8 Wajah Pelatih yang Berhasil Mengubah Dunia Sepakbola

spot_img

Seringkali pelatih sepakbola diibaratkan bak seorang arsitek. Arsitek sendiri hakikatnya adalah profesi yang berkutat pada perencanaan pembangunan sesuatu bentuk, yang butuh pemikiran dan perhitungan yang matang. Dan biasanya, sentuhan si arsitek tersebut akan menjadi ciri khas dalam karya yang dihasilkan.

Persis seperti pelatih. Bagaimana ia harus meramu dengan matang apa yang harus diaplikasikan si pemain di lapangan. Dan tau tidak, biasanya pelatih yang berkarakter, sentuhannya akan jadi ciri khas, dan secara tak disadari berpengaruh pada perkembangan sepakbola dunia.

Johan Cruyff

Misal, Johan Cruyff. Masih ingat pepatah Cruyff tentang sepakbola itu sederhana namun memainkan sepakbola dengan sederhana itu sangatlah sulit? Menurut Cruyff, sepakbola tak seharusnya pakem begitu-begitu saja.

Dulu pada tahun 60-an, gaya main sepakbola hanya itu-itu saja. Umpan lambung, bertahan dengan libero, maupun mengandalkan skill pemain. Posisi pemain di lapangan juga hanya terpaku dalam satu area saja.

Hal itulah yang kemudian didobrak oleh pemuda Amsterdam itu. Dimulai di Piala Dunia 1974. Di ajang tersebut, Cruyff di sesi latihan menyuruh rekan-rekannya untuk bermain menguasai bola, tak terpaku di satu posisi, dan terus menekan lawan dengan cara menyerang total. Dengan cara mainnya yang diluar pakem itu, De Oranje saat itu benar-benar jadi buah bibir dunia.

Diklaim-lah kemudian gaya tersebut dengan istilah โ€œTotaalvoetbalโ€. Johan Cruyff memang telah meninggalkan kita semua. Namun, warisan pemikiran, serta revolusinya masih menjadi suatu hal yang sangat berarti dalam perkembangan dunia sepakbola modern hingga saat ini.

Arrigo Sacchi

Di Italia, perkembangan sepakbola mereka identik dengan seni bertahannya. Helenio Herrera, pelatih Inter Milan era 70-an adalah biang kerok seni bertahan grendel ala negeri pizza yang dijuluki Catenaccio. Catenaccio sejatinya adalah โ€œkunciโ€ agar lawan susah menembus pertahanan. Itulah filosofi yang diciptakan pelatih Argentina tersebut yang kemudian beken di seantero dunia.

Namun dalam perkembangannya, tak jarang filosofi itu dibangkang oleh orang Italia sendiri. Arrigo Sacchi contohnya. Ialah sang revolusioner pendobrak Catenaccio. Taktik Sacchi ketika melatih AC Milan dengan mengadopsi pakem 4-4-2, berhasil menghancurkan sistem libero yang sangat identik dengan taktik Catenaccio.

Dengan taktik baru Sacchi tersebut, Rossoneri terbukti diantarkannya meraih banyak prestasi. Namun ketika ia gagal membawa gaya itu di Timnas Italia pada Piala Dunia 1994, ia pun dikecam oleh sebagian publik sepakbola Italia. Sacchi dianggap seorang pembangkang Catenaccio yang gagal total. Namun bagaimanapun, Sacchi telah membuka mata publik sepakbola negeri pizza bahwa, ada lho taktik lain selain Catenaccio.

Roberto Mancini

Masih dari Italia. Masih ingat euforia rakyat Italia ketika meraih Euro 2020 lalu? Melihat Gli Azzurri bermain, seperti bukan Gli Azzurri yang banyak orang kenal. Italia bermain dengan gaya menyerang dan atraktif dibawah arahan Roberto Mancini.

Roberto Mancini juga bisa dikatakan sang pendobrak Catenaccio. Ia mendobrak tradisi sepakbola Italia dengan cara penguasaan bola dan menyerang. Bekal pengalaman melatih di klub-klub luar Italia, bikin Mancini lebih melek soal ide sepak bola modern. Ia bisa melepaskan diri dari dogma Catenaccio semata.

Ya, Roberto Mancini adalah sosok Arrigo Sacchi jilid dua. Ia berhasil membuka mata publik sepakbola Italia bahwa dengan cara yang lebih atraktif, Gli Azzurri juga bisa meraih prestasi.

Carlo Ancelotti

โ€œCatenaccio itu adalah kata-kata yang indah, saya orang Italia dan kami menang banyak lewat gaya tersebutโ€. Itulah salah satu kata kalimat terkenal yang keluar dari mulut pelatih berambut putih, Carlo Ancelotti.

Meski Ancelotti sering dianggap pelatih miskin taktik yang hanya bertahan dan mengandalkan serangan balik, namun mantan pelatih AC Milan itu boleh dikatakan sebagai bapaknya Catenaccio modern. Artinya, ia tidak semata-mata mendobrak Catenaccio, namun memoles dengan beberapa sentuhan baru.

Catenaccio modern ala Ancelotti sebenarnya sudah terlihat ketika melatih AC Milan di awal 2000-an. Penciptaan varian baru Catenaccio dengan formasi pohon natal 4-3-2-1, maupun segitiga berlian 4-3-1-2, cenderung unik. Pemanfaatan playmaker yang kreatif di format tersebut, juga jadi khazanah baru bagi perkembangan sepakbola dunia.

Don Carlo banyak menuai prestasi dengan caranya tersebut di beberapa klub. Meski kini banyak anggapan bahwa Catenaccio yang asli itu telah punah, namun secara tidak langsung sebenarnya Ancelotti telah membuat Catenaccio tetap hidup tapi dengan jubah yang baru.

Sir Alex Ferguson

Kick n Rush adalah gaya sepakbola khas Inggris dengan cara direct atau mengumpan bola secepat mungkin. Duel fisik, tendangan jarak jauh, crossing, dan kecepatan kedua sayap, menjadi elemen gaya sepakbola Kick n Rush.

Di Inggris, gaya seperti itu sudah jamak ditemui di beberapa klub. Namun sejak kedatangan Alex Ferguson di MU pada tahun 80-an, muncul pengaruh baru. Pelatih Skotlandia tersebut mampu keluar dari bayang-bayang sepakbola Kick n Rush yang merajalela.

MU mampu bermain dengan gaya proaktif dan adaptif. Tak jarang juga Fergie mengadopsi gaya menyerang ala Total Football dalam cara bermainnya. Pakem formasi ala Kick n Rush 4-4-2, juga sering dirombak Fergie saat menukangi MU dengan varian-varian barunya seperti 4-4-1-1 atau 4-1-4-1.

Maka tak heran, MU jaya di bawah Fergie dengan gaya main yang keluar dari pakem Kick n Rush itu. Publik MU pun makin jatuh hati padanya. Bahkan layaknya Soeharto, Fergie adalah salah satu pelatih di Liga Inggris yang masa jabatannya terbilang lama, yakni 26 tahun. Maka dari itu, fenomena munculnya pelatih seperti Fergie tergolong keunikan tersendiri yang telah mewarnai dunia sepakbola.

Pep Guardiola

Memang benar adanya, Total Football ala Johan Cruyff itu tak akan pernah mati. Bahkan kepopuleran Total Football itu kini terang-terangan muncul lagi ketika dibawa oleh sosok pelatih bernama Josep Guardiola.

Ya, ilmu seorang murid itu memang tak akan jauh dari gurunya. Itulah yang dialami Guardiola yang notabene anak ideologis dari Cruyff. Ia belajar banyak dari Cruyff, dari cara menguasai bola, merebut bola, cara menyerang, maupun memanfaatkan ruang. Hal itulah yang kemudian ia praktekan ketika menjadi pelatih. Pep sukses mendoktrin klub yang dilatihnya dengan filosofi yang dikenal dengan Tiki-Taka.

Bagaimanapun Tiki-Taka tersebut adalah bentuk penyempurnaan dari Total Football. Dengan gaya tersebut, dunia menjadi terkagum-kagum. Permainan yang indah untuk dilihat dari kaki ke kaki, mampu membius jutaan pasang mata pecinta sepakbola di dunia. Ya, Pep Guardiola adalah fenomena bagi dunia sepakbola.

Jose Mourinho

Dalam dunia film atau sinetron, biasanya dikenal adanya peran protagonis dan antagonis. Dalam dunia sepakbola ternyata juga berlaku lho. Tak terima hanya permainan indah dari Guardiola saja dipuja-puji dunia, Jose Mourinho muncul dengan gaya sepakbola baru yang pragmatis dan cenderung negatif.

Mourinho adalah antitesa Guardiola. Mourinho tampil bak aktor antagonis yang bengis demi menghancurkan dominasi sepakbola indah Guardiola. Ia menghalalkan segala cara untuk menang. Taktik bertahannya yang dikenal โ€œparkir busโ€ bahkan lebih kejam dari yang diajarkan Catenaccio.

Prinsip pelatih Portugal itu selalu berpatokan pada hasil akhir. Dengan cara licik pun ia akan jabani demi sebuah kemenangan. Kalau perlu, anak asuhannya di lapangan dijadikan sebagai โ€œbajinganโ€ selama 90 menit untuk menggebuk lawan yang coba bermain indah.

Ya, disukai atau tidak, gaya yang dibawa The Special One tersebut mampu berbuah prestasi di beberapa klub. Munculnya sosok Jose Mourinho dengan ide liciknya itu bagaimanapun telah mewarnai perkembangan dunia sepakbola selama ini.

Jurgen Klopp

Sebenarnya ide Total Football dari Cruyff itu banyak variannya. Tak hanya Pep Guardiola saja yang mengadopsi. Misal dengan lahirnya sepakbola gaya Gegenpressing ala Ralf Rangnick. Merebut bola secepat mungkin, dan mengalirkannya untuk menyerang selama 90 menit, adalah hal dasar dari Gegenpressing. Artinya, gaya ini lahir tak jauh dari ajaran dasar Total Football.

Salah satu murid Rangnick yang terkenal adalah Jurgen Klopp. Anak ideologis Rangnick ini mampu menjelma sebagai pelatih yang sukses membawa gaya Gegenpressing di Liga Inggris untuk pertama kalinya.

Sembilan tahun di Liverpool dengan sederet prestasi yang mampu ia raih, berasal dari gayanya tersebut. Banyak yang menganggap bahwa Gegenpressing ini adalah versi โ€œrockโ€-nya dari Tiki-Taka Pep Guardiola. Ya, bagaimanapun Jurgen Klopp ini telah mewarnai khazanah sepakbola dunia dengan gaya mainnya sendiri.

Sumber Referensi : coachesvoice, theathletic, mancity.com, firstpost, goal, setanmerah, sport.es

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru