Telepon Casillas ke Xavi yang Dianggap Mourinho Sebagai Pengkhianatan

Telepon Casillas ke Xavi yang Dianggap Mourinho Sebagai Pengkhianatan

Iker Casillas adalah ikon Real Madrid saat Barcelona sedang menaklukkan dunia bersama Pep Guardiola. Casillas adalah kiper utama Madrid sejak berusia 20 tahun, dan telah mengapteni Los Blancos dan timnas Spanyol saat Madrid berada di titik paling rendah kala Barcelona merajai sepak bola.

Bersamaan waktunya dengan kejayaan Barcelona, dimulai pula era keemasan bagi Spanyol. Sebagai kapten, Casillas tentu tak ingin melihat rekan-rekannya di Madrid berseteru dengan rival di Barcelona. Biarpun El Clasico berlangsung lebih panas daripada sebelumnya, Casillas ingin para pemain Spanyol tetap rukun.

Jadi, ketika Jose Mourinho datang ke Madrid 2010 dengan niat membakar sumbu rivalitas antara dua tim, Casillas merupakan orang pertama yang menentangnya. Dalam suatu waktu saat baru saja menjalani El Clasico, Casillas melakukan panggilan telepon yang kelak akan menghancurkan hubungannya dengan Mourinho.

Telepon tersebut adalah antara Casillas dengan kapten Barcelona, Xavi Hernandez. Casillas pada awalnya memulai panggilan dengan nada tinggi setelah El Clasico sebelumnya berakhir dengan kericuhan. Akan tetapi, Xavi, yang merupakan rekannya sejak di timnas Spanyol junior, meminta agar dua kubu berintrospeksi menilai bagaimana perilaku mereka.

Telepon itu berakhir dengan damai, tapi Mourinho murka.

Bagi Mourinho, panggilan tadi adalah pengkhianatan. Bagi Mourinho, cara mendekati dan mengalahkan Barcelona adalah menabuh genderang perang dengan mereka. Ia punya cara pandang berbeda dibanding Casillas.

Pada El Clasico kedua Mourinho, yakni pada musim April 2011, media Spanyol Marca berhasil mendapatkan bocoran starting lineup yang akan dipasang Mourinho. Sejak saat itu, Casillas yang punya pacar seorang jurnalis mulai dipandang Mou sebagai duri dalam daging. Taktik Mourinho kala menghadapi Barca pada dasarnya memang tidak disukai pemain. ia memilih bermain bertahan, suatu hal yang dibenci Cristiano Ronaldo.

Di musim berikutnya, Mou makin panas mengompori hubungan Madrid-Barca. Ia sengaja mencolok mata asisten pelatih Barca, Tito Vilanova, di El Clasico pada Piala Super Spanyol 2011/12. Casillas, yang sudah memenangi Euro 2008 dan Piala Dunia 2010 bersama sejumlah pemain Barca, lalu menelepon Xavi.

“Casillas layak mendapat banyak pujian. Dia meneleponku dan Carles Puyol. Aku berkata padanya agar kedua kubu mawas diri. Dia (melakukan panggilan itu) demi kebaikan sepak bola Spanyol,” begitu kata Xavi.

Casillas yang punya akses ke Presiden Madrid lantas mengajak Sergio Ramos untuk bertemu dengan Presiden Florentino Perez. Pertemuan ini semakin menegaskan anggapan Mourinho bahwa Casillas sudah tidak loyal lagi padanya.

Pada akhirnya, di musim ketiga yang juga musim terakhir Mourinho di Madrid, ia mendesak agar klub mencarikannya kiper baru. Didatangkanlah Diego Lopez, yang mengawal gawang Madrid pada separuh akhir musim 2012/13. Saat itu Mourinho sampai mengatakan, “Selama aku jadi pelatih Madrid, Diego Lopez akan (selalu) bermain).”

Jadi, meskipun dibesarkan di akademi Real Madrid agar membenci Barcelona, Casillas tetap memakai akalnya dengan menjaga hubungan terhadap para pemain Barcelona. Pada akhirnya, baik Casillas maupun Xavi benar: timnas Spanyol tak boleh hancur hanya karena El Clasico.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *