Beranda blog Halaman 381

Lika Liku Karir Torres di Stamford Bridge

Dari Andriy Shevchenko sampai ke Lukaku, semuanya dibeli oleh Chelsea dengan harga yang fantastis di masanya. Tapi entah karena tekanan sebagai pemain mahal, atau kurang jelinya the blues memilih pemain yang cocok, mereka malah jadi pemain yang flop. Di antara striker flop mahal Chelsea, tentu yang paling ikonik adalah Fernando Torres.

Fernando Torres mencapai potensi tertingginya ketika diangkut dari Atletico Madrid ke Anfield dengan memecahkan rekor transfer saat itu. El Nino langsung mendapatkan kemistri yang cocok ketika bermain dengan Steven Gerrard. Semasa ia di Spanyol, tidak pernah ia rasakan menjadi striker yang mendapat pelayanan memuaskan dari seorang gelandang berbakat seperti Gerrard.

Di musim debutnya, ia mencetak 24 gol dan empat assist. Torres juga mencetak hattrick di laga satu-satunya Torres di Piala Liga musim itu. Selain itu mencetak total enam gol yang membawa Liverpool sampai ke semifinal Liga Champions. Tidak butuh waktu lama bagi Torres untuk mendapatkan gelar pahlawan di Anfield.

Pindah ke Stamford Bridge

Musim-musim selanjutnya ia jalani di Anfield dengan penuh keyakinan. Meskipun Torres sempat mengalami cedera yang membuat catatan golnya menurun, Torres tetap dikenal sebagai striker mematikan Liga Inggris. Tapi langkah yang tak bisa dihindari pun terjadi di tahun 2011. Tiga setengah musim membela the kop, Torres memutuskan untuk pergi.

Ketika Torres meninggalkan Atletico Madrid untuk Liverpool, ia sudah siap untuk mengangkat banyak trofi bersama Merseyside. Tapi Ia melihat kalau The Reds berjalan ke arah yang salah. Di masa-masa terakhirnya di Liverpool, kondisi klub sedang tidak baik-baik saja.

Saat itu ada kabar kalau klub akan dijual, dan mereka melepas pemain-pemain terbaiknya. Xabi Alonso dan Javier Mascherano hengkang, bahkan Rafael Benitez pun pergi dari Anfield. Hubungan Torres dengan para petinggi klub juga sedang tidak baik.

Di belahan Inggris lain tepatnya 355 km dari kota Liverpool, ada klub dari London yang menginginkan jasanya. Ya, Roman Abramovich dengan kekayaannya yang melimpah bersedia memboyong Torres ke Stamford Bridge.

Chelsea tak segan-segan memecahkan rekor transfer di Inggris dengan mengeluarkan uang sebesar 50 juta poundsterling. Dengan begitu dimulailah kehidupan baru Torres di Stamford Bridge yang penuh lika liku.

Hadapi Liverpool di Laga Debut

Torres mendarat di Chelsea ketika jendela transfer musim dingin akan segera ditutup. Tepatnya di tanggal 31 Januari 2011. Reaksi para penggemar Liverpool saat itu tentu saja marah. Mereka membakar jersey Torres dan melabeli sang pemain sebagai seorang pengkhianat.

Untuk membuatnya lebih parah, pertandingan pertama Torres sebagai pemain Chelsea adalah menghadapi Liverpool. Entah apa yang ada di pikiran Carlo Ancelotti, tapi ia seharusnya sadar kalau Torres masih belum siap. Hasilnya, itu jadi laga debut yang patut dilupakan oleh Torres.

Torres terlihat sangat tidak bersemangat di pertandingan itu. Nyanyian “kami punya Fernando” oleh para pendukung the blues seakan tidak mempengaruhinya. Ditambah ada spanduk terbentang bertuliskan “He who betrays will always walk alone” dibentangkan oleh para pendukung Liverpool yang sakit hati.

Torres hampir tidak bisa menciptakan peluang di laga itu. Martin Skrtel dan Jamie Carragher menjaga dirinya dengan ketat sepanjang pertandingan. Beberapa peluang yang didapatkan malah ia eksekusi dengan memalukan.

Ancelotti sampai harus menariknya keluar dan diganti oleh Salomon Kalou. Pergantian itu malah membuat situasi semakin buruk. Tiga menit kemudian, Liverpool berhasil unggul lewat gol dari Kevin Mirallas. Pertandingan pun berakhir dengan kekalahan 1-0 untuk the blues.

El Nino dengan cepat mendapati dirinya selalu dijaga ketat di setiap pertandingan. Ia tidak bisa berbuat apapun atas hal itu. Alhasil Torres hanya mampu mencetak sebiji gol saja dari bulan Januari sampai akhir musim. Setidaknya Chelsea finis sebagai runner-up liga, tapi mereka tidak mendapatkan trofi di musim itu.

Musim Penuh Pertama di Chelsea

Harapan para pendukung tidak pupus begitu saja. Mereka berpikiran mungkin Torres butuh waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Tapi memasuki musim 2011/12, musim penuh pertamanya di Chelsea tidak ada tanda-tanda Torres akan kembali ke performa terbaiknya. Ia gagal mencetak gol dalam lima laga pembuka.

Gol pertamanya di Liga Inggris musim itu datang ketika bertandang ke markas Manchester United. Sayangnya, gol cantik Torres itu harus tertutupi oleh blunder yang ia buat setelahnya. Ia tidak bisa menyarangkan bola ke gawang yang terbuka. Padahal dirinya sudah terhindar dari jebakan offside dan melewati De Gea. Chelsea pun kalah dengan skor 3-1.

Torres kembali mencetak gol di laga melawan Swansea. Tapi lagi-lagi golnya harus dinodai dengan kesalahan bodoh. Torres melakukan pelanggaran keras kepada Mark Gower, ia pun mendapatkan kartu merah dari wasit dan langsung diusir keluar lapangan.

Ia baru mencetak gol lagi sekitar satu bulan kemudian di pertandingan Liga Champions melawan Genk. Dalam pesta gol 5-0 itu, Torres mencetak dua gol ke gawang klub asal Belgia tersebut. Tapi ia tidak lagi mencetak gol untuk waktu yang lama.

Pembelian Terburuk Chelsea

Total, ia hanya mencetak 6 gol dari 32 penampilannya di Liga Inggris musim itu. Di Liga Inggris, reputasi Torres pun hancur dengan catatan memalukan itu. “Buang-buang uang”, itulah kata yang selalu diteriakan para pendukung Chelsea setiap Torres bermain. Penampilannya yang buruk membuat Torres dicap sebagai striker gagal di Chelsea.

Ia pun membuat para pendukung the blues saat itu mengingat kembali Andriy Shevchenko. Striker Ukraina itu datang dari AC Milan ke Chelsea sebagai penyerang terbaik di dunia. Sama seperti Torres pula, ia didatangkan dengan harga yang mahal. Tapi Shevchenko malah langsung loyo ketika tiba di Stamford Bridge.

Namun, Shevchenko yang flop itu pun masih lebih baik daripada Torres. Di 50 pertandingan pertamanya bersama Chelsea, Shevchenko mencetak 14 gol. Sedangkan Torres hanya mampu mencatatkan setengahnya saja.

Gol Penebus Dosa vs Barca

Tapi meskipun perjalanan Torres di Liga Inggris bersama Chelsea di musim itu menyedihkan, El Nino masih bisa jadi pahlawan Chelsea di Liga Champions. Mungkin para fans the blues sudah tau apa yang terjadi pada Torres di musim ini.

Chelsea berhasil mengalahkan Napoli dengan skor agregat dramatis di babak 16 besar, dan menaklukkan Benfica di perempat final Champions League musim 2011/12. Dengan begitu, mereka pun melanjutkan langkah ke babak semifinal bertemu dengan Barcelona. Blaugrana musim itu bukanlah tim yang bisa dianggap remeh. Dengan Pep Guardiola sebagai juru taktik dan Messi yang sedang on fire, Barce berada di level yang berbeda.

The Blues memenangkan leg kandang dengan skor 1-0. Tapi semuanya tampak runtuh di leg kedua di Camp Nou. Sergio Busquets mampu menyamakan agregat ketika laga baru berjalan 35 menit. John Terry malah membuat rekan-rekannya panik setelah mendapat kartu merah dua menit kemudian.

Keadaan jadi semakin buruk setelah Iniesta mencetak gol di menit ke-43. Untungnya Ramires bisa membuat London Biru bernafas lega lewat golnya tepat sebelum babak pertama selesai. dengan gol itu, Chelsea sebenarnya sudah unggul gol tandang. Tapi menjelang pertandingan berakhir, ada satu orang yang memilih untuk bersinar.

Ya, orang itu adalah Fernando Torres yang masuk di menit ke-88 menggantikan Drogba. Menyambut umpan panjang, Torres dengan tenang membawa bola melewati Valdes dan memasukkannya ke gawang.

Memang benar, Chelsea masih bisa menang tanpa gol dari Torres. Tapi gol tersebut adalah gol yang mengunci kemenangan Chelsea. The Blues harus bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama, dan Barcelona tidak ada lelahnya menggempur pertahanan Chelsea. Selain mengunci kemenangan, gol tersebut juga jadi gol penebusan dosa Torres setelah sekian lamanya ia tidak bisa mencetak gol di Chelsea.

Harga yang Harus Dibayar

Gol itu memberikan kepercayaan pada publik bahwa dirinya masih bisa diandalkan. Masih ada sisa-sisa pencetak gol mematikan yang mengalir dalam darahnya. Dengan gol itu juga, Chelsea bisa mantap melaju ke final. Di akhir musim, mereka mampu memenangkan Liga Champions yang sudah didamba-dambakan.

Tidak hanya liga Champions, di musim 2011/12 Chelsea juga memenangkan FA Cup. Ia akhirnya bisa mengangkat piala bergengsi, seperti yang ia inginkan sejak dulu. Suatu hal yang membuatnya rela pindah dari Atletico Madrid ke Liverpool. Padahal ia sudah dianggap sebagai pahlawan di Spanyol.

Setelah tidak mendapatkan apa yang ia inginkan di Liverpool, Torres rela meninggalkan kesuksesan sebagai seorang striker andal ke Chelsea. Setelah hengkang dari Liverpool, kepercayaan dirinya langsung hilang. Tapi Itulah harga yang harus dibayar oleh Torres.

Di musim 2012/13, Torres mendapatkan gelar Europa League bersama Chelsea. Ia juga ikut dalam skuad Spanyol yang memenangkan Euro 2012, melengkapi hattrick trofi bergengsinya untuk tim matador. Meskipun begitu, lika-liku karir Torres di Stamford Bridge masih berlanjut. Setidaknya sampai tahun 2014, ketika dirinya dipinjamkan ke AC Milan.

El Nino Kembali Pulang

Tapi perjalanannya di Italia juga tidak begitu berhasil. Di tahun 2015 ia pun pulang ke Atletico Madrid. Delapan tahun setelah berkelana, akhirnya El Nino, atau dalam bahasa Indonesia berarti “Bocah Laki-laki” itu pulang ke kampung halamannya.

Tak disangka setelah sekian lama, publik Atletico Madrid masih mencintainya. 45 ribu orang datang ke stadion untuk menyambutnya kembali. Dukungan dari para suporter dan kecintaannya terhadap sepak bola pun kembali lagi.

Meskipun catatan golnya tidak pernah meningkat lagi, setidaknya di Atletico ia bisa kembali bahagia. Torres memenangkan Europa League untuk kedua kalinya, kali ini bersama dengan klub masa kecilnya. Pada akhirnya, Torres bisa pensiun di tahun 2019 dengan beberapa trofi yang bisa ia banggakan.

Sumber referensi: B/R, B/R2, B/R3, 90min, TheseFootballTimes, PA, Daily, Guardian, Mole

Buriram United: Dari Kota Termiskin Jadi Klub Thailand Tersukses

0

Tidak ada yang bisa menista bahwa sepak bola Thailand termasuk salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Bahkan kalau mau berlebihan sedikit, Thailand menjadi satu-satunya yang terbaik. Tentu saja kita tidak memandang soal prestasi tim nasionalnya saja. Lebih dari itu, timnas yang baik berasal dari kompetisi yang sehat.

Kompetisi nasional yang sehat bakal menelurkan klub-klub yang tak hanya membanggakan gelar kompetisi domestik. Klub-klub di Thailand itulah contohnya. Yap, benar, kita sedang akan membahas Buriram United. Klub Thailand tersukses, bukan sekadar di ranah domestik, tapi berbicara banyak di kompetisi level Asia.

Dari Wilayah Miskin di Thailand

Klub berjuluk Thunder Castle itu lahir di wilayah timur laut Thailand. Letaknya 400 kilometer dari lokasi gedung-gedung pencakar langit yang menarik turis di Bangkok. Tepatnya di Provinsi Buriram, Thailand.

Wilayah timur laut Thailand itu merupakan salah satu yang termiskin di Negeri Gajah Putih. Oleh karena itu, para penduduk di Provinsi Buriram banyak yang melancong ke ibukota untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Di Buriram menjamur orang miskin. Dilansir The Nation Thailand, hasil temuan Thai People Map and Analytics Platform (TPMAP) menunjukkan, pada 2022 jumlah orang miskin di Thailand berjumlah 1.025.782.

Dari jumlah tersebut, ada 10 provinsi yang menyumbang orang melarat terbanyak. Nah, Provinsi Buriram menempati posisi kedua. Menurut TPMAP, jumlah kaum dhuafa di Provinsi Buriram mencapai 45.356 atau sekitar 4,41% dari jumlah penduduk di Provinsi tersebut.

Provinsi Buriram hanya kalah dari Provinsi Chiang Mai yang menyumbang paling banyak orang miskin. Jumlahnya mencapai 52.928 orang miskin atau 5,36% dari jumlah penduduk Provinsi Chiang Mai.

Berdiri 1970

Buriram United berdiri pada tahun 1970. Namun tidak dengan nama Buriram United, tapi dengan nama Provincial Electricity Authority Football Club atau PEA FC. Awal pendiriannya, PEA FC tidak langsung sukses. Baru pada tahun 1998, klub ini mulai menuai kesuksesannya.

PEA FC menjuarai kompetisi divisi ketiga, Kor Royal Cup. Pada musim 2002/03, PEA FC finis di posisi ketiga di divisi dua dan harus bertarung dengan klub dari play off zona degradasi untuk bisa naik ke Liga Utama Thailand. Akan tetapi PEA FC gagal setelah ditaklukan oleh Thailand Tobacco Monopoly FC.

Pada akhir musim 2003/04, PEA FC mewujudkan impian untuk bermain di Liga Utama Thailand. Menariknya, usai lolos ke Liga Utama Thailand, PEA FC seketika memberi kejutan dengan finis di posisi kedua. Maka berhak untuk berkompetisi di Liga Champions Asia.

Itulah kali pertama klub Buriram United lolos ke Liga Champions Asia, walaupun belum memakai nama yang sekarang. Malangnya, PEA FC tak melaju jauh di Liga Champions Asia. Alih-alih menoreh prestasi, PEA FC hanya bisa finis di peringkat 10 dan 8 di liga, masing-masing di tahun 2006 dan 2007.

Transformasi Liga Thailand

Tahun 2007 wajah sepak bola Thailand mulai berubah. Ada sekian pembenahan di segala lini. Federasi Sepak bola Thailand atau FAT mulai mengambil langkah jitu untuk memajukan sepak bola Thailand. Salah satunya dengan mengikuti regulasi AFC Club Licensing System.

Federasi Sepak bola Thailand mendorong agar klub memiliki badan usaha sendiri yang berbasis kedaerahan, agar klub bisa mengelola keuangannya secara mandiri. FAT tak membatasi siapa pun untuk berinvestasi ke klub-klub di Thailand.

Karena yang dituju sederhana. Sepak bola Thailand maju dan tim nasionalnya berbicara banyak di level Asia. Para investor pun makin banyak yang masuk. Di satu sisi, Liga Thailand juga bertransformasi dan lahirlah Thailand Premier League (TPL). Tim-tim provinsi dimasukkan.

Saat itulah, PEA FC berkompetisi di liga tersebut. Dengan kata lain saat Liga Thailand itu bertransformasi, Buriram United masih dalam bentuk embrio.

Diakuisisi Politisi

Perlahan namun pasti, sebetulnya sepak bola Thailand sejak saat itu berkembang pesat. Terbukanya siapa pun untuk berinvestasi mengakibatkan sepak bola Thailand tidak lepas dari politik. Kesebelasan-kesebelasan di Thailand boleh kok dipolitisasi. Namun harus berkembang dan maju.

Sementara sepak bola Thailand kian berbenah, PEA FC pada 2008 pindah ke Ayutthaya dan bermain di Stadion Provinsi Ayutthaya. PEA FC memenangkan kejuaran Liga Utama Thailand untuk pertama kalinya pada musim 2007/08. Alhasil, PEA FC berhak ke babak penyisihan Liga Champions berikutnya.

Sayang, pada Liga Champions Asia 2009, PEA FC tersingkir. Selanjutnya klub ini mempertahankan gelar liga dengan cara buruk. PEA hancur-hancuran, termasuk finansialnya. Masalah finansial klub ini ditangkap oleh politikus kondang, Newin Chidchob yang akhirnya membeli klub pada 2009.

Markas klub kembali ke Buriram dan namanya menjadi Buriram PEA. Tim ini lantas berkembang pesat dan berhasil meraih treble pada tahun 2011. Baru pada 2012, tim ini rebranding dengan nama Buriram United.

Gagal di Liga, tapi Mencatatkan Penonton Banyak

Setelah berubah nama, Buriram United justru gagal mempertahankan gelar tahun itu. Akan tetapi Thunder Castle mengalahkan tim Jepang, Kashiwa Reysol dan tim China, Guangzhou Evergrande di Liga Champions Asia. Namun, kegagalan di empat laga lainnya membuat Buriram tersingkir.

Di liga domestik, Buriram United memang gagal. Tapi pada saat itu berhasil mencatatkan rata-rata penonton tertinggi di liga, yaitu 15 ribu penonton. Itu artinya daya tarik Buriram United sangat luar biasa.

Membangun Skuad

Tahun 2013, mantan manajer Real Madrid Castilla, Alejandro Menendez ditunjuk menggantikan orang Inggris, Scott Cooper. Pada saat itu pula rekrutan Spanyol mempengaruhi Buriram. Seperti bek Celta Vigo, Andres Tunez dan pemain Cordoba, Javier Patino.

Buriram menggondol trofi-trofi domestik. Thunder Castle juga ke perempat final Liga Champions Asia pada 2013. Kesuksesan Buriram berlanjut saat ditangani pelatih asal Brasil, Alexandre Gama. Ia memberi pengaruh Brasil di Buriram.

Striker Brasil, Diogo Luis Santo yang pernah bermain untuk Olympiakos didatangkan. Mereka juga mendatangkan bintang muda Arsenal, Jay Simpson. Meskipun sang pemain tampil buruk dan kembali ke Inggris. Pada saat itu pula, akademi Buriram mulai bergeliat. Sebab pada 2013, Newin sudah mengeluarkan 200 juta baht (Rp89,8 miliar) untuk akademi.

Akademi Yahud

Buriram United tidak hanya mengandalkan pemain utama dan hasil pembelian, tapi juga pemain akademi. Akademi Buriram menjalin kemitraan dengan tim-tim di Segunda B Spanyol. Dari kerja sama ini, selain menelurkan pemain untuk tim, juga menghasilkan pemain abroad.

Akademi Buriram punya sistem berbeda dari akademi di Eropa. Mereka cenderung ketat dalam mengawasi para pemain. Menurut media Thailand, Thai PBS, pemain akademi diawasi 24 jam oleh pelatihnya. Disiplin menjadi yang ditekankan dari akademi.

Menurut Football Tribe Thailand, pemain-pemain dari akademi juga berperan penting di tim utama. Tak ayal jika banyak pemain dari Akademi Buriram moncer. Sebutlah misalnya, Supachok Sarachat, Ratthanakorn Maikami, dan Anon Amornlerdsak.

Akademi Buriram juga menguntungkan Timnas Thailand itu sendiri. Sebab Buriram dan Changsuek sudah bekerja sama. Ada dua tujuan kerja sama Buriram dan Timnas Thailand, yaitu pada 2024 tim muda harus lolos ke putaran final Piala AFC, dan pada 2025 bisa lolos tanpa perlu menjadi tuan rumah ke Piala Dunia U20.

Finansial Hebat

Kesuksesan Buriram United banyak yang mempertanyakan. Bagaimana Newin berinvestasi di klub? Minimnya transparansi menimbulkan pertanyaan itu. Apalagi sejauh ini Buriram United dan Muangthong United seakan membentuk duopoli di sepak bola Thailand.

Faktanya, kita tak bisa menampik finansial Buriram United memang kokoh. Newin telah menyulap Thunder Castle bukan hanya sebagai klub, tapi merek dagang komersial. Pada tahun 2019 dilansir Mainstand Thailand, Buriram bisa meraup 27,4 juta baht atau 750 ribu euro (Rp12,2 miliar) dari penjualan merchandise hanya dalam satu pertandingan saja.

Kalau dirata-rata, Buriram berhasil menjual 600 ribu jersey dalam kurun setahun. Buriram juga sudah punya stadion bernama Chang Arena yang kini berkapasitas 32 ribu lebih tempat duduk.

Finansial stabil, bakat-bakat yang hebat, dan tentu saja didukung dengan sepak bola yang sehat, maka wajar kalau Buriram United jadi klub tersukses di Thailand, bahkan boleh jadi Asia Tenggara.

Selain dua kali masuk fase gugur Liga Champions Asia, Buriram United mengumpulkan 24 trofi domestik sampai tahun 2023. Menariknya lagi, keberhasilan Buriram United ternyata menginspirasi klub Malaysia, Johor Darul Ta’zim untuk menjiplak langkah-langkahnya.

https://youtu.be/la6GJ3v8M2o

Sumber: TheseFootballTimes, FIFA, Mainstand, Football-Tribe, TheStandard, ThaiPBS, NationThailand

Berita Bola Terbaru 16 Maret 2023 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil leg kedua 16 besar Liga Champions, bermain di markas sendiri, Napoli sukses mencukur wakil Jerman, Eintracht Frankfurt dengan skor 3-0 lewat brace dari Osimhen dan satu gol penalti Zielinski. Berkat hasil itu, Napoli lolos ke perempat final dengan agregat meyakinkan 5-0.

Sementara itu, di Santiago Bernabeu, raksasa Spanyol Real Madrid semakin menasbihkan dirinya sebagai rajanya Eropa. Setelah memupuskan angan semu Liverpool untuk comeback dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang Benzema itu berhasil membawa El Real melangkah pasti ke babak perempat final.

HURU-HARA DI NAPOLI JELANG LAGA LAWAN FRANKFURT

Ketegangan terjadi berlarut-larut hingga malam di Napoli. Ketika ultras Napoli mencoba balas dendam menyergap bus yang membawa penggemar Frankfurt. Hal ini dipicu dari aksi 600 penggemar Frankfurt yang masih nekat melakukan perjalanan ke stadion padahal itu sudah dilarang. Mereka yang ngeyel itu bahkan terlibat dalam bentrokan sengit dengan polisi pada sore harinya dengan membakar mobil dan merusak restoran.

KLOPP: KALAU MAU JUARA LIGA CHAMPIONS KALAHKAN MADRID DAN CITY

Klopp menghadiri konferensi pers setelah timnya tersingkir oleh Real Madrid di Liga Champions. Klopp mengakui kehebatan Real Madrid. Menurutnya, Madrid dengan pengalaman dan kepercayaan diri yang dimiliki, tentu saja adalah salah satu favorit juara. Klopp juga mengatakan bagi siapa pun yang ingin memenangkan Liga Champions, harus mengalahkan dulu Real Madrid dan tak lupa juga Manchester City.

ANCELOTTI: FINAL IDEAL REAL MADRID VS AC MILAN

Pasca lolos ke perempat final pelatih Madrid Carlo Ancelotti memiliki satu harapan agar Real Madrid bertemu mantan klubnya AC MIlan. “Saya ingin bertemu Milan di Final Istanbul. Sejujurnya, ideal bagi kami untuk bertemu Milan di Final, tetapi jalan masih panjang,” kata Ancelotti kepada Sky Sport Italia. FYI aja Istanbul menjadi kota tuan rumah saat Milan asuhan Ancelotti kalah dari Liverpool melalui adu penalti pada 2005.

DOMINASI ITALIA DI LIGA CHAMPIONS SEJAK 2006

Napoli telah bergabung dengan Milan dan Inter di perempat final Liga Champions. Berkat hasil ini untuk pertama kalinya sejak musim 2005/06 ada tiga tim Italia di delapan besar. Terakhir kali Juventus, Inter, dan Milan berada di 8 besar musim 2005/06. Selain itu, ada juga dominasi empat pelatih Italia di delapan besar musim ini, yakni Luciano Spalletti, Stefano Pioli, Simone Inzaghi, dan Carlo Ancelotti.

LOLOS, NAPOLI CIPTAKAN REKOR DI EROPA

Napoli akhirnya menciptakan rekornya di Liga Champions kala lolos ke perempat final. Karena mereka tak pernah dalam sepanjang sejarah klubnya mampu tembus hingga babak ini. Mereka selalu kandas di babak 16 besar. Rekor fantastis ini bahkan melebihi dari pencapaian Napoli pada masa jayanya Maradona yang hanya tampil di UEFA Cup.

NAZAR YANN SOMMER DIPENUHI

Kiper Bayern Munchen, Yann Sommer akhirnya memenuhi nazarnya pada De Ligt. Awalnya Sommer berjanji untuk memberi penghargaan pada De Ligt atas penyelamatannya saat menghadapi PSG. Sommer sangat terkesan sehingga dia berjanji untuk mengirimkan coklat batangan dalam jumlah besar langsung dari Swiss. Namun, De Ligt akhirnya memilih untuk mengirim coklat tersebut ke badan amal di Munchen.

TEN HAG IRI DENGAN ARSENAL

Ten Hag berbicara sebelum pertandingan Liga Europa melawan Real Betis. Ia mengatakan MU kesulitan menemukan ritme karena pemain topnya banyak yang cedera dan absen. Justru di saat Ten Hag mengungkapkan kegelisahannya itu, ia malah menyerempet dengan menyindir Arsenal beruntung dengan kebugaran mereka musim ini. Ten Hag seolah membanding-bandingkan dan iri dengan skuad Arsenal.

TANDA-TANDA MESSI KE ARAB SAUDI

Lionel Messi dilaporkan akan ditawari kesepakatan 194 juta pounds per tahun untuk pindah ke Arab Saudi. Messi akan menjadi agen bebas di musim panas jika tidak menyetujui perpanjangan kontrak di PSG. Awal pekan ini, tanda-tanda itu semakin jelas ketika ayah Messi terlihat di Riyadh bertemu Profesor Abdullah Hammad, rekan dekat Menteri Olahraga Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz Al-Faisal. Diisukan saingan Al-Nassr, Al-Hilal kemungkinan besar yang akan merekrut Messi.

MU SERIUS TAWAR KOLO MUANI

Setelah Harry Kane susah didapat, MU dilaporkan bersedia menawar sebesar 105 juta pounds untuk striker Eintracht Frankfurt, Randal Kolo Muani musim panas ini. Pemain berusia 24 tahun itu diyakini menjadi alternatif dari rencana transfer Ten Hag. Ten Hag diperkirakan bakal melakukan perombakan skuad United musim panas ini, dengan sejumlah pemain yang akan hengkang.

CR7 DIPANGGIL ROBERTO MARTINEZ

Cristiano Ronaldo akan dimasukkan dalam skuad Portugal untuk kualifikasi Euro 2024 bulan ini melawan Liechtenstein dan Islandia. Ronaldo sebelumnya malu-malu tentang masa depan internasionalnya setelah tersingkirnya Portugal di perempat final Piala Dunia lalu oleh Maroko. Pelatih baru Portugal Roberto Martinez sempat bertemu dahulu dengan Ronaldo sebelum memutuskan untuk memanggil penyerang veteran itu. “Kami akan memberikan semua pemain kesempatan dan menghormati semua yang sudah berada di tim nasional. Cristiano adalah salah satunya,” kata Roberto Martinez.

BARCA PUTUS HUBUNGAN MEJA MAKAN DENGAN REAL MADRID

Presiden Barcelona Joan Laporta dilaporkan membatalkan makan siang pra-pertandingan akhir pekan ini dengan rekannya di Real Madrid, Florentino Pérez. Menurut outlet media Catalan, TV3, Laporta mempertimbangkan langkah tersebut sebagai hasil dari pernyataan Madrid baru-baru ini tentang kasus Barcagate. Hal ini otomatis akan berdampak pada kemerosotan hubungan Laporta dan Perez yang akhir-akhir ini sangat bersahabat karena satu visi dengan Liga Super Eropa maupun penolakan dana investasi dari CVC.

WASIT SERIE A MINTA MAAF KE MOURINHO

Dalam upayanya untuk menghindari penangguhan komisi disiplin, wasit ofisial keempat, Marco Serra telah meminta maaf karena sikap dan bahasa tubuh yang salah selama perselisihannya dengan pelatih AS Roma, Jose Mourinho. Insiden itu terjadi di pinggir lapangan saat Giallorossi kalah 1-2 dari Cremonese. Mourinho geram dengan hinaan dari Serra. Namun, Serra terus menegaskan bahwa dia tidak menghina Mourinho. Menurutnya itu adalah kesalahpahaman di tengah kebisingan stadion.

SOGOKAN LEGENDA REAL MADRID UNTUK KHVICHA KVARATSKHELIA

Legenda Real Madrid, Guti telah menghadiahi bintang Napoli, Khvicha Kvaratskhelia kaos bertanda tangan dirinya dan tak lupa mendesaknya untuk pindah ke Santiago Bernabeu. Seperti terlihat di EL Chiringuito TV, inilah pesan Guti dalam jerseynya untuk membujuk pemain Napoli itu. “Untuk Khvicha, semoga kamu menyukai bajunya, dan semoga mimpimu menjadi kenyataan. Aku menunggumu di Madrid.”

DEMBELE TERLIHAT DI PERTANDINGAN SUNDERLAND, ADA APA?

Pemain Barca, Ousmane Dembele terlihat agak aneh tertangkap kamera di pertandingan medioker Championship Liga Inggris. Pemain internasional Prancis itu difoto oleh Sky Sports di Stadium of Light, kandang Sunderland FC kala tim itu menghadapi Sheffield United. Ternyata, dia terlihat duduk bersama teman lamanya yang juga pemilik Sunderland, Kyril Louis Dreyfus.

MU DAN CHELSEA BEREBUT TANDA TANGAN KIPER DORTMUND

Media lokal Jerman, BVB BUZZ mengabarkan kalau Manchester United dan Chelsea tengah berebut tanda tangan kiper Borussia Dortmund, Gregor Kobel. Menurut laporan, pihak Chelsea bahkan sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan Dortmund untuk membahas kemungkinan transfer di musim panas mendatang. Sedangkan United juga tertarik, tapi mereka belum mengambil langkah untuk Kobel.

ARSENAL INGIN PERTAHANKAN GRANIT XHAKA

Setelah performa yang terus meningkat, Arsenal dikabarkan akan memperpanjang masa bakti Granit Xhaka. Dilansir The Sun, pemain Swiss itu muncul sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam skuad Mikel Arteta musim ini. Maka dari itu, klub dengan senang hati memberikan perpanjangan kontrak sebagai penghargaan atas kontribusinya. Kabarnya Arsenal akan membuat Xhaka bertahan di Emirates Stadium hingga 2025 mendatang.

MADRID BERMINAT REKRUT BINTANG CELTA VIGO

Real Madrid dikabarkan masuk dalam perburuan bintang muda Celta Vigo, Gabri Veiga. Dilansir Football Espana, Madrid akan bersaing dengan beberapa klub Liga Inggris macam Manchester United dan Arsenal yang juga meminati pemain asal Spanyol tersebut. Namun, pihak Celta tampaknya tak terburu-buru untuk menjual sang pemain. Terlebih Veiga masih terikat kontrak hingga 2026.

DANI CEBALLOS MULAI PIKIRKAN MASA DEPAN

Nasib Dani Ceballos di Real Madrid masih tanda tanya. Pemain yang pernah berseragam Arsenal ini kabarnya sudah tak betah di Bernabeu. Menurut Fabrizio Romano, Ceballos tak begitu berambisi untuk bertahan di Madrid. Apabila ia berhak mendapatkan perpanjangan kontrak, maka ia akan menerimanya. Tapi prioritas utamanya tetap mencari klub baru.

REAL MADRID INCAR MOHAMMAD KUDUS

Piala Dunia 2022 telah menjadi panggung bagi beberapa pemain. Salah satu pemain yang menarik perhatian adalah Mohammed Kudus. Kabarnya, Real Madrid berminat untuk merekrutnya. Dilansir Football Espana, pemain berusia 22 tahun telah menarik perhatian Madrid sejak Piala Dunia. Klub pun sudah memantau Kudus ketika bermain di Ajax. Kini, El Real tengah menanti waktu yang tepat untuk melakukan langkah awal membuka negosiasi dengan Ajax.

ATLETICO MADRID SUDAH TAK MINAT PADA LINDELOF

Atletico Madrid dikabarkan akan mencari bek anyar di bursa transfer mendatang. Klub Spanyol itu sempat dirumorkan tertarik untuk memboyong Victor Lindelof. Namun, kini niatnya mulai surut. Dilansir Football Espana, Los Rojiblancos sempat membuka negosiasi dengan Lindelof Januari lalu. Tapi mereka mengurungkan niat itu karena Erik Ten Hag masih menginginkan Lindelof di skuadnya musim ini. Jadi, Atletico mengalihkan pandangan pada Caglar Soyuncu.

LUKAKU BAKAL DIKEMBALIKAN KE CHELSEA

Masa depan Romelu Lukaku di Inter Milan tampaknya sudah menemui titik terang. Sang bomber dikabarkan tak akan dipermanenkan oleh Nerazzurri. Dilansir The Sun, CEO Inter Giuseppe Marotta menegaskan pemain berusia 29 tahun itu tidak akan dipermanenkan. Lukaku akan kembali ke Stamford Bridge di musim panas panas nanti.

BARCA SIAP PERPANJANG KONTRAK DEMBELE

Kesepakatan antara Barcelona dan Ousmane Dembele soal kontrak baru tampaknya hampir tercapai. Dilansir Sport, pembicaraan dengan Dembele sudah berada di tahap selanjutnya. Kabarnya konsentrasi utama adalah soal gaji. Meski sang pemain tampil mengesankan musim ini, kemungkinan Barca akan menaikan gaji Dembele sangat kecil.

MAROKO JOIN JADI CALON TUAN RUMAH PIALA DUNIA 2030

Setelah tampil mengejutkan di Piala Dunia 2022, Maroko dikabarkan bertekad jadi tuan rumah Piala Dunia 2030. Dilansir Fox Sport, Maroko tak sendiri, mereka akan bergabung dengan Spanyol dan Portugal untuk meramaikan bursa tuan rumah Piala Dunia 2030. Maroko akan mendapat lawan berat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030, yakni Arab Saudi yang rencananya menggandeng Italia.

SHIN TAE-YONG PANGGIL NAMA-NAMA ABROAD UNTUK PERTANDINGAN KONTRA BURUNDI

Coach Shin Tae-yong dikabarkan telah memanggil 28 nama yang akan dipersiapkan untuk pertandingan uji coba melawan Burundi akhir Maret nanti. Dilansir Sport Detik, beberapa di antaranya merupakan pemain Indonesia yang kini bermain di luar negeri. Mereka adalah Elkan Baggott, Asnawi Mangkualam, Jordi Amat, Pratama Arhan, Shayne Pattynama, dan Saddil Ramdani. Sisanya adalah pemain yang merumput di dalam negeri.

Sombong Duluan! Klopp Sesumbar Ulangi Final Istanbul Malah Keok Lawan Madrid

Real Madrid resmi melaju ke babak perempat final Liga Champions. Anak asuh Ancelotti sukses mengalahkan Liverpool di leg kedua ini dengan skor 1-0. Real Madrid memang tidak perlu tampil sempurna di laga ini. Mengingat mereka sudah melakukan segala kerja keras untuk menang 5-2 di leg pertama.

Tapi tetap saja Liverpool tidak bisa menembus pertahanan los blancos. The Reds tampil tidak berdaya di Bernabeu padahal mereka membutuhkan tiga gol hanya untuk memaksa laga dilanjutkan ke extra time. Justru Madrid yang lebih punya banyak peluang.

Sampai akhirnya di menit ke-78 Benzema mencetak gol ke gawang Alisson. Sekaligus memupuskan harapan Liverpool untuk bernostalgia di final Istanbul. Sang juara bertahan Champions bisa melaju ke perempat final. Sementara Liverpool kini hanya tersisa perebutan empat besar Liga Inggris.

Liverpool Tak Mampu Melawan

Menuju pertandingan ini, Liverpool harusnya sadar kalau mereka menghadapi misi comeback mustahil. Mengembalikan defisit tiga gol harus jadi prioritas utama Jurgen Klopp. Apalagi sejarah mengatakan kalau Liverpool tidak pernah bisa mengalahkan Madrid sejak tahun 2009. Untuk itu, lini depan yang tajam harusnya jadi senjata utama Liverpool di pertandingan ini. Tapi mereka malah melakukan yang sebaliknya.

Memasang Mohamed Salah, Coady Gakpo, Darwin Nunez, dan Diogo Jota sekaligus dalam starting eleven, tidak diragukan kalau Klopp memang ingin menyerang dengan kekuatan penuh. Tapi timnya tidak punya naluri mencetak gol di sepertiga lapangan akhir.

Di babak pertama, Liverpool punya beberapa peluang untuk membangun serangan. Tapi masalah lini depan kembali jadi persoalan. Tendangan-tendangan yang dilayangkan tidak ada yang bisa masuk ke gawang. Kehilangan banyak kesempatan membuat ritme permainan sulit ditemukan.

Kemudian bisa dilihat semangat dan kepercayaan diri the reds menurun drastis di babak kedua. Di 30 menit terakhir permainan sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Carlo Ancelotti. Sampai Akhirnya Benzema bisa mencetak gol di menit ke-78.

Tapi bukan hanya lini serang yang kurang tajam dari Liverpool. Jika Klopp ingin mengambil pelajaran dari kekalahan ini maka ia bisa melihat bagaimana pentingnya lini tengah yang kuat. Seperti yang dimiliki Madrid saat ini, lini tengah yang kokoh mampu membantu pertahanan dan serangan secara bersamaan.

Memang bukan perkara yang mudah untuk mengalahkan Toni Kroos dan Luka Modric tengah lapangan. Tapi Liverpool hanya punya Milner dan Fabinho untuk menantang mereka di laga itu. Tentu saja ini bagaikan pertarungan pistol lawan belati.

Karma Sesumbar?

Mempertajam penyerangan dan memperkuat lini tengah adalah pelajaran yang bisa Klopp ambil dari laga ini. Tapi ada juga pelajaran lainnya yang harus Klopp sadari. Yaitu jangan terlalu jumawa dan sesumbar di awal.

Musim kemarin, Liverpool berhasil melaju sampai final Champions League. Di laga itu, sayangnya the reds harus kalah dari Madrid dengan skor 1-0. Setelah pertandingan, Klopp memberikan tanggapannya dengan berkata:

“Saya memiliki firasat untuk datang lagi di tahun depan. Kami punya tim yang luar biasa dan di tahun depan akan tetap diisi skuad yang luar biasa. Tahun depan dimana? Istanbul? Pesan sekarang hotelnya!” Ungkap Klopp dikutip dari Talksport.

Itu tentu dianggap sebagai komentar yang arogan dari Klopp. Perkataan Klopp itu merupakan ungkapan yang tidak memiliki dasar dan hanya berlandaskan pada rasa sakit hati dan kesombongan semata. Sebab saat itu Liverpool jadi tim unggulan di Champions League. Dengan jadi finalis di tahun 2018, kemudian juara di tahun 2019, dan kembali menjadi finalis di tahun 2022.

Final tahun ini memang diselenggarakan di stadion Ataturk, Istanbul, Turki. Itu adalah stadion yang sama dengan ketika Liverpool juara di tahun 2005. Mereka mengalahkan AC Milan dengan sangat heroik sehingga pertandingan final itu diingat sampai sekarang dengan sebutan “Miracle of Istanbul” atau keajaiban di Istanbul.

Tapi meskipun sudah koar-koar untuk bernostalgia di Istanbul, dan Klopp sudah terlanjur terlalu pede bisa ke final lagi tahun ini, mereka malah keok tak berkutik. Yang lebih menyakitkan adalah mereka kalah melawan musuh familiar, Real Madrid. Real Madrid selalu jadi mimpi buruk di Champions League. Dan sepertinya butuh waktu lama untuk Liverpool bisa membalaskan dendamnya.

Siapa Berani Tantang Madrid?

Faktanya Real Madrid memang terlalu kuat di Liga Champions. Meskipun di kompetisi domestik mereka tampil loyo, tapi di Liga Champions pasukan Ancelotti seperti tim yang berbeda. Mereka seperti belum menemukan penantang yang pantas di Champions League musim ini.

Los Merengues adalah veteran-nya Liga Champions. Sudah terbukti di leg pertama, kala itu anak asuh Ancelotti tertinggal 2-0 hanya dalam waktu 14 menit. Tapi dengan mudahnya mereka masih bisa tenang dan membalikan keadaan sampai skor berubah jadi 5-2 di akhir laga. Dan itu kembali dilakukan oleh Ancelotti di laga ini.

Liverpool sebenarnya tampil cukup bagus di awal pertandingan ini. Mereka punya cukup banyak peluang untuk memperkecil agregat. Tapi apa tanggapan dari Madrid? Mereka tetap tenang dan berusaha sedikit demi sedikit merebut kendali permainan. Madrid punya pemain sayap kiri yang secepat kilat bisa masuk ke jantung pertahanan.

Jika Liverpool bisa mendapatkan bola dan berusaha untuk membangun serangan, maka lini tengah sudah siap menghadang. Dengan kerjasama Toni Kroos, Luka Modric, dan Eduardo Camavinga mampu memberikan masterclass di tengah lapangan.

Madrid bisa bermain sesuka mereka tanpa kehilangan kendali permainan. Itulah kehebatan Madrid saat ini. Jadi, kembali ke pertanyaan penting. Dengan kemampuan Madrid yang begitu hebatnya, siapa yang bisa jadi penantang di turnamen ini?

Sulit untuk menjawab hal itu. Masih ada Bayern Munchen yang dengan gaya serupa, menghempaskan perlawanan PSG. Atau Chelsea dan Man City yang punya misi balas dendam yang masih segar kepada los blancos.

Yang menarik adalah, apabila Madrid bertemu dengan Napoli. Tim kota Naples itu jadi tim kuda hitam yang kebangitannya tidak diduga semua orang musim ini. Dan sama seperti Madrid, Napoli masih belum memiliki penantang yang sepadan di kompetisi ini. Bisa dibayangkan serunya kalau Osimhen dan Kvaratskhelia bisa mengobrak abrik pertahanan Madrid. Dan juga reuni Ancelotti di kota Naples, dimana ia pernah menjadi pelatih Napoli.

Siapa Saja yang Lolos?

Tapi sebelum itu, akan dilakukan undian untuk babak perempat final. Selesai sudah pertarungan babak 16 besar. Menghasilkan 8 tim yang sudah dipastikan melaju ke babak selanjutnya. Mereka adalah AC Milan, Bayern Munchen, Benfica, Chelsea, Inter Milan, Manchester City, Real Madrid, dan Napoli.

Di babak selanjutnya, dua tim yang sudah bertarung di fase grup bisa dipertemukan kembali. Juga tim yang berasal dari negara yang sama sudah bisa menghadapi satu sama lain. Negara yang paling banyak menyumbang kontestan di babak ini adalah Italia.

Tiga wakil dari Serie A lolos ke babak perempat final. Ini terakhir kali terjadi di musim 2005/06. Sedangkan untuk Napoli, ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah mereka bisa tembus perempat final. Undian babak perempat final akan dilakukan pada tanggal 17 Maret waktu setempat.

Sumber referensi: Sporting, Athletic, Athletic 2, Talksport

Ini 11 Pemain Liga Inggris Terbaik Versi Jim Beglin Si Komentator PES Legend!

Para pemain Pro Evolution Soccer pasti sudah familiar dengan suaranya. Ya, suara itu adalah suara dari Jim Beglin. Selain jadi komentator PES, Jim adalah mantan pemain Liverpool di tahun 1980-an.

Jim beralih profesi jadi komentator sepak bola tak lama setelah pensiun. Kemudian Konami menggunakan suaranya di Gim PES. Dengan pengalamannya itu ia telah jadi saksi hidup perkembangan Premier League. Ia telah menyaksikan banyak pemain hebat bermunculan. Dikutip dari Sportskeeda, inilah 11 pemain Premier League terbaik versi Jim Beglin.

Peter Schmeichel

Untuk posisi kiper, Jim Beglin memilih Peter Schmeichel. Tentu, itu pilihan yang mudah. Schmeichel adalah kiper terbaik yang pernah disaksikan pecinta Premier League. Ia unggul dalam segala hal, termasuk mencetak gol. Sepanjang karirnya, ia sudah mencetak 10 gol.

Ia juga punya karakter yang spesial bagi tim. Dan itu membuatnya bisa membawa MU juara Champions tahun 1999 sebagai kapten. Dalam sejarah, hanya tiga kiper yang mengangkat trofi Champions sebagai kapten. Dua yang lain adalah Casillas dan Manuel Neuer.

Gary Neville

Di posisi bek kanan Beglin memilih legenda MU lainnya, Gary Neville. Pria yang kini jadi pundit itu punya peran yang sangat besar bagi kejayaan MU di masanya dan pantas untuk mendapat gelar Red Legend.

Tidak seperti Schmeichel yang sempat pindah ke klub rival, Neville setia berseragam setan merah sampai ia pensiun di tahun 2011. Kecintaannya terhadap klub memang kadang membuatnya berada dalam masalah. Contohnya seperti perseteruannya dengan Carlos Tevez. Tapi itu pula yang membuat para fans mencintainya.

“Dia mau maju ketika situasi memanggilnya. Tapi ia melakukan itu bukan seperti para bek jaman sekarang. Ia tidak melakukannya untuk mencari muka. Ia melakukannya karena itu adalah tugasnya” Tegas Jim Beglin soal kenapa memilih Neville.

Rio Ferdinand

Jim Beglin memilih Rio Ferdinand sebagai bek tengahnya. Mungkin banyak orang yang lebih menyukai rekannya di MU, Vidic ketimbang Ferdinand. Vidic memang bek bringas yang tak kenal ampun. Tapi Ferdinand lah yang hadir untuk mengisi segala kekurangan Vidic di atas lapangan.

Ferdinand punya kecepatan dan ketenangan dalam merebut bola. Kemampuan recovery nya juga luar biasa. Dia selalu tampil dengan percaya diri siapapun lawannya. “Rio Ferdinand punya keahlian yang sempurna dan kemampuan yang komplit sebagai seorang bek tengah. Tidak banyak bek tengah yang seperti itu” Ungkap Jim Beglin.

John Terry

Untuk pasangan bek tengah Ferdinand di skuad pilihan ini, Jim Beglin memilih John Terry. Jika ada satu nama yang bisa membuat semua fans Chelsea di seluruh dunia tersenyum, dialah John Terry. Ia menjabat sebagai kapten terlama the blues dan jadi pemain tersukses London Biru.

Jika Ferdinand punya kecepatan dan ketenangan merebut bola, Terry punya kecerdasan dalam membaca jalannya pertandingan. Dia adalah tipe pemain bertahan yang bisa mengatur tim dan teman-temannya di depan.

“Terry selalu berada di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat untuk memberikan kontribusi bagi Chelsea. Dalam hal bakat bermain, ia adalah bos-nya dan bisa memimpin ruang ganti” Ungkap Jim Beglin.

Ashley Cole

Posisi bek kiri, tentu saja Jim Beglin memilih Ashley Cole. Memang tidak ada bek kiri yang sehebat dirinya. Ia adalah bagian penting dari invincible Arsenal di tahun 2002. Di masa itu, Ashley Cole, Robert Pires, dan Thierry Henry membuat sisi kiri Arsenal begitu menakutkan. “Saya tidak terlalu ingat ada penyerang yang menyusahkannya di lapangan” ungkap Jim Beglin.

Salah satu kelebihan yang paling menonjol dari Cole adalah bagaimana ia bisa berubah posisi begitu mudahnya. Cole bisa dengan cepat melakukan transisi menyerang dan bertahan. Ia juga punya kecepatan diatas rata-rata. Padahal di masa 2000-an bek kiri adalah posisi bertahan.

Cristiano Ronaldo

Ronaldo mungkin lebih gacor ketika ia berada di posisi penyerang. Tapi, ketika ia berada di Manchester United, ia adalah pemain sayap. Dan Jim Beglin memilihnya untuk menempati posisi sayap kanan di skuad impiannya.

“Saya lebih suka Lionel Messi. Tapi saya sangat menghormati Ronaldo. Anda tidak bisa mengabaikan apa yang telah dia lakukan selama bertahun-tahun” kata Jim Beglin.

Tidak perlu panjang lebar menjelaskan hebatnya Ronaldo. Masih jadi pusat perhatian media meskipun bermain di liga Arab di usianya yang sudah 38 tahun adalah bukti ia seorang superstar.

Roy Keane

Dari Paul Scholes sampai Frank Lampard, Liga Inggris punya banyak pilihan pemain tengah yang hebat. Tapi Jim Beglin memilih gelandang berjiwa preman, Roy Keane. Ia memang tidak dikaruniai bakat kreatif seperti Scholes, dan tidak mencetak gol sebanyak Lampard. Tapi kedua pemain itu tidak bisa mengontrol pertandingan layaknya Keane.

“Anda bisa percaya dan yakin, ketika Roy Keane bermain maka semuanya akan baik-baik saja.” Begitu kata Jim Beglin.

Steven Gerrard

Untuk menemani Roy Keane di lini tengah, Jim Beglin memasang Steven Gerrard. Ketika Gerrard bermain, Liverpool bukanlah Liverpool yang kuat seperti saat ini. Dan ia menggendong tim pincang itu di tiap musim sambil menciptakan standar yang tidak bisa disamai pemain lain.

Bahkan ketika Anfield kedatangan pemain internasional berbakat seperti Torres dan Suarez, Gerrard tetap menonjol. “Gerrard bisa mengubah permainan seketika dengan sihirnya. Dan para pemain Liverpool sangat beruntung bisa bermain dengannya” Ungkap Jim Beglin.

Ryan Giggs

Posisi sayap kanan diisi oleh Ryan Giggs. Giggsy paling dihormati karena segudang trofi yang dimenangkan dan juga umur panjangnya di United. Pemain asal Wales itu telah mengoleksi 36 trofi termasuk 13 trofi Liga Inggris dalam 22 tahun karirnya bersama setan merah. Tidak ada pemain manapun yang punya gelar liga Inggris lebih banyak darinya.

“Beberapa teman saya sering menonton MU di Old Trafford hanya untuk menyaksikan Ryan Giggs meledak di sisi kiri lapangan.” Kata Jim Beglin.

Thierry Henry

Untuk posisi penyerang, Jim Beglin tidak mau main-main. Ia memilih Thierry Henry sebagai bomber utamanya. Tidak mengherankan memang. Henry mungkin jadi penyerang paling mematikan tapi elegan yang pernah dimiliki Premier League. Henry bahkan jadi alasan Sir Alex sangat frustasi karena telah membuat Arsenal begitu kuat pada masanya.

“Saya pernah ditanya, bagaimana cara saya menghentikan Henry diatas lapangan. Dan saya menjawab, saya akan melakukan tekel kasar. Karena itu satu-satunya cara untuk menghentikan Henry” Ucap Jim.

Alan Shearer

Banyak orang setuju ia adalah pemain nomor 9 terbaik sepanjang masa Premier League. Dan karena itulah Jim Beglin memilihnya sebagai striker di skuad impiannya. Tidak ada yang mewah dan mencengangkan dari gaya bermain Shearer. Dia hanya fokus untuk mencetak gol-gol di setiap pertandingan. Ia adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League.

Itulah 11 pemain terbaik dengan formasi 4-4-2 versi Jim Beglin. Bagaimana formasi dan 11 pilihan pemain terbaik Premier League versi kamu?

Sumber referensi: Sportskeeda, 90min, B/R, B/R 2, 442, Sportsman, Independent, Joe, Iconic, BTL, 365

Kesalahan Putusan Pengadilan Awali Dominasi Inter Milan di Serie A

0

Skandal Calciopoli tahun 2006 memang jadi aib bagi sepakbola Italia. Meski Juventus yang dicap sebagai poros pusaran kasus ini, skandal yang bisa dibilang yang paling besar dalam sejarah persepakbolaan Italia itu bahkan melibatkan banyak klub. Bahkan AC Milan hingga Reggina dikabarkan juga terlibat dalam kasus ini.

Biar begitu, tampaknya kasus Calciopoli tak selamanya buruk bagi klub-klub Liga Italia. Sebut saja Inter Milan yang berhasil ngalap berkah dari skandal ini. Dengan degradasinya Juventus ke Serie B dan compang-campingnya manajemen AC Milan, Nerazzurri berhasil merajai Serie A di era pertengahan tahun 2000-an.

Kala itu, Inter Milan pernah mendominasi Serie A selama empat musim beruntun. Namun, yang menarik dibahas dari kejayaan Inter ini adalah prosesnya. Ya, kesalahan putusan pengadilan dalam perkara Calciopoli lah yang membuka gerbang kejayaan Inter di Serie A. Bagaimana bisa? Berikut kisahnya.

Puasa Gelar

Penggemar Serie A periode awal tahun 2000-an pasti ingat betul kalau Inter Milan bukanlah tim unggulan Italia saat itu. Tercatat, hingga meledaknya kasus Calciopoli yang didalangi Juventus, Inter Milan belum pernah juara sekali pun. Kala itu juara Liga Italia hanya berkutat antara Juventus dan AC Milan, rival-rival Inter. Sedangkan Si Ular Besar sudah lama tak menapaki tangga juara. Terakhir kali Inter mendapat scudetto tahun 1989.

Tak heran sebuah gelar juara Serie A sangat dirindukan oleh publik Giuseppe Meazza. Meski sejak bertahun-tahun sebelumnya Inter selalu dianugerahi materi pemain dan memiliki pelatih yang cukup mumpuni, namun gelar juara tetap hanya menjadi kenangan manis di masa lalu.

Bahkan menurut Presiden Palermo saat itu, Maurizio Zamparini penantian Inter tidak akan berujung manis selama sikap arogansi masih dipelihara para pemainnya termasuk sang pelatih. Menurutnya, meski Inter selalu berisikan pemain dan pelatih papan atas, itu justru menjadikan tim memiliki arogansi yang tinggi. 

Zamparani juga mengatakan mereka sombong karena berpikir kalau sebuah tim yang dipenuhi raja, otomatis mendapatkan mahkota. Mereka salah. Dan ucapan almarhum pun dirasa benar. Saat musim 2005/06 di mana Inter Milan mendapat gelar pun dianggap itu bukan hasil jerih payah mereka sendiri. Pasalnya, scudetto musim tersebut merupakan hibahan dari sang rival, La Vecchia Signora.

Sepakbola Italia Bergejolak

Tahun 2006 bukanlah tahun yang baik bagi sepakbola Italia. Meski tim nasional mereka berhasil merengkuh gelar juara dunia, sepakbola Italia tak bisa terhindar dari luka bernanah yang diciptakan oleh Juventus. Pada tahun tersebut, kasus Calciopoli atau dalam bahasa sederhananya merupakan kasus pengaturan skor yang sudah dilakukan investigasinya sejak musim 2004/05 mulai terkuak.

Menariknya, federasi sepakbola Italia menemukan kasus ini secara tidak sengaja. Dilansir 90min, awalnya jaksa melakukan pemantauan terhadap semua aktivitas panggilan yang dilakukan Juventus dengan maksud penyelidikan atas kasus doping. Namun, mereka justru mendengar salah satu tokoh klub sedang menekan pejabat wasit untuk berpihak pada klub tertentu.

Akhirnya federasi sepakbola Italia membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus tersebut. Hasil penyelidikan yang dipublish pada tahun 2006 cukup mencengangkan. Tim gabungan yang dibentuk oleh federasi menemukan setidaknya ada lebih dari 20 pertandingan yang hasil akhirnya sudah diatur melibatkan klub asal Turin tersebut.

Kasus Calciopoli pun mulai menjejali media-media internasional. Kejahatan memalukan itu sudah mencoreng nama baik Serie A yang kala itu dianggap sebagai liga sepakbola terbaik di Eropa. Dalam prosesnya, Bianconeri ternyata tak sendirian. Tercatat ada empat klub Italia lain yang terlibat.

Putusan Pengadilan yang Kontroversial

Menariknya, tak ada Inter Milan di daftar klub yang terlibat. Tiga klub besar lain yang dikabarkan terlibat adalah AC Milan, Lazio dan Fiorentina. Mereka bergabung dengan Juve untuk menerima sanksi. Meskipun semuanya terlibat, mereka menerima hukuman yang berbeda-beda. Barangkali yang paling berat adalah Juventus, karena mereka merupakan dalang dari kasus ini.

Meski La Vecchia Signora keluar sebagai juara Serie A musim 2005/06, mereka harus menerima hukuman terdegradasi ke Serie B dan pencabutan dua gelar Serie A pada 2004/05 dan 2005/06. Khusus gelar Serie A 2005/06 diserahkan ke Inter Milan yang berada di posisi ketiga. Hal ini dikarenakan AC Milan yang berada di peringkat kedua juga terkena skandal tersebut dan harus menerima hukuman pengurangan poin.

Namun, setelah putusan pengadilan yang menyatakan gelar Juventus musim 2005/06 jatuh ke tangan Inter, beberapa pihak mulai mempertanyakan keputusan tersebut. Salah satunya adalah Fabio Capello yang kala itu masih menukangi Juventus. 

Dilansir Sempre Inter, Capello merasa Inter tidak layak mendapatkan gelar tersebut. Ia merasa hakim yang bertugas menangani Calciopoli, Guido Rossi terlalu terburu-buru memutuskan. Jadi tak heran, jika saat itu ada isu yang beredar kalau sang hakim merupakan fans Inter yang sedang menghalalkan segala cara demi tim favoritnya itu mengakhiri puasa gelar.

Beberapa tahun kemudian, Carlo Porceddu, salah satu hakim yang juga ikut menangani kasus Calciopoli pun buka suara. Menurut Porceddu, mencabut scudetto musim 2005/06 dari Juventus dan malah memberikan ke Inter adalah kesalahan besar.

Porceddu juga menambahkan kalau pengadilan hanya berfokus pada kasus yang melibatkan direktur Juventus saat itu, Luciano Moggi. Jadi putusan membatasi Juventus hanya mendapat beberapa sanksi saja, bukan pencabutan gelar karena pengadilan tak menemukan bukti yang cukup untuk melakukan itu.

Inter Tukar Nasib dengan Juventus

Di saat nama baik sepakbola Italia hancur dan Si Nyonya Tua ambruk lantaran terjangkit kasus, Inter Milan justru melesat bagai roket. Juventus bak bertukar nasib dengan Inter Milan. Dari awalnya Juve yang mendominasi Serie A, kini Inter Milan yang merajai sepakbola Italia.

Selepas tahun-tahun yang kelam, sepakbola Italia era pertengahan tahun 2000-an serasa jadi milik Inter Milan. Terlebih musim 2006/07 berjalan lebih mudah dari biasanya. Karena para rival Inter macam AC Milan, Lazio, dan Fiorentina juga berstatus terhukum harus memulai liga dengan poin minus.

Di akhir musim, Julio Cesar dan kawan-kawan berhasil menjadi kampiun Serie A dengan mengumpulkan 97 poin, jauh di atas 75 poin milik AS Roma di peringkat kedua. Sementara Juventus merasa terhina lantaran harus melakoni laga demi laga di kasta kedua sebagai hukuman atas keterlibatannya di skandal yang memalukan itu.

Puncaknya Treble 2010

Situasi sulit yang dialami tim-tim Serie A lain dimanfaatkan oleh Inter asuhan Roberto Mancini. Dengan cerdiknya, Inter membajak pemain dari beberapa rivalnya termasuk Juventus dengan memboyong dua bintangnya, Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira untuk membuat tim semakin kokoh di puncak. 

Dahsyatnya Inter di Serie A terus berlanjut hingga tiga musim ke depan. Setelah meraih scudetto selama empat musim beruntun, puncaknya adalah musim 2009/10. Di bawah kendali Jose Mourinho, La Beneamata menjadi klub Italia pertama yang berhasil merengkuh tiga gelar sekaligus dalam satu musim. Hmmm, mungkin kalau Juventus nggak tersandung kasus Calciopoli, Inter baru buka puasa tahun 2021 kemarin ya…

Sumber: 90min 1,90min 2, Sempre Inter, BRfootball, BBC, Panditfootball

Ketika Levante Gagalkan Kisah Invincible Barcelona Musim 2017/18

0

Ernesto Valverde hampir saja tercatat di dalam buku sejarah. Pria yang dulunya sering diejek guru penjas saat melatih Barcelona itu, nyatanya cuma berjarak dua laga untuk bisa melahirkan sejarah baru.

Musim 2017/18 menjadi satu di antara sekian musim dahsyat yang dilakoni Barcelona. Klub Catalan itu memastikan diri kampiun di La Liga. Lalu, apa catatan hebat Valverde? Kalau cuma La Liga, Pep Guardiola saja bisa. Benar, itu memang catatan yang biasa saja.

Namun, Blaugrana pada musim itu sejatinya berpotensi menciptakan sejarah dengan menjadi tim pertama yang menjuarai La Liga dengan tanpa sekali pun. Apa itu bahasa kerennya, um…. Invincible. Tapi sayang, kisah invincible itu justru patah. Ironisnya, bukan di tangan Real Madrid, melainkan Levante.

Sudah Menahan Imbang Real Madrid

Kans untuk menyamai Real Madrid yang bisa memenangkan La Liga tanpa satu pun kalah pada 1931/32 terbuka sangat lebar. Barcelona asuhan Ernesto Valverde trengginas di La Liga musim 2017/18. Sampai empat laga terakhir sebelum melakoni partai El Clasico kedua di liga musim itu, Barca tak tersentuh satu pun kekalahan.

Blaugrana memasuki laga El Clasico dengan kepala tegak. Meski Los Galacticos juga melakukan hal yang sama. Ujian berat pun berhasil dilewati. Peluit panjang dibunyikan di tengah suasana memanas di Camp Nou. Skor 2-2 berakhir.

Real Madrid dan Barcelona tak ada satu pun yang menang. Tapi imbang saja lebih dari cukup membikin mental Barcelona tergugah. Apalagi Barca sudah memastikan gelar La Liga di pertandingan sebelumnya kontra Deportivo La Coruna. Jarak antara Los Cules dengan prestasi bersejarah menjadi hanya 270 menit saja.

Kesuksesan domestik juga sudah diraih. Barcelona mengalahkan Sevilla 5-0 untuk memastikan Copa del Rey berada dalam cengkeraman. Barcelona lalu berlari sendirian setelah memusnahkan Villarreal 5-1. Atletico Madrid dan Real Madrid tersingkir dari perburuan gelar.

Mentalitas Tak Tertembus

Namun, perjalanan mulus Barcelona di ranah domestik tak berbanding lurus di kompetisi Eropa. Blaugrana terkena comeback menyedihkan di perempat final Liga Champions dari AS Roma. Barca yang sudah menang di leg pertama 4-1, justru kalah 3-0 di leg kedua.

Kekalahan hina pada April 2018 sama sekali tak mempengaruhi mental Barcelona di kompetisi domestik. Sebab mentalitas Barcelona di Spanyol tak tertembus. Ernesto Valverde memastikan Barcelona menjalani La Liga dengan cara yang sangat Barca sekali.

Barca ingin menghindari kekecewaan para pendukungnya. Hal itu dibuktikan dengan mereka hanya kebobolan 24 gol dari 36 pertandingan La Liga. Menyisakan dua pertandingan liga. Barcelona bisa berjalan tegap karena di dua laga itu musuhnya sekadar Levante dan Real Sociedad. Barcelona siap mengakhiri La Liga musim itu dengan gaya.

Levante Melumat Barcelona

Sementara Barcelona dengan kepercayaan diri yang tinggi, Levante juga demikian. Meski sebetulnya hampir sepanjang musim itu Levante berada di titik nadir. Namun, penunjukkan Paco Lopez sebagai pelatih baru pada Bulan Maret mengubah segalanya.

Levante lepas dari kubangan degradasi. Selain itu, Levante juga memenangkan tujuh dari sembilan pertandingan sebelum menghadapi Barcelona. 13 Mei 2018, kedua tim akhirnya bertemu di Ciutat de Valencia, markasnya Levante.

Ernesto Valverde dengan gagah memandang laga itu tanpa harus menurunkan Lionel Messi. Soal kenapa La Pulga tak bermain sama sekali di laga itu, kita bahas nanti. Selain Messi, Luis Suarez juga tak diturunkan sejak menit awal.

Di sisi lain, Paco Lopez menurunkan pemain terbaiknya. Ya kali melawan Barca mau mainkan pelapis? Jose Campana, Enis Bardhi, Emmanuel Boateng, sampai Sasa Lukic turun sebagai line up.

Ditambah Paco Lopez merupakan pelatih yang berorientasi menyerang. Benar saja. Sembilan menit laga berjalan, Emmanuel Boateng sudah membobol gawang Ter Stegen.

Gol tersebut ternyata adalah gol pembuka dari sekian gol yang digelontorkan Levante ke gawang Barca. Siapa menyangka, klub berjuluk Les Granotes itu membombardir gawang Barcelona. Hingga menit ke-56, kiper berpaspor Jerman itu tak bisa mencegah bola masuk ke gawangnya.

Anak asuh Paco Lopez memimpin 5-1. Satu-satunya gol yang dibuat Barcelona adalah melalui Philippe Coutinho. Itu adalah pertama kalinya Barcelona kemasukan banyak gol dalam satu laga di La Liga. Dan Levante menjadi satu-satunya tim yang bisa melakukannya.

Batal Dibantai

Lima gol dari hattrick Emmanuel Boateng dan sepasang gol Enis Bardhi sudah cukup menenggelamkan Barcelona. Tapi Blaugrana mencoba bangkit. Paco Lopez merotasi pemainnya. Valverde membaca langkah itu dan mencoba mengambil kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Coutinho pun melengkapi golnya menjadi tiga. Lalu 19 menit jelang laga usai, Luis Suarez yang akhirnya dimasukkan, berhasil mencetak gol lewat titik putih. Barca nggak jadi dibantai. Tapi tetap saja kalah 5-4.

Hasil minor itu sekaligus menggagalkan Barcelona memenangi La Liga musim itu dengan tanpa kekalahan. Sebab di laga terakhir melawan Real Sociedad, Barcelona berhasil menang 1-0. Ketidakberhasilan Barcelona mengukir kisah invincible itu disinyalir karena sang pelatih, Ernesto Valverde tidak tepat dalam memilih prioritas.

Barcelona Setuju Menjalani Laga Persahabatan di Afrika Selatan

Sebelum laga kontra Levante, Barcelona sudah menyetujui untuk ambil bagian di ajang persahabatan Mandela Centenary Cup. Ajang ini dihelat untuk memperingati Nelson Mandela yang seharusnya pada saat itu sudah berusia 100 tahun.

Barcelona akan bertandang ke Afrika Selatan. Timnya Ernesto Valverde bakal berhadapan dengan juara Liga Afrika Selatan, Memelodi Sundowns. Laga akan digelar pada 16 Mei 2018 di FNB Stadium di Johannesburg, Afrika Selatan. Nah, Lionel Messi yang bisa menjadi daya tarik global akan turun di laga itu.

Ada semacam kesepakatan bahwa Lionel Messi harus tampil di laga tersebut. Alhasil La Pulga pun diistirahatkan saat Barcelona harus menghadapi Levante. Namun, keputusan untuk tidak memainkan Messi sangat fatal.

Sebab kehadiran Messi sering memberi warna baru ketika tim Valverde buntu. Misalnya, pada laga melawan Sevilla 31 Maret 2018 di La Liga. Sevilla bisa memenangkan laga itu karena unggul 2-0. Tapi ketika Messi masuk pada 30 menit jelang laga berakhir, kemenangan Sevilla di depan mata sirna.

Meski begitu, Valverde yang kesal timnya kalah atas Levante tidak menyalahkan ketidakberadaan Messi di laga tersebut. Menurutnya, Barcelona biasanya bisa melewati laga tanpa peraih Ballon d’Or tersebut. Tapi apa boleh buat, laga melawan Levante menjadi antiklimaks.

Kekalahan itu selain bikin kisah invincible Barcelona hanya angan, juga memutus rekor 43 pertandingan tak terkalahkan Blaugrana. Fyi aja nih, sebelum dikalahkan Levante, kekalahan terakhir Barcelona terjadi saat menghadapi Malaga pada 8 April 2017.

https://youtu.be/RzX26XX6J-U

Sumber: TheseFootballTimes, BR, Goal, BarcaBlaugranes, DreamTeamFC, TheNationalNews, ESPN

Berjudi dengan Pemain Muda, Southampton Terancam Degradasi

0

Harus diakui lagi kalau Premier League adalah liga paling makmur sejagad. Oleh karena itu, setiap kontestan rela menginvestasikan banyak uang untuk bisa bertahan di kasta teratas.

Namun, tidak ada jaminan tim yang telah menggelontorkan banyak uangnya di lantai bursa akan lolos dari jeratan degradasi. Situasi menggenaskan itulah yang kini tengah dihadapi oleh Southampton.

Mengenal Sport Republic, Pemilik Baru Southampton

Tidak banyak yang menyadari kalau musim lalu ada dua klub yang berganti kepemilikan. Nama pertama sudah pasti Newcastle United yang begitu menyita perhatian. Tiga bulan setelah Newcastle diambil alih konsorsium Arab Saudi, giliran Southampton yang berganti kepemilikan.

Setelah dikuasai oleh pengusaha asal Cina, Gao Jisheng sejak musim panas 2017, kepemilikan Southampton kembali berpindah pada awal Januari 2022. Adalah Dragan Šolak, miliarder asal Serbia yang kini jadi pemilik baru The Saints.

Melalui perusahaan investasi olahraga dan hiburan bernama Sport Republic yang dibentuk pada 2021 lalu oleh Henrik Kraft dan Rasmus Ankersen, Šolak membeli 80% saham Southampton yang dimiliki Gao Jisheng seharga £100 juta.

Pergantian pemilik ini menandai sebuah era baru di St Mary’s Stadium. Setelah diselamatkan dari kebangkrutan oleh Markus Liebherr pada 2009 silam, The Saints kemudian mengalami penurunan prestasi dan menjadi akrab dengan papan bawah sejak dikuasai oleh Gao Jisheng yang dianggap pelit oleh fans.

Oleh karena itu, kedatangan Sport Republic disambut dengan optimisme. Apalagi, investor utama Sport Republic, Dragan Šolak, pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Serbia. Sementara itu, Rasmus Ankersen yang bertindak sebagai CEO Sport Republic adalah mantan direktur olahraga sekaligus salah satu dalang di balik promosinya Brentford ke Premier League dengan metode moneyball-nya yang terkenal.

Sport Republic sendiri merupakan pemain baru dalam dunia Multi-Club Ownership. Setelah memiliki Southampton, mereka mengakuisisi 70% saham klub divisi 2 Liga Turki, Goztepe. Mungkin, karena masih baru dan membagi konsentrasinya di dua tim, Sport Republic jadi kurang maksimal dalam mengelola Southampton.

Dua Pelatih Dipecat Setelah Southampton Berjudi dengan Pemain Muda di Bursa Transfer

Langkah pertama Sport Republic adalah mempertahankan manajer Ralph Hasenhüttl. Di sisi lain, mereka justru memecat 3 asisten pelatih tim utama, yakni Dave Watson, Kelvin Davis, dan Craig Fleming. Ketiga merupakan asisten yang sudah lama bekerja di St Mary’s.

Langkah ini mendapat kritik, sebab di akhir musim lalu, Southampton hanya meraih 1 kemenangan dan menelan 10 kekalahan dalam 13 pertandingan terakhir yang membuat mereka finish di urutan ke-15.

Setelah mempertahankan Ralph Hasenhüttl, Sport Republic kemudian menggelontorkan dana yang cukup lumayan di lantai bursa transfer pemain. Sebanyak 15 pemain anyar didatangkan dengan dana £127 juta yang dibelanjakan di dua bursa transfer pemain. Dana sebesar itu menjadi rekor pengeluaran terbanyak Southampton untuk belanja pemain baru.

Namun, Southampton membuat perjudian besar. Pasalnya, para pemain anyar yang datang ke St Mary’s Stadium rata-rata baru berusia 22,5 tahun.

Seperti 3 pemain yang didatangkan dari Manchester City U21. Saat direkrut, Gavin Bazunu masih berusia 20 tahun, sedangkan Samuel Edozie dan Romeo Lavia masih berusia 19 tahun dan 18 tahun.

Sementara itu, rekrutan termahal Southampton, Kamaldeen Sulemana masih berusia 20 tahun saat pertama kali datang ke St Mary’s Stadium. Begitu juga dengan Carlos Alcaraz yang juga masih berusia 20 tahun. Langkah tersebut juga diikuti dengan penjualan pemain senior semacam Fraser Forster, Shane Long, Nathan Redmond, dan Oriol Romeu.

Tak ayal, perombakan skuad tersebut membuat Southampton kini tercatat memiliki skuad paling muda di Premier League. Takada yang salah berjudi dengan pemain muda. Toh, sudah banyak contoh yang berhasil menuai prestasi dengan cara tersebut dan salah satunya adalah Arsenal.

Dengan rataan usia 24,3 tahun, skuad Southampton memiliki rataan usia yang sama dengan Arsenal. Namun, hasilnya bagai bumi dan langit. Arsenal jadi pimpinan klasemen, sementara Southampton jadi juru kunci.

Dalam 14 pertandingan pertama musim ini, Southampton hanya meraih 12 poin. Hasil itu kemudian membuat manajer Ralph Hasenhüttl dipecat.

Oleh para penggemar, pemecatan tersebut dianggap terlambat dua musim. Di bawah asuhan manajer asal Austria itu, Southampton pernah mencatat kekalahan terburuk sepanjang sejarah ketika dibantai 9-0 oleh Leicester City dan Manchester United.

Sempat ditangani asisten Ruben Selles selama 1 pertandingan, Southampton kemudian merekrut Nathan Jones dari Luton Town sebagai suksesor Ralph Hasenhüttl. Musim lalu, Nathan Jones dinobatkan sebagai manajer terbaik Championship.

Namun, prestasi itu takada artinya di hadapan ketatnya Premier League. Pertaruhan Southampton dengan merekrut Nathan Jones yang tak punya pengalaman melatih di kasta teratas berakhir menjadi bumerang.

Setelah kalah 2-1 dari Wolverhampton pada 12 Februari lalu, Jones meninggalkan klub dengan hanya meraih 1 kemenangan liga dalam 8 pertandingan yang membuat Southampton terjun ke dasar klasemen. Pemecatan tersebut membuat Nathan Jones hanya bertahan selama 94 hari di St Mary’s. Ia adalah manajer dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah klub.

Setelah Nathan Jones, terbitlah Rubén Sellés, asisten pelatih yang kembali naik pangkat menjadi caretaker. Pertandingan pertamanya di Liga Inggris ditandai dengan kemenangan mengejutkan 1-0 di kandang Chelsea. Sepertinya, berkat kemenangan tersebut, Sellés kemudian dipermanenkan sebagai manajer Southampton hingga akhir musim 2022/2023.

Pelatih berusia 39 tahun itu sebenarnya punya CV yang bagus. Sellés memiliki gelar Master di bidang Olahraga & Fisiologi dari University of Valencia, dan lulus dari program Lisensi Pro UEFA pada usia 25 tahun. Sebelum bekerja di Southampton, ia memiliki pengalaman melatih di Yunani, Rusia, Azerbaijan, Denmark, dan Spanyol.

Namun, seperti halnya Nathan Jones, Rubén Sellés mewarisi skuad muda Southampton yang kurang pengalaman. Inkonsistensi jadi momoknya. Setelah menundukkan Chelsea, The Saints takluk 1-0 atas Leeds United, kemudian menang 1-0 atas Leciseter City, lalu imbang 0-0 melawan Manchester United, dan terbaru takluk 2-0 di kandang atas Brentford.

Rangkaian hasil tadi membuat Southampton tak beranjak dari dasar klasemen. The Saints baru mengumpulkan 22 poin dari 27 pertandingan.

Southampton Diprediksi Bakal Terdegradasi

Semua kekacauan ini tentu muaranya adalah perjudian yang Southampton lakukan di bursa transfer pemain. Sekali lagi, takada salahnya berjudi dengan pemain muda. Sayangnya, para youngster yang didatangkan membuat skuad The Saints terlihat rapuh. Pada pertengahan September lalu, Ralph Hasenhüttl bahkan pernah menggambarkan timnya sebagai tim yang “mengerikan untuk ditonton”.

Meski kontroversial, tetapi pernyataan tersebut tak sepenuhnya salah. Pasalnya, kini sebagian besar pemain yang menghuni skuad bisa dibilang belum berpengalaman mentas di liga dengan tingkat persaingan tinggi seperti Premier League.

Disinilah letak perbedaannya mereka dengan skuad Arsenal yang sama-sama muda. Meski masih muda, para pemain yang didatangkan Arsenal sudah memiliki pengalaman, sementara para pemain anyar yang didatangkan Southampton bisa dibilang merupakan bakat mentah yang butuh waktu untuk adaptasi.

Namun, para pemain muda Southampton sebenarnya tak seburuk itu. Seperti Armel Bella-Kotchap yang tahun lalu menembus skuad Jerman di Piala Dunia 2022. Lalu ada Gavin Bazunu. Meski sudah kebobolan 43 gol, kiper muda yang menggeser Alex McCarthy dan Willy Caballero ini mendapat pujian atas 4 clean sheets yang ia catat.

Ada juga Carlos Alcaraz, gelandang anyar yang baru datang bulan Januari lalu. Baru 7 kali tampil, ia sudah menyumbang 2 gol. Begitu juga dengan Romeo Lavia, gelandan bertahan 19 tahun yang tampil reguler mendampingi James Ward-Prowse.

Namun, sekali lagi, para pemain muda ini masih butuh waktu untuk mekar dan akan serasa percuma jika hanya mereka yang berkembang. Pasalnya, saat ini Southampton juga tengah kekurangan pemain berkualitas. Hanya kapten James Ward-Prowse saja yang bisa diandalkan. Gelandang tengah berusia 28 tahun itu jadi top skor The Saints dengan torehan 6 gol, dimana 3 gol di antaranya ia buat lewat sepakan bebas.

Kondisi tersebut diperparah dengan fakta mandulnya lini depan Southampton. Che Adams baru mencetak 4 gol, sedangkan Adam Armstrong baru mencetak 1 gol. Sementara Sekou Mara yang direkrut pada musim panas lalu belum menyumbang satu gol pun.

Masalah tersebut sudah coba ditangani dengan mendatangkan Kameldeen Sulemana, Paul Onuachu, dan Mislav Orsic pada bursa transfer musim dingin. Namun, ketiga penyerang tersebut juga belum memberi kontribusi. Dengan torehan 20 gol dalam 27 pertandingan, Southampton adalah tim dengan jumlah gol paling sedikit di Premier League musim ini.

Menilik dari usia para pemain Southampton musim ini, Sport Republic bisa dibilang tengah menjalankan proyek jangka panjang. Namun, proyek ini tak ada artinya jika pada akhirnya Southampton terdegradasi dari Liga Primer Inggris.

Sang pemilik baru juga melupakan satu hal penting. Premier League adalah liga yang kejam. Siapa yang gagal nyetel dalam waktu singkat harus siap menerima konsekuensi terburuk.

Kini, perjudian Southampton yang membuang pemain senior dan merekrut pemain-pemain muda kurang pengalaman telah berbuah menjadi bumerang yang mengancam eksistensi mereka di Premier League. Setelah bekali-kali lolos dari jeratan degradasi secara ajaib, ancaman turun kasta kini terlihat begitu nyata bagi Southampton.

Dengan persentase sebesar 69,1%, super komputer milik Opta bahkan menempatkan Southampton sebagai tim pertama yang bakal terdegradasi dari Premier League musim ini. Lalu, apakah prediksi tersebut akan terbukti? Jika Southampton tak segera berbenah, prediksi tersebut mungkin bakal segera terbukti dalam waktu dekat.


https://youtu.be/iGScHtoDV8k

Referensi: DailyEcho, SkySports, The Guardian, SkySports, The Analyst, Transfermarkt.