Beranda blog Halaman 376

Sujud Mo Salah Ubah Cara Pandang Masyarakat Inggris Terhadap Islam

0

Pesepakbola beragama Islam yang berlaga di Eropa kian banyak. Tak terkecuali di sepakbola Inggris. Seiring banyaknya pesepakbola beragama Islam yang bermain di Liga Inggris, federasi dan operator liga pun meningkatkan rasa toleransi kepada para umat muslim yang bermain di sana.

Contohnya Blackburn Rovers yang tahun lalu mengizinkan umat muslim di sekitar kota Blackburn untuk menggunakan stadion mereka untuk menunaikan Sholat Ied. Selain Blackburn, Chelsea juga baru saja menggelar agenda buka puasa bersama di Stamford Bridge. The Blues bahkan jadi klub Premier League pertama yang menggelar bukber di stadion mereka.

Sungguh indah melihat keberagaman yang bisa melebur dan menimbulkan kedamaian yang hakiki. Namun, kedamaian ini dicapai bukan dengan cara yang mudah. Toleransi kepada umat muslim di daratan Britania Raya dibangun dengan susah payah dalam beberapa tahun terakhir. Dan salah satu sosok yang berperan untuk itu adalah bintang Liverpool, Mohamed Salah.

Perjalanan Panjang Membawa Salah ke Liverpool

Salah tak sekadar pemain sayap yang piawai mencetak gol. Namun, kapten tim nasional Mesir itu bisa dibilang duta Islam di belahan dunia bagian barat. Nyatanya, berseragam Liverpool tahun 2017 bukan kali pertama Salah menginjakkan kaki di Inggris. Pria kelahiran tahun 1992 itu sudah pernah berlaga di sepakbola Inggris setelah didatangkan oleh Chelsea pada tahun 2014 silam. 

Namun, karirnya di Chelsea tak berjalan lancar. Ia hanya jadi pemain yang selalu dipinjamkan. Tepat pada Februari 2015, Chelsea meminjamkan Salah ke klub Italia, Fiorentina, sebelum akhirnya memulai karir cemerlangnya bersama klub Serie A lainnya, AS Roma.

Setelah tak beruntung di Stamford Bridge, Salah menemukan sentuhan terbaiknya bersama Serigala Roma. Datang sebagai pemain pinjaman, i Lupi yang puas dengan performa Salah akhirnya menyodorkan kontrak permanen kepadanya. Skill olah bola yang kian meningkat, Salah pun diboyong lagi ke Inggris. Kali ini oleh Liverpool.

Meledak Dalam Arti Positif

Meski dihantui kegagalan di Inggris ketika berseragam Chelsea, Salah dengan percaya diri mencoba peruntungan keduanya di Inggris. Ia yakin kalau kualitasnya sudah cukup untuk bersaing di liga paling populer di dunia ini. Bukan lagi dipandang sebagai pemain gagal, pemain yang mengawali karir profesional di klub El Mokawloon itu menjadi representasi kebangkitan Liverpool.

Pemain yang mengidolakan Muhammad Ali ini mencapai puncak performanya ketika berseragam The Reds. Ia bahkan langsung jadi pemain terbaik Liverpool di bulan pertamanya. Penampilan Mo Salah berhasil menambal lubang yang menganga di lini depan Liverpool setelah ditinggal Philippe Coutinho ke Barcelona tahun 2018.

Musim 2017/18 Salah melengkapi Roberto Firmino dan Sadio Mane yang sudah lebih dulu mengisi lini depan The Reds. Membangun koneksi yang luar biasa dengan Firmino dan Mane, Salah tampil meledak-ledak. Kecepatan dan ketajamannya di depan gawang membuat pertahanan lawan kocar-kacir.

Dengan cepat Salah jadi lumbung gol Liverpool musim tersebut. Ia bahkan menyabet gelar individu sebagai pencetak gol terbanyak Liga Inggris selama dua musim berturut-turut dengan 32 gol dan 22 gol-nya. Tak hanya itu, ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Inggris tahun 2018. Salah bahkan mengantarkan Liverpool berbuka puasa gelar Liga Inggris di musim 2019/20.

Salah dan Selebrasi Sujud Syukur

Kedatangan Salah tak hanya menjadi berkah buat Liverpool, melainkan juga bagi persepakbolaan Inggris. Tak hanya trofi, pesepakbola asal Mesir itu juga menghadirkan kedamaian di Liga Inggris. Salah yang beragama Islam tak malu menunjukan jati dirinya. Ia bahkan tak ragu untuk melakukan selebrasi sujud syukur. Semakin banyak gol yang dicetaknya semakin sering pula kita melihat selebrasi syukur tersebut.

Aksi berdoa dan sujud syukur yang kerap dilakukan Salah tak berujung hujatan, malah justru yel-yel penyemangat yang didapat. Pengaruh Salah di Anfield itu membuat dirinya mudah untuk dicintai fans. Mungkin bisa dibilang namanya jadi lagu wajib yang harus dinyanyikan setelah “You Never Walk Alone”. 

Bahkan di chant yang mengadopsi musik Dodgy berjudul “Good Enough” itu liriknya diubah khusus untuk Salah. Bunyinya, “If he scores another few, then I’ll be Muslim too. Sitting in the mosque, that’s where I wanna be!”. Yang mana memiliki arti, “jika Salah terus mencetak gol, fans jadi ingin masuk islam juga”. 

Bahkan di bait kedua, para fans menunjukan rasa ingin datang ke tempat ibadah yang sama dengan Salah dan ini memang benar adanya. Menurut Sky Sport, Kepala Masjid pertama Inggris, Mumin Khan percaya penyerang Liverpool tersebut telah membantu meningkatkan rasa ingin tahu tentang agama Islam dan menantang persepsi negatif kepada komunitas Muslim di sekitar kota Merseyside.

Menurunkan Angka Islamophobia di Inggris

Efek dari selebrasi Salah di lapangan tak cuma menghasilkan teriakan yang membuat para fans The Reds ingin sholat berjamaah bersama Salah di masjid, melainkan juga turut mengurangi Islamofobia di Britania Raya. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford di AS menemukan bahwa terjadi penurunan kejahatan rasial di wilayah Merseyside sebanyak 18,9% sejak Salah gabung Liverpool pada 2017 kemarin. Mengacu pada penelitian dan catatan Premier League, terdapat penurunan kejahatan berdasarkan ras, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya.

Salah telah menjadi cara baru selain perdagangan dan perkawinan untuk mengajarkan toleransi dan pemahaman tentang islam kepada masyarakat Inggris. Dia bukan hanya pesepakbola hebat. Melainkan sosok yang mengubah cara pandang masyarakat Inggris terhadap agama Islam.

Salah yang Menginspirasi

Selain sebagai pesepakbola, Salah telah membangun citra sebagai seorang ayah dan teman yang baik. Ia berhasil menghancurkan label Islam sebagai agama yang katanya mengancam. Salah satu orang yang merasakan dampak langsung dari dakwah Mo Salah di persepakbolaan Inggris adalah Ben Bird.

Menariknya, Ben bukanlah penggemar Liverpool, melainkan seorang penggemar Nottingham Forest. Pria yang sebelumnya membenci Islam itu, kini menjadi seorang mualaf setelah terinspirasi pemain asal Mesir tersebut. Lantas, apabila dia bukan fans Liverpool, bagaimana bisa ia terinspirasi oleh Salah? 

Ini jadi bukti bahwa pengaruh Salah tak hanya untuk fans The Reds, tapi lebih luas dari itu. Mengutip dari The Guardian, semua berawal saat Ben mengambil Studi Timur Tengah di Universitas Leeds. Saat ia mendapat tugas membuat disertasi, dosen pembimbingnya yang tau Ben merupakan fans sepakbola menyarankan untuk membahas soal nyanyian fans Liverpool untuk Salah.

Sebetulnya Ben tak begitu terkesan dengan lagu tersebut, tapi setelah mengulik dan mempelajarinya lebih dalam ia tersentuh. Ben sungguh bersyukur mengambil jurusan kuliah itu, sehingga punya kesempatan lebih mengenal Islam secara akademis. Bahkan ia kini berstatus sebagai mualaf dan menganggap Salah sebagai tokoh Islam pertama yang menginspirasinya.

Berkat pengaruhnya dalam menurunkan angka rasisme terhadap umat muslim di Inggris, penyerang Liverpool tersebut juga masuk dalam 100 orang paling berpengaruh tahun 2019 versi majalah Time. Masyaallah, sehat selalu ya akhi Salah…

https://youtu.be/2xudD6ryCr4

Sumber: The Guardian, Sky Sport, Independent, BRfootball, Time

Kisah Medhi Benatia Menyingkir dari Eropa demi Lingkungan Islami

0

Hidup adalah serangkaian kejutan yang harus dilewati. Medhi Benatia mendalami betul kredo tersebut. Dalam menjalani kariernya di dunia sepak bola, Benatia menciptakan kejutan dengan menyingkir dari sepak bola Eropa dan memilih terbang ke Asia.

Itu ia lakukan bahkan ketika kariernya di Eropa masih bisa diselamatkan. Masih bisa terus bertarung mengadu nasib di level top. Namun, Benatia memilih menghentikan laju kariernya di level atas. Dia menarik diri dari sepak bola Eropa lantaran keyakinan yang dianutnya.

Demi Islam ia melepaskan seluruh kesempatan untuk mendapat trofi bergengsi Eropa. Untuk Islam Benatia menolak keras tawaran dari raksasa Inggris untuk terbang ke Qatar. Bergabung dengan salah satu tim adidaya dari Qatar Stars League.

Awal Karier Benatia

Namanya Medhi Amine El Mouttaqi Benatia atau Medhi Benatia. Dalam tulisan Arab, sejatinya ejaan namanya Mehdi Benatia. Namun, dalam aksara latin ia lebih sering disebut Medhi Benatia. Pria ini lahir di bekas komune di pinggiran selatan Kota Paris, Prancis, Courcouronnes.

Ayahnya berkebangsaan Maroko. Sementara ibundanya adalah perempuan yang lahir di Aljazair. Kelak alih-alih membela tempat kelahirannya, Benatia mengambil kewarganegaraan Maroko dan memperkuat Timnas Maroko.

Namun, pria yang lahir 17 April 35 tahun yang lalu itu pernah membela Timnas Prancis level U18. Tapi Benatia memutuskan mengikuti ayahnya dan membela Timnas Maroko U20 dan menjalani debutnya di tim senior pada 2008.

Benatia mengawali karier dari klub Prancis, Marseille. Ia bergabung tahun 2003 dan baru menandatangani kontrak secara profesional dua tahun kemudian. Akan tetapi, Les Olympiens justru meminjamkannya ke dua klub Prancis lainnya, Tours dan Lorient. Pada tahun 2008, Benatia justru pergi dengan status bebas transfer ke klub Ligue 2, Clermont.

Pertama Kalinya Hijrah ke Serie A

Angin nasib membawa Benatia ke kompetisi sepak bola Italia. Pada tahun 2010, ia merapat ke salah satu klub Serie A, Udinese Calcio juga dengan status bebas transfer. Dari sinilah Benatia menyulam benang emas kariernya di Serie A.

Pemain yang berposisi bek itu mencatatkan 80 penampilan liga bersama Udinese. Ia juga mengemas enam gol. Penampilan impresifnya selama berseragam Zebrette menggoda klub lain untuk meminangngnya. Raksasa ibukota, AS Roma memenangkan hati Benatia.

Dia dibawa ke Roma dengan banderol 13,5 juta euro (Rp220,1 miliar) pada tahun 2013. Benatia mendapat kontrak berdurasi lima tahun. Petualangannya bersama i Lupi berbuah manis. Penampilannya di sana begitu menyenangkan.

Medhi Benatia turut membantu AS Roma finis di peringkat kedua di Serie A musim 2013/14. Sebagai seorang bek, ia tidak hanya memainkan 33 laga Serie A, tapi juga sukses mengantongi lima gol di akhir musim.

Kejayaan di Bayern Munchen

Mantranya bersama i Lupi nyatanya cuma bertahan semusim. Agustus 2014, Benatia sudah diumumkan sebagai pemain Bayern Munchen. The Bavarians memenangkan perburuan Benatia yang kala itu juga diminati Barcelona, Real Madrid, Chelsea, dan Manchester City.

Benatia diboyong ke Allianz Arena dengan biaya 26 juta euro (Rp424 miliar) lengkap dengan kontrak lima tahun. Akan tetapi kepindahannya ke Bayern Munchen sempat menyita perhatian. Benatia mengaku kecewa meninggalkan AS Roma.

Dalam laporan Roma Press, Benatia diberi tahu bahwa ia memang harus pergi karena klub membutuhkan uang. Giallorossi disebutnya tim yang suka menjual pemain demi uang. Namun, mantan Presiden AS Roma, James Pallotta menjawab tuduhan itu dengan mengatakan apa yang dikatakan Benatia tidak benar.

Dilansir Sportsmole, Pallotta justru menyebut Benatia lah yang beracun. “Saya memberi tahu Walter Sabatini (direktur olahraga) bahwa dia (Benatia) beracun, dan saya ingin dia pergi,” katanya. Keinginan itu disetujui pelatih Roma, Rudi Garcia dan Sabatini.

Apa pun itu, keputusan Benatia bergabung ke Bayern Munchen sangatlah tepat. Di sanalah sang pemain mulai memanen trofi. Benatia tampil yahud di Bundesliga dan Liga Champions. Dia rajin menyuplai bola selama pertandingan Liga Champions musim 2014/15.

Sayangnya, Bayern Munchen disingkirkan Barcelona di semifinal. Walau gagal, Benatia mempersembahkan trofi Bundesliga musim itu. Musim berikutnya, ia terlibat mengawinkan trofi DFB Pokal dan Bundesliga.

Kiprah di Timnas

Seperti yang sudah diceritakan tadi. Benatia menjalani debut di Timnas Maroko tahun 2008. Mulai saat itu, dia langganan Timnas Maroko. Bahkan sebelum berseragam Bayern Munchen. Benatia telah menata reputasinya sebagai salah satu bek tengah terbaik Serie A.

Dia tinggi, memiliki teknik yang baik, kuat, atletis, mempunyai keterampilan bertahan yang mumpuni, dan satu yang membuatnya istimewa. Benatia terampil dalam memimpin pertahanan sekaligus mengalirkan bola.

Benatia menjadi kapten Timnas Maroko di Piala Afrika 2017. Sayangnya, pada kompetisi di Gabon itu, Maroko tersisih di perempat final oleh Mesir. Mengejutkannya, pada tahun yang sama Benatia mundur dari timnas. Ia baru bergabung lagi setelah menjadi pemain reguler di Juventus.

Golnya ke gawang Pantai Gading dalam kemenangan 2-0 mengantarkan Singa Atlas ke Piala Dunia 2018. Itu adalah piala dunia pertama Maroko setelah absen 20 tahun. Bagi Benatia momen itu adalah yang terindah dalam kariernya.

Juventus dan Rasisme

Setelah dari Bayern Munchen, Benatia kembali lagi ke Serie A. Juventus meminjamnya pada 2016 dengan opsi pembelian. Musim pinjamnya di Juventus, Benatia mengantarkan trofi Serie A dan Coppa Italia.

Juventus pun mempermanenkannya untuk musim 2017/18 dengan banderol sekitar 16 juta euro (Rp260,8 miliar) dengan kontraknya hingga 2020. Benatia turut mengantarkan Juventus raih scudetto pada musim itu dan musim 2018/19. Plus satu lagi trofi Coppa Italia musim 2017/18.

Kehadiran Benatia di Juventus juga dipenuhi kontroversi. Ia pernah berdebat dengan wasit Michael Oliver pada leg kedua perempat final Liga Champions 2018 menghadapi Real Madrid. Waktu itu, Juve sebetulnya bisa memaksa laga ke babak tambahan.

Juve sudah kalah 3-0 di leg pertama, dan di laga itu sudah menang 3-0. Tapi Benatia dianggap melakukan pelanggaran di kotak penalti di menit akhir. Penalti pun diberikan Real Madrid dan akhirnya Juve tersingkir. Benatia muak pada pengadil yang memimpin pertandingan itu.

Saat masih berstatus pemain Bianconeri, Benatia juga pernah mendapat perlakuan rasis. Sewaktu diwawancarai saluran TV Italia, Rai Due, ia mendengar pelecehan rasis. Benatia pun menghentikan wawancara. Perusahaan televisi akhirnya meminta maaf.

Gabung Al-Duhail demi Anak-anak

Pada 2019, saat usianya masih 31 tahun, masih sangat matang sebagai pesepakbola, Benatia diberondong tawaran dari klub besar. Salah satu yang paling serius adalah Manchester United. Setan Merah berniat memboyongnya ke Premier League dan tetap bermain di Eropa.

Tapi ia menolak tawaran itu. Pada Januari tahun tersebut, Benatia justru menandatangani kontrak dengan klub Qatar, Al-Duhail berharga 8 juta euro (Rp130 miliar). Keputusan itu menuai kritik dari banyak pihak, termasuk pengamat olahraga di Maroko.

Keputusan itu bisa mengancam posisinya di Timnas Maroko. Namun, dilansir Goal, Benatia memohon agar semua menghormati keputusannya pindah ke Qatar. Dia menyingkir dari sepak bola Eropa demi agama dan keluarganya.

Dilansir Football Italia, Benatia pindah ke Qatar demi anak-anaknya. Dia ingin sang buah hati tumbuh di lingkungan yang Islami. Maka dari itu, ia tolak tawaran yang datang, bukan hanya dari MU, melainkan juga yang datang dari AC Milan, Arsenal, dan mantan klubnya, Marseille.

Benatia juga mengatakan Al-Duhail pilihan terbaik untuk keluarganya dan tetap bisa berprestasi. Dia tak masalah jika tak dipanggil timnas. Namun, ia mengatakan ada banyak pemain Maroko yang bermain untuk timnas dan klub dari Negara Teluk.

Keputusan berpindah klub demi agama itu, konsisten dipegangnya. Pada 2021, setelah dari Al-Duhail, Benatia merapat ke klub Turki, Fatih Karagumruk. Sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu pada 18 November 2021.

https://youtu.be/R8nZHueaV3c

Sumber: MozzartSport, GOAL, MoroccoWorldNews, Ahram, Football-Italia, Sportsmole, Romapress

Berita Bola Terbaru 27 Maret 2023 – Starting Eleven News

HASIL KUALIFIKASI EURO 2024

Dalam lanjutan laga kualifikasi Euro 2024, Italia berhasil memetik tiga poin dari Malta setelah menang 2-0. Gol Italia dicetak oleh Mateo Retegui menit 15 dan Matteo Pessina menit 27. Kemenangan ini kembali membawa anak asuh Roberto Mancini ke peringkat dua klasemen sementara Grup C. Sedangkan Malta terbenam di dasar klasemen.

Di pertandingan lain, Portugal mencukur habis Luxembourg dengan skor 6-0. Cristiano Ronaldo jadi bintang lapangan dengan mencetak brace di menit 9 dan 31. Sisanya gol dicetak bergantian oleh Joao Felix, Bernardo Silva, Rafael Leão, dan Otavio. Kemenangan ini membuat Portugal kian kokoh di puncak klasemen sementara Grup J. 

Hasil positif juga diraih Inggris setelah menaklukan Ukraina dengan skor 2-0. Gol The Three Lions dicetak oleh Harry Kane menit 37 dan Bukayo Saka menit 40. Tiga poin penting ini membuat anak asuh Gareth Southgate memuncaki klasemen Grup C dengan torehan enam poin. Sedangkan Ukraina masih tertahan di urutan empat klasemen sementara 

DI LAGA KONTRA INGGRIS, FANS UKRAINA EJEK VLADIMIR PUTIN

Selain penampilan Timnas Inggris yang menawan di laga kontra Ukraina, ada hal menarik yang terjadi di tengah-tengah laga tersebut. Dilansir Daily Mail, fans Ukraina menyanyikan lagu ejekan untuk presiden Rusia, Vladimir Putin. Setelah menyanyikan beberapa lagu, mereka menerbangkan pesawat kertas yang dibuat dari lirik lagu tersebut. Fenomena ini tak terlepas dari peristiwa tak mengenakan yang dialami Ukraina beberapa bulan lalu.

ITALIA INGIN NATURALISASI PEMAIN MUDA ARGENTINA

Setelah mengamankan Mateo Retegui, kini federasi sepakbola Italia ingin mengamankan satu lagi pemain Argentina berdarah Italia lain. Dilansir Football Italia, Timnas Italia dikabarkan sedang berupaya untuk menaturalisasi pemain sayap Velez Sarsfield yang berusia 17 tahun, Gianluca Prestianni. Federasi sepakbola Italia sedang mempercepat prosesnya. Menurut laporan, Prestianni bisa mendapat paspor Italia dalam kurun waktu sebulan kedepan.

DRAWING PIALA DUNIA U-20 DI BALI BATAL

Kabar mengejutkan kembali datang dari persepakbolaan Indonesia. FIFA membatalkan drawing Piala Dunia U-20 yang seharusnya digelar di Bali pada 31 Maret 2023. Dilansir Detik, hal itu menyusul munculnya gelombang penolakan terhadap keikutsertaan Timnas Israel. Sebelumnya, PSSI sudah melakukan upaya negosiasi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster perihal pelaksanaan drawing Piala Dunia U-20 2023. Namun, Koster tetap kekeh menolak drawing dan kedatangan Timnas Israel.

ARGENTINA SIAP GANTIKAN INDONESIA JADI TUAN RUMAH PIALA DUNIA U-20

Setelah kabar drawing Piala Dunia U-20 di Bali telah dibatalkan mencuat, beredar rumor soal status tuan rumah yang dimiliki Indonesia. Dilansir CNN Indonesia, pembatalan drawing ini disebut-sebut akan menimbulkan efek domino. Ada potensi Piala Dunia U-20 yang seharusnya digelar 20 Mei mendatang akan mundur, bahkan dibatalkan. Melihat potensi ini, Argentina yang tak lolos ke putaran final siap untuk menggantikan Indonesia sebagai tuan rumah. Dengan berstatus tuan rumah Argentina otomatis akan lolos ke putaran final Piala Dunia U-20.

HARRY KANE DIANUGERAHI SEPATU EMAS OLEH FA

Dengan 55 golnya, Harry Kane dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Timnas Inggris. Mengutip BRfootball, untuk memberikan penghargaan atas pencapaiannya, Inggris memberikan trofi berbentuk sepatu emas di laga kontra Ukraina semalam. Melalui akun resmi media sosialnya. Timnas Inggris menampilkan Kane yang sedang menerima sepatu emas jelang laga kontra Timnas Ukraina.

CONTE RESMI TINGGALKAN SPURS

Tottenham Hotspur dikabarkan resmi memecat pelatihnya, Antonio Conte. Dilansir Goal, Conte menyatakan berpisah dengan Spurs melalui kesepakatan bersama. Menurut laporan, pemecatan Conte tak terlepas dari performa yang di bawah standar dan perkataannya yang menyinggung pemilik klub, Daniel Levy. Kabarnya, Cristian Stellini akan menggantikan Conte hingga akhir musim mendatang.

PERPANJANGAN KONTRAK N’GOLO KANTE MEMASUKI BABAK FINAL

Pembicaraan soal perpanjangan kontrak N’golo Kante dengan Chelsea telah memasuki babak final. Dilansir The Sun, dalam beberapa bulan terakhir, Chelsea sudah melakukan pembicaraan dengan pihak Kante, dan tampaknya sang gelandang terbuka dengan segala kemungkinan. Namun, Kante dilaporkan lebih mengutamakan untuk bertahan di Chelsea ketimbang hengkang.

LAGA LAWAN MADRID JADI PENENTU MASA DEPAN JOAO FELIX DI CHELSEA

Masa depan Joao Felix di Chelsea belum menemui titik terang. Kabarnya manajemen klub akan memutuskan masa depan sang pemain usai laga penting di Liga Champions. Dilansir Football Espana, Chelsea akan menggunakan pertandingan perempat final Liga Champions melawan Real Madrid untuk membuat keputusan akhir tentang Joao Felix. Jika sang pemain tampil sesuai ekspektasi, Chelsea bisa fokus untuk mempermanenkan Joao Felix dari Atletico Madrid.

INTER MILAN SERIUS DEKATI LIONEL MESSI

Kabar mengejutkan datang dari sepakbola Italia. Inter Milan dikabarkan tengah serius dalam menjajaki kemungkinan untuk mendatangkan Lionel Messi pada musim panas mendatang. Dilansir Calcio Mercato, kontrak La Pulga yang akan segera habis akhir musim ini akan dimanfaatkan oleh Inter. Mereka berniat untuk mendapatkan Messi dengan status bebas transfer. Manajemen klub akan memanfaatkan Javier Zanetti untuk membujuk sang pemain.

RAFAEL LEAO MASUK RADAR PSG

PSG yang dirumorkan akan kehilangan Lionel Messi pun segera mempersiapkan penggantinya. Dilansir Fichajes, PSG tengah berupaya untuk mendatangkan bintang muda AC Milan, Rafael Leao. Menurut laporan, Leao dianggap sebagai pemain yang tepat untuk menggantikan Messi di PSG. Terlebih sang pemain belum mencapai kesepakatan kontrak baru dengan Milan dan celah itu akan dimanfaatkan oleh PSG.

AUBAMEYANG RELA DAPAT GAJI KECIL UNTUK KEMBALI KE BARCA

Sempat dirumorkan bakal bergabung dengan Inter Milan, Pierre-Emerick Aubameyang tetap membuka peluang untuk kembali ke Barcelona musim depan. Dilansir The Sun, Aubameyang dikabarkan bersedia mendapat gaji kecil demi mengakhiri mimpi buruknya di Chelsea dan kembali ke pelukan La Blaugrana musim depan. Bahkan Aubameyang terlihat mendukung Barca di laga El Clasico beberapa hari lalu.

BALOGUN TAK BURU-BURU INGIN KEMBALI KE ARSENAL

Pemain pinjaman Arsenal yang kini bermain di Stade de Reims, yakni Folarin Balogun tampil memukau di Liga Prancis. Meski demikian, Balogun dikabarkan tak terburu-buru untuk kembali bergabung dengan Arsenal. Dilansir Mirror, meski sang pemain tampil moncer di Ligue 1, Balogun masih membuka pintu untuk klub mana pun. Ia kurang percaya diri dengan posisinya di Arsenal. Mengingat Mikel Arteta sudah mendatangkan Leandro Trossard dan menaruh Eddie Nketiah sebagai pelapis Gabriel Jesus.

ANTHONY ELANGA FRUSTRASI DENGAN MU

Pemain muda Manchester United, Anthony Elanga dikabarkan kurang senang dengan Manchester United. Dilansir The Athletic, Elanga mengaku frustrasi dengan kurangnya waktu bermain di klub. Pemain internasional Swedia itu hanya tampil tujuh kali sebagai starter di bawah Erik ten Hag. Kabarnya, Elanga terbuka untuk menjalani proses peminjaman. Dan Barcelona berminat untuk menggunakan jasa sang pemain.

PHIL FODEN ALAMI USUS BUNTU AKUT?

Pemain sayap Manchester City, Phil Foden dikabarkan akan absen dalam beberapa pertandingan ke depan setelah meninggalkan skuad Timnas Inggris kemarin. Dilansir Sky Sport, Foden dipastikan tak akan bergabung dengan tim di laga kontra Liverpool akhir pekan ini. Menurut laporan yang sama, Phil Foden absen lantaran baru melaksanakan operasi usus buntu akut yang dideritanya. City belum memastikan sampai kapan Foden akan absen.

IBRA BELA CONTE YANG POSISINYA TERANCAM DI TOTTENHAM

Masa depan Antonio Conte di Tottenham terancam, seiring hubungannya dengan petinggi klub yang kurang harmonis. Pihak klub ingin mengadakan pembicaraan dengan Julian Nagelsmann yang baru-baru ini dipecat oleh Bayern munchen. Namun demikian, Zlatan Ibrahimovic memuji manajer asal Italia tersebut karena telah mengungkapkan isi pikirannya. “Setiap orang bekerja dengan caranya sendiri, seseorang mencoba untuk menjadi aktor, pura-pura, seseorang menjadi dirinya sendiri, seseorang mencoba menjadi sempurna,”ujarnya via Sky Sports.

DIISUKAN SUSUL CR7, MODRIC TEGASKAN KATA TIDAK UNTUK AL NASSR!

Gelandang Real Madrid, Luka Modric tengah diisukan akan bergabung dengan Al Nasr. Menanggapi peluang bertemu Cristiano Ronaldo yang merupakan mantan rekannya, Modric menegaskan bahwa dirinya tak berniat susul pemain asal Portugal tersebut. Hal itu disampaikan Modric dalam konferensi pers bersama Timnas Kroasia. Modric mengaku sudah lelah menjawab rumor kepindahannya ke klub Liga Arab Saudi tersebut.

JUVENTUS BAKAL PUSING, LIVERPOOL MAU PULANGKAN ‘MASALAH’ DI AKHIR MUSIM

Arthur Melo, yang dipinjam Liverpool dari Juventus musim panas lalu, gagal berkontribusi di Anfield. Besar kemungkinan Liverpool ogah mempermanenkan servisnya. Dan Dipastikan dia bakalan balik ke Juventus. Menurut Football Italia, ini menjadi masalah besar buat Juventus. Sebab Arthur sama sekali bukan menjadi bagian dari skuad yang ada. Sangat kecil peluang di masuk tim inti. Apalagi bila Massimiliano Allegri tetap duduk di kursi pelatih.

POCHETTINO MASUK DAFTAR INCARAN REAL MADRID

Rumor bahwa Carlo Ancelotti akan meninggalkan kursi pelatih utama Real Madrid, untuk menukangi Timnas Brasil, berhembus kencang. Dan kabarnya, manajemen Real Madrid kini tengah melakukan pendekatan ke sejumlah nama. Menurut laporan Tribalfootball, satu di antaranya mantan pelatih PSG, Mauricio Pochettino. Kebetulan, Pochettino tengah menganggur. Dia belum mendapatkan pekerjaan lagi semenjak dipecat Paris Saint-Germain pada pertengahan tahun 2022.

MU INGINKAN FERGUSON NYA BRIGHTON

Manchester United tertarik untuk memboyong striker internasional Republik Irlandia Evan Ferguson. Menurut Football Insider, United telah mengirim scout talent untuk memantau Ferguson bermain di Brighton. MU tertarik merekrutnya di musim panas mendatang. Kendati demikian, upaya MU untuk mendapatkan pemain 18 tahun itu bakal tidak mudah, sebab Brighton ingin memperpanjang kontrak sang pemain.

MAC ALLISTER DIINCAR CHELSEA

Salah satu pemain kunci Brighton & Timnas Argentina, Alexis Mac Allister, diklaim masuk dalam incaran Chelsea. Mac Allister menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam dua musim terakhir. Mac Allister juga dikenal oleh Graham Potter yang sudah pernah bekerja sama dengannya di Brighton. Mac Allister menjadi satu dari banyak pemain yang masuk dalam pantauan Chelsea untuk memperkuat skuad mereka.

MANCINI SEBUT ITALIA MINIM STRIKER, BALOTELLI MERESPON

Pelatih Timnas Italia, Roberto Mancini menyindir Gareth Southgate dan Inggris dengan mengklaim timnya “lebih buruk”, sebelum meratapi kurangnya opsi pemain depan Italia yang bermain di level papan atas. Mario Balotelli merespon pernyataan Mancini tersebut. Balotelli, yang mencetak 14 gol dalam 36 penampilan internasional tetapi tidak lagi bermain untuk Italia sejak 2018, melalui Instagram menyoroti bahwa di luar sana ada penyerang yang tersedia untuk dipanggil.

JIKA INZAGHI CABUT, INTER MENDING BALIKAN DENGAN CONTE ATAU MOURINHO

Legenda Inter Milan, Alessandro Altobelli tidak puas dengan kinerja Simone Inzaghi pada musim ini. Karena itu, dia menyarankan I Nerazzurri untuk mengganti Inzaghi dengan Antonio Conte atau Jose Mourinho. “Saya tidak yakin antara Conte dan Mourinho. Saya pikir mereka adalah dua pelatih hebat, mereka telah memenangkan banyak trofi di Inter dan saya yakin mereka akan membawa lebih banyak trofi.” ucapnya.

XAVI INGIN GUNDOGAN BERKOSTUM BARCELONA MUSIM DEPAN

Pelatih Barcelona, Xavi Hernandez, ancang-ancang meningkatkan amunisi timnya musim depan. Satu nama masuk radar Xavi. Dia adalah Ilkay Gundogan yang masih berkostum Manchester City. Kontrak sang gelandang dengan City sampai pengujung Juni 2023. Menurut the Athletic, Xavi telah membuat permintaan khusus ke petinggi klubnya untuk mendatangkan Gundogan karena kontrak pemain tersebut di Etihad akan berakhir.

Dianggap Sudah Bukan GOAT, Ronaldo Buktikan Keganasan di Timnas!

Cristiano Ronaldo selalu punya cara untuk mengejutkan para penikmat sepak bola. Rasanya baru kemarin kita setuju kalau Ronaldo sudah keluar dari perdebatan GOAT. Setelah ia gagal di Piala Dunia, dibuang Manchester United, ditolak klub-klub besar Eropa sampai kini bermain di Liga Arab.

Tapi Ronaldo kembali mencuri perhatian lewat penampilan luar biasanya bersama Portugal di babak kualifikasi Euro 2024. Membuatnya jadi sulit untuk dilupakan sebagai salah satu pemain terbaik. Ia sudah mencetak empat gol dari dua laga kualifikasi ini. Dua gol ia ciptakan lawan Liechtenstein dan dua lainnya di laga lawan Luxembourg.

Perjalanan Mengecewakan Ronaldo

Itu semua memang fakta yang mengejutkan bagi para penikmat sepak bola. Mengingat bagaimana ia menangis di terowongan menuju ruang ganti ketika Portugal dihabisi Maroko pada perempat final Piala Dunia 2022 Qatar. Lebih parahnya, Ronaldo turun kasta di dua pertandingan terakhir bersama Portugal di Qatar. Ia jadi pemain yang duduk di bangku cadangan alih-alih

Dan sekitar satu minggu setelah Ronaldo tersingkir dari Piala Dunia dan pulang dengan rasa malu juga ketidakpastian, Lionel Messi mengangkat trofi Piala Dunia. Itu mengakhiri perdebatan GOAT yang sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.

Kemalangan dan nasib buruk masih menghantui CR7 setelah itu. Setelah Piala Dunia berakhir, ia sudah tidak lagi diterima di Old Trafford. Ini buntut dari rentetan konflik yang berlangsung antara dirinya dengan Ten Hag di Manchester United. Dan puncaknya adalah ketika Ronaldo melakukan wawancara kurang ajar dengan Piers Morgan sebelum Piala Dunia dimulai.

Jadi pemain buangan MU dan tidak bisa tampil memukau di Piala Dunia membuatnya tidak diinginkan oleh klub-klub Eropa. Tidak ada klub di liga top Eropa mau mengontrak Ronaldo yang sudah tua dan dianggap sudah waktunya untuk pensiun.

Sampai akhirnya, ia pun setuju menandatangani kontrak sebesar 3,4 juta pounds per minggu untuk bermain di Liga Arab bersama Al Nassr. Ini langkah yang semakin menegaskan kalau era Ronaldo sudah habis. Ia sudah tidak bermain di liga kompetitif lagi.

Masih Dipanggil Timnas

Dilansir dari the athletic hanya ada 55% pendukung timnas Portugal yang menginginkan Ronaldo dipanggil timnas untuk kualifikasi Euro 2024. Sedangkan sebanyak 24% orang yakin kalau Ronaldo sudah tidak pantas lagi bermain di timnas. Sisa 21% lainnya tidak yakin dan tidak bisa memutuskan.

Tapi ini terus jadi perdebatan di Portugal, dengan banyak pendukung Ronaldo berargumen kalau CR7 tidak cukup mendapatkan apresiasi di timnas. Mencoret namanya dari timnas berarti membuang rasa terima kasih Os Navegadores kepada CR7 atas segala hal yang telah ia lakukan untuk negaranya.

Tapi ternyata pelatih baru Portugal, Roberto Martinez masih mau memanggil bintang Al Nassr itu. Ia memang menggunakan skuad Piala Dunia sebagai acuan, dengan memanggil 23 dari 26 pemain yang bertarung di Qatar akhir tahun lalu.

Ia mengaku tetap memanggil Ronaldo berdasarkan rasa hormat. Ia juga percaya kalau Ronaldo masih bisa memberikan dampak terlepas dari usianya yang sudah tua.

“Ronaldo telah bermain untuk tim nasional selama 19 tahun dan dia pantas untuk mendapatkan respect. Dia bisa memberikan pengalaman berharganya dan dia juga sangat sosok yang sangat penting bagi tim. Saya tidak melihat usia” Ungkapnya dikutip dari Talksport.

Cukup dinantikan perjalanan Martinez di timnas Portugal. Sebab survei mengatakan sebanyak 42% yang yakin nasibnya akan lebih buruk dari Fernando Santo.

Pembuktian Ronaldo

Tapi Martinez dan Ronaldo bisa langsung memberikan pembuktian kepada publik di pertandingan pertama kualifikasi Euro 2024. Di pertandingan melawan Liechtenstein pada hari Jumat kemarin, Ronaldo kembali memimpin rekan-rekannya masuk ke lapangan sebagai kapten.

Itu jadi malam penampilan internasionalnya yang ke-197. Ronaldo telah memecahkan rekor sebagai pemain pria dengan penampilan terbanyak di timnas. Faktanya catatan itu melebihi atlet pria manapun dalam sejarah olahraga di dunia.

Tapi ia bermain malam itu bukan hanya untuk memecahkan rekor penampilan terbanyak. Ronaldo juga menyumbang dua gol di laga itu. Satu gol diciptakan dari titik putih, dan yang satunya lagi ia torehkan lewat tendangan bebasnya yang menawan. Laga pun berakhir dengan skor 4-0.

Di pertandingan kedua melawan Luxembourg yang berlangsung pada Senin dini hari, Ronaldo kembali dipercaya jadi starter sekaligus kapten. Ini jadi penampilan ke-198 nya dan CR7 menunjukan kalau dirinya masih haus gol. Portugal menang dengan skor meyakinkan 6-0 dimana Ronaldo mencetak dua gol.

Dengan dua gol itu Ronaldo sudah mencatatkan total 122 gol untuk Portugal. Ia memang sudah jadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Os Navegadores. Tapi dua gol di malam itu membuatnya semakin kokoh di puncak.

Jika jumlah gol dari Pauleta yang merupakan top scorer kedua, Eusebio di peringkat ketiga, juga Luis Figo sebagai pencetak gol terbanyak keempat digabungkan, itu masih kalah dengan gol milik Ronaldo seorang.

Jadi, Masih Pantaskah Masuk Timnas?

Masih ada beberapa pertandingan lagi di fase kualifikasi Euro 2024. Ini artinya Ronaldo masih bisa mencetak rekor-rekor lainnya. 17 Juni nanti Portugal akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Tiga hari kemudian pasukan Roberto Martinez akan melawan Islandia. Jika Ronaldo bermain di dua laga itu, ia akan jadi pemain pertama dan mungkin satu-satunya yang punya 200 caps untuk timnas.

Belum lagi kalau dirinya kembali dipanggil untuk putaran final Euro 2024. Kemungkinan besar, Martinez akan tetap memanggil Ronaldo. Ini keputusan yang bijak jika Martinez mau memenangkan opini publik Portugal. Fernando Martinez saja butuh delapan tahun dan satu trofi Euro untuk berani menaruh Ronaldo di bangkku cadangan. Itupun masih mendatangkan banyak kritik.

Ronaldo memang pemain yang luar biasa. Itu tidak perlu diperjelas lagi. Tapi masih pantaskah ia jadi ujung tombak Os Navegadores, ketika Portugal menghadapi lini bertahan kelas kakap di Euro 2024 nanti? Itu pertanyaan yang tetap harus dijawab secara objektif.

Joao Felix, dengan segala opini yang melabelinya sebagai pemain overrated telah berkembang sebagai pemain dengan substansi yang nyata. Ia kini masih dalam masa peminjaman di Chelsea, ia bermain di liga paling kompetitif di dunia.

Selain itu, juga ada Rafael Leao. Pemain yang masih berumur 23 tahun itu sudah jadi tumpuan utama lini serang AC Milan. Ia membawa Milan kembali bersinar di Champions League setelah redup bertahun-tahun lamanya. Oh iya, tidak ketinggalan Goncalo Ramos yang tampil memukau saat menggantikan posisi Ronaldo di Piala Dunia. Ia telah mencetak 23 gol untuk Benfica musim ini.

Fakta pahit lainnya adalah, Portugal tampil lebih menyatu dan percaya diri ketika Ronaldo tidak merumput. Itu sudah dibuktikan di Piala Dunia kemarin. Situasi inilah yang harus segera dipikirkan Martinez kedepannya. Yang pasti, cepat atau lambat pada akhirnya Portugal harus bisa move on dari Ronaldo.

Sumber referensi:

Terus Buang Pelatih Berkualitas! Deretan Pelatih yang Dipecat Tottenham Hotspur

Kisah lama yang terulang kembali. Manajemen Tottenham Hotspurs kembali memecat pelatihnya. Lagu lama manajemen Spurs kini dialami pelatih sekaliber Antonio Conte.

Riwayat masalah terhadap pemilik, selalu menjadi akar dari para pelatih Spurs disingkirkan. Tak heran siapa pun pelatihnya, akan terus seperti ini pada akhirnya. Berikut pelatih The Lilywhites yang telah jadi korban dari sang pemilik yang katanya “tak jelas” itu.

Martin Jol

Datang ke White Hart Lane November 2004, Martin Jol dianggap memiliki harapan untuk membenahi Tottenham Hotspur. Bersama Jol, The Lilywhites tembus Piala UEFA dua kali beruntun, yaitu pada musim 2006/07 dan 2007/08.

Namun di musim ketiganya, ia mulai memiliki banyak masalah. Salah satunya keinginannya untuk membeli Gareth Bale yang sudah dituruti belum membuahkan hasil positif. Oleh sebab itu, tuntutan besar dari pihak manajemen berimbas pada inkonsistensi performa Martin Jol di awal musim 2007/08.

Dalam 10 laga awal di Liga Inggris, mereka hanya menang sekali. Dan akhirnya, kekalahan 2-1 melawan Getafe di Piala UEFA jadi akhir karir Martin Jol di Spurs. Pemecatan ini adalah buah dari sikap sembrono sang pemilik. Dilansir The Sun, Jol mengetahui dirinya dipecat ketika baru datang di White Hart Lane sesaat sebelum laga kontra Getafe dimulai.

Terkejut dengan pernyataan tersebut, Jol langsung berniat pulang ke rumah. Namun sang asisten, Chris Hughton berhasil membujuknya kembali ke stadion. Jol bahkan dikabarkan sempat bersitegang dengan Levy dan sangat marah atas perlakuan tidak hormat tersebut.

Juande Ramos

Ketika keluar, Juande Ramos masuk menggantikan Martin Jol di Tottenham Hotspur. Ia adalah pelatih yang mengantarkan Sevilla juara Piala UEFA. Penunjukkan Ramos terbilang tepat. Sebab ia seketika memberikan trofi Piala Liga bagi Tottenham. Trofi mayor satu-satunya yang diraih Spurs hingga sekarang.

Dipertahankannya Ramos di musim berikutnya memunculkan kembali harapan. Akan tetapi, Ramos malah sering mengkritik manajemen Spurs karena pemain intinya, Dimitar Berbatov dan Robbie Keane dijual. Perekrutan pemain baru di bawah direktur Damien Comolli pun dianggap biang kerok penurunan performa Spurs musim 2008/09.

Kemarahan Ramos itu sampai ke telinga pemilik. Alhasil tak ada toleransi bagi Ramos. Disaat yang bersamaan, performa anak asuh Ramos juga jeblok. 8 laga awal The Lilywhites diraih tanpa kemenangan. Spurs pun terjerembab di zona degradasi. Ramos pun dipecat pada Oktober 2008. Ia dipecat semalam sebelum laga melawan Bolton di Liga Inggris.

Harry Redknapp

Kedatangan Redknapp di Spurs langsung memberi imbas setelah menggantikan Juande Ramos. Performa Spurs kembali naik. Spurs dibawanya naik level masuk Liga Champions pada musim 2010/11.

Akan tetapi, kegagalan Roy Hodgson di EURO 2012 sebagai pelatih Timnas Inggris mendorong kepergian Harry Redknapp dari Tottenham. Saat itu, federasi sepakbola Inggris, FA mencoba mencari pengganti Roy Hodgson. Mendengar kabar itu, Redknapp menyanggupi untuk melatih Inggris.

Padahal ia sedang terikat kontrak dengan Spurs. Levy pun marah. Hubungan Redknapp dan pemilik Spurs itu pun renggang. Akhirnya Redknapp benar-benar dipecat pada tahun 2012.

Andre Villas Boas

Pengganti Redknapp adalah Andre Villas Boas. Pelatih muda Portugal yang hanya semusim menangani Chelsea. Namun kedatangannya justru Spurs banyak menuai masalah. Selain banyak pemain bintang yang pergi, prestasinya juga masih kalah jauh dibanding Redknapp.

Spurs kembali tak mampu masuk zona Liga Champions. Pemain seperti Luka Modric dan Gareth Bale juga hengkang ketika Spurs ditanganinya. Pembelian banyak pemain dari hasil jual mahal Gareth Bale pun tak membuahkan hasil yang positif.

Justru malah di musim keduanya, Spurs sering dibantai. Termasuk dua pembantaian 6-0 melawan City di Etihad, dan 0-5 di kandang sendiri oleh Liverpool. Pembantaian itulah yang akhirnya mengakhiri karier Villas Boas di Spurs.

Menurut kabar internal, selain hasil minor tersebut ada alasan lain kenapa ia dipecat di tengah jalan adalah karena berani menentang Levy. Levy ingin Emmanuel Adebayor dimainkan agar nilai jualnya naik. Tapi Villas Boas mengabaikan permintaan itu.

Mauricio Pochettino

Setelah dilatih semantara oleh Tim Sherwood, Levy akhirnya menunjuk pelatih baru di musim 2014/15. Ia adalah mantan pelatih yang sukses bersama Southampton, Mauricio Pochettino.

Keahliannya memoles pemain muda dan murah menjadi pemain bintang yang berharga tinggi, sangat disukai Levy. Terbukti pemain macam Kyle Walker, Trippier, Son maupun Harry Kane muncul di era Pochettino

Dengan dana yang tak terlalu besar, ia sudah bisa meramu tim jadi langganan Liga Champions. Ia juga membawa The Lilywhites runner up Liga Inggris musim 2016/17. Ditambah pencapaiannya di Liga Champions yang mampu menjadi finalis di 2018/19. Namun apa yang terjadi setelah itu?

Pochettino mengalami masalah di awal musim 2019/20. Lima laga Liga Inggris di bulan Oktober-November ia tak pernah menang. Tersingkir di Piala Liga oleh Doncaster, serta kekalahan 7-2 di Liga Champions melawan Munchen, membuat dirinya mulai dievaluasi.

Menurut Sky Sports, Pochettino mengaku dirinya tak diberi wewenang lebih dalam mendatangkan pemain musim itu. Kebijakan Spurs di bursa transfer musim itu pun sempat membuatnya jengkel.

Dilansir The Times, Pochettino telah melakukan pembicaraan panjang dengan Levy untuk menentukan masa depannya. Laporan tersebut menyebut bahwa Pochettino menolak permintaan klub yang menyuruhnya mundur dari kursi pelatih. Alhasil Levy pun marah dan tanpa ampun memutus kontraknya beserta seluruh gerbong stafnya pada November 2019.

Jose Mourinho

Tepat 24 jam setelah pemecatan Pochettino, Jose Mourinho langsung ditunjuk sebagai pelatih baru Spurs. Namun pada akhirnya petaka juga menghampiri karir The Special One di Spurs. Ia yang dipuji setinggi langit oleh Levy pada masa awal kedatangannya malah dipermalukan ketika dipecat sebelum Final Carabao Cup dihelat.

Itu adalah pertama kalinya dia meninggalkan klub tanpa memenangkan trofi. Pemberhentian dadakan Mourinho itu memunculkan tanda tanya. Ada yang mengatakan pemilik tak sabar dengan gaya main Mourinho yang usang dan cenderung bertahan. Ada juga yang menyebut Mourinho sering mengkritik pemain jika tak perform.

Dan ada pula yang menyebut bahwa ia menginstruksikan para pemainnya untuk tidak datang berlatih karena kebijakan pemilik yang pro terhadap pembentukan Liga Super Eropa. Atas semua hal itulah, kemarahan Levy memuncak. Pelatih sekaliber jaminan trofi seperti Mourinho pun bisa jadi korban kekejaman Levy.

Nuno Espírito Santo

Setelah memecat Mourinho, Spurs justru kesulitan mencari penggantinya. Paulo Fonseca, Gattuso, sampai Antonio Conte menolak saat itu. Pilihan justru jatuh pada Nuno Espirito Santo, eks pelatih klub medioker lainnya, Wolverhampton. Awal kedatangannya saja, ia sudah diremehkan.

Nuno kurang mendapat kepercayaan dari para pemainnya. Banyaknya opsi dan dana yang digelontorkan, justru membuatnya kelabakan saat melatih The Lilywhites. Harapan agar Spurs main cantik di eranya, diruntuhkan oleh dirinya sendiri.

Terdampar di papan tengah Liga Inggris hingga November, membuat Levy tak ambil pusing memecat dirinya. Nuno pun menyesal dan sempat curhat bagaimana kejamnya dunia sepakbola terutama di kubu Spurs.

Antonio Conte

24 jam setelah pemecatan Nuno, Antonio Conte yang sempat menolak di awal musim dikabarkan bersedia menerima pinangan Spurs asal permintaannya dipenuhi Levy. Jadilah Conte diangkat sebagai manajer baru dan merombak tim dengan sistem serta pemain baru yang didatangkannya.

Sempat berhasil menuai pujian di musim pertamanya setelah masuk ke Liga Champions, namun memasuki musim keduanya masalah mulai menerpanya. Para pemain cenderung inkonsisten dan tak mendukungnya. Conte nampak kesulitan membangun tim ini dengan kendali dan tuntutan yang besar.

Levy tak mau uang yang sudah banyak dihamburkan tak membuahkan hasil. Ironisnya di tengah kompetisi, Conte justru mengamuk. Pelatih asal Italia menghardik para pemainnya yang loyo di tengah hasil minor Tottenham Hotspur. Conte tidak hanya menyemprot para pemain, tapi juga manajemen.

Ia mengatakan, jika manajemen masih mempertahankan sikapnya, pelatih mana pun akan bernasib sama. Puncaknya, Conte diberhentikan sebagai pelatih pada Maret 2023. Posisinya kini diambil alih asistennya, Cristian Stellini yang dibantu Ryan Mason sebagai asisten hingga akhir musim.

https://youtu.be/KDIGv0qA8w8

Sumber Referensi : bleacherreport, theguardian, bleacherrport, bbc, espn, skysports, goal

7 Pemain Ini Jadi Gacor Setelah Ganti Posisi

Kita tentu masih ingat bagaimana ganasnya Gareth Bale bermain di sisi kiri melawan Inter Milan di tahun 2010. Ia dengan mudahnya mencetak hattrick di San Siro malam itu. Meskipun pertandingan berakhir dengan skor 4-3, tapi dari situ dunia mulai mengenal Bale sebagai pemain sayap mematikan.

Menjadi pemain sayap adalah peran yang baru untuk Bale saat itu. Ia bahkan masih menggunakan nomor punggung 3 dan masih terdaftar sebagai bek kiri Tottenham. Tapi siapa sangka ia jadi tambah gacor setelah berganti peran. Selain Bale, ada juga banyak pemain lainnya yang tambah gacor setelah ganti posisi. Berikut adalah daftarnya.

Javier Mascherano

Di tahun 2010, Javier Mascherano datang ke Barcelona sebagai gelandang bertahan yang hebat dari Liverpool. Tapi meskipun ia adalah gelandang yang mumpuni di Premier League, Pep Guardiola tidak nyaman untuk menempatkan ia ke posisi aslinya. Memang, saat itu lini tengah Barca sudah sempurna dengan trio Sergio Busquets, Xavi, dan Iniesta.

Jadi, Pelatih legendaris itu meminta Mascherano untuk menjadi seorang bek tengah. Ternyata itu berjalan dengan lancar. Sejak saat itu, Mascherano pun mantap berpindah posisi menjadi seorang bek tengah.

Pemain asal Argentina itu pun mulai berlatih sebagai bek tengah. Penampilan paling ikoniknya adalah ketika melawan Belanda di Piala Dunia 2014. Ketika itu ia mampu menghentikan pergerakan Arjen Robben di depan gawang dengan sempurna.

Vincent Kompany

Cerita serupa datang dari Vincent Kompany. Ketika dibeli oleh Manchester City di tahun 2008, ia merupakan seorang gelandang tengah. Namun ketika Roberto Mancini mengambil alih kursi kepelatihan, Kompany diberi peran baru sebagai bek tengah.

Sejak saat itu ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lini belakang Manchester City. Meskipun begitu, Kompany masih memiliki skill mencetak gol dan umpan panjang layaknya seorang gelandang. Ia bahkan masih bisa mencetak beberapa gol penting untuk City. Ia juga punya peran besar dalam membawa the citizen menjuarai Premier League pertamanya di tahun 2011.

Andrea Pirlo

Andrea Pirlo adalah seorang gelandang serang ketika ia masih bermain untuk Brescia, Reggina, sampai ke Inter. Tapi ketika dirinya pindah ke AC Milan, Carlo Ancelotti punya ide untuk menempatkan Pirlo ke posisi gelandang bertahan. Ini awalnya dianggap sebagai ide gila. Tapi Ancelotti dan Pirlo saling percaya satu sama lain.

Dari situlah Pirlo mendapatkan kemampuan playmaking luar biasa disaat dirinya bermain sebagai gelandang bertahan. Sampai sekarang, tidak ada regista lain yang lebih baik daripada dirinya. Tidak ada yang bisa menyangkal hal itu.

Antonio Valencia

Antonio Valencia digadang-gadang jadi pemain pengganti Cristiano Ronaldo di Old Trafford. Performanya sebagai sayap memang tidak diragukan. Tapi penampilannya mulai menurun setelah ia memakai nomor punggung 7 yang keramat.

Penurunan performa itu memaksa dia harus beradaptasi. Sir Alex sebenarnya sudah beberapa kali bereksperimen dengan memasangnya sebagai bek kanan. Tapi sang bos kurang merasa cocok dan lebih suka Rafael da Silva yang mengisi posisi itu.

Di musim 2014/15 Rafael dibuang oleh Louis van Gaal dan sejak saat itu, Valencia mulai dipercaya untuk jadi bek kanan. Peran itu semakin nyaman ia mainkan sampai-sampai di tahun 2017, Jose Mourinho melabeli Valencia sebagai bek kanan terbaik di dunia.

Bastian Schweinsteiger

Tidak banyak yang tau kalau Bastian Schweinsteiger dulunya adalah seorang gelandang sayap. Ia memang bukan sayap yang mengandalkan dribbling dan kecepatan seperti sayap zaman sekarang. Melainkan gelandang sayap yang bertugas untuk memberikan umpan panjang dan crossing.

Peran itu sudah melekat padanya ketika ia masih bermain di akademi dan beberapa tahun awal karir profesionalnya. Hingga akhirnya di musim 2009/10, pelatih munchen saat itu Van Gaal memindahkan Schweini ke posisi gelandang tengah yang lebih kebelakang.

Itu jadi identitasnya di tahun-tahun setelahnya. Performa yang tidak terlupakan ia tunjukan di final Piala Dunia 2014 melawan Argentina. Schweini memimpin lini tengah der panzer jadi tidak tertembus di tengah gempuran Messi dkk.

Thierry Henry

Ancelotti memang jenius setelah memindah posisi Pirlo di Milan. Tapi Ancelotti juga punya kesalahan. Kesalahan terbesarnya adalah memasang Henry sebagai winger di Juventus. “Saya tidak sadar kalau Henry bisa dimainkan sebagai ujung tombak. Dia tidak pernah bilang” Ungkap Don Carlo dikutip dari bleacher report.

Untungnya ada satu orang yang menyadari kesalahan Ancelotti saat itu. Orang itu adalah Arsene Wenger. Saat ia membeli Henry dengan harga 12 juta pounds di tahun 1999, banyak orang yang ragu. Wajar, ia hanya mencetak 3 gol dan 2 assist selama bermain untuk Juve di musim sebelumnya.

Tidak butuh waktu lama bagi the professor untuk memoles Henry jadi mesin gol paling mematikan yang pernah Arsenal miliki. Henry dengan cepat beradaptasi jadi striker tengah seperti ia memang terlahir untuk posisi itu. Tapi pengalamannya sebagai seorang pemain sayap membuatnya tidak ragu bermain cukup melebar untuk menjemput bola

Total, ia sudah mencetak 226 gol dari 376 pertandingan di semua kompetisi bersama the gunners. Sampai sekarang, Henry masih dikenal sebagai salah satu striker terhebat yang pernah merumput di Liga Inggris.

Cristiano Ronaldo

Bicara soal pemain yang berganti posisi, pemain yang paling seru untuk dibahas adalah Ronaldo. Publik Old Trafford pertama kali mengenal Ronaldo sebagai sayap kanan. Dimana sayap kiri diisi oleh Ryan Giggs dan posisi penyerang tengah masih jadi milik Ruud van Nistelrooy. Ronaldo hanya mencetak 6 gol dan 8 assist di sepanjang musim debutnya itu.

Transformasinya menjadi pencetak gol utama terjadi di musim 2007/08. Itu setelah Tevez datang untuk melengkapi trio Tevez, Rooney, Ronaldo yang mematikan di depan. Ronaldo masih lebih sering memegang posisi kanan.

Tapi ketiga pemain itu akan terus melakukan rotasi sepanjang laga hingga membuat lini belakang lawan kebingungan. Dengan peran barunya itu, Ronaldo mencetak 42 gol dari 49 pertandingan sepanjang musim 2007/08.

Di Real Madrid, ia pun pindah ke sisi kiri. Di posisi itu Ronaldo memiliki lebih banyak kebebasan untuk masuk ke tengah. Ia pun mencetak 252 gol dari 246 pertandingan di lima musim pertamanya bersama los blancos.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Ronaldo jadi lebih jarang terlibat dalam proses build-up. Ia hanya menunggu bola datang ke arahnya di depan kotak penalti. Meskipun begitu, tak jarang ia bermain ke sisi lapangan atau ke belakang untuk menjemput bola.

Sumber referensi: B/R, B/R 2, Tribuna, Sun, Daily, Amsterdam, Bundesliga, MvR

5 Klub Ini Juara Liga Champions Setelah Kalahkan Barcelona atau Real Madrid

0

Putaran perempat final Liga Champions Eropa tinggal menghitung hari. Nah, setelah sebelumnya Starting Eleven sudah membahas hal-hal yang harus kamu ketahui tentang perempat final Liga Champions musim ini, ternyata ada hal lain lagi yang cukup menarik di gelaran kompetisi paling akbar klub-klub Eropa tersebut.

Yap, ada beberapa klub yang bisa memastikan diri menjadi juara Liga Champions setelah mengalahkan dua raksasa Spanyol, Real Madrid maupun Barcelona. Berikut ini klub-klub yang akhirnya mentas sebagai juara Liga Champions setelah mengalahkan Barcelona atau Real Madrid.

Manchester United

Pada Liga Champions 2007/08, Manchester United menaklukkan fase grup dengan cara yang sangat MU sekali. Bergabung dengan AS Roma, Sporting CP, dan Dynamo Kyiv di Grup F, United mengakhiri fase grup dengan berada di puncak klasemen. Tidak hanya itu, pasukan Fergie memungkasi fase grup tanpa sekali pun kalah.

Kemenangan United berlanjut ke babak 16 besar. Ditahan imbang di markas Lyon pada leg pertama, gol semata wayang Cristiano Ronaldo pada leg kedua di Old Trafford mengantarkan United ke perempat final. Lalu di perempat final, AS Roma dikalahkan MU dalam dua leg sekaligus.

Nah, di semifinal Manchester United bertemu Barcelona. Pertandingan berjalan alot di leg pertama. Bermain di depan pendukungnya sendiri pasukan Frank Rijkaard tidak bisa membobol gawang United yang begitu rapat.

Setelah leg pertama yang menegangkan, Barcelona harus bertandang ke Old Trafford. Para penggemar United memadati stadion. Semua pendukung bersemangat. Di sisi timur stadion kata “Believe” terukir di tengah lautan warna merah.

Atmosfer di Old Trafford memberi tekanan tersendiri untuk Blaugrana. Dengan strategi parkir bus yang dipakai, Manchester United pun berkali-kali bisa mematahkan serangan Barcelona yang sporadis di laga itu. Namun, tak disangka pada menit 14, dari jarak sekitar 30 yard Paul Scholes berhasil mencetak gol.

Gol itu satu-satunya yang tercipta. Manchester United pun lolos ke final. Mereka akhirnya sukses mengalahkan Chelsea di final melalui adu penalti di tengah hujan deras.

Inter Milan

Masih ingat bagaimana Inter Milan meraih treble bersejarah pada tahun 2010? Inter di bawah kendali Jose Mourinho memang sangat luar biasa. Sejak kedatangan pelatih yang memberikan trofi Liga Champions untuk Porto itu, Nerazzurri tak terbendung.

Nah, yang menarik di kompetisi Liga Champions. Sebetulnya Inter satu grup dengan Barcelona di Grup F, bersama dua klub lainnya: Rubin Kazan dan Dynamo Kyiv. Di atas meja tentu yang akan lolos ke fase gugur adalah Inter dan Barcelona.

Itu benar. Inter dan Barcelona lah yang akhirnya melangkah ke babak gugur. Namun, selama fase grup, Inter asuhan Jose Mourinho tak pernah sanggup mengalahkan Barcelona. Dua kali bertemu, Inter kalah sekali.

Rekor tak pernah menang di fase grup tak membuat Inter gentar saat melawan Barcelona di semifinal. Mourinho yang kembali menghadapi tim yang turut membesarkan namanya tahu betul kualitas Barcelona. Ia pernah menjadi asisten manajer Sir Bobby Robson dan Louis Van Gaal saat di Barcelona.

Sedikit banyak ia tahu bagaimana Barcelona. Meski di dua laga sebelumnya gagal meraih kemenangan. Leg pertama berlangsung di San Siro. Mourinho meminta para pemainnya bermain menyerang. Dan itu mengejutkan Barcelona asuhan Pep Guardiola.

Inter pun mengalahkan Barcelona 3-1. Mantan pemain Inter, Javier Zanetti mengatakan itu adalah permainan menyerang yang hebat. Kelak kemenangan tersebut satu-satunya kemenangan Inter atas Barca di UCL musim itu.

Sebab di leg kedua La Beneamata takluk 1-0. Uniknya, kekalahan itu justru menjadi laga favorit Mourinho sepanjang kariernya. Inter pun menjadi juara pada saat itu.

Bayern Munchen

Setelah Inter dan MU, Bayern Munchen juga bisa menjadi juara setelah melewati hadangan Barcelona. Akan tetapi, tidak seperti dua klub sebelumnya, Die Roten mengalahkan Barcelona dengan cara yang sangat Bayern Munchen sekali.

Dua kali bertemu Barcelona di fase gugur, dua kali itu pula Bayern Munchen membobol gawang Blaugrana lebih dari empat gol. Pertama, saat kedua tim berjumpa di semifinal Liga Champions musim 2012/13. Waktu itu Barcelona asuhan mendiang Tito Vilanova tidak berdaya di tangan Munchen.

Leg pertama saja Blaugrana sudah dibantai 4-0 di Allianz Arena. Di leg kedua, walau bermain di Camp Nou, Barca gelagapan karena tidak ada Lionel Messi yang mengalami cedera hamstring. Sudah pasti Barcelona akan kesulitan untuk comeback.

Benar. Alih-alih comeback, di markas sendiri Barcelona justru kalah 3-0. Arjen Robben dan Thomas Muller mempermalukan Barca di depan pendukungnya sendiri. Barcelona kalah dengan agregat 7-0. Die Roten melaju ke final dan akhirnya mengalahkan sesama tim Jerman, Borussia Dortmund.

Tujuh tahun setelah Jupp Heynckes memastikan gelar UCL untuk Munchen, rupanya Barca masih menjadi lumbung gol pasukan The Bavarians. Pada Liga Champions 2020, di tengah pandemi, Barca bertemu lagi dengan Bayern Munchen. Kali ini di perempat final.

Saat kompetisi hanya berlangsung satu leg itu, Barcelona yang ditukangi Quique Setien dihajar 8-2 oleh Bayern Munchen. Setelah mengalahkan Barcelona, tentu saja pasukan Hansi Flick memastikan gelar Liga Champions dengan mengalahkan PSG di final.

Liverpool

Kalau Bayern Munchen menghabisi Barcelona dua kali dan juara Liga Champions, Liverpool sedikit ajaib. Liverpool dan Barcelona bertemu di semifinal Liga Champions 2018/19. Bermain di rumahnya sendiri pada leg pertama, Barcelona tampil trengginas.

Pasukan Ernesto Valverde menghabisi Liverpool 3-0. Kemenangan itu modal yang amat penting buat Barca. Apalagi di leg kedua mereka harus bertamu ke Anfield. Setidaknya imbang saja sudah cukup buat Barcelona lolos ke final.

Setelah kekalahan di Spanyol itu, tidak ada yang berharap Liverpool bisa membalikkan keadaan. Tapi Jurgen Klopp bukan orang yang gampang menyerah. Atmosfer Anfield meletuskan semangat pasukan Klopp di leg kedua. Pria Jerman itu menitahkan pemainnya untuk konstan dalam menekan, mengganggu, dan merepotkan tim tamu.

Hasil 4-0 terpampang di Anfield. Liverpool mengalahkan Barcelona lewat gol Origi, Fabinho, Wijnaldum, dan Matip. Kemenangan ini memastikan Liverpool ke final dan akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Tottenham Hotspur.

Chelsea

Berbeda dengan empat tim sebelumnya yang menjadi juara Liga Champions usai menaklukkan Barcelona. Chelsea bahkan mengalahkan Barcelona dan Real Madrid untuk menggamit Si Kuping Besar dalam dua periode yang berbeda.

Pertama, pada musim 2011/12, ketika Chelsea asuhan Roberto Di Matteo bertemu dengan Barcelona di semifinal. Waktu itu The Blues mengalahkan Barcelona di London berkat gol tunggal Didier Drogba. Namun, di leg kedua, pertandingan memanas.

Chelsea tertinggal lebih dulu di Camp Nou. Namun berhasil melakukan comeback dahsyat. Chelsea menyamakan kedudukan 2-2. Salah satunya berkat gol Fernando Torres yang tercatat dalam sejarah. Chelsea pun lolos ke final dengan agregat 3-2. Di final, Chelsea mengalahkan Bayern Munchen.

Kedua, nah ini, Chelsea memastikan gelar Liga Champions 2020/21 setelah melewati hadangan Real Madrid. Pada musim itu The Blues berjumpa Los Galacticos di semifinal. Hebatnya, pasukan Thomas Tuchel melaju ke sana dengan status belum terkalahkan.

Itu menjadi tabungan berharga ketika harus menghadapi kekuatan Real Madrid. Tetapi El Real asuhan Zidane bukan lawan enteng. Setidaknya tim yang akan dihadapi Kai Havertz dan kolega adalah peraih tiga kali UCL secara beruntun.

Benar saja. Kedua tim hanya bermain imbang 1-1 di Stadion Alfredo Di Stefano. Sisi Tuchel diuntungkan karena mencetak gol tandang. Di London, Chelsea mengatasi permainan Real Madrid yang bahkan sudah diperkuat Sergio Ramos yang absen di laga sebelumnya.

Pasukan Tuchel memenangkan laga dengan skor 2-0. Gol Mason Mount dan Timo Werner memastikan Chelsea ke final, menantang Manchester City. Klub berjuluk The Pensioners itu pun menyabet gelar juara berkat gol tunggal Kai Havertz.

https://youtu.be/63-24x0PtMs

Sumber: ManUTD, SkySports, BR, France24, Bundesliga, BBC, TheTransferRoom

Misteri: Ketika Scudetto Napoli dan Maradona Digagalkan Mafia

0

Scudetto ketiga dalam sejarah Napoli sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja. Hingga giornata 27, Il Partenopei tengah memimpin klasemen Serie A musim ini dengan perolehan 71 poin, unggul 21 poin dari Lazio yang menghuni peringkat kedua.

Dengan torehan 64 gol dan baru kebobolan 16 gol dalam 27 pertandingan, pasukan Luciano Spalletti jadi tim tersubur sekaligus tim dengan pertahanan terbaik di Liga Italia. Dengan catatan tersebut, sulit membayangkan Napoli bisa tersalip dan dikudeta di akhir musim.

Namun, tahukah kamu? Dahulu, Napoli yang tampil nyaris sempurna pernah tergelincir secara tidak terduga yang menyebabkan titel scudetto yang sudah di depan mata, raib jelang akhir musim. Ini terjadi di musim 1987/1988 ketika Napoli masih diperkuat Diego Maradona.

Konon kabarnya, kegagalan Napoli meraih scudetto di musim tersebut disebabkan oleh campur tangan mafia. Hingga hari ini, kisah ini masih menjadi misteri. Lalu, seperti apa kebenaran kisah ini? Mari kita telusuri bersama.

Napoli Capai Periode Tersukses di Era Diego Maradona

Diego Maradona dan Napoli memang bak sepasang kekasih yang ditakdirkan. Keduanya punya banyak kesamaan. Sejak hari pertama tiba di Kota Naples, Maradona langsung merasa betah. Pun begitu dengan pendukung Il Partenopei yang menyambutnya bak juru selamat.

Tumbuh besar dengan kemiskinan di Villa Fiorito, sebuah kota kumuh padat penduduk di pinggiran Buenos Aires, Maradona tentu paham betul seperti apa rasanya menjadi kaum tertindas. Di Naples, ia menemukan masalah dan pemandangan yang sama.

Pengangguran, kemisikinan, dan kejahatan yang terorganisir jadi gambaran kota Naples yang identik dengan kelas pekerja. Kota Naples yang berada di wilayah selatan Italia juga digambarkan sebagai noda oleh para kaum ningrat dari wilayah utara Italia. Namun, seperti halnya Buenos Aires dan Boca Juniors, Naples dan Napoli punya gairah yang tinggi dalam hal sepak bola.

“Saya ingin menjadi idola bagi anak-anak miskin di Naples, karena mereka sama seperti saya ketika saya masih tinggal di Buenos Aires,” kata Diego Maradona dikutip dari Goal.

Tak ada yang bisa menandingi histeria perkenalan El Pibe de Oro sebagai pemain anyar Napoli pada 5 Juli 1984. Dengan mengenakan kaus putih, celana chino, dan syal Napoli di lehernya, Maradona membalas nyanyian para pendukungnya dengan pekikan “Forza Napoli”. Sejak saat itu, sejarah manis tercipta di kota Naples.

Dari periode 1984 hingga 1991, Maradona sukses menghadirkan 5 trofi bergengsi bagi Il Partenopei. 2 Scudetto Serie A 1986/1987 dan 1989/1990, Coppa Italia 1986/1987, UEFA Cup 1988/1989, serta Supercoppa Italiana 1990.

Periode tersebut jadi masa-masa tersukses Napoli sepanjang sejarah. Napoli juga jadi klub Italia Selatan pertama yang sanggup meraih scudetto dan meruntuhkan hegemoni para klub kaya dari wilayah Italia Utara dan Tengah.

Sisi Kelam Maradona di Napoli: Kontroversi, Narkoba, Hingga Mafia Camorra

Akan tetapi, terdapat setitik noda dalam sejarah kesuksesan Maradona dan Napoli. Sebuah sisi kelam nan kontroversial yang mengiringi perjalanan karier El Pibe sejak kedatangannya ke Napoli di musim panas 1984.

Kedatangan Maradona yang konon disambut oleh 75 ribu pendukung Napoli itu memang menggemparkan jagad sepak bola. Italia yang kala itu jadi liga terbaik sejagad dan paling dihormati tengah didominasi oleh tim-tim dari wilayah utara dan tengah, seperti AC Milan, Juventus, Inter Milan, dan AS Roma. Tidak ada tim dari wilayah selatan yang mampu menjuarai Serie A, termasuk Napoli yang di musim 1983/1984 justru hampir terdegradasi.

Oleh karena itulah, kehadiran Diego Maradona di Stadio San Paolo adalah sebuah hal yang mengejutkan. Bagaimana bisa, Napoli yang tak punya sejarah juara dan nyaris terdegradasi, bisa memboyong seorang mega bintang?

Presiden Barcelona kala itu, Josep Lluís Nuñez dikabarkan memang ingin menjual Maradona karena alasan uang dan narkoba. Sementara, sang wakil presiden Joan Gaspart disebut ingin mempertahankan Maradona dengan menawarinya kontrak fantastis.

Singkat cerita, negosiasi yang dilakukan langsung oleh direktur olahraga Napoli, Antonio Juliano sukses membuat Diego Armando Maradona pindah ke Napoli dengan biaya transfer €12 juta. Kala itu, nominal tersebut sukses memecahkan rekor transfer dunia.

Gosip tak sedap pun merebak. Diduga ada jamahan tangan dari mafia yang memuluskan kepindahan Maradona ke Napoli. Mafia tersebut juga digosipkan memberi sokongan dana yang membuat Napoli berhasil menebus Maradona.

Pada sebuah acara perkenalan Maradona kepada awak media, seorang jurnalis asal Prancis, Alain Chaillou, secara berani bertanya langsung kepada Diego Maradona tentang isu tak sedap tersebut. Mendengar pertanyaan tersebut, presiden Napoli kala itu, Corrado Ferlaino marah dan mengusir sang jurnalis dari ruang pers.

Sekadar intermezzo, Italia memang akrab dengan mafia. Berdasarkan penelusuran CNN, ada empat sindikat mafia terbesar di Italia. Mereka adalah Cosa Nostra dari Sisilia, Ndrangheta dari Calabria, Sacra Corona Unita dari Puglia, dan Camorra dari Naples.

Nama terakhir itulah yang disinyalir punya hubungan kuat dengan Diego Maradona. Sejak tiba di Napoli, Maradona langsung amat dekat dengan mafia Camorra, utamanya dari klan Giuliano, keluarga kejam yang mengelola distrik Forcella yang miskin. Kabarnya, klan Giuliano memberi El Pibe akses khusus terhadap kokain dan menyediakan wanita yang tak terbatas baginya.

Di sepak bola sendiri, Camorra disinyilar tak hanya memberi sokongan dana dan memuluskan transfer Diego Maradona. Mafia yang mencengkram kota Naples sejak abad ke-17 itu juga disebut terlibat dalam scudetto pertama Napoli.

Kecurigaan tersebut mencuat tatkala Napoli mendapat 10 penalti kontroversial di musim 1986/1987. Dan Maradona lah yang dituduh sebagai pemberi sogokan kepada para wasit. Namun, kebenaran cerita ini sulit untuk dikonfirmasi.

Jika membicarakan scudetto pertama Napoli, maka yang orang-orang ingat hanyalah suka cita. Akan tetapi, itu tidak terjadi di musim berikutnya yang hingga hari ini masih membuat pendukung Napoli di masa itu merasa terganggu dan penasaran.

Kegagalan Napoli merengkuh scudetto keduanya secara beruntun di musim 1987/1988 dibungkus dengan kecurigaan mendalam. Mafia Camorra disinyalir jadi dalang yang membuat Napoli terpeleset secara aneh jelang akhir musim.

Salah satu sumber pemasukan Camorra selain narkoba adalah totonero, judi bola ilegal di pasar gelap. Di awal musim 1987/1988, setiap orang Neapolitan bertaruh pada tim kesayangan mereka untuk kembali memenangkan scudetto.

Sesuai prediksi, Napoli yang tampil dengan trio Maradona, Careca, dan Bruno Giordano yang disingkat “Ma-Gi-Ca”, memiliki lini depan paling ditakuti di Serie A dan tampil garang sejak pekan pertama. Mereka bahkan sudah berada di pole position sejak pekan pertama untuk merengkuh scudetto keduanya.

Namun, jelang lima pertandingan tersisa, jarak Napoli dengan AC Milan di peringkat kedua tinggal 4 poin saja. Yang terjadi kemudian adalah bencana. Di 5 pertandingan terakhirnya, Napoli imbang sekali dan sisanya menelan kekalahan, termasuk sebuah kekalahan dramatis dengan skor 3-2 di kandang sendiri dari AC Milan yang membuat Napoli dikudeta pasukan Arrigo Sacchi yang akhirnya keluar sebagai juara.

Melansir dari The Guardian, Camorra yang diawal musim menggelar judi bola ilegal dituduh sebagai dalang yang membuat Napoli terpeleset. Mereka dituduh dengan sengaja menjegal Napoli agar tebakan para penjudi tadi tidak tepat. Pasalnya, jika Napoli kembali merengkuh scudetto dan tebakan para penjudi tadi tepat, maka para clan dari mafia Camorra bakal sangat merugi.

Simone Di Meo, seorang jurnalis investigasi yang mendalami Camorra mengatakan kalau Camorra bisa jatuh bangkrut jika Napoli juara di musim tersebut. “Jika mereka memenangkan musim itu, Camorra harus membayar sekitar 200 miliar lira untuk taruhan,” kata Simone Di Meo, dikutip dari The Guardian.

Kegagalan Napoli di musim 1987/1988 menjadi tuduhan terbesar keterlibatan Camorra dengan Maradona dan Napoli. Kejadian aneh memang terjadi jelang akhir musim, seperti mobil Maradona yang dirusak, dan rumah gelandang Salvatore Bagni yang mengalami perampokan sebanyak dua kali.

Namun pada akhirnya, tuduhan tersebut berakhir menjadi sebuah fitnah yang kejam. Investigasi pengadilan Italia tak pernah berhasil mengungkap keterlibatan Camorra dalam kegagalan scudetto Napoli. Inilah yang membuat pendukung Napoli kala itu masih hidup dalam rasa pensaran dan tanda tanya hingga hari ini.

Jatuhnya Sang Dewa, Akhir Tragis Maradona di Napoli

Namun, seperti kata pepatah, “sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga”. Lambat laun, kemesaraan Maradona dengan clan Giuliano dari Camorra nampak dan terbuka.

Maradona jadi makin sering menghadiri berbagai pesta dan pernikahan dari keluarga Camorra. Maradona juga menerima jam tangan Rolex yang merupakan hadiah standar yang diberikan Camorra. Dampaknya, Maradona makin sering bolos latihan dan kecanduannya kepada kokain makin parah.

Puncaknya terjadi pasca Piala Dunia 1990. Diego Maradona yang sebelumnya dielu-elukan bak pahlawan mendadak berubah menjadi orang yang paling dibenci di Italia. Ini terjadi setelah ia membawa Argentina mengalahkan tuan rumah Italia di semifinal Piala Dunia 1990 yang ironisnya digelar di Stadio San Paolo, markas Napoli.

Sejak saat itu, segala kecerobohannya selama tinggal di Naples dikuak ke media. Mulai dari persahabatannya dengan Camorra, kasus perselingkuhan yang menghasilkan anak di luar nikah, hingga kecanduannya kepada kokain yang makin menjadi-jadi. Maradona yang selama ini seperti kebal hukum menjadi seorang pesakitan.

Pada awal 1991, nama Diego Maradona muncul di berbagai surat kabar atas dugaan keterkaitannya dengan jaringan perdagangan narkoba yang melibatkan Camorra. Meski akhirnya lolos dari hukuman 20 tahun penjara, El Pibe tak bisa mengelak setelah didakwa atas kepemilikan kokain dan dijatuhi hukuman penangguhan dan denda sebesar lima juta lira.

Kemudian, pada bulan Maret 1991, Maradona dijatuhi hukuman larangan bermain selama 15 bulan setelah dinyatakan positif menggunakan kokain setelah pertandingan Serie A melawan Bari. Hukuman itulah yang mengakhiri kisahnya bersama Napoli. Ia meninggalkan kota Naples pada 1992 dengan rasa malu.

Sejak hari itu, karier Diego Maradona terjun bebas bak batu yang dilempar ke dalam sungai. Meski mencoba bangkit lagi bersama Sevilla, Newell’s Old Boys, dan Boca Juniors, El Pibe tak lagi sama dan akhirnya pensiun pada 30 Oktober 1997.

Meski punya akhir yang kurang manis, tetapi hingga kini Diego Armando Maradona tetap diagungkan oleh penduduk kota Naples. Maradona masih seperti dewa di kota tersebut. Pergantian nama stadion kandang Napoli menjadi Stadio Diego Armando Maradona, 9 hari setelah kematiannya adalah bukti validnya.


https://youtu.be/qb-LHy2hGEU

Referensi: Goal, The Guardian, Panditfootball, Today, CNN.