bola yang intens selama sembilan puluh menit. Kami ingin mengendalikan nasib kami sendiri. Jadi, kami ingin menguasai bola dan membawanya ke area lawan secepat mungkin. Saya ingin memaksakan permainan kami kepada lawan,” kata Roger Schmidt, dikutip dari Maisfutebol.

Bermain sangat ofensif dan cepat, serta menerapkan garis pertahanan tinggi disertai tekanan konstan saat kehilangan bola jadi ciri khas taktik Roger Schmidt. Meski formasinya bergonti-ganti dari 4-2-3-1, 4-4-1-1, atau 4-4-2, pakem tersebut tetap diterapkan tak peduli siapa lawannya.

Itu pula yang ia terapkan bersama Benfica musim ini. Hasilnya, Benfica keluar sebagai tim tersubur di Liga Portugal dengan torehan 61 gol. Mereka juga keluar sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit dan paling banyak mencatat clean sheets.

Roger Schmidt tak hanya piawai meramu taktik berbasis data. Ia juga terkenal sebagai pelatih yang menciptakan hubungan harmonis dengan anak asuhnya. Kedekatan itulah yang membuatnya sukses mengorbitkan banyak pemain bintang masa depan.

Sadio Mane di RB Salzburg, Son Heung-min, Julian Brandt, dan Kai Havertz di Bayer Leverkusen, serta Cody Gakpo, Noni Madueke, dan Ibrahim Sangaré di PSV adalah beberapa pemain yang pernah ia poles.

Kini, bersama Benfica, ada Gonçalo Ramos dan António Silva. Di bawah asuhan Roger Schmidt, keduanya menemukan performa terbaiknya hingga sanggup menembus skuad Portugal di Piala Dunia 2022.

“Para pemain dapat berbicara dengan saya tentang apa saja. Namun saya menginginkan sesuatu sebagai imbalannya, yakni 100% keinginan untuk berkembang dan 100% kemauan untuk melakukan segalanya demi kesuksesan tim. Dalam hal ini, saya tidak membuat konsesi apa pun,” kata Roger Schmidt dikutip dari Maisfutebol.

Tak hanya dengan pemain, Roger Schmidt juga menciptakan hubungan harmonis tersebut dengan para pendukung klub yang ia tangani. Meski ia gagal membawa RB Salzburg juara di musim pertamanya, para fans Salzburg memberinya dukungan dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Stay Schmidt”.

Pemandangan lebih emosional terjadi tatkala ia meninggalkan Beijing Guoan. Kala itu, para pendukung Beijing Guoan mengantar kepergian Roger Schmidt menuju bandara dengan isak tangis.

Kini, bersama Benfica, Roger Schmidt tengah membuat para pendukungnya tersenyum bahagia. Schmidt benar-benar paham membuat sebuah tim yang tak hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga nyaman untuk didukung.


https://youtu.be/5UxM6ZVe9O0

Referensi: Transfermarkt, UEFA, Westphalian News, Maisfutebol, UEFA, France24.