Apa yang Membuat Paul Scholes Mengundurkan Diri?

 Apa yang Membuat Paul Scholes Mengundurkan Diri?

Paul Scholes lama menghilang dari dunia sepak bola. Setelah pensiun pada 2011, ia sempat melatih di tim junior Manchester United sebelum akhirnya kembali merumput pada Januari 2012. Ia pun pensiun untuk kedua kalinya pada akhir musim 2012/13.

Kegiatan Scholes berikutnya lebih banyak berkutat di depan kamera, sebagai pandit untuk Sky Sport, BT Sport, dan The Independent. Ia bukan tipe pemain yang ingin menghabiskan sisa hidupnya sebagai pelatih.

Akan tetapi, ia berubah pikiran dalam beberapa tahun belakangan. Ia merupakan fans fanatik klub League Two, Oldham Athletic. Demi bekerja di klub tersebut, ia mau menyelesaikan kursus kepelatihan. Langkahnya untuk menjadi pelatih Oldham sebenarnya tak mulus karena ia berstatus sebagai salah satu pemilik Salford City, klub Conference National, satu kasta lebih rendah dibanding Oldham.

Ia sebelumnya sudah dirumorkan akan melatih Oldham pada 2017. Akan tetapi, keinginannya tersebut baru kesampaian pada 2019. The Latics mengumumkan Paul Scholes akan menjadi juru taktik pada 11 Februari 2019.

Debutnya sehari kemudian berlangsung manis. Ia membawah Oldham mengalahkan Yeovil Town dengan skor 4-1. Sayangnya, Scholes tak mampu mempertahankan sentuhannya. Dalam enam laga berikutnya, Oldham tak pernah menang, dengan hanya mengoleksi tiga imbang dan tiga kali kalah.

Pada akhirnya, Scholes membuat keputusan mengejutkan. Pada 14 Maret, hanya 31 hari setelah memulai pekerjaan, ia mengumumkan pengunduran dirinya.

Mari kita mundur pada 16 Februari, pada pertandingan keduanya menghadapi Crewe. Oldham terpaksa bermain imbang akibat gol penyama kedudukan lawan di waktu tambahan. Scholes, seperti biasanya, berdiri terlihat stres di tepi lapangan.

Seusai pertandingan, ia ditanya wartawan. Apakah ia heran dengan dirinya, mengapa ia menyeburkan diri dalam pekerjaan yang menimbulkan stres, ketika ia seharusnya hidup nyaman tak kekurangan uang. Scholes menjawab, “Tentu saja, sepanjang waktu.”

Well, itu adalah tipe jawaban yang muncul dari mulut para pemain Inggris. Kebanyakan pensiunan seperti Scholes sudah terlalu nyaman memberikan opini tentang sebuah pertandingan di akhir pekan kepada para pemirsa di dalam studio televisi. Situasi itu pula yang menyebabkan Inggris tak punya banyak pelatih bagus.

Akan tetapi, jika melihat penjelasan Scholes saat mengundurkan diri, terlihat indikasi ia tak bisa leluasa melaksanakan pekerjaanya. “Sayang sekali, menjadi jelas bahwa saya tidak akan bisa mengoperasikan tim seperti yang saya inginkan.”

Apakah Scholes merasa diintervensi? BBC Sport menduga demikian. Pemilik klub, Abdallah Lemasagam, kerap berinteraksi dengan para pemain utama. Scholes yakin hal tersebut merupakan kewenangannya yang tak boleh diinterupsi figur lain, bahkan presiden klub sekalipun.

Menjadi presiden klub di level League Two tak begitu mewah. Pria seperti Lemsagam mengontrol penuh klub sampai ke detail terkecil. Ia banyak mengobrol dengan bawahan, mulai dari staf biasa, staf kebersihan, hingga staf dapur. Ia banyak berkomunikasi dengan semua orang, termasuk para pemain. Sayangnya, bagi Scholes, para pemain seharusnya berada di bawah kekuasaannya.

Para pelatih sebelumnya, Richie Wellens dan Frankie Bunn, juga mengalami hal serupa. Namun bagi Scholes, yang dua dekade lebih bekerja di sepak bola level tertinggi, menganggap kebiasaan Lemsagam tak bisa ditoleransi.

Ia memilih pergi. Ia memberi tahu Lemsagam akan mengundurkan diri melalui Whatsapp, lalu tak berkomunikasi lagi. Ia tak menjawab panggilan telepon Lemsagam. Ia segera menyadari, impiannya melatih Oldham adalah mimpi buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *