Samuel Eto’o: Mutiara Afrika Yang Dibuang Real Madrid

Samuel Eto’o: Mutiara Afrika Yang Dibuang Real Madrid

Samuel Eto’o merupakan salah satu pemain Afrika yang sukses berkiprah di belantara sepak bola dunia. Berkat kesuksesannya, dirinya disebut sebagai inspirasi bagi pemain Afrika lainnya.

Berbagai raihan prestis, seperti gelar pribadi maupun gelar yang disumbangkan untuk klub berhasil dicapai dengan sangat sempurna oleh pemain asal Kamerun ini.

Samuel Eto’o, yang lahir pada 10 Maret 1981 di Douala, Kamerun, merupakan seorang anak hasil dari buah cinta David Eto’o dan Christine Eto’o.

Sejak kecil, Eto’o sudah menjadi bocah yang sangat mencintai sepak bola. Eto’o memiliki ambisi yang besar untuk bisa menjadi seorang pesepak bola terkenal. Empat tahun menimba ilmu di akademi lokal, Eto’o hijrah ke Perancis pada 1996.

Meski sempat ditolak oleh beberapa klub Peracis karena tidak memiliki identitas yang jelas, Eto’o terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya.

Hingga pada akhirnya di tahun 1997, seorang pemandu bakat Real Madrid berhasil menemukan sang mutiara Afrika. Ketika itu, Eto’o sedang berlatih sepak bola bersama teman-temannya di kota Le Havre.

Eto’o merasa bangga karena dirinya tergabung dengan klub yang sangat populer. Dirinya sempat tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Seperti sebuah mimpi, Eto’o mengaku jika ia merasa senang karena bisa bertemu dengan para pemain idolanya di Real Madrid.

Meski masuk ke salah satu tim terbaik dunia, karir Eto’o tak terlalu berjalan mulus. Bermain di tim B el Real pada 1997, ia mengalami berbagai cobaan. Salah satunya adalah ketika timnya terdegradasi ke divisi tiga.

Akibat aturan larangan pemain non EU, Eto’o dipinjamkan ke Leganes dan Espanyol. Menerima kenyataan tersebut, Eto’o terus berkeyakinan bahwa dirinya mampu mewujudkan mimpinya.

“Aku tak pernah takut jika tak berhasil, karena aku tahu, aku memiliki bakat,”

“Ketika sampai di Real Madrid, aku berpikir ‘inilah jalanku, aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi, aku akan berhasil!” ungkap Eto’o

Setelah sempat bermain untuk beberapa klub, Eto’o akhirnya berlabuh di Mallorca. Musim 2000/01 seakan menjadi awal kesuksesan dirinya. Bersama Mallorca, dia sukses menyarangkan 6 gol dalam 19 laga.

Di akhir musim, Mallorca rela menggelontorkan dana senilai 4,4 juta euro untuk mempermanenkan bakat asal Afrika itu.

Meski Samuel Eto’o bermain gemilang bersama Mallorca, Real Madrid tak benar-benar ingin mengembalikannya. Mereka menganggap bahwa Los Galacticos sudah memiliki cukup skuat untuk bisa bersaing di kancah Eropa.

Menyusul keheranan banyak pihak tentang status Eto’o, fakta lain terungkap. Agen Iker Casillas, Santo Marquez, mengatakan jika sebenarnya Presiden Real Madrid, Florentino Perez, benci pemain berkulit hitam.

Marquez mengambil contoh kasus Claude Makelele. Selama menjalani empat musim bersama el Real, Makelele menjadi sosok tak tergantikan di lini tengah. Namun, Real Madrid justru melepas gelandang berbakat itu.

“Karier Makalele berakhir dengan cepat karena Florentino Perez tak suka pemain berkulit hitam. Dia bukanlah rasialis. Tapi, ia hanya tak menyukai pemain berkulit hitam,” ungkap Marquez seperti dilansir AS.

Marquez juga menjadi pihak yang sangat menyesalkan tidak dipertahankannya pemain seperti Samuel Eto’o.

“Saya juga sangat menyesalkan nasib Eto’o. Dia sama hebatnya dengan Luis Figo. Tetapi, dia dibuang karena berkulit hitam.”

Perez memang dikenal sebagai sosok presiden bertangan besi. Selain ada beberapa pemain yang tak disukainya, banyak juga pelatih yang menjadi korban keganasannya. Jika tak mampu memberi gelar, mereka akan langsung didepak.

‘Dibuangnya’ Samuel Eto’o seolah menjadi santapan empuk bagi sang rival, FC Barcelona. Melihat kegemilangannya bersama Mallorca, La Blaugrana memboyong pria bertinggi 180cm itu ke Camp Nou.

Benar saja, mutiara Afrika yang disia-siakan Real Madrid semakin menunjukkan kilaunya. Bersama el Barca, Eto’o sukses menyumbangkan gelar La Liga Spanyol di musim 2005/06.

Tak hanya itu, Eto’o juga menjadi pemain penting FC Barcelona dalam merengkuh trofi Liga Champions di tahun 2006.

Lima musim mengabdi, sahabat baik Ronaldonho itu jadi mesin gol klub pujaan Catalan lewat torehan 129 gol dari 201 penampilan.

Sukses berkarir di Spanyol, Samuel Eto’o terus mengukir tinta emasnya saat resmi berseragam Inter Milan. Dirinya menjadi pemain yang sukses membawa Inter dalam menjuarai Serie A, Coppa Italia, sekaligus Liga Champions Eropa.

Performa fantastis tersebut sukses mengantarkannya kembali terpilih sebagai pemain terbaik Afrika untuk keempat kalinya.

Sukses berkarir di lapangan hijau, Samuel Eto’o melebarkan sayapnya di dunia bisnis. Ia bergelut di bisnis fashion yang mana usahanya itu memproduksi berbagai kemeja, topi, dan sepatu.

Selain itu, ia juga membuka restoran China di Chicago.

Ingin mengembangkan bakat para pemain Afrika, Samuel Eto’o juga membuka sekolah sepak bola yang tersebar di berbagai daerah di Afrika. Tujuan dari dibukanya sekolah sepak bola itu adalah untuk mempromosikan para talenta berbakat asal Afrika.

Ia ingin anak-anak di Afrika fokus dan tekun berlatih sepak bola serta meninggalkan berbagai hal negatif.

Kegemilangan karier Samuel Eto’o nampaknya menjadi salah satu blunder terbesar yang pernah dilakukan oleh Real Madrid. Mutiara yang mereka temukan, justru terasah oleh rival sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *