Apa yang Membuat Lewandowski Marah dan Bayern Munich Kalah?

Apa yang Membuat Lewandowski Marah dan Bayern Munich Kalah?

Bayern Munich dikalahkan Liverpool dengan skor 1-3 di leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Meski bermain di kandang, Bayern tak mampu memanfaatkan dukungan publik sendiri. Jerman pun resmi tanpa wakil di Liga Champions.

Bagi Robert Lewandowski, ujung tombak utama tim. Kekalahan Bayern sepenuhnya salah pelatih Niko Kovac. Menurutnya, Kovac tak bernai tampil menyerang. Seperti dilansir Goal, Lewandowski menyayangkan timnya tak bermain menyerang di leg pertama di Anfield, yang berlanjut hingga leg kedua di Fussball Arena. Ia mengaku marah karena merasa timnya bisa tampil lebih baik, atau tampil lebih menyerang.

Lantas bagaimana sebenarnya cara bermain Bayern di laga tersebut?

Niko Kovac merupakan mantan gelandang bertahan. Jadi, tak mengherankan jika ia tak punya citarasa menyerang terlalu tinggi. Sepanjang laga leg kedua pada Rabu malam, Bayern hanya sanggup mencatatkan tiga operan kunci, atau dengan kata lain, hanya tiga umpan yang menghasilkan tembakan.

Untuk mengetahui cara Bayern asuhan Kovac menghadapi Liverpool, kita bisa melihat ulasan taktik Om Arvind di Between The Post. Di leg pertama, Bayern memulai laga dengan formasi 4-4-2/4-4-1-1, dengan pemain sayap me-marking bek sayap lawan dan para gelandang mengawal gelandang lawan. Dengan demikian, Kovac sengaja menciptkan situasi tiga lawan tiga di lini tengah untuk merusak bangunan serangan Liverpool.

Di babak kedua, Liverpool lebih mudah menguasai bola karena Kovac meminta anak asuhnya memundurkan garis pertahanan. Liverpool jadi mudah menguasai bola hingga sepertiga akhir, tapi tetap tak mampu menembus struktur pertahanan Bayern. James Rodriguez terus membayangi Jordan Henderson, sementara Thiago dan Javi Martinez tampil apik sebagai pivot. Hasilnya, dalam kurung menit 45 hingga 80, Liverpool tak sanggup mencatat satu tendangan pun. Laga pun berakhir dengan skor tanpa gol.

Di leg kedua di kandang sendiri, Kovac yang puas dengan hasil di leg pertama tak menemukan alasan untuk mengubah pendekatan. Dengan formasi 4-4-2, James tetap akan me-marking Henderson atau Fabinho, dengan Lewandowski akan membayangi umpan-umpan dari lini belakang Liverpool.

Akan tetapi, decision making yang buruk dari Manuel Neuer membuat Liverpool berhasil mencuri satu gol. Lalu ketika Virgil van Dijk sanggup membobol Neuer lagi di babak kedua, Bayern terlihat tak mampu bangkit lagi. Apalagi, Kovac menolak menaikkan tempo permainan. Seperti yang ditulis Arvind, taktik umpan lambung Bayern “terlalu tumpul” untuk dapat memenangkan Bayern.

Dengan pendekatan hati-hati dalam dua leg, wajar jika seorang striker seperti Lewandowski merasa berang. Ia pernah dilatih oleh pelatih berkarakter menyerang seperti Pep Guardiola dan Jupp Heynckes, jadi agak gusar jika diminta bertahan.

Ke depan, Bayern Munich perlu memikirkan perubahan. Arjen Robben dan Franck Ribery sudah memastikan pergi. Beberapa pemain inti, seperti Neuer, Lewandowski, Jerome Boateng, dan Matts Hummels telah berkepala tiga. Niko Kovac sendiri, sebagai pelatih, tampak harus memenangkan gelar Bundesliga jika ingin tetap bertahan di Bayern Munich.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *