E-Sport Sebagai Masa Depan Klub-Klub Sepak Bola

E-Sport Sebagai Masa Depan Klub-Klub Sepak Bola

Menghabiskan waktu berjam-jam di warnet bukan pilihan bagus bagi anak muda, begitulah anggapan banyak orang tua. Bermain game online disebut tak memberi faedah apa pun lantaran dirasa membuang-buang waktu dan mengurangi kamampuan sosial anak muda.

Namun, belakangan persepsi tersebut mulai berubah sejak kemunculan e-sports. Game online telah dianggap sebagai olahraga, dan orang yang memainkannya dapat disebut atlet. Sebagaimana olahraga lainnya, olahraga e-sports memiliki perputaran uang yang cukup besar. Para atletnya bisa meraup pundi-pundi rupiah jika berlabel profesional.

Mereka bukan tanpa pengakuan. Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia sudah mengakui e-sports sejak 2018. Di Asian Games 2018 pula cabang esport mulai diujicoba. Pada edisi 2022, esport akan menjadi cabang baru yang bisa mempengaruhi perolehan medali tiap negara. Di level olimpade, edisi Paris 2024 dikabarkan siap menjadikan e-sports sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan.

Lantas, di mana urgensi klub-klub sepak bola untuk membentuk tim e-sports sendiri?

Well, saat ini baru sedikit klub-klub Eropa yang sudah membentuk tim e-sport. Beberapa klub Inggris sudah mempekerjakan atlet e-sport profesional, seperti Manchester City dan West Ham untuk mewakili mereka di pertandingan Fifa, tapi belum ada yang membentuk klub e-sport sendiri.

Sebagai percontohan, ada Paris Saint-Germain yang meluncurkan tim e-sport sejak Oktober 2016. Mereka merekrut tiga gamer terbaik dunia untuk memperkuat tim mereka di League of Legends. PSG juga diketahui telah menjalin kerjasama dengan klub e-sport asal Indonesia, Rex Regum Qeon, untuk mencari pemain-pemain baru.

Selain itu, apa yang dilakukan FC Copenhagen mungkin bisa jadi role model. Mereka membangun klub e-sport tersendiri yang diberi nama “North” yang mewakili lokasi geografis mereka di peta bumi. Menurut CEO North, Christian Sorensen, mereka berusaha membangun tim e-sport yang menyeimbangkan tiga aspek, yakni bagaimana memahami industri e-sport, bagaimana memperlakukan atlet secara profesional, serta mengelola semua itu agar menguntungkan bagi finansial FC Kopenhagen.

Tapi, apa sesungguhnya yang dicari FC Copenhagen dan PSG ketika meluncurkan tim e-sport?

Well, e-sport tak cuma memainkan gim sepak bola. Jadi, pasti ada segmen lain yang disasar sebuah tim e-sport. PSG mengungkap langkah mereka memasuki industri e-sport adalah untuk “mencari basis penggemar baru yang tidak tahu apa-apa tentang sepak bola”.

Penggemar e-sport memang terus bertumbuh di tiap tahunnya. Seperti dilansir BBC, sekitar 160 juta pasang mata menonton e-sport tiap harinya. Angka yang sama juga bisa didapat dalam satu kali pertandingan turnamen besar. Jumlah tersebut sudah menyaingi jumlah penggemar olahraga menengah seperti tenis, hoki, serta mendekati bola basket. Alasan PSG untuk menjaring penggemar baru sangat masuk akal.

Bagi FC Copenhagen, tim e-sport yang diberi nama “North” bertujuan untuk “membangun sesuatu yang atraktif secara komersial” dalam aspek penyiaran. Jadi, ketika para broadcaster yang melibatkan televisi dan lembaga penyiaran online masuk, uang akan mengalir ke kas klub.

Uang di industri e-sport memang tak main-main. Secara total, industri e-sport memutar uang sebesar 400 juta pounds (Rp 7,2 triliun) pada 2016, serta diprediksi akan mencapai 1,21 miliar pounds (Rp 21,8 triliun) pada 2020. Nilai tersebut berkali-kali lipat dari total hadiah yang bisa didapat ketika menjuarai Liga Champions Eropa.

Di Indonesia, baru-baru ini Bali United meluncurkan tim e-sport yang menyandang nama “Island of Gods”. Pemilik Bali United, Peter Tanuri, menyatakan langkah tersebut merupakan sebagai upaya Bali United untuk menyesuaikan perkembangan zaman.

Selain itu, Persijap Jepara juga sudah bekerja sama dengan perusahaan e-sport asal Malaysia, Kitamen, untuk menghelat liga di Jepara pada masa mendatang. Ambisi mereka adalah untuk bertanding dengan tim e-sport milik PSG, Barcelona, Bayern Munich, dan LA Galaxy.

Basis penggemar baru dan uang melimpah. Jadi, kapan klub lain menyusul Bali United untuk membentuk tim e-sport sendiri?

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *