Mengapa Banyak Pemain Bintang Yang Menyelesaikan Karier Di MLS?

Mengapa Banyak Pemain Bintang Yang Menyelesaikan Karier Di MLS?

David Beckham, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Zlatan Ibramovic, Thierry Henry, Franck Lampard, hingga Steven Gerrard, mengapa begitu banyak pemain bintang yang tertarik untuk bermain di kompetisi MLS?

Liga kasta tertinggi di Amerika Serikat dikenal dengan nama Major League Soccer atau biasa disingkat MLS. Perlu diketahui, kompetisi ini mulai eksis pada medio 90an. Awal dari pembentukan MLS, ada beberapa klub yang mengalami gulung tikar. Mereka kerap terganjal masalah finansial karena memang pada saat itu penonton masih tergolong sangat minim.

Namun perlahan, sepakbola mulai tumbuh dan berkembang di Amerika. Sudah dua dekade berlalu, MLS sudah sangat menguntungkan karena masing-masing kesebelasan dimiliki dan dikendalikan oleh investor liga. Tidak ada lagi masalah keuangan maupun operasional.

Karena semakin dikenal, Arjen Robben yang akan meninggalkan Bayern pada akhir musim nanti berniat untuk tampil di kompetisi MLS. Robben mengaku tertarik dengan tantangan di MLS dan ingin merasakan atmosfer seperti para pemain yang lebih dulu mencicipi kompetisi tersebut.

MLS mulai dipilih oleh kebanyakan pemain setelah populer melalui nama David Beckham. Ya, banyak pemain yang pada akhirnya bermain disana setelah mengetahui mantan bintang Manchester United itu merumput di Negri Paman Sam.

David Beckham didatangkan oleh LA Galaxy pada Januari 2007 dan bisa dikatakan bahwa kedatangannya menjadi satu faktor penting dalam perkembangan MLS.

Beckham dikontrak LA Galaxy selama lima tahun dengan bayaran 6,5 juta dolar per tahunnya. Di luar gaji pokok tersebut, masih terdapat beberapa kesepakatan lain yang harus dibayarkan LA Galaxy kepada Beckham. Meski harus membayar mahal, LA Galaxy dinilai tak mengalami kerugian. Mengapa? kepopuleran tim jauh meningkat pasca kedatangan David Beckham.

Tercatat setelah Beckham tiba, penjualan kostum seluruh kesebelasan MLS meningkat hingga 700%. Tidak hanya itu, pada bulan pertama kedatangan Beckham, jumlah orang yang mengunjungi situs MLS pun meningkat hingga 117%.

Dalam hal ini, Beckham dianggap sebagai pendorong bagi pemain seperti Thierry Henry, Kaka, hingga David Villa untuk berkarier di MLS.

Dengan datangnya para pemain bintang, otomatis jumlah penonton pun meningkat. Dengan jumlah penonton yang meningkat, maka keuntungan yang didapat oleh masing-masing tim juga tidak sedikit. Karena mendapat keuntungan besar, maka pemain-pemain bintang pun tetap mendapat bayaran yang cukup tinggi meski kemampuannya dinilai ‘sudah habis’.

Itulah mengapa banyak yang memutuskan untuk berkarier di kompetisi MLS.

Kompetisi MLS memang tak ubahnya menjadi ladang bisnis bagi beberapa pihak, tak terkecuali para pemain. Dari segi bisnis, sistem MLS merupakan sistem terbaik yang menghasilkan uang dan juga kestabilan kesebelasan-kesebelasan yang berkompetisi di dalamnya. Sistem yang dijalankan MLS bahkan diadopsi oleh Liga Super India dan Liga Sepakbola Australia.

Bahkan, ‘pelopor’ pemain bintang MLS, David Beckham, beberapa waktu lalu resmi mendapatkan hak mendirikan klub di Miami. Dalam hal ini, ia bekerja sama dengan Marcelo Claure selaku CEO perusahaan telekomunikasi Sprint, Jorge dan Jose Mas yang merupakan pemimpin-pemimpin perusahaan telekomunikasi dan konstruksi MasTec yang bermarkas di Miami, Masayoshi Son yang bertindak sebagai pendiri dan CEO SoftBank, serta wiraswastawan Simon Fuller.

Langkah besar yang dilakukan Beckham mengindikasikan bahwa kompetisi tersebut telah menjadi sumber keuntungan yang menggiurkan. Bahkan bukan tak mungkin bila para pemain bintang lainnya juga mengambil bagian di klub yang pernah dibelanya, atau bahkan mendirikan sebuah klub seperti apa yang telah dilakukan David Beckham.

Alasan terakhir yang mendasari pemain untuk berkarier atau bahkan menghabiskan masanya di MLS adalah karena kompetisi ini dinilai tidak terlalu ketat. Taruh saja nama pemain asal Italia, Giovinco. Saat masih bersama  La Vecchia Signora, Goovinco hanya mendapat sedikit menit bermain di dua musim terakhirnya.

Namun setelah berlabuh di Toronto FC mulai dari tahun 2015 hingga awal 2019, Giovinco telah mencapai 100 caps dan mencetak lebih dari 50 gol serta 30 asisst di semua kompetisi. Meski tidak sampai pensiun disana, hal itu menunjukkan bahwa kompetisi tersebut masih bisa dimainkan oleh pemain yang berusia senja dengan kemampuan yang relatif menurun.

Beberapa faktor tersebut menjadi alasan mengapa banyak pemain bintang yang tertarik untuk mencicipi kompetisi MLS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *