Apakah Pakai Jimat? Pesepakbola Ini Temukan Versi Terbaik dalam Karirnya

spot_img

Setiap manusia pasti pernah berusaha mencari jati diri sebenarnya agar bisa menjadi versi terbaik dari dirinya. Begitu pula yang dilakukan oleh pesepakbola. Kebanyakan dari mereka berusaha mencapai performa terbaiknya dengan berlatih keras setiap hari.

Tapi, beberapa pemain ini justru menemukan versi terbaiknya bukan hanya dengan berlatih saja. Melainkan di momen-momen tertentu, saat mengganti penampilan atau bahkan harus menggunakan aksesoris khusus dulu buat tampil moncer di lapangan. Jadi, aksesoris atau pernak-pernik itu udah kayak jimat tersendiri bagi pemain tersebut. Kira-kira siapa saja pemain itu?

Anthony Martial dan Sarung Tangan

Pemain pertama yang memiliki versi terbaik adalah Anthony Martial. Striker asal Prancis itu datang ke Manchester United sebagai pemain muda dan sempat berada di top level sehingga memenangkan penghargaan Golden Boy tahun 2015. Namun, setelah itu pasang surut performa bak jadi makanan sehari-hari baginya.

Meski begitu, ada satu momen yang dipercaya oleh beberapa fans sebagai fase terbaik dari Martial. Momen tersebut ketika sang pemain mengenakan sarung tangan hitamnya. Ada kepercayaan yang menyebar di kalangan fans, terutama di Indonesia kalau Martial udah pakai sarung tangan, kiper lawan wajib ketar-ketir.

Era ini pertama kali muncul saat pandemi, tepatnya musim 2019/20. Di momen itulah Martial tak henti-hentinya mencetak gol untuk Manchester United. Bahkan di saat stadion Old Trafford sepi karena penonton dilarang datang ke stadion, Martial mencapai musim terbaiknya. Ia mencatatkan 17 gol dalam 32 pertandingan.

Cristiano Ronaldo dan Rambut Mie

Selanjutnya ada Cristiano Ronaldo. Kalian pasti sudah bisa menebak versi mana yang terbaik dari pemain yang satu ini. Ya, saat Ronaldo mengecat rambutnya menjadi kuning. Meski terkesan seperti jamet, tapi ketika Ronaldo sudah mengenakan gaya rambut ini, kemenangan seakan sudah pasti jadi miliknya.

CR7 mode “noodle-hair” bisa dibilang jadi Ronaldo versi yang paling ganas di lapangan. Gaya rambut seperti ini pertama muncul saat dirinya masih bermain untuk Manchester United. Di awal-awal kemunculannya bersama Setan Merah pada tahun 2004, Ronaldo menggunakan gaya rambut ini.

Pada saat itu, permainan Ronaldo tak terbendung. Rumput stadion diubahnya menjadi lantai dansa. Lalu, ketika di Real Madrid, Ronaldo kembali mengulang gimmick ini. Tepatnya pada tahun 2017 di mana Ronaldo berhasil meraih Ballon d’Or, Pemain Terbaik FIFA, dan Pemain Terbaik UEFA sekaligus. Bahkan, gol salto ke gawang Juventus yang ikonik juga dicetak saat dirinya memakai gaya rambut ini.

Pramusim Andreas Pereira 

Andreas Pereira juga memiliki momen dan waktu terbaiknya untuk bersinar saat masih bermain di Manchester United. Anehnya, jika sebagian besar bersinar di musim atau ketika mengenakan aksesoris tertentu. Pereira justru tampil cemerlang hanya pada saat pra musim saja.

Ya, kalian tak salah dengar. Pemain asal Brazil itu akan mempertontonkan permainan yang menawan kala United melakukan tur pramusim. Tentu, ini membuat manajemen MU dilema antara harus melepasnya atau memberikannya kontrak jangka panjang. Karena ketika musim sudah dimulai, Pereira kembali ke setelan pabrik sebagai gelandang yang tak begitu spesial.

Pada tahun 2018 dan 2020 contohnya, tahun-tahun itu jadi performa terbaik Pereira di pramusim. Ia menunjukan bakatnya sebagai pemain yang berasal dari negeri samba untuk mencetak gol-gol spektakuler. Performanya di pra musim bahkan sering disamakan dengan Paul Scholes atau Andrea Pirlo. Tapi ya gitu, main bagusnya cuma bentar doang.

Lionel Messi Tahun 2012

Tak mau kalah dengan Ronaldo, Lionel Messi juga punya era terbaiknya sendiri. Yakni pada tahun 2012 ketika mencetak 91 gol dalam satu tahun. Itu jadi pencapaian yang gila. Selain delapan Ballon d’Or, jumlah golnya tahun 2012 jadi salah satu pencapaian paling sulit ditiru oleh pemain manapun.

Jumlah golnya terbentang di sepanjang karirnya bersama Barcelona dan Timnas Argentina, dengan rincian 79 gol untuk La Blaugrana dan 12 gol untuk Albiceleste. Dia mematahkan rekor gol terbanyak dalam satu tahun kalender yang sebelumnya dibuat Gerd Muller dengan 82 gol dan Pele yang melesakkan 75 gol.

Sebagian besar gol yang dicetak Messi melalui kaki kiri. Jadi rinciannya adalah 81 gol dari kaki kiri, tujuh gol dari kaki kanan, dan tiga gol dari tandukan kepala. Ini jadi catatan super yang dilakukan oleh Messi. Saking supernya, sampai sekarang belum ada pemain lain yang bisa menyamai catatan tersebut. Bahkan Messi itu sendiri. Ia tak pernah mengulangi performa hebatnya itu lagi.

Karim Benzema dan Perban Tangan

Masih dari Liga Spanyol, kali ini datang dari rival Barcelona, yakni Real Madrid. Karim Benzema jadi pemain yang layak masuk daftar ini karena telah menemukan performa terbaiknya justru setelah mengalami cedera patah jari di tahun 2019. Cedera itu membuatnya mengenakan perban pelindung berwarna putih.

Jari kelingking Benzema patah usai berbenturan dengan pemain Betis, Marc Bartra. Sayangnya, setelah dioperasi, ia mengalami benturan lain yang mengganggu proses penyembuhan. Karena tak mau berlama-lama absen, Benzema memilih untuk mengenakan perban di sepanjang karirnya hingga sekarang. 

Konon setelah mengenakan perban tersebut, performa Benzy jadi makin gahar dan tajam di mulut gawang lawan. Sejak tahun 2019, ia konsisten mencetak 20+ gol setiap musimnya. Puncaknya pada musim 2021/22 saat ia mencatatkan 44 gol dari 46 pertandingan dan mengawinkan gelar Liga Champions dan La Liga serta meraih gelar individu, Ballon d’Or tahun 2022.

Jesse Lingard di West Ham

Selanjutnya ada Jesse Lingard. Pemain yang satu ini mungkin bukan pemain yang luar biasa. Selama masih berseragam Manchester United, Lingard tidak membangun reputasi sebagai alumni akademi yang menjadi pemain top macam Marcus Rashford atau David Beckham. Lingard cenderung lebih cocok dimasukan ke dalam daftar pemain yang gagal berkembang di skuad utama United.

Namun, Lingard memiliki masa keemasan yang sialnya tidak ia alami ketika mengenakan jersey merah khas Manchester United. Versi terbaiknya justru datang ketika pemain asal Inggris itu dipinjamkan ke West Ham pada tahun 2021. Meski dianggap tak mampu meningkatkan performanya di United, Lingard justru meledak di London.

Selama kurang lebih enam bulan, Lingard tampil di 16 pertandingan untuk The Hammers. Dalam rentang waktu itu, sahabat dari Marcus Rashford itu telah berkontribusi dalam 14 gol West Ham. Sayangnya, ia justru terlalu naif dan kembali ke Manchester United di akhir musim 2020/21. United tak mampu mengeluarkan potensi maksimalnya seperti apa yang dilakukan West Ham.

Robert Lewandowski Tahun 2020

Terakhir ada Robert Lewandowski di era pandemi tahun 2020. Tahun tersebut dianggap sebagai tahun terbaik dari striker asal Polandia tersebut. Saking memuncaknya performa sang pemain, ia dianggap telah mengalahkan kegemilangan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sepanjang tahun 2020.

Pada era tersebut, pemain yang kini berusia 35 tahun itu menumpuk gelar di level klub maupun individu. Bersama Bayern Munchen, Lewandowski memenangi 5 gelar berupa trofi Bundesliga, Piala Jerman, Piala Super Jerman, Liga Champions, dan dilengkapi Piala Super Eropa 2020. Ia juga menggondol penghargaan sebagai Pemain Terbaik FIFA dan UEFA tahun 2020

Konon, tahun 2020 jadi puncak performa dari Lewandowski. Bahkan Lionel Messi pun mengakuinya lewat pidatonya di acara Ballon d’Or 2021. Di tahun 2020 jugalah Lewandowski seharusnya bisa mendapat gelar Ballon d’Or. Sayang, penghargaan itu ditiadakan karena pandemi.

Sumber: Planet Football, Transfermarkt, CNN Indonesia

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru