Mengapa Atletico Madrid Mau Membayar Mahal Diego Simeone?

Mengapa Atletico Madrid Mau Membayar Mahal Diego Simeone?

Siapa pelatih dengan bayaran termahal saat ini? dua bulan lalu jawabannya Jose Mourinho di Manchester United, lalu Marcelo Lippi di timnas China. Akan tetapi, Mourinho telah dipecat dan Lippi mengundurkan diri selepas Piala Asia 2019.

Menurut majalah Perancis L’equipe, pelatih dengan bayaran termahal saat ini jatuh pada Diego Simeone. Ia digaji Atletico Madrid sebesar 3,3 juta euro (Rp52 miliar) setelah meneken kontrak baru pada Desember lalu. Dengan kontrak tersebut, Simeone akan bertahan di Atletico hingga 2021.

Namun, mengingat Atletico bukan klub dengan dompet tertebal di Spanyol, publik jadi terheran-heran. Gaji Simeone tercatat nyaris dua kali lipat dari gaji Pep Guardiola yang cuma sebesar 1,9 juta euro (Rp30,1 miliar) per pekan, bahkan enam kali lipat dari gaji Thomas Tuchel yang hanya 520 ribu euro (Rp8,2 miliar) per pekan.

Pertanyaan pun menyeruak, mengapa pula Atletico mau membayar mahal Simeone?

Tak perlu diragukan lagi, Diego Simeone identik dengan Atletico Madrid selama delapan musim terakhir. Mengutip Panditfootball, ia adalah pengubah derajat Atletico. Ia mengubah Los Cholchoneros dari klub papan tengah menjadi penantang duo Real Madrid dan Barcelona.

Pada 2000, mereka terdegradasi ke divisi segunda, lantas menghabiskan dua musim di sana sebelum promosi kembali ke La Liga. Sejak promosi lagi pada 2003, Atletico paling banter hanya menempati posisi empat. Saat itu mereka lebih dikenal sebagai batu loncatan penyerang tajam seperti Fernando Torres dan Sergio Aguero.

Jadi, meskipun tak jelek-jelek amat, Atletico tak pernah disebut sebagai klub raksasa Spanyol, setidaknya sebelum Simeone datang. Pada pertengahan musim 2011/12, Atleti sempat terperosok hingga mendekati zona degradasi saat dilatih Gregorio Manzano.

Saat itu-lah Diegeo Simeone masuk. Misi pertamanya adalah menjauhkan Atleti dari jeratan degradasi. Nyatanya, pria berjuluk El Cholo tersebut melampaui ekspektasi. Atleti dibawanya menuju posisi lima klasemen akhir, lantas mencaplok gelar Liga Europa.

Setelah itu, ia mendapat perpanjangan kontrak, lalu menanamkan idenya di benak para pemain. Karakter Atleti benar-benar tertempa. Mereka menunjukkan ideolog Cholismo yang brutal dan amat mengandalkan permainan bertahan.

Simeone lantas berhasil mendaratkan trofi Copa del Rey pada 2012/13, La Liga pada 2013/14, Liga Europa lagi pada 2017/18, serta Piala Super Eropa pada 2012 dan 2018. Di pentas terakbar Liga Champions, Atleti juga mampu menembus babak final pada 2013/14 dan 2015/16.

Satu hal lagi, Simeone mampu membangun tim setelah ditinggal sejumlah bintangnya. Ia tetap mampu mempertahankan level tim meski ditinggal Falcao, Diego Costa, Filipe Luis, Jackson Martinez, Gabi Fernandez, Arda Turan, Mario Mandzukic, Toby Alderweireld, Miranda, Yannick Carrasco, hingga Sime Vrsaljko.

Jadi, fakta bahwa Diego Simeone adalah salah satu pelatih terbaik dunia sudah tak terbantahkan.

Apakah ia akan bertahan selamanya di sana? Sepertinya tidak. Simeone pernah mengungkapkan ingin melatih Inter Milan di masa depan. Jika ada tawaran melatih Lionel Messi di timnas Argentina, Simeone mungkin juga tidak menolak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *