Jadi Komoditi Terpanas Serie A, Siapa Duvan Zapata?

Jadi Komoditi Terpanas Serie A, Siapa Duvan Zapata?

Ketika seorang striker ingin menembak, ia memerlukan teknik yang tepat dengan kakinya, kekuatan yang mencukupi di tungkainya, dan presisi yang mematikan untuk menaruh bola di sudut yang tak terjangkau kiper. Itulah alasan mengapa para striker sering jadi pemain termahal…

Di Serie A musim ini, puncak klasemen top scorer diisi nama familiar dengan nama depan Cristiano dan nama belakang Ronaldo. Ia sudah berusia 34 tahun, tapi atmosfer Serie A terlalu mudah untuk kaki berototnya.

Di bawahnya, terdepat veteran berusia 36 bernama Fabio Quagliarella yang menemukan performa terbaiknya sepanjang karier. Ia mencetak gol dalam sebelas giornata beruntun, menyamai rekor sepanjang masa milik Gabriel Batistuta.

Tepat di bawah hidung Ronaldo dan Quagliarella, terdapat Duvan Zapata, penyerang bongsor milik Atalanta. Para tifosi mungkin akrab dengan namanya karena Zapata sudah lebih dari lima tahun berkarier di Italia. Akan tetapi, Zapata tentu saja bukan dianggap sebagai striker ganas lantara hanya menjadi striker figuran di klub-klub yang dibelanya…

Zapata, sebelum musim ini, tak pernah punya koleksi gol mengagumkan. Di klub profesional pertamanya, America de Cali, ia terlihat seperti hanya berperan sebagai penyokong striker utama, yang lantas mempengaruhi rasio golnya yang menyedihkan.

Nasibnya agak lebih baik di klub Argentina, Estudiantes La Plata. Ia mencetak 22 gol dalam 46 gol dalam 18 bulan. Angka yang cukup untuk memantik ketertarikan dari Eropa. Sayangnya, kepindahannya ke Napoli malah menjadikannya kembali menempati bangku cadangan.

Tiba di San Paolo pada saat yang bersamaan dengan Gonzalo Higuain, Zapata praktis lebih sering menonton Higuain membobol ke gawang lawan dari tepi lapangan. Ia pun lantas dipinjamkan ke Udinese. Meski mulai mendapat peran utama, Zapata hanya mencetak 18 gol dari 63 pertandingan selama dua musim.

Catatannya yang tak mentereng di depan gawang membuatnya tak cukup menarik bagi klub-klub Serie A. Ia bahkan mengakui, pada masa-masa ini, “tak ada klub yang menginginkannya.” Ketika ia dipinjamkan sekali lagi ke Sampdoria pun, ia hanya jadi pelapis bagi Fabio Quagliarella.

Pada musim panas 2018, walaupun Sampdoria mau menebus Zapata dari Napoli, pihak klub memutuskan tak membutuhkan tenaga Zapata, lalu lebih memilih meminjamkannya selama dua musim ke Atalanta.

Pada awalnya, Zapata juga menjalani pekan-pekan pertama dengan medioker. Ia tak mencetak gol dalam sepuluh laga pertama Serie A. Performanya baru berbalik 180 derajat memasuki bulan Desember.

Sejak mencetak gol ke gawang Napoli pada 3 Desember, ia lantas berturut-turut menjebol gawang Lazio, Genoa, Juventus, Sassuolo, Frosinone, dan Roma. Per pertengahan Februari, ia tercatat sudah mencetak 21 gol dan 4 assist dalam 31 pertandingan.

Atas pencapaian mendadaknya tersebut, Zapata banyak memuji pelatih Gian Piero Gasperini dan dua pelayannya di lini depan, Alejandro “Papu” Gomez dan Josip Ilicic. Ia berujar, “Gomez dan Ilicic punya kemampuan luar biasa. Aku selalu bicara pada diri sendiri usai latihan, ‘Jika aku tak bisa mencetak gol selama bermain dengan mereka, (itu berarti) aku tak akan pernah melakukannya (mencetak gol).”

Jadilah saat ini ia jadi komoditi terpanas Serie A. West Ham dikabarkan sudah bersiap menjebol kocek guna membeli Zapata dengan harga 40 juta pounds. Inter Milan juga sudah membidiknya untuk menggantikan Mauro Icardi…

Ke mana Zapata akan berlabuh pada musim depan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *