Karim Benzema: Korban Diskriminasi Yang Jadi Penyerang Haus Gol

Karim Benzema: Korban Diskriminasi Yang Jadi Penyerang Haus Gol

Benzema merupakan salah satu penyerang terbaik saat ini. Deretan gol dan berbagai gelar prestis berhasil ia sumbangkan untuk tim yang dibelanya. Pada pertandingan el clasico melawan FC Barcelona, pemain ini bahkan pernah membuat rekor dengan mencetak gol hanya dalam waktu 22 detik saja.

Mantan rekan setimnya, Xabi Alonso, menaruh pujian pada pemain asal Prancis tersebut,

“Dia adalah salah satu pemain terbaik dalam satu dekade terakhir, karena dia melakukan banyak hal, bukan hanya gol,”

“Permainannya spektakuler dan sebagai pelatih aku akan senang jika memiliki pemain seperti dia. Saat Karim bermain baik, tim akan bermain baik.” ungkap Alonso kepada Marca.

Karim Benzema lahir pada 19 Desember 1987 di Lyon, Prancis. Benzema memiliki darah Aljazair, itu mengapa pemain bertinggi 180 cm ini menganut agama Islam. Kakeknya, Da Lakehal Benzema, tinggal di desa Tighzert, utara kota Beni Djellill di Aljazair sebelum hijrah ke Lyon pada tahun 1950-an.

Sang ayah, Hafid, lahir di Tighzert, sementara ibunya, Wahida Djebbara, lahir dan tumbuh di Lyon.

Benzema kecil hidup di lingkungan yang kerap terjadi masalah. Jika sang ayah tak benar-benar disiplin dalam mendidik Benzema, mungkin ia sudah terjerumus kedalam kelompok yang banyak melakukan hal buruk. Setelah mulai tumbuh, Benzema masuk kedalam sekolah yang tak banyak orang muslim disana. Oleh karena itu, hidupnya dipenuhi dengan berbagai perlakuan rasis.

Benzema sulit berinteraksi karena memiliki keturunan Aljazair. Ia benar-benar tertekan dengan segala diskriminasi yang menimpanya. Penderitaan Benzema bertambah saat waktu kecil dirinya memiliki tubuh yang gemuk. Ia sering diejek dan ditindas oleh teman-temannya.

Akibat berbagai perlakuan negatif tersebut, Benzema tumbuh menjadi pribadi yang sangat tertutup. Ia takut dengan sebagian orang dan susah untuk memulai pembicaraan. Menjadi orang yang pendiam dan penakut membuat hidupnya tak banyak keluar dari rumah.

Seiring berjalannya waktu, Benzema berhasil menurunkan berat badannya dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani. Ia mulai menunjukkan kepercayaan dirinya didepan orang-orang. Bahkan, ia mulai berlatih sepak bola di akademi Bron Terraillon SC.

Setelah akademinya itu melakukan pertandingan uji coba melawan Lyon junior, klub itu mulai tertarik padanya.

Menurut Serge Santa Cruz, presiden Bron Terraillon saat itu, pegawai Lyon telah mengunjunginya untuk merekrut Benzema. Namun ia sempat menolak sebelum akhirnya ayah Benzema melakukan sedikit negosiasi. Benzema kecil pun bergabung dengan akademi Lyon.

Sambil berlatih dengan tim muda Lyon, Benzema juga mengisi waktunya dengan menjadi ball boy pada pertandingan tim senior Lyon. Tak butuh waktu lama bagi Benzema untuk beradaptasi. Setelah berhasil berkembang menjadi sosok yang percaya diri, Benzema dikenal sebagai pemain yang bijaksana dan banyak dihormati.

Lyon berhasil merubah Benzema menjadi sosok yang benar-benar luar biasa.

Bermain untuk Lyon U16, Benzema sukses menorehkan 32 gol. Selain itu, dirinya juga menjadi bagian timnas Prancis U17 dalam memenangi Piala Eropa U17 yang digelar di negaranya sendiri. Ketika itu, Benzema bermain dengan Nasri, Ben Arfa, dan Jeremy Menez dalam melumat perlawanan Irlandia Utara dengan skor 3-1.

Setelah masuk ke tim utama Lyon, kehebatan Benzema semakin tak terbantahkan. Ia sukses mencetak 66 gol dalam 148 penampilannya. Empat gelar Ligue One, satu Piala Prancis, dan dua Piala Super Prancis semakin menguatkan kilau Karim Benzema di tanah Prancis.

Kemampuan Benzema mencuat hingga ke Negri Matador. Dirinya diminati oleh raksasa Spanyol, Real Madrid. Dengan bandrol senilai 35 juta euro, penyerang berbakat ini resmi berseragam Los Galacticos di tahun 2009.

Benzema menjalani debutnya pada Juli 2009 dalam pertandingan pramusim melawan Shamrock Rovers di Dublin. Ia tampil sebagai pemain pengganti. Dan pada Agustus 2019, Benzema mencetak dua gol ke gawang klub Norwegia, Rosenborg, dalam ajang Trofi Santiago Bernabeu, dimana Madrid menang 4-0.

Berkat kemampuan briliannya itu, perlahan Benzema mampu menembus skuat utama Real Madrid dan menjelma menjadi penyerang berbahaya. Rentetan gol yang diciptakannya sudah mencapai lebih dari 100 gol. Gelar La Liga dan beberapa trofi Liga Champions Eropa menjadi bukti keganasan pemain berusia 31 tahun ini.

Hingga sekarang, korban diskriminasi itu menjelma menjadi salah satu penyerang terbaik dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *