Benarkah Merokok Tidak Baik untuk Sepak Bola? Dan Mengapa Banyak Figur Populer di Sepak Bola yang Terang-Terangan Merokok?

spot_img

Peringatan di bungkus rokok tertera jelas, merokok bisa membunuh seseorang. Zat yang terkandung dalam rokok terlalu berbahaya jika tertimbun dalam tubuh manusia dalam waktu yang lama.

Jadi jelas, merokok tidak sejalan dengan pejuang kesehatan. Dengan sendirinya, merokok kontraproduktif dengan para atlet. Atlet yang baik seharusnya tidak merokok. Pesepak bola yang peduli dengan kesehatannya seharusnya tidak merokok.

Sebagaimana diulas Panditfootball, merokok membuat paru-paru lebih mudah melepaskan udara dari tubuh saat pernafasan. Akibatnya, pesepak bola, atau siapa pun, lebih mudah lelah bila merokok.

Selain itu, American Heart Association juga telah menyimpulkan bahwa merokok memperburuk sistem kardiovaskular seseorang. Sistem kerja jantung yang buruk membuat detang jantung berpacu lebih cepat, sirkulasi darah yang buruk, serta berpotensi mudah sesak nafas.

Berdasarkan penjelasan demikian, pesepak bola yang melakukan aktivitas fisik yang sangat menguras tenaga tentu sangat dianjurkan tidak merokok. Amat berbahaya jika mereka yang hidupnya bertumpu dengan kemampuan fisik, tetapi justru tergerogoti hanya karena hobi ngebul.

Akan tetapi, peringatan tersebut nyatanya tak dihiraukan banyak figur populer dalam sepak bola. Dimulai dari para filsuf lapangan hijau seperti Socrates atau Johan Cruyff, seniman lapangan hijau seperti Zinedine Zidane atau Gianluigi Buffon, hingga pemikir seperti Arsene Wenger atau Maurizio Sarri.

Apa yang membuat mereka berkeras kepala tetap mengisap rokok?

Masing-masing tentu punya latar belakang tersendiri. Cruyff yang tumbuh pada dekade 60-an di Amsterdam mulai merokok sejak aktif bermain. Kala itu, rokok adalah simbol bagi mereka yang sudah mapan dan dianggap dewasa.

Bagi anak muda Belanda yang belum memiliki kepastian hidup, merokok adalah simbol perlawanan. Seperti dikutip Vice, Cruyff tak ragu dalam berpartisipasi dalam perlawanan antikemapanan di Belanda saat itu.

Barangkali, Johan Cruyff adalah perokok aktif paling getol yang pernah dimiliki sejarah sepak bola. Di Barcelona, ia disebut menghabiskan sebatang rokok setelah pertandingan, lalu mandi, lalu merokok lagi. Ketika ia sudah pensiun dan beralih jadi pelatih pun, rokok tetap menemaninya di pinggir lapangan.

Beda hal dengan Arsene Wenger. Ia tumbuh di kota Alsace, yang memiliki kebudayaan berbeda dengan latar belakang Cruyff. Wenger semasa muda bekerja sebagai penjual rokok, dan digaji dengan rokok pula.

Bagi Wenger, merokok adalah cara untuk diterima di kalangan sekitar. Di Alsace, para pemuda tanggung seperti Wenger yang merokok adalah pemandangan lazim.

Wenger dan Cruyff merupakan sesepuh jelas punya alasan filosofis tatkala memutuskan untuk merokok.

Sedikit berbeda dengan mereka, merokok bagi Maurizio Sarri adalah rutinitas yang tak bisa diganggu gugat. Di Italia, ia enteng saja menyulut rokok kala mendampingi tim di pertandingan.

Masalah terjadi saat ia tiba di Inggris. Di negeri Ratu Elizabeth ini, merokok tidak boleh dilakukan di tempat umum, termasuk di dalam stadion. Sarri tak lagi dapat menikmati batang demi batang rokok kala mendampingi Chelsea.

Namun, dasar ketergantungan, ia punya cara untuk menyiasatinya. Terkadang, ia merokok di lorong stadion, di waktu lain, ia MENGUNYAH batang rokok di tepi lapangan …

Namun, agaknya figur cerdas seperti Wenger tahu merokok memang tak baik bagi atlet. Cruyff mulai mengisap lolipop pada 90-an sebagai ganti rokok. Lantaran terlanjut pecandu, ia meninggal pada 2016 karena kanker paru-paru.

Wenger pun sudah tak merokok lagi. Ia bahkan melarang para pemainnya merokok. Ia sadar, merokok tak bagus bagi dirinya yang ingin bertahan selama mungkin di lapangan hijau.

Agaknya, para perokok berat seperti Cruyff, Socrates, Marcelo Lippi, atau, eh, Radja Nainggolan, seperti kata Will Magee, telah paham tentang eksistensi diri yang sudah melampaui kalkulasi kesehatan ala dunia medis.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru