Taktik Apa yang Dikembangkan Zidane di Real Madrid?

Taktik Apa yang Dikembangkan Zidane di Real Madrid?

Untuk seorang pelatih yang telah memenangi tiga gelar Liga Champions, Zinedine Zidane tak pernah diagungkan karena sisi taktikalnya. Tak seperti Pep Guardiola dan Marcelo Bielsa yang mendapat tempat dalam sejarah karena taktik dan filosofi sepak bola yang diusungnya, publik hampir tak pernah menyinggung bagaimana Zidane menyajikan sepak bola.

Kekosongan bahasan ini barangkali terjadi karena Zidane sendiri tak mempermasalahkan gaya bermain apa yang akan diperagakan anak asuhnya. Namun, tetap saja kita bisa menelusuri sanad keilmuan Zidane dari para pelatihnya terdahulu.

Seperti banyak pelatih muda lainnya, Zidane berkeliling ke banyak klub untuk menyaksikan para pelatih bekerja. Pada Desember 2014, ia berkunjung ke Marcelo Bielsa, yang saat itu melatih Marseilla. Beberapa bulan sebelumnya, ia bertamu ke Bayern Munich, menonton sesi latihan yang dipimpin Pep Guardiola.

Meski begitu, pengaruh terbesar bagi Zidane datang dari siapa ia pernah bermain dan dari seseorang yang pernah menjadi atasannya di awal kariernya sebagai pelatih. Semasa bermain, Zidane meraup kesuksesan besar di bawah asuhan Marcelo Lippi dan Vicente del Bosque di level klub, serta Aime Jacquet di timnas Perancis.

Lippi yang melatih Zidane di Juventus menekankan bahwa untuk mengeluarkan kemampuan terbaik tim, taktik yang dibangun harus kompatibel dengan para pemain terbaik di tim. Del Bosque, yang melatih Zidane di Madrid, mengajari Zidane menyatukan sekelompok pemain bertalenta agar berfungsi sebagai tim. Oleh Jacquet, Zidane mendapat ilmu berupa pentingnya membangun mentalitas yang kuat.

Setelah pensiun, Zidane bekerja sebagai pelatih akademi di Real Madrid, lalu sempat menjadi asisten Carlo Ancelotti. Dari Ancelotti, Zidane menemukan satu hal terpenting untuk para pelatih, yaitu manajemen personal. Seorang pelatih harus mampu menghadapi pemain satu per satu, baik dalam hal taktikal maupun personal. Istilah yang tepat untuk menggambarkan kemampuan ini adalah, one on one coaching.

Jadilah Zidane sebagai pelaitih yang mampu menyesuaikan keadaan dan mampu mengontrol ruang ganti. Secara taktik, ia tak saklek menganut satu pakem. Di final Liga Champions 2016 kontra Atletico Madrid, Zidane memasang 4-3-3, dengan trisula Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gareth Bale di lini depan.

Akan tetapi, kekuatan sesungguhnya Madrid terletak di lini tengah, yang diperkuat Toni Kroos, Luka Modric, dan Casemiro. Mereka bertugas menyerap serangan Atletico sedari awal karena Madrid sudah unggul sejak awal laga. Pada akhirnya, laga berlanjut hingga adu penalti, dan berkat mentalitas yang ditanamkan Zidane, tak ada pemain Madrid yang gagal penalti.

Berlanjut ke final Liga Champions 2017 menghadapi Juventus, Zidane mengubah formasi menjadi 4-4-2 berlian. Ronaldo dipasang sebagai striker bayangan untuk mengekploitasi kotak penalti Juve. Seiring berjalannya usia, Ronaldo tak lagi bertindak sebagai winger, dan dengan ditaruh di sebagai penyerang, Zidane berniat memanfaatkan eksplosivitas Ronaldo sedekat mungkin dengan gawang lawan. Laga berakhir 4-1 untuk kemenangan Zidane. Formasi di laga ini dipertahankan pada final Liga Champions 2018 kontra Liverpool.

Yang perlu menjadi catatan, Zidane tak menangani Madrid dengan penuh kesempurnaan. Di La Liga, Zidane hanya sekali menjadi juara. Madrid seringkali tampil rapuh dan tak terorganisasi. Salah satu sebabnya barangkali pilihan Zidane yang lebih mengutamakan Liga Champions. Musim lalu misalnya, Ronaldo kerap disimpan di La Liga, dengan cuma mencatat 29 penampilan.

Zidane hanya tahu bagaimana cara menang di laga besar. Ia belum bisa menemukan formula untuk memenangkan timnya di semua laga. Oleh sebab itulah, kolomnis terkemuka Inggris, Sid Lowe, menyebut Zidane “tak terkenal karena taktik atau gaya bermain, melainkan kemampuan untuk menang”.

Anggapan Lowe didukung oleh pernyataan Zidane sendiri. Seperti dikutip Goal, Zidane berujar, “Aku bukan pelatih terbaik. Aku akan selalu mengatakan itu. Aku juga bukan yang terbaik secara taktik.” Meski begitu, seperti yang ditekankan Lowe, Zidane punya manajemen personal yang luar biasa.

Untuk hal ini, kita bisa bisa mengutip Sergio Ramos, “Zidane sanggup mengontrol situasi sulit di ruang ganti dengan penuh sensitivitas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *