Johan Cruyff: Filsuf Lapangan Hijau Yang Temukan Seni Tiki-Taka

Johan Cruyff: Filsuf Lapangan Hijau Yang Temukan Seni Tiki-Taka

“Kemenangan hanya berlangsung satu hari, sedangkan reputasi dapat bertahan seumur hidup. Bisa memiliki gaya sendiri untuk membuat orang meniru lalu mengagumimu, itu adalah karunia terbesar dalam hidup.”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Cruyff merupakan ikon sepak bola dunia yang mengedepankan keindahan dalam sepak bola. Dia merupakan pemain yang memanfaatkan otak untuk mengolah si kulit bundar. Baginya, bermain sepak bola adalah hal sederhana, namun untuk memainkan sepakbola yang sederhana nan menghibur adalah hal yang sangat sulit.

Johan Cruyff dikenal sebagai salah satu legenda sepak bola dunia. Lahir di Amsterdam, Cruyff bergabung dengan Ajax Amsterdam ketika berumur 10 tahun. Ia memainkan debut pertamanya untuk Ajax pada 15 November 1964 melawan Groningen. Meski mempunyai tubuh yang kurus, kala itu ia sudah dianggap sebagai calon bintang dunia karena memiliki keberanian serta skil mengolah bola di atas rata-rata.

Benar saja, bermain selama kurang lebih sembilan tahun di tim utama Ajax, Cruyff menjelma menjadi salah satu pemain terbaik yang pernah ada. Hal tersebut dibuktikan ketika ia mampu mengantar Ajax meraih delapan gelar Eredivisi dan tiga trofi Liga Champions secara beruntun pada 1971, 1972, dan 1973.

Kesuksesan itupun membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia sebanyak tiga kali.

Ketika memutuskan untuk hijrah ke FC Barcelona, kariernya semakin melejit. Ia sukses menyumbangkan dua gelar domestik bagi FC Barcelona. Saat itu, el Barca telah puasa gelar selama kurang lebih 14 tahun.

Di level timnas, Cruyff sukses menampilkan kultur baru dalam sepak bola. Menjadi kapten di Piala Dunia 1974, Cruyff dan kolega berhasil menggemparkan dunia. Meski gagal meraih gelar juara, Belanda baru saja memperkenalkan permainan Total Football kepada seluruh insan sepak bola.

Dibawah asuhan Rinus Michels, Cruyff lebih memahami arti gaya permainan ini. Total football sendiri merupakan permainan yang melingkupi pemahaman akan ruang dan sistem bertahan serta menuntut seluruh pemainnya untuk berkontribusi.

Dalam pandangan Cruyff, bagaimana sebuah tim bertahan bukan hanya terpaku pada kualitas pemain-pemain di lini belakang, tetapi juga bagaimana sebuah tim menjaga bentuk formasi dan jarak antar-pemain.

Cruyff adalah pemikir yang sangat hebat. Ia mampu menjelaskan segala sesuatu yang kelihatannya rumit menjadi amat mudah dan lugas. Melalui pola pemikiran dan teknik permainan seperti itu, banyak yang menyebut jika Cruyff mengembangkannya ke permainan tiki-taka.

Pada 1988, Cruyff pun merevolusi akademi La Masia menjadi sebuah akademi yang tidak hanya memproduksi pemain berdasarkan kriteria tinggi badan, namun juga sebuah sistem yang memproduksi pemain yang pandai mengendalikan si kulit bundar.

Dari akademi itu, sejumlah pemain seperti Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, Andres Iniesta, Gerard Pique, hingga Lionel Messi lahir.

Bersama Messi, Iniesta, dan Xavi, Barcelona meraih kesuksesan luar biasa ketika dilatih Guardiola pada 2008 hingga 2012. Ketika itu, Barca dianggap sebagai jelmaan The Dream Team asuhan Cruyff.

Ketika ditanya, Guardiola juga mengaku jika seluruh hal yang ia dapat dari sepakbola berasal dari Johan Cruyff.

Eusebio Sacristan, rekan Guardiola di lini tengah Barcelona ketika mereka menjadi juara Eropa 1992, juga mengakui kejeniusan Cruyff.

“Johan merancang cara kami bermain, ide yang hingga kini terus dimainkan oleh klub. Aku bisa merasakan DNA-nya dalam tim. Setiap pemain tahu sistem yang akan mereka mainkan, dan sistem itu merasuki setiap bagian dari klub,”

“Kesuksesan La Masia telah membuktikan bahwa dirinya (Cruyff) benar. Setiap kali ada pemain muda yang mampu bermain di tim pertama, maka sebagian kesuksesannya berasal dari Johan.”

Hingga tepat pada 24 Maret 2016, sang penyelamat sepak bola indah itu berpulang. Cruyff meninggal dunia pada usia 68 tahun setelah kalah melawan kanker paru-paru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *