Gol tangan tuhan Maradona pasti tidak akan terjadi kalau saat itu sudah ada VAR. Imbasnya, gol paling ikonik dalam sejarah pun tidak akan pernah dikenang. Sebaliknya, gol solo nya di laga lawan Inggris itu lah yang akan dilihat sebagai gol terbaik sepanjang sejarah.
Tapi itu bukan satu-satunya sejarah yang bisa berubah kalau VAR selalu ada di dunia sepak bola. Dari Arsenal yang tidak akan pernah invincible sampai Barcelona yang seharusnya tidak treble di tahun 2009, berikut ini 6 sejarah sepak bola yang akan berubah kalau ada VAR.
Daftar Isi
Handball Henry
Sama seperti tangan tuhan Diego Maradona, kejadian satu ini juga datang di hajatan Piala Dunia. Lebih tepatnya di pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010 saat Prancis berjumpa dengan Irlandia. Yang satu ini, Thierry Henry lah yang jadi pelaku utama.
Setelah tidak lolos kualifikasi Piala Dunia 2006, Republik Irlandia akhirnya punya kesempatan untuk kembali ke panggung World Cup 2010 di Afrika Selatan. Namun, mereka harus mengalahkan Prancis terlebih dahulu di babak kualifikasi.
Di leg pertama, Prancis menang 1-0. Tapi di leg kedua, sebuah gol dari Robbie Keane membuat Irlandia unggul 1-0 dan memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Namun di menit ke-103, Henry menggunakan tangannya terlihat menahan bola yang seharusnya keluar. Dari proses tersebut akhirnya William Gallas bisa mencetak gol kemenangan Prancis.
Thierry Henry's handball vs Irelandpic.twitter.com/oEv0csmR91 https://t.co/rw0qP28Wqe
— FT90Extra (@FT90Extra) November 20, 2023
Para pemain Irlandia berlari ke arah wasit dan memohon untuk menganulir gol tersebut. Sayangnya keputusan sudah dibuat, dan Prancis akhirnya bisa menang dengan agregat 2-1. Henry sendiri langsung mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
“Itu adalah handball. Saya tahu itu sulit diterima. Tapi tentu saja, saya bukan wasit. Tentu saja saya merasa malu dengan cara kami menang dan merasa kasihan pada Irlandia yang pantas berada di Afrika Selatan. Ucapnya setelah laga dikutip dari goal.com
Tentu saja Irlandia tidak terima begitu saja. Mereka sempat membawa kasus ini ke jalur hukum. Tapi kasus mereda setelah FIFA memberikan uang 5 juta dolar ke federasi Irlandia. Irlandia masih belum bisa tampil di Piala Dunia sampai sekarang. 2010 harusnya jadi Piala Dunia terakhir Irlandia, tapi itu direbut oleh Prancis.
Invincible Diving
Kalau sebelumnya Henry, kali ini rekan setimnya di Arsenal. Betul, itu adalah Robert Pires. Kejadian ini terjadi di bulan September 2003. Kalau kalian ingat, ini adalah musim invincible Arsenal. Tapi bagaimana kalau sebenarnya invincible Arsenal tidak akan pernah ada kalau waktu itu sudah ada VAR?
September 2003, atau pekan ke-5 Premier League. Saat itu Arsenal menjamu Portsmouth yang baru promosi. Secara mengejutkan, Portsmouth bisa unggul lebih dulu lewat gol dari Teddy Sheringham. Tapi di menit 40 Arsenal dapat hadiah penalti setelah Robert Pires jatuh di kotak penalti.
Tentu saja, Henry yang maju sebagai eksekutor bisa mencetak gol dengan sempurna. Pertandingan pun berakhir dengan skor 1-1. Tapi jika dilihat lewat tayangan ulang, jelas kalau Pires melakukan diving. Bahkan setelah pertandingan, Pires meminta maaf langsung kepada pemain Portsmouth.
Robert Pires' dive against Portsmouth in Arsenal's "invincible" season which prevented them from losing the game pic.twitter.com/fay8V5ydU3
— Laye (@LieSagne) August 22, 2023
Tentu saja, bahkan dengan kekalahan itu pun Arsenal masih berpeluang besar juara Premier League musim 2003/04. Tapi mereka tidak memenangkannya dengan cara Invincible dan dikenang sampai puluhan tahun setelahnya. Fans Arsenal juga bakal tidak punya hal yang bisa mereka bangga-banggakan seperti trofi emas Invincible mereka.
Messi “offside” lawan Atletico
Sudah bukan rahasia kalau La Liga dikuasai oleh Barcelona dan Real Madrid. Tapi di musim 2013/14, Atletico Madrid secara perkasa datang merusak dominasi tersebut dengan juara di akhir musim. Tapi sejarah tersebut bisa saja tidak pernah terjadi kalau VAR sudah ada saat itu.
Atletico Madrid harus menunggu sampai pertandingan terakhir untuk memastikan gelar juara. Dan di gameweek terakhir itu, mereka bertamu ke kandang Barcelona. Pertandingan berjalan alot dengan skor 1-1. Sampai di menit ke-64, Lionel Messi mampu mencetak gol kemenangan. Tapi gol tersebut dianulir offside oleh wasit. Padahal saat itu jelas keputusan yang salah.
La Liga 13/14. Matchday 38.
— Nolo (@NoloFCB) March 15, 2023
If Barça wins against Atlético, they are champions. Messi scores the goal that gives Barça the title but Mateu Lahoz disallows it for offside when the ball comes from an Atlético player.
Another La Liga robbed.pic.twitter.com/2igoPqgCwo
Beberapa tahun setelahnya, terungkap kalau wasit di laga itu juga menyadari kesalahannya. Bahkan ia langsung mendatangi ruang ganti Barca dan meminta maaf secara langsung. Kalau sudah ada VAR, gol Messi tidak akan dianulir dan Barca lah yang keluar sebagai juara.
Gol Hantu Muntari
Semua fans AC Milan pasti tahu kejadian ini. Di tahun 2012, Milan menjamu Juventus di San Siro. Milan bisa unggul lebih dulu lewat gol dari Nocerino. Il Diavolo Rosso sebenarnya bisa menambah keunggulan lewat gol dari Sulley Muntari. Tapi hakim garis menganulir gol tersebut. Wasit menganggap kalau bola belum melewati garis gawang. Padahal jelas-jelas Buffon mengambil bola dari belakang garis.
Momentum itu bisa dimanfaatkan Juve untuk menyamakan kedudukan. Pertandingan pun berakhir dengan skor 1-1. Dengan kemenangan itu, Juve memegang kontrol perebutan scudetto. Dan tidak hanya juara Serie A, Juve melakukannya tanpa kekalahan sekalipun musim itu atau invincible.
This Muntari 'ghost goal'. Instead of going 2-0 up, Milan went on to concede a late equalizer before going on to lose the title by 4 points to Juventus. 😳 pic.twitter.com/su3zZix2hi
— FPL Aiden (@FPL_Aiden) March 22, 2022
Itu bukan jadi hal yang bikin fans Milan sakit hati. Sebab Milan harusnya bisa mempertahankan gelar Scudetto mereka musim itu. Juga, ada teori kalau Milan biasa mempertahankan Ibrahimovic dan Thiago Silva agar tidak pergi ke PSG. Eks CEO klub, Adriano Galliani bahkan mengatakan Milan tidak akan terjerumus dalam kubangan masalah finansial jika skandal ini tak terjadi.
Gol Hantu Luis Garcia
Dari Serie A, beralih ke Champions League. Tepatnya di tahun 2005. Saat itu Liverpool menghadapi Chelsea di babak semifinal. Kita tahu kalau saat itu Liverpool masih hebat dengan Steven Gerrard yang masih di puncak karir. Tapi coba ingat lagi bagaimana hebatnya Chelsea saat itu. Dimana dana segar Abramovich baru mengalir dan Jose Mourinho baru didatangkan.
Di leg pertama, Liverpool bisa menahan imbang Chelsea di Stamford Bridge. Tapi baru empat menit memasuki leg kedua di Anfield, Luis Garcia menendang bola ke arah gawang yang tak terjaga. Penonton pun bersorak dan Garcia berlari melakukan selebrasi.
After a goalless draw in their UCL semifinal first leg, Chelsea headed to Anfield for the return leg.
— B/R Football (@brfootball) May 3, 2022
Three minutes in, Luis Garcia scored a controversial strike to send Liverpool to the final.
The Ghost Goal, 17 years ago today 👻
(via @LFC)pic.twitter.com/3IbA7MG9fK
Tapi jika dilihat dari tayangan ulang, bola itu sudah disapu oleh William Gallas menjauh dari gawang. Sayangnya sorakan gemuruh di Anfield jadi tekanan untuk wasit. Sebelum wasit mengambil keputusan dengan jernih, ia pun mengesahkannya jadi gol.
Jika gol tersebut tidak disahkan, Liverpool tidak akan bertahan sepanjang pertandingan dan Chelsea pun bisa mencetak gol. The Blues bisa saja melaju ke final dan meraih treble winner karena di musim itu juga Chelsea juara Premier League dan Piala Liga. Dan yang terpenting, peristiwa bersejarah keajaiban di Istanbul tidak akan terjadi.
Chelsea vs Barcelona 2009
Lagi-lagi di semifinal Liga Champions dan lagi-lagi Chelsea jadi korbannya. Kali ini terjadi di musim 2008/09. Saat itu Chelsea menjamu Barcelona di Stamford Bridge. Setelah bermain imbang 0-0 di Camp Nou, Chelsea butuh menang di leg kedua.
Dan Chelsea bisa membuat skor jadi 1-0 melalui tendangan voli dari Mikel Essien. Tapi disinilah pertandingan mulai jadi aneh. Wasit laga, Tom Henning Ovrebo seakan menjelma jadi wasit kelas tarkam.
Total ada tiga pelanggaran yang dilakukan Barca di kotak penalti mereka sendiri, tapi tidak ada yang digubris oleh Ovrebo. Setelah Iniesta mencetak gol di injury time, Chelsea harusnya kembali dapat penalti setelah pemain Barca melakukan handball. Tapi lagi-lagi tidak digubris oleh wasit.
Chelsea kalah agregat gol tandang dan Barca melaju ke final. Kalau saat itu ada VAR, jelas Chelsea lah yang akan ke final. Sedangkan Barca juga tidak jadi dapat treble winner di musim itu.
Sumber referensi: Marca, Tribuna, Goal, Goal 2, Portsmouth, Sportsrush, FootballItalia, Bible


