Beranda blog Halaman 375

7 Transfer Pertama Klopp di Liverpool dan Nasibnya Sekarang

0

Ini adalah musim ketujuh Jurgen Klopp menangani Liverpool. Manajer asal Jerman tersebut bisa dibilang jadi yang tersukses dalam dua dekade terakhir. Pasalnya, Klopp berhasil mengembalikan kejayaan The Reds dengan kembali menghadirkan gelar juara Liga Inggris setelah 30 tahun lamanya.

Namun, musim ini jadi musim terberat bagi Klopp. Memulai liga dengan rangkaian hasil buruk, membuat Liverpool sempat terdampar di papan tengah bersama klub-klub medioker. Setelah Piala Dunia, barulah mereka bangkit.

Melihat performa Liverpool yang inkonsisten, Jurgen Klopp kembali jadi perbincangan. Meski kini Liverpool tak segahar dulu, jasa-jasa Klopp patut diapresiasi. Termasuk melakukan beberapa transfer yang membawa Liverpool ke jalur kesuksesan. Lantas, bagaimana ya kabar tujuh transfer pertama Klopp di Liverpool sekarang?

Marko Grujic

Marko Grujic menjadi rekrutan pertama Jurgen Klopp sebagai manajer Liverpool pada Januari 2016. Pemain berkebangsaan Serbia itu bergabung dengan The Reds dalam kesepakatan senilai 7 juta euro atau setara dengan Rp114 miliar dari klub Serbia, Red Star Belgrade.

Didatangkan sebagai salah satu gelandang berprospek cerah, Grujic nyatanya kesulitan menembus skuad utama. Hanya mendapat sedikit menit bermain, Grujic menghabiskan sebagian besar waktunya di Liverpool sebagai pemain pinjaman ke beberapa klub seperti Cardiff, Hertha Berlin, dan FC Porto.

Nah, ketika dipinjamkan ke Porto lah Grujic menemukan kembali sentuhan terbaiknya. Porto bahkan memperpanjang masa peminjamannya untuk memastikan kualitas sang pemain. Akhirnya, pada Juli 2022 Porto resmi mengikat Grujic dengan kontrak permanen. Kini pemain kelahiran Belgard itu berstatus sebagai punggawa Porto hingga 2026 mendatang.

Loris Karius

Kiper berkebangsaan Jerman ini jadi salah satu penandatanganan penting Jurgen Klopp di masa-masa awalnya. Bergabung dari Mainz pada tahun 2016, Loris Karius diharapkan bisa memperkokoh performa lini bertahan Liverpool saat itu.

Awalnya, harapan tersebut terpenuhi. Sang pemain mulai mengamankan satu tempat di skuad utama setelah penjaga gawang Liverpool saat itu, Simon Mignolet mengalami penurunan performa. Namun, semuanya berubah saat ia tampil di final Liga Champions 2017/18.

Ia melakukan blunder fatal yang berujung cemoohan tiada henti. Karius melakukan kesalahan tak terlupakan pada proses gol Karim Benzema dan Gareth Bale. Setelah kekalahan itu, Liverpool tak pernah menjadikan Karius pilihan utama. Ia menjalani beberapa musim sebagai pemain pinjaman dan kini berseragam Newcastle. Sialnya, status Karius di St James Park pun hanya sebagai kiper cadangan ketiga.

Sadio Mane

Selanjutnya ada Sadio Mane. Didatangkan pada awal musim 2016/17 dari Southampton, pemain asal Senegal ini termasuk salah satu transfer tersukses Jurgen Klopp selama menukangi Liverpool. Bagaimana tidak? Kecepatan dan gaya bermainnya benar-benar meningkatkan kualitas lini serang Liverpool.

Mane berkembang jadi salah satu penyerang terbaik selama enam tahun berseragam merah-merah khas Liverpool. Pemain yang memeluk agama Islam itu mengemas 120 gol dalam 269 penampilannya untuk The Reds. Selama kurun waktu itu pula Mane telah membantu Liverpool keluar dari kekeringan trofi dengan menjuarai Liga Inggris, Liga Champions, dan beberapa trofi bergengsi lainnya.

Kini Mane memutuskan hijrah ke Bundesliga untuk membela Bayern Munchen sejak awal musim 2022/23. Bayern mendatangkan Mane dengan maksud untuk mengisi pos lini serang yang ditinggalkan oleh Robert Lewandowski yang bergabung dengan Barcelona.

Mohamed Salah

Transfer sukses Jurgen Klopp bukan hanya Sadio Mane, ada juga Mohamed Salah. Pemain asal Mesir tersebut juga termasuk dalam pemain-pemain yang didatangkan di masa awal kepemimpinan Jurgen Klopp di Anfield. Ketika ia diboyong dari AS Roma pada tahun 2017, tak ada yang tahu bahwa dampak yang ia berikan akan sebesar ini.

Mo Salah langsung moncer di musim perdananya untuk Liverpool. Ia langsung nyetel dengan rekan-rekan satu tim lainnya dan skema permainan yang diusung oleh Klopp. Salah bahkan langsung menyabet sepatu emas dengan mencetak 32 gol musim 2017/18. Performa apiknya itu pula yang mengantarkan Salah jadi pemain terbaik Liga Inggris dan pemain terbaik Benua Afrika tahun 2018.

Pemain berusia 30 tahun itu masih berseragam The Reds hingga sekarang. Sempat mengalami penurunan performa di awal musim, akhir-akhir ini Salah mulai kembali konsisten berkontribusi dalam setiap gol yang dicetak Liverpool.

Georginio Wijnaldum

Georginio Wijnaldum juga tergabung dalam generasi yang mengakhiri puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun lamanya bersama Mo Salah dan Sadio Mane. Ketika didatangkan dari Newcastle pada tahun 2016 dengan bandrol 27 juta euro atau Rp440 miliar, Gio langsung mengemban peran vital di lini tengah skuad Jurgen Klopp.

Lima tahun lamanya Gio membela Liverpool. Ia membantu skuad menjuarai Liga Inggris, Liga Champions dan UEFA Super Cup. Pemain berkebangsaan Belanda itu meninggalkan Anfield dengan status bebas transfer dan bergabung dengan PSG pada tahun 2021. Namun, performanya menurun drastis kala bermain di kota Paris.

Kini ia bermain untuk AS Roma dengan status pinjaman dari PSG. Tapi cara tersebut tak bisa mengembalikan sentuhan terbaiknya. Ia justru kian terpinggirkan di Roma. Hingga saat ini, Gio tak pernah menjadi pilihan utama di skuad Jose Mourinho.

Joel Matip

Selanjutnya ada bek jangkung, Joel Matip. Pemain asal Kamerun ini didatangkan Jurgen Klopp secara gratis dari Schalke pada tahun 2016. Di awal kedatangannya, Matip sempat diganggu cedera engkel. Namun, setelah itu posisinya tak tergantikan. Ia membangun koneksi yang baik dengan Dejan Lovren di lini pertahanan The Reds.

Ia juga memainkan peran vital saat Liverpool menyabet gelar juara Liga Champions musim 2018/19. Matip bahkan jadi pemain yang memberikan assist untuk gol Divock Origi di partai puncak. Kala itu The Reds berhasil menundukan Spurs dengan skor 2-0.

Kini di usianya yang sudah menginjak 31 tahun, Joel Matip masih bertahan di Liverpool. Namun, performanya sudah tak stabil. Sejak Liverpool mendatangkan Ibrahima Konate, posisi Matip jadi tergantikan. Meski masih sering bermain, ia bukan lagi pilihan utama Jurgen Klopp di lini pertahanan Liverpool.

Ragnar Klavan

Terakhir ada Ragnar Klavan. Didatangkan dari Augsburg pada tahun 2016, pemain berpaspor Estonia ini tak berumur panjang di Liverpool. Ia didatangkan Jurgen Klopp untuk jadi pelapis duo Dejan Lovren dan Joel Matip. Dalam mengemban tugas tersebut, Klavan selalu tampil memuaskan. 

Menjalani dua musim sebagai bek pilihan ketiga sudah membuat Klavan putus asa. Alih-alih menjadi pilihan utama, di musim dingin tahun 2018 Liverpool justru mendatangkan Virgil Van Dijk dari Southampton. Kedatangan bek asal Belanda itu membuat posisi Klavan kian terpinggirkan.

Oleh karena itu, Klavan pun meninggalkan Anfield. Ia meninggalkan Liverpool dengan catatan 53 penampilan untuk klub. Setelah itu, ia bergabung dengan klub Serie A, Cagliari. Ia bermain untuk Cagliari selama tiga musim sebelum akhirnya pulang kampung ke Estonia untuk membela klub lokal, Paide tahun 2021. Namun, pada Januari 2023 kemarin, Paide tak memperpanjang kontrak Klavan. Kini ia berstatus tanpa klub di usia 37 tahun.

https://youtu.be/IUs-37B7Ido

Sumber: Squawka, Planetfootball, AS, Liverpoolfc, Mirror

Karma Remehkan Lawan Pakai Pemain Cadangan, Spanyol Dilibas Skotlandia!

Skotlandia kini dengan bangga duduk di peringkat teratas klasemen sementara Grup A kualifikasi Euro 2024. Ini mereka dapatkan setelah Pasukan Tartan berhasil menekuk Spanyol dengan skor 2-0. Itu merupakan pertama kalinya Skotlandia berhasil mengalahkan la furia roja di kompetisi resmi Eropa sejak 1984.

Tentu saja akan ada evaluasi dari pihak Spanyol atas performa buruk di pertandingan kedua Luis de la Fuente sebagai pelatih. Terutama karena mereka menggunakan pemain pelapis di pertandingan penting ini. Tapi para pemain Skotlandia yang dipimpin oleh pelatih Steve Clarke layak mendapatkan pujian besar. Putaran final di Jerman nanti terasa semakin nyata di depan mata mereka.

Skotlandia Hancurkan Spanyol

Bermain di depan para pendukungnya sendiri di Hampden Park, Skotlandia bisa bermain tenang sejak menit awal pertandingan. Hasilnya, laga baru berjalan tujuh menit gelandang Manchester United Scott McTominay berhasil mencetak gol pembuka. Bola dari Andy Robertson ia tembakan sehingga tak mampu dihalau Kepa.

Unggul di menit awal membuat tartan army punya kepercayaan diri lebih. Itu membuat mereka lebih kuat dalam menahan gempuran Spanyol seakan panik. Beberapa skema serangan anak asuh Fuente mampu diredamkan para pemain Skotlandia.

Tapi Roberson dan kolega juga tidak mau diam saja menerima serangan. Mereka bisa menunjukan kalau mampu untuk berikan ancaman sepadan. Dyke hampir menggandakan keunggulan tuan rumah tapi usahanya meleset. Tidak ada gol tambahan di babak pertama. Mereka pun bisa menjaga skor 1-0 sampai babak pertama selesai.

Masuk ke babak kedua, Skotlandia masih bisa mengulangi sihir mereka. Kali ini anak asuh Steve Clarke mencetak gol hanya enam menit setelah peluit babak kedua dibunyikan. McTominay kembali jadi pemeran utama. Ini gol keempatnya di dua pertandingan kualifikasi. Suatu hal yang impresif dilakukan oleh seorang gelandang.

Tertinggal 2-0, Spanyol jadi benar-benar masuk ke mode panik. Hebatnya, Fuente menunggu sampai ke menit ke-79 untuk memasukan Gavi. Dan itupun tidak banyak memberikan perubahan. Di tahap ini, satu-satunya ancaman Skotlandia adalah stamina mereka sendiri. Untungnya McTominay dkk bisa mengakhiri laga tanpa memberikan gol ke Spanyol. Fuente harus puas pulang tanpa gol dan tanpa poin. Spanyol pun harus menerima kekalahan pertama di 19 pertandingan kualifikasi Eropa mereka.

Karma Spanyol Pakai Pemain Cadangan

Hasil imbang antara Georgia dan Norwegia, yang dikonfirmasi sebelum pertandingan ini dimulai membuat Skotlandia tambah optimis. Awalnya Grup A akan diprediksi jadi fase grup yang mudah untuk Spanyol. Tapi Skotlandia bisa membuat fase grup ini jadi persaingan yang ketat.

Sudah banyak terjadi di sepak bola dimana tim kecil bisa mengalahkan tim yang jauh lebih kuat. Itu bisa jadi disebabkan karena banyak hal, tapi salah satunya adalah kehati-hatian pihak yang lemah dan kecerobohan dari tim yang kuat.

Peringkat FIFA Spanyol berada di 32 tingkat lebih tinggi dibanding Skotlandia. Itu yang membuat Steve Clarke berhati-hati menghadapi anak asuh De la Fuente. Pelatih Skotlandia itu bahkan dengan rendah hati bilang “mungkin Spanyol harus bermain lebih buruk jika Skotlandia ingin menang”

Dan benar saja, Spanyol memang bermain buruk di malam itu. Selain karena masih dalam masa transisi. Tapi juga karena De la Fuente telah meremehkan lawannya dengan menurunkan skuad pelapis di laga itu.

Setelah menang 3-0 lawan Norwegia, yang peringkat FIFAnya tidak terpaut jauh dengan Skotlandia, Fuente malah merotasi total skuadnya. Ia memainkan sebagian besar para pemain cadangan di laga itu. Total ada delapan perubahan yang dilakukan Spanyol.

Seluruh lini pertahanan yang menang lawan Norwegia di laga sebelumnya diganti. Dani Carvajal, Nacho, Laporte, Alejandro Balde digantikan oleh Pedro Poro, David Garcia, Inigo Martinez, dan Jose Gaya. Hal serupa ia lakukan di lini serang. Empat pemain depan utama diantaranya Dani Olmo, Iago Aspas, Gavi, dan Alvaro Morata dicadangkan. Yang bermain adalah Mikel Oyarzabal, Dani Ceballos, Yeremy Pino, dan Joselu.

Sementara itu Steve Clarke lebih bijak dalam meracik line up. McTominay yang mencetak dua gol dari bangku cadangan di laga sebelumnya dipasang jadi starter di laga ini. Juga Lyndon Dyke yang memang harus masuk karena Che Adams mengalami cedera.

Fuente Masih Optimis

Manajer Spanyol sebelumnya, Luis Enrique sering dikritik karena tidak punya starting line up paten di timnya. Selama tiga tahun menjabat, ia selalu mengubah susunan pemain utamanya.

Fuente, sebagai penggantinya kini malah melakukan hal yang sama. Ia melanjutkan pola yang dimainkan Luis Enrique. Spanyol sudah tampil bagus dengan mengalahkan Norwegia 3-0. Tapi ia melakukan rotasi total, padahal tidak ada pemain yang cedera. Dan perlu diingat, ini adalah pertandingan kualifikasi, bukan laga persahabatan. Target Spanyol adalah finis sebagai pemuncak grup.

Meskipun mendapat kekecewaan di laga ini, Fuente masih tetap bisa melihat sisi baiknya. Ia mengaku kalau ini setidaknya bisa memberikan pengalaman dalam skuad. Fuente ingin memoles para pemainnya untuk masa depan.

“Itulah tujuan saya dalam melakukan peningkatan, memoles mereka. Idenya ada, dan para pemain bersedia untuk bekerja dan meningkatkannya.” Ucapnya dikutip dari the athletic.

“Di babak pertama kami punya banyak peluang tapi tidak bisa memaksimalkan penyelesaian. Kami akan memperbaiki itu dengan memberikan kepercayaan diri pada para pemain.” Lanjutnya.

Langkah Fuente dalam merotasi total pemainnya memang beralasan. Tapi itu mengakibatkan timnya kalah memalukan 2-0 dari Skotlandia. Tartan Army adalah tim kuat yang berisikan banyak pemain liga Inggris. Mereka juga sedang mengalami perkembangan pesat akhir-akhir ini. Jika saja Fuente tidak terlalu percaya diri dan menggunakan pemain utamanya, mungkin Spanyol bisa memberikan perlawanan.

Berbeda dengan Fuente yang terlihat tenang, Rodri justru sangat tidak puas dengan hasil yang timnya dapat. Bintang Manchester City itu tidak suka dengan gaya permainan Skotlandia. Ia mengaku Spanyol kalah karena cara bermain para pemain Skotlandia.

“Itu karena cara mereka bermain, menurut saya itu sedikit sampah. Karena mereka selalu membuang-buang waktu dan selalu jatuh. Mereka selalu memprovokasi kami. Bagi saya, itu bukan sepak bola” Ungkapnya dikutip dari Viaplay.

Fakta Pertandingan

Itu alasan yang sama dari Rodri ketika Spanyol kalah lawan Maroko di Piala Dunia 2022 kemarin. Jadi daripada mengeluh, mungkin sebaiknya ia evaluasi. Sebab, ini adalah pertama kalinya Spanyol kebobolan lebih dari dua kali di laga kualifikasi Eropa sejak Oktober 2014. Ini jadi lebih menyakitkan karena dua gol itu bukan dicetak oleh Ronaldo atau Messi, tapi McTominay.

Fakta lainnya adalah ini jadi kemenangan tandang kelima berturut-turut Skotlandia. Ini pertama kali mereka rasakan sejak sebelumnya di tahun September 2006 sampai Oktober 2007. Skotlandia akan melanjutkan pertandingan babak kualifikasi di bulan Juni mendatang. Lawannya adalah Norwegia kemudian Georgia.

Sumber referensi: Sky, Guardian, One, Athletic, Telegraph

Amalkan Ajaran Islam di Arsenal Saat Cedera, Kisah Menyejukkan Abou Diaby

0

Siapa yang tidak bangga menjadi seorang muslim yang mampu menjadi Hafidz dengan menghafal 30 Juz Al-Qur’an? Barangkali gelar tersebut merupakan impian dari seluruh umat muslim di dunia. Tak terkecuali oleh para pesepakbola muslim di luar sana. Contohnya saja Abou Diaby yang tetap berusaha menghafal Al-Qur’an di tengah padatnya jadwal pertandingan Arsenal.

Jauh sebelum Mesut Ozil yang juga dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an bergabung Arsenal, klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu pernah punya hafidz Qur’an lainnya, Abou Diaby. 

Sebagai muslim yang taat, Diaby tak pernah meninggalkan ajaran islam dan selalu mengamalkannya dalam setiap jengkal kehidupannya. Mungkin yang paling diingat adalah ketika Diaby mengamalkan ajaran Islam tentang maaf dan sabar ketika ia mengalami cedera di Arsenal. 

The Next Patrick Vieira?

Abou Diaby pernah dianggap sebagai salah satu pemain berbakat di Liga Inggris. Bermain untuk Arsenal, dia dipoles oleh tangan dingin Arsene Wenger. Oleh pelatih asal Prancis itu, Diaby bak sebuah proyek jangka panjang. Meski gaya bermainnya tak sama, ia dibentuk untuk menjadi  penerus Patrick Vieira di lini tengah Meriam London.

Pada tahun 2006, Diaby baru berusia 19 tahun saat didatangkan Wenger dari Auxerre. Dengan postur tubuh tinggi dan permainan kaki yang terampil, sang Profesor yakin kalau dirinya telah menemukan mesin penggerak baru di lini tengah. Meski sempat membuktikannya di awal, karir Diaby di Arsenal tak berjalan seperti yang diharapkan.

Meski digadang-gadang sebagai penerus Vieira di Arsenal, nyatanya gaya main Diaby tak begitu mirip dengan mantan kapten Arsenal tersebut. Vieira dikenal sebagai gelandang bertahan yang agresif. Sedangkan Diaby memiliki gaya bermain seperti gelandang box-to-box karena punya kemampuan bertahan maupun menyerang sama baiknya. 

Dalam beberapa laga, Diaby sering terlihat aktif merebut bola dari kaki lawan. Namun, di laga lain gelandang yang mengenakan nomor punggung dua itu bisa maju hingga kotak penalti, bahkan mencetak gol layaknya penyerang. Sayangnya, karir Diaby bak kembang yang keburu layu sebelum mekar. Ia jadi salah satu pemain yang bermasalah dengan cedera.

Hadiah dari Dan Smith

Diharapkan menjadi masa depan lini tengah Arsenal, karir Diaby justru berjalan mundur. Diaby jadi pemain Arsenal yang paling akrab dengan staf medis klub. Bukan sebagai sanak famili, melainkan karena Diaby jadi pemain Arsenal yang paling sering cedera.

Saking seringnya cedera, nama Diaby selalu dikaitkan dengan kata cedera. Bahkan di tanah kelahirannya di Prancis, Diaby mendapat julukan sebagai “L’Homme de Verre” atau yang berarti si manusia kaca.

Diaby pernah mengalami cedera parah kala Arsenal bersua Sunderland di Liga Inggris musim 2005/06. Kala itu, Arsenal sudah unggul 3-0 saat Diaby mendapat tekel keras dari bek Sunderland, Dan Smith di menit-menit akhir saat sedang menguasai bola. Diaby jatuh dan mengerang kesakitan. Tapi pengadil tak mengganjar kartu kuning pada Smith. 

Arsene Wenger bahkan sampai marah besar kepada Smith. Menurutnya, tekel Smith bukan berniat untuk merebut bola, melainkan untuk melukai Diaby. Wenger bahkan sempat mengatakan jika perkara itu bisa dibawa ke pengadilan, ia akan melakukannya demi keadilan untuk Diaby.

Sisi “Positif” dari Cedera

Diaby pun sama, ia sempat marah kepada Daniel Smith. Namun, ia sadar bahwa itu tak akan mengubah apa pun. Ia memilih bersabar dan memaafkan bek Sunderland tersebut. Toh ia masih berusia muda. Diaby berpikir dengan beberapa perawatan ia akan kembali ke lapangan.

Sebagai seorang Muslim yang taat, keyakinan Diaby mendorongnya untuk menjadi pribadi yang selalu kuat. Tidak hanya dalam kehidupan pribadinya, tapi juga ia terapkan dalam sepakbola. Islam mengajarkan Diaby bersabar dan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.

Cederanya itu membuat Diaby harus absen selama sepuluh bulan lamanya. Dan dalam masa pemulihannya, ia dikabarkan selalu berdoa dan mengisi kekosongan dengan kegiatan positif. Sesekali ia mengunjungi komunitas-komunitas muslim yang ada di London dan sekitarnya. Di sanalah ia menyempatkan membaca Al-Qur’an dan menghafal beberapa juz.

Kebiasaan itu berlanjut meski ia sudah pulih dari cedera. Itu diungkapkan oleh salah satu pengajar Ebrahim College di London, Mufti Muhammad. Ia berkata kalau Diaby merupakan muslim yang aktif menghafal Al-Qur’an. Bahkan suara bacaannya sangat merdu. Kala itu, Mufti menyebut Diaby sudah hafal 19 juz Al-Qur’an. Dan mungkin di usianya sekarang hafalannya sudah jauh bertambah.

Cedera Merusak Karirnya

Diaby sempat memulai kembali karirnya. Namun, ia tak pernah mencapai potensi terbaiknya. Cederanya di laga Sunderland ternyata berdampak besar bagi karir sepakbolanya. Cedera lain selalu menghantui Diaby. Setiap tahun Diaby setidaknya mengalami satu kali cedera. 

Menurut Daily Mail, cedera yang paling sering menyerang Diaby adalah engkel dan cedera otot. Bahkan gelandang berpaspor Prancis itu sudah mengalami 42 cedera selama sembilan tahun berseragam The Gunners. Akhirnya Diaby mengakhiri masa baktinya dengan Arsenal pada tahun 2015. 

Dari 180 pertandingan bersama Arsenal, sebagian besar ia mulai dari bangku cadangan. Bukan karena kualitasnya yang jelek, melainkan kondisi tubuhnya yang tak pernah fit 100%. Itulah yang membuat dirinya melepas nomor punggung dua dan tak menjadi andalan Wenger dalam tiga musim terakhirnya.

Ini jadi hal yang sangat mengecewakan bahkan untuk Arsene Wenger itu sendiri. Ia merasa gagal membuat sang pemain mencapai potensi maksimalnya. Meski demikian, Diaby tetap sabar dan menerima segala kondisi yang ada. 

Setidaknya, selama pemulihan ia bisa memperdalam ilmu agama dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar. Kabarnya, dengan banyaknya waktu luang ia menjadi pribadi yang doyan sedekah. Diaby tercatat sebagai salah satu donatur tempat sekolah Islam yang terkenal di London.

Pensiun

Setelah dari Arsenal ia bergabung dengan Marseille. Dengan harapan bisa membangun kembali reputasinya sebagai gelandang papan atas. Namun semuanya sia-sia. Kebugaran masih jadi masalah utama. Berbagai cedera selalu menghalangi Diaby untuk berkembang. Ia bahkan hanya memainkan lima pertandingan selama dua musim.

Dilansir Goal, setelah mengalami cedera di laga melawan Sunderland, sepakbola tak pernah terasa sama lagi baginya. Ia mengalami masa-masa buruk selama kurang lebih sepuluh tahun berkarir di Arsenal dan Marseille. Meski demikian, Diaby tetap menganggap itu sebagai salah satu proses dalam karirnya. Dengan ending yang tak diharapkan oleh siapa pun, akhirnya Diaby pensiun di usia 32 tahun.

Untuk menunjukan sisi kemanusiaannya, setelah pensiun Diaby mendirikan Abou Diaby Foundation untuk mengatasi kemiskinan di Afrika dan Asia. Sebagai umat muslim yang baik, ia menyadari kalau ada hak orang lain di setiap rezeki yang didapat. Ia pun ingin terus berbagi ke sesama di sisa hidupnya melalui yayasan yang didirikannya itu. 

Sumber: Daily Mail, Goal, BRfootball, Football London, Mirror

Pemain yang Seharusnya Tidak Dijual Arsenal

0

Tidak salah kalau kita menyebut markasnya Arsenal tempat ngumpulnya para talenta hebat, tidak jauh berbeda dengan klub raksasa lainnya di Liga Inggris. Baik ketika Arsenal mendiami Highbury maupun sudah pindah Emirates Stadium.

Para pemain keluar-masuk ke sebuah klub juga hal yang lumrah. Tak sedikit pemain yang hengkang dari Arsenal. Akan tetapi, dari sekian banyak pemain yang dijual Arsenal, ada yang semestinya tidak dijual.

Entah itu karena bakatnya yang bisa sangat moncer di tim lain. Baik karena si pemain adalah sosok vital di klub. Atau bisa juga karena ketika menjual sang pemain itu, Arsenal jadi kesulitan memperoleh penggantinya. Berikut ini para pemain yang seharusnya tidak dijual oleh Arsenal.

Cesc Fabregas

Cesc Fabregas digadang-gadang sebagai calon bintang Arsenal di masa depan. Tepat ketika pemain Spanyol itu bikin Arsene Wenger terkesan. Fabregas sangat berbakat secara teknis dan mengesankan secara fisik. Fabregas mewarisi kekuatan Patrick Vieira, Emmanuel Petit, dan Gilberto Silva.

Kemampuannya bermanuver di lini tengah tak mungkin kita pertanyakan lagi. Fabregas bahkan menjadi satu-satunya pemain termuda yang bisa mencetak gol untuk Arsenal. Dia mencetak gol di ajang Piala Liga menghadapi Blackburn Rovers pada 25 Agustus 2004, saat usianya masih 17 tahun tiga bulan dan 21 hari.

Fabregas mewarisi kapten Arsenal dari William Gallas pada November 2008. Ia pada saat itu menjadi kapten termuda Arsenal, karena usianya masih 21 tahun. Dengan cepat Fabregas mengkapling hati para penggemar Arsenal.

Sampai tatkala Arsenal keok di final Piala Liga 2011 menghadapi Birmingham. Fabregas pergi ke Spanyol merapat ke Barcelona. Tiga tahun bersama Blaugrana, Fabregas mencicipi dilatih Pep Guardiola, Tito Vilanova, dan Tata Martino.

Arsenal punya peluang mendatangkan lagi Fabregas. Tapi Wenger tidak mau mendatangkan kembali pemain yang sudah dijual. Namun, keputusan itu harus dibayar mahal karena Fabregas justru menyebrang ke klub rival, Chelsea.

Bersama klub London Barat, Fabregas justru meraih banyak trofi. Sang playmaker memperoleh dua trofi Liga Inggris dan Piala FA sebagai pemain Chelsea. Ironisnya, ia memegang trofi Europa League saat Chelsea mengalahkan Arsenal pada 2019.

Serge Gnabry

Serge Gnabry dibeli dari Stuttgart U17 pada 2011. Namun Gnabry hanya bermain di tim U21 Arsenal. Ia mengemas 38 laga dan mencetak 12 gol di sana. Catatan itu mengesankan Arsene Wenger. Tapi ketika dipanggil ke tim senior, Gnabry tak mendapat tempat.

Ia justru dipinjamkan ke West Bromwich Albion, di mana Tony Pulis gagal memaksimalkan kualitasnya. Gnabry kembali ke Arsenal, tapi setelah lima tahun berstatus pemain The Gunners, Gnabry hengkang. Dia sekali lagi tak mendapat tempat.

Gnabry cuma memainkan 18 laga dan hanya mengemas sebiji gol saja. Pada 31 Agustus 2016, Gnabry memilih kembali ke Jerman. Werder Bremen menebusnya 5 juta euro (Rp81,8 miliar), harga yang relatif kecil. Sebab ketika pindah ke Bayern Munchen, Gnabry makin melejit dan membuat publik London Utara kecewa klub menjualnya dulu.

Publik Emirates jengkel karena klub menjual bakatnya dengan harga yang murah. Namun, Wenger berdalih sebelum dijual ke Bremen perpanjangan kontrak sudah ditawarkan. Tapi Gnabry menolaknya.

Ashley Cole

Wenger pernah punya pemain vital seperti Ashley Cole. Dia terlibat dalam skuad Invincible Arsenal. Cole juga menyumbang trofi Piala FA dan Community Shield. Tapi Arsenal justru membiarkannya pergi, ketika mereka sejatinya memiliki kesempatan untuk memperbarui kontraknya.

Diam-diam Chelsea sudah menawarkan kesepakatan gaji senilai 120 ribu pounds per pekan. Seandainya Arsenal tidak tarik ulur kontrak Cole, ia bisa saja tak jadi hengkang. Apalah hendak dikata, Arsene Wenger gagal mempertahankan Ashley Cole.

Cole pindah ke Chelsea pada 2006. Setelah kehilangan Ashley Cole, Arsenal sulit mencari penggantinya. Dilansir The Sun, Arsene Wenger mengakui penjualan Ashley Cole merupakan kesalahan besar. Cole meninggalkan Arsenal dengan torehan 228 kaps, 9 gol, 23 asis, 40 kartu kuning, dan 2 kartu merah.

Wojciech Szczesny

Arsenal pernah punya kiper yang namanya sulit ditulis, Wojciech Szczesny. Kiper Polandia itu bergabung sejak 2006. Tapi Szczesny mulai dengan memperkuat tim U18. Kariernya di Arsenal penuh dengan peminjaman seperti ke Brentford dan AS Roma.

Namun, Szczesny pernah menjadi andalan Arsene Wenger. Hingga suatu ketika Wenger mengetahui bahwa Szczesny merokok di ruang ganti. Dia pun dijual ke Juventus pada 2017. Kelak penjualan Szczesny ternyata membuat fans Arsenal kecewa.

Kala Szczesny merayakan ulang tahunnya yang ke-30 pada 2020, para gooners menunjukkan kekecewaan atas penjualan sang kiper. Banyak menyayangkan kenapa Szczesny dijual dan mempertahankan Petr Cech yang sudah habis masanya.

Kekesalan itu makin membuncah karena setelah dari Arsenal, Szczesny justru makin berkembang pesat. Szczesny pergi dari Emirates dengan meninggalkan 181 kaps, 194 kebobolan, dan 72 clean sheets

Robin van Persie

Arsenal seperti ketiban untung saat Robin van Persie menunjukkan perkembangannya setelah didatangkan dari Feyenoord tahun 2004. Betapa tidak? Pria berharga 4,5 juta euro (Rp73,6 miliar) kala itu menjadi mesin gol tak terbantahkan Meriam London. 

Salah satu buktinya, Van Persie adalah pemain Arsenal yang menjadi top skor Liga Inggris musim 2011/12 dengan 38 gol. Tapi setelah musim itu, Arsenal justru melepas Van Persie ke Manchester United. Tidak ada alasan pasti mengapa dia ditendang dari Emirates.

Namun, dilansir The Guardian, Wenger bilang tidak ada pilihan selain menjual Van Persie. Di sisi lain, Van Persie menduga Arsenal sudah bosan padanya. Dilansir 90 Minutes, Van Persie juga menilai Arsenal hanya terobsesi pada uang.

Van Persie muak karena klub tak bisa memberinya trofi Liga Inggris. Walaupun klub menunjukkan catatan golnya, tapi Van Persie tetap hengkang. Benar saja. Setelah merapat ke MU, Van Persie memperoleh trofi yang diinginkannya.

Di satu sisi, Wenger masih sulit menerima kenyataan menjual The Flying Dutchman. Arsenal juga ternyata sulit menerima kepergiaan Van Persie. Buktinya pemain yang dibeli MU itu sampai diberikan guard of honour segala saat kembali ke Emirates, tapi sebagai pemain United. Ngenes banget nggak, sih?

Olivier Giroud

The Gunners menemukan permata pada Olivier Giroud. Pemain yang sukses mengantarkan Montpellier juara Ligue 1 itu dibeli Arsenal tahun 2012. Waktu Giroud menjadi pemain yang memenuhi kebutuhan striker Arsenal.

The Gunners, di musim kedatangannya sedang kekeringan penyerang. Dan benar saja, Giroud menjadi mesin gol Arsenal. Musim 2012/13, Giroud mengemas 34 gol di Liga Inggris. Namun seiring waktu, Giroud justru mengalami penurunan performa.

Ketika performanya menurun, Yaya Sanogo memberi alternatif. Meski pemain itu tak sepadan dengan pengalaman Giroud. Sayangnya, Giroud justru berkali-kali tak masuk Starting XI Wenger. Dia seolah tersisih dari sana.

Hingga pada 2018, Giroud justru menyebrang ke Chelsea. Arsenal kemudian bertemu dengan Chelsea di final Europa League. Saat itu, Giroud yang menyimpan dendam pada Arsenal, ingin melampiaskannya.

Di laga itu, Giroud tuntas melampiaskan dendamnya. Pemain Prancis itu turut membobol gawang The Gunners dalam kemenangan 4-1 di Azerbaijan. Kasihan sekali ya, Arsenal?

Nah, selain nama-nama sebenarnya ada satu nama lagi yang seharusnya tidak dijual. Dia adalah Thierry Henry. Kepergian sang juara dunia itu mengubah tujuan klub dari yang semula penantang gelar menjadi penantang empat besar saja.

https://youtu.be/dCG-MwpJM8U

Sumber: Mirror, TribalFootball, FL, TheSun, DailyMail, TheGuardian, GoonerNews, 90Min, FI, BR

Hal-Hal Menarik Dunia Sepakbola di Awal Ramadhan 2023

Ahlan Wa Sahlan, Ramadhan. Di awal Ramadhan tahun 2023, banyak laga sepakbola yang masih akan tetap bergulir. Tak lupa juga ada hal baru yang menarik banyak atensi mengenai apa sih yang terjadi di dunia sepakbola di awal Ramadhan tahun ini? Mau tau apa saja hal-hal menarik tersebut? Berikut tim Starting Eleven rangkum untuk Football Lovers.

Timnas Prancis Diminta Tunda Puasa Jelang Kualifikasi

Babak kualifikasi Piala Eropa 2024 sudah dimulai. Masing-masing negara berjibaku untuk bertarung di masa jeda internasional, Maret 2023. Jeda internasional ini kebetulan bertepatan dengan jadwal awal bulan puasa di seluruh dunia. Bagaimanapun, seluruh umat muslim dianjurkan untuk memulai ibadah itu, termasuk para pesepakbola.

Hal yang kemudian menyita perhatian publik terjadi di kubu timnas Prancis. Federasi Sepakbola Prancis (FFF) memuat himbauan untuk menunda puasa selama lima hari di awal Ramadhan tahun ini bagi pemain muslim di skuad Didier Deschamps.

Menurut L’Equipe kabar itu benar adanya setelah dikonfirmasi oleh pihak tim nasional. Meskipun himbauan tersebut sifatnya tidak memaksa. Hal itu bertujuan agar pemain muslim yang akan berlaga di dua kualifikasi Piala Eropa 2024 kala melawan Belanda dan Irlandia dapat tampil optimal.

Kita tahu ada beberapa pemain muslim di skuad timnas Prancis yang dibawa Deschamps di laga kontra Belanda dan Irlandia, seperti Ibrahima Konate, Youssouf Fofana, hingga Marcus Thuram.

Liga Inggris Menyediakan Jeda Buka Puasa Bagi Pemain Muslim

Berbeda dengan sikap federasi Prancis, di Inggris secara terbuka asosiasi sepakbola Inggris lewat PGMOL (Professional Game Match Official Board) mengeluarkan kebijakan untuk memberikan jeda resmi bagi pesepakbola muslim untuk melakukan sesi berbuka di pinggir lapangan.

Sesi resmi ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya yang ada adalah colongan atau kesepakatan di laga tertentu untuk berbuka puasa di pinggir lapangan. Seperti apa yang terjadi pada laga Leicester City vs Crystal Palace 2021 lalu. Ketika itu Cheikh Kouyate dan Wesley Fofana meminta untuk pertandingan dihentikan sejenak untuk berbuka.

Dan mulai musim ini, seluruh pertandingan liga di Inggris itu sudah mempunyai waktu jeda tersendiri untuk berbuka. Dengan kebijakan ini Liga Inggris semakin ramah terhadap minoritas terutama islam.

Pemain seperti Mo Salah, Riyad Mahrez, N’Golo Kante kini tak perlu khawatir lagi untuk meminta jeda buka puasa di lapangan. Regulasi sekarang akan mengidentifikasi dahulu di setiap laganya, apabila ada pemain muslim yang bermain akan segera ditentukan waktu jeda.

Makanan yang Dimakan Pesepakbola Muslim Saat Puasa

Baru-baru ini di Inggris terkuak kabar mengenai kisah seorang dokter bernama Zafar Iqbal yang membuka kiat-kiat puasa para pesepakbola yang pernah ditanganinya di Liga Inggris. Zafar Iqbal ini notabene adalah dokter yang beragama islam yang pernah menangani tim macam Liverpool, Tottenham Hotspur, sampai Crystal Palace.

Ia bercerita apa saja asupan para pemain muslim itu tiap buka puasa maupun sahur. Selain itu, ia juga memberi tahu rutinitas para pesepakbola muslim saat berpuasa di tengah kompetisi yang padat.

Kata Zafar, para tim dokter tak akan memberikan para pemain menu buka puasa macam makanan yang berminyak ataupun yang penuh gula. Zafar biasanya akan bekerjasama dengan ahli gizi klub agar makanan yang masuk ke pemain benar-benar yang dibutuhkan. Alih-alih makan gorengan, es, ataupun makanan yang banyak lemak, para pemain biasanya dianjurkan mengkonsumsi buah, kurma, maupun smoothies buah atau kurma.

Baru setelah beberapa jam kemudian dilanjutkan dengan sesi makan makanan berat. Itupun direkomendasikan Zafar makanan dengan cara yang dipanggang bukan digoreng, sehingga mengurangi minyak berlebih. Biasanya makanan yang mengandung protein tinggi yang paling disiapkan karena manjur untuk pemulihan otot pemain.

Selain itu, Zafar juga membagikan cerita ketika ia menangani pemain muslim di Crystal Palace maupun ketika di Liverpool. Di mana ketika itu para pemain non muslim di Palace juga terkadang menghormati para pemain muslim dengan berbuka bersama meskipun tak ikut puasa.

Sementara di Liverpool ia ingat ketika Brendan Rodgers membiarkan Kolo Toure dan Oussama Assaidi mengubah pola latihan selama bulan puasa.

Tanggapan Pemain Muslim di Inggris Tentang Ramadhan di Liga Inggris

Sudah menjadi rahasia umum Liga Inggris menjadi liga yang paling ramah terhadap para pemain muslim. Hal itu diungkapkan baru-baru ini oleh pemain Everton yang beragama islam yakni Abdoulaye Doucoure.

Doucoure mengklaim Liga Inggris adalah liga terbaik di dunia bagi umat Islam. “Kami merasa sangat percaya diri di sini. Kami sangat diterima disini. Dan disini semuanya tersedia untuk dinikmati para pemain Muslim,” katanya kepada BBC Sport.

Selain itu, Doucoure mengatakan bahwa puasa yang sering dianggap sebagai kesulitan para muslim yang sedang mengarungi kompetisi, baginya justru kemudahan. Pemain keturunan Mali yang berpuasa sedari kecil itu mengaku justru dengan puasa di bulan Ramadhan ia lebih stabil keadaan fisik tubuhnya.

Kini, ia yang bergabung dengan Everton lebih bersukaria lagi di bulan Ramadhan kali ini. Karena ia punya teman baru yang juga seorang muslim untuk diajak beribadah bersama yakni Amadou Onana dan Idrissa Gueye.

Stamford Bridge Mengadakan Buka Puasa Bersama

Dari London, tersiar kabar menarik tentang kegiatan di bulan Ramadhan. Kegiatan itu adalah buka puasa bersama dan sholat tarawih berjamaah di stadion kebangganan Chelsea, Stamford Bridge.

Pertama dalam sejarah, sebuah stadion di Inggris menyelenggarakan buka puasa bagi warga muslim di sana. Tepatnya di sektor tribun “The Shed End” yang berada di sisi selatan Stamford Bridge.

Nampak berjejer air mineral dan kurma yang dipersiapkan bagi warga muslim yang ingin berbuka bersama. Supaya rapi dan keamanan terjaga, pihak panitia sudah mengaturnya terlebih dahulu.

Di mana setiap warga setempat yang akan datang wajib membawa tiket untuk masuk ke stadion. Tiket-tiket tersebut bisa didapatkan secara gratis karena tersedia di mushola, masjid, atau komunitas muslim lokal setempat.

Sementara itu, untuk sholat berjamaah di ruangan indoor di Stamford Bridge. Ketua Foundation Chelsea, Simon Taylor merasa senang tempat kebanggaan Chelsea ini mampu bermanfaat bagi komunitas muslim. Ia menyadari betapa pentingnya toleransi dan umat Islam itu sendiri bagi Chelsea.

Timnas Maroko Kalahkan Brasil Setelah Buka Puasa dan Sholat Tarawih

Keajaiban berbuka puasa dan sholat tarawih di bulan Ramadhan tercermin dalam laga Maroko melawan Brazil. Laga itu merupakan persahabatan biasa yang kebetulan dihelat di Maroko. Namun di luar itu, Maroko berhasil mengalahkan Brasil 2-1.

Itu adalah kemenangan pertama Maroko atas Brasil sepanjang sejarahnya. Uniknya lagi, kemenangan pasukan Walid Regagrui diraih setelah para pemain melakukan buka puasa dan sholat tarawih.

Selama sehari penuh jelang laga, para pemain Maroko menjalankan ibadah puasa. Berkah Ramadhan itu diungkapkan sendiri oleh Walid. Ia berkata bahwa performa fisik anak asuhnya meskipun puasa masih saja tetap gila. Walid tak menyangka hasil itu dan ia terharu bahwa ketaatan pemainnya terhadap agama yang diyakininya, mampu membawa berkah bagi kemenangan timnya.

Kapten Timnas Israel yang Beragama Islam Pensiun

Ada peristiwa mengharukan di Israel di awal bulan Ramadhan. Di tengah hiruk-pikuk penentangan Timnas Israel untuk tampil di Piala Dunia U-20 Indonesia, kapten timnas senior Israel yang seorang muslim, Bibras Natkho memutuskan untuk pensiun.

Kapten timnas berusia 35 tahun itu pensiun setelah Israel melakoni laga kualifikasi melawan Kosovo dan Swiss pada kualifikasi EURO 2024 tahun ini. Bertepatan dengan bulan puasa, kapten muslim di tengah negara yang mayoritas penganut Yahudi itu meneteskan air mata.

Awalnya banyak penentangan ketika ia ditunjuk sebagai kapten di 2018 silam. Sisi keislaman dalam diri Natkho tampaknya juga berpengaruh terhadap penentangan itu, termasuk beberapa kali ia terlihat tak mengumandangkan lagu kebangsaan Israel.

Uniknya, pemain Partizan tersebut dapat diterima keberadaannya memimpin timnas Israel selama kurang lebih lima tahun. Artinya sebuah toleransi ternyata ada di Israel.

https://youtu.be/iPakbPtk04Q

Sumber Referensi : skysports, dailymail, dailypost, moroccoworldnews, partizan, dailymail

Korban Rasisme yang Bersinar di London! Perjalanan Hebat Bukayo Saka

Sebuah sinar kebintangan muncul di Emirates Stadium. Sinar terang itu ada dalam diri Bukayo Saka. Pemuda blasteran Nigeria yang sejak dini sudah memukau banyak orang dengan skill-nya yang mumpuni. Tak heran saat usianya baru 21 tahun, ia kini sudah jadi tulang punggung tim.

Saka bisa sampai seperti sekarang ini tentu berkat kisah perjuangannya sedari kecil. Kerja kerasnya tak bisa bohong. Ia melewati karirnya dengan penuh kesabaran. Caci maki ia lewati dengan kesahajaan senyumnya.

Perjuangan Saka Masuk Akademi

Lahir di London 2001 silam, orang tua Saka adalah seorang imigran Nigeria. Ia sedari kecil sudah hidup penuh dengan perjuangan. Tak mudah bagi seorang keturunan imigran untuk masuk ke akademi sepakbola ternama di London yang serba mewah itu.

Berasal dari keluarga berkecukupan, ayah Saka rela merogoh koceknya dalam-dalam demi bakat anaknya itu tersalurkan dengan tepat. Karena tak dipungkiri, biayanya cukup mahal untuk menyekolahkan anaknya ke akademi sepakbola ternama di London.

Namun dengan bakat yang tak biasa, Saka akhirnya diterima di Akademi Hale End milik Arsenal. Dari situlah Bukayo Saka mengais mimpinya sebagai pesepakbola profesional. Pribadinya yang pekerja keras dan bersahaja membuat dirinya sangat disegani teman-teman sebayanya.

Sikapnya itu tertular dari keluarganya yang religius. Ia bahkan masih sering membaca alkitab sebelum hari pertandingan tiba. Saking cintanya dengan keluarga, Saka bahkan sampai sekarang masih tinggal bersama kedua orang tuanya maupun kerabat dekatnya.

Tolak Spurs dan Tolak Nigeria

Menjadi calon pesepakbola hebat tentu tak luput dari sebuah pilihan. Selain tentunya etos kerja keras dan bakat alami. Kalau soal pilihan, Saka diketahui dulunya sempat ditawari banyak klub termasuk rival bebuyutan Arsenal, Tottenham Hotspur.

Pada usia tujuh tahun, pemandu bakat Spurs ternyata sempat memantau dan membujuknya. Namun Saka mengabaikannya. Ia tak ingin pisah dan tetap bersama-teman-teman sebayanya ketika itu. FYI aja, teman-teman Saka di Akademi Hale End ketika itu antara lain Emile Smith Rowe, Reiss Nelson, Joe Willock, Maitland Niles, maupun Eddie Nketiah.

Pilihan Saka dalam perjalanan karir sepak bolanya, juga dialami ketika ia harus memilih antara membela Timnas Inggris atau Nigeria. Bahkan ada upaya dari presiden federasi sepakbola Nigeria, Amaju Pinnick untuk membujuk orang tua Saka agar pemuda Arsenal itu memilih Timnas Nigeria.

Namun apa daya, Saka tetap menolak dan memilih bersaing di timnas tanah kelahirannya. Meskipun itu sangatlah susah dibanding masuk Timnas Nigeria.

Sosok Ljungberg

Pilihan Saka tetap memilih Arsenal dan Timnas Inggris adalah sebuah tantangan yang harus diperjuangkan. Ia sangat ingin cepat berkembang agar suatu saat nanti bisa menjadi pilar penting di tim yang dibelanya.

Syukur, di level usia U-15, ia sudah dipegang pelatih sekelas Freddie Ljungberg. Pelatih akademi Arsenal yang notabene mantan bintang Arsenal di sayap kanan. Bakat Saka pun banyak diasah oleh Ljungberg. Tak lupa, Ljungberg memberikan nasihat untuk Saka agar tetap rendah hati dan terus bekerja keras. Ljungberg pun memprediksi Saka akan menjadi pemain top di usia yang masih muda.

Ramalan sang pelatih benar kejadian. Saka diberikan kontrak profesional pertamanya di Arsenal pada usia 17 tahun. Sekaligus ia dimasukan ke anggota skuad Arsenal U-23.

Penampilan ciamik Saka di level usia 23 akhirnya berjodoh hingga ke tim senior. Tepatnya di 2018/19, ketika Freddie Ljungberg ditunjuk sebagai asisten pelatih Unai Emery. Ljungberg lah yang meyakinkan Emery untuk mengorbitkan Saka di level senior meskipun umurnya baru 17 tahun.

Sampai akhirnya, ia debut di level senior pada laga Europa League melawan Vorskla Poltava dan bermain di Liga Inggris untuk pertama kalinya ketika melawan Fulham. Saka kini tak bisa melupakan jasa Freddie Ljungberg. Apa jadinya kalo mantan pemain Swedia itu tak membawanya naik level ke tim senior.

Korban Rasisme

Dengan performanya yang makin berkembang di Arsenal, ia kemudian dipanggil Southgate untuk debut di timnas senior Inggris dalam laga persahabatan melawan Wales yang berkesudahan 3-0. Setelah itu, ia istiqomah berada di skuad Southgate untuk kualifikasi Piala Eropa 2020 hingga di putaran final Piala Eropa 2020.

Namun bukan perjalanan hidup namanya kalau mulus dan mujur terus. Saka di perhelatan Piala Eropa 2020 sempat ditimpa kejadian tak mengenakan. Ia dianggap salah satu biang kerok kegagalan The Three Lions ketika gagal mengeksekusi tendangan penalti di final melawan Italia.

Peristiwa itu akan dikenang sepanjang sejarah publik Inggris. Saka sangat terpukul saat itu. Selain dicemooh banyak orang, warna kulitnya pun tak luput dari serangan rasisme. Hebatnya Saka menanggapi tindakan rasisme itu dengan santai.

Namun, Saka tak menganggap kejadian itu menghancurkan karirnya. Ia malah tergugah untuk bangkit dan tampil lebih baik lagi. Sebuah mental yang patut diapresiasi untuk pemuda 19 tahun dalam menanggapi sebuah peristiwa besar yang menyangkut karirnya.

Titik Balik Pasca Piala Eropa

Terbukti, peristiwa rasisme itu merupakan titik balik kebangkitan performa Bukayo Saka. Level permainannya menunjukan progres yang sangat berarti sejak kegagalan di Piala Eropa 2020.

Di bawah asuhan Arteta, Saka lebih dipercaya menempati posisi winger kanan dibanding pemain mahal seperti Nicolas Pepe. Sampai akhirnya Pepe didepak dan ia sendirian menguasai posisi itu.

Arsenal bersama Arteta tak dipungkiri selalu mengandalkan serangan lewat sisi sayap.
Peran pemain sayap sangat berpengaruh dalam sistem permainan Arteta. Dan Saka adalah salah satu kuncinya.

Kemampuan melewati lawan, kecepatan, dribbling, cut inside, serta kemampuan finishing Saka semakin terasah. Membuatnya jadi salah satu tulang punggung Arsenal meraih kesuksesan musim ini.

Bahkan sejak kegagalan mengeksekusi penalti di Piala Eropa, Saka kini malah ditunjuk menjadi penendang penalti utama Arsenal hingga sekarang. Gol demi gol, assist demi assist, ia torehkan bagi The Gunners. Di musim ini total ia sementara sudah mengemas 13 gol dan 10 assist. Dengan catatan itu, ia juga mencatatkan rekor sebagai pencetak gol dan assist termuda terbanyak selama satu musim di Arsenal, melangkahi rekor Fabregas.

Kontrak Baru

Maka dari itu, tak heran ia akan diganjar kontrak terbaru yang bernilai sangat signifikan. Ia dikabarkan akan menerima gaji 15 juta pounds per tahun. Itu akan menjadi nilai gaji terbesar ketiga sepanjang sejarah klub setelah Aubameyang dan Ozil.

Hal ini dilakukan juga dengan upaya untuk memproteksi Saka agar tak diganggu klub lain yang punya uang segepok. Mengingat kontraknya hampir habis 2024 nanti.

Saka dengan segala perjuangannya sejak kecil masih bermimpi bahwa kerja kerasnya itu mampu berbuah hasil di akhir musim. Peluang di depan mata juara Liga Inggris bersama klub yang dicintainya sejak kecil adalah sebuah mimpi yang harus diwujudkan. Teruslah bersinar, Bukayo Saka!

https://youtu.be/-WZdncsgli8

Sumber Referensi : espn, dailystar, sportsbrief, transfermarkt, time

Berita Bola Terbaru 28 Maret 2023 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Timnas Prancis kembali raih hasil positif. Prancis menang 1-0 melawan tuan rumah Republik Irlandia pada laga Kualifikasi Piala Eropa 2024. Les Bleus meraih kemenangan lewat gol Benjamin Pavard. Dengan hasil ini, Kylian Mbappe dkk nangkring di posisi pertama klasemen grup B dengan 6 poin. 

Di laga lainnya, Belanda mengalahkan Gibraltar dengan skor 3-0 dalam matchday kedua Grup B di Feyenoord Stadium, Belanda, Selasa dini hari WIB. Di babak perdana, Memphis Depay membuka keunggulan untuk Belanda sebelum Nathan Ake mencetak dua gol di babak kedua, untuk menegaskan 3 poin tim oranye.

MBAPPE: RABIOT KINI JADI PILAR PENTING UNTUK PRANCIS

Menyusul absennya N’Golo Kante dan Paul Pogba di Piala Dunia 2022 lalu, pelatih Didier Deschamps menugaskan Adrien Rabiot sebagai jenderal baru di lini tengah Les Bleus. Kapten Timnas Prancis, Kylian Mbappe menyebut sosok Rabiot sekarang sebagai figur yang tak tergantikan di lini tengah Les Bleus. Pujian itu pun didukung dengan statistik Rabiot di sepanjang musim 2022/23 ini yang sudah mencetak 9 gol plus 4 assists dari 33 pertandingan di semua kompetisi.

HENGKANG, CONTE BERI PESAN ISTIMEWA UNTUK TOTTENHAM DAN FANS

Antonio Conte telah resmi meninggalkan Tottenham dengan kesepakatan bersama belum lama ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada para penggemar yang selalu memberikan dukungan kepadanya dengan sebuah tulisan melalui Instagram pribadinya yang berbunyi:  “Perjalanan kita bersama telah berakhir, saya doakan yang terbaik untuk anda semua.”

ZANIOLO SEBUT ROMA INGKAR JANJI

Pemain Galatasaray, Nicolo Zaniolo untuk pertama kalinya bicara soal kepergiannya dari AS Roma. Zaniolo menyebut Roma ingkar janji kepadanya. Zaniolo kecewa dengan perlakuan Roma. Pemain 23 tahun itu merasa cuma dianggap sebagai sumber keuntungan. Zaniolo juga mengecam mantan rekan-rekan setimnya di Roma. “Saya kecewa dengan reaksi dari hampir semua orang. Saya tidak akan sebut nama, tapi beberapa dari mereka bilang kami seperti keluarga tapi bahkan mereka tidak bilang selamat tinggal kepada saya,” katanya.

PUJIAN GERRARD UNTUK JUDE BELLINGHAM

Legenda Liverpool, Steven Gerrard memberikan pujian terhadap performa dan perkembangan yang ditunjukkan Jude Bellingham. Mantan manajer Rangers itu mengatakan bahwa perkembangan yang ditunjukkan Bellingham melebihi tingkat perkembangan yang ditunjukkan Gerrard pada usia 19 tahun. Menurut Gerrard, Bellingham juga memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi ketika memiliki bola. 

KONTRAK DI MARIA SEGERA BERAKHIR, ATLETICO MADRID SIAP MENAMPUNG

Kontrak Angel di Maria bersama Juventus akan berakhir pada penghujung musim ini. Hal tersebut berusaha dimaksimalkan oleh klub asal Spanyol, Atletico Madrid. Kedatangan Di Maria memberikan opsi tersendiri bagi Atletico. Pelatih Diego Simeone diketahui sedang ingin mengubah skema permainan, dan pemain seperti Di Maria akan membantu mereka mencapainya.

LIVERPOOL RAMAIKAN PERBURUAN VICTOR OSIMHEN

Daftar peminat Victor Osimhen di musim panas nanti semakin panjang. Terbaru, Liverpool memutuskan terjun dalam perburuan bomber Napoli tersebut. Mereka membutuhkan bomber baru di lini serang mereka. Ini disebabkan Roberto Firmino dipastikan akan cabut dari Anfield di musim panas nanti. Sementara performa Darwin Nunez masih angin-anginan. Dan Osimhen dinilai bisa jadi tambahan yang bagus untuk tim mereka.

OSIMHEN TERUS DIGUYUR BONUS KARENA TAK HENTI CETAK GOL UNTUK NAPOLI

Victor Osimhen telah mendapatkan dua bonus setelah mencetak 25 gol musim ini. Masing-masing senilai 130 ribu euro (Rp 2,1 miliar). Yang pertama setelah mengantongi gol ke-20 musim ini dan yang kedua setelah mencetak gol ke-25 di semua kompetisi. Dia akan mendapatkan lebih banyak lagi jika mampu mencapai 30 gol. Menurut Football Italia, nominalnya adalah 130 ribu euro lagi.

DE VRIJ PERPANJANG KONTRAK DI INTER MILAN

Stefan De Vrij dilaporkan siap memperpanjang masa baktinya di Inter Milan hingga musim panas 2025. Kontrak lawas bek asal Belanda itu berakhir pada 30 Juni 2023. Menariknya De Vrij diklaim rela menerima pemangkasan gaji dari yang semusim sebesar 4,2 juta Euro menjadi 4 juta Euro. Dengan usianya yang sudah menginjak kepala tiga, De Vrij merasa wajar apabila gaji yang diterimanya sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan beberapa musim silam.

REAL MADRID INGIN PULANGKAN BRAHIM DIAZ

Masa tinggal gelandang asal Spanyol, Brahim Diaz di AC Milan sebagai pemain pinjaman akan berakhir pada akhir Juni 2023 mendatang. Dilansir dari Football Italia, Real Madrid ingin memulangkan Brahim Diaz dengan tujuan agar dapat menjual pemain yang telah dipinjam AC Milan sejak 2020 itu dengan harga lebih tinggi. Di sisi lain, Rossoneri juga akan dengan senang hati mempertahankan Brahim Diaz di Stadion San Siro setelah akhir musim.

INGIN BERTAHAN DI CHELSEA, N’GOLO KANTE DIGODA PSG

Gelandang Chelsea yang kontraknya habis di musim panas ini, N’Golo Kante digoda oleh PSG meski ingin bertahan bersama The Blues. Les Parisiens ingin menambah pemain berpengalaman yang berposisi sebagai gelandang. Kante muncul sebagai opsi yang bagus mengingat kontribusinya sebagai gelandang bertahan. Meski Kante baru saja pulih dari cedera panjang, hal tersebut tak mengurungkan niat PSG untuk terus menggoda.

HAALAND BUKAN JAMINAN MAN CITY JUARA LIGA CHAMPIONS

Sejauh ini, penampilan Erling Haaland memuaskan. Ia mengemas 42 gol hanya dalam 37 pertandingan bersama Manchester City. Tak pelak, ketajaman Haaland diharapkan menjadi senjata saat bersua Bayern Munchen di perempat final. Haaland diharapkan menjadi mesin gol dan membawa City juara Liga Champions pada musim ini. Namun, Sergio Aguero tidak melihat Haaland bisa diandalkan seorang diri. Perlu ada sokongan dari pemain lain agar Man City menyisihkan Bayern.

MESSI BISA KEMBALI KE BARCELONA DENGAN 3 SYARAT

Masa depan Lionel Messi di PSG belum jelas, mengingat kontraknya akan habis Juni nanti, dan ia dirumorkan bakalan kembali ke klub lamanya, Barcelona. Barcelona dilaporkan memberi Messi tiga syarat jika kampiun Piala Dunia tersebut ingin kembali ke Camp Nou musim panas ini. Tiga syarat yang ditentukan Barca adalah Messi harus menyatakan dengan jelas ia ingin kembali, menerima peran yang lebih kecil, serta rela turun gaji.

ADA PERAN ARSENAL DALAM PERPISAHAN CONTE-TOTTENHAM

Tottenham Hotspur dan Antonio Conte akhirnya sepakat mengakhiri kerja sama. Eks pemain Arsenal Martin Keown menilai Arsenal ikut berperan dalam kepergian Conte. Fakta bahwa Arsenal saat ini unggul jauh atas Tottenham di klasemen Liga Inggris dinilai menambah tekanan untuk The Lilywhites. Conte musim lalu membawa Tottenham finis empat besar dengan menyalip Arsenal di pekan-pekan terakhir. Namun, musim ini, Arsenal melangkah lebih jauh dengan menjadi kandidat juara Premier League.

PEMERINTAH LOBI FIFA SOAL ISRAEL: SUDAH AJUKAN SYARAT, TAPI TIDAK DITERIMA

Pemerintah telah mengajukan sejumlah syarat kepada FIFA perihal kedatangan Timnas Israel ke Piala Dunia U-20 di Indonesia, sebelum FIFA memutuskan untuk membatalkan drawing di Bali. Pelaksana tugas Menpora Muhadjir Effendy menyayangkan bahwa syarat-syarat yang diajukan pemerintah kelihatannya tidak mendapatkan kesepakatan di FIFA. Dikatakan, yang dipegang pemerintah adalah bukan soal kebijakan, tapi kepatuhan terhadap konstitusi, yang berbunyi bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ada­lah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sesuai perikema­nusian dan keadilan. Lanjut Muhadjir, ketika ada negara yang timnya diindikasikan masuk kategori itu, maka harus ada prasya­rat-prasyarat khusus. “Dan itulah yang kita ajukan ke FIFA dan keli­hat­annya tidak ada titik temu,” kata Muhadjir.

KIMMICH BUKA SUARA SOAL PEMECATAN NAGELSMANN

Pemain Bayern Munchen, Joshua Kimmich buka suara pasca pemecatan Julian Nagelsmann yang mendadak. Dilansir AS, ketika ditanya apakah penyebab dipecatnya Nagelsmann adalah ketegangan di ruang ganti, Kimmich menjawab bukan. Menurutnya, hubungan Nagelsmann dengan para pemain baik-baik saja. Ini murni keputusan manajemen karena tim tidak menunjukan performa yang baik di 10 pertandingan terakhir.

GABUNG BAYERN, TUCHEL INGIN BOYONG STAF KEPELATIHAN CHELSEA

Pihak Chelsea dikabarkan kurang senang dengan mantan pelatih mereka, Thomas Tuchel setelah secara terbuka ingin membawa gerbong tim kepelatihannya ke Bayern Munchen. Dilansir Goal, dalam sesi jumpa pers pengenalannya di Bayern, Tuchel berniat untuk menggoda Anthony Barry agar mau bergabung bersamanya di Jerman. Barry sendiri merupakan mantan staf kepelatihannya sewaktu masih menangani Chelsea.

KIM MIN-JAE TAMPIK RUMOR KE SPURS

Tottenham dikabarkan berminat untuk mendatangkan bek Napoli, Kim Min-jae dan membuatnya bermain bersama dengan Son Heung-min musim depan. Namun dilansir Football Italia, Kim justru menampik rumor tersebut. Ia sangat menghargai kontraknya di Napoli. Untuk saat ini, Kim hanya fokus pada klub dan tujuan klub di akhir musim. Terlebih, Napoli tengah berada di jalur yang benar untuk menjuarai Serie A musim 2022/23.

INTER SIAP LEPAS BROZOVIC

Meski baru musim lalu menandatangani perpanjangan kontrak, Marcelo Brozovic dikabarkan semakin dekat dengan pintu keluar Inter Milan. Dilansir Football Italia, Inter siap untuk menjual Brozovic di musim panas mendatang. Cedera kambuhan jadi alasan utama Inter tak ingin mempertahankan sang pemain. Bahkan Brozovic bukan lagi pilihan utama di skuad utama Inter Milan musim ini.

GNONTO CEDERA KERUGIAN BAGI LEEDS

Kemenangan Italia dari Malta harus dibayar dengan cederanya pemain sayap mereka, Wilfried Gnonto. Dilansir The Sun, dalam laga tersebut, Gnonto mengalami cedera di bagian pergelangan kaki. Selain jadi kerugian bagi Timnas Italia, cederanya Gnonto juga merugikan Leeds United. Pasalnya, Gnonto merupakan salah satu pemain kunci Leeds musim ini. Jadi, cederanya sang pemain membuat kekuatan Leeds berkurang di tengah situasi tim yang sedang berjuang menghindari degradasi musim ini.

CHAMBERLAIN JADI REBUTAN TIGA KLUB LIGA INGGRIS

Gelandang Liverpool, Alex Oxlade-Chamberlain dikabarkan bakal jadi rebutan tiga klub Liga Inggris pada musim panas mendatang. Dilansir Daily Mail, Liverpool siap melepas sang pemain pada musim panas ini dan ada tiga tim yang berminat untuk menampungnya. Ketiga tim tersebut antara lain Aston Villa, Newcastle United, dan Brighton. Ketiganya akan berusaha mendapatkan sang pemain secara gratis karena kontraknya bersama Liverpool akan berakhir pada Juni 2023.

KEMENANGAN PERTAMA RUSIA PASCA INVASI

Ada yang menarik dari laga uji coba internasional antara Rusia dan Irak kemarin. Dilansir ESPN, Negeri Beruang Merah berhasil mengalahkan Iraq dengan skor 2-0. Yang menarik adalah ini merupakan kemenangan kandang pertama tim nasional Rusia sejak November 2021. Karena sejak awal tahun 2022 Rusia mendapat larangan bertanding dari FIFA karena melakukan invasi ke Ukraina. 

BARCELONA KEMBALI DEKATI ALEX GRIMALDO

Kesulitan keuangan membuat Barcelona akan membatasi pengeluaran mereka untuk transfer musim panas ini. Jadi mereka akan mengincar transfer gratisan dan salah satu pemain incarannya adalah Alex Grimaldo. Dilansir Football Espana, kontrak Grimaldo di Benfica akan habis di akhir musim ini. Dengan begitu, Barcelona akan memanfaatkan situasi tersebut untuk memulangkan mantan pemainnya itu.

NEWCASTLE INCAR WARD-PROWSE

Newcastle dikabarkan tengah mengincar gelandang Southampton, James Ward-Prowse. Dilansir Football Insider, Ward-Prowse akan hengkang dari Soton apabila timnya terdegradasi akhir musim nanti. Menurut laporan yang sama, Newcastle akan memanfaatkan agen Ward-Prowse untuk membujuk sang pemain. Kabarnya, Ward-Prowse memiliki agen yang sama dengan penjaga gawang The Magpies, Nick Pope.

MU PANTAU DAVID RAYA SEBAGAI PENGGANTI DE GEA

David De Gea dikabarkan belum mau menyepakati kontrak baru dengan Manchester United. Situasi ini memaksa klub untuk berancang-ancang mencari penggantinya. Dilansir Give Me Sport, United sedang memantau situasi kiper Brentford, David Raya. Menurut manajemen United, kemampuan Raya dalam distribusi bola dirasa cocok dengan evolusi yang dibawa Ten Hag. Namun, MU tak sendirian. Chelsea dan Spurs juga berminat menggunakan jasa pemain kelahiran Barcelona tersebut.

Aguero: “Haaland Bukan Jaminan Champions!” Ini Rencana Pep Musim Depan?

Bukan rahasia kalau Manchester City sudah lama mendambakan gelar Champions. Itulah salah satu alasan City mendatangkan Pep Guardiola di tahun 2016 sampai Haaland di musim ini. Tapi, Aguero mengklaim Haaland bukanlah jaminan kalau City bisa jadi raja Eropa. Untuk itu Pep harus punya rencana yang lebih matang untuk skuadnya.

Saat ini liga-liga di Eropa memang sedang menjalani jeda internasional. Tapi bukan berarti mereka bisa bersantai, sebab banyak hal akan terjadi ketika jeda internasional ini usai. Liga-liga domestik akan kembali dimulai untuk menentukan siapa pemuncak klasemen. Dan kompetisi antar klub benua biru juga akan semakin memanas dengan bertambah sedikitnya para kontestan.

Tidak terkecuali dengan Manchester City yang punya target besar di musim ini. City memang sedang berusaha mengejar ketertinggalan mereka dengan Arsenal di Premier League. Tapi musim ini City tidak hanya menargetkan untuk mempertahankan gelar Liga Inggris mereka. Melainkan juga untuk merengkuh gelar Liga Champions yang sudah lama dinanti-nanti.

City Dambakan Champions

Ya, memang sudah lama citizen mendambakan untuk membawa pulang si kuping besar ke Etihad. Itu lah kenapa pemilik Manchester City, Sheikh Mansour sampai mendatangkan Pep Guardiola ke klubnya. Ia berharap pelatih legendaris itu bisa mengulangi kesuksesan yang ia buat di Barcelona.

Setelah Pep datang, Man City memang mengalami banyak peningkatan. Trofi demi trofi domestik mereka dapatkan. Pemain-pemain kelas dunia berhasil mereka datangkan. Dan rekor-rekor pun mereka catatkan. Di bawah tangan dingin Pep Guardiola, City jadi tim yang mendominasi Inggris.

Tapi tetap saja, Guardiola masih belum bisa mempersembahkan trofi Champions untuk citizen. Sekalinya sudah sampai final, eh malah kalah dengan Chelsea, musuh mereka di Inggris. Padahal itu langkah terdekat City untuk mengangkat piala Champions League.

Musim ini Manchester Biru dipandang banyak orang punya peluang lebih besar. Sebab, kini mereka sudah punya Haaland sebagai ujung tombak. Kehebatannya dalam mencetak gol sudah ia buktikan di musim ini. Padahal ini adalah musim pertamanya di Inggris. Meskipun begitu, legenda Manchester City Sergio Aguero bilang kalau Haaland bukanlah jaminan mantan klubnya itu bisa jadi raja Eropa. Apalagi lawan mereka selanjutnya adalah Bayern Munchen.

Haaland Bukan Jaminan

Dilansir dari FourFourTwo.com, Aguero menanggapi klaim kalau Haaland adalah kunci City dalam menjuarai Liga Champions musim ini. Menurutnya jika City ingin menjuarai Liga Champions, maka sebaiknya Pep tidak hanya mengandalkan pemain asal Norwegia itu saja. Melainkan juga melibatkan keseluruhan tim.

“City memang butuh striker dengan penyelesaian klinis dan bisa menciptakan gol di depan gawang lawan. Itu jelas yang mereka inginkan. Tapi bukan itu masalahnya. Satu pemain tidak pernah menjamin gelar untuk satu klub. ini tentang tim. Terutama jika berbicara soal Manchester City. Sebab senjata utama mereka adalah permainan kolektif yang kuat”

Pemain asal Argentina itu melanjutkan soal pertandingan yang harus dihadapi Pep selanjutnya di liga Champions. Yaitu melawan penguasa Jerman, Bayern Munchen. Fakta kalau Bayern Munchen sudah sering menghadapi Haaland saat ia masih di Dortmund bisa sedikit merugikan City. Sebab, artinya Munchen punya segudang informasi tentang cara menghentikan Haaland.

Aguero sadar akan hal ini. Itulah mengapa ia bisa bilang kalau Haaland bukan kunci kejayaan City di Eropa musim ini. Aguero menyarankan kalau Haaland bukan satu-satunya tim yang diandalkan untuk merusak pertahanan Bayern nanti.

“Semua ini seharusnya tidak jadi kejutan bagi mereka. Bayern sudah mengenal Haaland di Jerman, dan mereka sudah tau apa yang bisa dia lakukan dan bagaimana kemampuannya.” Ungkapnya.

Meskipun begitu, Aguero juga bilang kalau City masih punya keunggulan. Jika Pep bisa memaksimalkan skuad dan bermain secara tim, itu bisa merepotkan anak asuh Thomas Tuchel nantinya.

“Perbedaannya adalah Haaland sekarang berada di Manchester City. Yang mana tim dengan permainan ofensif hebat dan punya banyak variasi serangan. Jadi mereka diharuskan mencari cara untuk menghentikan seluruh tim. Bukan hanya Haaland”

Peluang City di Perempat Final

Tentu saja Aguero menjagokan citizen untuk menang musim ini. Tapi ia tidak bisa memungkiri kalau Bayern adalah lawan yang sangat kuat. Menurutnya, tim yang bisa menyerang dan bertahan dengan cepat akan keluar sebagai juara nantinya.

“Tentu saya mengunggulkan Manchester City. Tapi keduanya adalah tim hebat. Keduanya adalah tim yang punya karakteristik menyerang. Yang paling mematikan di depan gawang dan cepat menutup pertahanan adalah pemenangnya nanti.”

Dilansir dari telegraph.co.uk, Manchester Biru memang jadi tim yang paling difavoritkan juara musim ini. Dikutip dari laman tersebut, anak asuh Pep Guardiola punya peluang 31%. Sedangkan Bayern berada tepat di bawah mereka di urutan kedua dengan peluang 22%.

Skuad City musim ini bisa dibilang sempurna. Tapi masih ada ruang bagi Pep untuk meningkatkannya. Dikutip dari Manchester Evening News, ada beberapa peningkatan skuad jika City tepat dalam membeli pemain di bursa transfer musim panas nanti.

Di lini bertahan, City punya beberapa bek tengah yang cukup kuat. Tapi kepergian Zinchenko dan Joao Cancelo menciptakan lubang menganga di posisi full-back. Josko Gvardiol merupakan pilihan yang tepat. Ia memang bek tengah tapi tidak jarang diposisikan sebagai bek sayap.

Rencana Pep Guardiola

Untuk Cancelo, kemungkinan besar ia akan kembali dari masa peminjamannya di Munchen. Tapi jika tidak, Raphael Guerreiro yang tampil fenomenal bersama Dortmund bisa jadi pilihan tepat.

Di bagian gelandang, masuk akal kalau Pep mengincar Jude Bellingham. Meskipun mahal, tapi Bellingham akan jadi pengganti jangka panjang Gundogan Maupun Bernardo Silva yang paling cocok. Pemain muda Inggris itu punya segala keterampilan yang dibutuhkan.

Satu gelandang lagi yang dirumorkan adalah Mateo Kovacic. Dengan kedatangan Enzo Fernandez, mantan pemain Real Madrid itu semakin tidak terpakai. Juara Liga Champions empat kali itu diharapkan bisa membawa pengalaman berharga dan dinamika lini tengah untuk tim.

Lini serang jadi PR paling terakhir Pep di musim depan. Dengan adanya Haaland, Grealish, Mahrez, Alvarez, dan lainnya, saat ini citizen punya lini serang paling menakutkan di Inggris. Haaland dan Alvarez tidak usah dipertanyakan lagi performanya di musim ini.

Begitu juga dengan Grealish, Mahrez dan Foden yang sudah bekerja sangat keras. Grealish sendiri di musim ini sedang berada di puncak performanya bersama City. Jadi, walaupun Pep memilih untuk tidak membeli penyerang baru, mereka masih aman menghadapi musim depan.

Tapi kalau Liga Champions yang masih mereka kejar, maka harus ada peningkatan. Yaitu sisi sayap yang masih bisa dipertajam lagi. Apalagi setelah mereka ditinggal Raheem Sterling dan Gabriel Jesus.

Khivicha Kvaratskhelia jadi pilihan paling tepat. Dia bersinar bersama Napoli musim ini dan akan jadi pembelian sempurna untuk City. Tapi Napoli memagari Kvara dengan harga selangit. Yaitu 100 juta poundsterling.

Jika Pep sayang mengeluarkan duit segitu, maka pilihannya bisa beralih ke Serge Gnabry. Mantan pemain Arsenal itu adalah pemain kunci Bayern Munchen. Data dari transfermarkt menunjukan harganya sekitar 65 juta pounds. Untuk pemain sekelas dirinya dan masih berusia 27 tahun, itu sama sekali bukan pilihan yang buruk.

Sumber referensi: 4-4-2, Stake, MEN 1, MEN 2, Telegraph