Apa Jadinya Klub-Klub Besar Inggris Bila Jumlah Pemain Asing Dibatasi?

Apa Jadinya Klub-Klub Besar Inggris Bila Jumlah Pemain Asing Dibatasi?

Bangsa Inggris memang punya harga diri. Setelah berani mengklaim negerinya sebagai tempat “matahari tak akan pernah tenggelam”, mereka mengambil langkah riskan dengan memutuskan keluar dari Uni Eropa pada 2016 lalu. Berkat referendum yang menghasilkan putusan Brexit (British & Exit) tersebut, Inggris akan jadi negara berdikari yang tak lagi tergantung pada organisasi Uni Eropa. Lanjutkan membaca →

Didier Drogba, Hentikan Perang Saudara Lewat Sepakbola

Didier Drogba, Hentikan Perang Saudara Lewat Sepakbola

Untuk semua kesuksesan yang diraih, karir gemilang Didier Drogba adalah salah satu kisah di mana tokoh utama harus melalui rintangan berat.

Lahir dan dibesarkan di metropolis padat Abidjan, Pantai Gading, dia keluar dari Afrika pada saat usia lima tahun, Drogba dikirim ke Prancis untuk tinggal bersama pamannya, Michel Goba, seorang pesepakbola profesional yang mengukir karir di kasta kedua sepakbola Prancis.

Lanjutkan membaca →

Pemanggilan Kembali Wayne Rooney yang Mengejutkan

Pemanggilan Kembali Wayne Rooney yang Mengejutkan

Wayne Rooney akan kembali ke tim nasional Inggris setelah pihak FA (federasi sepak bola Inggris) memutuskan akan memberi penghargaan bagi sang mantan kapten dalam sebuah laga uji tanding kontra Amerika Serikat bulan ini. Rooney, yang hijrah ke seberang atlantik pada musim panas lalu ke DC United, mencatatkan caps terakhirnya bareng timnas Inggris pada November 2016.

Sang striker akan mengenakan seragam Tiga Singa untuk kali terakhir di Wembley dalam laga yang diberi tajuk “The Wayne Rooney Foundation International” tersebut. Pihak FA sudah mengatur penampilan Rooney pada malam itu, yakni muncul sebagai pemain pengganti dan akan mengenakan seragam bernomor punggung 10.

Meski kembali tampil beringas sejak merumput di Major League Soccer, Rooney dipastikan tidak akan terlibat lagi di timnas di masa mendatang (sebagai pemain). Sejak meninggalkan Everton pada bulan lalu, pria berjuluk Wazza tersebut mengubah nasib DC United dengan  mencetak 12 gol dan membawa mereka ke babak play off.
Walaupun tak sampai membawa klubnya juara, musim pertama Wazza di Amerika tergolong sukses, dan membuatnya dihubung-hubungkan dengan kemungkinan berkarier kembali di Eropa. Beberapa klub Premier League dan pemburu promosi di Divisi Championship dikabarkan membuka diri untuk top skorer sepanjang masa timnas Inggris tersebut, walaupun dirinya menyatakan tak mengambil langkah itu.

Sebenarnya, keputusan melibatkan Rooney dalam laga ini mendapat banyak kritik, karena beberapa kalangan menilai Inggris harus fokus mempersiapkan diri untuk turnamen masa mendatang, bukan untuk bernostalgia dengan masa lalu. Timnas Inggris sendiri sedang dalam aura positif setelah hasil mengejutkan mereka di Piala Dunia lalu. Muncul harapan agar performa ciamik itu berlanjut hingga Euro 2020, dan persiapan matang sejak dini bisa jadi salah satu hal kunci.

Bagi Wazza, laga ini akan jadi momen sempurna untuk menyampaikan salam perpisahan bagi publik Inggris. Ia sempat menjalani masa singkat di Everton setelah eranya di Manchester United usai, tetapi tak mampu bersinar seperti mulai menyeruak kala ia masih remaja. Ada yang bilang, kepindahannya ke Amerika dilatarbelakangi keinginan untuk mendapat bayaran tinggi dan membuktikan ia belum habis, meski bukan di level tertinggi.

Apapun pandangan orang terhadap “laga perpisahan” ini, sulit untuk mengatakan anak emas Sir Alex Ferguson tersebut tidak memberikan yang terbaik untuk negaranya. Yang pasti, pelibatannya dalam laga ini akan menaikkan level ketertarikan publik untuk menonton laga yang cuma berstatus uji tanding ini.

Rating Pemain Indonesia dalam Laga Melawan Singapura

Rating Pemain Indonesia dalam Laga Melawan Singapura

Banyak pemain tampil buruk, tetapi sejauh mana pemain-pemain kita memainkan perannya dan berapa nilai mereka dengan skala 10? berikut kami sajikan rating pemain Indonesia dalam laga melawan Singapura….

Andritany Ardhiyasa – 6

Andritany tak berdaya untuk mencegah gol Singapura, tapi ia melakukan dua penyelamatan penting sebelum dan sesudah momen tersebut. Dia beruntung tidak kebobolan saat maju dari sarangnya dan mendapati bola dicungkil  oleh penyerang Singapura di babak kedua.

Putu Gede – 3

Putu Gede melakukan berbagai tindakan membahayakan lawan di sepanjang pertandingan dan mendapat kartu merah di akhir laga akibat kartu kuning kedua. Ia beruntung tak dikeluarkan lebih awal setelah serangkaian terjangan kaki dan tekel telat.

Rizki Pora – 5

Rizki Pora hanya membiarkan bola dalam beberapa kesempatan dan hampir mencelakakan tim, termasuk tendangan Hariss Harun yang mengenai mistar. Bagaimanpun dia tangguh di udara dengan memenangi beberapa duel udara. Ia juga banyak mengeksekusi bola mati.

Ricky Fajrin – 4

Ricky Fajrin, sebagaimana rekan-rekannya di lini belakang, tak mampu menampilkan kesolidan. Dia salah mengambil posisi beebrapa kali dan gagal menandingi kecepatan Faris Ramli dan keunggulan badan Ikhsan Fandi.

Hansamu Yama – 5

Hansamu Yama, sang kapten, mencoba memimpin dari belakang dengan kemampuan duel udara. Dia berkontribusi di lini belakang dengan memenangi beberapa duel dan menginisasi serangan, tetapi tetap tak bisa digolongkan luar biasa.

Irfan Jaya – 3

Setelah babak pertama yang tak memberi dampak apa pun bagi tim, ia adalah orang yang pertama diganti di pertandingan saat jeda babak. Kontribusi tunggalnya, yakni umpan sundulan ke Lilipaly yang berbuah gol, dianulir wasit karena offside.

Febri Hariyadi – 5

Febri punya sejumlah kesempatan untuk menyamakan kedudukan, tapi tak mampu mengeksekusi dengan sempurna di sepertiga akhir. Dia secara umum mampu dihentikan oleh pertahanan Singapura, tetapi ketika dia mampu lolos, ia tak mampu mengubahnya jadi peluang berarti.

Stefano Lilipaly – 4

Lilipaly seharusnya menjadi pemain yang paling bersinar bila Indonesia tampil bagus. Namun, dia tak terlihat di sepanjang pertandingan dan menjadi alasan utama mengapa Indonesia gagal mengancam pertahanan Singapura.

Zulfiandi – 4

Untuk standar Zulfiandi, pertandingan malam itu tergolong buruk. Dia mengantarkan beberapa umpan ke belakang pertahanan Singapura, tetapi tak mampu lebih dari itu. Terlebih, kawan-kawannya gagal mencari ruang.

Evan Dimas – 5

Evan Dimas mampu mengontrol permainan di tengah, terutama di babak pertama. Namun pengaruhnya dalam perkembangan serangan Indonesia tak terlihat selain karena Singapura tampil bagus, sayap-sayap Indonesia bermain buruk.

Beto Goncalvez – 5

Beto terlihat terisolasi di area terdepan. Ketika Singapura bermain dengan garis pertahanan tinggi, Beto sering mencari ruang di belakang, tetapi ia terlalu sering terperangkap offside. Serangan balik yang seharusnya mengancam pun tak pernah terjadi.

Indonesia praktis harus memperbaiki di laga berikutnya. Tak boleh lagi ada pemain tak berkutik, tak boleh lagi menelan kekalahan. Semua pemain harus memainkan perannya masing-masing dengan kesempurnaan, Ayo Indonesia…

Performa Negara-Negara Peserta Piala AFF di 2018

Performa Negara-Negara Peserta Piala AFF di 2018

Piala AFF 2018 telah dimulai. Turnamen terbesar di Asia Tenggara tersebut kembali bergulir setelah dua tahun, dan beberapa tim akan terlibat dalam turnamen berformat baru. Kami akan meninjau performa 10 peserta sepanjang 2018…

Myanmar (1 Menang, 1 Imbang, 5 Kalah)

Myanmar ialah tim dengan catatan terburuk menjelang turnamen. Mereka hanya menang sekali dalam tujuh pertandingan, yakni kemenangan tipis atas negara mungil Macau jauh pada Maret lalu. Sejak saat itu, tim asuha Antoine Hey kalah beruntun dalam empat laga.

Kamboja (1 M, 1 I, 5 K)

Senasib dengan Indonesia, Kamboja menyambut Piala AFF 2018 dengan ketidakpastian. Situasi mengenai peran pelatih kepala Keisuke Honda tak menemui kejelasan. Laporan terbaru malah memberitakan eks bintang Jepang tersebut akan absen dalam laga pembuka. Mereka pun berada dalam kondisi krisis: cuma menang sekali dalam tujuh laga terakhir. \

Timor Leste (1 M, 2 I, 4 L)

Timor Leste harus bekerja lebih keras untuk dapat berlaga di Piala AFF 2018. Mereka harus baku hantam dengan Brunei di babak kualifikasi untuk mengamankan tempat ke-10 di turnamen ini. Sayangnya, kemenangan 3-1 atas negeri minyak tersebut menjadi satu-satunya dalam tujuh laga terakhir mereka.

Laos (2 M, 1 I, 4 K)

Laos mendapat undian mudah dalam Piala AFF 2018 setelah mendapat grup yan relatif ringan. Bagaimanapun, performa mereka menjelang turnamen sedikit mengkhawatirkan. Meski menempati posisi tiga di AFC Solidarity Cup, mereka sudah kalah tiga kali dalam empat pertandingan terakhir.

Thailand (2 M, 1 I, 4 K)

Mungkin Thailand ialah tim terbaik dalam sejarah kompetisi, tetapi belakangan ini mereka sedang tak terlalu bagus. Tim Gajah Putih punya catatan yang sama dengan Laos, menang dua kali, imbang sekali, kalah empat kali dalam tujuh laga terakhir.

Malaysia (4 M, 3 K)

Bergabung dengan Laos dan Vietnam di grup A, Malaysia diunggulkan untuk lolos ke babak semifinal. Namun, bila kita menggunakan tren tujuh laga terakhir sebagai pembanding, Malaysia akan beridri di puncak klasemen. Empat  kemenangan dan tujuh kekalahan berarti Malaysia memasuki turnamen ini lebih baik daripada Thailand.

Indonesia (3 M, 2 I, 2 K)

Bila merunut sejarah, Indonesia sebenarnya sangat sial di Piala AFF. Tim Garuda ialah tim paling tak beruntung dengan gagal memenangi satu pun trofi dalam lima kesempatan ke final. Namun, tren terkini mereka lebih baik daripada Thailand dan Malaysia, dua penakluk terakhir mereka di final. Mungkinkah tahun ini Indonesia berjaya/

Singapura (4 M, 1 I, 2 K)

Dengan catatan empat kali menang dan sekali imbang, Singapura menyambut turnamen ini dengan cukup baik. Mereka mengalahkan Mongolia, Kamboja, Fiji, dan Maladewa dalam beberapa bulan belakangan. Anggota grup B seperti Indonesia harusnya waspada.

Filipna (2 M, 5 I)

Salah satu favorit juara tersebut mempersiapkan diri dengan optimal, termasuk mendatangkan pelatih Sven-Goran Erikkson dan menghubungi kiper Neil Etheridge. Mereka juga menjadi tim dengan catatan terburuk menjelang turnamen, menang dua kali dan tak terkalahkan dalam tujuh pertandingan terakhir.

Vietnam (2 M, 5 I)

Memiliki catatan serupa dengan Filipina, Vietnam sama sekali tak mengecap kekalahan dalam tujuh pertandingan terakhir. Mereka pun sepertinya akan memuncaki klasemen yang berisikan Malaysia, Laos, Kamboja, dan Myanmar.

Jika uraian tadi membahas penampilan di laga uji tanding, maka bagaimana performa mereka di turnamen sesungguhnya?

Legenda:  Edwin Van der Sar, Kiper United Pra-De Gea

Legenda: Edwin Van der Sar, Kiper United Pra-De Gea

Ada stereotip lama bagi seorang kiper: semakin menawan seiring berjalannya usia. Penjaga gawang justru akan semakin matang jika sudah melewati usia 30, bahkan sampai mendekati 40. Namun, Edwin Van der Sar sedikit mengusik pendapat lama tersebut: ia ciamik sejak meniti karier. Ia mengawali di level tinggi, dan mengakhiri (karier) di level tinggi pula.

Bila football lovers masa kini kerap disuguhi kiper dengan footwork mumpuni semacam Ederson, Alisson, atau Kepa, dan jika kita menelusuri siapa salah satu kiper paling awal yang punya atribut semacam itu, maka kita akan menemukan nama Edwin Van der Sar.

Yap, Van der Sar tumbuh di lingkungan sepak bola Ajax Amsterdam, tempat yang terpengaruh filosofi total voetbal Rinus Michel dan Johan Cruyff yang mengagungkan penguasaan bola. Memulai debut pada musim 1990/91, dia sempat tak mendapat tempat pada musim berikutnya. Namun, begitu kiper utama Stanley Mezzo tampil buruk, Van der Sar muda mulai mengklaim tempat utama pada 1992/93. Sejak saat itu, dia selalu mencatatkan lebih dari 40 laga di tiap musimnya.

Catatan paling fenomenal tentu saja saat menjadi juara Liga Champions 1995 di bawah asuha Louis van Gaal, sebuah torehan yang tak mampu didekati klub Belanda mana pun hingga kini.

Karier terus berlanjut dan Van der Sar telah dikenal sebagai kiper terbaik dunia. Pada 1999, ia disebut-sebut sebagai kiper terbaik dunia yang tersedia di bursa transfer. Momen ini bertepatan dengan kepastian hijrahnya seorang kiper legenda di klub Manchesterl. Peter Schmeichel yang agung turun dari singgasananya di Old Trafford, dan pelatih Sir Alex Ferguson menganggap Van der Sar dapat menggantikan dirinya.

Namun, saat itu manajemen United sudah menjamin kontak dengan kiper medioker bernama Mark Bosnich, hingga kisah bersama Van der Sar pun terpaksa ditunda.

Sementara itu, Van der Sar memilih terbang ke Juventus. Pindah ke raksasa Italia ternyata tak membuatnya betah. Atributnya tak cocok dengan iklim taktik Italia yang lebih defensif. Bertepatan dengan kedatangan kiper muda bernama Gianluigi Buffon, ia pindah ke klub medioker Fulham.

Di klub ini, meski tak memburu trofi, ia tak kehilangan sentuhan. Ia mempertahankan tempatnya di tim nasional Belanda. Ketika pada 2005 ia tersedia di bursa transfer, Sir Alex Ferguson tak membuang kesempatan lagi. United tak kunjung menemukan kiper solid sejak 1999, dan ketika Van der Sar datang, United tak gonta-ganti kiper lagi hingga 2011.

Datang dalam usia 35 tahun, pria yang sudah mendapat julukan The Flying Dutchman tersebut mampu menapaktilasi pencapaian Schmeichel. Tiga titel liga beruntun, beberapa kali masuk Team of The Season, penghargaan individual, serta aneka rekor juga ia pecahkan, termasuk rekor liga tak kebobolan selama 1.311 menit. Namun, puncak karier tertingginya tentu saja final Liga Champions 2008.

Kalaupun Van der Sar punya titik lemah, maka bisa disebut ia jarang melakukan penalty save di laga besar. Di laga tersebut, ia mempelajari tingkah laku lawan alih-alih hanya mengandalkan keberuntungan. Saat berhadapan dengan Nicolas Anelka di babak adu penalti, dia memainkan pikiran lawan. Dia menunjuk ke arah kiri sementara ia akan menjatuhkan diri ke arah kanan. Thus, tangannya menepis bola, penalti gagal. Dia meninju udara seakan telah menaklukkan para iblis.

Ia masih menambah beberapa trofi hingga usianya 41 tahun. Sayang sekali ia gagal mengangkat trofi Liga Champions (lagi) di laga terakhrinya di Wembley pada final Liga Champions 2011.

Dua tahun sebelum pensiun, Sir Alex Ferguson sudah menyiapkan kiper masa depan. Kiper tersebut menyandang nama David De Gea.