Carlos Tevez, Penyeberang Manchester yang Punya Bekas Luka di Wajah

Carlos Tevez, Penyeberang Manchester yang Punya Bekas Luka di Wajah

Carlos Tevez barangkali diingat sebagai salah satu striker paling kontroversial dalam sejarah sepak bola. Ia mula-mula mencuri perhatian saat menyelamatkan West Ham dari jeratan degradasi pada musim 2006/07, tepat di laga terakhir dengan mencetak gol kemenangan atas Manchester United di Old Trafford.

Sir Alex Ferguson yang kepincut tak membuang waktu untuk memboyongnya. Dua bulan kemudian, Tevez resmi berbaju Setan Merah. Di musim pertamanya, ia langsung menjadi pemain utama, termasuk menjadi starter di final Liga Champions yang dimenangi United. Sayangnya, Tevez yang bengal menyatakan kebersamaannya dengan United akan berakhir pada musim panas 2009.

Tevez mengambil langkah kontroversial sesudah keluar dari Old Trafford. Ia langsung menerima tawaran lima tahun dari rival kesumat Manchester City. The Citizen saat itu baru menjadi orang kaya baru dan hendak menjatuhkan dominasi United di sepak bola Inggris. Dari Manchester merah, ia berubah menjadi Manchester biru langit. Tak ada yang melakukannya sejak Terry Cooke pada 1999.

Untuk memahami pikiran kontroversial Tevez, kita harus menyelami masa lalu pemain kelahiran 5 Februari 1984 tersebut. Ia tumbuh di region Barrio Ejercito de Los Andes, wilayah yang dipenuhi para kriminal.

Tevez selalu bercerita bahwa masa kecilnya begitu keras. Ia hidup di lingkungan di mana obat-obatan dan pembunuhan adalah pemandangan wajar. Ia mengaku beruntung mengenal sepak bola dan bersyukur mendapat jalur karier yang mengizinkannya menghindari kehidupan mengerikan seperti masa kecilnya.

Ia tak sekadar omong. Sahabatnya di masa kecil, Dario Coronel, yang disebut memiliki bakat lebih baik dari Tevez, memilih jalur yang salah. Coronel, yang pada usia 17 tahun sudah direkrut Velez Sarsfield, memilih mendekati obat-obatan dan geng kriminal. Ketika ia dikejar-kejar polisi, ia memutuskan bunuh diri di usia yang begitu muda.

Meski mengaku beruntung tak bernasib seperti Coronel, Tevez tetap punya peninggalan dari kerasnya kehidupan kampungnya. Saat ia masih balita, Tevez tak sengaja tertumpah air panas yang mengharuskannya mendapat perawatan intensif selama dua bulan. Bekas luka bakar yang menjalar di lehernya masih bisa dilihat hingga kini. Struktur rahang Tevez juga tak sempurna. Gigi Tevez mengalami dislokasi akibat berkelahi di jalanan semasa anak-anak.

Tevez sebenarnya mendapat tawaran untuk menghilangkan bekas luka tersebut semasa membela Boca Juniors. Akan tetapi, ia menolak tawaran itu karena menganggap luka di lehernya sebagai “kenang-kenangan dari kehidupan sulitnya”.

Well, setelah tumbuh di lingkungan yang membuatnya kehilangan kesempurnaan tubuh, rasanya kita dapat memahamiperilaku bengal seperti berseteru dengan Roberto Mancini pada 2015, atau kala tampil ogah-ogahan bersama Shanghai dengan menyebut waktu singkatnya di China tersebut sebagai “liburan”.

Bagaimanapun, Tevez tetap tak kekurangan prestasi. Ia selalu meraih trofi baik saat membela Boca Juniors, Corinthians, Manchester United, Manchester City, hingga Juventus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *