Berhenti di 8 Besar Mulu! Kisah Kutukan Juara Bertahan Piala Asia

spot_img

Kutukan dan sepak bola seperti dua sahabat karib. Cukup banyak kutukan-kutukan yang ada di dunia sepak bola. Selain kutukan nomor punggung, kutukan di ajang-ajang tertentu juga sering dibicarakan. Misalnya, di Piala Dunia. Lebih tepatnya, kutukan juara bertahan Piala Dunia. Kendati hal tersebut sudah dipatahkan oleh Timnas Prancis.

Well, ternyata bukan hanya di ajang Piala Dunia saja kutukan itu ada. Di kompetisi-kompetisi lain, terutama di bawahnya juga terdapat kutukan. Yang akan kita ulas adalah kutukan di Piala Asia. Kompetisi yang akan diikuti kembali oleh Timnas Indonesia itu ternyata menyimpan sebuah kutukan.

Entah bagaimana sejak tahun 2011, tidak ada juara Piala Asia back to back. Jangankan juara back to back, juara bertahan Piala Asia mulai tahun 2011 hanya bisa melaju sampai ke partai perempatfinal atau delapan besar. Bagaimana kisah kutukan tersebut?

Irak Juara Piala Asia 2007

Dimulai dari Timnas Irak yang meraih gelar juara pada 2007. Gelar juara yang menandai kebangkitan sepak bola Irak. Sebab, pada waktu itu, ketika final berlangsung di Jakarta, Irak berstatus sebagai tim underdog yang bisa mencapai puncak tertinggi Piala Asia.

Apalagi waktu itu, Irak memasuki turnamen dengan kurangnya stabilitas. Mereka memecat pelatih Akram Salman sebulan sebelum turnamen dimulai. Lalu menunjuk pelatih Brasil, Jorvan Vieira sebagai gantinya. Pada pertandingan pertama, Irak ditahan imbang oleh tuan rumah, Thailand.

Buat yang belum tahu, Piala Asia 2007 digelar di empat negara: Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Setelah gagal menang dari Thailand, Irak lekas bangkit. Tak dinyana, pada laga kedua, Irak menggilas Australia 3-1. Di pertandingan pamungkas Grup A, Irak ditahan imbang Oman.

Satu kemenangan dan dua hasil imbang sudah cukup bagi Irak untuk melaju ke perempatfinal. Di delapan besar, tim berjuluk Singa Mesopotamia itu berjumpa tim kejutan Vietnam. Tentu saja, Irak dengan nyaman menaklukkan Vietnam 2-0. Kemenangan itu membawa mereka bertemu tim tangguh Korea Selatan di semifinal.

Pertarungan sengit terjadi selama 120 menit. Tapi sang Singa Mesopotamia menaklukkan Taeguk Warriors melalui babak penalti. Lolosnya Irak ke final Piala Asia 2007 itu membuat masyarakat Baghdad, ibukota Irak berpesta pora. Namun, seperti dikutip Goal, dalam perayaan di jalanan ibukota Irak justru terjadi bom bunuh diri.

Pada akhirnya, Timnas Irak bisa memenangkan laga final di Jakarta. Singa Mesopotamia mengalahkan Arab Saudi yang di babak sebelumnya mengandaskan perlawanan Jepang. Sang kapten menjadi pahlawan kemenangan di laga itu.

Irak di Piala Asia 2011

Empat tahun setelahnya, dengan kekuatan yang lebih baik, mental baja yang sudah terbentuk, Irak bertekad untuk mempertahankan gelarnya di Piala Asia 2011. Singa Mesopotamia yang masih diperkuat sang kapten, Younus Mahmoud berangkat ke Qatar dengan kepercayaan diri penuh.

Namun, kali ini dengan pelatih yang berbeda. Pada Piala Asia 2011, Irak dilatih Wolfgang Sidka, orang Jerman, mantan pelatih Bahrain dan Wolfsburg. Modal juara bertahan Piala Asia ternyata berpengaruh pada Irak. Kalah di babak pertama fase grup atas Iran, tak bikin mental anak asuh Sidka menurun.

Irak menyapu bersih dua laga sisanya. Mengalahkan Uni Emirat Arab dan Korea Utara. Irak pun menempati peringkat kedua Grup D dan melaju bersama Iran setelah mengantongi enam poin. Langkah Irak di perempatfinal lantas dihadang Australia.

Waktu itu, Socceroos diperkuat pemain seperti Mark Schwarzer, John Jedinak, sampai mantan pemain Liverpool, Harry Kewell. Dengan Holger Osieck berada di kursi pelatih. Walau begitu, jelas Irak punya kekuatan yang bisa mengungguli Australia. Namun, Australia menyuguhkan permainan disiplin dengan pertahanan solid.

Australia berhasil menahan gempuran Irak. Petaka terjadi di babak perpanjangan waktu. Sundulan Harry Kewell di menit 118 membungkam perlawanan Irak. Irak pun kandas, Socceroos ke semifinal.

Jepang Juara Piala Asia 2011

Setelah mengalahkan Irak, Australia memastikan langkahnya ke final Piala Asia 2011. Uzbekistan ditaklukkan dengan skor mencolok 6-0. Namun, Australia harus menghadapi kekuatan Asia lainnya, yaitu Jepang. Tim Samurai Biru berhasil lolos ke final setelah menghabisi Korea Selatan melalui adu penalti.

Jepang begitu perkasa di Piala Asia 2011. Apalagi saat itu diperkuat pemain-pemain seperti Yuto Nagatomo, Keisuke Honda, Makoto Hasebe, Maya Yoshida, sampai Shinji Okazaki. Jepang juga diasuh pelatih kawakan Alberto Zaccheroni.

Tim Samurai Biru pun tak terkalahkan di Grup B dengan dua kali menang dan satu kali seri. Bermodal tak terkalahkan, Jepang menantang Australia. Namun, dalam dua babak tak menghasilkan satu gol pun.

Di perpanjangan waktu kecerdikan Zaccheroni memasukkan Tadanari Lee di menit 98 membuahkan hasil. Ia mencetak gol menit 108 setelah menyambut umpan matang Nagatomo yang bergerak di sayap kiri. Jepang juara, Australia tertunduk lesu.

Jepang di Piala Asia 2015

Empat tahun berselang, Australia menjadi tuan rumah Piala Asia 2015. Tentu sebagai tuan rumah, Australia mengincar podium tertinggi. Lalu bagaimana dengan Jepang? Tentu saja sama. Status juara bertahan mendorong Jepang untuk bisa meraih hasil maksimal di Australia. 

Susunan pemain Jepang tidak banyak berubah di Piala Asia 2015. Namun, ada nama-nama baru seperti Gotoku Sakai, Yohei Toyoda, sampai Shinji Kagawa. Nama terakhir waktu itu belum lama menjuarai Premier League bersama MU. Namun, pahlawan mereka di Piala Asia 2011, Tadanari Lee tidak masuk.

Jepang juga tak lagi dilatih Zaccheroni, melainkan Javier Aguirre. Dengan kekuatannya, Jepang akhirnya lolos ke perempatfinal setelah menyapu bersih pertandingan Grup D dengan kemenangan dan menghadapi Uni Emirat Arab di babak berikutnya.

Di atas kertas Jepang harusnya bisa mengalahkan Uni Emirat Arab. Lagi pula selama fase grup, Honda dkk. sudah mengalahkan tiga tim Timur Tengah: Irak, Palestina, dan Yordania. Namun, Uni Emirat Arab justru memberi perlawanan bagi Kagawa dkk. Gawang Kawashima malah kebobolan dulu di menit tujuh lewat aksi Ali Mabkhout.

Jepang berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka menguasai bola, sedangkan lawannya berusaha mempertahankan keunggulan. Gaku Shibasaki menyelamatkan muka sang juara bertahan sembilan menit jelang berakhirnya babak kedua. Di babak perpanjangan waktu tak ada gol. Laga berlanjut ke adu penalti.

Seolah ketiban sial. Dua penendang Jepang, yang juga pemain andalan, Honda dan Kagawa gagal menuntaskan tugasnya. Sementara, di kubu UEA, hanya Khamis Esmaeel yang gagal. Jepang pun gugur di perempatfinal.

Australia Juara Piala Asia 2015

Setelah menghadapi Jepang, UEA harus melawan tuan rumah Australia. Socceroos yang menggebu-gebu ingin menyabet Piala Asia pertama mereka tampil garang. Meski kalah sekali di fase grup, Australia melangkah ke semifinal usai membungkam China 2-0.

Mereka pun mengalahkan UEA 2-0 dan melaju ke final. Australia yang diasuh Ange Postecoglou mesti melawan Korea Selatan yang diperkuat bintang masa depan, Son Heung-min. Lewat permainan atraktif, Australia unggul lebih dulu melalui Massimo Luongo yang sedang naik daun.

Australia nyaris menang dalam 90 menit. Tapi gol Son Heung-min di extra time babak kedua menunda pesta. Jantung para penonton berdegup kencang. Adalah James Troisi yang membuat publik tuan rumah bergetar lewat golnya di penghujung perpanjangan waktu babak pertama. Gol itu antarkan Australia juara Piala Asia untuk pertama kalinya.

Kandas di Piala Asia 2019

Harapan untuk tidak mengulangi kegagalan juara bertahan sebelumnya pun menyembul. Australia mungkin tidak akan gagal di perempatfinal. Namun, justru di sinilah kutukan Piala Asia itu seolah benar adanya. Piala Asia 2019 tidak seperti edisi sebelumnya.

Tahun 2019, Piala Asia sudah diikuti 24 tim, tidak lagi 16 tim. Maka dari itu, babak 16 besar diadakan. Terbagi menjadi enam grup. Juara dan peringkat kedua lolos ke fase gugur. Nah, untuk melengkapi menjadi 16 tim, empat tempat ketiga terbaik lolos. Untuk lengkapnya soal perubahan ini bisa ditonton di video Starting Eleven sebelumnya.

Australia lolos setelah menjadi runner-up Grup B. Socceroos masih diperkuat Massimo Luongo, namun dilatih Graham Arnold, tak lagi Postecoglou. Semua terlihat baik-baik saja. Australia masih bisa mengatasi perlawanan Uzbekistan di 16 besar, walau lewat adu penalti.

Namun, petaka muncul di perempatfinal. Australia mesti bertemu Uni Emirat Arab, lawan yang di edisi sebelumnya berhasil dihabisi di semifinal. Di pertengahan babak kedua Ali Mabkhout memanfaatkan kesalahan pemain belakang Australia, Degenek, untuk menyontek bola ke gawang Matthew Ryan.

Gol itu sempat menimbulkan kontroversi. Karena sebelum memberi umpan balik ke Ryan, Degenek merasa dilanggar oleh pemain UEA. Namun, wasit yang memimpin laga itu mengesahkan gol Mabkhout. Australia pun kandas di perempatfinal.

Akankah Berlanjut?

Kekalahan Australia di perempatfinal Piala Asia 2019 menegaskan kutukan juara bertahan. Edisi 2019, Qatar yang merengkuh gelar Piala Asia. Pasukan Felix Sanchez yang tampil perkasa itu mengalahkan Jepang dengan skor telak 3-1 di final.

Di final tersebut, Qatar sudah diperkuat pemain-pemain seperti Almoez Ali, Abdulaziz Hatem, sampai Akram Afif. Sementara, Timnas Jepang dilatih Hajime Moriyasu. Mereka diperkuat pemain seperti Takehiro Tomiyasu, Shuichi Gonda, Takumi Minamino, Ritsu Doan, sampai Genki Haraguchi.

Piala Asia 2023, Qatar menjadi tuan rumah. Namun, Qatar juga dihantui kutukan juara bertahan Piala Asia. Jadi, apakah kutukan itu akan berlanjut? Atau justru Qatar akan menjadi juara lagi di rumahnya sendiri? Melihat kekuatan tim-tim di Piala Asia 2023 dan kekuatan Qatar, terutama di Piala Dunia lalu, mungkin saja nasibnya akan serupa.

https://youtu.be/rUWXg7tNnqg

Sumber: Goal, Socceroos, TheGuardian, TheGuardian2, ABC, HindustanTimes

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru