3 Pelatih Yang Mampu Menjuarai Trofi Bergengsi Bersama Klub Kecil

spot_img

Dalam sepakbola, pelatih merupakan sosok penting bagi sebuah tim. Strategi dan ketelitian nya mampu membawa tim memenangkan bahkan menjuarai sebuah turnamen. Para juru taktik lapangan hijau juga sangat berpengaruh bagi karir seorang pemain. Mulai dari mengenali hingga mengembangkan bakat dari pemain yang dikehendakinya.

Insting dan ketajaman seorang pelatih juga diuji dengan materi pemain yang dimilikinya. Meski kebanyakan pemain yang dimiliki hanya berkemampuan rata-rata, jika strategi yang diterapkan terbukti jitu, maka bukan suatu hal yang mustahil bila dirinya mampu membawa tim itu memenangkan sebuah pertandingan.

Seperti para sosok pelatih berikut ini. Mereka mampu membawa tim yang tidak memiliki banyak pemain bintang untuk menjuarai turnamen bergengsi.

1. Jose Mourinho

Di awal pagelaran Liga Champions, mungkin tidak ada yang mengira bahwa Monaco dan Porto akan mencapai final. Tentu ini merupakan hal yang wajar karena Manchester United, Real Madrid, dan Chelsea tengah melakoni musim yang hebat. Nama Monaco pun tidak begitu santer terdengar, sementara Porto baru saja memenangi Piala UEFA semusim sebelumnya. Porto sukses menyingkirkan Manchester United di babak 16 besar, disusul dengan Lyon dan Deportivo La Coruna. Jose Mourinho mulai diperbincangkan pada momen ini, setelah ia sukses menyingkirkan Sir Alex Ferguson di kancah Eropa, dan membawa Porto ke partai puncak.

Siapa yang bertanding di final, memang berada di luar prediksi. Menjadi kuda hitam di kompetisi tertinggi Eropa, Mourinho mampu mengatasi perlawanan Monaco dengan skor 0-3.  Saat itu, Mourinho menjadi pelatih yang selalu mengejutkan. Tak heran, kehadirannya di final pun pada akhirnya membawa kejutan tak terbayangkan bagi para fans Porto.

2. Claudio Ranieri

Berbekal pemain-pemain yang sebenarnya belum dikenal dan juga banyak dianggap sebagai pemain medioker, Leicester hadir memberi kejutan. Sosok Claudio Ranieri masuk membawa keajaiban bagi Leicester. Perjalanan Leicester City musim 2015/16 disebut bak dongeng, dari bukan siapa-siapa hingga mampu menjadi juara.

Bagaimana perjalanan Leicester musim tersebut layaknya dongeng tak terlepas dari latar belakang mereka. The Foxes tak punya riwayat juara di Premier League, juga bukan tim yang kaya raya. Dengan skuat yang jauh dari kata mewah, mereka mampu melewati hadangan para raksasa. Fakta bahwa musim sebelumnya mereka nyaris terdegradasi makin meyakinkan publik untuk menyebut perjalanan mereka dengan label dongeng.

Diisi oleh pemain seperti Riyadh Mahrez, Drinkwater, Jamie Vardy, Kante dan Kasper Schmeichel, Ranieri mampu menembus barisan baja tim-tim tangguh Liga Primer Inggris.

Sebuah legenda tercipta di Leicester. Legenda yang menceritakan tentang sebuah tim yang diasuh oleh allenatore asal Italia mampu mengangkat trofi tertinggi kompetisi tersulit dunia.

3. Diego Simeone

Setiap kali membicarakan La Liga Spanyol, tentu kedigdayaan Barcelona dan Real Madrid mengemuka sebagai salah satu ciri khasnya. Hal itu terjadi karena di sepanjang sejarah kompetisi teratas di tanah Matador, keduanya melesat menjadi tim dengan perolehan trofi liga paling banyak.

Meski kini Athletico terbilang sebagai klub yang cukup mapan. Saat Simeone datang ke Madrid, Atletico sedang dalam kondisi terpuruk. Posisi mereka berada di papan tengah. Saat Simeone mengambil alih, Atletico sedang berada pada posisi ke-10 La Liga dan baru saja tersingkir dari Copa Del Rey. Pemiliknya mengalami krisis finansial dan krisis manajerial, demikian pula dengan jajaran direksi, pemain, pelatih, dan bahkan para suporter yang kerap bertingkai.

Kedatangan Simeone mampu memberikan sinar terang bagi tim kota Madrid tersebut. Saat Simeone mulai melatih Athletico, Dirinya mampu membawa anak asuhnya memutus dominasi duopoli Barcelona dan Real Madrid di musim 2013/14. Manisnya lagi, gelar tersebut mereka rengkuh usai menahan imbang Barcelona dengan skor 1-1 di Stadion Camp Nou pada jornada terakhir.

Selain memuji para penggawa Atletico saat itu macam Diego Costa, Thibaut Courtois, Diego Godin, Joao Miranda, Arda Turan, serta David Villa, nama Diego Simeone yang menjabat sebagai pelatih juga ikut mengangkasa. Prestasi itu merupakan catatan positif pertamanya saat menukangi kesebelasan Eropa.

Meski datang sebagai solusi cepat tim yang sedang berada di kondisi yang tidak begitu meyakinkan. Para pelatih tersebut mampu membuktikan kapasitasnya untuk bisa memberikan trofi bergengsi kepada kesebelasan yang dianggap tidak mempunyai kekuatan memadai.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru