Michael Ballack, Sosok Legenda Spesialis Runner Up

Michael Ballack, Sosok Legenda Spesialis Runner Up

Michael Ballack merupakan salah satu ikon sepakbola Jerman, bahkan dunia. Pria yang identik dengan tendangan gledek itu sering disebut sebagai penerus legenda Jerman, Franz Beckenbauer. Itu megapa banyak yang menyebutnya sebagai Little Kaiser. 

Di generasinya, Michael Ballack bisa dikatakan sebagai pemain Jerman paling bertalenta. Ia memiliki skill, teknik, hingga kharisma yang sangat luar biasa untuk meminpin rekan-rekannya diatas lapangan.

Akan tetapi, ia memiliki rentetan pengalaman buruk yang membuat banyak orang menjulukinya sebagai pecundang.

Michael Ballack lahir pada 26 September 1976. Ia mengawali karirnya di FC Kaiserslautern dan berhasil membawa timnya meraih juara Bundesliga di musim 1997/1998.

Namanya semakin melambung seiring penampilan luar biasanya di lini tengah Bayern Leverkusen yang berhasil dibawanya menuju Stadion Hampden Park, Glasgow, lokasi final Liga Champions 2001/2002. Sayang gol cantik Zinadine Zidane membuatnya menangis malam itu.

Ballack menjalani karier sepakbola selama 17 musim. Dan pada momen tertentu, ia seperti kehilangan daya magisnya. Di Timnas Jerman, Chelsea, Bayern Muenchen dan Bayer Leverkusen, ia kerap kalah pada partai krusial. Beberapa terjadi di laga final. Julukan “Mr. Runner-up” pun melekat padanya.

Setelah kalah di final Liga Champions Eropa, Ballack kembali melanjutkan kutukannya di tim nasional Jerman. Meski berhasil membawa Jerman hingga partai puncak, tim panser takluk dari Brasil lewat penampilan gemilang Ronaldo il fenomeno.

29 gol nya sepanjang tahun saat itu tak bernilai apapun selain memberi kenangan pahit bagi pemain yang identik dengan nomor punggung 13 tersebut.

Mencari tantangan baru dengan bergabung bersama Chelsea, Ballack seolah hanya melanjutkan ombak kesengsaraanya.

Bersama The Blues, Ballack berhasil menuju partai puncak Liga Champions Eropa, namun lagi lagi, kutukannya seakan tak mau lepas. Chelsea kalah dari Manchester United lewat babak adu pinalti.

Nestapa masih belum usai bagi Ballack. Tak lama setelah kegagalan di Liga Champions 2008 itu, Ballack berhasil membawa Jerman melaju ke babak final Piala Eropa 2008. Jerman menghadapi Spanyol kala itu. Akan tetapi, Spanyol berhasil mengukir sejarah. Tim Matador sukses mengangkat trofi lewat gol tunggal Fernando Torres. Malam itu, Ballack tak menangis. Dia hanya melihat ke atas langit sambil sesekali tersenyum sinis.

Bahkan di tahun yang sama, Chelsea hanya terpaut dua poin dari Manchester United yang berhasil menjadi juara Liga Primer Inggris.

Bukan kebetulan juga jika Timnas Jerman baru meraih gelar juara Piala Dunia pada 2014, empat tahun setelah Ballack pensiun. Ballack bahkan seolah dipaksa pensiun ketika itu. Pelatih Jerman, Joachim Loew, tidak membawanya ke Piala Dunia 2010 karena cedera. Setelah itu, Loew menawarkan dua laga uji tanding untuk Ballack agar ia bisa menggenapi caps ke-100 di Timnas Jerman sebelum ia pensiun. Ballack yang ketika itu kembali ke Bayer Leverkusen menolak dan meresponsnya dengan pensiun dari Timnas karena merasa tak lagi dihargai oleh Loew.

Pensiunnya Ballack menjadi kesempatan besar bagi gelandang berbakat Jerman lainnya seperti Sami Khedira, Bastian Schweinsteiger, Mesut Ozil, hingga Thomas Mueller.

Bersama para pemain berbakat itupun, Jerman berhasil menjadi tim terkuat dunia dengan menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil.

Meski begitu, sepanjang karirnya Ballack berhasil meraih trofi Bundesliga dan Liga Primer, dua trofi paling bergengsi yang pernah diraihnya.

Tak pernah membawa timnas Jerman juara tak lantas menjadi keterpurukan mendalam bagi Ballack. Dengan segala dedikasi dan perjuangannya, ia tetap menjadi bagian dari para legenda Jerman. Ia telah memenangkan hati para pendukung Jerman.

Dan mungkin, itulah kemenangan termanis yang pernah diraih dalam perjalanan karirnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *