Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Marcelo?

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Marcelo?

Setelah melewati 12 tahun, 300 lebih penampilan, dan 20 trofi, kini kita bisa menyebut era Marcelo di Real Madrid hampir berakhir. Kini tak lagi terlihat seorang bek kiri lincah yang amat berbahaya kala menyerang, suatu atribut yang kadang menutupi kelemahannya dalam bertahan.

Revolusi Santiago Solari memakan korban. Selain Isco, penggawa senior lain yang kehilangan tempat sejak Solari berkuasa adalah Marcelo, bek kiri asal Brasil yang sebelumnya tak pernah tergantikan. Marcelo didatangkan untuk mewarisi tahta Roberto Carlos, dan ia bisa dianggap telah melewati capaian sejarah sang senior.

Jadi, ketika di era Solari tiba-tiba Marcelo kehilangan tempat, publik pun bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Marcelo?

Marcelo memang terlihat tak setangguh seperti di masa lalu. Ia baru-baru ini disalahkan atas terjadinya dua gol Girona yang berakibat pada kekalahan Real Madrid di Santiago Bernabeu. Secara statistik, hingga Februari, Madrid sudah kalah tujuh kali di La Liga, di mana enam di antaranya terjadi saat Marcelo tampil sebagai starter.

Di sisi lain, dalam delapan laga ketika pesaing Marcelo, Sergio Reguilon, menjadi starter, Madrid selalu menang. Jika Marcelo bermain, Madrid kebobolan tiap 52 menit. Sementara jika Reguilon yang bermain, Madrid baru kebobolan tiap 135 menit.

Dengan statistik tersebut, tak heran jika belakangan Solari lebih memilih memainkan Reguilon di sisi kiri pertahanan Los Blancos.

Ada banyak penjelasan mengapa performa Marcelo menurun. Alasan pertama yang bisa disebut tentu saja kepergian Zinedine Zidane. Pelatih plontos tersebut berhasil menemukan sistem untuk mengakomodasi daya ofensif Marcelo tanpa membuat lini belakang tereksploitasi. Hasilnya lebih dari sekadar tiga trofi Liga Champions, melainkan juga hubungan fantastis antara Marcelo dengan sang pelatih.

Ia berujar pada Esporte Interativo, “Zizou baik padaku, yang juga sangat profesional. Aku melakukan segalanya untuknya. Aku (terus) berlari, aku bertarung, dan aku bermain (meski) cedera).” Sayangnya, Zidane pergi sesaat setelah mengalahkan Liverpool di final Liga Champions.

Pengganti Zidane, Lopetegui, hanya bertahan empat bulan. Solari yang baru masuk lantas merevolusi skuad Madrid. Saat ia kesulitan memenuhi tuntutan Solari, ia justru bergelut dengan cedera. Ia terhitung sudah sepuluh pertandingan terpaksa absen karena cedera otot.

Dan jika melihat bahwa Reguilon mampu menggantikan peran Marcelo dengan sempurna, sang bek senior pun mengalah dan mulai realistis. “Jika aku berada dalam daftar pemain yang akan dijual, mereka (Madrid) dapat memberiku pesangon, lalu semua selesai. Jika tiba hari ketika Real Madird tidak menginginkanku (lagi), aku akan pergi. Aku akan sedih, tapi aku akan pergi.”

Well, untuk ukuran bek sayap, usia 30 terhitung sudah cukup veteran. Ia bisa memilih untuk menjadi cadangan di Madrid, membimbing bek muda seperti Reguilon, lalu pensiun dengan tenang. Jika Marcelo ingin mencari tantangan baru, ia bisa pergi.

Jika ia memutuskan pergi, satu sosok sudah menyatakan ingin bermain dengannya lagi. Ia adalah Cristiano Ronaldo, yang terang-terangan mengajak Marcelo agar bergabung ke Juventus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *