Stanley Matthews: Si Jenius Asal Inggris Sang Peraih Ballon Do’r Pertama Di Dunia

Sejarah sepak bola tak pernah lepas dari munculnya pemain hebat. Dalam hal ini, Stanley Matthews, menjadi sebuah pelajaran. Bicara tentang sepak bola terbaik masa lalu, nama Pele dan Diego Maradona tak selalu menjadi sorotan.

Di wilayah Inggris, terdapat sosok jenius yang jago mengolah bola. Antusiasnya terhadap sepak bola bukan menjadi hal yang sembarangan. Stanley Matthews, sekali lagi, adalah legenda dari para pemain berkelas.

Dalam wawancaranya dengan radio BBC, Matthews menceritakan betapa romantis cinta sejatinya kepada sepak bola. Ia berlatih dengan semangat, penuh kesenangan, dedikasi tinggi. Oleh sebabnya, wajar bila kaki-kaki lincahnya mampu temui asa diatas rumput lapangan.

Dalam bukunya yang berjudul The Wizard: The Life of Stanley Matthews, Jon Henderson, memperkenalkan pada pembaca tentang sosok Stanley Matthews. Mantan pemain yang menutup usia pada tahun 2000 itu digambarkan sebagai pria yang gigih, ekspresif, dan selalu membuat arena sepak bola menjadi sebuah tontonan yang menggembirakan.

Stanley Matthews, salah satu winger terhebat dalam sejarah sepakbola Inggris bahkan dunia. Dialah peraih pertama penghargaan pemain terbaik Eropa, meninggalkan nama Alfredo Di Stefano di urutan kedua dan Raymond Kopa di urutan ketiga.

Legenda sepak bola Inggris itu hanya memiliki gaji 20 poundsterling per pekan ketika merebut penghargaan Ballon D’or.

Hingga kini ia memegang rekor pemain yang paling lama memperkuat timnas Inggris, selama 23 tahun. Matthews masih bermain untuk negaranya sampai umur 42 tahun 104 hari. Ketika menjebol gawang Irlandia Utara pada Oktober 1956, ia menjadi pemain tertua yang pernah mencetak gol untuk Inggris, dalam usia 41 tahun 248 hari.

Kecepatan menjadi salah satu kekuatan yang menonjol dalam permainan Matthews. Bahkan legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer, menganggap Matthews akan sulit dihentikan dan dikejar saat sedang berlari.

Kemampuan teknik individu Matthews juga di atas rata-rata. Berbeda dengan sepak bola modern, di mana para pesepakbola mendapatkan nutrisi terbaik dari pihak klub dan timnas, Matthews dulu hanya mengandalkan jus wortel.

Menurut anak perempuannya, Jean, Matthews hanya minum jus wortel di siang hari dan makan sedikit steak serta salad pada malam harinya. Jean juga memastikan, ayahnya selalu menjalani puasa di hari Senin. Matthews menganggap menjalani puasa akan membuat tubuhnya semakin sehat.

Stanley lahir di Hanley, 1 Februari 1915. Ayahnya, Jack Matthews, seorang tukang cukur sekaligus petinju profesional. Ia sangat berharap Stanley juga meniti karier sebagai petinju, tapi si anak tak pernah menuruti kemauan sang bapak.

Nyatanya, karier Mattews di belantika sepak bola dunia terlampau luar biasa. Yang paling istimewa barangkali adalah ia menjadi pesepakbola pertama yang mendapatkan gelar kebangsawanan Sir dari Kerajaan Inggris.

Penghargaan tersebut jelas tak diberikan secara cuma-cuma. Matthews dianggap sebagai rupa dari persepakbolaan Inggris kala itu.

Matthews adalah sosok pesepakbola dengan fisik prima. Performanya tidak mengalami penurunan yang berarti hingga usia 42 tahun, selalu tampil konsisten, tidak merokok dan minum alkohol seperti kebanyakan pesepakbola di masa itu. Hal tersebut tentu buah dari keseriusan, termasuk diet alami yang dikisahkan oleh Jean.

Stanley Matthews memulai karier profesionalnya bersama Stoke pada tahun 1932, dan bersama klub itulah ia mengakhiri karier di tahun 1965. Disela-sela masa baktinya bersama Stoke, Matthews beberapa kali meraih gelar juara. Salah satu yang paling diingat tentu saat ia menjuarai Piala FA bersama Blackpool tahun 1953.

Di partai puncak, Blackpool berhasil menang dengan skor 4-3 setelah tertinggal 3-1 terlebih dulu. Stanley Matthews menjadi bintang. Ia dianggap tampil gemilang dan memberi banyak pengaruh di pertandingan kala itu.

Melihat prestasinya, Matthews memang belum pernah sekalipun merengkuh trofi Divisi Utama Inggris, paling tinggi adalah membawa Blackpool menjadi runner-up pada musim 1955/56.

Sepakbola Inggris sendiri pernah sangat lekat dengan pakem 2-3-5. Formasi ini disebut sebagai pola pertama yang melahirkan keseimbangan antara lini pertahanan dan serangan. Tapi strategi ini tidak dimainkan dengan fleksibel.

Matthews lahir sebagai winger hebat pada periode formasi 2-3-5 yang saat itu nyaris seperti sebuah kultus di sepakbola Inggris. Dalam kultus 2-3-5 saat itu, ia ditempatkan di sisi kanan lapangan, menempati posisi sebagai kanan luar (outside right). Peran sebagai penyerbu dari sisi kanan itu dilakoninya dengan baik di level klub maupun timnas.

Dan pada momen juara bersama Blackpool saat itu, Joe Smith yang menjabat sebagai manajer juga menggunakan formasi 2-3-5.

Dalam formasi itu ia menugaskan Stanley Matthews di posisi kanan luar untuk memanjakan Stan Mortensen yang berada di ujung tombak serangan timnya. Ketika mendapat bola, Matthews akan mengajak lawannya beradu sprint atau sedikit menekuk bola dan mengirim crossing ke area dalam kotak penalti lawan. Itulah yang dilakukannya terus menerus selama pertandingan.

Hasilnya, Stan Mortensen berhasil mencetak tiga dari empat gol yang dilesatkan Blackpool.

Walau tidak mencetak gol di laga tersebut, sekali lagi, Stanley Matthews didaulat sebagai bintang. Final itu bahkan dijuluki “The Mathews Final”. Julukan lain yang melekat pada dirinya adalah “The Wizard of The Dribble” dan “The Magician”.

Di luar prestasi, penghargaan, dan segala pujian yang terus didengungkan, Matthews adalah contoh disiplin sejati. Ia sering dijuluki sebagai the first gentleman of football. Hal itu menyusul sepanjang karier panjangnya, ia belum pernah mendapat satu pun kartu kuning maupun kartu merah.

Kata Pele, Matthews adalah pemain yang mengajari kita semua cara bermain bola. Lebih dari itu, ia bahkan dijuluki sebagai ahli penggiring bola.

Legenda sepak bola Inggris, Sir Bobby Charlton, juga mengatakan bahwa Matthews akan mengelabuhi semua lawan tanpa harus berusaha. Ia akan melewati semua tanpa tekanan, dan meninggalkan lawan dalam keadaan kebingungan.

Namun saat diberi banyak pujian, Matthews selalu merendah. Ia memang sosok yang tak suka pamer. Kehebatannya hanya tersaji dalam sebuah pertandingan saja. Tanpa bermaksud merendahkan kualitas lawan, Matthews hanya butuh berlari dengan bola untuk kemudian memberi sebuah kemanangan.

Kehebatan Matthews tak hanya memudahkannya dalam sebuah pertandingan, namun juga memberi keuntungan secara finansial. Menurut laporan, kehadiran Matthews dalam sebuah pertandingan akan memberi jaminan 10 ribu tiket lebih banyak.

Yang menjadi salah satu bukti kebintangan Matthews adalah pada pertandingan persahabatan Inggris melawan Hungaria pada 22 November 1953 di Wembley. Saat itu, sekitar 105.000 penonton memadati stadion paling bersejarah.

Yah, meskipun banyak yang ingin melihat aksi bintang Hungaria, Ferenc Puskas, keberadaan Stanley Matthews tetap tidak bisa disingkirkan. Kendati gagal bawa timnya meraih kemenangan, Matthews berhasil memberi dua asist sempurna untuk kemudian dikonversi menjadi gol oleh Mortensen.

Di timnas Inggris, Matthews tercatat tampil dalam 54 pertandingan dengan torehan 11 gol. Ia juga menjadi pemain terlama yang bermain dengan Tim Nasional Inggris dengan 22 tahun masa pengabdiannya. Pertandingan terakhirnya bersama Tiga Singa di Kopenhagen, saat mereka bermain dikualifikasi Piala Dunia menghadapi tuan rumah Denmark.

Stanley Matthews, tak ubahnya menjadi bintang yang tak pernah juara di kompetisi utama. Meskipun begitu, Matthews adalah legenda sepakbola. Kejeniusan, sikap, kebiasaan, dan cara bertindak diatas lapangan akan selalu menjadi sorotan utama dari sosoknya.

Matthews akan selalu menjadi inspirasi bagi pesepakbola saat ini dalam menjaga kebugaran fisiknya. Lebih lanut, Ia layak disebut sebagai teladan bagi para pemain sepak bola dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *