Beranda blog Halaman 379

“Tidak Punya Mental Juara!” Ungkap Bobroknya Spurs, Conte Out! Siapa Penggantinya?

Antonio Conte sudah muak dengan para pemain Tottenham. Ini terlihat setelah timnya hanya bisa meraih hasil imbang lawan tim papan bawah, Southampton. Di konferensi pers setelah laga, Conte ngamuk di depan media. Ia membeberkan segala macam kebobrokan yang terjadi di tim London itu.

Sayangnya ini tidak disambut baik oleh pihak klub. Mereka tidak suka dengan Conte yang mengkritik keras Spurs di depan awak media. Dikabarkan juga ada beberapa pemain yang bahkan meminta untuk Conte langsung dipecat. Oleh karena itu, dilansir dari the telegraph Tottenham diharapkan menyetujui kepergian Antonio Conte minggu ini. Conte juga sudah pulang ke Italia setelah insiden itu. Bagaimana kronologi kejadiannya?

Imbang Lawan Soton

Pada hari Sabtu kemarin, Tottenham berkunjung ke St. Mary’s Stadium untuk menghadapi Southampton pada lanjutan laga Premier League. the Lilywhites sebenarnya tampil apik di sebagian besar waktu pertandingan. Anak asuh Antonio Conte bisa unggul 3-1 sampai menit 74.

Tapi para punggawa Tottenham malah tampil jelek setelah itu. Mereka seperti menyerah di 16 menit terakhir pertandingan. Hingga akhirnya mereka pun kebobolan 2 gol tambahan dari tim tuan rumah. Laga pun berakhir dengan skor imbang 3-3.

Hal inilah yang membuat Conte naik pitam. Ia merasa timnya tidak punya semangat untuk menang. Pelatih asal Italia itu merasa kemenangan besar di depan mata ini telah disia-siakan begitu saja.

Di konferensi pers setelah laga, Conte meluapkan segala unek-uneknya kepada media. Ia menganggap ada yang salah dengan Tottenham selama ini. Dan baginya, yang salah adalah klub itu sendiri karena sudah bertahun-tahun tidak memenangkan trofi apapun.

Conte Ngamuk

“Cerita Tottenham itu seperti ini. 20 tahun dengan pemilik yang sama tapi tidak pernah memenangkan trofi bergengsi. Kenapa? Yang salah adalah klub itu sendiri, atau para manajer yang tinggal disini. Saya telah mengamati manajer-manajer Tottenham sebelumnya” Ungkapnya dikutip dari the Telegraph.

Para pemain Tottenham juga tidak luput dari kritikan Conte. Ia menganggap kalau para pemainnya itu terlalu egois. Conte melihat pemain tottenham tidak mau bermain di bawah tekanan dan selalu cari aman.

“Sampai sekarang saya selalu berusaha menutupi situasinya tapi sekarang, tidak. Yang saya lihat adalah para pemain bermain egois. Saya melihat pemain yang tidak mau saling membantu satu sama lain. Mereka tidak mau bermain di bawah tekanan.”

Bagi Conte situasi ini tidak bisa diterima. Ia mengaku kalau dirinya baru melihat yang seperti ini selama karir kepelatihannya. Para pemain selalu memilih bermain aman, egois, dan klub yang tidak punya ambisi untuk juara sudah seperti jadi tradisi di Spurs.

“Ini adalah pertama kalinya saya melihat situasi seperti ini dan ini tidak bisa diubah. Mengapa? Ya karena mereka sudah terbiasa. Mereka tidak bermain untuk sesuatu yang penting” Ucap Conte dikutip dari sporting news.

Para Pemain Meminta Conte Dipecat

Kemudian, apa tanggapan dari para pemain setelah mendengar amukan itu? Dilansir dari mirror, beberapa pemain meminta CEO Daniel Levy secara langsung untuk memecat Conte. Dan dikabarkan ini akan segera ditindaklanjuti oleh Levy sendiri.

Conte memiliki kontrak senilai 15 juta pounds sampai pada bulan juni mendatang. Tapi Levy punya hak untuk mencabut kontraknya sekarang dan mengangkat pelatih sementara sampai musim ini berakhir. Saat ini Tottenham berada di urutan keempat dengan unggul dua poin dari Newcastle, yang masih punya dua pertandingan tersisa. Masih ada 10 laga lagi sampai Premier League musim ini berakhir di bulan Mei.

Saat ini Conte masih berada di kampung halamannya, Italia. Diperkirakan ia tidak akan kembali ke London selama jeda Internasional berlangsung. Istirahat ini memberikan Levy dan jajaran klub lebih banyak waktu untuk memikirkan masa depan Conte di klub.

Conte sebenarnya sudah berbicara kepada Levy setelah insiden itu terjadi. Pelatih itu mengatakan kalau ia tidak bermaksud untuk menyinggung para petinggi klub. Ia mengatakan kalau kritiknya itu murni ditujukan kepada para pemain yang tidak punya mentalitas juara.

Meskipun begitu, Conte tidak mau menarik kritiknya itu. Ia berpendapat kalau kritik yang ia lontarkan semuanya adalah benar. Ini yang membuat masa depan Conte di Tottenham bakal suram. Sangat diragukan Conte akan tetap jadi pelatih di Tottenham bulan April mendatang.

Dilansir dari the telegraph skenario yang paling mungkin terjadi adalah Antonio Conte akan dipecat sebelum Premier League kembali dari jeda internasional. Posisinya nanti digantikan oleh Ryan Mason sebagai pelatih sementara. Mason adalah mantan pemain Spurs dan pernah jadi pelatih interim di tahun 2021.

Siapa yang Cocok Gantikan Conte?

Sementara itu, Daniel Levy akan mencari pengganti permanen untuk Conte. Beruntung bagi Tottenham, ada banyak pelatih jempolan yang masih menganggur musim ini. Diantaranya ada Luis Enrique, Thomas Tuchel, dan Mauricio Pochettino. Tapi selain Pochettino, meyakinkan mereka untuk melatih Spurs akan jadi sesuatu yang sulit.

Pelatih Eintracht Frankfurt, Oliver Galsner jadi salah satu nama kejutan yang muncul. Tapi ia dipandang sebagai pelatih yang tepat, mengingat dirinya membawa tim jerman itu juara Europa League musim 2021/22.

Vincent Kompany yang saat ini tampil gemilang memimpin Burnley juga jadi nama yang dikaitkan. Selain Kompany, ada pelatih Fulham Marco Silva. Ia dipuji karena telah membawa tim yang baru promosi bisa bersaing di papan atas Premier League.

Nama-nama pelatih itu memang punya keunggulan dan daya tariknya masing-masing. Tapi pertanyaan utamanya adalah, apa yang diinginkan Tottenham? Karena jika benar kata Conte soal tim yang tidak punya mental juara, maka pelatih sekelas apapun tidak akan bisa menyelamatkan the lilywhite dari cap tim medioker.

Bayangkan, Conte adalah pelatih ternama yang punya julukan serial winner. Artinya dimanapun Conte melatih, maka timnya akan jaminan dapat trofi. Sebelum Conte, Spurs juga pernah merekrut Jose Mourinho. Sama seperti Conte, the special one juga punya jaminan kalau tim yang ia pimpin akan dapat trofi bergengsi.

Tapi apa yang terjadi pada mereka berdua di Spurs? Hanya kegagalan dan catatan buruk. Mourinho sendiri sebelumnya sudah membawa Spurs ke final Piala Liga di tahun 2021. Tapi ia malah dipecat sebelum final. Hasilnya Spurs kalah lawan City, padahal itu bisa jadi trofi pertama Spurs sejak 2008.

Jika mengingat hal itu, kritikan Conte masuk akal. Spurs tidak ada niatan untuk meraih trofi. Dan itu membuat para pemainnya tidak memiliki mentalitas juara. Kalau situasinya sudah seperti ini, siapa pelatih yang cocok untuk Spurs?

Sumber referensi: Sporting, Telegraph, Telegraph 2, Goal, Football.London, Mirror

Dilema Xavi di Barcelona, Antara Identitas Klub dan Tuntutan Trofi

Kebangkitan Barcelona di La Liga musim ini tak lepas dari tangan dingin Xavi Hernandez. Seorang mantan pemain Barca di era kejayaan tiki-taka. Kedatangan Xavi ke Barca dianggap sebuah kerinduan akan sepakbola indah seperti apa yang pernah ia mainkan.

Pasalnya, sepeninggal Pep Guardiola, Barcelona sudah jauh melenceng dari apa yang menjadi identitas mereka. Namun Xavi kini mengalami dilema. Saat ia datang dan dituntut sebuah kerinduan akan sepakbola indah, ia dihadapkan pada carut-marut keadaan Barcelona.

Identitas Barcelona Sebagai Sebuah Klub

Lantas apa sih yang dirindukan fans terhadap identitas Barcelona? Terkadang semboyan Mes Que Un Club yang sering diplesetkan menjadi “Miskin Klub” itu, sedikit ada benarnya. Karena kita tahu Barca kini sedang tidak baik-baik saja secara finansial.

Namun sejatinya semboyan itulah yang menjadi nilai luhur Barcelona. Pada tahun 1908, Joan Gamper mewanti-wanti semboyan itu sebagai modal dari sebuah perlawanan masyarakat Catalan atas pemerintahan kerajaan Spanyol.

Lebih dari sebuah klub, artinya Barca memiliki identitas yang berbeda dari klub-klub Spanyol pada umumnya. Baik dari segi kebijakan maupun permainan. Dari segi kebijakan misalnya pelarangan logo sponsor di jersey klub.

Dari segi permainan, Barca dikenal sebagai klub yang punya naluri sepakbola menyerang sedari dulu didirikan. Kepercayaan dengan para bibit akademi muda lokal mereka yang asli Catalan, juga menjadi identitas yang melekat sejak klub ini didirikan.

Namun apa boleh buat, seiring perkembangan zaman satu per satu makna dari semboyan tersebut sudah dikhianati sendiri oleh klub. Terutama pasca Sandro Rosell dan Bartomeu naik ke pucuk pimpinan Barca.

Kedatangan Xavi

Sudah lama publik catalan menunggu arti dari semboyan itu mampu hadir kembali di era modern seperti sekarang. Paling tidak ada hal-hal kecil yang mengindikasikan bahwa tak sepenuhnya identitas Mes Que Un Club itu sepenuhnya hilang.

Ya, kedatangan Xavi sebagai pelatih yang notabene mengerti identitas klub ini sangat diharapkan dari sebagian fans. Paling tidak, ada gelagat untuk mengembalikan identitas itu. Karena sejatinya Xavi merupakan representasi orang asli Catalan, mantan La Masia dan pelaku tiki-taka.

Transisi dan Tuntutan Kebangkitan

Xavi datang ke Barca pada November 2022 menggantikan Ronald Koeman. Xavi harusnya tahu apa yang bisa ia lakukan di Barca. Pasalnya keadaan Barca sedang tak karuan saat itu.

Di bawah Koeman, Barca performanya amburadul dan tercecer di peringkat 9 La Liga. Xavi pun tahu ia tak lagi memiliki sebuah robot yang bernama Lionel Messi yang bisa mengubah keadaan setiap saat.

Masa awal Xavi di Barca tak semudah yang dibayangkan bisa menyulap tim ini ke identitas Barca sesungguhnya. Namun yang tak diduga, dari masa transisi yang tak karuan itu, Xavi perlahan mampu meraih hasil positif.

Dengan penambahan pemain di bursa transfer Januari 2023, Barcelona mulai meningkat performanya. Formasi khas 4-3-3 dengan rotasi lini penyerangan yang melimpah, membuat Xavi sempat 15 kali tak terkalahkan di La Liga. Sampai akhirnya ia mampu mendongkrak posisi Barca finish di peringkat dua La Liga.

Masalah Finansial dan Tuntutan Trofi

Namun, torehan itu tak luput dari tagihan sebagian publik Catalan yang menuntut identitas Barcelona lebih ditonjolkan lagi. Seperti halnya penonjolan para pemain La Masia, gaya permainan yang menyerang, penguasaan bola, bermain indah, dan meraih berbagai trofi.

Pasalnya Xavi mencapai itu semua dengan menghiraukan identitas Barca. Xavi lebih pragmatis berorientasi pada hasil akhir. Alih-alih bermain indah dari kaki ke kaki, Xavi lebih mengedepankan Direct Ball dengan beberapa kali Crossing dan umpan lambung. Beberapa kemenangan dengan hasil tipis pun sering diraihnya yakni sebanyak 8 kali.

Namun apa mau dikata, itu hanya paruh musim. Dan itu pun masih dalam masa transisi bagaimana Xavi meraba kekuatan yang akan dibangunnya ke depan. Nah, kini sampailah pada musim penuhnya di 2022/23.

Apesnya, Xavi kembali dirundung masalah. Lebih tepatnya masalah finansial klub. Barca sempat tak bisa mendaftarkan pemain di saat pembukuan gaji mereka belum dipenuhi. Barca pun dibela-belain ngutang sana-sini demi mendapatkan pemain yang Xavi inginkan.

Beberapa pemain yang diinginkan itupun akhirnya kesampaian hadir di Camp Nou. Namun yang perlu dicatat, Xavi seperti ketiban beban yang amat besar setelah itu. Ia dituntut dengan skuad melimpah ini, bisa membawa Barca meraih banyak trofi guna menutupi keuangan mereka yang sedang bermasalah.

La Liga, Pragmatis Ala Xavi Ball

Sadar diri akan posisinya itu, Xavi tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengubah gaya permainan menjadi semakin lebih pragmatis ala Xavi Ball. Ia menggunakan sistem double pivot dan lebih memprioritaskan keamanan lini belakang mereka.

Hal ini justru jelas-jelas mengkhianati identitas Barca yang banyak diharapkan muncul darinya.
Bagaimana tidak, permainan Barcelona di La Liga musim ini lebih bertahan dengan mengamankan keunggulan. Hal itu terbukti dengan total kebobolan mereka yang paling sedikit di Eropa dengan 9 gol sementara ini.

Total gol mereka di La Liga sementara hanya 49 gol. Jauh dari capaian gol para pemuncak liga-liga top lainnya. Dengan Real Madrid yang berada di peringkat kedua saja, gol mereka kalah. Namun, justru dengan gaya seperti itu, Barca diantarkannya sementara memimpin klasemen La Liga dengan jarak 12 poin.

Apakah itu hasil yang memuaskan banyak publik Catalan? Tentu tak semuanya. Ada pula yang masih menagih janji Xavi mengembalikan identitas permainan Barca sesungguhnya. Mereka menganggap Xavi harusnya bisa melakukannya karena sudah dialokasikan dana melimpah untuk pemain yang diinginkannya.

Dalam benak Xavi tentu ia mau anak asuhnya bermain seperti apa yang pernah ia mainkan dulu. Tapi ia sadar bahwa masalah urgensi untuk mendapatkan hasil atau trofi lebih didahulukan. Terbukti Xavi dengan gayanya ini telah menggondol satu trofi yakni Supercopa Espana.

Di Eropa Tak Berkutik

Lantas, apakah dengan gaya itu Xavi mampu membawa Barca lebih baik juga di level Eropa? Faktanya El Barca tak bisa berkutik. Xavi gagal meloloskan Barca dua kali di fase grup Liga Champions.

Xavi tak mengerti caranya mengembalikan mental Eropa Barca. Publik Catalan yang kontra dengan gaya permainannya, sontak mengecam keras Xavi. Xavi bahkan dianggap gagal ketika ia dengan skuad kedalaman yang melimpah harus gagal di kompetisi Eropa.

Xavi juga dikatakan mengkhianati sebuah kerinduan yang dimandatkan padanya sejak ia datang. Tapi di sisi lain, dengan apa yang dilakukan Xavi sekarang, banyak juga yang menikmatinya. Bagaimanapun kini Barca perlahan mampu dimodifikasi dengan gaya baru ala Xavi sembari menunggu beberapa trofi yang akan digondol.

Sumber Referensi : everthingbarca, theanalyst, coachesvoice, sportskeeda, footballespana

Kejeniusan Xabi Alonso Selamatkan Bayer Leverkusen dari Degradasi

0

Bayer Leverkusen memberikan kekalahan ketiga bagi Bayern Munchen di kompetisi Bundesliga musim ini. Kekalahan dari Leverkusen membuat The Bavarian mulai panik karena posisinya di puncak tergeser oleh Borussia Dortmund. Menariknya, aktor di balik kepanikan itu adalah mantan pemainnya sendiri, Xabi Alonso yang kini melatih Leverkusen.

Alonso mengaku senang bisa menaklukan mantan klubnya itu. Perlu kita ketahui, sebelum ditunjuk sebagai pelatih Leverkusen, Bayern Munchen merupakan klub profesional terakhir Alonso sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu. Bermain di BayArena, Leverkusen berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Bayern.

Sebelum mengalahkan Bayern Munchen, Alonso membawa skuadnya mengamankan satu tiket di babak delapan besar Europa League. Pencapaiannya ini langsung menarik perhatian publik sepakbola. Apabila membicarakan kemampuannya saat masih merumput tentu sudah tak bisa diragukan lagi. Namun, sehebat apa Xabi Alonso saat melatih?

Minim Pengalaman Tapi Banyak Belajar

Setelah pensiun dari karir sepakbolanya yang gemilang pada tahun 2017, Xabi Alonso belum mau berpisah dari dunia yang membesarkan namanya itu. Gelandang asal Spanyol langsung dipasrahi menjadi pelatih Real Madrid U-14 persis setahun sejak memutuskan pensiun.

Beberapa rekan senegaranya pun yakin kalau Xabi berbakat dalam melatih. Apalagi saat masih bermain ia dikenal sebagai gelandang yang mau mengambil sari-sari ilmu manajerial dari pelatihnya terdahulu. Sebut saja macam Rafael Benitez, Jose Mourinho, hingga Pep Guardiola. Xabi telah belajar dari yang terbaik di dunia. 

Mantan punggawa Liverpool itu dianggap sebagai pelatih muda potensial kala menukangi skuad muda Real Madrid. Setelah setahun melatih akademi El Real, Xabi ditunjuk untuk menakhodai skuad cadangan Real Sociedad pada tahun 2019. Meski tak pernah dipercaya untuk memegang tim utama Sociedad, Xabi tetap menikmati setiap prosesnya.

Setelah mendapat banyak ilmu secara teori saat masih bermain, ia mulai mempraktekkannya di Real Sociedad B. Ia dengan cepat memahami bagaimana cara melatih dan bagaimana membentuk pola permainan klub. Ia juga tampak nyaman bekerja dengan pemain-pemain muda di Sociedad B. 

Baru musim kedua, kinerjanya sudah menuai hasil. Mantan punggawa Real Madrid itu membantu Sociedad B meraih tiket promosi ke Divisi Segunda melalui playoff. Dan kiprahnya di Sociedad B lah yang menarik perhatian klub-klub besar termasuk Bayer Leverkusen untuk merekrutnya.

Penunjukan Xabi Sebagai pelatih Leverkusen

Meski banyak yang mendekati Xabi Alonso, Bayer Leverkusen dirasa jadi yang paling serius untuk mendapatkannya. Bagaimana tidak? Kondisi tim saat itu benar-benar bak kapal pecah. Buruknya performa Bayer Leverkusen asuhan Gerardo Seoane sudah terlihat sejak awal musim. Padahal musim lalu klub ini merupakan pesaing ketat Bayern Munchen dan Borussia Dortmund di papan atas klasemen Bundesliga.

Leverkusen yang sudah lelah bersabar akhirnya memecat Seoane dan menggantikannya dengan Xabi Alonso. Direktur Olahraga Bayer Leverkusen, Simon Rolfes berterima kasih atas dedikasi Seoane terhadap klub di musim lalu. Namun, keputusan ini diambil karena kini klub tersesat dari jalan kesuksesan.

Xabi Alonso ditunjuk karena klub percaya akan kemampuannya, terutama ketika menjadi pemain. Simon Rolfes mengatakan, dengan kehadiran Xabi, timnya berarti merekrut pemain kelas dunia sekaligus ahli strategi yang cerdas. Setidaknya, Xabi menurut Rolfes sudah sukses di tiga liga dari lima liga top Eropa.

Namun, penunjukan Xabi adalah perjudian. Ia walau bagaimana belum banyak pengalaman melatih. Hal itu menjadi meragukan, apalagi ia dituntut agar mengangkat Bayer Leverkusen dari zona merah. Saat ia ditunjuk Leverkusen sedang berada di peringkat 17 Bundesliga. Jadi, apabila Alonso gagal, habis sudah riwayat Die Werkself.

Di sisi lain, pengalaman Xabi Alonso sebagai pemain berbicara. Bahwa ia tidak akan mudah mundur hanya karena beban berat yang ditanggungnya. Xabi punya keyakinan pada Die Werkself. Ia yakin betul pada kemampuan skuad yang dimiliki klub Kota Leverkusen itu. 

Memperbaiki Posisi Bayer Leverkusen

Janji Xabi tak hanya manis di bibir saja. Kerja seriusnya terlihat saat di laga debutnya melawan Schalke. Dilansir Sky TV, Xabi kala itu bahkan hanya duduk selama 114 detik saja. Keseriusan Xabi itu pun terbayar lunas karena timnya berhasil menggiling Schalke 4-0. 

Menang telak di laga pertama tak membuat Bayer Leverkusen terus berada di garis kemenangan. Xabi sempat terlena dan di tiga pertandingan liga berikutnya, ia tak menghadirkan kemenangan untuk Die Werkself. Bahkan ia gagal memperbaiki performa anak asuhnya di Liga Champions. 

Rangkaian hasil buruk mendorongnya untuk evaluasi. Xabi yang terbiasa bermain dengan penguasaan bola menyadari kalau skemanya tak bekerja pada tim yang selalu mendapat tekanan, seperti Leverkusen. Ia pun mengubah cara bermain tim menjadi lebih pragmatis. Dengan skema 3-4-3, Xabi meningkatkan kekompakan tim saat tak menguasai bola dan mempertajam serangan balik.

Berubahnya cara bermain Leverkusen dirasa tepat. Lima kemenangan beruntun termasuk membantai Union Berlin jadi bukti suksesnya strategi Xabi Alonso. Strategi yang sama juga jadi mimpi buruk bagi tim-tim yang kerap mendominasi pertandingan macam Bayern Munchen yang akhirnya ditaklukkan. 

Kini Xabi Alonso telah memimpin 17 pertandingan Bundesliga dengan mengumpulkan 10 kemenangan, 5 kekalahan dan sisanya berakhir seri. Performa yang jauh lebih baik tersebut membawa Die Werkself merangkak ke posisi delapan klasemen sementara Bundesliga dan mengamankan satu tempat di delapan besar Europa League. 

Percaya Pemain Muda

Mengandalkan segala pengalaman di masa lalu, ia menyeret tim keluar dari keterpurukan. Pendekatan secara emosional kepada setiap individu jadi kunci untuk memotivasi pemain-pemainnya.

Xabi yang berpengalaman dalam menangani pemain muda pun berani mempercayakan masa depan tim kepada pemain muda. Termasuk memberikan kepercayaan lebih pada Florian Wirtz dan Moussa Diaby untuk mengambil peran vital di lapangan. Wirtz sudah teruji sejak musim lalu, sedangkan Diaby mulai meningkat di tangan Xabi.

Sebelum kedatangan Xabi, Diaby gagal mencetak satu gol pun dalam delapan pertandingan pembuka di Bundesliga. Namun, Xabi membuat sang pemain bak terlahir kembali. Diaby langsung mencetak enam gol dari tujuh penampilan pertamanya di bawah asuhan Xabi. Kini Diaby sudah mengemas 12 gol dan 7 assist di semua kompetisi.

Selain Diaby, Jeremie Frimpong juga jadi pemain muda lain yang mendapat banyak kesempatan dari Xabi. Dalam formasi 3-4-3 Frimpong memainkan peran sebagai bek sayap di belakang Diaby. Manuver dan daya ledak Frimpong di sisi kanan jadi faktor penting meningkatnya performa Die Werkself beberapa pekan terakhir.

Sang Penyelamat

Setelah menembus delapan besar Europa League dan mengalahkan Bayern Munchen di Liga Jerman, skuad asuhan Xabi Alonso tengah berada di jalur kemenangan. Bayer Leverkusen bahkan selalu meraih kemenangan di lima pertandingan terakhir di semua kompetisi. Meski baru melatih Leverkusen sejak Oktober tahun lalu, Xabi Alonso sudah memberikan banyak hal positif ke dalam tim. 

Juru taktik berusia 41 tahun itu berhasil menyelamatkan Bayer Leverkusen dari jurang degradasi. Ia mengangkat performa Leverkusen yang tadinya berada di posisi terbawah kedua di Bundesliga ke posisi delapan klasemen sementara. Kini Die Werkself hanya berjarak tiga poin saja dari zona Eropa.

https://youtu.be/MDfphtnZNpM

Sumber: Planetfootball, Football Espana, Bundesliga, Daily Mail, Goal

Transfer Ini Buktikan Barcelona Gemar Menjilat Ludahnya Sendiri!

0

Para juara dunia seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, serta sebagian besar anggota tim inti Barcelona lainnya, lahir dari rahim La Masia. Nama-nama besar yang menimba ilmu di sana memang mengagumkan. Namun tak semuanya meraih sukses di klub induk, Barcelona. 

Sebagian dari mereka bahkan dilepas ke klub lain tanpa diberi kesempatan bermain di skuad utama La Blaugrana. Bahkan terkadang mereka yang dilepas justru berkembang pesat sehingga Barca menyesal dan kepincut untuk mendatangkan mereka kembali. Siapa saja mereka?

Gerard Pique

Gerard Pique adalah satu di antara produk terbaik yang dihasilkan La Masia. Pique sendiri sudah bergabung dengan Barcelona sejak tahun 1997. Namun, ia justru dilepas ke raksasa Inggris, Manchester United pada tahun 2004 silam. Kala itu United menebusnya dengan mahar 5 juta euro atau setara Rp81 miliar.

Datang sebagai pemain muda, Pique belum mampu menjadi pilihan utama di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Bek Spanyol tersebut kalah bersaing dengan nama-nama besar macam Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand. Meski demikian, Pique sesekali mendapatkan menit bermain. Ia juga menjadi bagian dari skuad United yang menjuarai Liga Champions musim 2007/08.

Namun, karena dirasa tak memenuhi ekspektasi, United mengizinkan Pique hengkang di akhir musim 2007/08. Lucunya, klub yang menebus Pique dari United adalah Barcelona. Klub asal Catalan itu membayarkan uang sebesar 5 juta euro, persis dengan jumlah yang dibayarkan United tahun 2004.

Keputusan Barcelona nyatanya membuahkan hasil positif. Pique menjadi bagian penting Barcelona merebut delapan gelar La Liga dan tiga Liga Champions sejak kembali bergabung dengan klub masa kecilnya. 

Luis Garcia

Kedua ada Luis Garcia. Pemain kelahiran Spanyol itu merupakan pemain lainnya yang menimba ilmu di akademi La Masia. Namun, Garcia bukan jadi salah satu yang sukses menembus skuad utama Barcelona. Ia justru dipinjamkan ke klub lain sebanyak empat kali sampai Barcelona memutuskan untuk melepasnya ke Atletico Madrid pada tahun 2002.

Setelah satu musim yang mengesankan bersama Atletico, Barcelona terkejut dengan performanya dan memutuskan untuk memulangkannya. Mengingat Barcelona masih mencantumkan klausul buy back saat melepasnya ke Atletico. 

Namun, dengan seenaknya Barca kembali membuang Garcia. Sang pemain hanya bertahan semusim dan mencatatkan 38 pertandingan dengan mencetak delapan gol bersama Blaugrana. Garcia akhirnya dilepas ke Liverpool pada musim 2004/05. Bersama Liverpool, ia mencatatkan 121 pertandingan dengan mencetak 30 gol dan 16 assist serta membantu The Reds menjuarai Liga Champions.

Jordi Alba

Nama selanjutnya ada Jordi Alba. Pemain yang berposisi sebagai bek kiri ini sudah berseragam Barcelona sejak tahun 1997. Namun, alih-alih tembus skuad utama, Alba justru dilepas ke Cornella karena dianggap memiliki postur yang kurang ideal. Alba dicap terlalu pendek oleh manajemen Barcelona.

Karir Jordi Alba diselamatkan oleh klub Spanyol lain, yakni Valencia. Alba pun berkembang pesat saat bermain bersama klub yang identik dengan kelelawar tersebut. Melihat sang pemain memiliki kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya, Barcelona merasa bersalah telah membuangnya. 

Akhirnya El Barca merekrut kembali pemain internasional Spanyol itu pada 2012. Namun kali ini tinggi badannya tidak lagi menjadi masalah bagi klub. Bersama Barca, Alba menjadi salah satu pemain paling penting hingga saat ini. Alba bahkan mengemas belasan trofi bergengsi termasuk lima gelar La Liga.

Cesc Fabregas

Selanjutnya ada legenda Arsenal, Cesc Fabregas. Gelandang berpaspor Spanyol ini sudah bergabung dengan akademi Barcelona sejak 1997, satu angkatan dengan Alba. Namun, ia meninggalkan La Masia dan pindah ke Arsenal pada tahun 2003. Fabregas kemudian menjadi satu di antara gelandang terbaik Premier League di bawah asuhan Arsene Wenger.

Setelah membangun reputasi baik di Inggris, Barcelona kembali mendatangkan Fabregas dengan mahar 34 juta euro atau setara Rp554 miliar pada tahun 2011. Sang pemain pun setuju kembali ke Spanyol dengan harapan bisa memenangkan lebih banyak gelar juara. Dan itu keputusan yang tepat, ia meraih La Liga, Copa del Rey dan Piala Dunia antarklub selama tiga tahun di klub Catalan.

Hector Bellerin

Hector Bellerin sebetulnya sudah menimba ilmu di akademi Barcelona sejak tahun 2003. Namun, ia dilepas ke Arsenal pada tahun 2011. Saat dilepas ke Inggris, Bellerin bahkan belum pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di skuad utama La Blaugrana.

Di Inggris, Bellerin berkembang menjadi bek kanan andalan Arsenal. Kecepatan dan naluri menyerangnya sangat membantu skuad asuhan Arsene Wenger bersaing di liga. Namun, setelah kedatangan Mikel Arteta, ia pun tersisih. Sang juru taktik bahkan meminjamkannya ke Real Betis musim 2021/22, sebelum akhirnya kembali ke Barca awal musim 2022/23.

Bellerin datang dengan kesepakatan free transfer. Namun kembalinya ke Spanyol tak lantas jadi pilihan yang tepat baginya. Barca tetap tak mengapresiasi kemampuannya. Bellerin tak menjadi pilihan utama di skuad Xavi Hernandez. Ia bahkan baru mencatatkan tiga penampilan di Liga Spanyol.

Eric Garcia

Di tahun yang sama dengan kedatangan Bellerin, Barcelona juga memulangkan salah satu anak emasnya yakni Eric Garcia dari Manchester City. Eric Garcia sendiri sudah bergabung dengan akademi Barcelona sejak tahun 2008 silam. Namun, ia pindah ke akademi Manchester City pada musim panas 2017. 

Garcia hengkang dari Barca karena klub tak bisa memberikan kepastian untuk bisa tampil di skuad utama. Pasalnya, saat itu Barca justru lebih gemar membeli pemain mahal daripada mempertahankan tradisi mereka menggunakan pemain hasil didikan sendiri.

Namun, di awal musim 2022/23, dengan segala keterbatasan finansial, Barcelona kembali mengubah strategi transfernya. Situasi Eric yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan City dimanfaatkan oleh Barca. Mereka mendapatkan Eric dengan status bebas transfer. Dan kini, Eric tampil solid di lini bertahan El Barca sebagai pengganti Gerard Pique.

Adama Traore

Terakhir ada Adama Traore. Pemain bertubuh kekar ini sudah menimba ilmu di akademi Barcelona sejak 2004. Berbeda dengan pemain lain, Adama sempat membuat satu penampilan bersama tim senior Barcelona di ajang Liga Champions 2013. Namun, itu belum cukup untuk membuat manajemen klub percaya pada kemampuannya. Alhasil ia pun merantau ke Aston Villa dua tahun kemudian.

Di Inggris, Adama menjelma pemain sayap yang memiliki kecepatan dan naluri mencetak gol yang sangat tinggi. Berkat skill olah bolanya, ia akhirnya bergabung dengan Wolves tahun 2018. Bersama Wolves, penampilannya kian matang. Membangun koneksi yang apik dengan Raul Jimenez membuat Adama jadi salah satu sayap paling berbahaya di Liga Inggris.

Melihat kemampuan mantan anak didiknya semakin oke, Barca yang sedang kesulitan dana tapi butuh suntikan amunisi baru akhirnya mengontak Wolves untuk meminjam sang pemain. Pada pertengahan musim 2021/22, Adama pun setuju untuk merangkai kisah singkat selama enam bulan di Catalan.

https://youtu.be/_SrlI_zaNq8

Sumber: Planetfootball, 90min, ESPN, BBC, SI

7 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Perempat Final Liga Champions Musim 2022/23

0

Ada delapan tim yang memastikan diri lolos ke perempat final Liga Champions Eropa. Pengundian babak delapan besar juga sudah selesai. Benfica, Inter, Manchester City, Bayern Munchen, Chelsea, Real Madrid, AC Milan, dan Napoli bakal memperebutkan tiket ke semifinal.

Pertandingan perempat final sendiri berlangsung pada 12 April 2023 mendatang. Nah, sebelum itu ada hal-hal yang perlu kamu tahu tentang perempat final Liga Champions musim 2022/23. Ya… itung-itung biar nggak kuper.

Tiga Wakil Italia ke Perempat Final Setelah 17 Tahun

Diam-diam menghanyutkan. Kalimat itu sangat layak kita sematkan pada Liga Italia. Tim-tim di Serie A musim ini membuktikan bahwa mereka bisa bersaing di papan atas Eropa lagi. 

AC Milan, Inter, dan tim yang sedang merajai kompetisi itu, Napoli sama-sama lolos ke perempat final Liga Champions. Ini adalah untuk pertama kalinya tiga wakil Italia merambah ke perempat final.

Terakhir kali tiga wakil Italia ke perempat final terjadi pada musim 2005/06. Yap, benar, 17 tahun yang lalu. Kala itu AC Milan, Inter, dan Juventus yang melenggang ke sana. Ketika itu, ketiga wakil Italia berstatus juara grup.

Juventus adalah juara Grup A, Rossoneri juara Grup E, dan Inter berstatus juara Grup H. Sementara musim ini, hanya Napoli yang berlabel juara grup. Lolosnya para wakil Italia ini dikomentari pelatih Inter Simone Inzaghi.

Dilansir Sportsmax, Inzaghi menyebut hal itu sebuah langkah besar. Inzaghi dalam hal ini tidak hanya mengacungi jempol para wakil Italia di Liga Champions, tapi juga di Liga Eropa dan Liga Konferensi.

Perempat Final Kedua untuk Napoli

Penduduk Kota Naples harusnya senang setengah mati karena Napoli, tim yang mereka cintai akhirnya lolos ke perempat final Liga Champions Eropa. Ini adalah untuk kali pertama Napoli menginjakkan kaki di perempat final Liga Champions.

Sebab di era kegemilangannya bersama almarhum Maradona pun belum bisa sampai ke sana. Armada Luciano Spalletti ke perempat final dengan status juara grup. Napoli kemudian mengalahkan juara Europa League, Eintracht Frankfurt di fase 16 besar.

Tak tanggung-tanggung, Victor Osimhen dan kolega menghabisi klub berjuluk Die Adler dengan agregat telak 5-0. Selain untuk pertama kalinya melangkah ke perempat final Liga Champions, ini juga perempat final kedua Napoli di kompetisi Eropa.

Il Partenopei pertama kali menginjakkan kaki di perempat final di kompetisi UEFA Cup musim 1988/89. Benar, sudah lama sekali. Waktu itu, Partenopei harus berhadapan dengan tim sesama Italia, Juventus. Napoli bisa lolos ke semifinal ketika itu berkat comeback pada leg kedua 3-0, setelah kalah 2-0 di Turin.

Alessandro Renica, Andrea Carnevale, dan tentu saja Diego Armando Maradona membantu Napoli menyingkirkan Juventus. Kelak akhirnya Partenopei bisa menjuarai kompetisi yang kini bernama Europa League tersebut dengan mengalahkan Stuttgart di partai final.

Rekor Manis AC Milan Melawan Tim Italia

Napoli punya kans untuk bisa lolos ke semifinal. Fakta bahwa pasukan Luciano Spalletti telah berlari sendirian ke jalur juara Serie A memperkuat kemungkinan itu. Hanya saja, pemimpin Serie A itu harus bertemu dengan pasukan Stefano Pioli.

Sama-sama bagus di Serie A. Setidaknya walau AC Milan di tangga klasemen masih berada di bawah Napoli, tapi Milan punya catatan manis ketika melawan tim sesama Italia. Il Diavolo Rosso sudah sembilan kali bertemu wakil Italia di kompetisi Eropa.

Akan tetapi, Rossoneri baru kalah sekali dari sembilan laga itu. Kekalahan itu terjadi di leg kedua Piala Super Eropa musim 1993/94 melawan Parma. Milan kalah 2-0 saat itu. Sisanya, AC Milan lima kali menang kala bertemu wakil Italia, salah satunya kemenangan di final Liga Champions 2003 melawan Juventus.

Pelatih AC Milan, Stefano Pioli yakin dengan timnya di Liga Champions. Tetapi walau bagaimana Napoli bukan lawan enteng. Pada pertemuan pertama di Serie A musim ini, Napoli justru sudah kandaskan Rossoneri di rumahnya sendiri.

Inter Tak Pernah Kalah Lawan Benfica

Dengan tiga wakilnya di perempat final, Italia konon sudah bisa memastikan satu tempat di final. Itu tampaknya akan terwujud. Karena kalau tidak Napoli, Milan yang akan ke semifinal. Tinggal Inter harus bisa mengalahkan Benfica.

As Aguias bukan lawan enteng bagi Inter, tentu saja. Apalagi Benfica bisa lolos ke fase gugur dengan status juara grup, di atas PSG dan Juventus. Namun, La Beneamata punya rekor dahsyat kala menghadapi Benfica di kompetisi Eropa.

Nerazzurri tak pernah kalah dari tiga pertemuannya dengan As Aguias. Keduanya terakhir bertemu di UEFA Cup 2003/04 di babak 16 besar. Inter waktu itu menendang Benfica dengan skor agregat 4-3. Di mana Inter saat itu menahan imbang As Aguias di leg pertama 0-0, kemudian mengalahkannya di leg kedua.

Pertemuan lainnya terjadi puluhan tahun sebelum itu. Di final European Cup 1964/65, Inter sukses mengandaskan Benfica 1-0. Benar, itu adalah cikal bakal kompetisi Liga Champions Eropa. Jadi, apa Benfica sanggup kalahkan Inter?

Baru Satu Tim yang Bobol Gawang Bayern Munchen

Pada perempat final kali ini, Manchester City akan berjumpa tim super sulit, Bayern Munchen. Die Roten tim paling sempurna selama fase grup Liga Champions musim ini. Bayern adalah satu-satunya tim yang lolos ke fase gugur dengan meraup 18 poin.

Itu artinya, FC Hollywood belum pernah kalah dan imbang. Ini juga empat kalinya secara beruntun Munchen tak terkalahkan di fase grup Liga Champions sejak musim 2019/20. Tidak hanya itu, Bayern Munchen di Liga Champions musim ini juga baru kebobolan dua gol saja.

Uniknya, dua gol itu datang dari tim paling lemah di Grup C, Viktoria Plzen. Inter, Barcelona, bahkan PSG yang dihadapi di 16 besar tak mampu membobol gawang Die Roten. Meski tanpa Manuel Neuer. Pemain City boleh kok mulai keringat dingin.

Haaland Calon Top Skor

Manchester City tampaknya tak perlu risau menghadapi Bayern Munchen. Pemain paling produktif ada di sana. Orang itu adalah Erling “Robot” Haaland. Pemain Norwegia itu malah bisa menjadi top skor Liga Champions musim ini.

Setelah mencetak lima gol ke gawang RB Leipzig, Haaland melewati catatan gol Mohamed Salah di Liga Champions. Sebelum peluit sepak mula perempat final bunyi, Haaland memimpin perolehan gol, dengan 10 gol. Salah berada persis di bawahnya dengan 8 gol.

Namun, timnya Salah sudah mudik. Pesaing lainnya adalah Kylian Mbappe yang di Liga Champions musim ini mencetak 7 gol. Tapi Mbappe mungkin kini sedang mandi uang saja di Paris, wong timnya nggak lolos. 

Satu-satunya yang bisa jadi pesaing Haaland adalah pemain Benfica, Goncalo Ramos yang sudah mencetak 7 gol. Tapi dengan defisit tiga gol, Haaland bisalah jadi top skor Liga Champions. Munchen siap-siap, ya.

Rekor Buruk Real Madrid Hadapi Chelsea

Real Madrid adalah rajanya Eropa. Semua tahu itu. Namun, musim ini Los Blancos mesti menghadapi Chelsea di perempat final Liga Champions. Chelsea, walau sedang bapuk di tangan Potter, tetaplah bukan lawan enteng bagi El Real.

Tujuh kali keduanya bertemu di kompetisi Eropa. Namun, Los Galacticos baru menang sekali. Sementara The Blues menang empat kali, dan sisanya berujung imbang. Satu-satunya kemenangan Real Madrid terjadi di leg pertama perempat final Liga Champions musim lalu.

Waktu itu Los Merengues menang 3-1. Tapi di leg kedua Chelsea asuhan Tuchel berhasil menang 3-2. Malangnya, kemenangan leg kedua itu tidak berlaku. Chelsea tetap tersingkir karena kalah agregat 5-4. Gol Karim Benzema sumber petaka kala itu.

https://youtu.be/B0igalWUU0Q

Sumber: UEFA, SempreMilan, ArabNews, SportsMax, Opta, OneFootball, 90Min, Bolanet

Berita Bola Terbaru 20 Maret 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Dari ajang Piala FA, Manchester United sukses mengalahkan Fulham dengan skor 3-1. Fulham sempat unggul lebih dulu pada menit ke-50 melalui Aleksandar Mitrovic. Namun, MU membalas melalui Bruno Fernandes di menit 75 dan di masa injury time serta gol dari Marcel Sabitzer di menit 77. Atas hasil ini, Setan Merah menembus semifinal Piala FA 2022/23.

Beralih ke Liga Inggris, Arsenal menang meyakinkan 4-1 atas Crystal Palace. The Gunners mampu unggul 2-0 di babak pertama. Gol lahir dari Gabriel Martinelli di menit ke-28 dan Bukayo Saka dua menit sebelum jeda. Usai turun minum, Arsenal bikin gol ketiga dari Granit Xhaka di menit ke-55. Palace sempat memperkecil ketinggalan dari Jeffry Schlupp di menit ke-63. Pasukan Mikel Arteta kembali menjauh dari lewat kedua Saka di menit ke-74. Hasil ini membuat Meriam London semakin kukuh di puncak klasemen Liga Inggris.

Dari Liga Italia, Napoli melesatkan empat gol saat bertandang ke markas Torino pada Minggu (19/3) untuk kian menegaskan status mereka sebagai calon peraih Scudetto. Gol-gol Napoli di Turin datang dari dwi gol Victor Osimhen di menit 9 dan menit 51, penalti Kvara di menit 35, dan gol perdana dari Tanguy Ndombele menit 68 di Liga Italia.

Lazio memetik hasil manis kala melakoni duel bertajuk Derby della Capitale melawan AS Roma pada pekan ke-27 Liga Italia 2022/23. Bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Olimpico, Senin dini hari WIB, Lazio menuntaskan perlawanan Roma dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Mattia Zaccagni.

Di laga lain, Juventus sukses meraih tiga poin atas Inter Milan dalam laga yang bertajuk Derby d’Italia. Bermain di Giuseppe Meazza, Si Nyonya Tua berhasil menang tipis 1-0 berkat gol tunggal Filip Kostic pada menit ke-23. Tambahan tiga poin ini membuat Juve naik ke peringkat tujuh dengan raihan 41 poin dari 27 pertandingan, sementara Nerazzurri gagal merebut kembali urutan kedua dari tangan Lazio.

Dari ajang La Liga Spanyol, Barcelona sukses meraih tiga poin di El Clasico saat menghadapi Real Madrid, Senin dini hari WIB. Bermain di Camp Nou, Tim Catalan menang dengan skor 2-1. Barca sempat tertinggal lebih dulu di menit ke-9 karena gol bunuh diri Ronald Araujo, tapi mereka berhasil bangkit dan membalas lewat aksi Sergi Roberto menit 45 dan Franck Kessie menit 90. Kemenangan ini membuat Barca semakin nyaman di puncak klasemen La Liga, dengan mereka sekarang telah mengumpulkan 68 poin dari 26 pertandingan, unggul 12 poin dari Los Blancos yang mengekor di tempat kedua.

Dari ajang Bundesliga, pertandingan yang berlangsung di BayArena, Minggu (19/3) antara Bayer Leverkusen vs Bayern Munchen berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan tuan rumah. Die Bavarian sempat unggul lebih dulu melalui gol Joshua Kimmich pada menit ke-22. Namun, sepasang gol penalti Exequiel Palacios pada menit ke-55 dan 73 membalikkan skor akhir. Akibat kekalahan ini, posisi Bayern di puncak klasemen digusur oleh rivalnya, Borussia Dortmund.

Dari ajang Liga Prancis pekan ke-28, tuan rumah PSG secara mengejutkan dipaksa menyerah 0-2 oleh tamunya, Rennes. Dua gol kemenangan Rennes masing-masing diciptakan oleh Karl Toko Ekambi di akhir babak pertama dan Arnaud Kalimuendo di awal babak kedua. Berkat hasil ini, PSG masih tetap bertengger di puncak klasemen Liga Prancis dengan poin 66. Sementara itu, Rennes berhak naik ke peringkat lima dengan poin 50.

3 KARTU MERAH WARNAI TERSINGKIRNYA FULHAM

Tiga kartu merah warnai tersingkirnya Fulham dari Piala FA saat melawan Manchester United. Tiga kartu merah semuanya diberikan kepada tim Fulham. Pertama untuk Willian yang sengaja handball di kotak penalti. Lalu Mitrovic juga dikartu merah karena mengkonfrontasi wasit. Di pinggir lapangan, manajer Fulham Marco Silva mendapat sanksi serupa usai membanting botol yang kemudian mengenai hakim garis.

LIONEL MESSI GAGAL CETAK GOL KE-800

Lionel Messi gagal mencetak gol ke-800 dalam kariernya saat Paris Saint-Germain tumbang di rumah mereka sendiri. Les Perisens digasak Rennes dengan skor 2-0. Dengan ini, Messi masih mencetak 799 gol sepanjang kariernya sebagai pesepak bola, baik di tingkat klub maupun tim nasional.

PSG DIHANCURKAN RENNES, MESSI CS TETAP DIBELA

Lionel Messi dan Kylian Mbappe tampil buruk saat PSG melewatkan kesempatan untuk mengambil langkah besar menuju gelar Ligue 1. PSG tak berdaya di rumah sendiri, tapi Galtier tetap membela pemainnya. Galtier selaku pelatih PSG menolak untuk mengkritik para pemainnya. Galtier bersikeras bahwa mereka memiliki tugas yang sulit menjelang pertandingan karena daftar absen yang cedera termasuk Neymar, Achraf Hakimi, Marquinhos dan banyak lagi.

CONTE NGAMUK-NGAMUK, CARRAGHER: DIA INGIN DIPECAT

Antonio Conte mengamuk ke Tottenham Hotspur usai diimbangi Southampton. Jamie Carragher menilai Conte sudah ingin mengakhiri karir di Spurs. “Conte ingin dipecat di jeda internasional ini. Spurs harusnya mengeluarkannya saja dari penderitaannya dan melakukannya malam ini,” ungkap mantan bek Liverpool yang kini jadi analis tersebut.

ANCELOTTI SINDIR BARCELONA YANG ‘DIBANTU’ VAR

Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti tidak puas dengan kepemimpinan wasit dan menyebut Barcelona menang karena berkat adanya VAR. Pasca laga, Ancelotti mengaku ragu dengan keputusan wasit yang menganulir gol Asensio. Dia ragu keputusan wasit sudah tepat dalam insiden tersebut. Seperti diketahui, gol Asensio di menit ke-80 dianulir wasit setelah berkonsultasi dengan VAR. Dalam tayangan ulang, sulit memutuskan Asensio offside atau onside. Tanpa garis bantu dan teknologi, Asensio terlihat berdiri dalam posisi yang sejajar dengan pemain belakang Barcelona. 

TONI KROOS TAK SUDI BERI SIMPATI KE EDEN HAZARD

Bintang Real Madrid, Toni Kroos tak mau memberi simpati pada rekan satu timnya, Eden Hazard, meski eks Chelsea itu luntang-lantung di ibu kota Spanyol. “Saya tidak percaya Eden memiliki hidup yang menderita. Silakan kasihan pada orang-orang yang hidupnya lebih menderita dari Eden. Ini bukan cuma soal uang. Saya tak menaruh rasa kasihan pada siapa pun di dunia sepakbola. Pada akhirnya, semua orang juga bertanggung jawab pada situasi mereka masing-masing.”

PSG BANTAH PERSELISIHAN DENGAN LIONEL MESSI

Pelatih PSG, Christophe Galtier membantah laporan tentang adanya perselisihan dengan Lionel Messi setelah sang pemain meninggalkan latihan lebih awal menjelang laga melawan Rennes. Sebelumnya beredar kabar bahwa terjadi ketegangan antara Galtier dan La Pulga di sesi latihan PSG. Namun, Galtier membantah adanya insiden tersebut dan menjelaskan bahwa Messi mengalami masalah di otot adductor.

POTTER MARAH LIHAT SELEBRASI KAI HAVERTZ

Graham Potter marah saat melihat selebrasi penyerang Chelsea, Kai Havertz, usai mencetak gol ke gawang Everton dalam lanjutan Liga Inggris 2022/23. Havertz melakukan selebrasi dengan mengayunkan kedua tangannya ke arah pendukung yang bermaksud mengejek kiper Everton, Jordan Pickford. Sontak selebrasi tersebut membuat juru taktik Chelsea, Graham Potter kesal.

MENANTI KEMBALINYA ERIKSEN DI MU

Manchester United memberikan kabar terkini mengenai kondisi Christian Eriksen. Gelandang asal Denmark yang sudah absen sejak Januari karena cedera ligamen engkel itu diperkirakan bisa merumput kembali pada April nanti. Menurut Ten Hag, proses pemulihannya berjalan lancar. “Perkembangannya sangat bagus dan kami akan lihat perkembangannya dalam beberapa pekan ke depan,” kata Ten Hag.

SADIO MANE BACA AL-QUR’AN DI PESAWAT

Sadio Mane kembali banjir pujian dari netizen muslim. Ia terlihat membaca Al Qur’an selama di pesawat dalam perjalanan laga tandang ke markas Bayer Leverkusen. Hal tersebut diketahui dari unggahan Instagram rekan setimnya Thomas Muller. Muller mengajak swafoto Mane di dalam pesawat sambil mengacungkan ibu jarinya. Kemudian Mane juga mengangkat jarinya untuk berfoto dan terlihat Al-Qur’an sedang dibacanya.

ARSENAL KEHILANGAN BEK TANGGUHNYA

Arsenal mendapatkan kabar buruk di fase krusial Liga Inggris. Arsenal kehilangan pemain andalannya di sektor bek yakni William Saliba. Menurut laporan RMC Sport, Saliba mengalami cedera yang lebih parah dari prediksi awal pasca laga melawan Sporting CP. Hasil pemeriksaan menunjukan, Saliba harus menepi cukup lama karena cedera di punggungnya.

DIEGO COSTA JADI AKTOR DAMAI DI LAPANGAN

Ada yang aneh di pemandangan laga Wolves vs Leeds di Molineux. Diego Costa yang dikenal selalu temperamental tiba-tiba menjadi aktor pendamai. Kejadian itu terlihat ketika ia berusaha menenangkan emosi rekan setimnya yang lebih muda, Mattheus Nunes pasca diganjar kartu merah. Costa memeluk Nunes untuk menghindari sikap protes berlebih dari Nunes kepada wasit. 

PEP KELUARKAN HAALAND DEMI REKOR MESSI

Pep Guardiola dengan nada candaan mengatakan ia sengaja menarik Erling Haaland lebih awal di menit 63 setelah hattricknya ke gawang Burnley, karena untuk melindungi rekor Lionel Messi. “Saya melakukan pergantian pemain karena saya tidak ingin dia memecahkan rekor yang dimiliki Messi”. Kata Guardiola dalam konferensi pers pasca laga yang dimenangkan City 6-0 itu.

KANTE DIAM-DIAM DIDEKATI JUVENTUS

Menurut Calciomercato Juventus masih optimis untuk mendatangkan gelandang Chelsea N’golo Kante di akhir musim dengan gratisan. Kontrak Kante diketahui akan berakhir pada bulan Juni nanti. Sedangkan tanda-tanda perpanjangan kontrak dari Chelsea tak kunjung menemui titik terang. Selama itu pula Juve akan terus mengintai. FYI aja, Juve ini doyan banget sama yang namanya pemain gratisan. Mereka ingin menduetkan Kante dengan Pogba. 

SETELAH BENZEMA, INILAH CALON STRIKER REAL MADRID BERIKUTNYA 

Setelah masa pengabdian Benzema yang mungkin akan disudahi pada 2024 mendatang, Menurut laporan Daily Mail Harry Kane adalah opsi yang cocok sebagai penggantinya. Kontrak Kane juga akan berakhir 2024 mendatang. Artinya masih ada satu tahun lagi untuk persiapan. Kane sendiri kini keadaanya dikabarkan semakin resah di Spurs karena tak kunjung mendapat trofi.

INGIN BUANG MENDY, CHELSEA INCAR KIPER INI

Chelsea kini sedang menginginkan kiper baru yakni Andre Onana dari Inter Milan. Ketertarikan The Blues dengan Onana bukan tanpa sebab. Pada musim perdananya bersama Inter, Onana tampil memukau. Chelsea sudah menawar dengan mahar 40 juta euro ditambah Edouard Mendy. Mendy sendiri akan jadi korban penjualan, karena ia kini tak diinginkan Potter dalam skemanya. Terbukti selama ini Potter hanya percaya pada Kepa. 

MESSI INGIN KE BARCA LAGI, YAKIN?

Foot Mercato melaporkan bahwa Messi diam-diam dalam benaknya masih ingin kembali ke Barca. Negosiasi kesepakatan baru dengan PSG tak kunjung menemui kata sepakat. Messi dan keluarganya masih menganggap Barcelona sebagai rumah mereka. Dan kemungkinan besar ini menjadi faktor penyebab keputusannya untuk kembali. Selain tentu masalah gaji, yang kabarnya akan dinego. Karena kita tau Barca sedang kesulitan finansial.

REKOR TERCIPTA SETELAH RICHARLISON MENANGIS KARENA CEDERA

Laga Southampton vs Tottenham di St Marry, belum genap empat menit berjalan sudah ada pemain yang cedera yakni Richarlison. Pemain Brasil itu menangis tak bisa melanjutkan pertandingan. Di balik nasib apes Richarlison, ternyata setelah itu ada tiga pemain lagi yang juga keluar karena cedera. Mereka adalah Bednarek dan Bella Gotchap dari Soton, serta Ben Davies dari Spurs. Sehingga Opta mencatat, total ada empat pemain cedera di babak pertama, dan itu termasuk dalam rekor tersendiri di Liga Inggris.  

NAGELSMANN MARAH TAKTIKNYA BOCOR

Bayern Munchen dikabarkan mengalami kebocoran dokumen informasi soal taktik mereka. Dokumen itu biasanya diberikan hanya kepada pemain untuk memahami tuntutan taktik di lapangan. Terkait hal itu, sang pelatih Julian Nagelsmann melontarkan kecaman terhadap adanya ‘tukang cepu’ alias pembocor dokumen informasi itu. Nagelsmann pun marah. Sampai-sampai ia menyebut si pembocor informasi itu sebagai “si tikus tanah”.

Fans Muak Dengan Messi? Bagaimana Masa Depan Messi di PSG?

Masa depan Lionel Messi di Paris Saint-Germain makin tidak jelas saja. Kontraknya akan habis akhir musim ini tapi masih belum ada kejelasan soal apakah kontraknya akan diperpanjang atau tidak. Tapi beberapa laporan mengabarkan kalau Messi sudah tidak ingin bertahan di PSG. Ia ingin pindah dan mencari petualangan baru.

Meskipun begitu, pelatih Christoph Galtier masih ingin mempertahankan sang mega bintang di Parc de Princes. Ia bersikeras mengatakan kalau Messi masih bahagia di PSG. Galter menegaskan kalau Messi masih ingin bertahan di Paris.

“Saya tahu kalau Leo dan manajer olahraga belakangan ini banyak berbicara. Saya tidak tahu detil soal apa yang mereka bicarakan. Tapi semua orang ingin Messi untuk tetap disini. Messi bahagia di sini” Ungkapnya dikutip dari Goal.com.

“Dia masih bisa mencetak gol. Messi sangat penting bagi tim. Dengan umurnya sekarang, ia masih berlatih setiap hari. Messi senang melihat teman-temannya bermain. Terkait masa depannya, masih terlalu dini untuk bisa menentukan” Lanjut Galtier.

Messi Dicemooh Fans Sendiri

Galtier memang bersikeras mengatakan kalau Messi masih bahagia di PSG. Tapi apa yang terjadi di laga lawan Rennes tadi malam justru menunjukkan hal sebaliknya. Ketika nama para pemain yang jadi starting line up di laga itu diumumkan di Stadion, para fans bersorak. Namun, ketika giliran nama Messi yang muncul fans malah memberikan reaksi yang berbeda. Publik Parc de Princes malah mencemooh namanya.

Entah itu mempengaruhi performa Messi atau tidak, tapi tim tuan rumah bermain buruk di laga itu. Mereka menguasai jalannya pertandingan dan memiliki penguasaan bola lebih banyak dibandingkan Rennes. Tapi parisiens tumpul di depan dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Pertandingan berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Rennes. gol dicetak oleh Karl Toko Ekambi di menit ke-45. Dan gol kedua dicetak oleh mantan pemain mereka sendiri, Arnaud Kalimuendo di menit ke-48. Setidaknya PSG beruntung mereka tidak kebobolan tiga gol karena penampilan buruk mereka.

Ini adalah kekalahan keempat di Liga bagi PSG. Tentu ini jadi momen yang mengecewakan bagi para fans yang menonton langsung di stadion. Untuk itu, para pemain memutuskan untuk tinggal sejenak setelah laga ini usai. Mereka memberikan tepuk tangan tanda terima kasih dan permintaan maaf kepada fans yang sudah mendukung mereka langsung.

Tapi tidak dengan Messi. Kolektor tujuh Ballon d’Or itu langsung berjalan ke lorong menuju ruang ganti. Ia tidak mau bergabung bersama rekan-rekannya untuk menyapa para pendukung. Messi terlihat berjalan sendiri di lorong sebelum kamera berpindah ke Mbappe yang masih berada di lapangan. Susah untuk mengetahui apa yang ada dipikiran Messi saat itu. Tapi yang pasti adalah ia sedang tidak bahagia.

Kenapa Jadi Benci Messi?

Selain itu, yang jadi pertanyaan adalah mengapa fans kini jadi membenci mega bintang asal Argentina itu? Beberapa spekulasi pun muncul. Ada pendapat mengatakan kalau ini disebabkan karena fans PSG masih sakit hati dengan apa yang terjadi di Piala Dunia 2022 kemarin.

Di turnamen empat tahunan itu, Argentina yang dipimpin oleh Messi berhasil mengalahkan Prancis di final. Memupuskan harapan Les Bleus untuk back-to-back juara Piala Dunia. Atau mungkin juga, warga Paris melimpahkan kebencian mereka atas Emiliano Martinez di final Piala Dunia itu kepada Messi.

Tapi hal ini dikonfirmasi oleh legenda Lyon, Juninho. Dikutip dari PSGtalk.com, para fans sudah merencanakan untuk mencemooh Messi di pertandingan ini beberapa hari sebelumnya. Juninho berpendapat kalau ini adalah hal yang wajar mengingat performa buruk yang Messi tunjukan di laga melawan Bayern Munchen.

“Bahkan jika dia adalah Lionel Messi, ia masih seorang manusia. Melihat pertandingan melawan Bayern Munchen saya tidak heran Messi dicemooh” Ungkapnya.

Bagi mantan pemain yang terkenal dengan tendangan bebasnya itu, para penggemar memiliki ekspektasi yang lebih terhadap Messi. Leo memang bermain cukup bagus di sepanjang musim ini, apalagi mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

Tapi alasan PSG mendatangkan la pulga adalah untuk membantu mereka menjuarai Liga Champions. Para fans pun kecewa berat karena timnya lagi-lagi tersingkir lebih awal setelah kalah dari Bayern Munchen. Dan para penggemar yang kecewa itu melimpahkan seluruh kekecewaan mereka terhadap Messi.

Ini saat-saat yang tepat untuk la pulga kembali memikirkan masa depannya. Mengingat kontraknya di PSG akan habis di akhir musim ini. Apakah ia akan bertahan untuk memenuhi ekspektasi fans yang sangat berat itu? Ataukah ia akan pindah, demi masa pensiun yang nyaman dan tenang.

Ayah Messi Tidak Senang

Situasi Messi di PSG yang kian keruh ini seolah dikonfirmasi ketika pada hari Sabtu kemarin Ayah Messi, Jorge buka suara lewat unggahan di media sosialnya. Ia mengungkapkan ada tiga berita bohong tentang anaknya.

Pertama adalah, Messi diberitakan meninggalkan sesi latihan pada awal pekan lalu. Dikabarkan bahwa Messi meninggalkan sesi latihan itu karena bermasalah dengan Galtier. Dan itu yang membuat PSG kalah lawan Bayern.

Kemudian berita kedua adalah Messi meminta persyaratan muluk-muluk untuk perpanjangan kontrak dan PSG tidak menyanggupinya. Diberitakan kalau persyaratan yang diajukan Messi mirip dengan kontrak Mbappe yang memecahkan rekor di musim panas 2022.

Yang terakhir adalah ada klaim yang mengatakan kalau Messi meminta gaji sebesar 600 juta euro kepada Al Hilal. Klub Arab Saudi itu memang diberitakan mengincar tanda tangan sang pemain. Jorge Messi mengatakan kalau berita ini dan dua sebelumnya adalah berita bohong.

Terlepas dari itu, masa depan Messi memang jadi perhatian media di Eropa saat ini. Wajar, ia adalah superstar, pemain terhebat di generasinya, pemenang Piala Dunia, dan masih bisa berkontribusi di tim sekelas PSG padahal usianya sudah 35 tahun. Jadi para pecinta bola pasti juga akan penasaran di klub mana Messi selanjutnya akan berlabuh.

Hal ini memunculkan banyak rumor. Sempat diberitakan kalau dirinya akan pindah ke MLS. Inter Miami adalah klub yang paling santer dikaitkan dengan Leo. Klub baru yang didirikan David Beckham itu sedang mencari superstar eropa untuk melengkapi timnya. Dan mereka tidak diragukan bisa membayar gaji Messi.

Kemudian juga muncul berita bahwa dirinya akan pindah ke Liga Arab menyusul Cristiano Ronaldo. Jika ini terjadi, sudah pasti pamor Liga Arab akan meroket. Jadi tidak heran kalau para investor Arab tidak segan-segan untuk menggelontorkan uang demi mendatangkan Messi.

Rumor yang tak kalah ramainya adalah Messi akan pulang ke Barcelona. Ini adalah langkah yang masuk akal untuk Messi. Ia bisa pensiun di rumah dimana para fans mencintainya. Tapi mengingat situasi keuangan Barcelona sekarang, rasanya itu sulit.

Sumber referensi: Goal, 90min, GMS, PSGTalk

Bisa Apa Manchester United di Europa League?

0

Tatkala Erik ten Hag ditunjuk sebagai pelatih Manchester United tidak ada harapan tinggi di pundaknya. Ten Hag ditunjuk ketika keadaan tim semrawut. Maka membetulkan mesin yang rusak parah dan menjadikannya kembali berderu sudah cukup.

Syukur-syukur bisa mengantarkan Manchester United kembali ke Liga Champions. Namun, harapan yang kadung tidak tinggi itu, justru dijawab Ten Hag dengan prestasi yang cukup melebihi harapan publik Old Trafford. Belum genap semusim, Ten Hag berhasil antarkan MU berbuka puasa gelar.

Ini lebih cepat dari dugaan awal. Jurgen Klopp saja butuh tiga musim untuk memberi trofi ke Liverpool. Ten Hag juga masih terbuka mengantarkan trofi-trofi lainnya untuk Manchester United. Salah satunya Europa League.

Lolos ke Perempat Final

Ten Hag sukses membawa MU ke perempat final Europa League. Meski bukan sebuah kejutan, tapi itu menjadi istimewa karena ia yang melakukannya hanya dalam waktu beberapa bulan setelah ditunjuk. The Red Devil menang mudah di babak 16 besar atas Real Betis.

Betis bukan ujian terberat, karena saat drawing memutuskan MU harus melawan Betis di 16 besar, kepastiannya cuma satu: menang. Namun, langkah untuk ke sana itulah yang terjal.

Menghadapi Barcelona yang juga sedang membentuk kembali tim, bukan perkara gampang. Namun, setelah imbang di leg pertama, pasukan Xavi terlena sehingga harus menelan kekalahan 2-1. Sisanya, kita tak perlu membahasnya panjang lebar.

United bertemu tim yang secara level jauh banget. Omonia dan Sheriff Tiraspol bukan musuh sepadan. Benar, Sheriff pernah mengalahkan Real Madrid, tapi itu musim lalu. Ia tidak lagi berada di level yang sama musim ini.

Sampai sejauh ini, satu-satunya kekalahan United di Liga Eropa adalah di tangan Real Sociedad. Itu pun kekalahan yang boleh dibilang khilaf saja.

Perjalanan United di Europa League

Ini adalah keempat kalinya Manchester United lolos ke perempat final Liga Eropa. Dari empat kali menuju perempat final, United melanjutkan langkahnya sampai ke final dua kali.

Pertama, pada musim 2016/17 yang berakhir kebahagiaan. Ketika itu, Manchester United besutan Jose Mourinho mengalahkan Ajax di final. Lalu yang kedua terjadi pada musim 2020/21. MU yang dilatih Ole Gunnar Solskjaer harus menghadapi sang pawang kompetisi itu, Unai Emery.

Manchester United nyaris menang. Tetapi mentalitas Villarreal membara. Berkat sentuhan magis Good Ebening, Kapal Selam Kuning lah yang kampiun. Musim ini United mendapat kesempatan untuk kembali lagi ke final dan memenangkannya.

Kalau itu terjadi, Ten Hag mewujudkan harapan untuk kembali ke Liga Champions. Sebab berlaga di Liga Champions dengan status juara Liga Eropa punya derajat yang sedikit lebih tinggi daripada hanya finis di empat besar liga. Tapi seberapa besar peluang MU bisa sampai ke tahap itu?

Kekuatan dan Kelemahan Manchester United

Ada kelemahan-kelemahan yang bisa menghambat Manchester United untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Salah satu yang paling kentara adalah soal kedalaman skuad. MU tim yang bagus, kita semua mengakui itu.

Namun, Manchester United musim ini tak memiliki kedalaman skuad yang baik. Meskipun ada beberapa pemain yang bisa mengisi pos yang kosong. Tapi kalau ada satu pemain dari sistem Ten Hag tidak bisa bermain, bisa jadi menimbulkan masalah. 

Manchester United beberapa kali sulit ketika Casemiro tidak bermain. Begitu pula ketika kehilangan Eriksen. Walaupun masih ada Fred, Scott McTominay, dan Marcel Sabitzer. Di lini belakang, Ten Hag bisa saja merotasi pemainnya. Namun sama saja, akan jadi masalah jika salah satu yang biasa dipakai tidak dapat bermain.

Di lini depan, meskipun sudah ada Wout Weghorst, tapi keran gol United tak dapat dipungkiri masih bertumpu pada Marcus Rashford. Kalau Rashford cedera, bisa cilaka 12. Titik lemah inilah yang bisa jadi hambatan. Apalagi MU juga sedang bertarung di Piala FA. Ten Hag harus bisa menambal kelemahan itu.

Soal kekuatan, Manchester United sedang dalam kepercayaan diri yang tinggi. Walaupun digiling Liverpool, tapi United masih bisa bangkit. Setan Merah bahkan belum lama ini mengalahkan Fulham di perempat final Piala FA.

Taktik Ten Hag

Manchester United yang sedang dalam kepercayaan diri akan ditopang dengan strategi jitu yang diterapkan Ten Hag. Bapak-bapak botak yang satu ini datang dengan reputasi gaya permainan penguasaan bola. Akan tetapi, gaya itu gagal diterapkan di Manchester United.

Stok pemain yang ada tidak memungkinkan Ten Hag untuk mengimplementasikan taktiknya. Maka ia pun beradaptasi dengan mencoba skema pragmatis. Skema pragmatis ini terbukti tepat bagi United. Di Inggris, dengan cara itu United bisa merangsek ke empat besar.

Sementara, cara yang sama juga mengantarkan Setan Merah ke perempat final Liga Eropa. Salah satu kelemahan United di era sebelum Ten Hag adalah ketidakmampuan untuk mendobrak lawan dengan blok rendah. Ten Hag pun coba mencegah lawan melakukan itu.

Para pengamat menyebut, Ten Hag menerapkan man-to-man di lini tengah. Pendekatan semacam itu terbukti efektif, salah satunya ketika mengalahkan Barcelona. Ten Hag juga menerapkan tekanan kolektif. Cara itu bukan hanya ampuh meredam serangan lawan, tapi juga sanggup melakukan serangan balik fantastis.

Dengan metode itu, produktivitas MU dalam penguasaan bola di sepertiga akhir juga meningkat. Fbref menyebut jumlahnya 32,94%. Itu jauh lebih banyak dari musim lalu yang hanya 29,7% dan musim 2020/21 sebesar 28,68%. Kesaktian jurus ini bisa dilihat saat Marcus Rashford mencetak gol ke gawang Barcelona.

Kembali Hadapi Tim Spanyol

Selepas melewati hadangan Real Betis, Manchester United harus bertemu Sevilla yang konon pawangnya Liga Eropa. Ini adalah untuk ketiga kalinya secara beruntun United bertemu wakil Spanyol. Jika dengan fase grup, berarti pasukan Ten Hag sudah bertemu empat wakil Spanyol.

Sebelum ditukangi Erik ten Hag, MU selalu kalah dari tim Spanyol. Namun catatan buruk itu sudah dipatahkan. Sebab di tangan Ten Hag, MU tak usah khawatir ketika melawan tim Spanyol, karena sejauh ini baru kalah dari Real Sociedad.

Perjalanan apik menghadapi tim Spanyol bersama Erik ten Hag adalah tabungan sebelum bersua Sevilla. Los Palanganas bukan musuh yang mudah, tentu saja. United belum pernah menang sekali pun. Dari tiga pertemuan, MU kalah dua kali dari Sevilla.

Peluang Manchester United

Sevilla boleh menyebut dirinya raja Liga Eropa. Boleh pula jumawa karena belum pernah kalah dari Manchester United. Tapi melihat performa mereka musim ini, MU jelas lebih berpeluang.

Jorge Sampaoli yang gagal di Argentina masih menemui kesulitan dalam melatih Sevilla. Los Palanganas adalah tim lungsuran dari UCL. Sevilla juga belum lama ini kalah dari Getafe dan masih tertahan di peringkat 14 La Liga.

Untuk menang dari Sevilla bukanlah sebuah keniscayaan. Tapi setelahnya yang menjadi sulit. Kalau lolos ke semifinal, antara Juventus atau Sporting menanti. Juve juga sedang naik daun, sedangkan Sporting mengalahkan calon kuat juara Liga Inggris.

Terlepas dari itu, peluang United menjuarai Europa League sangat tinggi. Teknologi super komputer dari Betting Expert menaruh MU sebagai tim kedua yang paling berpeluang menjuarai Liga Eropa. Persentase probabilitasnya 20,8%.

Tapi hitung-hitungan probabilitas itu tak bisa menjadi patokan. Arsenal yang ditempatkan sebagai tim paling berpeluang juara Europa League saja, sudah lebih dulu tersingkir di babak 16 besar. Oleh karena itu, saran saja, supaya semuanya dilancarkan, fans MU harus mulai berencana untuk memperbanyak tirakat.

https://youtu.be/vKkQwfwmgPE

Sumber: Telegraph, MEN, UEFA, CoachesVoice, TheBusyBabe, SportingNews, ManUtd, 90Min